Sabtu, 23 Juni 2012

MEMAHAMI SIFAT KEHIDUPAN



     
Malam hari ini seolah-olah kita kembali pada peristi wa di lebih dari 2500 tahun yang lalu, pada saat purnama di bulan Asadha, di taman kijang Isipatana, di dekat Kota Benares. Tatkala Guru Agung kita Buddha Gotama memberikan Dhammadesana pertama, berkhotbah untuk pertama kalinya—yang kemudian dikenal sebagai khotbah Pemutaran Roda Dhamma atau Dhammacakkappavattana Sutta.

     Peristiwa Asadha, sering disebut sebagai hari lahirnya agama Buddha, oleh karena pada saat bulan purnama di bulan Asadha itulah, Dhamma pertama kali dibabarkan di dunia ini. Karena itu, sering juga, peringatan Asadha disebut sebagai Hari Dhamma.Pada saat purnama di bulan Asadha itu, terdapat lima orang bhikkhu yang menjadi bhikkhu-bhikkhu pertama di dunia yang membentuk Sangha. Añña Kondanna—yang tertua—yang pertama mencapai ti ngkat kesucian Sotapana setelah mendengar khotbah pertama tersebut. Oleh karena itu pula, hari Asadha disebut juga Hari Sangha. Pada hari Asadha lahir Dhamma dan juga Sangha. Sehingga saat purnama di bulan Asadha sering dikenang sebagai hari munculnya Triratna secara sempurna.Dan saya membayangkan peristiwa 25 abad yang lalu, di tengah kesunyian taman menjangan Isipatana saat bulan purnama sempurna Asadha, timbullah sinar yang sangat terang melebihi sinar para dewa, dan memancar sampai ke alam para dewa.Khotbah Sang Buddha menggetarkan 10.000 tata surya—menyambut khotbah yang pertama itu. Disebutkan dalam Sutta itu bahwa Roda Dhamma telah diputar, tidak ada seorang pun dari alam semesta ini, sekali pun Dewa Brahma, yang mampu menghenti kannya. Hal ini menunjukkan betapa penti ngnya khotbah pertama ini. Tetapi ungkapan tersebut adalah ungkapan yang sangat tepat dan tidak berlebihan, jika Saudara berusaha untuk mengerti khotbah Sang Buddha yang pertama ini.

    Khotbah pertama ini menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia atau Empat Kebenaran Ariya, dan inilah inti dari seluruh ajaran Sang Buddha yang Beliau ajarkan selama 45 tahun dan kemudian dicatat dalam kitab suci Tripitaka menjadi 45 jilid.Kesunyataan itu oleh Sang Buddha disebut juga Ariya Sacca. Sang Buddha menyebutkan Ariya untuk menjelaskan Dukkha, oleh karena kebenaran ini sesungguhnya merupakan kebenaran bagi semuanya. Ariya Sacca adalah kebenaran yang tidak terbatas pada satu masa dan satu tempat, tetapi kebenaran yang dialami hampir oleh semua makhluk di alam semesta ini.

Penjelasan Ariya Sacca tentang Dukkha sebagai berikut:

Kelahiran adalah dukkha, proses menjadi tua adalah dukkha, sakit adalah dukkha, dan akhirnya kematian adalah dukkha.Selain itu, berkumpul dengan mereka yang dibenci adalah dukkha, berpisah dari yang dicintai juga dukkha. Dan uraian ini ditutup oleh, kemelekatan atas faktor-faktor yang membuat kehidupan ini adalah dukkha. Kelahiran adalah dukkha, tapi sulit untuk dijelaskan - kita semua mengalami kelahiran, tapi sulit untuk diingat kembali. Begitu kelahiran terjadi, proses penuaan sudah berlangsung, berlangsung tiap saat—tiap saat kita menuju proses ketuaan. Setelah tua, kita akan terjangkit bermacam-macam penyakit—apaun itu jenisnya; dan akhirnya kematian menyudahi proses kehidupan kita sekarang ini. Bahkan proses ketuaan sudah terjadi saat kita pertama kali dilahirkan sampai kita baru sadar bahwa telah menjadi tua. Proses ini kemudian oleh sebagian besar atau hampir seluruh makhluk dianggap sebagai penderitaan.

    Mengupas tentang penderitaan, mengapa sampai timbulpenderitaan, dan mengapa hal ini disebut penderitaan. Bila dirinci ada 3 macam dukkha, sebagai berikut:

1. Penderitaan fisik.

2. Penderitaan karena mengalami perubahan.

3. Penderitaan karena segala sesuatu itu perpaduan.

Saat Sang Buddha menjadi seorang raja Dhammapala dan melihat rambutnya menjadi putih, Beliau sadar proses ketuaan hamper mencapai puncaknya. Beliau kemudian segera meninggalkan takhta, istana, dan menjadi seorang pertapa. Tetapi sekarang ini, pada umumnya orang akan berpikir lain; jika melihat rambut menjadi putih, maka akan berusaha menutupinya, baik dengan mencabut maupun menyemir rambut, walaupun proses ketuaan itu akan tetap terus berlangsung.

Jadi, apakah yang membuat dukkha itu. Dukkha itu muncul karena kita menganggap hal itu sebagai dukkha. Akan tetapi, apabila kita tidak menganggap hal itu sebagai dukkha, maka hal itu tidak akan menjadi dukkha. Misalkan Anda diharuskan meninggalkan rumah untuk keperluan studi; apabila Anda merasa tidak nyaman karena mungkin kamarnya tidak cukup besar, meninggalkan sesuatu yang berharga di rumah asal, maka timbullah dukkha,rasa tidak puas, rasa tidak enak. Akan tetapi bila hal itu dilihat sebagai proses atau kewajaran, tentu tidak akan ada dukkha.Demikian juga, akibat tidak mempunyai pengerti an dan pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu, muncullah penderitaan itu.

     Salah satu kisahnya adalah Kisa Gotami, seorang janda yang mempunyai anak laki-laki semata wayang—yang pada anaknya itu ditumpahkan segala harapan dan perhatian,hingga pada suatu ketika, sang anak mendadak meninggal dunia.Tetapi Kisa Gotami tidak bisa menerima kenyataan itu, dan dia menganggap anaknya bisa hidup lagi. Ia berusaha mencari obatnya. Akhirnya Kisa Gotami menghadap Sang Buddha untuk meminta Sang Buddha menghidupkan anaknya kembali. Sang Buddha menyanggupi permintaan itu, dengan syarat Kisa Gotami harus mencari segenggam biji sawi dari keluarga yang belum pernah mengalami kematian. Kisa Gotami pun pergi dari satu rumah ke rumah lainnya, tetapi tidak ada satu keluarga pun yang tidak pernah mengalami kematian sanak keluarganya. Sekarang Kisa Gotami melihat kematian sebagai kewajaran, setelah melihat kenyataan itu, lenyaplah penderitaan yang menyelimuti pikirannya.

Penderitaan itu muncul ketika seseorang mempunyai keinginan atau selera yang tidak sesuai dengan sifat kehidupan ini.

Sifat kehidupan ini adalah tidak kekal, tidak menentu, proses perubahan berlangsung terus-menerus, sampai kematian.

Apabila seseorang melupakan sifat kehidupan ini, maka akan timbul dukkha. Contohnya adalah bila berpisah dengan yang kita cintai. Itu adalah proses yang wajar, tapi apabila kita menjadi gelap dan buta; tidak menyadari perpisahan itu adalah proses yang wajar dari kehidupan ini, maka akan timbul dukkha. Termasuk kematian, kesenangan yang luntur, benda yang menjadi rusak; sesungguhnya semua kejadian itu merupakan sesuatu yang wajar. Apabila bisa mengerti kewajaran ini, maka pikiran Anda akan seimbang. Hal ini akan mengubah dukkha, penderitaan, ketidakpuasan, kekecewaan menjadi keseimbangan.

Salah satu bentuk dukkha adalah kekecewaan terhadap persepsi.

Sebelum anda memulainya, sudah keluar angan-angan lebih dahulu, persepsi. Seperti keti ka mencicipi buah anggur. Ketika kita sudah punya persepsi atau angan-angan bahwa buah anggur itu manis dan lezat, tentu kita akan mendapat kekecewaan bila buah anggur tersebut ternyata berasa asam. Persepsi-persepsi itulah yang menyebabkan penderitaan, kekecewaan, ketidaksenangan, dan sebagainya.


   Oleh karena itu, dalam kehidupan yang serba maju, persaingan sedemikan cepat dan keras ini, kita dihadapkan pada tantangan-tantangan yang tidak ada akhirnya sampai nanti saat menutup mata, dan kelak dilahirkan kembali. Tetapi bila mampu melihat kehidupan ini sebagai tidak kekal, berubah,tidak abadi—melihat secara siap dan sadar, maka pada saat menghadapi perubahan-perubahan itu kita akan menghadapinya dengan keseimbangan dan kewajaran. Perubahan tersebut tidak sampai menimbulkan penderitaan.

Kesunyataan yang kedua adalah tanha (nafsu keinginan), yaitu selera yang tidak cocok dengan sifat kehidupan yang selalu berubah, yang kemudian menimbulkan dukkha. Akan tetapi, bila sanggup menerima sifat yang wajar dari kehidupan ini,tentu semua kekecewaan dan dukkha akan berubah menjadi keseimbangan. Namun pada prakteknya, hal ini sangat sulit dilakukan karena kemelekatan kita masih kuat. Dari pertemuan yang berulang-ulang dengan nafsu keinginan, kenikmatan yang dicicipi atau dirasakan tersebut berakibat makin menguatnya kemelekatan, baik kemelekatan terhadap orang tua, pada teman yang dekat, pada keadaan yang nyaman yang enak. Bila sampai perubahan terjadi, kita akan sulit menerimanya. Seolah-olah semua pengetahuan dan pengertian yang Anda dapatkan dari khotbah-khotbah yang sering Anda dengar, menjadi tidak berguna sama sekali.Jadi sesungguhnya, kebodohan kita atau lenyapnya pengetahuan kita, yaitu tidak bisa menyadari ketidak-kekalan dari segala sesuatu; karena kita tertutup oleh kemelekatan akan tanha; inilah sesuatu yang amat berbahaya. Yaitu: tanha dan upadana (kemelekatan yang ti mbul dari nafsu keinginan)! Manusia bisa mempunyai ambisi yang sangat jahat, kecewa yang hebat, dan melakukan apapun demi memuaskan seleranya, karena tanha dan upadana. Bahkan ini lebih hebat dari ‘guna-guna’ ataupun‘santet’, karena ‘guna-guna’ pun hanya berlangsung dalam satu kehidupan saja, namun tidak demikian halnya dengan tanha,upadana, dan avijja. Nafsu keinginan yang dibiarkan itu akan menimbulkan kemelekatan, dan kemelekatan itu akan membuat menjadi gelap. Pengertian, ceramah, khotbah, pengetahuan dari membaca buku lenyap semua, dan ia hanya akan mengikuti keinginan yang memenuhi pikirannya itu.

     Bagaimana melenyapkan tanha, upadana, dan avijja agar pikiran kita selalu terang? Dan bagaimana membuat pengertian-pengertian di atas tidak hanya sekilas, tetapi terangnya berkelanjutan. Untuk melenyapkan tanha, upadana, dan avijja diperlukan kebijaksanaan. Walaupun ada keinginan atau cita-cita yang muncul, keinginan itu harus disertai dengan kebijaksanaan bahwa segala sesuatu tidak ada yang kekal. Maka, keinginan ini tidak akan menjadi kemelekatan. Bila kemelekatan ti dak muncul,maka teranglah di dalam pikiran.

    Pada saat berbicara, bertindak, cobalah untuk selektif. Jangan asal berbicara atau berbuat dengan ‘sembrono’. Berbicara dan berbuat dengan selektif adalah cara membendung tanha, upadana dan munculnya sila. Selain itu, kita juga harus menghancurkan tanha dengan meditasi, sehingga muncul pañña.

Pikiran menjadi sangat terang dan tidak akan goyah melihat perubahan—yang sekarang terlihat sebagai kewajaran. Kita akan mengubah segala kekecewaan, ketidakpuasan, penderitaan, dukkha menjadi keseimbangan, apabila kita mampu melihat semuanya sebagai proses kewajaran. Inilah yang disampaikan Sang Buddha 25 abad lalu, ketika orang masih percaya terhadap dewa, mengharap berkah pada dewa, dan kepercayaan tidak masuk akal lainnya.

    Sang Buddha mengungkapkan Empat Kesunyataan Mulia dengan sangat jelas, dan makin relevan di masa kini—dalam perspektif intelektualas dan sains.
Sang Buddha mengungkapkan mengapa manusia menderita,tidak lain karena manusia tidak mengerti tabiat kehidupan ini,tidak mau mengerti sifat kehidupan ini. Yang baik dianggap tidak baik, yang tidak kekal dianggap kekal; yang menyenangkan sementara, dianggap abadi. Penjelasan ini adalah revolusi berpikir yang dimulai oleh Sang Buddha lebih dari 25 abad lalu, di saat jaman masih sangat kuno—tetapi ajaran itu makin relevan sekarang. Bahkan Sang Buddha tidak menemukannya dengan menggabungkan ide-ide, tetapi pada saat membabarkan Dhamma untuk yang pertama kalinya Sang Buddha menyatakan bahwa Beliau tidak pernah mendengar Dhamma itu sebelumnya,sampai tercapainya Pencerahan Sempurna.

    Mari kita memberikan terang pada pikiran kita masing-masing,karena pikiran itu dapat menjadi sesuatu yang jahat. Yang baik dianggap tidak baik, yang tidak kekal dianggap kekal; yang menyenangkan sementara dianggap selamanya; dan kita dibuat mengejar kenikmatan kembali, sehingga kemelekatan dan penderitaan muncul berkelanjutan.

Sesungguhnya Sang Buddha mengungkapkan bahwa tanha,upadana, avijja itu muncul dari pengertian yang salah dan merupakan awal dari semua penderitaan. Seperti dalam sebuah cerita seorang kaya yang tidak menyukai agama Buddha, dan bertanya pada bhante yang sudah tua, “Bhante, menurut Bhante muka saya seperti apa?” Bhante itu menjawab, “Saya melihat muka Anda seperti Buddha yang penuh dengan cinta kasih.”

Orang yang memusuhi tadi berkata dalam diri, “Saya tidak mengira, walaupun menghina agama Buddha dan mengejek Bhante, tetapi beliau tetap bilang muka saya seperti Buddha yang penuh cinta kasih.” Bhante yang tua ini memiliki murid yang masih muda dan agak jengkel terhadap orang kaya tadi,yang walaupun menghina agama Buddha dan sering mengejek bhante, tetapi dikatakan oleh sang guru mukanya seperti Buddha yang penuh cinta kasih. Murid ini kemudian bertanya pada orang tadi, “Kalau Anda melihat muka guru saya, seperti apa?” Orang itu menjawab, “Ow, saya melihat muka gurumu seperti kotoran sapi.”
Lalu sang murid berkata, “Sesungguhnya demikian, oleh karena guru saya ini sangat hormat—mengerti sekali siapakah Sang Buddha itu, dan pikirannya selalu baik; sifat-sifat Sang Buddha selalu dikembangkan, sehingga ketika melihat Anda,Anda seperti Sang Buddha. Akan tetapi karena pikiran Anda selalu memikirkan yang jelek-jelek dan pikiran Anda tidak murni, maka Anda melihat guru saya seperti kotoran sapi. Apa yang Saudara ucapkan dan perbuat sesungguhnya adalah pencerminan dari pikiran Anda!”


Kumpulan ceramah Sri Pannyavaro Mahathera

Vidyāsenā Production

Vihāra Vidyāloka


Tidak ada komentar: