Tampilkan postingan dengan label Ven. K. Sri Dhammananda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ven. K. Sri Dhammananda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

BAGAIMANA MENGATASI KESULITAN- KESULITAN ANDA?



Penerjemah : Saudari Mettasari
Editor : Saudara Dharmavira Buyung Wahab.
Kegelisahan dan Ketakutan



Apakah Anda gelisah? Apakah Anda merasa susah hati? Apabila jawabannya adalah ’ya’, maka Anda dianjurkan untuk membaca buku kecil ini. Isi buku ini ditujukan kepada Anda dan mereka yang selalu merasa gelisah bahkan mungkin sampai saat kematiannya.

Kegelisahan dan kesedihan merupakan suatu kejahatan kembar yang akan datang berbarengan dan bergandengan. Mereka hidup bersama-sama di dunia ini. Jika Anda gelisah, maka Anda akan merasa susah! Dan jika Anda merasa susah maka Anda akan gelisah. Kita harus berani menghadapi kenyataan. Walaupun kita tidak dapat melarikan diri dari mereka, tapi kita tidak boleh membiarkan kejahatan kembar tersebut mengalahkan kita. Kita harus mengatasi mereka. Kita dapat melakukannya dengan usaha kita sendiri, dengan kemantapan hati dan kesabaran. Dengan pengertian benar dan menggunakan akal budi serta kebijaksanaan, maka niscaya kita dapat mengalahkan perasaan kita, dan menghapuskan kegelisahan dan kesusahan kita.
Kegelisahan dalam diri kita dibuat oleh kita sendiri. Kita ciptakan mereka di dalam pikiran kita, melalui ketidakmampuan ataupun kegagalan untuk mengerti bahaya perasaan keakuan dan melalui khayalan-khayalan kita yang melambung serta kesalahan dalam menilai benda-benda. Hanya jika kita dapat melihat benda-benda dengan apa adanya, bahwa tidak ada sesuatu pun yang kekal di dunia ini dan bahwa keakuan kita sendiri merupakan khayalan liar yang berlari ke sana ke mari membawa kekacauan di dalam pikiran kita yang tidak terlatih, untuk itu kita harus menempuh perjalanan jauh untuk mencari obat pembasmi kegelisahan dan kesusahan kita. Kita harus melatih perasaaan dan pikiran kita untuk melupakan rasa keakuan, dan berusaha untuk dapat melayani serta berguna untuk kemanusiaan. Ini merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Banyak orang yang memiliki hawa nafsu dan kerinduan, ketakutan, serta kecemasan, namun mereka tidak mau menyadarinya atau malu untuk mengakuinya bahkan kepada diri mereka. Dan perasaan-perasaan yang tidak berfaedah ini pun memiliki kekuatan. Walau bagaimana pun usaha kita untuk menekannya, mereka akan mencari pelepasan dengan jalan merusak alat-alat tubuh sehingga menyebabkan penyakit-penyakit menahun. Semua ini dapat diatasi dengan cara-cara yang tepat dari meditasi atau pengembangan mental, karena pikiran yang tidak terlatih merupakan penyebab utama dari kegelisahan-kegelisahan tersebut.

Jika pikiran Anda sedang gelisah, janganlah tunjukkan kegelisahan Anda kepada setiap orang yang Anda temui. Anda harus menceritakan dan menyatakan kegelisahan Anda hanya kepada orang yang benar-benar dapat menolong Anda.Betapa manisnya jika Anda dapat tetap memelihara senyum di wajah Anda meskipun banyak kesulitan menghadang di depan Anda. Hal ini tidaklah terlalu sulit hanya jika Anda benar-benar mencobanya. Banyak remaja yang terlalu bersusah hati ketika putus hubungan dengan kekasihnya, bahkan mereka sering merencanakan untuk membunuh diri karena dipaksa oleh kekecewaan dan putus asa. Beberapa di antaranya terpaksa menetap di rumah-rumah sakit jiwa. 
Banyak remaja yang patah hati yang menempuh kehidupan yang menyedihkan. Semua peristiwa yang malang ini terjadi disebabkan kurangnya pengertian tentang nilai-nilai yang sesungguhnya dari kehidupan.


Bagaimana pun, perpisahan merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Hal ini dapat terjadi kadang-kadang pada permulaan dari jalan kehidupan, kadang-kadang pada pertengahan, dan kadang-kadang pada akhir kehidupan. Dan hal ini tidak dapat dihindari. Kalau hal-hal seperti itu terjadi, orang harus mencoba untuk mencari dimana letak penyebabnya Walau bagaimana pun, kalau perpisahan itu terjadi diluar dugaannya, orang harus berani menerima kenyataan itu dengan menyadari sifat-sifat kehidupan yang sebenarnya. Namun demikian, sebenarnya tidaklah terlalu sulit bagi seseorang untuk mencari teman baru sebagai pengganti yang telah pergi, untuk mengisi kekosongan kalau ia benar-benar menghendakinya.
Sang Buddha bersabda : "Di mana pun rasa ketakutan muncul, ia hanya akan muncul pada orang yang bodoh, tidak pada orang bijaksana," Ketakutan tidaklah lebih dari keadaan pikiran. Keadaan pikiran seseorang dapat menjadi subyek untuk mengendalikan dan memimpin; penyalahgunaan pikiranlah yang menghasilkan ketakutan kita; dan penggunaan yang benarlah yang mewujudkan harapan-harapan dan cita-cita kita, dan dalam hal ini pikiran sepenuhnya tergantung pada kita sendiri! Setiap makhluk hidup memiliki kemampuan untuk sepenuhnya mengawasi pikirannya sendiri.
"Alam telah menganugerahi manusia untuk dapat mengendalikan seluruh isinya kecuali satu hal yaitu pikiran." Kenyataan ini, diperkuat dengan kenyataan-tambahan bahwa segala sesuatu yang diciptakan manusia dimulai dalam bentuk pikiran, hal ini menuntun seseorang untuk lebih menyadari bahwa ketakutan dapat diatasi.
Seorang ahli anatomi yang terkemuka dari Inggeris pada suatu hari ditanya oleh seorang muridnya tentang obat yang terbaik untuk mengatasi ketakutan, dan jawabnya adalah : "Cobalah untuk mengerjakan sesuatu untuk orang lain."
Murid tersebut sangat heran dengan jawaban tersebut, dan karenanya ia memohon keterangan yang lebih lanjut, lalu sang guru meneruskan keterangannya : Anda tidak dapat memiliki dua pikiran yang berlawanan pada waktu yang bersamaan." Salah satu pikiran akan selalu mengusir yang lain. Jika suatu saat pikiran Anda sedang terpusat hanya untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun juga,maka rasa ketakutan tidak akan muncul di dalam pikiran Anda pada waktu yang sama.
"Kesusahan akan mengeringkan darah, lebih cepat daripada yang dilakukan oleh usia." Rasa ketakutan, kegelisahan dan kecemasan yang tidak berlebihan merupakan naluri alamiah untuk menjaga diri. Namun, ketakutan yang terus menerus, dan kegelisahan yang berpanjangan merupakan musuh yang tidak terduga bagi alat-alat tubuh manusia; mereka mengacau jalannya fungsi-fungsi tubuh.
Jika Anda senantiasa belajar bagaimana membahagiakan orang lain dan hanya mengisi pikiran-pikiran Anda dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat, maka Anda pun akan selalu berada dalam suasana hati dan pikiran yang tenteram dan bahagia. Hal ini disebabkan pikiran Anda tidak diizinkan untuk ditumpangi oleh rasa ketakutan,kegelisahan dan kecemasan.


Hukum Alam
Demi keuntungan material, manusia modern melupakan hukum-hukum alam.
Aktivitas mentalnya terlalu dipenuhi dengan pikiran kesenangan di masa yang akan
datang, sehingga ia mengabaikan kebutuhan-kebutuhan badan jasmani dan hal-hal
berharga yang terjadi pada saat sekarang. Rasa ketakutan yang tidak sewajarnya dari
sekelompok orang ini disebabkan karena mereka menyalahartikan makna dan tujuan
kehidupan ini, menyebabkan timbulnya kecemasan, patah hati, ketakutan, dan
ketidakamanan pada zaman sekarang ini. Seseorang yang sungguh-sungguh ingin
mendapat kedamaian, seharusnya tidak menganggu kebebasan makhluk hidup lainnya.
Merupakan suatu cara yang salah bila mencari kebahagiaan dengan menggangu dan
menipu orang lain.
"Anda dapat menipu beberapa orang untuk selama-lamanya, dan semua orang
untuk beberapa saat, namun Anda tidak dapat menipu semua orang untuk selamalamanya
”, demikian kata Abraham Lincoln.
Jika manusia bengis dan jahat, selalu hidup bertentangan dengan hidup alam
dan semestra; melalui perbuatan, perkataan dan pikirannnya ia mengotori semua
suasana. Sebagai hasil dari perbuatan, perkataan dan pikiran salah seperti itu, alam
tidak akan menghasilkan benda-benda yang dibutuhkan manusia untuk kehidupannya,
melainkan manusia akan menghadapi bermacam-macam bencana dan wabah sebagai
penggantinya.
Bila sebaliknya manusia hidup sesuai dengan hukum alam, mengikuti jalan
kehidupan yang benar, memurnikan suasana melalui jasa-jasa dan kebaikankebaikannya
serta memancarkan cinta kasihnya kepada makhluk lain, ia dapat merubah
suasana menjadi lebih baik bagi kebahagiaan manusia.
Mungkin Anda adalah seorang manusia modern yang sangat sibuk, tetapi
janganlah lupa untuk menyisihkan paling sedikit beberapa menit sehari untuk membaca
buku-buku yang bernilai. Sikap kebiasaan ini akan dapat banyak menolong Anda dan
memungkinkan Anda untuk melupakan kecemasan dan juga untuk mengembangkan
batin Anda. Pada waktu yang bersamaan Anda harus ingat bahwa Anda juga beragama.
Beragama adalah untuk keuntungan Anda sendiri. Oleh karena itu, merupakan
kewajiban Anda untuk memikirkan agama Anda dan menggunakan waktu Anda
beberapa menit dalam sehari untuk menunaikan kewajiban agama.
Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal

Dalam hubungannya dengan kesehatan, yang paling mengkhawatirkan di antara
berbagai macam penyakit di zaman sekarang ini bukanlah TBC atau pun kanker. Saat
ini TBC hampir tidak menjadi masalah dan mungkin tidak lama lagi ada harapan untuk
menyelamatkan penyakit kanker. Yang mengkhawatirkan pada zaman sekarang ini
adalah meningkatnya jumlah penderita yang disebabkan oleh ketegangan jiwa
(gangguan kejiwaan). Sehingga kita dipaksa untuk membuat lebih banyak rumah sakit
dan lembaga-lembaga untuk para penderita gangguan kejiwaan dan berbagai macam
gangguan saraf. Masih banyak lagi orang yang tidak menerima pengobatan walaupun
sesungguhnya sangat membutuhkannya.
Hal itu mungkin dapat menjelaskan mengapa unsur kejahatan di dalam
masyarakat disebutkan sebagai penderita gangguan jiwa. Salah satu hasil yang telah
dicapai sejauh ini berdasarkan hasil penyelidikan Freud adalah diketahuinya bahwa para
pelaku kejahatan dan kenakalan merupakan orang-orang yang sakit jiwa, mereka lebih
membutuhkan perawatan daripada sekedar hukuman. Hal ini merupakan pandangan
secara terpisah pada persoalan kemasyarakatan yang maju dan membuka jalan untuk
memperbaikinya, bukannya malah membalas dendam.


Kenalilah Lingkunganmu

Kita tidak akan dapat menyelami bagaimana kehidupan orang lain yang
sesungguhnya, bahkan kita tidak akan menyelami apa pun mengenai kehidupan orangorang
yang berbeda tingkat sosial ekonominya dengan kita, misalnya orang yang lebih
miskin atau pun yang lebih kaya daripada kita. Kalau kita sehat, kita tidak dapat
mengetahui bagaimana rasanya jatuh sakit, kalau kita cacad, kita tidak dapat mengerti
bagaimana kuatnya tenaga yang besar.
Kurangnya pengalaman-pengalaman seperti itu membuat kita tidak bertoleransi,
sebab toleransi lahir hanya dari pengertian; sedangkan pengertian tidak dapat timbul
tanpa adanya pengalaman. Maka itu, mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya
dari semua segi kehidupan merupakan hal yang baik bagi kita, khususnya dalam
menempuh perjalanan hidup ini, dan marilah kita sadari bahwa kita tak selalu hidup
dalam keadaan mewah.


Ketidakbahagiaan Manusia

Sang Buddha mengajarkan bahwa semua ketidakbahagiaan manusia datang
dari keinginan yang rendah; kesenangan yang dapat dibeli dengan uang, kekuasaan
yang melebihi orang-orang lain, dan yang terpenting dari semuanya adalah suatu
keinginan untuk hidup abadi setelah meninggal. Keinginan akan benda-benda dan halhal
tersebut membuat manusia bersifat egois. Mereka hanya memikirkan diri mereka
dan tidak terlalu memperdulikan apa yang terjadi pada orang-orang lain. Dan apabila
semua harapannya tidak terpenuhi, maka mereka menjadi susah dan gelisah.
Satu-satunya cara untuk menghindari kegelisahan tersebut adalah dengan
menyingkirkan semua keinginan rendah yang menyebabkannya. Walaupun ini sulit,namun bila seseorang dapat melakukannya, maka ia akan mencapai tingkatkesempurnaan dan ketenangan.

Sesungguhnya kita bukan menikmati kesenangan-kesenangan, melainkan kita dikuasai oleh kesenangan-kesenangan (yakni dengan kecemasan yang tidak berkeputusan dalam mencari kesenangan tersebut, sehingga seluruh tenaga kita dilemahkannya). Kita lebih banyak menderita daripada menikmati kebahagiaan dalam mencari kesenangan- kesenangan hidup dalam dunia yang fana ini.



Waktu akan Menyelesaikan Masalah

Kesulitan akan berlalu. Apa yang menyebabkan Anda menetaskan air mata hari
ini, akan segera terlupakan; Anda mungkin mengingat bahwa Anda pernah menangis,
tetapi Anda tidak akan mengingat apa yang Anda tangisi! Sebagaimana kita tumbuh
menjadi dewasa dan menjalani kehidupan, jika kita ingat hal ini, kita akan selalu menjadi
heran apabila kita berbaring pada malam hari memikirkan hal-hal yang mengecewakan
kita yang terjadi selama sehari, atau bagaimana kita menaruh dendam terhadap
seseorang dan terus membiarkan pikiran-pikiran yang sama timbul di dalam pikiran kita,
tentang bagaimana kita akan membalas orang yang telah merugikan kita. Kita mungkin
menjadi marah terhadap sesuatu, tetapi kemudian bertanya-tanya dan merasa heran,
apakah sebenarnya yang menyebabkan kita begitu marah. Apabila kita telah berhasil
menghentikannya dan mulai berpikir tentang hal lain yang bermanfaat, maka kita akan
menyadari betapa waktu dan tenaga kita terbuang sia-sia karenanya, dan betapa kita
dengan sengaja telah menyebabkan ketidakbahagiaan.
Apa pun kesulitan kita, bagaimana pun beratnya kesulitan yang timbul,
semuanya akan dapat diselesaikan oleh waktu. Tetapi sebelumnya tentu saja harus ada
usaha untuk melindungi diri kita agar tidak terjadi kesulitan-kesulitan tersebut lagi.
Mengapa kita membiarkan orang-orang dan kesulitan-kesulitan menguras tenaga kita
dan membuat diri kita tidak bahagia? Tentu saja jawabnya adalah bahwa bukan mereka
yang berbuat demikian, melainkan kita sendirilah yang membuat diri kita tidak
berbahagia.

Anda mungkin menghadapi kesulitan di kantor Anda atau tempat Anda berkerja,
tetapi Anda tidak perlu membawa atau memperluasnya ke rumah Anda, karena hal
tersebut dapat menyebabkan suasana yang buruk di dalam keluarga Anda.
Harus disadari bahwa ada cara untuk menghadapi masalah-masalah dan
kesulitan-kesulitan tersebut, dengan kata lain, masalah-masalah dan kesulitan-kesulitan
tersebut pasti ada akhirnya, yang ditemukan dengan cara mencapai kebebasan dan
hasrat keakuan, yaitu dengan membasmi semua bentuk keragu-raguan dan kebodohan.
Apabila gagal untuk mendapatkan penyelesaian suatu masalah, biasanya kita
cenderung untuk mencari kambing hitam, atau siapa saja yang dapat dijadikan biang
keladi kesusahan kita. Kita tidak siap untuk mengakui kekurangan kita sendiri. Kita
merasa lebih mudah untuk menyalahkan orang lain dan menganggap orang lain sebagai
biang keladi kesusahan kita. Kenyataannya, ada juga orang yang mendapatkan
kesenangan dengan berbuat seperti itu. Ini merupakan sikap yang sangat tercela. Kita
tidak seharusnya menunjukkan dendam atau marah kepada orang lain. Kita harus
bekerja sungguh-sungguh, dengan rajin, cermat dan tenang untuk menyelesaikan
masalah-masalah kita. Kita harus siap untuk menghadapi kesulitan yang menghadang
kita.


Kebahagiaan dan Meterialisme

Banyak orang percaya bahwa mereka dapat memecahkan semua persoalan
hanya dengan uang; tetapi mereka tidak menyadari bahwa uang itu sendiri mempunyai
persoalan yang menyertainya. Sesungguhnya hanya dengan uang saja, tidaklah dapat
memecahkan semua persoalan.
Banyak orang tidak pernah mempelajari hal ini. Seluruh tenaga dan
kehidupannya dikerahkan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi
ketika telah memilikinya mereka merasa bahwa belumlah memuaskan, dan mereka
harus memiliki benda-benda lain yang lebih bagus lagi. Kenyataaannya, semakin
banyak yang sudah dimiliki, semakin banyak pula hasrat keinginan untuk memiliki;
sehingga mereka tidak akan dapat berbahagia dan puas.
Nasehat di bawah ini akan sangat menghibur kita manakala kita kehilangan
sesuatu, yaitu:
"Janganlah mengatakan ini milikmu dan itu milikku,
Tetapi katakan saja, ini datang padamu dan itu datang padaku,
Sehingga kita tidak akan menyesal kehilangan kemilau dari semua benda megah yang
telah lenyap."
Kekayaan bukanlah sesuatu yang berharga untuk dihiraukan dan ditimbun,
melainkan harus Anda pergunakan untuk kesejahteraan Anda dan yang lainnya. Bahkan
jika Anda pergunakan waktu Anda hanya untuk anda melekat pada kekayaan tanpa
memenuhi kewajiban Anda terhadap negara, keluarga, kawan-kawan dan agama Anda,
maka Anda akan merasakan bahwa bilamana pada saatnya Anda harus meninggalkan
dunia ini, Anda akan tetap masih diliputi oleh kegelisahan, sehingga Anda tidak akan
mendapat keuntungan dari kekayaan yang telah Anda miliki dan kumpulkan dengan
susah payah.
Mengharapkan kekayaaan serta keuntungan melalui perjudian adalah sama
halnya dengan mengharapkan awan sebagai tempat perlindungan terhadap sinar
matahari. Sebaliknya, mengharapkan kemajuan dan kemakmuran serta kemujuran
melalui kerajinan dalam berkerja adalah sama halnya dengan membangun rumah yang
kokoh sebagai tempat berlindung dari matahari dan hujan.


"Harta kekayaan Anda tidak dapat dibawa serta bila Anda meninggal. Temanteman
beserta keluarga Anda mengantarkan Anda hanya sampai ke pekuburan, hanya
perbuatan baik dan buruk yang telah Anda lakukan selama hiduplah yang akan
mengikuti Anda berpindah ke alam baka."
Banyak benda yang kita harapkan akan dapat memberikan kesenangan ternyata
mengecewakan setelah kita memperolehnya. Misalnya tiga harapan dalam cerita
dongeng.Kedengarannya menyenangkan bila memiliki banyak uang. Tetapi kalau kita
sudah mendapatkannya, mungkin kita akan dapat merasakan bahwa uang tersebut
akan menyebabkan kegelisahan bagi kita dalam memutuskan cara untuk
menggunakannya, ataupun cara untuk melindunginya. Bahkan mungkin kita akan
terjerumus untuk berbuat hal-hal yang bodoh. Orang-orang kaya kadang-kadang curiga
apakah teman-teman menghargainya karena diri pribadinya ataukah karena uangnya;
dan hal ini merupakan salah satu bentuk kesedihan mental. Juga selalu ada rasa
ketakutan akan kehilangan apa yang telah kita miliki, baik kehilangan materi ataupun
orang yang dicintai. Jadi, kalau kita jujur dan dapat melihat dengan jelas apa yang kita
sebut "kebahagiaan," maka akan kita temukan bahwa hal itu hanya merupakan
khayalan belaka, tak akan pernah dapat digenggam sepenuhnya, tak akan pernah
sempuna ataupun baik, melainkan selalu ditemani oleh ketakutan akan kehilangan.
"Kekayaan Anda hanya dapat menghiasi rumah Anda, bukan menghiasi Anda;
hanya kebaikan Anda sendirilah yang dapat menghiasi diri Anda. Hanya kelakuan baik
Andalah yang dapat menghiasi diri pribadi Anda."
Cara yang dipergunakan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan haruslah
cara yang benar. Tak ada artinya sama sekali bilamana menikmati kebahagiaan diatas
kehancuran orang lain, ataupun penderitaan makhluk lain. Sang Buddha bersabda:
"Diberkatilah mereka yang mencari nafkah tanpa merugikan makhluk lain."
"Kebahagiaan merupakan wewangian yang tak dapat Anda tuangkan kepada
orang lain tanpa Anda teteskan beberapa tetes pada diri Anda sendiri."
Anda mungkin tidak dapat merubah dunia sesuai dengan kehendak Anda, tetapi
Anda pasti dapat merubah hati Anda untuk mendapatkan kebahagiaan.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, hanya pengertian inilah
yang akan memungkinkan Anda mencapai kebahagiaan yang lebih besar daripada
orang lain.
"Jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan, marilah kita berhenti berpikir tentang
rasa berterima kasih ataupun kurang berterima kasih dari orang-orang yang pernah kita
tolong, dan kembangkanlah kebahagiaan di dalam batin Anda pada waktu memberikan
dana. Rasa kurang berterima kasih merupakan kebiasaan seperti rumput liar.Tahu
berterima kasih adalah seperti bunga mawar yang harus dipelihara, disirami air, dicintai
dan dilindungi." (Dale Carnegie)

Kendalikan Pikiran Anda
Pikiran manusia sangat mempengaruhi badan jasmaninya. Jika pikiran dibiarkan
berfungsi tidak benar, maka pikiran tersebut dapat mengakibatkan bencana, atau
bahkan dapat membunuh makhluk hidup; namun ia juga dapat menyelamatkan tubuh
yang sakit, dan sangat besar kegunaan yang dihasilkannya bila pikiran dipusatkan pada
hal-hal yang benar, disertai dengan usaha besar dan penuh pengertian. Pikiran yang
bersih dan yang bermanfaat benar-benar dapat menuntun kita pada kehidupan sehat
yang menyenangkan.


Sang Buddha bersabda : "Tidak ada musuh yang dapat mencelakakan
seseorang sampai separah yang disebabkan oleh pikiran-pikiran sendiri yang jahat,
kejam, membenci, iri hati dan lain sebagainya."
Seseorang yang tidak mengetahui bagaimana cara mengatur pikirannya agar
sesuai dengan keadaan, akan sama halnya dengan jenazah di peti mati.
Kembalikan pikiran pada diri Anda sendiri, dan cobalah untuk mendapatkan
kesenangan di dalam diri Anda, maka Anda akan selalu dapat menemukan sumber
kesenangan yang tak terbatas yang siap untuk Anda nikmati.
Hanya pada saat pikiran terkendali ditujukan pada jalan yang benar dengan
kemajuan yang tertib dan rapi akan menjadi bermanfaat bagi si pemiliknya dan juga bagi
masyarakat. Pikiran yang tidak tertib akan menjadi beban bagi pemiliknya maupun
orang lain. Semua pembinasaan yang terjadi di dunia ini dilakukan oleh orang-orang
yang belum belajar cara mengendalikan pikiran, keseimbangan dan bersikap tenang.
Ketenangan bukanlah kelemahan. Sikap tenang pada setiap saat menunjukkan
kepribadian. Memang tidak terlalu sulit bagi seseorang untuk menjadi tenang ketika
segala sesuatu berjalan dengan baik dan menguntungkan. Namun, bersikap tetap
tenang dan sabar dalam keadaan yang sangat sulit merupakan hal yang benar-benar
sulit, dan jenis kesulitan ini bila diatasi akan bernilai sekali, dan dengan ketanangan dan
pengendalian diri demikian itu akan terbentuk watak yang kuat; sebaliknya merupakan
sesuatu kesalahan besar bila menganggap bahwa mereka yang membuat gaduh,
banyak bicara dan sibuk membuat keonaran adalah orang yang kuat.


Bertindak Bijaksana

Orang harus mengetahui bagaimana untuk memanfaatkan masa muda,
kekayaan, dan kekuasaan dan tenaga serta pengetahuannya pada saat yang tepat,
pada tempat yang sesuai dan dengan cara yang bijaksana untuk keuntungannya sendiri
maupun untuk kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk lainnya. Apabila ia
menyalahgunakan hak dan tanggung jawab tersebut, maka ia hanya akan
menghancurkan dirinya sendiri saja."
Manusia harus cukup kuat untuk menyadari bilamana ia sedang lemah, atau bila
cukup berani untuk menghadapi ketakutan, besar hati dan keras hati di dalam
mempertahankan kejujuran, tetapi bersikap rendah hati dan lemah lembut di dalam
kemenangan."
Ada beberapa orang melalui keberuntungan yang tiba-tiba menerima sejumlah
besar uang atau diberkahi dengan sejumlah kekayaan atau mungkin mereka mewarisi
sejumlah harta benda dari orang tuanya. Namun di antara mereka hanya sedikit sekali
yang mengetahui bagaimana memelihara dan melindungi harta benda yang baru
diperoleh itu. Umumnya harta benda yang diperoleh dengan mudah tanpa usaha sendiri
dan bekerja, tidak mempunyai nilai yang sesungguhnya bagi mereka; oleh karena itu
mereka akan menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu, dan segera
setelah itu seluruh harta bendanya habis terhambur
percuma.
Seharusnya mereka mengetahui bagaimana memanfaatkan atau menggunakan
harta bendanya tanpa memboroskannya, dan untuk itu mereka harus menggunakannya
dengan hemat berdasarkan pikiran sehat.


Aturlah Diri Sendiri


Kita hidup dalam dunia yang selalu berubah, namun sangat sedikit sekali orang
yang menyadari kenyataan ini. Seseorang tidak seharusnya melekat pada tradisi, adat
istiadat, cara kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tahayul yang diperkenalkan oleh
orang purbakala dan nenek moyangnya. Janganlah berpikir bahwa Anda harus
senantiasa mengikuti semua tradisi untuk selama-lamanya. Jika hal tersebut Anda
lakukan, maka Anda akan menjadi katak di bawah tempurung, dan tidak akan ada
kemajuan dalam masyarakat kita ini. Mungkin di antaranya ada beberapa adat istiadat
baik yang telah dirintis oleh nenek moyang; tetapi orang harus mempertimbangkan
apakah adat istiadat ini bermanfaat dan dapat diterapkan di dalam masyarakat modern
atau tidak.
Di lain pihak, orang-orang tua dan orang-orang yang lebih tua berselisih dengan
generasi muda. Mereka lebih suka melihat anak-anak mereka mengikuti adat istiadat
lama dan tradisi-tradisi yang serupa. Sesungguhnya ini bukanlah sikap yang baik untuk
dituruti, sebaliknya izinkanlah anak-anak untuk berubah sesuai dengan zaman bila
ternyata memang bermanfaat. Orang tua hanya mengingatkan bagaimana orang tuanya
telah menolak cara-cara penghidupan modern tertentu ketika mereka muda.
Bagaimanapun perselisihan antara orang tua dan generasi muda bukanlah sikap sehat
menuju kemajuan masyarakat. Tentu saja jika anak-anak tersesat, orang tua wajib
menasehati dan menuntun mereka agar tidak mengikuti jalan yang dapat
menjerumuskan masa depannya.
Anda harus belajar bertoleransi terhadap pandangan dan adat istiadat orang lain
meskipun Anda tidak menyukainya. Di sini, toleransi bukan berarti bahwa Anda harus
mengikuti pendapat dan pandangan hidupnya.
Setiap orang merupakan bagian dari kehidupan dunia, dan bertanggung jawab
atas segala kejadian yang berlangsung di dalamnya. Ia harus turut memperhatikan
masyarakat, walau masyarakat tersebut menjadi lebih berbudaya ataupun tidak. Ia
harus bertanya apakah ia sendiri telah berbuat sesuatu yang membawa kemajuan. Ini
merupakan pandangan etis di mana kehidupan merupakan aspek penting yang
memberikan dorongan. Suatu kehidupan yang benar-benar berbahagia. Kemudian kita
menjadi orang yang patut dipuji, merasa tidak puas dengan keadaan yang ada, dan
mengerjakan segala sesuatu yang bermanfaat dengan perasaan bahagia.


Suasana Sehat

Meskipun sendau gurau mungkin kadang kala pahit dan langsung ditujukan
kepada Anda oleh yang lain, sebagai orang bijaksana Anda harus menjawabnya dengan
sendau gurau lain tanpa menimbulkan suasana yang tidak sehat.
Bila pada suatu waktu Anda mengikuti suatu pertandingan, janganlah
menunjukkan perangai buruk Anda bila Anda ternyata kalah ; karena dengan berbuat
demikian Anda bukan hanya merusak kesenangan orang lain tetapi juga pada akhirnya
Anda akan kalah total.
Anda tidak dapat memperbaiki setiap dan semua orang di dunia ini dengan
tujuan untuk mencapai perdamaian sebagaimana Anda tidak dapat memindahkan batubatu
dan duri-duri di dunia untuk dapat berjalan dengan licin dan lancar. Seseorang
yang ingin berjalan pada tanah yang licin haruslah mengenakan sepasang sepatu.
Demikian pula seseorang yang ingin memiliki kedamaian dalam pikirannya, haruslah
mengetahui bagaimana menjaga perasaan dan akal budinya.
Ada bermacam-macam cara untuk memperbaiki seseorang jika ia salah. Dengan
memberikan kritik, mencela, menegur, ataupun membentaknya di depan umum tidaklah
berarti Anda dapat memperbaikinya ; Anda harus mengetahui bagaimana cara
memperbaikinya tanpa membuat malu.
Banyak orang yang membuat lebih banyak musuh dengan cara mengkritik orang
lain. Jika Anda dapat memberitahukannya dengan ramah, dengan niat ingin
memperbaikinya, ia tentu akan mendengarkan Anda dan suatu hari ia akan berterima
kasih atas petunjuk dan kebaikan Anda.
Apabila Anda hendak menyatakan pandangan Anda mengenai hal-hal tertentu,
cobalah selalu untuk menggunakan kata-kata yang tidak akan menyakiti perasaan orang
lain. Ada banyak cara untuk mengemukakan pandangan : dengan lemah-lembut, atau
dengan sopan maupun dengan cara diplomasi.
Anda tidak seharusnya menjadi marah bila orang menunjukkan kesalahankesalahan
Anda. Anda boleh berpikir bahwa dengan kemarahan dan membentak orang
lain maka Anda dapat menekan atau mengatasi kekurangan Anda. Namun hal ini,
merupakan sikap yang salah untuk dituruti.
Anda tidak boleh membuka rahasia-rahasia pribadi dari bekas-bekas teman yang
telah dipercayakan kepada Anda, sekalipun Anda sudah tidak berteman lagi dengannya.
Jika Anda berbuat demikian, orang lain akan memandang rendah atas diri Anda, dan
tidak akan menerima Anda sebagai orang yang berhati tulus.


Jangan Memihak

Janganlah Anda mengambil keputusan secara terburu-buru mengenai suatu
masalah pada saat Anda sedang murung atau pada saat dihasut oleh seseorang,
bahkan jangan pula pada saat Anda sedang berada dibawah pengaruh emosi, sehingga
keputusan ataupun kesimpulan yang diambil pada saat itu akan membawa penyesalan
di kemudian hari. Tunggulah pikiran Anda sampai menjadi tenang dahulu, kemudian
mempertimbangkannya, barulah pendapat Anda akan merupakan pendapat yang tidak
memihak.
Usahakan menanam rasa toleransi, karena toleransi membantu Anda
menghindari keputusan yang tergopoh-gopoh ; bersimpati terhadap kesulitan orang lain,
menghindari kritik-kritik yang memperdayakan, dan menyadari bahwa bahkan manusia
terbaik pun tidak luput dari kesalahan ; kelemahan yang Anda temukan pada tetangga
Anda, dapat pula ditemukan dalam diri Anda sendiri.


Kerendahan Hati

Kerendahan hati merupakan ciri-ciri orang budiman, dan patokan untuk
mempelajari perbedaan antara yang ada dan yang belum terjadi. Sang Buddha sendiri
memulai kepemimpinnya dengan membuang semua kebanggaan sebagai seseorang
bangsawan dan bertindak dengan penuh kerendahan hati. Beliau mencapai tingkat
kesucian sempurna dalam hidupnya, namun tidak pernah kehilangan sifat bersahaja
(kewajaran), tidak pernah memperlihatkan sikap tinggi hati. Pengungkapan maupun
perumpamaan Beliau tidak pernah bernada sombong. Beliau menyediakan waktunya
untuk orang-orang yang paling hina sekalipun. Beliau tidak pernah bersungut-sungut
untuk itu.


Jangan Menyia-nyiakan Waktu Anda

Menyia-nyiakan keberadaan manusia di dunia ini dengan cara menyusahkan diri
dengan hal-hal yang telah berlalu, dan penggangguran serta kelalaian terhadap waktu
memperlihatkan ketidakpatutannya untuk menempati tempat terhormat yang telah
diperolehnya. Hal yang demikian akan mengundang akibat karma buruknya untuk
memindahkannya ke tempat yang layak sesuai dengan ketidakbergunaanya.
Camkanlah hal ini dengan kuat di dalam pikiranmu dan kerjakan hal-hal yang baik
sambil menyelesaikan kehidupan Anda.
Dengan menyia-nyiakan waktu, Anda akan merugikan bukan hanya diri Anda
sendiri, melainkan juga orang lain, karena waktu yang Anda miliki sama banyaknya
dengan waktu yang dimiliki orang lain.


Kesabaran dan Toleransi

Bersabarlah terhadap segala sesuatunya. Kemarahan akan menuntun
seseorang menuju rimba yang tidak memiliki jalan setapak untuk dilalui. Selain
merangsang dan mengganggu orang lain, ia juga melukai dirinya sendiri, melemahkan
badan jasmani serta menggangu pikirannya.
Kata-kata kasar yang bagaikan sebuah anak panah yang dilepaskan dari
busurnya tidak akan dapat ditarik kembali walaupun Anda persembahkan seribu
permohonan maaf untuk itu.
"Makhluk-makhluk tertentu tak dapat melihat pada siang hari, sedangkan
beberapa makhluk lainnya buta pada malam hari. Tetapi seorang manusia yang diliputi
kebencian yang sangat dalam akan menjadi gelap mata baik siang maupun malam."
Dengan siapakah kiranya Anda bertempur pada saat Anda marah? Anda
bertempur dengan diri Anda sendiri, karena Anda sendirilah musuh terjahat bagi Anda
sendiri. Pikiran merupakan teman yang terbaik dan juga musuh yang terjahat. Anda
harus mencoba membunuh hawa nafsu jahat, kebencian dan kebodohan yang
terpendam dalam pikiran Anda dengan menggunakan kesusilaan, pemusatan pikiran
serta kebijaksanaan.
Berbagai macam penderitaan batin, penyakit-penyakit kulit, penyakit encok, dan
berbagai penyakit lainnya melukiskan dendam menahun, kebencian dan iri hati.
Perasaan-perasaan yang merusak seperti itu meracuni kenyamanan hati. Mereka
memelihara perkembangan dan tendensi penyakit tersembunyi serta mengundang
kuman-kuman penyakit.


Balaslah Kejahatan dengan Kebaikan

Jika Anda ingin menghindari musuh-musuh Anda, maka pertama kali Anda harus
membunuh kemarahan Anda yang merupakan musuh terbesar di dalam diri Anda.
Di lain pihak, jika Anda menjadi bingung ataupun gelisah mendengarkan sesuatu
dari musuh Anda, maka berarti Anda memenuhi harapan-harapan musuh Anda, dan
tanpa disadari Anda akan masuk ke dalam perangkap mereka.
Anda tidak boleh berpandangan bahwa Anda hanya dapat belajar sesuatu dari
orang yang memuji dan menolong Anda, dan berhubungan sangat dekat dengan Anda.
Ada banyak hal yang juga dapat Anda pelajari dari musuh Anda ; Anda tidak boleh
berpikir bahwa mereka sepenuhnya salah hanya karena mereka adalah musuh Anda.
Mereka juga mungkin memiliki berbagai macam kebaikan tertentu.
Anda tidak akan dapat menghindari musuh-musuh Anda dengan membalas
kejahatan dengan kejahatan. Karena jika Anda berbuat demikian, maka Anda hanya
akan mengundang lebih banyak musuh. Cara yang paling tepat dan paling baik untuk
mengatasi musuh-musuh Anda adalah dengan memancarkan cinta kasih dan
kemurahan hati Anda kepada mereka. Anda boleh saja beranggapan bahwa ini
merupakan hal yang tidak mungkin atau sesuatu yang bukan-bukan, namun cara ini
sangat dihargai oleh setiap manusia yang berbudaya. Pada waktu Anda mengetahui
bahwa seseorang sangat marah kepada Anda, pertama-tama Anda harus mencoba
mengetahui sebab utama dari kemarahan itu ; jika hal itu ternyata memang karena
kesalahan Anda, maka Anda wajib untuk mengakuinya dan jangan ragu-ragu untuk
meminta maaf kepadanya. Jika ternyata hal itu disebabkan oleh kesalahpahaman antara
Anda berdua, maka Anda harus berbicara dari hati ke hati dengannya dan mencoba
untuk menyadarkannya. Jika hal itu disebabkan oleh keirihatian ataupun perasaan
emosi belaka, maka Anda harus mencoba untuk memancarkan cinta kasih dan
kemurahan hati Anda kepadanya sehingga Anda dapat mempengaruhinya melalui
gelombang batin.
Anda mungkin tak dapat mengerti bagaimana hal tertentu bekerja, namun
pengalaman dari banyak orang menunjukkan bahwa cara ini merupakan cara yang
terbaik, berakal dan termudah yang paling dipujikan di dalam agama Buddha. Tentu saja
untuk melakukannya Anda dapat membuat musuh mengerti bahwa dialah yang
sebenarnya bersalah ; di samping Anda juga mendapatkan keuntungan dalam segala
hal karena tidak bermusuhan, tenang, dan damai di dalam hati Anda.


Memiliki Cinta Kasih

Selama Anda masih memiliki sahabat yang Anda hibur dengan kata-kata ramah,
yang dapat Anda gembirakan, dan ia bersuka cita dengan kehadiran Anda karenanya,
yang dapat Anda berikan dana materi walaupun hanya sedikit, namun kedermawanan
Anda menjadikan Anda miliki yang mulia bagi manusia dan Anda tidak akan pernah
merasa kecil hati ataupun merasa tertekan.
Mungkin ada saat di mana orang yang Anda cintai kelihatannya tidak
memperdulikan Anda sehingga Anda cenderung merasa berat di hati. Namun
seharusnya hal itu tidak menyebabkan kemurungan Anda. Dan sebaliknya janganlah
dirisaukan apakah orang lain tidak tahu berterima kasih kepada Anda ataupun tidak
memperdulikan Anda, yang penting Anda harus tetap memelihara diri. Anda agar
senantiasa penuh dengan simpatik, ramah, penuh dengan cinta kasih yang tulus kepada
yang lainnya tanpa mengharapkan balasan apa pun dari mereka.
Seseorang seharusnya tidak boleh bergantung pada orang lain untuk
kebahagiaannya. "Ia yang mengharapkan kepuasan dalam hidupnya dari orang lain
adalah lebih hina daripada seseorang pengemis yang berlutut dan menangis untuk
memohon sepotong roti demi kelangsungan hidupnya."


Kemabukan

Kemabukan mengeyahkan akal budi,
menghilangkan ingatan,
menodai pikiran,
mengurangi kekuatan,
menggelorakan darah,
menyebabkan luka-luka luar dan dalam yang tak terobati,
mencemarkan badan jasmani.
merupakan setan bagi pikiran ,
penguras harta,
kutukan pengemis,
kesengsaraan istri,


kesedihan bagi anak,
gambaran binatang buas,
dan pembunuhan diri sendiri,
yang minum untuk kesehatan orang lain,
dan merampok miliknya sendiri,
Hasil terakhir ini tak lain tak bukan merupakan kemunduran fisik maupun moral.


Bahaya Obat Bius

Alkohol telah disebutkan sebagai salah satu penyebab utama dari kemunduran
fisik dan moral manusia. Akhir-akhir ini ada penyalahgunaan yang lebih kejam dan lebih
merugikan terhadap obat-obat bius yang berbahaya seperti obat yang mengandung
heroin, ganja, dan bermacam-macam bentuk lainnya. Penyalahgunaan ini menunjukkan
kebodohan pemakainya, menyebabkan timbulnya lebih banyak masalah sosial dalam
menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Masalah seperti ini sekarang telah
meliputi seluruh dunia. Akibatnya lebih mengkhawatirkan dan lebih membahayakan
dibandingkan dengan bahaya akibat alkohol.
Pencurian, perampokan, kejahatan-kejahatan seksual dan penipuan besar telah
terjadi sebagai akibat yang merusak dari pengaruh obat-obat bius. Pembunuhan telah
dilakukan dan sebagian besar keluarga telah dibinasakan oleh ketagihan obat bius.
Tidak terhitung lagi berapa banyaknya biaya yang diperoleh dengan susah
payah, telah dipergunakan oleh pemerintah di seluruh dunia untuk melepaskan
ketagihan terhadap kebiasaan buruk dan untuk merehabilitasi mereka, namun yang
tidak menggembirakan adalah bahwasanya sifat ketagihan ini tetap tidak dapat
dimusnahkan.
Merupakan kewajiban kita sebagai warga negara yang bertanggung jawab, untuk
menolong mereka dengan berbagai cara sekuat tenaga dan kemampuan kita, misalnya
melalui agama dan organisasi-organisasi sosial untuk membasmi kecanduan dan
kebiasaan yang buruk dan merugikan ini serta untuk mencegah agar putra-putri kita
tidak melekat padanya. Hidup dalam ketagihan obat bius merupakan hidup yang penuh
dengan penyiksaan dan merupakan neraka dunia, akan menyebabkan orang masuk
liang kubur lebih cepat daripada yang semestinya.
Sebagai makhluk hidup kita harus dapat melatih pengendalian diri kita dan
membedakan antara baik dan yang jahat. Menjauhi diri dari ancaman obat bius, dan
menolong orang lain untuk berbuat hal yang sama. Hal inilah yang merupakan
pelayanan kemanusiaan yang terbesar.


Hidup Rukun dan Damai

Sejarah telah mencatat bahwa diskriminasi rasial, diskriminasi warna kulit,
kefanatikan agama dan keserakahan dalam kekuasaan politik maupun kekayaan, telah
menciptakan kemalangan yang hebat, kemelaratan, kesengsaran dan kesulitankesulitan
di dunia ini, dan telah menarik biaya yang besar dari kehidupan dengan cara
yang bengis dan sadis. Hal-hal ini tidak pernah menyokong manusia ke arah kedamaian
dan kebahagiaan. Orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan serta yang diracuni
keirihatian selalu menciptakan kesulitan dan sering mencoba untuk membenarkan
tindakan bengis mereka dengan berbicara omong kosong dan dengan menyalahkan
orang lain. Kita hidup di dunia yang secara fisik bersatu, namun secara rohaniah
terpisah.


Andalah Yang Menciptakan Sorga dan Neraka di Dunia

"Jika Anda ingin hidup dengan damai dan bahagia di dunia ini, maka biarkan
juga orang lain hidup dengan damai dan bahagia, sehingga Anda dapat membuat dunia
ini menjadi suatu kehidupan yang berharga." Jika tidak, Anda tidak akan dapat
mengharapkan kedamaian dan kebahagiaan di dunia ini. Kedamaian dan kebahagiaan
sorgawi tidak diperoleh dengan hanya berdoa atau bersembahyang saja. Jika Anda
berbuat menurut prinsip-prinsip moral, maka Anda akan menciptakan sorga di sini, di
dunia ini, bagi Anda sendiri.
Jika tidak, maka Anda dapat melihat api neraka di dunia ini juga. Karena tidak
mengerti bagaimana hidup menurut hukum alam dan semesta, maka sewajarnyalah
kalau kita selalu mengeluh ketika kesulitan menghadang kita. Jika setiap orang
mencoba untuk mengatur dirinya tanpa menggerutu dan mengeritik orang lain, maka
kita dapat menikmati berkah sorga yang nyata dan lebih baik daripada sorga yang
diimpikan oleh sebagian besar orang sebagai sorga yang dianggap jauh di dalam alam
baka.
Sesungguhnya tidak perlu mendambakan sorga di tempat lain sebagai hadiah
kebaikan, ataupun neraka untuk menghukum si penjahat ; kebaikan dan kejahatan
memiliki reaksi yang tidak terelakkan di dunia ini. Yang terpenting dalam hal ini adalah
keyakinan Anda. Cara ini merupakan cara termulia di mana Anda dapat membantu
mensejahterakan masyarakat dan negara Anda.
Dewasa ini masyarakat telah berkembang sampai ke tingkat demikian
disebabkan pergertian dan keselarasan dari orang-orang yang memiliki rasa simpati dan
toleransi pada kebahagiaan dan kemajuan orang lain. Sekarang Anda dapat menyadari
mengapa Anda harus mempraktekkan kesusilaan. Di lain pihak Anda harus mengerti
bahwa dengan menolong orang lain secara moral, maka berarti Anda juga menolong diri
Anda sendiri secara moral (dari segi kesusilaan) maka berarti Anda juga menolong
orang lain.
"Kita hidup, berkerja, dan bermimpi,
Masing-masing memiliki rencananya sendiri,
Kadang-kadang kita tertawa;
Kadang-kadang kita menangis,
Dan demikianlah hari demi hari berlalu."


Perkawinan Yang Bahagia

Dalam pernikahan yang sesungguhnya, pria dan wanita lebih banyak berpikir
tentang persekutuan keduanya dibandingkan dengan yang dikerjakan oleh mereka
sendiri. Ini merupakan suatu jalinan kepentingan bersama, di mana rasa aman,
kesenangan dan kepuasan hati datang dari usaha timbal balik dari kedua belah pihak
serta kerelaan untuk berkorban demi mereka berdua.
Pada umumnya hampir semua kesulitan dan kegelisahan yang terjadi di antara
suami dan istri, orangtua dan anak-anaknya, keluarga dan teman-teman adalah
disebabkan oleh kesalahpahaman dan ketidaksabaran.
Seorang suami tidak boleh memperlakukan istrinya seperti seorang babu.
Walaupun dia (sang suami) adalah pencari nafkah bagi keluarganya, namun dia pun
berkewajiban membantu istrinya di rumah apabila ia mempunyai waktu senggang. Di
lain pihak, sang istri tidak boleh selalu merengek atau menggerutu kepada sang suami
apabila ada kekurangan di rumah; ia juga tidak boleh curiga pada suaminya. Jika
suaminya benar-benar mempunyai beberapa kelemahan, maka sang istri dapat
memperbaikinya dengan cara membicarakannya secara lemah-lembut. Sang suami juga
harus bertindak dengan bijaksana.

Perkawinan merupakan satu berkah; namun banyak orang yang merubah,
kehidupan perkawinannya menjadi sebuah neraka, disebabkan oleh kurangnya
pengertian, toleransi dan kesabaran. Kemiskinan bukanlah penyebab utama
ketidakbahagiaan suatu perkawinan. Suami dan istri harus belajar untuk membagi
segala sesuatu, baik kesenangan maupun kesusahan dalam kehidupan mereka seharihari.
Pengertian timbal balik dari kedua belah pihak merupakan rahasia kebahagiaan
hidup berkeluarga.


Menerima Kritik

"Rasa manis adalah penyakit, rasa pahit adalah obat." Pujian mirip dengan rasa
manis, bila berlebihan dapat menyebabkan penyakit; sedang kritik mirip dengan pil pahit
ataupun suntikan yang terasa sakit namun dapat menyembuhkan penderitanya. Kita
harus memiliki keberanian untuk menerima kritik dengan baik, bukannya malah takut
padanya.
"Keburukan yang kita temukan pada orang lain adalah pantulan dari perangai diri
pribadi kita sendiri."
Kehidupan pribadi seseorang manusia maupun keadaan sekitarnya dan dunia
merupakan pantulan dari pikiran-pikiran dan kepercayaan manusia sendiri. Semua
manusia adalah cermin bagi diri mereka sendiri. Semua manusia memandang dunia
berserta orang-orang dan benda-benda seperti melihat pada cermin yang memantulkan
kembali bayangan diri mereka sendiri.


Uruslah Urusanmu Sendiri
Betapa enaknya, jika Anda dapat mengurusi masalah Anda sendiri tanpa banyak
campur tangan orang lain. Sang Buddha menasehatkan :
"Janganlah engkau memperhatikan kesalahan
orang lain dan hal-hal yang dikerjakan
maupun yang tidak dikerjakan oleh orang
lain, karena engkau sendiri juga mempunyai
kewajibanmu sendiri yang dilaksanakan mau
pun dilalaikan."
Nasehat lain dari Sang Buddha : “Ia yang menggamati kesalahan orang lain dan
senantiasa lekas marah, maka kekotoran batinnya akan bertambah, ia akan jauh dari
penghancuran kekotoran batin."
Lebih lanjut lagi Beliau bersabda : “Mudah untuk menemukan kesalahan orang
lain ; namun sulit untuk menemukan kesalahan diri sendiri. Seseorang menampi
kesalahan orang lain bagaikan menampi dedak, tetapi kesalahannya sendiri
disembunyikannya bagaikan unggas cerdik yang menutupi dirinya sendiri.”
“Biarlah terjadi apa yang mungkin bisa terjadi. Janganlah merindukan
kesenangan duniawi. Orang bijaksana pikirannya tetap tenang dan tak tergoyahkan
dalam kesenangan maupun kesedihan."
Tidak ada seorang pun yang dapat hidup di dunia ini tanpa mengalami celaan
ataupun kritik dari orang lain. Sang Buddha bersabda :
“Mereka yang berdiam diri akan dicela, dan
mereka yang banyak bicara akan dicela ;
mereka yang bersikap tidak banyak bicara
dan tidak banyak berdiam diripun juga akan
dicela. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak dicela.”
Lebih lanjut Beliau menjelaskan, “Tak pernah ada dan tidak akan pernah ada,
sekarang pun tidak, bahwa seseorang terus menerus dicela sepenuhnya, atau terus
menerus dipuji.” Tidak semua orang yang mengeritik anda adalah musuh-musuh anda.
Seharusnya anda dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari kelemahan
anda yang tidak anda temukan sendiri.
Janganlah berhenti berbuat baik hanya karena anda dikritik. Jika anda memiliki
keberanian untuk melaksanakan perbuatan baik walaupun dikritik, maka sesungguhnya
andalah orang besar dan dapat berhasil di manapun juga.


Jangan Cemas
Rahasia kebahagiaan dan keberhasilan hidup terletak pada pelaksanaan apa
yang patut untuk dilaksanakan sekarang, bukannya mengkhawatirkan yang telah lalu
dan yang akan datang. Kita tidak dapat kembali ke masa yang silam dan mengubahnya
; kita juga tidak dapat mendahului segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan
datang ; Namun ada suatu saat yang dapat kita kendalikan dengan penuh kesadaran,
yakni masa sekarang.
Banyak orang yang cemas hanya karena memikirkan masa depannya.
Sesungguhnya, apabila mereka telah belajar untuk mengendalikan diri sesuai dengan
keadaan kehidupan mereka sehari-hari, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk
merasa cemas. Apapun angan-angan mereka, apapun impian yang ada di dalam pikiran
mereka, haruslah selalu diingat bahwa mereka hidup dalam dunia yang selalu berubah.


Jadilah Orang Baik

“Tidak ada bintang yang dapat kita percayai,
Tidak ada cahaya penuntun,
Dan kita tahu bahwa kita harus :
Berbuat baik, bersikap adil dan bijaksana.”


Tonggak Keberhasilan
Kegagalan merupakan tonggak keberhasilan. Belajar dari kegagalan akan
menuntun kita ke arah keberhasilan. Tidak pernah mendapat kegagalan berarti tidak
akan pernah memperoleh kemenangan. Tanpa mengalami kegagalan dan akibat
sampingannya, maka kita tidak akan dapat sepenuhnya menghargai kemenangan.
Kegagalan tidak hanya menolong kita untuk berhasil, melainkan juga membuat
kita murah hati, ramah, bersimpati, penuh pengertian dan kaya dalam pengalaman.


Kecantikan Yang Sebenarnya

Jika seseorang dilahirkan berwajah buruk, bagaimanapun buruknya, jika ia
mengembangkan cinta kasih, maka cinta kasih tersebut akan memberinya pesona abadi
dari dalam dirinya yang muncul ke luar dan mempertunjukkan keseluruhan dirinya
dengan pesona yang gaib yang akan membuatnya menarik (attractive) ; karena pesona
yang merupakan kecantikan sebenarnya, bukanlah rupa ataupun bentuk muka.


Kita ambil contoh seseorang yang sangat tampan, tapi kadang-kadang orang
tidak tertarik padanya, karena kecantikan atau ketampanannya mungkin dinodai oleh
kesombongan atau rasa kebanggaan atas kecantikan atau ketampanannya. Sebaliknya
kita ambil contoh seseorang yang buruk wajahnya, tetapi ia dipenuhi cinta kasih yang
tak terbatas, dan berbicara dengan lemah lembut serta tahu sopan santun, melayani
orang-orang dengan ramah tamah ; maka Anda akan melihat betapa menariknya dia
bagi semua orang.


Akhir Yang Damai

Orang-orang diganggu bukan oleh benda-benda, melainkan oleh pikiran yang
berhubungan dengan kebendaan. Sebagai contohnya adalah kematian. Sebenarnya
kematian itu sendiri bukanlah ukuran sesuatu yang luar biasa untuk ditakuti; perasaan
takut mati itu bersarang di dalam pikiran kita. Menerima kenyataan dari penderitaan
mungkin akan menyakitkan pikiran apabila kita tidak dapat menghadapi kenyataan, dan
inilah yang dapat memecahkan “balon kebahagiaan” kita.
Kemelekatan pada kehidupan di atas bumi merangsang ketidakwajaran dan
ketakutan akan kematian. Hal ini menyebabkan orang terlalu cemas akan
kesehatannya, tak akan pernah berani mengambil resiko walaupun demi kebenaran. Ia
hidup dalam ketakutan bahwa penyakit atau kecelakaan akan menghabisi hidupnya
yang sangat kecil di sini. Dengan menyadari bahwa kematian merupakan hal yang tidak
terelakkan, maka gangguan-gangguan yang tak terduga dan tak terelakkan akan
menyebabkan pecinta kehidupan duniawi mengharapkan dengan penuh gairah untuk
meneruskan kehidupan rohnya di sorga.
Tidak ada orang yang dapat berbahagia di dalam badai ketakutan dan harapan.
Sulit untuk menghina dan tidak mengindahkan kenyataan ini dari naluri untuk melindungi
diri.
Walau bagaimanapun, ada cara tertentu untuk mengatasinya. Yakni dengan
melupakan keakuan dalam memberikan pelayanan terhadap orang lain; dan
mengembangkan cinta kasih seseorang dari dalam ke luar. Dengan merasa asyik dalam
menolong orang lain, maka Anda akan melupakan ketidaksehatan Anda sendiri,
keterikatan keakuan dan harapan-harapan, kebanggaan dan keadilan diri sendiri.
Semua orang menginginkan kematian yang damai setelah menyelesaikan masa
hidupnya dengan kewajiban-kewajiban dan pertanggung jawabannya. Tetapi berapa
banyakkah orang yang telah menyiapkan tanah untuk kejadian seperti itu? Berapa
banyakkah orang yang tidak perduli akan kewajibannya atau mendapat kesulitan dalam
memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap keluarga, saudara-saudara, teman-teman,
negara, agama dan bangsanya? Jika seseorang meninggal dunia tanpa menyelesaikan
kewajiban-kewajiban tersebut, tentunya sangat sulit bagi orang seperti itu untuk
mengalami kematian yang damai.
“Banyak orang takut pada jenazah, padahal sesungguhnya badan yang hidup
jauh lebih berbahaya daripada badan yang mati. Lebih banyak orang yang dikalahkan
dan ditakuti oleh badan hidup daripada oleh badan mati yang tidak lagi mempunyai
kesadaran.”
Jika Anda berpisah dari dunia ini tanpa menyelesaikan kewajiban-kewajiban
Anda, maka kelahiran Anda di dunia ini tidaklah bermanfaat bagi diri Anda sendiri
maupun bagi diri orang lain. Jadi, laksanalah tugas dan kewajiban Anda, dan hadapilah
kematian dengan gagah berani dan penuh kedamaian, maka pada suatu saat Anda
akan dapat mencapai keadaan tanpa-kematian, di mana Anda dapat memperoleh
kebahagiaan nan abadi.

Kamis, 09 Mei 2013

Mengatasi Rasa Iri Dan Egois




Ven. K. Sri Dhammananda
Sumber Asli: HOW TO LIVE WITHOUT FEAR & WORRY; Tim BC (penterjemah)



Egois adalah penyebab iri, sementara iri memelihara egois

Suatu ketika ekor dan kepala seekor ular bertengkar tentang 'siapa' yang harus menjadi pemimpin. Ekor berkata kepada kepala, "Kamu selalu yang memimpin, ini tidak adil. Kamu harus membiarkan saya yang memimpin kapan-kapan". Kepala menjawab: "Itu tidak mungkin, karena sudah merupakan hukum alam bahwa saya yang harus menjadi kepala. Saya tak dapat bertukar tempat denganmu".

Pertengkaran berlangsung selama beberapa hari sampai suatu hari, karena marah, ekor mengikatkan diri pada sebuah pohon. Kepala tak dapat maju dan memutuskan untuk menuruti keinginan ekor. Sayang sekali, ekor tak dapat melihat arah perjalanan, dan jatuh ke dalam kobaran api, tewas.

Ada orang-orang yang tidak pernah puas dengan milik mereka dan iri kepada orang-orang lain yang memiliki lebih daripada mereka. Rasa iri yang dipendam dalam pikiran mereka menghalangi mereka dalam menikmati milik mereka. Bahkan walaupun mereka sudah sangat berhasil dalam pandangan orang lain, mereka tetap tidak puas dan tersiksa oleh kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil daripada mereka. Mereka seharusnya mengubah pikiran mereka dan menghitung berkah mereka daripada menanam rasa iri.

Penyebab Rasa Iri
..
Penyebab dasar rasa iri adalah ego seseorang. Jika seseorang berwatak aneh dan berego besar, ia hidup hanya untuk dirinya dan menganggap orang lain sebagai rival kuatnya. Ia iri kepada keberhasilan mereka. Ia menginginkan milik mereka. Ia tak tahan terhadap kebahagiaan mereka dan iri pada prestasi mereka. Pada analisa akhir para ahli, yang menimbulkan masalah adalah bahwa ia menjadi ketus dan berbahaya. Masalah ini dapat timbul karena berbagai sebab.

Masalah lebih banyak timbul dari sesama kita
..

Seekor anjing melakukan perjalanan keliling. Beberapa hari kemudian ia kembali, dan temannya bertanya apakah ia menemui kesulitan dalam perjalanan. Iaoleh: V menjawab bahwa ia bertemu dengan banyak orang dan hewan sepanjang jalan. Mereka tidak mengganggunya sama sekali.


"Satu-satunya persoalan yang saya temui adalah dari sesama kita", katanya. "Mereka mengganggu saya dengan menggonggong, mengejar, dan menggigit saya".

Hal yang sering terjadi ketika seseorang berhasil, orang-orang yang tidak mengenalnya tidak memperdulikannya. Sebaliknya, ia harus tahan terhadap teman-teman dan familinya yang mungkin merasa iri terhadap keberhasilannya. Mereka menyebarkan isue, dan bahkan merintanginya. Dalam keadaan demikian ia harus melatih kesabarannya. Mungkin lebih mudah baginya untuk mengingat bahwa sejumlah orang lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing daripada dengan masyarakat mereka sendiri.

Keegoisan timbul karena pandangan yang salah dan sikap yang tidak dapat menerima kenyataan hidup. Keegoisan adalah suatu perasaan sangat merusak yang berdasarkan impian dan menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan yang tak terlukiskan. Kewaspadaan diri dan penyembuhan harus dilakukan untuk mengendalikan emosi negatif tersebut.

Pikiran adalah kekuatan dimana kebaikan menghasilkan kebaikan. Buah yang kita petik berasal dari bibit yang telah kita tanam. Penderitaan dan kebahagiaan kita adalah akibat dari pikiran buruk dan baik kita yang berdasarkan hukum sebab/akibat, yang berlaku di dunia pada setiap rencana/perbuatan. Jika seseorang bernasib sial seperti mempunyai musuh, hal terburuk yang dapat dilakukan terhadap dirinya sendiri, dan bukan terhadap musuhnya adalah membiarkan dendam tersebut menetap dan membiarkan kebencian berkembang.

Kita semua adalah teman didalam penderitaan dan tunduk kepada kenyataan umum. Pilihan untuk mengembangkan kebajikan atau melakukan kejahatan, tergantung pada kita. Karena itu, jika kita tak dapat menahan diri ketika melihat atau mendengar prestasi/keberhasilan orang lain, kita perlu mengevaluasi kembali pandangan kita.

Kewaspadaan Pikiran
..
Dengan meninjau dan memeriksa pikiran buruknya, seseorang harus menyadari bahwa tidak ada yang memiliki kekuatan ataupun cara untuk merusak kedamaian batin dan keseimbangan pikirannya selain dia sendiri. Saat ia membandingkan dirinya dengan orang lain, ia menderita sendiri dengan berpikir bahwa ia memiliki lebih sedikit atau bahwa orang lain lebih berhasil daripadanya. Tak ada manfaatnya untuk memendam rasa iri, yang sering menyebabkan perpecahan di dunia.

Kita harus menyadari bahwa emosi negatif seperti iri, kemarahan, dan sakit hati melumpuhkan perkembangan pikiran. Kita harus berusaha untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh buruk tersebut sekuat tenaga. Iri tidak akan memenuhi keinginan kita, malahan menjerumuskan kita padajalan buntu dari penderitaan fisik dan mental yang mengandung kebencian, tidak tenteram, dan tidak pantas.

Kita harus selalu waspada terhadap pikiran yang tak sehat. Bilamana suatu pikiran buruk muncul dalam pikiran, kita harus mencoba untuk menghilangkannya atau menggantikannya dengan pikiran yang positif. Semua ini mengharuskan kita untuk waspada terhadap sesuatu yang masuk dan keluar dari pikiran kita. Melalui proses bertahap dari kewaspadaan diri, kita akan mampu memeriksa dan membuang pikiran negatif sebelum kita diperbudaknya.

Menghadapi Rasa Iri
..
Setelah kita mengetahui bahaya memendam rasa iri, kita kemudian dapat mencurahkan waktu dan tenaga kita untuk perkembangan yang menguntungkan dari pikiran kita yang bermanfaat tentang keramahan dan simpati. Kita harus memikirkan bahwa tidak ada yang bilang jika orang lain dapat maju dan sukses. Kita harus mengembangkan kesederhanaan, menghapuskan impian bagi diri sendiri, dan mengembangkan rasa simpati jika orang lain bahagia. Adalah suatu berkah bagi seseorang yang dikaruniai dengan pikiran baik tersebut, dan bagi dunia secara keseluruhan. Pelaksanaan rasa simpati terhadap penderitaan orang lain harus ditingkatkan sementara pada saat yang bersamaan menghapuskan pikiran egois. Suatu kehidupan yang bahagia dan memuaskan hanya dapat dicapai jika seseorang dapat mengatasi keegoisan dan mengembangkan jasa baik, pengertian, dan kebajikan.
Sang Buddha mendorong para pengikutnya untuk mengembangkan rasa simpati atau menghargai jika orang lain bahagia, yang merupakan obat efektif bagi rasa iri. Mereka mengambil suatu sikap yang berdasarkan ucapan selamat yang penuh kegembiraan ketika orang lain makmur dan sukses. Ini mungkin mudah dilaksanakan jika pihak yang makmur dan sukses tersebut adalah yang kita cintai, tetapi agak sulit menghargai musuh kita. Cobalah pikirkan: "Apakah kita tidak menginginkan kemakmuran dan kesuksesan? Apakah kita tidak ingin diberkahi dengan kebahagiaan? Seperti juga apa yang kita inginkan untuk diri kita, bukankah yang lain juga ingin diberkahi dengan kemakmuran, keberhasilan, dan kebahagiaan?" Menjaga sikap mental tersebut dapat membebaskan seseorang dari penderitaan seperti terjerumus kepada kegagalan, terutama jika dendam dan perbuatan jahat berkembang dari pikiran iri. Hal ini juga mencegah seseorang dari menghalangi orang lain maju.

Sebaliknya kita harus sabar kepada orang lain yang merasa iri terhadap keberhasilan kita. Reaksi mereka kadang-kadang dapat timbul karena kita tidak bersikap rendah hati. Kita harus memperhatikan prestasi kita di hadapan orang lain yang kurang berhasil. Selama kita sukses, kita harus mengingat kegagalan masa lalu kita sehingga kita dapat lebih mengerti perasaan orang lain yang kurang berhasil.

Sementara yang lain menentang kita karena iri, kita harus melindungi diri kita terhadap kebencian. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa kita, seperti yang lainnya, adalah pemilik kamma kita. Kita harus beipikir: "Untuk apa saya marah kepadanya? Kemarahan tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi hanya memperburuk keadaan. Kemarahan hanya membuat kamma yang menyebabkan penderitaan dan kehancuran bagi diri kita sendiri. Membalasnya dengan kebencian, hanya akan melukai diri sendiri, seperti seseorang yang mengambil bara dengan tangannya untuk memukul orang lain". Ada cerita yang menggambarkan dengan jelas bagaimana seorang pandita menundukkan seorang lawan yang iri tanpa mengambil jalan kemarahan.

Dapatkah Kau Menundukkan Aku?
..
Suatu ketika ada seorang pandita yang ceramahnya dihadiri oleh orang-orang dari seluruh kalangan. Ia tidak pernah menggunakan penjelasan yang bersifat mengajari, melainkan berbicara secara langsung dari hati kepada pendengar-pendengarnya.

Suatu sore, seorang guru dari sekte agama lain menghadiri ceramahnya. Guru itu marah karena pandita tersebut mampu menarik pendengar dalam jumlah banyak, termasuk para pengikutnya. Guru dengan ego yang besar tersebut memutuskan untuk berdebat dengan pandita tersebut.

"Hai, pandita!", serunya. "Tunggu sebentar. Orang lain mungkin mendengarkan dan menuruti kata-kata kau, tetapi aku tidak akan menghormati kau. Apakah kau dapat menundukkan aku?"

"Mari ke sampingku dan akan aku tunjukkan", kata sang pandita.

Guru itu menerobos kerumunan orang dan berdiri dengan pongah di samping sang pandita.

Sang pandita tersenyum, "Mari ke samping kiriku." Sang guru menurut.

"Tidak, aku pikir lebih baik di samping kananku", kata sang pandita. Dengan demikian kita dapat berbicara lebih enak". Sang guru dengan sombong berjalan kesamping kanan.

"Kau lihat", kata sang pandita. "Anda telah menuruti aku. Aku rasa kau adalah seorang yang sangat ramah. Silahkan duduk dan ikut mendengarkan ceramahku".
***


Sumber:
BUDDHA CAKKHU No.20/XII/1991; Yayasan Dhammadipa Arama.

Kamis, 21 Maret 2013

Dimanakah Sang Buddha ?



Mengenang
Venerable Dr. K. Sri Dhammananda
Nàyaka Maha Thera
18 Maret 1919 – 31 Agustus 2006.
Ini adalah artikel terakhir yang disampaikan
Venerable Dr. K. Sri Dhammananda
Nàyaka Maha Thera


Orang-orang sering menanyakan pertanyaan ini, ke manakah Sang Buddha pergi atau di manakah beliau sekarang tinggal? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab bagi mereka yang belum mengembangkan jalan hidup spiritual. Ini disebabkan setiap orang memikirkan mengenai hidup dengan cara pandang duniawi.

Suatu hal yang sulit bagi orang-orang untuk memahami konsep tentang Buddha. Beberapa misionaris agama tertentu mendatangi umat Buddha dan berkata bahwa Sang Buddha bukanlah Tuhan, beliau adalah manusia.Beliau telah mati dan menghilang. Bagaimana seseorang mendapatkan manfaat dari menyembah orang yang sudah mati?

Tetapi kita perlu memahami bahwa Sang Buddha disebut sebagai Satthà deva-manussànaü, guru para dewa dan manusia.Kapan saja para dewa memiliki masalah, mereka mendatangi Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatnya. Kemudian para misionaris tersebut mengklaim Tuhan mereka adalah Tuhan yang hidup dan itulah kenapa setiap orang harus menyembahnya.

Menurut ilmu pengetahuan, memerlukan jutaan tahun bagi kita untuk mengembangkan pikiran dan pemahaman kita. Ketika pikiran manusia belum sepenuhnya berkembang, mereka menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang membuat alam bekerja. Karena mereka tidak dapat memahami bagaimana persisnya alam itu bekerja, mereka mulai berpikir pastilah ada seseorang yang menciptakan dan memelihara peristiwa ini.

Untuk membantu yang lain memahami konsep ini, mereka mengubah energi ini menjadi suatu bentuk dan mewakilinya secara fisik sebagai patung-patung dan lukisan-lukisan. “Roh-roh” atau kekuatan-kekuatan ini begitu penting untuk membuat manusia melakukan sesuatu yang baik dan tidak melakukan sesuatu yang buruk dan untuk memberi mereka pahala jika mereka melakukan hal yang baik. Kita selalu memiliki rasa takut,khawatir, curiga, ketidak-amanan, sehingga kita membutuhkan seseorang untuk bergantung padanya, untuk melindungi kita.

Seringkali kekuatan ini dirubah menjadi tuhan yang tunggal.Sekarang sebagian orang bergantung pada tuhan untuk segalanya. Demikianlah mengapa mereka mencoba memperkenalkan ide mengenai roh yang kekal yang pergi dari sini dan tinggal di surga yang abadi. Hal itu memuaskan kehausan akan kehidupan kekal. Sang Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu yang muncul dalam suatu keberadaan adalah subjek dari perubahan, kehancuran dan kelapukan.

Ketika kita menganalisa kehidupan Sang Buddha, kita melihat Ia tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai anak tuhan atau pembawa pesan (nabi) tetapi sebagai guru agama yang tercerahkan. Pada saat yang sama Sang Buddha juga tidak memperkenalkan dirinya sebagai inkarnasi dari Buddha lain. Sang Buddha tidak diciptakan oleh Buddha yang lain, jadi Buddha bukanlah reinkarnasi dari Buddha yang lain. Beliau adalah seorang individu yang dengan bekerja dalam periode waktu yang lama, mengembangkan kehidupan setelah kehidupan dan menanam semua kualitas, kebajikan, kebijaksanaan agung yang kita sebut sebagai pàramità atau kesempurnaan. Ketika Beliau menyempurnakan semua kualitas yang baik beliau mencapai pencerahan yang merupakan pemahaman sempurna akan bagaimana alam semesta bekerja.

Ia menemukan bahwa tidak ada tuhan yang menciptakan alam semesta.
Orang-orang bertanya bagaimana Sang Buddha dapat mencapai pencerahan tanpa dukungan dari tuhan manapun.Umat Buddha mempertahankan bahwa setiap individu dapat
mengembangkan pikiran untuk memahami segalanya. Arti kata “manussa”, dalam berbagai bahasa berarti makhluk manusia.Tetapi arti dari kata “mana” adalah pikiran. Oleh karena itu
“manussa” adalah manusia yang dapat membangun dan mengembangkan pikiran menuju ke kesempurnaan. Selain manusia tidak ada makhluk-makhluk hidup lain di alam semesta ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai sedemikian luas, untuk mencapai pencerahan.

Bahkan tidak ada makhluk-makhluk adikuasa yang bisa menjadi Buddha karena mereka tidak bisa mengembangkan pikirannya sedemikian luas. Mereka memiliki sensualitas duniawi, kedamaian, kehidupan yang sejahtera, tetapi kekuatan pikiran mereka sangat lemah. Hanya manussa atau manusia yang bisa menjadi Buddha atau “Yang Tercerahkan”. Ketika orang-orang mengatakan bahwa Buddha bukanlah tuhan, kita tidak seharusnya mencoba membuktikan bahwa beliau adalah tuhan. Jika kita mencoba membuktikan hal ini maka sebenarnya kita merendahkan konsep pencerahan.

Beberapa orang mengklaim bahwa tuhan mereka telah memberikan pesan kepada umat manusia. Jika pesan itu adalah untuk semua umat manusia di dunia ini, mengapa tuhan tidak menyatakan pesannya kepada orang banyak, tetapi justru menyatakannya kepada satu orang. Sang Buddha tidak mendorong siapapun untuk percaya apapun atau mengklaim bahwa beliau di perintahkan oleh kekuatan tertinggi untuk melakukan sesuatu.

Suatu hari, seorang pendeta kristiani datang menemui saya bersama dengan pengikutnya untuk berdiskusi mengenai Buddhisme dan bertanya, “Sebenarnya dapatkah anda
mengatakan kepada saya apa yang umat Buddha percayai?”
Kemudian saya mengatakan kepadanya yang sebenarnya bahwa umat Buddha tidak “percaya” apapun. Kemudian ia menunjuk pada buku saya “What Buddhists Believe” (Apa yang Umat Buddha Percaya) dan ia bertanya “Mengapa anda menulis buku ini?” Saya mengatakan kepadanya, “Itulah mengapa saya menulis buku ini, untuk anda membacanya, untuk
melihat apakah ada sesuatu yang anda percayai.” Saya mengatakan kepadanya, Sang
Buddha telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu, Sang Buddha telah menasihati
kita apa yang sebaiknya kita lakukan. Daripada mempercayai,seseorang seharusnya berlatih pariyatti, pañipatti dan pañivedha1.

Ada tiga cara untuk berlatih. Pertama kita harus mencoba untuk memahami karena kita tidak seharusnya mempercayai secara membuta apapun yang tidak dapat kita pahami. Sang Buddha mengatakan bahwa pertama anda harus mencoba untuk memahami.
Dalam ajarannya mengenai “Jalan Mulia Berunsur Delapan”, hal yang pertama adalah sammàditthi, pengertian (pemahaman) benar. Sang Buddha memulai misinya dengan
meminta kepada pengikutnya untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman benar bukannya iman atau kepercayaan yang membuta. Setelah belajar kita mendapatkan pengetahuan yang luar biasa mengenai Sang Buddha dan ajaran-ajarannya. Anda harus melatih apa yang telah anda pelajari. Jika anda belum memahaminya anda akan mencoba menciptakan ide-ide berdasarkan imajinasi anda sendiri. Nasihat beliau adalah melatih apa yang telah anda pelajari dengan pemahaman.Setelah berlatih anda akan mengalami hasil atau efeknya. Inilah tiga metode yang Sang Buddha ajarkan, yaitu belajar,memahami, dan berlatih.

Inilah jalan untuk hidup di dunia ini untuk terlepas dari penderitaan. Sekarang anda dapat memahami bahwa jalan Sang Buddha dalam memperkenalkan agama dengan tidak meminta kita untuk percaya apapun tetapi untuk belajar, berlatih, dan mengalami hasilnya.
Sebagai contoh, Sang Buddha mengatakan bahwa anda harus berbaik hati, anda harus jujur. Setelah memahami ajaran ini, anda mencoba untuk melatihnya dan setelah itu setiap orang menghormati anda ketika mereka mengetahui bahwa anda sangat baik hati, sangat jujur. Tak seorang pun ingin mengganggu anda atau menyalahkan anda, tetapi mereka menghormati anda.

Itulah hasil yang baik yang anda alami. Pada saat yang sama Sang Buddha mengatakan bahwa anda harus mencoba untuk memahami sesuai dengan tingkat pengalaman anda sendiri. Anda dapat melakukan tes pada hasil latihan anda sendiri. Anda memahami mengapa beberapa hal adalah salah dan mengapa beberapa hal adalah benar dan anda tidak mengikutinya karena
suruhan atau perintah yang datang dari surga. Anda memiliki pemikiran dan akal sehat untuk memahami. Pemahaman kita dan pengalaman pribadi kita cukup untuk memahami mengapa sesuatu itu adalah salah atau benar. Sebagai contoh Sang Buddha menasihati kita untuk tidak menghancurkan kehidupan makhluk lain. Beliau tidak memperkenalkan hal ini sebagai hukum agama karena pemahaman manusia pasti dapat mengetahui bahwa membunuh itu adalah kejam. Tidaklah sukar bagi kita untuk memahami mengapa hal ini buruk karena ketika orang lain datang dan mencoba membunuh kita, pastilah kita tidak akan menyukainya. Lagi, beliau mengatakan bahwa ketika anda memiliki sesuatu yang berharga telah dicuri oleh seseorang, bagaimanakah perasaan anda?

Dalam cara yang sama ketika kita mencuri milik orang lain mereka juga tidak menyukainya. Tidaklah diperlukan bagi kita untuk menerima perintah dari tuhan manapun atau dari Buddha atau Yesus untuk memahami konsep sederhana ini. Guru-guru agama muncul di dunia untuk mengingatkan kita apa yang telah kita lalaikan atau lupakan. Pengalaman dan pemahaman pribadi anda sendiri lebih dari cukup untuk anda mengetahui mengapa hal-hal tertentu adalah benar atau salah.

Sang Buddha menasihati kita untuk berpikir dan memahami.
Kita memiliki pikiran yang beralasan. Kita memiliki akal sehat tidak seperti makhluk hidup lainnya yang juga memiliki pikiran tetapi tidak dapat berpikir secara rasional. Pikiran mereka terbatas untuk mencari makanan, tempat bernaung,perlindungan dan kenikmatan sensual. Mereka tidak meningkatkan pikiran mereka lebih luas. Tetapi manusia memiliki pikiran untuk berpikir dan memahami sampai tahap maksimal. Inilah kenapa para ilmuwan telah menyelidiki dan menemukan berbagai hal yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Tidak ada makhluk hidup lain di dunia ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai seluas itu. Karena itulah hanya manusia saja yang dapat menjadi Buddha. Hanya dengan mengembangkan pikiran mereka, manusia dapat mencapai pencerahan.

Sang Buddha mengatakan kepada kita, untuk bertindak sesuai dengan pengalaman kita. Kemudian kita dapat mengalami hasilnya. Pengikut dari semua agama lain, memberi salam kepada yang lain, dengan mengucapkan, “Tuhan memberkatimu”, tetapi umat Buddha sangat jarang member salam kepada yang lain dengan mengucapkan Buddha memberkatimu. Tetapi mereka membaca berulang “Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi “(Saya berlindung kepada Buddha). Jika mereka percaya bahwa mereka mendapatkan perlindungan dari Buddha mengapa mereka tidak memberi salam kepada yang lain dengan mengatakan, “Sang Buddha memberkatimu”.

Sang Buddha juga menasihati orang-orang untuk mengingat Sang Buddha ketika mereka merasa takut. Jadi, “Di Manakah Sang Buddha?” adalah topik kita.
Dapatkah kita katakan bahwa Ia berada di surga atau Ia tinggal di dalam Nibbana atau Ia tinggal di suatu tempat lainnya? Kemanakah beliau pergi? Kita harus mengingat bahwa apapun yang kita tanyakan adalah bentuk dari sudut pandang keduniawian.
Setelah mencapai pencerahan Sang Buddha berkata1, “ayam antimà jàti, natthi dàni punabbavo”, inilah kelahiranku yang terakhir,tidak ada lagi tumimbal lahir. Aku telah
menghentikan tumimbal lahir yang tidak ada habisnya di dunia ini, kehidupan ke kehidupan, dan mengalami penderitaan yang tidak ada akhirnya. Kenikmatan atau hiburan yang orang-orang alami merupakan kepuasan emosi sementara yang akan menghilang dalam waktu yang singkat. Hal ini menciptakan ketidakpuasan. Dalam sepanjang hidup, secara batin dan fisik kita mengalami penderitaan, kekhawatiran, permasalahan, kesakitan, kesukaran, bencana, dan ketidakpuasan yang sangat besar. Tak seorang pun di dunia ini yang mengatakan bahwa ia puas dengan kehidupan ini. Semua orang mengeluh dan menggerutu tentang masalah fisik ataupun batin. Dengan memahami situasi ini Sang Buddha telah menghentikan tumimbal lahir (rebirth). Hal tersebut disebut sebagai keselamatan. Keselamatan berarti bebas dari penderitaan fisik maupun batin. Dengan berada dalam wujud fisik maupun wujud apapun kita tidak dapat mengatasi penderitaan fisik dan batin kita. Oleh karena itu jika kita tidak menyukai penderitaan, hal yang terbaik adalah menghentikan kelahiran. Kita haus akan perwujudan/keberadaan. Kehausan dan kemelekatan ini sangat kuat dalam pikiran kita.

Tetapi kita ingin berada dalam semua kejengkelan atas penderitaan dan masalah, kesedihan, kesakitan dan bermacam masalah lainnya karena kehausan dan kebodohan kita. Sekarang lihatlah apa yang terjadi di dunia ini. Seluruh dunia adalah medan pertempuran, orang-orang di seluruh dunia menciptakan kekerasan dan pertumpahan darah dan perang dan kehancuran.
Hewan-hewan tidak hidup dengan menciptakan banyak masalah yang tidak perlu untuk menderita. Ketika mereka lapar mereka pergi keluar dan menangkap makhluk hidup lain, menghilangkan rasa lapar mereka dan pergi tidur. Tetapi manusia tidak dapat merasa puas tanpa haus terhadap begitu banyak hal lainnya.Kehausan, kemelekatan sangat kuat dalam pikiran manusia kita.

Oleh karena kecemburuan, permusuhan, kemarahan, kehendak buruk itu, kekejaman dan kejahatan muncul. Makhluk hidup lain tidak mengembangkan kekejaman mereka sampai
sedemikian besar.Manusia memiliki agama. Agama bukan sekedar menyembah dan berdoa tetapi melakukan suatu pelayanan kepada makhluk hidup lain dengan menjauhkan diri dari pikiran buruk sehingga kita dapat melayani makhluk lain. Aspek pemujaan dalam agama adalah penting tetapi dengan hal itu saja tidak akan bisa mengembangkan pikiran untuk mencapai pemahaman yang semestinya atau kebijaksanaan.

Sebelum kemangkatan Sang Buddha banyak orang menyerahkan bunga-bunga dan menghormati beliau. Sang Buddha meminta mereka untuk pulang ke rumah.
Beliau mengatakan bahwa jika mereka benar-benar ingin menghormatinya, selain dengan
bunga-bunga dan penyembahan, mereka harus melatih setidaknya satu dari nasihat-nasihat yang pernah beliau berikan.Dengan demikian mereka benar-benar menghormati Sang Buddha.
Sekarang anda dapat memahami apa yang Sang Buddha inginkan. Jalan hidup keagamaan bukan hanya untuk berdoa tetapi meneladani beberapa nasihat yang diberikan olehNya.

Suatu ketika seorang bhikkhu bernama Bakkula datang dan duduk di hadapan Sang Buddha dan memandanginya setiap hari.Suatu hari Sang Buddha bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan di sini?” ia menjawab, ” Ketika saya melihat tubuh fisik Sang Bhagava, hal itu memberikanku banyak kebahagiaan.” Kemudian Sang Buddha berkata, “Bakkula, dengan memandangi tubuh fisik yang kotor, menjijikkan, tidak kekal ini, apa yang kau dapatkan? Engkau hanya menyenangkan perasaanmu saja, engkau tidak akan pernah mencapai pengetahuan atau pemahaman tetapi menyenangkan perasaanmu. Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sesungguhnya melalui tubuh fisik. Buddha bukanlah tubuh fisik.”
Kemudian Sang Buddha berkata, “Hanya ia yang memahami Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha melihat Buddha yang sebenarnya.” Buddha yang sesungguhnya muncul di dalam pikiran ketika kita memahami apa yang Sang Buddha ajarkan.

Di sini anda dapat memahami bahwa Sang Buddha bukanlah seputar masalah tubuh fisik. Ketika anda belajar sejarah India, dalam hampir 500 tahun (setelah Sang Buddha parinibbàna) tidak ada satu pun råpaü (patung, gambar) Sang Buddha karena Sang Buddha tidak menganjurkan setiap orang untuk mendirikan råpaü dirinya. Adalah bangsa Yunani yang menciptakan råpaü Sang Buddha dan bentuk-bentuk simbol keagamaan lainnya.

Sekarang tentu saja bentuk-bentuk råpaü Sang Buddha yang berbeda-beda telah menyebar ke seluruh dunia.Penganut beberapa agama lain mengutuk kita sebagai pemuja berhala. Padahal mereka tidak mengetahui apa yang umat Buddha lakukan. Beberapa ratus tahun setelah kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu terkenal yang dipanggil Upagutha. Ia adalah seorang penceramah yang sangat terkenal.Ketika ia memberikan ceramah, ribuan orang berkumpul. Màra si jahat sangat tidak senang karena lebih banyak lagi orang yang menjadi religius. Màra bukanlah makhluk hidup tetapi gangguan dan rintangan batin yang kuat yang menghalangi seseorang menuju ke jalan kehidupan spiritual. Kemudian Màra dipersonifikasikan sebagai Yang Jahat. Màra ini mulai menampilkan pertunjukkan, tarian, nyanyian, kesukariaan yang menarik di depan Vihàra.

Kemudian para umat perlahan-lahan mulai beralih untuk melihat Màra. Tak seorang pun
yang mendengarkan ceramah Upagutha.Upagutha memutuskan untuk memberikan
pelajaran yang baik kepada Màra dan ia juga pergi melihat pertunjukkan itu. Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagutha mengatakan bahwa ia sangat menghargainya. “Untuk
menghargai pertunjukkanmu saya ingin menaruh rangkaian kalung bunga ini ke lehermu.
” Màra sangat bangga. Ketika Upagutha menaruh rangkaian kalung bunga, Màra merasa
kalung bunga itu membelit di sekitar lehernya seperti seekor ular python. Ia berusaha melepaskannya tetapi tidak bisa.Kemudian ia pergi menemui Sakka, raja para dewa dan
meminta kepadanya untuk melepaskan kalung tersebut. Sakka juga berusaha sekuat tenaga tetapi ia juga tidak bisa melepaskannya. Kemudian Màra pergi menemui Brahma yang pada masa itu dipandang sebagai tuhan pencipta dan meminta kepadanya untuk melepaskan kalung itu. Brahma juga mencoba melepaskannya tetapi tidak berhasil melepaskannya. Kemudian Brahma mengatakan kepada Màra bahwa hanya orang yang meletakkannya yang bisa melepaskannya. Lalu Màra harus kembali ke Yang Mulia Upagutha dan memohon kepadanya untuk melepaskannya kalau tidak Màra akan mati. Kemudian Upagutha berkata, “Tidaklah sukar tetapi saya hanya dapat melakukannya dengan 2 kondisi. Pertama, engkau harus berjanji di masa yang akan datang engkau tidak akan mengganggu apapun terhadap kegiatan keagamaan kami.” Màra setuju. “Hal kedua yaitu engkau telah melihat Sang Buddha karena dalam beberapa kesempatan kau berusaha mengganggu Sang Buddha. Kau hidup beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha. Kau memiliki kekuatan batin untuk menampilkan tubuh fisik Sang Buddha.” Màra berkata, “Ya, saya akan melakukannya jika anda berjanji untuk tidak menyembahku ketika aku muncul sebagai Sang Buddha karena aku bukanlah orang yang suci.” Kemudian Y.M. Upagutha berkata, “Saya tidak akan menyembahmu.” Namun ketika Màra muncul sebagai wujud Sang Buddha, Y.M. Upagutha segera menghormatinya. Kemudian Màra berteriak,“Engkau berjanji untuk tidak menyembah.” Kemudian Upagutha berkata, ”Saya tidak menyembah Màra tetapi menghormati Sang Buddha.”

Ini adalah contoh yang baik bagi orang-orang untuk menjelaskan kepada yang lain arti dari menghormati rupang (patung/gambar) Sang Buddha. Ketika anda menyimpan rupang Sang Buddha dan menghormatinya, anda juga dapat menggunakannya sebagai objek untuk meditasi. Hal ini bukanlah bentuk penyembahan berhala. Anda mengundang Sang Buddha ke dalam pikiran anda melalui simbol ini. Ini adalah symbol keagamaan. Bagaimana rupang Sang Buddha berdaya tarik bagi pikiran manusia dapat dipahami melalui peristiwa berikut.

Selama Perang Dunia Kedua di Burma kepala komandan pasukan menemukan rupang kecil Buddha yang indah.Rupang itu begitu menarik bagi pikirannya. Ia mengirim ripang  itu ke Sir Winston Churchill,yang pada waktu itu adalah Perdana Menteri Inggris, dengan catatan yang berbunyi, “letakkanlah patung ini di atas meja anda. Kapan pun anda merasa khawatir atau ada permasalahan, lihatlah pada wajah patung ini. Saya yakin anda akan dapat menenangkan pikiran anda.”
Mr. Nehru, mantan Perdana Menteri India, dahulu pernah ditangkap oleh pemerintah Inggris. Ketika ia berada di tahanan ia memiliki patung kecil Buddha di dalam sakunya. Ia mengeluarkan patung itu dan menaruhnya di atas meja dan memandangnya serta berpikir, “Meskipun banyak gangguan, permasalahan dan kesulitan di dunia ini, jika Sang Buddha dapat menjaga wajahnya tersenyum, mengapa kita tidak meneladani manusia agung ini?”
Anatole France yang merupakan sarjana Perancis,mengunjungi Musium London dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat rupang Buddha. Setelah melihat Rupang Buddha itu, ia berkata, “Jika tuhan telah turun ke bumi dari surga, ia tidak lain adalah sosok ini.” Namun rupang bukanlah hal yang terpenting. Banyak orang yang dapat berlatih ajaran Sang Buddha tanpa rupang (patung/gambar) apapun. Bukanlah suatu kewajiban mereka harus memiliki rupang. Kita tidak menyembah, kita tidak berdoa, kita tidak memohon apapun dari rupang (patung/gambar) tetapi kita memuja, kita member penghormatan kepada sosok seorang manusia spiritual agung.

Salah satu anggota kita telah menyimpan rupang Buddha selama 45 tahun di dalam rumahnya. Suatu hari beberapa misionaris dari agama lain datang dan mengatakan kepadanya bahwa ia menyembah iblis. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Hal ini mengejutkan karena setelah 45 tahun ia telah menyembah rupang  itu dan ia tidak tahu apa yang harus dikatakan ketika orang lain mengutuknya. Ini adalah kelemahan dari beberapa umat Buddha kita. Mereka mengikuti tradisi, menyembah, berdoa, melakukan persembahan, chanting(1) tetapi mereka tidak mencoba memahami ajaran Sang Buddha.

Sekarang anda dapat memahami bahwa dengan atau tidak dengan rupang (patung/gambar) Buddha anda bisa berlatih ajaran Sang Buddha. Karena tubuh fisik bukanlah Sang Buddha.
Menurut aliran Buddhisme Mahayana ada 3 tubuh Sang Buddha atau 3 kaya, yaitu Sambhogakaya, Nirmanakaya, Dharmakaya. Ia menggunakan Sambhogakaya and Nirmanakaya untuk melakukan makan, tidur, berjalan, berbicara, menasihati, mengajar. Semua aktivitas ini Ia lakukan dengan tubuh fisik.
Ketika Sang Buddha mencapai parinibbàna kedua tubuh ini menghilang. Tetapi Dharmakaya atau tubuh Dharma Sang Buddha tidak pernah dapat menghilang. Menurut aliran Buddhisme Mahayana, Sang Buddha Amitabha berada di tanah suci Sukhavati. Mereka yang melafalkan namanya dengan hormat dan mereka yang menyembahnya akan lahir di tanah suci dan yang nantinya akan mendapatkan kesempatan untuk mencapai Nibbana. Menurut cara berpikir dan kepercayaan mereka, konsep ini memberikan banyak harapan dan kepercayaan bahwa Sang Buddha masih tetap hidup sampai semua makhluk mencapai pembebasan terakhir.

Sang Buddha pernah menyatakan, “Apakah Sang Buddha muncul atau tidak, Dhamma tetap ada selamanya di dunia ini.” Ketika seorang Buddha muncul, Ia menyadari bahwa orang-orang telah melupakan Dhamma yang sejati. “Dhamma yang saya pahami ini bukanlah Dhamma yang diciptakan olehku”,kata Sang Buddha. Dhamma ini selalu ada tetapi orang-orang telah salah menafsirkannya, menciptakan konsep yang salah menurut imajinasi diri mereka sendiri dan secara keseluruhan mencemarkan kemurnian Dhamma. Bahkan hal ini terjadi sekarang, setelah 2500 tahun Sang Buddha mengungkapkan kebenaran sebagai Dhamma. Orang-orang melakukan kesalahan-kesalahan selama berabad-abad lamanya atas nama Sang Buddha.
Hal ini bukan berarti mereka benar-benar mengikuti nasihat yang diberi oleh Sang Buddha. Tetapi mereka memperkenalkan praktik kebudayaan tradisional mereka yang dicampur dengan Buddhisme dan memperkenalkannya sebagai Buddhisme. Sebagai umat Buddha, kita harus berusaha untuk mempelajari apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dan berusaha untuk melatih apa yang Sang Buddha ajarkan untuk mencari keselamatan kita.

Orang-orang bertanya di manakah Sang Buddha. Untuk berlatih Buddhisme tidak perlu bagi kita untuk mengetahui di manakah Sang Buddha, atau ke manakah beliau telah pergi.
Ambillah sebagai perumpamaan, kita memiliki listrik yang ditemukan oleh seseorang. Apakah penting bagi kita untuk mengetahui orang yang menemukan listrik, di manakah dia dan dari negara mana dia datang dan siapa namanya? Tugas kita adalah menggunakan listrik itu. Lagi, mereka yang menemukan atom atau energi atom, dapat menggunakan energi atom ini untuk tujuan pembangunan ataupun penghancuran. Jadi adalah tugas kita untuk menggunakan energi ini dalam cara-cara yang patut. Tidaklah perlu untuk mengetahui sesungguhnya siapa yang menemukan energi atom ini. Manusia telah menemukan komputer dan televisi tetapi bukanlah hal yang penting bagi kita untuk mengetahui nama dan hal-hal mendetail lainnya dari
mereka, tugas kita adalah menggunakannya.

Dengan cara yang sama janganlah bertanya di manakah Sang Buddha, atau ke manakah beliau telah pergi. Jika Dhamma, apa yang beliau ajarkan adalah benar, tersedia, dan
efektif mengapa perlu untuk mengetahui di mana Sang Buddha.
Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa beliau dapat memasukan kita ke dalam surga atau neraka. Sang Buddha dapat memberitahu anda apa yang tidak dilakukan dan apa yang dilakukan untuk mencapai keselamatan kita, itulah satu-satunya yang dapat Sang Buddha lakukan. Beliau tidak dapat melakukan apapun untuk anda. Tugas anda adalah berlatih apa yang telah Sang Buddha ajarkan kepada kita. Orang lain mengatakan bahwa tuhan mereka bisa menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh manusia. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesalahan yang diciptakan oleh seseorang dapat dihapus oleh orang lain. Buddha, dewa/tuhan juga tidak dapat melakukannya.

Ketika seseorang hendak meninggal dan berkata ia percaya akan tuhan setelah semua kesalahan yang dilakukannya dapatkah tuhan menghapus kesalahan-kesalahannya?
Sebagai perumpamaan mungkin anda adalah seorang yang bertemperamen sangat tinggi dan anda tahu hal ini adalah salah tetapi anda tidak tahu bagaimana menyingkirkannya. Lalu anda pergi berdoa kepada tuhan dan memohon kepadanya untuk menghilangkan keburukan dalam pikiran anda, apakah anda piker tuhan manapun dapat melakukannya?
Anda boleh pergi menyembah Sang Buddha dan meminta kepada Sang Buddha untuk menyingkirkan keburukan anda. Tapi Sang Buddha juga tidak dapat menyingkirkannya dari pikiran anda. Sang Buddha hanya dapat memberitahukan anda bagaimana memindahkan
kemarahan anda dengan usaha anda sendiri. Tak seorang pun dapat menolong anda, melainkan diri anda sendiri melalui pemahaman anda. Diri anda sendirilah yang harus menyadari,“Kemarahan ini berbahaya, dapat menimbulkan banyak masalah,gangguan, dan kesulitan dan menyakiti dan mengganggu yang lain. Saya harus berusaha mengurangi rasa marah dengan kekuatan batin saya dan menimbulkan keinginan kuat untuk menghilangkan kemarahan dari pikiran.” Jadi Sang Buddha ataupun tuhan tidak dapat menghapus kesalahan yang dibuat oleh kita, tetapi kita sendiri yang dapat melakukannya. Ada nasihat yang baik yang diberikan oleh Sang Buddha. Jika siapapun yang telah melakukan sebuah perbuatan buruk atau kamma buruk, mereka tidak dapat menghapus dampaknya dengan berdoa kepada tuhan atau Buddha. Namun ketika mereka mengetahui bahwa mereka telah melakukan perbuatan buruk, maka mereka harus menghentikan melakukan perbuatan buruk lagi. Anda harus menimbulkan tekad yang kuat dalam pikiran untuk menciptakan lebih dan lebih banyak lagi kamma baik atau perbuatan bajik. Ketika anda mengembangkan perbuatan bajik anda, dampak dari kamma buruk yang anda perbuat sebelumnya akan dapat teratasi oleh kamma baik.

Ambil sebagai contoh Angulimàla, seorang pembunuh yang membunuh hampir seribu manusia. Ketika Sang Buddha mengetahuinya Beliau datang menemuinya. Angulimàla ingin membunuh Sang Buddha karena ia telah menyelesaikan 999 pembunuhan. Ia bersumpah untuk membunuh seribu orang,sehingga ia sangat senang ketika ia melihat Sang Buddha dan ia berusaha untuk menangkapnya. Sekali-kali Sang Buddha menunjukkan sedikit keajaiban. Mengetahui bahwa sukar untuk mengajar orang ini, Sang Buddha berjalan secara normal dan membiarkan Angulimàla untuk lari mengejar. Meskipun Angulimàla telah berlari hamper 4 mil, ia tidak dapat mendekati Sang Buddha. Kemudian Angulimàla meminta kepada Sang Buddha untuk berhenti dan Sang Buddha mengetahuinya bahwa sudah saatnya bagi Sang Buddha untuk berbicara kepada Angulimàla. Sang Buddha berkata, “Saya telah berhenti, engkaulah yang berlari.”
Angulimàla berkata, “Bagaimana engkau bisa katakan bahwa kau telah berhenti, saya melihatmu berjalan.” Sang Buddha menjawab, “Saya telah berhenti berarti saya telah berhenti membunuh atau menghancurkan kehidupan makhluk hidup. Kau yang berlari berarti kau masih melakukan kejahatan. Jika kau berhenti berlari maka kau dapat menangkapku.” Kemudian Angulimàla berkata, “Saya tidak dapat memahami apa yang kau katakan.” Kemudiaan Sang Buddha berkata, “Saya telah berhenti membunuh dan kau masih melakukannya, itulah artinya berlari. Kau berlari dalam samsàra.” Lalu Angulimàla mengetahui bahwa ia bersalah dan memutuskan untuk mengikuti Sang Buddha dan ia menjadi bhikkhu dan mulai bermeditasi.

Kemudian ia mencapai tingkat kesucian arahat dan menggapai Nibbana. Kamma buruk tidak memiliki kesempatan untuk datang kepadanya1. Ia mengembangkan kamma baik dan
kamma buruk tidak memiliki kesempatan untuk berbuah padanya. Itulah yang Sang Buddha telah katakan. Sang Buddha mengajarkan metode ini untuk mengatasi efek atau dampak
dari kamma buruk bukan dengan berdoa kepada tuhan manapun tetapi dengan melakukan lebih dan lebih banyak perbuatan bajik.

Jika saya mengatakan Sang Buddha tinggal di salah satu bagian dari alam semesta dalam wujud fisik hal ini bertolak belakang dengan ajaran Sang Buddha. Di lain hal jika saya
mengatakan bahwa Sang Buddha tidak tinggal di salah satu bagian alam semesta dalam wujud fisik banyak orang sangat tidak senang karena mereka haus akan perwujudan/keberadaan yang tidak dapat dipuaskan. Selain itu mereka mengatakan hal ini merupakan ketidakadaan. Hal ini bukanlah ketidakadaan;ini adalah akhir dari penderitaan fisik dan batin dan pengalaman Nibbana atau pembebasan. Di lain pihak ada beberapa orang yang sangat membutuhkan wujud fisik dari rupang Sang Buddha untuk menenangkan pikiran mereka, mengurangi ketegangan,ketakutan dan kekhawatiran. Meskipun demikian tidaklah benar bagi kita untuk mengatakan bahwa Sang Buddha hidup atau tidak. Lebih dari cukup bagi kita jika doktrin atau ajaran Sang Buddha bermanfaat bagi kita untuk mengalami kedamaian, kepuasan dalam kehidupan.
Sebagai contoh seorang dokter yang menemukan obat yang sangat efektif. Jika obat itu bermanfaat, dapat menyembuhkan penyakit, tidaklah perlu bagi kita untuk mengetahui di mana dokter ini dan apakah ia masih hidup atau tidak? Hal yang penting adalah menyembuhkan penyakit kita dengan meminum obat tersebut. Demikian pula halnya ajaran Sang Buddha lebih dari cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala penderitaan kita.

Sang Buddha telah memberikan kita hak untuk berpikir bebas dalam memahami apakah suatu hal adalah salah dengan menggunakan akal sehat kita atau alasan bagi kita untuk memahami hakikat sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada.
Di lain pihak tidak ada satupun yang eksis di bagian alam semesta yang tanpa mengalami perubahan, tanpa kelapukan dan tanpa kehancuran karena semuanya ini adalah perpaduan
dari unsur-unsur, energi dan kekuatan batin dan kekuatan kamma. Oleh karena itu mustahil bagi energi-energi dan unsure-unsur atau kekuatan batin, kekuatan kamma ini untuk tetap
selamanya tanpa perubahan. Jika anda bisa memahami hal ini maka ajaran Sang Buddha akan membantu anda untuk memahami bagaimana menghadapi permasalahan dan kesukaran anda, untuk mengatasi ketidakpuasan kita. Jika tidak kita akan menghadapi penderitaan fisik dan batin, ketidakpuasan dan kekecewaan. Kita perlu bertindak dengan bijaksana untuk menyingkirkan permasalahan kita. Adalah sulit bagi kita untuk menyingkirkan penderitaan kita hanya dengan berdoa,menyembah kepada siapa saja, tetapi dengan melalui pemahaman akan permasalahan dan kesulitan yang sebenarnya,kita akan mampu menyingkirkan berbagai permasalahan.

Banyak orang bertanya ke mana Sang Buddha pergi? Jika seseorang mengatakan bahwa Sang Buddha pergi ke Nibbana maka mereka berpikir bahwa Nibbana itu adalah suatu tempat.Nibbana bukanlah suatu tempat, Nibbana merupakan kondisi batin bagi kita yang mencapai pengalaman akan pembebasan akhir. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Sang Buddha telah pergi ke suatu tempat atau Sang Buddha tetap ada tetapi ia mengalami Nibbana atau tujuan akhir dalam hidup. Jadi jawaban terbaik untuk pertanyaan “Di Manakah Sang Buddha?” adalah Sang Buddha berada dalam pikiran anda yang telah merealisasikan Kebenaran Tertinggi.

Judul Asli : Where is The Buddha?
Oleh : Ven. K. Sri Dhammananda Nàyaka Maha Thera
Penterjemah : Bhagavant.com
Editor : Sumedho Benny
Layout & Cover : DhammaCitta.org