Kamis, 28 Juni 2012

UPACARA DAN HARI RAYA




Dalam praktiknya, upacara dan perayaan Buddhis memberikan keragaman dalam pembelajaran kehidupan dan ajaran Buddha. Upacara Buddhis mencakup banyak ibadah, beberapa di antaranya umum bagi seluruh pengikut Buddha, sementara yang lainnya merupakan ciri khas budaya atau negara tertentu. Karena kita adalah makhluk-makhluk yang memiliki rasio dan emosi, upacara kebaktian adalah penting untuk membantu kita terhubung secara emosional dengan Buddha dan ajaran-Nya. Ritual dapat memberikan kekhusukan yang berarti dalam latihan, membantu kita memusatkan pikiran dan mencapai ketenangan. Ini harus dilakukan dengan keyakinan tulus, bukan karena rasa takut, ketamakan, atau takhayul.

Altar

Altar yang dijumpai di vihara-vihara atau di rumah-rumah pengikut Buddha adalah sebuah titik fokus peribadahan pengikut Buddha terhadap Tiga Permata. Citra (arca dan/atau gambar) Buddha di tengah altar mewakili dan mengingatkan kita kepada Buddha, cita-cita Pencerahan, serta kesempurnaan Kebijaksanaan dan Welas Asih-Nya. Hal ini membantu menginspirasi kita karena kita mengingat kembali keagungan Buddha dan ajaran-Nya. Beberapa objek lain juga dapat diletakkan di altar, seperti naskah-naskah suci Buddhis yang melambangkan Dharma. Di beberapa altar juga terdapat gambar atau foto bhikkhu dan bhikkhuni yang melambangkan Sangha. Ketika seorang pengikut Buddha berdiri di depan altar, objek-objek yang dilihatnya di sana membantunya mengingat sifat-sifat Tiga Permata. Ini akan menginspirasinya untuk berjuang mengembangkan sifat-sifat positif tersebut di dalam dirinya.

Bersujud

Bersujud di hadapan citra Buddha bukanlah memuja berhala, ini merupakan ungkapan rasa hormat yang mendalam. Sujud merupakan pengakuan bahwa Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna. Sikap seperti ini membantu kita untuk mengatasi perasaan egois, untuk menjadi lebih siap belajar dari Buddha.

Beranjali

Menangkupkan telapak tangan di depan dada (anjali) merupakan suatu tradisi sikap tubuh untuk mengungkapkan penghormatan mendalam kepada Tiga Permata. Ketika sesama pengikut Buddha saling menyapa, mereka menangkupkan telapak tangan seperti sekuntum kuncup teratai (lambang kesucian dalam ajaran Buddha), sedikit membungkukkan badan, dan dalam hati mengucap: “Sekuntum teratai untukmu, seorang bakal Buddha.” Salam ini memberikan pengakuan adanya benih-benih Pencerahan atau benih ke-Buddha-an di dalam diri orang lain, oleh karenanya kita mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan baginya. Menangkupkan telapak tangan juga memiliki efek pemusatan dan penenangan pikiran.

Padakkhina

Padakkhina merupakan kegiatan mengelilingi sebuah objek pemujaan, seperti stupa (bangunan tempat menyimpan relik Buddha atau guru Dharma), pohon Bodhi (pohon yang menaungi Buddha saat mencapai Pencerahan), atau citra Buddha, sebanyak tiga kali atau lebih sebagai wujud sikap hormat. Hal ini dilakukan dengan meditasi berjalan searah jarum jam—menjaga sisi kanan tubuh kita ke arah objek pemujaan.

Persembahan

Memberikan persembahan di altar merupakan wujud bakti, yang mengekspresikan penghargaan dan penghormatan kepada Tiga Permata. Setiap objek yang dipersembahkan memiliki makna masing-masing.

Pelita

Persembahan pelita (lilin atau lampu minyak) mengingatkan kita pada pancaran cahaya Kebijaksanaan yang menghalau gelapnya ketidaktahuan dalam jalan menuju Pencerahan. Hal ini mendorong kita untuk mencari terang Kebijaksanaan tertinggi.

Menghormati Buddha, kita mempersembahkan pelita:

Kepada-Nya, yang merupakan terang dunia, kami persembahkan pelita. Dari pelita-Nya yang agung, kami nyalakan pelita dalam diri kami. Semoga pelita Pencerahan bersinar dalam hati kami.

Bunga

Persembahan bunga-bunga yang segar dan indah, yang segera akan menjadi layu, tidak lagi wangi, dan pudar warnanya, mengingatkan kita akan ketidakkekalan segala sesuatu, termasuk kehidupan kita juga. Hal ini mendorong kita untuk menghargai setiap momen dalam hidup kita sekaligus tidak melekat padanya.

Menghormati Buddha, kita mempersembahkan bunga:

Bunga-bunga yang saat ini segar dan mekar dengan indahnya. Bunga-bunga ini esok akan memudar, layu, dan berguguran. Begitu jualah tubuh kita ini, seperti bunga, akan lapuk juga.

Dupa

Persembahan dupa wangi yang dibakar memenuhi udara sekitar melambangkan kebajikan dan efek pemurnian tingkah laku yang bermanfaat. Hal ini mendorong kita untuk mengakhiri semua kejahatan dan mengembangkan hal-hal yang baik.

Menghormati Buddha, kita mempersembahkan dupa:

Dupa nan harum semerbak di udara. Harumnya hidup nan sempurna, lebih semerbak daripada dupa. Menyebar ke segenap penjuru dunia.

Air

Persembahan air melambangkan kemurnian, kejernihan, dan ketenangan. Hal ini mendorong kita untuk melatih pikiran, perkataan, dan perbuatan kita untuk mencapai kualitas-kualitas di atas.

Buah-buahan

Buah-buahan melambangkan buah dari pencapaian spiritual yang membawa ke buah tertinggi—Pencerahan, yang merupakan tujuan akhir semua pengikut Buddha. Hal ini mendorong kita untuk berjuang mencapai Pencerahan bagi kebahagiaan semua makhluk.

Puja

Puja adalah penguncaran ayat-ayat ajaran Buddha secara beralun. Di samping membantu pengingatan akan ajaran Buddha, lantunan puja mempunyai efek menenangkan, baik bagi penguncarnya maupun pendengarnya. Puja seharusnya dilakukan dengan khidmat, dengan perhatian murni dan semangat. Seperti meditasi, puja membantu kita berkonsentrasi dan mengembangkan kedamaian batin.

Ucapan-ucapan Buddha juga dapat diuncarkan dengan perhatian murni pada Tiga Permata pada saat kita merasa takut atau resah sehingga gangguan itu dapat teratasi. Hal ini bisa terjadi karena Tiga Permata bebas dari segala cemaran dan rintangan seperti ketamakan, kebencian, dan kegelapan batin. Puja bisa dilakukan dalam segala bahasa. Bahasa-bahasa yang populer antara lain adalah Pali, Sanskerta, Mandarin, Tibet, Thai, Inggris, dan lain-lain.

Para perumah tangga biasanya melakukan puja pada pagi dan sore hari. Tujuan puja pagi adalah mengingatkan kita untuk sadar sepanjang hari akan ajaran yang diuncarkan. Tujuan puja sore adalah untuk merenung kembali apakah sepanjang hari tersebut kita telah melaksanakan apa yang telah kita tekadkan pada pagi harinya. Walaupun pilihan puja berbeda-beda dari satu tradisi ke tradisi yang lain, beberapa isi puja yang umum meliputi: Pernyataan Perlindungan, Lima Sila, Pujian Kepada Tiga Permata, Sutta, Mantra, Penghormatan Kepada Para Buddha dan Bodhisatta, Pengakuan Kesalahan, Sukacita Jasa Kebajikan, dan Pelimpahan Jasa.

Mantra

Mantra adalah frasa-frasa atau ungkapan pendek yang melambangkan ajaran atau kualitas tertentu yang mewakili Kebenaran dalam berbagai aspeknya (seperti mantra enam suku kata: “Om Mani Padme Hum” yang melambangkan Welas Asih). Menguncarkan mantra membantu membawa ketenangan dan kedamaian pikiran sembari memurnikannya. Setiap mantra khusus dapat membantu menumbuhkan sifat-sifat positif dalam pikiran, seperti Welas Asih, Kebijaksanaan, Semangat, dan sebagainya.

Penghormatan Kepada Para Buddha dan Para Bodhisatta

Penghormatan pada nama para Buddha dan Bodhisatta bisa dilafalkan untuk mengingat dan membangkitkan kebajikan dan kualitas yang mereka lambangkan. Melakukan hal ini akan mengingatkan kita bahwa seperti halnya para Buddha dan Bodhisatta, kita pun dapat mencapai kesempurnaan dalam berbagai sifat.

Hari Waisak

Waisak adalah peristiwa tahunan yang terpenting bagi umat Buddha. Waisak memperingati kelahiran, pencapaian Pencerahan, dan Parinirwana Buddha. Ketiga peristiwa ini jatuh pada hari bulan purnama, bulan kelima penanggalan bulan. Peristiwa ini diperingati oleh jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Ini merupakan perayaan untuk bersukacita dan berbagi niat baik bagi semua. Ini juga merupakan momen untuk merenungkan kembali perkembangan spiritual kita.

Bagi sebagian pengikut Buddha, perayaan Waisak dimulai pagi-pagi sekali dengan berkumpul di vihara untuk melaksanakan Delapan Sila. Sebagian yang lain bergabung dengan perayaan umum untuk mengikuti upacara dengan mengambil Tiga Pernaungan, menjalankan Lima Sila, membuat persembahan di altar, dan menguncarkan Sutta. Mereka juga bisa mengikuti prosesi dan padakkhina, serta mendengarkan ceramah-ceramah Dharma.

Di beberapa vihara, umat Buddha mengambil bagian dalam upacara pemandian arca bayi Pangeran Siddhattha yang ditempatkan di bejana air wangi yang bertaburan bunga. Air wangi digayung dengan sendok besar dan dicucurkan ke arca tersebut. Ini melambangkan pemurnian perbuatan buruk dengan perbuatan baik.

Sebagian umat hanya menyantap makanan vegetarian pada hari ini sembari merenungkan ajaran Welas Asih universal. Pada hari Waisak, vihara-vihara dirias indah dengan bendera Buddhis dan lampu-lampu; altar dipenuhi bunga-bunga, buah-buahan, dan persembahan lainnya.

Hari Uposatha

Saat Uposatha atau hari bulan baru dan bulan purnama (tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan), banyak umat Buddha berhimpun di vihara untuk bermeditasi, melakukan persembahan, menguncarkan Sutta, dan melakukan penghormatan kepada Tiga Permata. Sebagian juga melaksanakan vegetarian pada hari-hari tersebut, sekaligus menjalankan Delapan Sila.

Hari Ullambana

Ullambana adalah perwujudan rasa hormat umat Buddha kepada leluhur mereka dan Welas Asih mereka kepada semua makhluk yang menderita di alam-alam menyedihkan. Peringatan Ullambana pada tanggal 15 bulan ketujuh penanggalan bulan didasarkan pada kejadian saat Mogallana, siswa Buddha, melalui kekuatan meditasinya mendapati bahwa ibunya terlahir kembali di salah satu alam menyedihkan. Karena sedih, Mogallana memohon bantuan Buddha, yang kemudian menasihatinya untuk membuat persembahan kepada Sangha, karena jasa perbuatan itu dapat membantu membebaskan penderitaan ibunya dan makhluk-makhluk lain di alam-alam menyedihkan. Karena itulah, melakukan persembahan untuk membebaskan penderitaan orang yang telah meninggal dan makhluk-makhluk lain di alam sengsara menjadi perayaan umum yang populer.

Ullambana dirayakan dengan mempersembahkan kebutuhan-kebutuhan Sangha, menguncarkan Sutta, dan melakukan perbuatan-perbuatan amal. Jasa dari perbuatan-perbuatan ini lalu dilimpahkan kepada semua makhluk.

Upacara Pengalihan Pelita

Dalam upacara ini, para umat memegang sebatang lilin yang disulut setelah matahari terbenam sambil berjalan mengitari vihara, objek suci, atau bangunan bersejarah sembari menguncarkan mantra atau nama Buddha. Upacara ini melambangkan penerusan pelita Kebijaksanaan (penyebaran Kebenaran) ke segenap penjuru dunia untuk menghalau gelap ketidaktahuan. Pada tataran pribadi, hal ini bermakna menyulut pelita Kebijaksanaan dalam diri kita.

Nyala api yang dipindahkan ke lilin-lilin lain yang tak terhitung banyaknya tanpa memadamkan nyalanya sendiri, melukiskan bahwa Kebijaksanaan tidak pernah habis terbagi. Terbakarnya sumbu disertai lelehnya lilin mengingatkan kita pada ketidakkekalan dan perubahan segala sesuatu yang terkondisi, termasuk hidup kita sendiri. Merenungkan hal ini dapat membantu kita menghargai setiap momen dalam hidup tanpa menjadi melekat padanya. Perhatian murni dapat dilatih dengan menjaga agar nyala lilin tidak padam. Ini melambangkan penjagaan pikiran dari faktor-faktor negatif yang merusak kehidupan spiritual. Dalam upacara ini, menyaksikan secercah api yang menerangi kegelapan, hingga samudra cahaya yang saling berbagi penerangan, sungguh sangat menginspirasi.

Upacara Tiga Langkah Satu Sujud           

Dalam upacara ini, para pengikut biasanya berbaris sebelum matahari terbit dengan mengitari vihara, membungkukkan badan satu kali setiap tiga langkah, sambil menguncarkan mantra-mantra atau nama Buddha sebagai penghormatan. Pada setiap sujud, Buddha dapat divisualisasikan tengah berdiri di telapak tangan kita yang terbuka. Telapak tangan yang terbuka melambangkan bunga teratai, lambang merekahnya kesucian (sekalipun akar teratai berada di lumpur kotor, bunganya mekar dengan anggun dan bersih dari lumpur). Setiap sujud merupakan penyampaian rasa hormat kepada Buddha (atau kepada para Buddha dan Bodhisatta yang tidak terhitung jumlahnya). Latihan ini membantu pemurnian pikiran, mengikis ego, dan mengurangi rintangan sepanjang jalan spiritual, sambil kita menyesali tindakan-tindakan buruk yang lalu dan mencita-citakan kemajuan spiritual. Dengan perhatian murni pada pikiran, perkataan, dan perbuatan selama latihan, konsentrasi dan ketenangan dapat dicapai.

Upacara yang panjang ini mengingatkan kita pada perjalanan menuju Pencerahan yang panjang dan sulit. Namun, ini juga mengingatkan kita bahwa asalkan kita bertekad kuat, seluruh rintangan akan dapat ditanggulangi. Keteguhan dalam menuntaskan latihan ini dengan segala kesulitannya juga membantu memperkuat keyakinan pada Buddha dan ajaran-Nya yang menuntun kita menuju Pencerahan.

Merekahnya fajar pada akhir upacara melambangkan cahaya Kebijaksanaan yang menghalau kegelapan batin karena kita terus melaju dalam perjalanan menuju Pencerahan.


(Internet)

Tidak ada komentar: