Tampilkan postingan dengan label YM. Sri Paññavaro Mahathera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YM. Sri Paññavaro Mahathera. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

Sukses dalam Perspektif Buddhis




Ven. Sri Paññāvaro Mahāthera

1. Sukses sering menjadi identik dengan bahagia. Orang yang bahagia  dipersepsikan orang yang sukses. Bahagia dan sukses menjadi obsesi setiap orang.

2. Sukses berarti pula terpenuhinya kebutuhan primer: makanan, pakaian, tempat tinggal dan obat-obatan.Seiring dengan kemampuan dan keinginan manusia, kebutuhan itu kemudian meningkat, seperti: pendidikan, hiburan, kendaraan dan sebagainya.

3. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, manusia tidak hanya harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan tetapi juga sikap mental yang tangguh.
   Oleh karenanya harus ada persiapan mental yang tepat agar bisa bekerja dengan baik. Manusia mempunyai kemampuan dan kesempatan yang amat luas untuk meningkatkan kualitas mentalnya dalam mencapai tujuan.

4. Tidak ada tempat bagi kita untuk menggantungkan ataupun berserah diri. Keberhasilan atau kemunduran dalam kehidupan ini adalah tanggung jawab kita masing-masing. Berserah diri akan menghancurkan sikap kemandirian.

5. Sikap mental yang harus dikembangkan adalah:

I. Chanda (kegembiraan dalam pekerjaan). Bangkitkan kegembiraan dan kepuasan dalam melakukan pekerjaan. Kegembiraan dalam bekerja akan membangun etos kerja yang sehat. Adalah keliru bila berpikir bahwa ‘hanya akan gembira dan puas bila hasil akhir telah tercapai.” Sebab bila hasil akhirnya tidak sesuai harapan, hanya kekecewaan yang menjadi buah dari seluruh proses pekerjaan.

II. Viriya (semangat dan ketekunan dalam setiap pekerjaan). Ulet dan gigih, tidak cepat putus asa.Jangan mudah berhenti bila hasilnya belum tercapai.
    Ketekunan, semangat dan gigih dalam berusaha adalah setingkat di atas bakat, keterampilan dan pengetahuan. Banyak orang berbakat yang kandas karena tidak disertai ketekunan dan kegigihan.
    Thomas A. Edison, penemu bolam listrik, gramofon,dan lainnya—yang kita kenal sebagai orang jenius—memberikan pernyataan yang sangat bagus:
  
   “Kejeniusan adalah satu persen inspirasi dan Sembilan puluh sembilan persen lainnya adalah keringat. Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja. Demikian juga penemuan saya tidak terjadi karena suatu kebetulan. Penemuan ini ada karena saya kerjakan.”

III. Citta (mengerjakan pekerjaan dengan pikiran penuh). Memberikan perhatian penuh pada setiap pekerjaan akan membuat pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Perhatian penuh atau kewaspadaan akan menjauhkan diri dari kelalaian dan akan menimbulkan banyak peluang keberhasilan. Citta juga akan menjaga diri untuk tidak berpaling pada hal-hal yang tidak ada relevansinya dengan pekerjaan itu.

IV. Vimamsa (menganalisa hal-hal yang sedang dikerjakan). Ide baru yang tidak tampak di hadapan kita secara kasat mata akan ditemukan bila kita menggunakan penyelidikan atau analisa dalam setiap pekerjaan. Makin luas penyelidikan kita maka makin banyak pula ide-ide atau gagasan baru yang akan muncul, yang sebenarnya berada tepat pada pekerjaan yang sedang kita hadapi.

6. Tetapi, rintangan dalam bekerja sering timbul berkali-kali.Akankah kita mampu sukses untuk bahagia? Obsesi untuk bahagia sebahagia mungkin tanpa rintangan, sulit mencapai kemajuan bila kita belum dapat menguasai diri kita sendiri dengan baik.

7. Faktor-faktor luar akan merangsang emosi negative (kilesa), yang mendorong timbulnya perilaku negatif.Penderitaan pada orang lain akan menjadi akibatnya.
    Karenanya diperlukan sikap mental (‘lanjutan’)untuk mengatasi emosi-emosi negatif yang dapat menghancurkan diri sendiri dan juga orang lain.
    Kegagalan dalam mengendalikan emosi dan perilaku negatif ini meskipun kita berhasil dalam kebutuhan materi, dunia pekerjaan atau profesi adalah kegagalan
    dalam mencapai arti sukses yang sesungguhnya.

8. “Kemarahan tetangga tidak membahayakan secara langsung, tetapi kemurkaan sendiri akan melukai dirinya sendiri.”

9. Bila seseorang bekerja sekeras-kerasnya, bahkan sangat keras untuk meningkatkan kondisi keuangannya,hingga bisa memenuhi semua keinginannya, mobil yang bagus, rumah yang memadai, dan mengira bahwa hal itu adalah parameter sukses, maka pertumbuhan ekonomi semata telah menjadi ukuran sukses. Inilah paradigma dunia modern tentang sukses dan bahagia.
    Etos modernitas sekarang ini adalah “Etos Kerakusan.”
    Manusia modern sulit melihat adanya dimensi atau faktor lain yaitu faktor internal sebagai faktor terpenting untuk hidup bahagia.

10. Sesungguhnya sikap mental untuk menghadapi kondisi internal lebih penting dari hal-hal eksternal dalam menentukan sukses dan bahagia. Latihan mental dengan melepaskan keserakahan (keakuan), mempertahankan kesabaran, bertahan dalam kesulitan/ penderitaan,pengendalian perilaku dan meditasi adalah latihan mental untuk membangun inner strength, inner peace,inner happiness. Inilah sukses yang sesungguhnya.

“Harumnya bunga tidak dapat melawan arah angin,
begitu pula kayu cendana, bunga tagara, dan melati.
Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; 
Harumnya nama orang bajik dapat menyebar
ke segenap penjuru sampai ke surga.”
(Dhammapada 54)

Minggu, 29 Juli 2012

Asadha Agung


Sri Pannyavaro Mahathera :
Pada perayaan Asadha Agung di Candi Mendut, 28 Juli 2012:

Asadha tahun 2556TB ini adalah genap 2600 tahun pencerahan sempurna Guru Buddha.

26 Abad usia Dhamma
26 Abad usia sangha

Apakah yang di sampaikan Guru Agung kita 2600th yang lalu ?

Guru agung menjelaskan sesuatu yang berbeda dgn yang pernah di dengar manusia pada waktu itu.

Guru Agung menyampaikan
"Hidup ini adalah penderitaan"
"Penderitaaan bersumber dari diri sendiri"
"Penderitaan bukan dari luar...
Bukan hukuman...
Tetapi konsekuensi atas suatu aksi..

Dan Kita sendirilah yang harus mengatasi itu.
Tidak bisa mengandalkan bantuan dari Luar.

Penderitaan di sebabkan Nafsu Keinginan (Tanha) ,
yang berkembang menjadi Kemelekatan (upadana).

Keinginan yg berkobar-kobar
yang selalu mendapat pemenuhan
yang kemudian menjadi kebiasaan
dan inilah sumber penderitaaan...

Keinginan / harapan / tuntutan yang terpenuhi bukankah kebahagiaan ?
Ya tetapi sepintas...

Karena.....
Keinginan yg terpenuhi itu
akan menuntut kembali
dengan keinginan yang baru
Dan kita hanya merasakan bahagia sebentar....

"Kebahagiaan" yang sesungguhnya adalah
bukan karena nafsu yang terpenuhi...

justru karena nafsu yang padam..
Itulah "kebahagiaan" yang sesungguhnya !

Walaupun belum bisa memadamkan
Nafsu keinginan namun dengan
Hanya Mengecilkan / mengurangi nafsu keinginan
Akan membawa pada Ketentraman.

Walaupun kobaran hawa nafsu
belum padam....
tetapi hanya mengecil
itupun akan memberikan kebahagiaan

Untuk terpuaskannya Nafsu Keinginan
Sekalipun Terjadi Hujan Emas
Mendapatkan hal seperti itupun
Hawa nafsu tidak akan padam.

Penderitaan juga di buat sendiri
karena adanya kobaran api kebencian...

Pada bulan Asadha 2600th yang lalu
Guru kita memberikan "JALAN"
untuk memadamkan keserakahan dan kebencian

Jika tidak selektif dengan keinginan
Maka itu akan menjadi kobaran nafsu
Dan itulah penyebab penderitaan.
KEINGINAN adalah PENYEBAB penderitaan...

Selamat Hari Asadha Puja 2556 TB

Rabu, 25 Juli 2012

TERBITNYA MATAHARI KEMANUSIAAN






oleh: YM. Sri Paññavaro Mahathera

         Tanggal 11 Juli 1987, kita sekalian umat Buddha memperingati hari yang amat bersejarah bagi kehidupan umat manusia, tidak lain adalah hari suci Asadha. Tepat dua bulan setelah mencapai kebuddhaan yaitu pada saat purnama sidhi di bulan Asadha, yang bersamaan dengan bulan Juli; Sang Buddha mengajarkan Kebenaran Ariya untuk pertama kalinya. Peristiwa yang dikenal juga dengan Kotbah Pertama ini terjadi di tamam rusa Isipatana, dekat kota Benares. Lima orang petapa bekas teman berjuang yang dahulu meninggalkan Beliau, merupakan orang-orang paling berbahagia yang mendengarkan Kebenaran untuk pertama kalinya. Mereka itu adalah, Yang Mulia: Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

        Apakah sesungguhnya yang telah Beliau kumandangkan kepada dunia, pada waktu Beliau  menyampaikan kotbah-Nya yang pertama? Hingga peristiwa itu mempunyai arti yang amat penting, bahkan mempunyai nilai keramat bagi kemanusiaan. Dalam kotbah pertama Beliau itulah Beliau menyampaikan hakekat kehidupan umat manusia, dan tujuan kehidupan ini. Dan lebih dari pada itu, Beliau menunjukkan Jalan Yang Agung, Yang Suci, untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan kemelaratan batin. Semuanya Beliau simpulkan dalam Empat Kebenaran Ariya yang sangat terkenal; jantung dan sumber dari seluruh ajaran Beliau.

         Sekarang marilah kita tinjau apakah Kebenaran Ariya yang pertama itu. Kebenaran Ariya pertama adalah kebenaran tentang adanya derita yang mencengkram kehidupan ini.

         Dari lahir sampai akhir hayat kita, proses jasmani yang melalui usia tua, melewati bermacam-macam penyakit; semuanya adalah bentuk-bentuk dari derita. Inilah derita secara jasmaniah.

         Semua aspek mental yang tidak menyenangkan; sedih, putus-asa, kegagalan, dan 1001 macam gangguan batin, adalah bentuk-bentuk penderitaan mental kita. Penderitaan jasmani dan mental ini merupakan penderitaan yang sangat terasa menyengat hidup kita (dukkha-dukka).

         Namun, sesungguhnya apapun juga yang tunduk pada sifat ketidak-kekalan, yang senantiasa berubah-ubah, yang tidak pernah memuaskan, adalah derita (viparinama-dukka).

         Dan pada hakekatnya kehidupan kita ini adalah timbunan dari kelompok-kelompok derita (sankhara-dukkha).

        Derita inilah yang pertama-tama dihadapkan oleh Sang Buddha kepada kita, yang Beliau kumandangkan sebagai jeritan umat manusia sepanjang masa. Kita tidak boleh menutup mata pada kebenaran tentang adanya penderitaan dalam kehidupan. Kita harus menghadapi dan menyadarinya.

         Kebenaran Ariya yang kedua adalah kebenaran tentang sebab timbulnya penderitaan itu. Sebab itu tidak lain adalah nafsu-nafsu keinginan (tanha).

         Nafsu keinginan untuk memuaskan rangsangan pikiran dan lima pintu-indria kita, adalah sumber derita. Suatu ketika kekayaan yang dikumpulkan dengan tekun, rumah yang megah bertingkat, habis musnah, karena masuk ke mata, atau masuk ke mulut, atau ke indria-indria lainnya. Inilah nafsu keinginnan indria (kama-tanha) yang sangat ganas pada suatu ketika; merupakan sumber derita yang amat dasyat.

         Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul nafsu keinginan untuk senang terus; untuk berbahagia terus, untuk muda terus, untuk hidup terus; dengan bermacam-macam cara ditempuhnya keinginannya itu. Inipun termasuk nafsu keinginan hidup terus (bhava-tanha), merupakan sumber penderitaan juga.

        Dan, kalau pada suatu ketika usaha gagal, kalau keluarga tidak harmoni, kalau dikejar-kejar penyesalan; timbullah keinginan untuk cepat-cepat meninggal, untuk bunuh diri, untuk memusnahkan hidupnya sendiri; karena beranggapan sesudah kematian tidak ada lagi sesuatu di baliknya. Ini adalah nafsu-keinginan untuk memuaskan hidup (vibhava-tanha), yang menjadikan juga sebab timbulnya penderitaan pada kehidupan ini.

         Bahkan penderitaan yang kecil-kecil sampai yang amat mengerikan, seperti misalnya: cekcok rumah-tangga, pertengkaran, penyelewengan,tindak pidana; sampai peperangan yang menelan korban ribuan umat manusia. Apakah sebabnya? Dimanakah sumbernya? Tidak lain, bersumber dari nafsu-nafsu keinginan. Inilah jawaban yang paling tepat.

         Apakah yang Beliau sampaikan tentang Kebenaran Ariya ketiga? Kebenaran Ariya ketiga adalah kebenaran tentang Kebahagian Tertinggi yang mampu dicapai oleh setiap orang. Bila mereka mau, dan mau berusaha dengan tekun, dengan penuh semangat, untuk melenyapkan sebab-sebab penderitaan itu secara mutlak.

         Kebenaran Ariya keempat menuntut penghayatan dari setiap orang. Karena Kebenaran Ariya keempat ini adalah Jalan Agung, Jalan Yang Ampuh untuk melenyapkan sebab-sebab penderitaan. Hingga mereka yang menghayatinya pasti mencapai Kebahagian Tertinggi atau Nibbana. Jalan Keramat itu sesungguhnya hanyalah satu, namun terdiri dari delapan unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu dari yang lainnya. Jalan berunsur delapan ini disebut juga Jalan Tengah. Karena Jalan ini tidak berkompromi dengan pendapat yang menganggap bahwa dengan memenuhi nafsu-nafsu indria kebahagian sejati bisa dicapai; dan juga jalan ini tidak berkompromi dengan pendapat yang  mengatakan bahwa dengan menyakiti atau menyiksa badan jasmani, kebahagiaan bisa dicapai.

         Setiap orang yang melangkahkan kaki di atas Jalan Tengah Keramat harus mengembangkan tiga latihan, yaitu:

 1. SÎLA

        Sila adalah latihan dari: Ucapan benar, perbuatan benar, dan mata-pencaharian benar. Sila adalah menjaga dan mengendalikan pintu-pintu indria kita. Bila Saudara hidup dengan mempunyai sila yang baik, Saudara menjadi pengawas bagi hidup Saudara sendiri.

 2. SAMÂDHI

        Samadhi berarti: mengembangkan semua perbuatan baik. Berusaha mengerjakan segala sesuatu yang bertalian dengan kebaikan, dengan penuh perhatian dan kesadaran. Berjuang sungguh-sungguh membangun keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Inilah arti dari mengembangkan latihan Samadhi. Dengan latihan Samadhi, Saudara akan menjadi manusia pembangun yang sejati.


3. PAÑÑA

        Mengembangkan Pañña berarti: mengembangkan kebijaksanaan; yaitu dengan jalan memupuk pengertian yang benar tentang kehidupan ini, dan menjaga pikiran dari timbulnya keserakahan, kekejaman, dan kekerasan. Mengetahui antara yang benar dan yang tidak benar. Antara yang berguna dan yang tidak berguna. Menyadari bahwa tugas kita belum selesai, kita harus berjuang dengan tekun, dengan gigih, dan ulet. Inilah ynga disebut dengan kebijaksanaan.

         Latihan dari ketiganya: Sîla, Samâdhi, dan Kebijaksanaan, adalah latihan melaksanakan Jalan Tengah Keramat yang membawa terbebasnya hidup kita masing-masing dari cengkeraman derita, baik lahir maupun batin.

         Makna kotbah pertama yang disampaikan oleh Sang Buddha pada hari suci Purnama Siddhi Asadha lebih dari 2500 tahun yang lalu, tetap bergema, tetap segar dan menjiwai hidup kita, laksana terbitnya matahari kemanusiaan.***



Sumber : KUMPULAN DHAMMADESANA Jilid 1; Sri Paññavaro Thera; 1988

Sabtu, 23 Juni 2012

MEMAHAMI SIFAT KEHIDUPAN



     
Malam hari ini seolah-olah kita kembali pada peristi wa di lebih dari 2500 tahun yang lalu, pada saat purnama di bulan Asadha, di taman kijang Isipatana, di dekat Kota Benares. Tatkala Guru Agung kita Buddha Gotama memberikan Dhammadesana pertama, berkhotbah untuk pertama kalinya—yang kemudian dikenal sebagai khotbah Pemutaran Roda Dhamma atau Dhammacakkappavattana Sutta.

     Peristiwa Asadha, sering disebut sebagai hari lahirnya agama Buddha, oleh karena pada saat bulan purnama di bulan Asadha itulah, Dhamma pertama kali dibabarkan di dunia ini. Karena itu, sering juga, peringatan Asadha disebut sebagai Hari Dhamma.Pada saat purnama di bulan Asadha itu, terdapat lima orang bhikkhu yang menjadi bhikkhu-bhikkhu pertama di dunia yang membentuk Sangha. Añña Kondanna—yang tertua—yang pertama mencapai ti ngkat kesucian Sotapana setelah mendengar khotbah pertama tersebut. Oleh karena itu pula, hari Asadha disebut juga Hari Sangha. Pada hari Asadha lahir Dhamma dan juga Sangha. Sehingga saat purnama di bulan Asadha sering dikenang sebagai hari munculnya Triratna secara sempurna.Dan saya membayangkan peristiwa 25 abad yang lalu, di tengah kesunyian taman menjangan Isipatana saat bulan purnama sempurna Asadha, timbullah sinar yang sangat terang melebihi sinar para dewa, dan memancar sampai ke alam para dewa.Khotbah Sang Buddha menggetarkan 10.000 tata surya—menyambut khotbah yang pertama itu. Disebutkan dalam Sutta itu bahwa Roda Dhamma telah diputar, tidak ada seorang pun dari alam semesta ini, sekali pun Dewa Brahma, yang mampu menghenti kannya. Hal ini menunjukkan betapa penti ngnya khotbah pertama ini. Tetapi ungkapan tersebut adalah ungkapan yang sangat tepat dan tidak berlebihan, jika Saudara berusaha untuk mengerti khotbah Sang Buddha yang pertama ini.

    Khotbah pertama ini menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia atau Empat Kebenaran Ariya, dan inilah inti dari seluruh ajaran Sang Buddha yang Beliau ajarkan selama 45 tahun dan kemudian dicatat dalam kitab suci Tripitaka menjadi 45 jilid.Kesunyataan itu oleh Sang Buddha disebut juga Ariya Sacca. Sang Buddha menyebutkan Ariya untuk menjelaskan Dukkha, oleh karena kebenaran ini sesungguhnya merupakan kebenaran bagi semuanya. Ariya Sacca adalah kebenaran yang tidak terbatas pada satu masa dan satu tempat, tetapi kebenaran yang dialami hampir oleh semua makhluk di alam semesta ini.

Penjelasan Ariya Sacca tentang Dukkha sebagai berikut:

Kelahiran adalah dukkha, proses menjadi tua adalah dukkha, sakit adalah dukkha, dan akhirnya kematian adalah dukkha.Selain itu, berkumpul dengan mereka yang dibenci adalah dukkha, berpisah dari yang dicintai juga dukkha. Dan uraian ini ditutup oleh, kemelekatan atas faktor-faktor yang membuat kehidupan ini adalah dukkha. Kelahiran adalah dukkha, tapi sulit untuk dijelaskan - kita semua mengalami kelahiran, tapi sulit untuk diingat kembali. Begitu kelahiran terjadi, proses penuaan sudah berlangsung, berlangsung tiap saat—tiap saat kita menuju proses ketuaan. Setelah tua, kita akan terjangkit bermacam-macam penyakit—apaun itu jenisnya; dan akhirnya kematian menyudahi proses kehidupan kita sekarang ini. Bahkan proses ketuaan sudah terjadi saat kita pertama kali dilahirkan sampai kita baru sadar bahwa telah menjadi tua. Proses ini kemudian oleh sebagian besar atau hampir seluruh makhluk dianggap sebagai penderitaan.

    Mengupas tentang penderitaan, mengapa sampai timbulpenderitaan, dan mengapa hal ini disebut penderitaan. Bila dirinci ada 3 macam dukkha, sebagai berikut:

1. Penderitaan fisik.

2. Penderitaan karena mengalami perubahan.

3. Penderitaan karena segala sesuatu itu perpaduan.

Saat Sang Buddha menjadi seorang raja Dhammapala dan melihat rambutnya menjadi putih, Beliau sadar proses ketuaan hamper mencapai puncaknya. Beliau kemudian segera meninggalkan takhta, istana, dan menjadi seorang pertapa. Tetapi sekarang ini, pada umumnya orang akan berpikir lain; jika melihat rambut menjadi putih, maka akan berusaha menutupinya, baik dengan mencabut maupun menyemir rambut, walaupun proses ketuaan itu akan tetap terus berlangsung.

Jadi, apakah yang membuat dukkha itu. Dukkha itu muncul karena kita menganggap hal itu sebagai dukkha. Akan tetapi, apabila kita tidak menganggap hal itu sebagai dukkha, maka hal itu tidak akan menjadi dukkha. Misalkan Anda diharuskan meninggalkan rumah untuk keperluan studi; apabila Anda merasa tidak nyaman karena mungkin kamarnya tidak cukup besar, meninggalkan sesuatu yang berharga di rumah asal, maka timbullah dukkha,rasa tidak puas, rasa tidak enak. Akan tetapi bila hal itu dilihat sebagai proses atau kewajaran, tentu tidak akan ada dukkha.Demikian juga, akibat tidak mempunyai pengerti an dan pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu, muncullah penderitaan itu.

     Salah satu kisahnya adalah Kisa Gotami, seorang janda yang mempunyai anak laki-laki semata wayang—yang pada anaknya itu ditumpahkan segala harapan dan perhatian,hingga pada suatu ketika, sang anak mendadak meninggal dunia.Tetapi Kisa Gotami tidak bisa menerima kenyataan itu, dan dia menganggap anaknya bisa hidup lagi. Ia berusaha mencari obatnya. Akhirnya Kisa Gotami menghadap Sang Buddha untuk meminta Sang Buddha menghidupkan anaknya kembali. Sang Buddha menyanggupi permintaan itu, dengan syarat Kisa Gotami harus mencari segenggam biji sawi dari keluarga yang belum pernah mengalami kematian. Kisa Gotami pun pergi dari satu rumah ke rumah lainnya, tetapi tidak ada satu keluarga pun yang tidak pernah mengalami kematian sanak keluarganya. Sekarang Kisa Gotami melihat kematian sebagai kewajaran, setelah melihat kenyataan itu, lenyaplah penderitaan yang menyelimuti pikirannya.

Penderitaan itu muncul ketika seseorang mempunyai keinginan atau selera yang tidak sesuai dengan sifat kehidupan ini.

Sifat kehidupan ini adalah tidak kekal, tidak menentu, proses perubahan berlangsung terus-menerus, sampai kematian.

Apabila seseorang melupakan sifat kehidupan ini, maka akan timbul dukkha. Contohnya adalah bila berpisah dengan yang kita cintai. Itu adalah proses yang wajar, tapi apabila kita menjadi gelap dan buta; tidak menyadari perpisahan itu adalah proses yang wajar dari kehidupan ini, maka akan timbul dukkha. Termasuk kematian, kesenangan yang luntur, benda yang menjadi rusak; sesungguhnya semua kejadian itu merupakan sesuatu yang wajar. Apabila bisa mengerti kewajaran ini, maka pikiran Anda akan seimbang. Hal ini akan mengubah dukkha, penderitaan, ketidakpuasan, kekecewaan menjadi keseimbangan.

Salah satu bentuk dukkha adalah kekecewaan terhadap persepsi.

Sebelum anda memulainya, sudah keluar angan-angan lebih dahulu, persepsi. Seperti keti ka mencicipi buah anggur. Ketika kita sudah punya persepsi atau angan-angan bahwa buah anggur itu manis dan lezat, tentu kita akan mendapat kekecewaan bila buah anggur tersebut ternyata berasa asam. Persepsi-persepsi itulah yang menyebabkan penderitaan, kekecewaan, ketidaksenangan, dan sebagainya.


   Oleh karena itu, dalam kehidupan yang serba maju, persaingan sedemikan cepat dan keras ini, kita dihadapkan pada tantangan-tantangan yang tidak ada akhirnya sampai nanti saat menutup mata, dan kelak dilahirkan kembali. Tetapi bila mampu melihat kehidupan ini sebagai tidak kekal, berubah,tidak abadi—melihat secara siap dan sadar, maka pada saat menghadapi perubahan-perubahan itu kita akan menghadapinya dengan keseimbangan dan kewajaran. Perubahan tersebut tidak sampai menimbulkan penderitaan.

Kesunyataan yang kedua adalah tanha (nafsu keinginan), yaitu selera yang tidak cocok dengan sifat kehidupan yang selalu berubah, yang kemudian menimbulkan dukkha. Akan tetapi, bila sanggup menerima sifat yang wajar dari kehidupan ini,tentu semua kekecewaan dan dukkha akan berubah menjadi keseimbangan. Namun pada prakteknya, hal ini sangat sulit dilakukan karena kemelekatan kita masih kuat. Dari pertemuan yang berulang-ulang dengan nafsu keinginan, kenikmatan yang dicicipi atau dirasakan tersebut berakibat makin menguatnya kemelekatan, baik kemelekatan terhadap orang tua, pada teman yang dekat, pada keadaan yang nyaman yang enak. Bila sampai perubahan terjadi, kita akan sulit menerimanya. Seolah-olah semua pengetahuan dan pengertian yang Anda dapatkan dari khotbah-khotbah yang sering Anda dengar, menjadi tidak berguna sama sekali.Jadi sesungguhnya, kebodohan kita atau lenyapnya pengetahuan kita, yaitu tidak bisa menyadari ketidak-kekalan dari segala sesuatu; karena kita tertutup oleh kemelekatan akan tanha; inilah sesuatu yang amat berbahaya. Yaitu: tanha dan upadana (kemelekatan yang ti mbul dari nafsu keinginan)! Manusia bisa mempunyai ambisi yang sangat jahat, kecewa yang hebat, dan melakukan apapun demi memuaskan seleranya, karena tanha dan upadana. Bahkan ini lebih hebat dari ‘guna-guna’ ataupun‘santet’, karena ‘guna-guna’ pun hanya berlangsung dalam satu kehidupan saja, namun tidak demikian halnya dengan tanha,upadana, dan avijja. Nafsu keinginan yang dibiarkan itu akan menimbulkan kemelekatan, dan kemelekatan itu akan membuat menjadi gelap. Pengertian, ceramah, khotbah, pengetahuan dari membaca buku lenyap semua, dan ia hanya akan mengikuti keinginan yang memenuhi pikirannya itu.

     Bagaimana melenyapkan tanha, upadana, dan avijja agar pikiran kita selalu terang? Dan bagaimana membuat pengertian-pengertian di atas tidak hanya sekilas, tetapi terangnya berkelanjutan. Untuk melenyapkan tanha, upadana, dan avijja diperlukan kebijaksanaan. Walaupun ada keinginan atau cita-cita yang muncul, keinginan itu harus disertai dengan kebijaksanaan bahwa segala sesuatu tidak ada yang kekal. Maka, keinginan ini tidak akan menjadi kemelekatan. Bila kemelekatan ti dak muncul,maka teranglah di dalam pikiran.

    Pada saat berbicara, bertindak, cobalah untuk selektif. Jangan asal berbicara atau berbuat dengan ‘sembrono’. Berbicara dan berbuat dengan selektif adalah cara membendung tanha, upadana dan munculnya sila. Selain itu, kita juga harus menghancurkan tanha dengan meditasi, sehingga muncul pañña.

Pikiran menjadi sangat terang dan tidak akan goyah melihat perubahan—yang sekarang terlihat sebagai kewajaran. Kita akan mengubah segala kekecewaan, ketidakpuasan, penderitaan, dukkha menjadi keseimbangan, apabila kita mampu melihat semuanya sebagai proses kewajaran. Inilah yang disampaikan Sang Buddha 25 abad lalu, ketika orang masih percaya terhadap dewa, mengharap berkah pada dewa, dan kepercayaan tidak masuk akal lainnya.

    Sang Buddha mengungkapkan Empat Kesunyataan Mulia dengan sangat jelas, dan makin relevan di masa kini—dalam perspektif intelektualas dan sains.
Sang Buddha mengungkapkan mengapa manusia menderita,tidak lain karena manusia tidak mengerti tabiat kehidupan ini,tidak mau mengerti sifat kehidupan ini. Yang baik dianggap tidak baik, yang tidak kekal dianggap kekal; yang menyenangkan sementara, dianggap abadi. Penjelasan ini adalah revolusi berpikir yang dimulai oleh Sang Buddha lebih dari 25 abad lalu, di saat jaman masih sangat kuno—tetapi ajaran itu makin relevan sekarang. Bahkan Sang Buddha tidak menemukannya dengan menggabungkan ide-ide, tetapi pada saat membabarkan Dhamma untuk yang pertama kalinya Sang Buddha menyatakan bahwa Beliau tidak pernah mendengar Dhamma itu sebelumnya,sampai tercapainya Pencerahan Sempurna.

    Mari kita memberikan terang pada pikiran kita masing-masing,karena pikiran itu dapat menjadi sesuatu yang jahat. Yang baik dianggap tidak baik, yang tidak kekal dianggap kekal; yang menyenangkan sementara dianggap selamanya; dan kita dibuat mengejar kenikmatan kembali, sehingga kemelekatan dan penderitaan muncul berkelanjutan.

Sesungguhnya Sang Buddha mengungkapkan bahwa tanha,upadana, avijja itu muncul dari pengertian yang salah dan merupakan awal dari semua penderitaan. Seperti dalam sebuah cerita seorang kaya yang tidak menyukai agama Buddha, dan bertanya pada bhante yang sudah tua, “Bhante, menurut Bhante muka saya seperti apa?” Bhante itu menjawab, “Saya melihat muka Anda seperti Buddha yang penuh dengan cinta kasih.”

Orang yang memusuhi tadi berkata dalam diri, “Saya tidak mengira, walaupun menghina agama Buddha dan mengejek Bhante, tetapi beliau tetap bilang muka saya seperti Buddha yang penuh cinta kasih.” Bhante yang tua ini memiliki murid yang masih muda dan agak jengkel terhadap orang kaya tadi,yang walaupun menghina agama Buddha dan sering mengejek bhante, tetapi dikatakan oleh sang guru mukanya seperti Buddha yang penuh cinta kasih. Murid ini kemudian bertanya pada orang tadi, “Kalau Anda melihat muka guru saya, seperti apa?” Orang itu menjawab, “Ow, saya melihat muka gurumu seperti kotoran sapi.”
Lalu sang murid berkata, “Sesungguhnya demikian, oleh karena guru saya ini sangat hormat—mengerti sekali siapakah Sang Buddha itu, dan pikirannya selalu baik; sifat-sifat Sang Buddha selalu dikembangkan, sehingga ketika melihat Anda,Anda seperti Sang Buddha. Akan tetapi karena pikiran Anda selalu memikirkan yang jelek-jelek dan pikiran Anda tidak murni, maka Anda melihat guru saya seperti kotoran sapi. Apa yang Saudara ucapkan dan perbuat sesungguhnya adalah pencerminan dari pikiran Anda!”


Kumpulan ceramah Sri Pannyavaro Mahathera

Vidyāsenā Production

Vihāra Vidyāloka


Jumat, 15 Juni 2012

Kebaikan Tanpa ke-Aku-an


Khanti paramam tapo
ti ti kkhām, nibbānam paramam
vadanti buddhā
na hi pabbajito parūpaghāti ,
samano hoti param
vihethayanto
Sabbapāpassa akaranam,
kusalassūmpasampadā
Sacitt apariyodapanam, etam
buddhāna sāsanam
Anūpavādo anūpaghāto,
pāti mokkhe ca samvaro
matt aññutā ca bhatt asmim,
pantañca sayanāsanam
adhicitt e ca āyogo, etam
buddhāna sāsanan’ti

                                                                                            (Ovada Patimokkha)



Sanghanayaka Thera dan Bhikkhu Sangha yang saya hormati , pagi hari ini seolah-olah alam di sekitar kita ikut memberikan perhatian dalam memperingati Māgha Pūjā dan sekaligus peletakan batu pertama tempat meditasi Dhammaguna. Suasananya sejuk, tidak panas dan juga tidak hujan—hening, burung-burung berkicau seolah-olah mereka ingin menyaksikan satu peristiwa, yang meskipun kecil, tetapi mungkin merupakan peristiwa yang amat berarti dalam perjuangan kita dalam mencapai kebebasan dan membantu orang banyak dalam mencapai kebebasan pula.

Ibu, bapak, dan Saudara sekalian, di pagi hari ini, kita memperingati Māgha Pūjā, meskipun peristiwa itu—peringatan itu—sudah agak lama lewat. Sudah tentu Māgha Pūjā mengingatkan kita kembali kepada empat peristiwa istimewa yang terjadi pada hari yang sama, atau dengan kata lain empat tanda istimewa yang menandai peristiwa Māgha. Empat tanda istimewa yang terjadi pada bulan purnama di bulan Māgha yang umumnya jatuh dalam bulan Februari atau Maret adalah berkumpulnya 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian Arahat di Veluvana Ārāma, di kota Rajagaha, ibukota Kerajaan Magadha.
Jumlah yang sebanyak itu—mereka semua—datang tanpa diundang, tanpa perjanjian sebelumnya. Ke-1250 bhikkhu Arahat itu, semuanya ditahbiskan oleh Sang Buddha sendiri dengan rumusan ‘Ehi Bhikkhu’. Juga sering dikatakan bahwa ke-1250 bhikkhu Arahat tersebut, semuanya mempunyai chalabhiñña—cha abhiñña—enam kesaktian luar biasa (lima kesakti an duniawi dan satu kesaktian lokuttara atau mengatasi keduniawian). Oleh karena itu, kalau 1250 bhikkhu yang Arahat itu, tanpa perjanjian dan tanpa diundang, datang serentak dengan tujuan yang sama, di tempat yang sama, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang mengherankan; karena kesemuanya mempunyai abhiñña,kesaktian dan juga kesucian sempurna.
Pada peristi wa yang sangat penting itu, Guru Agung kita membabarkan khotbah yang amat singkat, kita kenal sekarang dengan judul Ovāda pātimokkha, anjuran untuk praktek menuju kebebasan.

Di awal khotbah ini, saya mengulang Ovāda pātimokkha secara lengkap.
Khotbah itu singkat dan memang tidaklah mengherankan kalau khotbah itu singkat, karena Sang Buddha memberikan ovāda atau instruksi kepada 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai kesucian sempurna atau Arahat.
Saya ingin menguraikan Ovāda pātimokkha itu pada kesempatan ini, saat kita memperingati kembali, merenungkan kembali peristiwa Māgha dan sekaligus mengiringi peletakan batu pertama pembangunan wisma Dhammaguna.
Namun saya tidak akan menjelaskannya secara lengkap karena akan memakan waktu cukup panjang. Saya memeti k beberapa kalimat dari Ovāda pātimokkha yang rasanya sangat sesuai untuk kita renungkan bersama pada pagi hari ini.
Pada bait ketiga khotbah Beliau yang singkat, Guru Agung kita mengucapkan “Anūpavādo anūpaghāto” – ‘Jangan menghina,jangan menyakiti ’.Jangan menghina dan jangan menyakiti sesungguhnya adalah praktik yang paling awal bagi setiap umat Buddha—dan juga mungkin tidak berlebihan kalau saya mengatakan bagi setiap umat beragama—dalam usaha membawa kemajuan bagi hidupnya. Jangan menghina, jangan menyakiti adalah praktik awal bagi orang-orang yang beragama, ajaran awal,persiapan awal bagi tiap orang yang menginginkan kemajuan dalam kehidupan ini. Jangan menghina, sesungguhnya adalah mengendalikan ucapan, sementara jangan menyakiti adalah mengendalikan perbuatan. Sang Buddha kemudian mempertegas lagi dengan “Pātimokkhe ca samvaro”, mengendalikan diri sesuai dengan patimokkha bagi para bhikkhu, sesuai dengan sila bagi umat awam. Pātimokkhe ca samvaro adalah sabbapāpassa akaranam, menghentikan semua perbuatan jahat.

Ibu, bapak dan Saudara sekalian, apalagi kalau Saudara menginginkan kemajuan spiritual, agar ada sesuatu yang berharga di dalam diri Saudara yang harus Saudara bangun, tidak hanya fisik, tidak hanya sarana gedung-gedung yang tampak.
Ada sesuatu di dalam diri saya yang harus saya bangun, maka persiapan awal adalah pengendalian diri. Pengendalian diri adalah persiapan awal untuk membangun sesuatu yang berharga di dalam diri kita. Tanpa persiapan awal ini, bahkan kehidupan beragama pun tidak ada manfaatnya. Tanpa pengendalian diri, kehidupan beragama tidak akan terasa faedahnya. Kemuliaan seseorang akan dihargai bukan karena dia menaklukkan orang lain, tetapi karena dia menaklukkan dirinya sendiri.
Ibu, bapak dan Saudara sekalian, pengendalian diri adalah realita kehidupan umat beragama, perilaku keber-agama-an yang awal.Pengendalian diri adalah persiapan untuk membangun kualitas mental spiritual Anda. Hanya dengan persiapan itu saja, hanya dengan perilaku keber-agama-an awal itu saja, sangat besar sumbangsih yang bisa diberikan oleh manusia dalam kehidupan bersama. Kalau Saudara sekarang mendengar dari media-media massa, dari koran, dari televisi, tentang kekerasan, pembunuhan,kekejaman; apakah yang menjadi faktor semua hal itu bisa terjadi? Sebabnya adalah manusia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Saya ingin mengulang, seandainya Saudara hanya mampu beragama pada tataran awal dengan mengendalikan diri, dengan tidak menghina, dengan tidak menyakiti , hanya itu; itupun dampaknya amat besar bagi kehidupan bermasyarakat,bagi kehidupan bersama, bagi membangun keluarga, bagi kita yang tinggal di tengah-tengah orang banyak.
Kita harus membangun kembali rakyat bangsa ini dengan bertekad, marilah kita memperkuat dengan pengendalian diri. Saudara tidak akan dihargai kalau Saudara menaklukan orang lain, tapi Saudara menjadi orang mulia, mahluk yang mulia kalau Saudara mampu mengendalikan diri Saudara sendiri.
Ibu, bapak dan Saudara sekalian, sering orang mempunyai pandangan, beragama atau menjalani Dhamma itu memang sulit,tetapi kesulitan yang kita pikul, kesulitan dalam melaksanakan Dhamma itu, nanti akhirnya akan memberikan manfaat yang luar biasa. 
Saya ingin menyatakan bahwa pandangan ini tidak benar—bukan berarti salah, tetapi tidak lengkap. Kalau Saudara berusaha mendalami Dhamma dan berusaha praktik Dhamma, meskipun sukar bukan berarti Saudara harus menahan kesukaran itu bertahun-tahun baru akhirnya Saudara akan memetik manfaatnya.
Tetapi pada saat Saudara mulai menjalani Dhamma, pada saat itu juga sesungguhnya Saudara sudah merasakan manfaat Dhamma.Manfaat Dhamma itu berkelanjutan, berkesinambungan, terus-menerus.Bukan kita harus sengsara sekarang, menunggu sangat lama; nanti manfaatnya di saat akhir baru kita nikmati : tidak benar! Di sepanjang kita melaksanakan Dhamma, di sepanjang itu pula kita menikmati manfaat Dhamma.

Matt aññutā ca bhatt asmim, pantañca sayanāsanam – makan dengan bijaksana, tidak berlebihan serta memiliki tempat tinggal dan pergaulan yang sesuai.
Dahulu, mungkin Saudara berpikir bahwa masalah ini adalah masalah kecil—masalah makanan dan pergaulan, tetapi sekarang apakah Saudara mengatakan masalah ini masalah kecil? Setiap hari kita disuguhi berita, anak-anak kita, saudara-saudara kita yang keracunan, yang ‘shabu-shabu’,yang ganja, yang narkotik, dan sebagainya.
Itu adalah persoalan makanan, makanan yang menghancurkan manusia. Hal ini bukanlah hal yang sepele. Pergaulan menghancurkan moral. Hal ini bukanlah hal yang sepele. Kalau seseorang sudah kecanduan makanan-makanan yang beracun, suatu saat dengan segala macam usaha dan dibantu orang banyak dia bisa berhenti , tetapi kadang-kadang memang amat susah. Kalau orang ini kelak menghadapi masalah, menghadapi persoalan dan dia menjadi stress, maka dia akan teringat racun-racun yang dahulu pernah dimakannya, yang katanya bisa membawa orang ke alam surga, lalu dia kembali menjadi ketagihan.
Memperhatikan makanan, memperhatikan pergaulan dan tempat tinggal adalah instruksi, amanat yang diberikan oleh Sang Buddha sendiri pada waktu memberikan amanat di depan 1250 Arahat. Peringatan keras sesungguhnya, dari Sang Buddha:
berhati -hati lah pada makanan, waspadalah pada pergaulan dan tempat tinggal! Sekarang penyakit-penyakit muncul, para dokter mengatakan ‘makanan’.
Ada peribahasa yang mengatakan,“Mulut kita tidak besar, hanya selebar daun; tetapi penyakit masuk melalui mulut dan kejahatan ke luar melalui mulut.”
Ucapan kita menciptakan kejahatan, makanan kita mendatangkan penyakit.
Makanlah sederhana. Apakah Saudara-saudara umat Buddha sudah pernah mencoba Atthasila (delapan sila)? Pada hari-hari purnama, sebulan dua kali, syukur empat kali, cobalah berlatih mengendalikan diri, mengendalikan makanan.
Membuat persiapan untuk kemajuan kualitas spiritualitas kita dengan melakukan latihan Atthasila pada hari-hari tertentu. Saya pernah mengatakan kalau saudara-saudara kami yang Muslim, setahun sekali berpuasa 29 - 30 hari, kalau umat buddha menjalani Atthasila sebulan dua kali, setahun barulah dua puluh empat kali,masih kalah dengan mereka yang beragama Islam. Apakah umat Buddha tidak malu?
Apalagi Sang Buddha memberi keringanan,puasa Buddhis itu boleh kredit, tidak usah kontan keras sebulan penuh; sebulan hanya dua kali, tetapi kredit itu juga kadang-kadang tidak dibayar.

Ibu, bapak, dan Saudara sekalian, “Anūpavādo anūpaghāto”- tidak menghina, tidak menyakiti —mempunyai samvara,mengendalikan diri, berhati -hati dalam makanan, waspada dalam pergaulan dan memilih tempat tinggal, itulah Dhamma yang akan memberikan ketentraman dan kebahagiaan sekarang; Saudara tidak perlu menunggu hasilnya berpuluh-puluh, beratus-ratus kehidupan kemudian.
Ayurarogya sampatti - manfaat hidup sehat baik mental maupun fisik adalah manfaat Dhamma sekarang.
Dittha dhammika payojana dhamma - usia yang sehat, kesehatan yang prima.
Sehat mental dan fisik.
Ayurarogya sampatti itulah dittha dhammika payojana dhamma.
Oleh karena itu, buanglah persepsi, buanglah pandangan kalau Saudara masih mempunyai pandangan bahwa prakti k Dhamma atau menjalani Dhamma itu sulit; karena pada saat Saudara menjalani Dhamma, pada saat itu Saudara telah memperoleh manfaat. Dengan pengendalian diri, dengan sila, Saudara akan memuliakan kehidupan Saudara sekarang, dan Saudara akan memberi kemuliaan pada semua makhluk dan orang banyak sekarang.
Adhicitt eca āyogo adalah meluhurkan pikiran. Adhicitte – pikiran yang luhur, ca āyogo - melakukan usaha keras untuk meluhurkan pikiran (sacitt apariyodapanam) - sampai pikiran kita menjadi bebas dari kotoran batin. Seandainya Saudara masih belum mampu membebaskan pikiran Saudara dari kilesa, dari kotoran batin; namun Saudara sudah berusaha dengan kesungguhan—dan terus berusaha—untuk membersihkan pikiran, maka setelah kematian Saudara akan dilahirkan di alam-alam yang lebih baik, alam yang kondusif untuk praktik Dhamma yang lebih mendalam dan lebih luas.

Ibu, bapak, dan Saudara sekalian, meluhurkan pikiran adalah puncak dari kebajikan. Banyak cara untuk berbuat bajik, tetapi meluhurkan atau membersihkan pikiran adalah puncak dari kebajikan. Hari ini kita akan memulai satu proyek yang inti nya akan menjadi sarana untuk membantu bagaimana meluhurkan pikiran dengan bermeditasi dan saya melihat banyak sekali yang berpatisipasi dengan memberikan bantuan.
Ada yang berdana uang, ada yang berdana tanah, ada yang berdana bahan bangunan, ada yang berdana tenaga. Saya ingin mengajak Saudara—bukan meminta—mengajak Saudara untuk menanam kebajikan. Bukan persoalan seberapa besar, yang ratusan juta dengan yang sekedar seribu dua ribu rupiah tidak berbeda kalau Saudara berdana dengan tujuan untuk membersihkan pikiran.

Ibu, bapak, dan Saudara-saudara yang berbahagia, memang di antara kita kadang-kadang ada yang berdana dengan berpikiran,“Wah, saya akan berdana bagian yang paling atas supaya usaha saya naik menuju yang paling atas; saya akan berdana fondasi supaya hidup saya menjadi kuat.” Saudara, cobalah perhatikan,kalau Saudara berdana—karena di alam semesta ini ada hokum karma yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, maka dana anda itu pasti berbuah. Yang menjadi pertanyaan saya, kalau sudah pasti berbuah mengapa Saudara risau? Sebab, kalau sesuatu yang sudah pasti lalu Saudara risaukan—tau ya, risau ya? Sesuatu itu sudah pasti . Pasti , karena hukum karma itu pasti . Tetapi saudara masih risau, mengharap ini mengharap itu, dengan berdana kepingin ini kepingin itu. Apa namanya? Sesuatu yang sudah pasti tapi Saudara risaukan. Ada mendung tidak ada mendung,besok pagi matahari pasti terbit di sebelah timur. Tetapi Saudara risau, “Terbit tenan opo ora?” Kalau sesuatu yang sudah pasti tapi Saudara risaukan, apa namanya? Saudara bodoh dan kebodohan itu adalah kotoran batin. Jadi kalau Saudara berbuat kebajikan,berdana, menolong, membantu, ringan tangan; Saudara mengharapkan manfaatnya, mengangan-angankan manfaatnya;Saudara risau. Kerisauan Saudara itu kotoran batin dan Sang Buddha menunjukkan - Aku mengajarkan engkau untuk berdana,untuk membersihkan kekotoran batin, itulah Dhamma.

Oleh karena itu, cobalah berdana, membantu dengan pikiran,dengan tenaga, dengan pendapat-pendapat yang baik, dengan dorongan semangat, dengan materi, dengan uang; tidak usah risau apa manfaatnya nanti . Mengapa tidak usah risau?
Karena manfaatnya pasti . Alangkah bodohnya orang yang merisaukan sesuatu yang pasti , justru kerisauan itu menambah kotoran batin.
Kalau Saudara memberi, memberi, memberi, berdana, berdana,berdana, berbuat baik, berbuat baik, berbuat baik, tulus: itulah kebaikan untuk Sacittapariyodapadam, untuk kebersihan pikiran;
untuk Adhicitte ca āyogo, untuk perjuangan meluhurkan pikiran kita.
Apalagi kalau saya berbicara yang lebih kontras, semisal, “Saya ini sudah berdana sana banyak, tapi kalau saya datang ke vihara,Bhante Pannya kok tidak menyapa?” Aduh alangkah rendahnya,lebih rendah daripada orang yang risau. Orang ini bukan hanya risau tapi kebingungan. Dia sangat bingung kalau matahari besok tidak terbit, alangkah rendahnya dia berpikir. Masih mending kalau Saudara menyumbang Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna,karena panitia segera tulis surat untuk mengucapkan terima kasih dan memprovokasi untuk berbuat baik lagi—masih mending, karena kalau Anda berdana untuk Vihara Mendut, saya malas untuk tulis surat. Janganlah Saudara menjadi orang yang kebingungan, yang risau dengan sesuatu yang pasti . Kalau Anda mengendalikan diri, kalau Anda menjalankan sila kalau anda kusalasa upasampada - menambah kebajikan, sudah pasti ayurarogya sampatti , Saudara akan memetik Dhamma sekarang.
Sudah pasti setelah kematian Anda akan dilahirkan di alam-alam yang lebih kondusif, samparayika payojana dhamma, manfaat Dhamma untuk kehidupan yang akan datang; dan kalau Saudara tidak risau, Saudara memberi.. memberi.. memberi.. dengan ketulusan, tidak risau karena Saudara tidak meragukan hokum karma sedikit pun, maka Saudara berhasil membersihkan pikiran Saudara dari kotoran batin, itulah nirodha sampatti , manfaat Dhamma yang tertinggi. Orang seperti ini tidak akan stress, dia gembira, dia bahagia, dia siap memberi apapun. Apa pun dia ingin memberikannya, orang ini tidak mengharapkan pujian, orang ini tidak mengharapkan terima kasih; justru dia ingin memberikan pujian, dia ingin memberikan terima kasih.

Oleh karena itu, saya wanti -wanti , Bodhivamsa dan Dhammaguna ini dalam pembangunan, berusahalah untuk membuang kotoran batin, jangan peng-kerengan, saling ngotot kemudian menonjolkan ke-aku-an siapa paling berjasa, dan sebagainya; supaya tidak hanya bangunan fisiknya yang jadi, mereka yang terlibat di dalam pembangunan Dhammaguna Bodhivamsa ini spiritualnya—batinnya—juga maju. Jangan karena viharanya, pengurusnya lalu antem-anteman; dan mereka semua rupa-rupanya mampu.
Rupa-rupanya Bodhivamsa mampu—mampu untuk membangun tanpa kemarahan, tanpa ketegangan, tanpa peng-kerengan.Tetapi, kalau umat di sini, pengurus di sini mampu membangun dengan kerukunan tanpa ke-aku-an, tanpa kemarahan, tanpa peng-kerengan, lalu itu dijadikan kebanggaan, itu juga kotoran batin yang baru.
Bangga kalau dirinya rendah hati , bangga kalau dirinya tidak pernah marah, bangga kalau dirinya orang yang baik, itulah kotoran batin yang baru; dan kekotoran batin yang halus itu juga harus dicabut supaya kita memperoleh kualitas yang lebih baik dalam praktik Dhamma.

Ibu, bapak, Saudara sekalian, oleh karena itu, saya berharap kalau Saudara meninggalkan Vihara Bodhivamsa ini, jangan ketinggalan, semuanya—jangan ada satu pun yang kelewatan.
Semuanya berbuat baik dengan tulus dan tidak usah malu. Kalau Saudara berdana seribu rupiah lalu Saudara malu, maka malu berbuat baik itu juga kotoran batin yang kasar. “Bhante, kalau saya tidak membawa sangu?” Apa saja bisa Saudara berikan sebagai latihan membersihkan kotoran batin, kalau tidak bisa memberi sekarang, paling tidak sekarang saya bertekad untuk mengirimkan dana kemudian.
Misalnya Anda bertekad, “Setiap bulan kalau saya gajian saya akan potong untuk kirim ke Klaten!” Apa nanti manfaatnya? Tidak usah risau, manfaatnya adalah pasti ;tetapi yang harus diwaspadai bukan yang pasti , kotoran batin itulah yang harus diwaspadai. Kalau tidak ada kewaspadaan,tidak ada sati , tidak ada perhatian, kotoran-kotoran batin itu bisa menyelinap, meracuni, mengotori pikiran kita.

Perkara buah dari perbuatan baik adalah kebahagiaan—itu pasti —tidak usah dirisaukan. Justeru yang harus diwaspadai, diawasi adalah kotoran batin pada saat kita berbuat baik sehingga kebaikan itu tidak menimbulkan kilesa atau kotoran batin yang baru,tetapi malahan membersihkan pikiran kita dari kotoran-kotoran batin.Kotoran batin itulah Saudara, penyebab penderitaan.
Kegelisahan, ketidakpuasan, keputusasaan, penasaran, marah,dendam; itulah kotoran batin, dan kotoran batin itu harus dikikis,diwaspadai, dan kemudian dihancurkan.

Ibu, bapak, Saudara sekalian, itulah sebagian dari pesan Sang Buddha pada saat Beliau menyampaikan khotbah singkat Ovādapāti mokkha.
Dengan melaksanakan Dhamma, Saudara akan merasakan manfaat.
Pada saat Saudara mulai melaksanakan Dhamma, pada saat itulah Saudara marasakan manfaat Dhamma.

Ibu, bapak, dan Saudara-saudara, tidak panjang yang ingin saya sampaikan. Jadikanlah sebagian uraian dari Ovādapāti mokkha ini sebagai renungan bagi Saudara, sekaligus mengiringi peletakan batu pertama Wisma Dhamaguna.


Kumpulan ceramah Sri Pannyavaro Mahathera
Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

Minggu, 10 Juni 2012

KEYAKINAN



     Saddha (Pali) atau sradha (Sansekerta) memiliki arti keyakinan.Mendengarkan Dhamma perlu disertai dengan perhatian. Ajaran Buddha Gotama tidak hanya menyodorkan pilihan hitam atau putih. Dhamma mengajak kita untuk mengerti , lalu mengambil keputusan—tidak memilih dengan membuta. Salah satu unsur yang terpenti ng untuk mencapai kemajuan sebagai seorang umat Buddha adalah keyakinan. Juga penting pada semua agama—yang dikenal dengan sebutan ‘iman’. Tetapi, dalam dunia Buddhis lebih dikenal keyakinan (faith), untuk menerjemahkan saddha. Keyakinan dalam pengertian Dhamma seperti yang dijelaskan Asanga—seorang pemikir Buddhis—bukanlah hanya percaya. Keyakinan yang mengacu pada saddha,bukan hanya percaya begitu saja, bukan hanya dari segi emosi semata.
     Saya pernah berbicara dengan pakar ‘behaviour’ tentang perlunya harmoni dalam kehidupan berkeluarga. Pembicara ini menggunakan isti lah yang sederhana, yang sejalan dengan Asanga—yamg berbicara tentang keyakinan, yakni mengenai tiga faktor. Tiga faktor ini bersifat umum atau universal. Para pendidik seharusnya sudah ‘familier’ dan mengerti dengan benar.
Tiga faktor tersebut adalah
1. Faktor kogniti f atau aspek rasio (faktor ‘Mengerti ’)
Kogniti f berarti pengerti an atau pengetahuan yang berhubungan dengan intelektualitas kita. Demikian juga keyakinan umat Buddha harus ditopang dengan pengertian terhadap yang diyakini. Apa dan siapa yang kita yakini? Kita harus tahu dan yakin tanpa keraguan. Agar tidak timbul keraguan, maka kita harus menambah pengetahuan tentang yang kita yakini itu. Dalam masyarakat dikenal ungkapan, “Jangan membeli kucing dalam karung.” Tetapi faktor pengetahuan ini saja tidak cukup. Karena banyak orang yang memuji agama Buddha karena mereka sudah mengerti ajaran agama Buddha, tetapi dia ti dak menjadi umat yang sesungguhnya, yang sebenarnya.

2. Faktor afekti f atau aspek emosi (faktor ‘Menerima’)
Mana yang lebih dulu muncul Bhante, menerima dulu atau mengerti dulu? Bisa dua-duanya. Semula orang ti dak mengerti ajaran Buddha Gotama, dia membaca buku, bertamu di rumah teman—membaca buku-bukunya, membaca terus. Baca lagi, pengetahuannya bertambah dan bertambah. Dia mulai menerima ketika merasa cocok, dan mengaku menjadi umat Buddha, dan kemudian dia ikut wisuda upasaka atau upasika, berarti faktor yang ke-2, yakni ‘menerima’ sudah muncul. Kalau ekstrim: menjadi ‘memiliki’, tetapi Anda ti dak perlu memiliki—‘menerima’ saja sudah cukup.
Namun bisa sebaliknya, orang belum mengerti , tetapi sudah menerima. Mungkin karena orang- tuanya Buddhis, sering melihat bhikkhu, melihat patung Buddha—yang apabila ia melihat patung Buddha, rasanya tentram. Tetapi dua unsure ini belum lengkap. Mengerti tanpa menerima tidak akan menimbulkan keyakinan, sedangkan menerima tanpa mengerti akan menimbulkan keyakinan yang membuta. Misalnya ada seseorang yang menganggap Buddha itu Maha Dewa, kemudian dia meminta-minta dan berharap berkah. Ada penerimaan, tetapi pengertiannya kurang. Yang ideal, mengerti dulu, lalu menerima.
Tetapi apabila menerima dulu, maka penerimaannya itu harus dilandasi pengertian. Jangan menerima tanpa mengerti .

3. Faktor psikomotorik atau aspek kehendak (faktor‘Melaksanakan’)
Mengerti dan menerima—tanpa dilaksanakan, tidak akan membawa manfaat. Menerima dengan kesungguhan, mengerti dengan jelas, tetapi tidak melaksanakan atau tidak praktik; tidak bisa disebut mempunyai keyakinan. Umumnya kita mempunyai pengertian bahwa pokoknya—yang penting—percaya, tidak tergoncangkan, tidak ingin berpindah ke keyakinan yang lain;maka dia mempunyai keyakinan yang kuat. Perilakunya baik atau buruk, apakah orang itu praktik atau tidak, tidak dihitung—tidak menjadi ukuran.
Banyak orang yang mengaku beragama, tetapi berkelakuan buruk, tidak sedikit jumlahnya. Dalam pengertian Dhamma,dia tidak mempunyai saddha, dia tidak beriman dengan benar.

Apalagi kalau keyakinannya ini digunakan untuk mengganggu yang lain, “Kalau Anda tidak cocok dengan cara saya, saya akan menggiring Anda supaya Anda akhirnya menjadi seperti saya.”Sedangkan praktik yang harus dilakukan malah diabaikan. Apakah dia masih layak disebut mempunyai keyakinan? Karena banyak orang mengaku sudah beragama tetapi belum tentu beriman.Masih banyak orang yang menyatakan beragama tetapi malahan melakukan perilaku-perilaku yang sangat tercela. Yang penting itu adalah ber-‘iman’-nya, bukan ber-‘agama’-nya. Beragama itu seperti formalitas. Mengerti ayat, mengerti ajaran,mempuyai keyakinan, bahkan sampai fanati k, tetapi perilakunya tetap buruk. Sebenarnya orang seperti itu disebut tidak beriman.Karena keyakinan atau iman harus mempunyai unsur yang ke-3, yaitu: ‘melaksanakan’. Tidak hanya mengerti dan menerima, tidak hanya mengerti dan mempercayai, tetapi juga melaksanakan.

Kalau hanya mengerti dan menerima berarti ilmu. Agama Buddha yang dipelajari di dunia akademik disebut kognitif—belum tentu ada unsur menerima. Siapa pun bisa mempelajari, bukan umat Buddha pun bisa mempelajarinya, dan dengan mempelajari dia bisa mengerti tetapi dia tidak menerima—karena dia sudah beragama yang lain. Mengerti tidak menerima, tidak mungkin melaksanakan. Idealnya mengerti , menerima, kemudian melaksanakan. Kalau melaksanakan tanpa menerima dan mengerti , bagaimana Bhante? Itu namanya untung-untungan.Kadang-kadang berbuat baik, kadang-kadang tidak baik—karena tidak ada tuntunannya, tidak ada polanya, seperti orang berjalan tanpa peta dan dia tidak mengerti tujuan yang akan dituju.Mungkin bisa nyasar, mungkin jalan buntu.

Mengerti itu seperti membaca peta, belajar Dhamma dan mendengarkan ceramah seperti belajar peta. Kemudian, karena orang yang mengajarkan peta tersebut mengajar dengan pengalaman yang benar, maka Anda mengatakan bahwa ajaran ini benar, orang ini tidak membohongi. Cukup? Kalau Anda cukup di sini, maka Anda ti dak akan pernah sampai ke tujuan. Mendekati tujuan saja tidak. Dari melaksanakan akan timbul keyakinan yang kuat, meskipun Anda belum mencapai tujuan. Kalau Anda melangkah untuk melaksanakan, apa yang dipelajari dari kognitif,yang Saudara terima, kini menjadi kenyataan, meskipun kenyataan yang kita alami itu baru sebagian. Mengalami sebagian kenyataan itu memperkuat penerimaan kita. Lebih kuat dibandingkan menerima karena mengerti . Kalau Anda mengalami sendiri,maka penerimaan Anda menjadi sangat kuat. Mengalami sendiri,melihat sendiri, akan menimbulkan penerimaan yang kuat sekali.Kalau hanya mengerti , hanya akan menjadi wacana. Contohnya: dia mengerti kalau sakit dia tidak bisa mengobati dirinya sendiri,lalu dia teringat mempunyai kenalan dokter yang baik. Tetapi jika dia tidak mempunyai kehendak, dia tidak berjalan menuju ke tempat dokter praktik, tidak tekun mengonsumsi obatnya, tentu dia tidak akan sembuh. Jadi, praktik itu memperkuat saddha atau keyakinan kita. Tanpa praktik maka selain saddha kita lemah, kita juga tidak akan mendapatkan manfaat.

Secara garis besar, apakah yang diajarkan oleh Guru Agung kita?
Hal itu terserah Saudara mampu melihat ajaran Guru Agung kita dari sudut mana. Kalau Dhamma itu mau dipandang dari satu sudut pandang, bisa! Dua macam, juga bisa. Lho, bukan Empat Kesunyataan Mulia, Bhante? Nanti dulu. Tiga aspek atau tiga macam, juga bisa. Empat Kebenaran Ariya, bisa. Tujuh macam -satta bojjhanga, juga bisa. Delapan aspek, bisa. Tiga puluh tujuh aspek bisa. Delapan puluh empat ribu aspek, bisa. Tergantung Anda mau menggunakan pendekatan dari mana, mau belajar Dhamma dari mana.
Yang satu aspek apa Bhante? Lenyapnya penderitaan. Itulah tujuan ajaran Guru Agung kita. Semua ajaran Guru Agung kita mempunyai rasa sama, yaitu kebebasan dari penderitaan. Beliau pernah mengucapkan, “Para bhikkhu, maha samudra mempunyai satu rasa, yaitu rasa asin; demikian juga Dhamma Vinaya ini, rasanya juga satu, yaitu rasa kebebasan.” Di situ Guru Agung kita tidak menyinggung dukkha, sebabnya dukkha, cara lenyapnya dukkha. Guru Agung kita hanya mengatakan bebas dari penderitaan sebagai satu-satunya rasa yang Beliau ajarkan. Ini tidak salah, ini benar.

Kalau dua itu apa Bhante? Sering dikatakan Ajaran Guru Agung kita ini mempunyai dua aspek, yaitu Dhamma dan Vinaya. Secara teori, Dhamma itu khotbah-khotbah Beliau, instruksi-instruksi Beliau, dan Vinaya itu adalah peraturan untuk para bhikkhu. Pada waktu Guru Agung kita masih hidup, Beliau sering menggunakan kalimat, Dhamma Vinayo. “Dhamma dan aturan yang Kuajarkan ini, rasanya satu yaitu rasa kebebasan.”

Lalu, tiga aspek apa, Bhante? Kalau tiga aspek banyak. Ajaran Guru Agung kita ini dapat dimengerti dengan Triratna. Kalau Anda mengerti Triratna, Anda mengerti seluruh ajaran Guru Agung kita. Tetapi tiga aspek yang lain juga ada. Dhamma itu mempunyai tiga aspek, yaitu ‘teori’, ‘pelaksanaan’, dan ‘pencapaian’. Tidak hanya melaksanakan tanpa teori, tidak hanya teori tanpa pelaksanaan. Tetapi teori, pelaksanaan, dan pencapaian. Ada tiga aspek yang lain, yaitu anicca, dukkha, anatta. Kalau Anda mengerti anicca,dukkha, anatta dengan baik—tidak hanya mengerti secara kogniti f (intelektual), maka Anda akan bebas dari penderitaan.
Pada waktu kita menyebutkan anicca, dukkha, anatta, kita tidak menyebutkan Empat Kebenaran Ariya, Jalan Ariya Berunsur Delapan, sila – samadhi - pañña, tidak. Tetapi ajaran Guru Agung kita sebagai jalan juga mempunyai aspek tiga, yaitu tiga latihan yang terdiri atas sila, samadhi, dan pañña.

Kalau yang empat? Ada Empat Kebenaran Ariya yaitu adanya dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan bagaimana cara melenyapkan dukkha. Yang aspek tujuh, satta bojjhanga – tujuh faktor untuk pencerahan. Pencerahan adalah kata lain dari kebebasan. Orang yang mencapai pencerahan adalah orang yang bebas dari penderitaan. Faktor sembilan, yaitu sembilan faktor lokuttara. Faktor tiga puluh tujuh, yaitu bodhipakkhiya Dhamma.
Faktor empat puluh delapan ribu – ‘lha’ saya tidak hafal. Tiga puluh tujuh saja saya tidak hafal, kecuali mahasiswa STAB yang baru lulus, mungkin tiga puluh tujuh factor Bodhipakkhiya Dhamma mereka hafal, tetapi saya tidak hafal. Jadi Anda bisa mendapatkan pengetahuan (unsur kogniti f) Dhamma—bisa didapatkan dengan
pendekatan yang mana, satu aspek, dua aspek, atau banyak aspek. Tetapi tetap, itu adalah pengertian. Pengetahuan yang bisa Anda dapatkan dari mendengar, membaca, berdiskusi,bertukar pikiran, Dhammasakaccha, Dhammasavana; dan harus ada faktor menerima. Tetapi kalau Anda membantah terus, maka kapan menerimanya? Dari menerima itulah kemudian mulai melakukan praktik. Mengerti , menerima, dan melakukan.
 Ingat Tiga ‘M’!

     Sering juga ajaran Guru Agung kita tidak disebutkan sebagai latihan sila, samadhi, dan pañña. Tetapi dijelaskan sebagai tiga rangkaian perbuatan baik. Tentu ini menuntut pelaksanaan. Tanpa pelaksanaan, itu hanya sebagai wacana perbuatan baik saja. Itu adalah dana, sila, dan bhavana. Kalau sila, samadhi, dan pañña adalah ringkasan Jalan Ariya Berunsur Delapan. Di kesempatan lain, Guru Agung kita juga sering memakai rangkaian yang lain.Mengapa Bhante, rangkaian-rangkaian itu tidak sama pada waktu Guru Agung kita mengajarkan Dhamma? Karena kemampuan orang yang dihadapi, yang mendengar, yang menerima; tidak sama, dan Guru Agung kita jarang memberikan khotbah Dhamma secara massal di depan lima ratus orang, seribu orang. Kalau toh Guru Agung kita memberikan Dhamma di depan banyak orang,semuanya telah mencapai tingkat kesucian sotapanna, atau yang lebih tinggi. Kalau mereka belum mencapai tingkat kesucian,biasanya Beliau hanya berbicara berdua, bertiga, bahkan kadang-kadang berdialog dengan satu orang. Dalam berdialog dengan seorang, Beliau dapat mengerti persis kemampuan menangkap orang tersebut, dan Beliau bisa meramu apa yang akan Beliau sampaikan sesuai dengan daya tangkapnya. Kalau lima orang yang mendengar, maka daya tangkap serta kemampuan untuk menerima lima orang itu berbeda-beda. Apalagi sekarang yang mendengar sekian banyak orang. Nanti Anda pulang selesai menghadiri Dhammaclass ini, kalau ditanya di rumah, “Tadi Bhante Pannya cerita apa?” “3 M.” “Apa itu?” “Ya begitulah ‘3 M’.” Dan nanti kalau ada cerita yang lucu-lucu, ‘lha’ itu yang disimpan karena akan diceritakan lagi. Kemampuan mengerti saja tidak sama bagi tiap orang, apalagi kesiapan menerima. Dalam bahasa Jawa, tidak bisa di-gebyah uyah. Sepuluh orang tidak mempunyai penerimaan yang sama, oleh karena itu lebih efektif kalau Guru Agung kita berbicara dengan pendengar yang lebih kecil jumlahnya—dan Beliau bisa memberikan terapi. Laksana dokter, Beliau memberikan terapi yang sesuai dengan penyakit pasiennya. Kalau sepuluh orang diberikan obat yang sama, ya tidak cocok, karena mereka mempunyai penyakit berbeda-beda.
Apalagi kalau semuanya hanya diberi vitamin saja. Tentu, penyakit mereka tidak akan sembuh.

     Pada banyak kesempatan, Guru Agung kita menjelaskan dengan tiga rangkaian, yaitu bukan rangkaian tentang sila, samadhi, dan pañña; tetapi dana, sila, bhavana sebagai kebajikan. Dan Beliau sering menggunakan tiga rangkaian ini kalau Beliau berhadapan dengan umat awam—bukan bhikkhu, bukan orang yang meninggalkan keduniawian, tetapi orang yang masih hidup di masyarakat, berkeluarga.
Bhavana di sini dapat disinonimkan dengan samadhi (meditasi). Hampir semua mengerti dana, sila, bhavana; tetapi saya akan mengulas kembali secara singkat tentang dana, sila, dan bhavana. Dana, sila, dan bhavana adalah kebajikan utama yang kalau diuraikan, maka dari dana, sila, bhavana itu berkembang menjadi dasa punnakiriyavatthu atau sepuluh macam perbuatan bajik. Kalau nanti punya catatan buku Dhamma, ada sepuluh perbuatan bajik, nah itu kalau diringkas menjadi tiga ini: dana,sila, dan bhavana.

1. Dana
Dana adalah memberi, menolong, membantu. Saudara-saudara kita umat beragama lain mengatakan beramal dengan materi, dengan nasehat, dengan obat, dengan segala macam.Penjelasannya tidak hanya sederhana seperti itu. Orang berdana,orang membantu atau orang menolong ini pun bertingkat-tingkat—pelaksanaannya bertingkat-tingkat, sesuai dengan kondisi batinnya. Yang umum apa, Bhante? Beramal sedikit, minta pahala banyak. Itu yang umum di semua agama, termasuk dalam agama Buddha. Dana sedikit nanti buah karma-nya akan banyak,berlipat-lipat. Yah, apa gunanya berdana seperti itu? Sebenarnya dia tidak memberi, tetapi melipatgandakan.
Tetapi, apakah itu tidak baik? Ya baik, daripada membuat bom.
Meskipun dia berdana dengan pamrih yang luar biasa, yang kasar sekalipun, misal: ingin dikenal, ingin disanjung, ingin populer,ingin ada pencalonan dirinya sebagai ketua, dan sebagainya. Ya masih baik, dia mau memberi, dia tidak mengganggu. Kecuali kalau dengan ancaman, itu sudah menjadi kejahatan. Dia tidak menghancurkan, dia hanya memberi meskipun pamrihnya luar biasa. Pamrih sekarang, pamrih kemudian, pamrih masuk surge sekalian—itu pamrih-pamrih semua.
Itu kebaikan? Ya, itu kebaikan, tetapi tidak menjurus pada vimutti ,tidak menjurus pada kebebasan. Kebajikan, kebaikan, memang benar, tetapi ‘rasa’-nya bukan rasa Sang Buddha. Karena rasa Guru Agung kita itu hanya satu—seperti laut, kalau bukan asin maka bukan air laut, ini air sumur atau air ledeng. Kalau asin ada kemungkinan air laut, dan air laut selalu asin. Kalau perbuatan baik tidak menjurus pada kebebasan dari penderitaan, itu bukan ajaran Guru Agung kita. Kebaikan sih kebaikan, tetapi tidak semua kebaikan termasuk Dhamma.
Lho, tidak semua kebaikan termasuk Dhamma, Bhante? Ya,hanya kebaikan yang membawa pada kebebasan, yaitu bebas dari penderitaan, itulah yang termasuk Dhamma. Kalau berbuat kebaikan sedikit dan mengharapkan pahala banyak itu namanya keserakahan (lobha). Kalau keserakahannya bertambah, maka penderitaannya pun akan bertambah.

Karena penderitaan itu salah satu akarnya adalah keserakahan. Lawan kata dari malam adalah siang, bersih adalah kotor, keras adalah lunak, tinggi adalah rendah, kaya? Bukan miskin. Lawan kata kaya adalah serakah.Jadi kalau Anda serakah, masih mencari, mencari, mencari; itu namanya belum kaya. Kalau sudah tidak mencari lagi, melepas,melepas, melepas: dia betul-betul kaya. Lho mengapa? Karena dia tidak mencari lagi. Lha, kalau masih mencari terus khan artinya dia masih miskin.

Jadi menurut ajaran Guru Agung kita, berdanalah yang benar. Benar dalam arti membawa pada kebebasan dari penderitaan. Berdana dengan tujuan melatih diri untuk melepas, tidak mengharapkan imbalan, buah karma, pahala, balasan, dan sebagainya. Motivasi kita harus benar. Dari mana Bhante, motivasi itu didapat? Kognitif. Kalau tidak pernah belajar bagaimana berdana yang benar, bagaimana dia bisa melakukan perbuatan bajik berdana dengan benar? Meskipun dia berbuat baik, tidak mengganggu, tidak membunuh, tidak menyakiti ; tetapi dia bisa melakukan kebajikan itu dengan tidak benar atau dia hanya ikut-ikutan saja dengan yang lain—kalau tidak mempunyai arah yang benar—sehingga tidak ada motivasi yang benar.Tetapi dana yang diberikan itu tetap bermanfaat, Bhante? 
Ooo,tetap bermanfaat. Sekali lagi daripada berbuat jahat, lebih baik berdana dengan pamrih yang luar biasa. Itu masih baik,masih ada nilai kebaikannya. Meskipun tidak membawa pada kebebasan. Kami pernah berbincang-bincang dengan seseorang,
“Bhante, orang menyokong itu kan lebih cepat lebih baik. Lebih cepat, lebih banyak, lebih baik.” Dia mengatakan seperti itu dan menambahkan, “Ikhlas, Bhante.”
Saya mengatakan, “Nanti dulu Pak, ikhlasnya itu belakangan saja.” “Lho, gimana Bhante, kalau orang itu mau berdana lebih cepat, lebih banyak, tetapi tidak ikhlas, apakah baik, Bhante?” Baik, daripada sedikit tetapi tidak ikhlas.
Kalau saya ditanya, “Bhante kalau berdana sedikit tetapi tidak ikhlas dibandingkan dengan banyak tidak ikhlas, Bhante pilih yang mana?” Oo, saya pilih banyak walaupun tidak ikhlas.“Lho, mengapa Bhante?”
Biarin saja, terusin saja, berdana tidak ikhlas terusin saja, nanti lama-lama kan jadi ikhlas. Sambil diajari di Dhammaclass ini. Yah, dimulai dari ti dak ikhlas dulu toh,daripada tidak berdana sama sekali. Kalau karena tidak ikhlas,lalu tidak jadi menolong, tidak jadi memberi, lha, lebih-lebih lagi. Tidak ada orang yang mendapat manfaat, dia juga tidak melakukan kebaikan. Biar saja tidak ikhlas, lati han. Pelan-pelan diberitahu, dikhotbahi, diceramahi, nanti lama-lama akan ikhlas,motivasinya akan menjadi benar. Anak-anak bisa jalan dimulai dari jatuh dulu, tidak bisa langsung lari. Pelan-pelan seiring dengan fisiknya yang bertambah kuat, belajar mencari keseimbangan.Naik sepeda saja jatuh berkali-kali. Tidak apa-apa. Kalau takut jatuh tidak akan bisa naik sepeda. Sama seperti berdana yang tidak ikhlas. Tidak apa-apa, terusin saja, lebih banyak lebih baik. Tidak ikhlas, Bhante? Tidak apa-apa, nanti diajari, lama-lama akan ikhlas. Daripada tidak berdana sama sekali.
Iya, ya,benar juga! Tidak mungkin orang ‘ujug-ujug’, tiba-tiba bisa berdana dengan ikhlas. Itu ideal memang, memberi banyak dan ikhlas, ideal. Kalau kita tidak bisa mendapatkan kualitas nomor satu, kualitas di bawahnya tidak apa. Latihanlah berbuat baik,daripada kita berbuat jahat—mencuri, menyolong—lebih baik kita menolong walau dengan seribu satu macam keinginan. Kalau bisa, keinginannya itu dibuang. Karena melatih melepas itu lebih berharga daripada buah yang nanti dipetik.
Buah yang dipetik itu juga tidak kekal.
Apa toh hidup sejahtera, wajah cantik, suara merdu, semua karena buah beramal, berbuat baik. Termasuk sehat, tampan:apakah akan sehat selamanya? Apakah akan tampan selamanya? Apakah wajah cantik selamanya? Apakah pangkat selamanya?
Apakah umur panjang tidak akan mati ? Semua hanyalah sementara. Kita mendapatkan wajah cantik, makmur, sejahtera,tidak kekurangan, kedudukan tinggi, semua adalah buah dari amal, dari kebaikan kita. Menurut hukum karma: benar, tetapi apakah itu kekal? Tidak! Apakah di dunia ini ada yang kekal?
Anda sudah siap menghadapi ketidakkekalan itu? Belum, karena Anda selalu ingin mendapat, dapat, dapat, nyari, dapat, dapat,terus nyari, dapat, dapat—kalau tidak dapat, kecewa; kalau dapat sedikit, kecewa; kalau dapat banyak, bahagia, senang; terus menerus seperti itulah pola hidup Anda. Kapan Anda belajar untuk melepas?
Padahal di dunia ini tidak mungkin orang mendapat terus, jaya terus, sukses terus, maju terus. Suatu saat harus melepas. Senang tidak senang, Anda harus bisa melepas.
Pergi ke Yogya melepas keluarga, waktu berangkat saling bertangis-tangisan. Nanti kalau sudah di Yogya, liburan tengah tahun pulang lagi ke sana, balik lagi ke Yogya. Mau tidak mau kita harus melepas—melepas suasana, melepas keadaan yang kita senangi, melepas teman-teman, melepas keinginan-keinginan yang sering kita turuti ; sekarang di sini tidak bisa dituruti lagi; dan masih banyak lagi.

     Kalau Bapak, Ibu, Saudara sudah mempunyai latihan melepas,maka kalau terjadi perubahan, tidak akan menggetarkan, tidak akan menggoncangkan, tidak membuat penderitaan. Biar perubahan terjadi, aku tidak menderita. Karena aku mengerti semua berubah dan aku bisa menerima perubahan. Aku juga bisa melatih untuk bisa menerima perubahan dengan berdana, ikhlas, rela. Kalau berdana, menolong, beramal, tidak digunakan sebagai latihan untuk melepas, lalu untuk apa? Tidak ada gunanya.Guru Agung kita mengatakan, “Jangan meremehkan perbuatan baik meskipun kecil.” Karena apabila itu digunakan sebagai sarana latihan yang benar, itu praktik Dhamma yang benar. Termasuk memberikan makan kepada seekor anjing. Itu ada nilainya. Jangan mengatakan, “Apa gunanya sih member makan anjing?” Tentu saja ada gunanya jika Anda mempunyai pengertian yang cukup, kemudian kesempatan itu Anda gunakan untuk prakti k pengertian yang sudah Anda punyai, itu akan memberikan manfaat. Ada yang sering memberikan makan pada anjing yang tidak tahu siapa pemiliknya, yang dekil anjingnya; mengatakan, “Nanti kalau aku dilahirkan jadi anjing, biar ada yang kasih makan.” Ada juga yang punya pemikiran seperti itu.Tidak perlu begitu!! Tetapi masih lebih baik daripada anjingnya disiram dengan air panas. Masih baik, meskipun berpamrih itu bukan praktik Dhamma yang benar.

2. Sila
Melakukan kebajikan itu tidak hanya dengan memberi, menolong: dengan materi, makanan, obat, dan sebagainya; sehingga ada orang yang berpikir kalau tidak memberi, tidak bisa berbuat baik terhadap orang lain. Ada yang berpikiran seperti itu. Jadi hanya orang-orang kaya saja yang mempunyai kewajiban memberi.
Sedangkan kita ini masih miskin, bagaimana kita mau memberi?
Kita kan hanya menerima kebaikan, kita belum mampu berbuat kebaikan.
Kebaikan yang kedua adalah sila, yaitu mengendalikan diri dari perilaku yang buruk, tidak gampang emosi, tidak mudah naik darah, punya pengendalian diri. Dikatakan sekarang IQ bukan jaminan untuk sukses. Bukan! Meskipun dia brilian, otaknya encer, kreatif; tetapi emosinya juga kreatif—dia tidak mudah mengendalikan emosinya, marah ya marah, pukul meja—orang ini tidak bisa maju, apalagi jadi pimpinan. Hancur nanti jadinya.Kita mau mengambil sebagai karyawan saja, nanti dulu. EQ diperlukan, tidak lagi IQ. IQ tidak menjadi jaminan hidup akan sukses. Orang-orang yang pandai, dan pandai menghancurkan, juga banyak. Pembuat-pembuat bom yang susah ditangkap itu juga bukan orang-orang yang bodoh, mungkin IQ-nya luar biasa.
Kalau Anda sekalian bisa mengendalikan diri, tidak berbuat yang jahat, itu latihan Dhamma juga. Membebaskan diri kita dari kebencian, dari keserakahan, menuju ke kebebasan juga. Tetapi untuk tidak berbuat jahat itu juga ada samādāna virati , tekad pengendalian diri, kemudian ada kesungguhan. Orang tidak bisa menghentikan kejahatan dengan meminta-minta kepada Yang Maha Kuasa, minta kepada Mahadewa, minta kepada Bodhisatt va, minta kepada Sang Buddha, “Berikanlah hambamu ini kemampuan jangan sampai berbuat jahat lagi.” Ya tidak bisa! Kalau Anda tidak mau berbuat jahat ya harus stop.
Saya mengumpamakan mobil. Anda mau berhenti , ya harus injak remnya. Kalau tidak diinjak remnya, ya ti dak mungkin mobilnya berhenti meskipun teriak-teriak. Mobilnya mau masuk jurang, Anda malah berteriak, “Tolong… tolong….” Injak remnya! 
Kalau remnya tidak diinjak, akan masuk jurang. Teriakan-teriakan Anda tidak akan bisa menghentikan mobil. Kalau Anda ingin stop berbuat jahat, supaya tidak mendapat masalah, ya Anda harus injak rem untuk stop berbuat jahat. Tidak dengan meminta-minta.Sekali lagi, hanya dengan tekad, dengan kesungguhan, stop kejahatan—tidak berbuat jahat. Tidak ada jalan lain.
Saya cerita di beberapa tempat, di Parakan mungkin ya. Kalau di Mendut itu banyak turis masuk vihara. Ada kentongan seperti bel, tetapi dari kayu. Di dalamnya ada kayunya, kalau ditarik akan bunyi “Dung…dung...dung....” Anak-anak senang menarik-narik itu.
Lalu ada anak orang Barat narik-narik bel itu, hingga jatuh pemukulnya. Ayahnya dengan susah payah mengembalikan, tetapi sulit karena harus ditali di dalam genta. Tetapi dia berusaha keras supaya pemukulnya nempel lagi. Anaknya melihat. Itu merupakan contoh yang baik untuk anaknya bukan? Ooo, kalau merusakkan itu harus bertanggung-jawab memperbaiki, meskipun tidak sempurna. Tetapi kalau turis domesti k lain lagi.
Anaknya pukul-pukul genta dan pemukulnya jatuh, ia lari cepat-cepat,jangan sampai nanti ketahuan yang punya. Masih mending kalau ditaruh di atas lalu bertemu dengan penjaga, dan minta maaf kalau anaknya telah menjatuhkan pemukul genta dan juga mengatakan tidak bisa memperbaiki. Tidak apa-apa kalau seperti itu. Tapi kalau cepat-cepat lari, lha anaknya kan juga melihat.Oo, kalau merusakkan barang harus cepat-cepat pergi?!
Banyak macam kalau cerita untuk itu. Kalau di Singapura mencari taksi itu mesti mengantri dan semua dapat giliran. Sabar, tidak ada yang desak-desakan. Tetapi orang yang sama datang di Cengkareng airport, ngantri chek-in tiket pesawat. Dia ada di tengah-tengah antrian, langsung nyelonong pindah ke depan sana. 
Orang-orang Barat mengatakan, “Di sini memang selalu begitu!” Kita malu mendengar komentar itu.
Bukankah itu perbuatan buruk? Jadi perbuatan buruk itu tidak hanya nyolong, korupsi kelas kakap, berzinah, membunuh.
Apa yang saya contohkan itu juga merupakan perbuatan yang buruk. Kalau Saudara mau melakukan hal yang baik, mencegah yang buruk, itu sangat berguna. Membiasakan kita untuk tidak berbuat buruk, membiasakan kita untuk bertanggung-jawab,jika salah minta maaf. Sehingga nanti apabila kita melakukan perbuatan yang salah, lalu kita mau lari, rasanya tidak enak “di sini” (di dalam nurani). Kami pernah mengantar bhiksu dari Jepang—sekarang beliau sudah meninggal, yang memberikan patung Buddha putih di Mendut—bersama dengan temannya melihat candi-candi. Pada waktu selesai melihat candi-candi, kami hendak kembali naik mobil. Temannya itu sudah mau naik mobil, tapi turun lagi, cari sana cari sini. Kami tanya, “Cari apa?” “Cari tong sampah”, sahutnya. Karena dia mau membuang sampah itu secara sembangan, tidak enak. Sopir kami tertawa,“Lha, tong sampah sebesar ini kok tidak kelihatan, sekian besar,mobil kita ini di dalamnya. Halaman ini kan tong sampah. Buat apa cari tong sampah ke mana-mana.” Dia terbiasa di negaranya untuk tidak buang sampah sembarangan. Kalau kita, biasa buang sampah sembarangan. Tidak salah, wong kita berada di dalam tong sampah?!

     Saudara-saudara, mumpung umur Saudara belum banyak coba mulai dari kebiasaan baik yang kecil-kecil. Buang sampah tidak sembarangan; pada saat pergi, listrik-listrik yang tidak digunakan dimati kan. Saya di kost bayar kok, keluar sebentar listrik kok harus dimati kan? Ya bayar sih bayar, tetapi nanti menjadi kebiasaan. Kalau Anda sudah biasa begitu sampai besok, maka Anda tidak akan pernah memati kan listrik kalau tidak terpaksa banget. Seperti buang sampah sembarangan, AC ti dak berguna tidak dimatikan, apalagi TV sampai tertidur pun tetap dihidupkan terus. Siapa yang akan nonton televisi itu? Makhluk halus? Sampai nanti bangun, Oo, apa ini, sinetron semut-semut. Kalau habis program kan sinetron semut-semut keluar. Kalau semut-semut sudah keluar baru dimati kan. Kan itu bukan kejahatan, Bhante? Ya, kelihatannya bukan kejahatan; tetapi hal-hal yang semacam itu bisa menghancurkan lingkungan, bisa merugikan orang lain.
Apalagi kalau nanti Saudara-saudara sudah punya anak, anak Saudara apakah tidak mencontoh hal-hal yang seperti itu? Lha, kalau saya menjadi bhikkhu bagaimana, Bhante? Ya,kan punya murid, punya umat. Apa mereka tidak mencontoh nanti nya. Tetapi di sini tidak biasa, Bhante, orang menyediakan tong sampah. Tidak biasa. Mau mencari tong sampah di vihara ini juga sulit. Sampahnya bagaimana? Bawa pulang saja sampahnya! Dikasih snack, diberi minuman, ‘masa’ vihara ini malah dikasih sampah. Anda tidak perlu membayar di sini. Sudah dapat Dhamma selama satu sampai dua jam, dapat makanan dan minuman, sampahnya dibawa pulang saja. Nanti cari tong sampah, baru sampah itu dibuang. Itu kebajikan juga.

3. Bhavana (meditasi)
Saya tidak akan banyak-banyak membahas meditasi. Cobalah melakukan meditasi yang sederhana saja, mett a bhavana,mengembangkan cinta kasih. Itu kan perenungan, Bhante,bukan vipassana? Iyalah, tidak apa-apa. Perenungan memang—daripada tidak mau perenungan, vipassana juga tidak mau.
Syukur mulai latihan memperhati kan nafas (anapanasati ). Umat beragama lain banyak yang belajar meditasi. Di vihara-vihara kita,kalau ada meditati on course, umat beragama lain jumlahnya yang paling banyak, umat Buddha tidak pernah menjadi nomor satu.
Kalau di Vihara Mendut ada meditasi, yang nomor satu adalah umat Katolik atau Islam. Kalau tidak Islam, ya Katolik. Buddhis nomor tiga. Kadang-kadang dari dua puluh atau tiga puluh orang,Buddhis-nya hanya dua atau tiga orang saja, kecuali meditasi satu minggu pada akhir tahun—umat Buddhisnya paling banyak.Mereka bukan sekadar mau tahu, mau praktik dengan kesungguhan. Meditasi itulah yang membersihkan pikiran. Dan kita tahu pikiran itu yang menggerakkan ucapan, tindakan,perbuatan—semua perilaku kita dimulai dari pikiran kita. Kalau pikiran kita bersih, baik, otomatis sila kita baik. Tidak perlu berbicara tentang sila apabila Anda sudah mempunyai latihan meditasi yang baik, menjaga pikiran dengan kesadaran dengan baik. Dan meditasi bukan wacana, meditasi harus dilakukan,amat berbeda dengan wacana. Tadi dijelaskan bahwa wacana itu tidak sekadar mengerti , tetapi juga menerima. Tidak sekadar menerima, tetapi juga melaksanakan.
Ada seorang pertapa yang bertapa di tempat yang sepi selama bertahun-tahun. Suatu hari ada seorang penggembala datang ke tempat pertapa tersebut. Penggembala itu bertanya, “Bapak sedang apa di sini?” “Sedang semedi”, sahut sang pertapa.
“Apa semedi itu?” tanya si penggembala lagi. “Merenungkan,berusaha untuk tahu ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), tidak ada aku, hanyalah perpaduan (anatta). Kalau kita bisa mengerti dan melihat itu, kita menjadi orang suci—bebas dari penderitaan, tidak menderita lagi”, sambung sang pertapa.
“Berapa lama bapak bersemedi (meditasi) di sini?” “Kira-kira hampir dua puluh tahun.” Penggembala ini sedikit nakal, lalu ia mengatakan kepada pertapa bahwa jenggot yang dimiliki oleh kambingnya lebih baik dibandingkan dengan jenggot si pertapa.
Spontan pertapa itu ngamuk, “Apa maksudmu?! Ke sini Cuma mau mengolok-olok orang tua. Jenggot saya dikatakan lebih jelek dibandingkan jenggot kambing. Pergi kamu.” Lantas sang penggembala berpikir, “Kok begitu ya? Meditasi selama dua puluh tahun, dikatakan jenggotnya lebih jelek dibandingkan jenggot kambing saya langsung ngamuk.”
Sederhana sekali, sangat sederhana. Kepancing begitu saja langsung ngamuk sang pertapa itu. Kalau di buku Ajahn Bram‘Membuka Pintu Hati ’ itu kan ada cerita lain lagi. Ada seorang bhiksu yang merasa sudah mencapai kesucian, dia membuat syair. Saya tidak ingat persis syair tersebut. Kira-kira bunyinya seperti ini,
“Kalau yang bertentangan sudah diatasi, maka batin akan menjadi hening.
Batin hening bebas dari ikatan, bebas dari ikatan adalah kesucian.”
Syair tersebut diberikan kepada gurunya. Zaman dulu, apabila ada yang mencapai kesucian, maka membuat syair. Gurunya membaca lalu menambahkan ke dalam
syair tersebut, “Kalau bebas dari yang bertentangan kentut, batin tidak terikat kentut, batin menjadi suci kentut, batin menjadi suci sudah bebas kentut.”
Lalu syair tersebut dikembalikan kepada muridnya. Ngamuklah sang murid yang membuat syair itu. “Guru ini kurang ajar, tidak menghargai murid, apa ini, orang sudah susah-susah bikin syair, keluar dari pencapaian, malah ditulisi dengan kata-kata kentut, kentut, kentut.” Gurunya tertawa dan mengatakan, “Orang suci kok kalah sama kentut!” Katanya mengerti anatta, sunyata, tanpa aku; kok dikatakan kentut saja sudah ngamuk. Jadi kogniti f berbeda sekali, berbeda jauh dengan pelaksanaan.
Jadi kalau Saudara-saudara mau belajar Dhamma adalah sangat baik. Tidak harus menjadi rohaniwan - seorang bhikkhu, tetapi yang Anda pelajari ini berguna bagi Anda sendiri nanti apabila menghadapi masalah. Namun harus mulai praktik dari sekarang.
Kalau tidak praktik sekarang, banyak teori nanti malah bingung sendiri. Ada juga saya menengarai alumni Vidyāsenā sini yang sampai sekarang bingung terus. Saya bilang mbok kamu jangan window shopping terus. Window shopping itu, kalau di Malioboro, masuk toko ini ga jadi, masuk toko itu ga jadi. Padahal mau mencari kain satu potong saja untuk hem; semua toko dimasuki ga jadi, ga jadi, ga jadi. Sampai malam pulang dan ditanya,
“Sudah beli kain untuk hemnya?” Belum. “Lha tadi ke mana?” Tadi cuma lihat-lihat. Besok lagi, masuk toko India, masuk toko Bombay, toko batik, bolak-balik mengulang lagi. Sudah beli? Belum lagi. Kalau window shopping terus bagaimana?
Praktiklah.Kan banyak, Bhante, cara bermeditasi bermacam-macam. Kan kita perlu coba-coba dulu. Ya, itu window shopping, tetapi setelah window shopping sebanyak empat atau lima toko, beli—bawa pulang kainnya. Kalau ingin mencoba teori ini, Sayadaw ini, Ajahn ini, Vipassana itu, mencoba, silahkan. Kalau sudah dicoba, ambil salah satu untuk praktik. Kalau coba-coba terus, ya tidak akan maju. Coba ini, coba itu tidak jadi; ada Rinpoche datang dicoba,ga jadi; Sayadaw datang coba, ga jadi; Ajahn ini datang coba, ga jadi.
Ambil salah satu yang Anda cocok, kemudian berlatih dengan tekun. Tanpa praktik tidak akan ada manfaat.Saya akan menutup dengan satu cerita. Betapa keyakinan itu kalau tanpa prakti k dan tanpa pengertian akan menjadi berbahaya. Tidak hanya membuta. Membuta saja itu sudah berbahaya,Saudara. Bisa nabrak-nabrak. Iman yang membuta itu bukan hanya sekadar tidak berharga, tetapi berbahaya!
Ada seorang pemuja Kongco Kuan Kong—Dewa Kejujuran yang naik kuda, yang menjadi tokoh kejujuran, keberanian, tidak senang dengan kejahatan, suka menolong. Berbakti sekali dia,bersembahyang setiap hari, sangat percaya. Suatu hari rumahnya kebanjiran.
Air semakin naik dan naik. Dia naik ke atas, naik ke atas lagi, sampai tinggal atap rumahnya yang tidak kebanjiran.Dia naik ke atap. Dia berdoa minta tolong pada Kongco Kuan Kong untuk datang menyelamatkannya. “Bhante ini mau menghina Kuang Kong.” Tidak. Jangan negative thinking dulu. Ikuti cerita ini sampai selesai. Waktu dia sampai di atap itu ada perahu lewat,penyelamat SAR mengatakan, “Ayo, ayo, ikut. Bahaya ini, air mau naik.” “Tidak,” teriaknya. “Lho kenapa?” “Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya.” “Wah, ti dak mungkin. Ayo cepat, ikut saya.” “Tidak, saya punya keyakinan.”
Air naik terus, dia naik terus, naik lagi sampai di bumbungan itu. Datang lagi perahu
yang agak besar. “Ei, ikut, ikut, ikut. Bahaya! Air di sana sudah naik.” “Ndak, Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya.” “Orang-orang bilang mati nanti kamu, kalau seperti ini terus!” “Tidak. Saya punya keyakinan, punya iman.”
Airnya naik terus sampai dia pegangan ke tiang listrik. Sekarang helicopter yang datang dan bawa pengeras suara, “Ayo! Tangkap talinya. Bahaya jika kamu ti dak ambil tali ini.” “Tidak. Saya yakin Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya”, jawab dia.
Bagaimana akhir dari keyakinan yang membuta seperti itu? Jatuh dia, kedinginan, kelaparan, gemetaran, dan mati . Di alam sana dia bertemu dengan Kongco Kuan Kong. Protes dia, bahwa dia memuja Kwan Kong, ya berarti bertemu dengan Kuan Kong, “Saya
memuja Yang Mulia, tiap hari, tiam hio pakai teh. Kenapa Kongco tidak menolong saya, sampai saya kecebur mati tenggelam?”
Kongco Kuan Kong tersenyum, “Siapa bilang saya tidak menolong kamu?” “Mana? Kapan?”, tanyanya. “Saya kirim tiga utusan. Yang pertama perahu karet, tetapi kamu menolak. Kedua perahu agak besar, kamu menolak. Yang ketiga saya mengirim helikopter,kamu juga menolak. Siapa bilang saya tidak menolong kamu? Saya mengirim tiga utusan dan semuanya kamu tolak. Siapa yang salah?”
 Itu cerita orang yang tidak memakai pengertian, yakin,percaya membuta. Saya cerita ini, Bhante Uttamo mendengar dan melanjutkan ceritanya, karena katanya cerita itu belum selesai dan masih ada lanjutannya. Lanjutan cerita dari Bhante Uttamo,Kongco Kuan Kong mengatakan, “Bagaimana kudaku bisa jalan kalau banjir kayak gitu? Kamu tidak pakai otak. Aku kirim perahu karet, aku kirim perahu agak besar, dan aku kirim helikopter,tetapi kamu menolak. Kamu pikir aku datang naik kuda? Tidak mungkin!”
Dan lain-lain, Bhante Uttamo bisa meneruskan sampai bermacam-macam.
Itu kan cerita rekaan, Bhante. Ya, tetapi kejadian yang mirip-mirip seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Kalau Anda beragama, atau Anda percaya apa sajalah. Jangan hanya percaya saja, tanpa kognitif, tanpa mengerti , tanpa belajar, kecewa nanti . Kalau mau ujian, mau ulangan, sembahyang Buddha kan tidak bisa menolong, lalu mengundang-undang Bodhisattva, engkong,emaknya yang sudah meninggal. Tidak benar. Di Buddhis tidak ada yang seperti itu. Metafisis-metafisis seperti itu tidak ada.
Lalu bagaimana, Bhante? Ya belajar. Kalau Anda belajar, ya Anda siap, tidak was-was. Sudah belajar tetapi meleset, yah, karma yang lampau. Yang dipelajari tidak keluar, yang keluar tidak dipelajari. Tidak ada hubungannya dengan tidak berdoa, atau yang lulus itu doanya banyak. Dalam Buddhis tidak mengenal itu. Ada persiapan, ada kesungguhan, ada usaha, ada karma baik yang dilakukan; semuanya akan jalan. Oleh karena itu, mari ‘3 M’: Menerima, Mengerti , dan Melaksanakan. Atau mengerti , lalu menerima dan melaksanakan.

Terima kasih.

Kumpulan ceramah Sri Pannyavaro Mahathera
Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka