Tampilkan postingan dengan label Ven.Ajahn Chah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ven.Ajahn Chah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

AKAR




Kita bagaikan sebuah pohon dengan akar-akar,
Sebuah pangkal batang, dan sebuah batang.
Setiap daun,setiap cabang, tergantung pada akar
untuk menyerap nutrisi dari tanah dan mengirimkannya ke atas untuk menghidupi pohon.
Tubuh kita, termasuk ucapan dan perbuatan kita,
indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa,
dan peraba kita, adalah sama seperti cabang, daun,
dan batang pohon. Pikiran sama seperti akar yang
menyerap nutrisi dan mengirimkannya melalui batang ke
daun-daun dan cabang-cabang sehingga mereka dapat
berbunga dan menghasilkan buah.

~Ajahn Chah~

Rabu, 28 Maret 2012

AIR TANAH






Buddha adalah Dhamma; Dhamma adalah Buddha.
Dhamma yang telah disadari Sang Buddha adalah sesuatu yang selalu ada di dunia. Dhamma tidak akan menghilang. Dhamma seperti air tanah. Siapa saja yang menggali sumur hingga ke lapisan air tanah akan menemukan air. Jadi orang tersebut bukanlah yang
menciptakan atau membuat air menjadi ada. Yang dia lakukan hanyalah menggunakan tenaganya untuk menggali sumur hingga cukup dalam untuk mencapai air yang memang sudah ada disana.
Jadi, apabila kita memiliki kebijaksanaan, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak lah jauh dari Buddha. Kita semua duduk tepat di depanNya saat ini. Kapanpun kita memahami Dhamma, kita melihat Buddha. Mereka yang dengan sungguh-sungguh
mempraktekkan Dhamma secara terus menerus–dimanapun mereka duduk, berdiri, atau berjalan pastinya akan mendengarkan Dhamma Sang Buddha setiap saat.


~Ajahn Chah~

MENUJU SAMUDERA




Aliran air, danau, dan sungai yang mengalir turun ke
samudra, ketika mereka mencapai samudra, semuanya
mempunyai warna biru yang sama, mempunyai rasa
asin yang sama.
Sama halnya dengan manusia: Tidak masalah dari mana
mereka berasal, ketika mereka mencapai arus Dhamma,
semuanya adalah Dhamma yang sama.

~Ajahn Chah~

RUMAHMU YANG SESUNGGUHNYA






Bangunan rumah mu itu bukanlah rumahmu yang sesungguhnya.
Itu adalah rumah yang kamu kira, rumahmu di dunia.
Sementara rumahmu yang sesungguhnya, adalah kedamaian.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk membangun rumah kita sendiri dengan cara melepas hingga kita mencapai kedamaian.




~Ajahn Chah~

Rabu, 21 Maret 2012

SEPOTONG KUE




Jika anda masih merasakan KEBAHAGIAAN dan PENDERITAAN, 
anda bukanlah seorang yg telah sempurna. 
Sama halnya dgn memakan sepotong kue kesukaan anda, 
tetapi sebelum anda menghabisinya, potongan kue itu jatuh. 
Anda menyesalkannya bukan? Ketika merasa kesal, anda menderita bukan? 
Jadi anda harus membuang kebahagiaan maupun penderitaan. 
Itu hanyalah makanan bagi mereka yg belum sempurna.
Dalam kebenaran, kebahagiaan adalah penderitaan yg menyamar, 
tetapi berada dalam bentuk yg sedemikian halus sehingga anda tidak merasakannya. Jika anda melekat pada kebahagiaan, sama saja dgn anda melekat pada penderitaan, tetapi anda tidak menyadarinya.
Jadi, berhati-hatilah ! Apabila kebahagiaan muncul, jangan terlalu menikmatinya, jangan hanyut terbawa olehnya. Ketika penderitaan muncul, jangan kecewa, 
jangan menenggelamkan diri anda didalamnya pula. 
Perhatikanlah bahwa kebahagiaan dan penderitaan mempunyai nilai yg sama saja.


                                                                                                         ~Ajahn Chah~

Selasa, 20 Maret 2012

JATUH DARI SEBATANG POHON




Jika kita melihat "Paticcasamuppada" sebagaimana tertulis di dalam kitab2, kita katakan bahwa ketidaktahuan akan mengakibatkan kegiatan, kegiatan mengakibatkan kesadaran, kesadaran mengakibatkan bathin dan jasmani, bathin jasmani mengakibatkan 6 dasar indra, 6 dasar indra mengakibatkan hubungan indra, hubungan indra akan mengakibatkan perasaan, perasaan mengakibatkan nafsu keinginan, nafsu keinginan akan mengakibatkan kemelekatan, kemelekatan membangkitkan keberadaan, keberadaan mengakibatkan kelahiran, kelahiran mengakibatkan usia tua, sakit, mati dan semua bentuk penderitaan. 
Akan tetapi dalam kenyataan, pada saat berhubungan dgn sesuatu yg tidak kita sukai, SEGERA muncul penderitaan. Pikiran mengikuti rantai "Paticcasamuppada" begitu cepat sehingga kita tidak dapat menelusurinya.
Sama seperti jatuh dari sebatang pohon. Sebelum kita menyadari apa yg terjadi - PLUK ! - kita sudah menumbuk tanah. Sebenarnya kita melalui banyak ranting dan cabang selama jatuh, tapi ini berlangsung begitu cepat sehingga kita tidak sempat menghitungnya ataupun mengingatnya pada saat kita jatuh.
Sama dgn "Paticcasamuppada", Penderitaan segera yg kita alami adalah hasil dari melalui seluruh rantai "Paticcasamuppada". Inilah sebabnya Buddha mengajarkan murid2nya untuk mengamati dan mengetahui sepenuhnya pikiran mereka masing2 sehingga mereka bisa MENANGKAP diri mereka sebelum jatuh mengenai tanah.

                                                                                                     ~Ajahn Chah~

Minggu, 18 Maret 2012

MOBIL




Semua agama bagaikan berbagai jenis mobil yang bergerak menuju ke arah yang sama.
Orang-orang yang tidak melihatnya seperti ini,
Tidak memiliki cahaya di dalam hatinya.

                                                  ~Ajahn Chah~

Rabu, 22 Februari 2012

KUCING



Jika kekotoran batin muncul,Anda harus melakukan sesuatu.
kekotoran batin bagaikan seekor kucing.
Jika Anda  memberinya sebanyak mungkin makanan,ia akan datang terus menerus untuk meminta makanan.
Akan tetapi jika suatu  ketika ia mencakar Anda dan Anda memutuskan untuk tidak memberinya makanan lagi,ia tidak akan datang mencari makanan lagi.
Ia masih akan datang mengeong-ngeong  pada saat-saat awal,tetapi jika Anda bersikeras,ia tidak akan datang lagi.
Sama halnya dengan berbagai kekotoran batin pada pikiran Anda.
Jika Anda tidak memberinya makanan,mereka tidak akan datang mengganggu Anda terus menerus lagi,dan pikiran Anda akan menjadi tenang.

                                                                ~Ajahn Chah~

SEBATANG POHON DI TENGAH HUTAN



Orang- orang sering bertanya –tanya tentang latihan saya.
Bagaimana saya mempersiapkan pikiran saya untuk latihan meditasi...?
Tidak ada sesuatu yang khusus,saya hanya mempertahankannya pada tempat yang selayaknya.
Mereka bertanya,”Kalau demikian,apakah anda seorang arahat ?”
Apakah saya mengetahui ?
Saya bagaikan sebatang pohon di tengah hutan,yang penuh dengan daun,bunga dan buah.
Burung-burung berterbangan datang dan bersarang dan hewan-hewan berlindung di antara kerimbunannya.
Walaupun demikian,pohon itu sendiri tidak mengetahuinya.
Pohon tersebut hanya mengikuti jalur alaminya.
Pohon itu bertindak sebagai pohon,apa adanya.

                                                             ~Ajahn Chah~

Selasa, 14 Februari 2012

Miscellenous



Anda harus tahu Dhamma untuk diri Anda sendiri. Mengetahui untuk diri sendiri artinya berlatih untuk diri sendiri. Anda dapat tergantung pada seorang guru hanya lima puluh persen dari seluruhnya. Bahkan, ajaran yang saya berikan kepada anda tidak berguna sepenuhnya, walaupun itu berharga untuk di dengar.
Tetapi jika Anda mempercayainya hanya karena saya yang mengatakan maka Anda tidak akan menjalankan ajaran tersebut secara baik. Jika Anda percaya saya sepenuhnya maka Anda bodoh. Dengarkan ajaran, lihat manfaatnya, praktekkan ajaran tersebut untuk dirimu sendiri, lihatlah di dalam dirimu,... maka hal itu lebih berguna.

Ven.Ajahn Chah

Rabu, 11 Januari 2012

MEMEGANG SEEKOR ULAR



Oleh : Venerable Ajahn Chah


"Latihan kita disini bukanlah untuk menggengam apapun," Ajahn Chah memberitahu seorang bhikkhu baru.

"Tapi bukankah kadang-kadang kita perlu untuk memegang beberapa hal?", protes bhikkhu itu.

"Dengan tangan, ya, tapi tidak dengan hati" jawab Gurunya kembali.

"Ketika hati menggenggam sesuatu yang menyakitkan, ia seperti terpatuk ular. Dan melalui nafsu keinginan, ia menggenggam yang menyenangkan, itu sama halnya dengan memegang ekor ular. Hanya butuh waktu sebentar bagi kepala ular untuk berbalik dan mematukmu".

"Buatlah ketiada-melekatan dan perhatian murni ini sebagai penjaga hatimu, seperti orang tua. Kemudian kesukaan dan ketidak-sukaanmu akan memanggil-manggilmu seperti anak-anak. Saya tidak suka itu Ma....Saya mau yang itu lagi Pa....Tersenyum sajalah dan berkatalah, 'Tentu, nak....'. 'Tapi, Ma...saya benar-benar ingin seekor gajah'. 'Tentu nak....'. 'Saya ingin permen.

Bolehkah kita naik pesawat udara?' Tidak akan ada masalah bila Anda dapat membiarkan mereka datang dan pergi tanpa menggenggam".

Sesuatu datang pada indriya-indriya; suka atau tidak suka muncul; disanalah timbul khayalan. Akan tetapi dengan perhatian murni, kebijaksanaan bisa muncul dari pengalaman yang sama.

Jangan takut pada tempat-tempat dimana banyak hal dapat mengadakan kontak dengan indriya-indriyamu, jika Anda memang harus berada disitu. Mencapai penerangan, tidak mesti bisu dan tuli. Dengan merafal japa setiap saat untuk mencegah terjadinya suatu hal, Anda malahan bisa tertabrak mobil. Waspada saja dan jangan terpedaya. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyenangkan, katakan pada diri sendiri, "Tidak benar". Ketika yang lain mengatakan bahwa sesuatu itu lezat, katakan pada diri sendiri, "Tidak, itu tidak benar". Jangan terperangkap dalam kemelekatan pada dunia ini atau pada penilaian yang relatif.


Sumber Buku : "Telaga Hutan Yang Hening"

Minggu, 08 Januari 2012

KUDA YANG BANDEL



Pikiran sama bandelnya dengan seekor kuda,
Dan juga sama sulitnya untuk di latih.
Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menghadapi kuda yang bandel ?
Janganlah memberinya makan untuk sementara,
ia akan kembali mendengarkan Anda.
Dan ketika ia mematuhi perintah Anda,berilah makan sedikit.
Kita dapat melatih pikiran dengan cara yang sama.
Dengan usaha yang benar,kebijaksanaan akan bangkit.

Jumat, 06 Januari 2012

BEBEK




Berapa lama pun kita menginginkan tubuh ini bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama,tidak akan mungkin terjadi.
Menginginkan hal seperti ini adalah sebodoh mengharapkan bebek berubah menjadi ayam.

Apabila kita melihat bahwa hal ini tidak mungkin terjadi,bahwa seekor bebek tetap akan berupa bebek,bahwa seekor ayam sepatutnyalah berupa ayam,dan bahwa tubuh adalah tubuh dan harus mengalami sakit dan kematian,kita akan menemukan kekuatan dan energi pada saat mengalami perubahan-perubahan tubuh.

POHON YANG BENGKOK



Inti latihan kita adalah memperhatikan dengan seksama dan memeriksa pikiran.
Anda harus memiliki kebjaksanaan.
Jangan mendiskriminasikannya.
Jangan kecewa terhadap orang lain jika mereka berbeda dari Anda.
Akankah Anda marah jika melihat sebatang pohon yang pendek dan bengkok di tengah  hutan karena tidak menyerupai pohon-pohon lain yang tinggi dan tumbuh lurus…?
Ini sungguh bodoh.
Jangan menghakimi orang lain.
Mereka sungguh bervariasi.
Tidak perlu memikul beban dengan menginginkan mengubah mereka semua.
Jika Anda ingin mengubah sesuatu, ubahlah kebodohan Anda menjadi kebijaksanaan.

BAU KOTORAN




Kemanapun Anda lari di dunia ini, pasti akan Anda jumpai penderitaan.
Tidak ada jalan untuk meloloskan diri selama pikiran Anda masih berada di dalam dunia ini.
Sama seperti ingin melarikan diri dari setumpuk bau kotoran dengan membagi-baginya menjadi kelompok-kelompok kecil.
Dalam tumpukan yang besar maupun yang kecil, bau kotoran itu akan tetap tercium sama,di mana pun Anda berada.

Rabu, 04 Januari 2012

BARANG YANG MAHAL




Andaikata kita memiliki sebuah benda yang sangat mahal.
Begitu benda tersebut menjadi milik kita,
Pikiran kita berubah,”Sekarang di manakah akan saya simpan benda ini..?”
Jika saya meletakkannya di sini, seseorang akan mencurinya.”
Kita mencemaskan diri kita pada situasi , mencoba menemukan tempat untuk
menyimpannya.Inilah penderitaan.
Dan kapan penderitaan itu timbul ?
Penderitaan itu muncul begitu kita memahami bahwa kita telah mendapatkan
Sesuatu. Di sanalah penderitaan ada.
Sebelum memiliki benda itu , tidak ada penderitaan.
Penderitaan itu belum muncul ,
Karena tidak ada benda yang membuat pikiran melekat.
Diri kita juga sama.
Jika kita berpikir dari sudut pandang “diri” ,
Segala sesuatu yang berada di sekitar kita akan menjadi “milik kita”.
Dan kebingungan datang menyusul.
Jika tidak ada “saya” dan “milik saya”,kebingungan tidak akan ada.

~ Ajahn Chah ~

Selasa, 03 Januari 2012

BOTOL TERMOS




Pelajari diri Anda,

Bukan buku-buku.

Kebenaran tidak ada di luar.

Yang ada di dalam buku-buku hanya bahan hafalan,

Bukan kebijaksanaan.

Menghafal tanpa di sertai kebijaksanaan,

Bagaikan sebuah botol termos kosong.

Jika Anda tidak mengisinya,tidak akan ada gunanya.

Senin, 02 Januari 2012

Jalan Layang




Sungguh salah untuk terus-menerus memandang bahwa kita jatuh dalam sankhara,atau bahwa kita berbahagia maupun tidak berbahagia.
Pola pandang seperti ini bukanlah pengetahuan yang penuh dan jelas tentang sifat alami sesuatu.Kebenarannya adalah bahwa kita tidak bisa memaksakan sesuatu untuk mengikuti keinginan kita.Semuanya mengikuti proses alami.
Suatu bahan perbandingan yang sederhana adalah sebagai berikut: Andaikata anda duduk di tengah-tengah suatu jalan layang yang penuh dengan mobil dan truk yang melaju dengan kecepatan tinggi kearah anda.
Anda tidak bisa marah dan berteriak,”Jangan menyetir disini  ! Jangan mengemudi mobil disini .!” Itu adalah jalan layang. Anda tidak bisa berkata begitu. Jadi, apa yang bisa kita lakukan..? Anda meninggalkan jalan tersebut.
Jalan adalah tempat mobil melaju. Jika anda tidak menginginkan mobil disana,anda akan menderita.
Sama halnya dengan sankhara. kita mengatakan itu mengganggu kita,misalnya pada saat kita sedang duduk bermeditasi dan mendengar suara-suara.
Kita berpikir,” Suara-suara itu mengganggu saya.”
Jika kita mengganggap bahwa suara-suara itu mengganggu,kita akan menderita sebagai akibatnya.
Jika kita menyelidikinya lebih mendalam,kita akan tahu bahwa kitalah yang  mengganggu suara itu. Suara adalah sesuatu yang berbunyi. Jika kita memahaminya sedemikian,tidak akan ada lagi yang perlu di lakukan.
Kita cukup membiarkannya saja. Kita sadar bahwa suara dan kita adalah dua hal yang terpisah. Inilah pengetahuan yang sebenarnya akan kebenaran.
Anda memandang dari dua sisi sehingga anda mendapatkan kedamaian. Jika anda hanya meninjau dari satu sisi, Anda hanya akan mendapatkan penderitaan. Pada saat anda memandang dari dua sisi, Anda mengikuti Jalan Tengah. Inilah cara melatih pikiran yang benar. Inilah yang kita sebut mempertajam pemahaman.
Dengan cara yang sama, sifat dari semua sankhara adalah tidak kekal dan akan mati, tetapi kita ingin merangkulnya.
Kita membawa dan mengidamkannya.
Kita menginginkannya menjadi sesuatu yang benar.
Kita hendak mencari kebenaran dalam sesuatu yang tidak benar.
Apabila seseorang memandang  dengan pola seperti ini dan melekat pada sankhara sebagaimana pada dirinya, dia akan menderita.
Buddha mengajak kita untuk merenungkan hal ini.

~Ajahn Chah~

Rabu, 30 November 2011

Menyucikan Hati


Oleh: Yang Mulia Ajahn Chah




Akhir-akhir ini banyak orang pergi ke berbagai tempat untuk melakukan kebajikan (memberikan persembahan) ke vihara. Dan mereka tampaknya selalu singgah di Wat Ba Pong (sebuah vihara di Thailand), entah dalam perjalanan perginya, atau pada pulangnya. Beberapa orang begitu terburu-buru sehingga saya tidak sempat bertemu atau pun bercakap dengan mereka. Kebanyakan orang mencari kebajikan, tetapi saya lihat tidak banyak yang mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Mereka begitu bernafsu mendapatkan jasa, tetapi tidak tahu akan menempatkannya di mana. Ini seperti mencoba mewarnai kain yang kotor, dengan tidak mencucinya.


Walau para bhikkhu berbicara terus terang seperti ini, tetapi banyak orang mengalami kesulitan untuk melaksanakannya dalam praktek. Hal ini sulit karena mereka tidak mengerti, padahal jika mereka mengerti akan menjadi lebih mudah. Misalkan ada sebuah lubang dan ada sesuatu pada dasarnya. Siapapun yang memasukkan tangannya ke dalam lubang tersebut dan tidak dapat menyentuh dasarnya akan mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam. Dari 100 bahkan 1000 orang yang melakukannya, mereka semua berkata bahwa lubangnya yang terlalu dalam. Tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek!


Ada begitu banyak orang yang mencari jasa/kebajikan. Cepat atau lambat mereka harus mulai mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Akan tetapi tidak banyak orang tertarik akan hal ini. Ajaran Sang Buddha begitu singkat, tetapi sebagian besar orang melewatkannya begitu saja, seperti halnya mereka hanya melewati Wat Ba Pong. Bagi banyak orang itulah Dhamma, hanya sekedar titik perhentian.


Hanya 3 baris, tidak lebih.


Sabba papassa akaranam: menahan diri dari semua perbuatan salah; 



Kusalassupasampada: senantiasa mengembangkan kebajikan;

Sacittapariyodapanam: menyucikan batin; Itulah ajaran dari semua Buddha.

Inilah inti dari ajaran Buddha.


Tetapi orang terus melewatinya, mereka tidak menginginkan itu. Pelepasan dari segala perbuatan salah, besar atau kecil, baik dalam ucapan, fisik dan mental.... inilah inti ajaran pertama dari semua Buddha.


Jika kita ingin mewarnai sehelai kain kita harus mencucinya terlebih dahulu. Tetapi banyak orang tidak mau melakukan hal ini. Tanpa melihat kondisi kain, mereka langsung saja mewarnai kain tersebut. Jika kain itu kotor, mewarnainya hanya akan membuat kain itu lebih kotor. Pikirkanlah hal ini. Mewarnai kain kotor, dapatkah kelihatan baik?


Kita lihat? Beginilah agama Buddha mengajarkan, tapi banyak orang melewatkannya begitu saja. Mereka hanya ingin melakukan perbuatan baik, tetapi mereka tidak mau melepaskan perbuatan salah mereka. Ini sama halnya dengan mengatakan "lubang itu terlalu dalam". Semua mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam, tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek. Kita harus kembali kepada diri kita sendiri. Dengan ajaran ini kita harus mundur dan mengamati diri kita sendiri.


Kadang-kadang mereka pergi mencari jasa kebajikan bagaikan berada di dalam bis. Mereka mungkin bertengkar dalam bis, atau bahkan mabuk. Tanyakan pada mereka arah tujuannya dan mereka akan mengatakan mereka mencari jasa. Mereka mau jasa, tetapi mereka tidak mau menghentikan perbuatan salah mereka. Maka mereka tidak akan memperoleh jasa dengan cara seperti itu.


Begitulah manusia. Kita harus mengamati diri sendiri dengan dekat dan jelas. Sang Buddha mengajarkan tentang adanya kesadaran (awareness) dan perenungan (recollection) dalam segala situasi. Perbuatan salah dapat timbul baik lewat tindakan secara fisik, lewat kata-kata, dan pikiran. Apakah kita membawa pikiran, perbuatan dan perkataan kita hari ini? Atau hanya kita tinggalkan di rumah? Di situlah harus kita lihat, tepat di situ. Kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Lihatlah pada pikiran, perkataan, dan perbuatan. Lihat apakah tingkah laku kita sudah betul, atau masih salah.


Orang tidak benar-benar melihat hal-hal semacam ini. Seperti seorang ibu yang mencuci piring dengan cemberut. Dia begitu terpaku pada usahanya membersihkan piring-piring tersebut sehingga tidak menyadari bahwa pikirannya sendiri kotor. Pernahkah anda melihat hal semacam ini? Dia hanya melihat piring-piring tersebut. Dia melihat terlalu jauh, bukan? Saya kira beberapa di antara kita mungkin telah mengalami hal semacam ini. Di sinilah kita harus melihat. Orang berkonsentrasi untuk membersihkan piring tetapi mereka membiarkan pikiran mereka kotor. Ini tidak baik. Mereka melupakan diri sendiri.


Karena orang tidak melihat diri sendiri, maka mereka dapat melakukan segala macam perbuatan tercela. Mereka tidak melihat pikiran mereka sendiri. Ketika akan melakukan sesuatu yang jelek, orang sering melihat ke sekeliling terlebih dahulu untuk melihat apakah ada orang yang mengamati... "Apakah dilihat Ibu?" "Apakah dilihat suami saya?" "Apakah dilihat anak-anak?" "Apakah dilihat istri saya?" Jika tidak ada yang mengamati maka mereka akan langsung melakukannya. Ini sebenarnya merendahkan diri sendiri. Mereka berkata: "Tidak kelihatan orang, kok", jadi langsung saja mereka lakukan. Tetapi bagaimana dengan mereka sendiri? Bukankah mereka juga "orang"?


Kita lihat bahwa lewat pengamatan terhadap diri sendiri seperti itu, orang tidak akan pernah menemukan nilai yang sesungguhnya. Mereka tidak menemukan Dhamma. Jika kita dapat melihat diri kita sendiri sewaktu akan melakukan sesuatu yang buruk, dan kita dapat melihat diri sendiri tepat pada waktunya, kita dapat berhenti. Jika lkita ingin melakukan sesuatu yang berarti, lihatlah pikiran kita. Dengan bisa melihat diri sendiri, kita akan tahu tentang kebaikan/keburukan, keuntungan/kerugian, nilai-nilai buruk/nilai-nilai luhur. Inilah hal-hal yang harus kita ketahui.


Jika hal-hal seperti ini tidak dibicarakan, kita tidak akan tahu. Kita mempunyai ketamakan dan kegelapan batin dalam pikiran, tetapi kita tidak tahu. Kita tidak akan tahu apapun jika kita selalu melihat keluar. Inilah masalah orang yang tidak melihat diri sendiri. Melihat ke dalam, kita akan melihat baik dan buruk. Melihat kebaikan, kita dapat menyimpannya dalam hati dan mempraktekkannya.


Meninggalkan yang jelek, melakukan yang baik..... ini adalah jiwa agama Buddha. Sabba papassa akaranam —tidak melakukan perbuatan salah, baik melalui fisik, kata-kata ataupun pikiran. Inilah latihan yang benar, ajaran dari semua Buddha. Nah, sekarang "kain" kita sudah bersih.


Kemudian kita punya kusalassupasampada —membuat pikiran luhur dan trampil. Jika pikiran kita luhur dan trampil, kita tidak perlu naik "bis" ke mana-mana untuk mencari jasa/kebajikan. Dengan duduk di rumah pun kita bisa berbuat jasa yang baik. Tetapi kebanyakan orang hanya mau pergi ke mana-mana untuk mencari jasa tanpa mau meninggalkan perbuatan jelek mereka. Saat mereka pulang, sia-sialah usaha mereka! Mereka kembali berwajah masam/kecut. Itulah mencuci piring dengan penuh perhatian dengan wajah yang masam. Di sinilah orang jarang mengamati. Mereka jauh dari jasa/kebajikan.


Kita mungkin tahu tentang hal-hal seperti ini, tetapi kita belum benar-benar mengerti jika hal itu tidak kita pahami dalam pikiran kita. Jika pikiran kita luhur dan trampil, itulah bahagia. Ada senyum di hati kita. Tetapi kebanyakan dari kita bahkan tidak punya waktu untuk tersenyum. Kita hanya tersenyum jika keadaan berjalan seperti harapan kita. Banyak orang yang kebahagiaannya tergantung dari keadaan/kondisi sekelilingnya. Mereka butuh orang lain untuk mengatakan hal-hal yang indah dan hanya yang indah. Begitukah kalian mencari kebahagiaan? Dapatkah kita mengharapkan semua orang untuk mengatakan hanya hal-hal yang menyenangkan saja? Jika begitu kemauan kita, kapan kita akan menemukan kebahagiaan?


Kita harus menggunakan Dhamma untuk mencapai kebahagiaan. Apapun itu, benar atau salah, jangan mengukuhinya dengan membuta. Cukup diketahui saja, dan kemudian dilepaskan. Jika pikiran kita tenang, kita bisa tersenyum. Pada saat kita menolak sesuatu, pikiran menjadi jelek. Dan kemudian tidak ada apapun yang baik.


Ketika orang mengatakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, kita tersenyum. Ketika mereka mengatakan hal yang tidak mengenakkan, kita cemberut. Bagaimana kita dapat mengharapkan orang untuk selalu mengatakan hal yang kita sukai setiap waktu? Apakah mungkin? Bahkan anak-anak kita... pernahkah mereka mengatakan pada kita hal-hal yang tidak menyenangkan? Pernahkah kita mengecewakan orang tua kita? Tidak hanya orang lain, pikiran kita sendiri pun dapat mengecewakan kita. Kadangkala hal yang kita pikirkan pun tidak menyenangkan. Apa yang dapat kita lakukan? Kadang kita sedang berjalan dan tiba-tiba tersandung akar pohon... Dug... Aduh...! Dimana permasalahannya? Siapa yang membuat kita tersandung? Siapa yang akan kita salahkan? Itu adalah salah kita sendiri. Bahkan pikiran kita sendiri pun dapat menjengkelkan. Jika kita pikirkan hal ini, kita akan tahu bahwa ini benar. Kadangkala kita melakukan hal-hal yang bahkan kita sendiri pun tidak suka. Yang dapat kita katakan hanyalah "sialan". Namun tidak ada yang dapat disalahkan.


Jasa atau kebaikan dalam ajaran Buddha adalah melepaskan perbuatan salah. Jika kita meninggalkan kesalahan, kita tidak lagi salah. Jika tidak ada lagi kesalahan, tidak ada lagi tekanan (stress). Jika tidak ada tekanan lagi, timbullah ketenangan. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang bersih, yang tidak menyimpan kemarahan, dan jernih.


Bagaimana kita membuat pikiran jernih? Hanya dengan mengendalikannya. Sebagai contoh, kita mungkin berpikir, "Hari ini suasana hati saya jelek sekali, apapun yang saya temui adalah menjengkelkan, bahkan piring-piring di meja pun menjengkelkan saya". Kita mungkin merasa ingin membanting semuanya. Apapun yang kita temui menjadi kelihatan salah atau jelek, ayam, anjing, kucing.... kita membenci semuanya. Segala yang dikatakan sang suami terasa menyinggung. Bahkan melihat pikiran kita sendiri pun kita tidak suka. Apa yang dapat kita lakukan dalam situasi seperti ini? Dari mana datangnya penderitaan ini? Inilah yang disebut tidak mempunyai jasa kebajikan (merit). Akhir-akhir ini di Thailand ada ungkapan bahwa orang yang sudah meninggal jasanya juga sudah berakhir. Ini tidak benar, karena banyak orang yang meskipun masih hidup tetapi jasanya telah berakhir.... itulah orang-orang yang tidak mempunyai jasa. Pikiran yang jelek terus-menerus menumpuk kejelekan.


Perjalanan pergi mencari jasa/kebajikan seperti ini sama seperti membangun rumah tanpa menyiapkan lahannya terlebih dahulu. Dalam waktu yang tidak lama rumah tersebut akan runtuh, bukan? Rancangannya tidak begitu baik. Nah, sekarang kita harus mencoba cara lain. Kita harus melihat ke dalam diri sendiri. Lihatlah kesalahan-kesalahan pada perbuatan, perkataan, dan pikiran kita. Di mana lagi kita akan berlatih bila tidak dalam semua bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri? Banyak orang tersesat. Mereka ingin pergi dan berlatih Dhamma di tempat yang tenang, di hutan atau di Wat Ba Pong. Apakah Wat Ba Pong tenang? Tidak, tidak benar-benar tenang. Tempat yang benar-benar tenang adalah di rumah sendiri.


Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun pergi kita akan merasa senang. Dunia sudah indah sebagaimana adanya saat ini. Semua pohon di hutan sudah indah seperti apa adanya: ada yang tinggi, ada yang pendek, berbagai jenis. Semuanya seperti apa adanya. Karena kebodohan, kita tidak mengerti sifat alami mereka dan kita memaksakan penilaian kita... "Wah, pohon yang ini terlalu pendek, yang itu terlalu besar". Pepohonan itu ya cuma pohon, yang lebih baik daripada kita.


Biarkan pepohonan mengajarkan kita. Sudahkah kita belajar sesuatu dari mereka? Paling tidak, kita harus belajar satu hal dari mereka. Ada banyak pohon, semua dengan sesuatu yang bisa mengajar kita. Dhamma ada di mana saja, dalam segala hal di alam ini. Kita harus memahami hal ini. Jangan menyalahkan lubang yang terlalu dalam... lihat di sisi yang lain, lengan kita sendiri! Jika kita dapat melihat hal ini, kita akan bahagia.


Jika kita berbuat baik, simpanlah dalam pikiran. Itu adalah tempat terbaik untuk menyimpan. Berbuat kebajikan adalah hal yang baik, tetapi bukan yang terbaik. Mengkonstruksikan bangunan adalah hal yang baik tapi bukan yang terbaik. Membangun pikiran baik itulah yang terbaik. Dengan begitu kita akan menemukan kebaikan baik di sini maupun di rumah sendiri. Temukanlah keunggulan ini dalam pikiranmu. Rangka luar seperti bangunan ini hanyalah seperti kulit pada pohon dan bukan kayu inti.


Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun kita melihat di situ ada Dhamma. Jika kita kekurangan kebijaksanaan, bahkan hal yang baik akan menjadi buruk adanya. Darimana datangnya yang buruk itu? Tak lain dari pikiranmu sendiri. Lihat bagaimana pikiran ini mengubah segala sesuatu. Suami istri yang biasanya rukun, suatu saat ketika perasaan hati mereka sedang tidak baik, apapun yang dikatakan oleh pasangannya membuat tersinggung. Pikiran telah menjadi jelek, dan segalanya berubah. Begitulah.


Jadi, untuk melepaskan kejahatan dan menggali kebaikan kita tidak harus pergi mencari ke mana-mana. Jika pikiran sedang jelek jangan melihat ke orang yang ini atau yang itu. Lihatlah pikiran kita sendiri dan carilah darimana pikiran-pikiran itu muncul. Mengapa pikiran ini berpikir sedemilian rupa? Pahamilah ini: segala sesuatu adalah sementara. Cinta adalah sementara, benci demikian pula. Pernahkah kita mencintai anak-anak kita? Tentu saja. Pernahkah kita membenci mereka? Saya akan menjawab... kadangkala. Benar 'khan? Bisakah kita membuang mereka? Tidak. Mengapa? Anak-anak bukanlah seperti peluru yang ditembakkan ke luar, anak-anak ditembakkan balik pada orang tua. Jika mereka baik, mereka anak-anak kita. Jika jelek pun, mereka juga tetap anak-anak kita. Kita dapat berkata bahwa anak adalah kamma kita. Ada yang baik ada yang buruk. Tetapi, baik ataupun buruk, mereka tetap anak kita. Bahkan yang buruk pun berharga. Ada yang mungkin terlahir sakit polio, cacat tubuh, tetapi bisa menjadi lebih berarti dibanding anak lainnya. Setiap kali akan pergi kita meninggalkan pesan: "Tolong jagai si kecil ini, dia tidak begitu mampu". Kita mencintainya lebih dari yang lain.


Jika begitu kita harus menyeimbangkan pikiran: setengah cinta, setengah benci. Jangan hanya mengambil satu sisi, selalu lihatlah dari kedua sisi. Anak-anak adalah kamma kita, semua sesuai dengan hukumnya sendiri. Mereka adalah kamma kita, kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Jika mereka betul-betul memberi kita penderitaan, kita ingatkan diri kita: "Ini kammaku". Jika mereka menyenangkan, kita ingatkan diri kita: "Ini kammaku". Kadangkala begitu frustasinya kita di rumah sehingga kita ingin melarikan diri. Beberapa malahan begitu frustasi sehingga mereka bunuh diri. Ini adalah kamma. Kita harus menerima kenyataan. Hindarilah perbuatan jelek. Dengan demikian kita akan dapat melihat diri kita sendiri dengan lebih jelas.


Inilah sebabnya sangat penting bagi kita untuk merenungkan segala sesuatu. Biasanya saat meditasi kita menggunakan suatu obyek, misalkan Buddho, Dhammo, atau Sangho. Tetapi kita dapat membuatnya lebih singkat. Pada saat pikiran kita jelek atau jengkel, katakanlah "A-ha!". Ketika perasaan kita enak, katakanlah "A-ha!... ini bukanlah hal yang pasti". Jika kamu mencintai seseorang, katakan "A-ha". Demikian juga saat kamu akan marah. Kamu tidak perlu mencari di Tipitaka. Katakan saja "A-ha". Ini berarti "tidak kekal". Cinta, benci, baik, buruk, semua tidak kekal. Bagaimana bisa kekal? Di mana unsur kekekalannya?


Dapat kita katakan bahwa semuanya itu hanya permanen dalam ketidak-permanennannya. Menit ini ada cinta, menit berikutnya timbul benci. Begitulah adanya. Sifat berubahnya inilah yang permanen. Maka dari itu saya katakan bahwa ketika timbul cinta, katakanlah "A-ha". Ini menghemat banyak waktu. Kita tidak harus mengatakan "Anicca, dukkha, anatta". Jika kita tidak menginginkan tema meditasi yang panjang, gunakan saja kata yang singkat ini... katakan saja: "A-ha".


Nah, jika semua orang lebih sering mengatakan "A-ha", dan melatihnya dalam kehidupan sehari-hari, maka kemelekatan akan semakin berkurang. Orang tidak akan tersuruk dalam cinta dan benci. Mereka tidak akan melekat kepada hal-hal demikian. Mereka akan menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan bukan yang lain. Sudah cukup bagi kita untuk mengetahui sebegini saja. Apalagi yang ingin kita ketahui?


Setelah mengetahui ajaran ini, kita harus selalu mencoba untuk mengingatnya. Apa yang harus diingat? Meditasi.... Mengerti, bukan? Kalau kita mengerti, dan Dhamma menyatu dengan kita, pikiran akan berhenti. Jika ada kemarahan dalam pikiran, hanya "A-ha".. dan itu cukup, berhenti di situ. Jika belum benar-benar mengerti, lihatlah lebih dalam ke pokok masalahnya. Jika ada pengertian, ketika kemarahan timbul di dalam pikiran, kita dapat membungkamnya dengan berkata "A-ha, inipun tidak kekal".


Yang paling penting adalah perekam yang ada di pikiran kita. Bacaan ini dapat musnah begitu saja tapi jika Dhamma telah dapat terekam dengan baik di dalam pikiran, itu tidak akan dapat dimusnahkan, akan berada di situ selamanya.






[ Dikutip dari Mutiara Dhamma VII, Living Dhamma ]

Di Kegelapan Malam



 
LIHATLAH KETAKUTAN MU... 


Suatu hari, ketika malam menjelang, tiada yang lainnya... Jika saya berunding dengan diri sendiri, saya tak akan pernah pergi, jadi saya mengajak seorang pa-kow dan pergi.

"Jika tiba saatnya mati maka biarlah mati. Jika pikiranku bandel dan bodoh maka biarlah ia mati..." begitulah saya memikirkan untuk diri sendiri. Sesungguhnya di dalam hati saya tidak ingin pergi tetapi saya paksakan diri". Bila demikian keadaannya, lalu jika kamu tunggu sampai semuanya beres maka kamu tak akan pernah pergi. Kapan kamu akan melatih dirimu?" Oleh karena itu saya pergi juga.

Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di tanah perkuburan. Ketika saya sampai di sana, tiada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Si pa-kow ingin berada di samping saya tetapi tidak saya berikan. Saya menyuruhnya diam di kejauhan. Sebenarnya saya ingin dia berada di dekat saya untuk menemani, tetapi tidak saya lakukan. Saya biarkan ia pergi, kalau tidak saya akan mengharapkan dukungannya.

"Jika saya begitu takut maka biarlah saya mati malam ini".

Saya takut, tetapi saya tertantang. Bukannya saya tidak takut, tetapi saya punya semangat. Bagaimanapun juga toh akhirnya kita harus mati.

Ketika hari mulai gelap saya mendapat kesempatan, yaitu orang-orang datang membawa sesosok jenazah. Beruntunglah saya! Saya bahkan tak bisa merasakan kaki saya menyentuh tanah, saya begitu ingin keluar dari sana. Mereka menginginkan saya melakukan upacara pemakaman tersebut tetapi saya tak mau terlibat, saya hanya menyingkir. Tak lama kemudian, setelah mereka pergi, saya kembali dan menemukan bahwa mereka telah mengubur jenazah tepat di samping tempat saya.

Sekarang apa yang harus saya kerjakan? Ini bukannya karena di sini dekat desa, yang sekitar tiga kilometer jaraknya.

"Baik, jika saya akan mati, biarlah saya mati..."

Jika kalian tak pernah berani melakukannya, kalian tak akan pernah mengetahui bagaimana sesungguhnya. Ini sungguh merupakan satu pengalaman.

Ketika hari bertambah gelap saya bigung kemana harus lari di tengah daerah pekuburan.

"Oh, biarlah mati. Orang lahir dalam kehidupan ini hanyalah untuk mati".

Segera setelah matahari terbenam sang malam mengisyaratkan agar saya masuk kedalam "glot" ("Glot" —payung besar milik "dhutanga" Thai atau para bhikkhu yang berdiam di hutan, yang digantungkan di pohon, di mana mereka memasang jala nyamuk (kelambu) sebagai tempat tinggal selama berada di hutan.). Saya tidak ingin melakukan meditasi berjalan sedikit, saya hanya ingin masuk kedalam kelambu saya. Setiap kali saya berusaha jalan ke arah kuburan tampaknya ada sesuatu yang mendorong saya kembali dari belakang, yang mencegah saya berjalan. Tampaknya perasaan takut dan semangat saya bersaing ketat. Tetapi saya lakukan itu. Begitulah cara kalian melatih diri sendiri.

Ketika hari telah gelap, saya masuk kedalam kelambu saya. Rasanya bagaikan saya mempunyai tembok berlapis tujuh di sekeliling saya. Melihat mangkuk saya yang setia di sisi saya bagaikan melihat seorang teman lama. Kadangkala hanya sebuah mangkuk bisa menjadi teman! Keberadaannya di sisi saya sungguh menyenangkan. Paling tidak saya mempunyai mangkuk sebagai teman.

Sepanjang malam saya duduk di dalam kelambu mengamati badan jasmani. Saya tidak rebahan ataupun tertidur sejenak, saya hanya duduk tenang. Saya tidak bisa mengantuk walaupun saya ingin bisa mengantuk, saya begitu takut. Ya, saya takut, meskipun demikian saya melakukannya. Saya duduk sepanjang malam.


Sekarang siapa yang punya keberanian untuk praktek seperti itu? Cobalah dan alamilah. Jika pengalamannya seperti ini, siapa yang berani pergi dan tinggal di daerah perkuburan? Jika kalian tidak menjalankannya sendiri, kalian tidak memperoleh hasil, kalian belum praktek sesungguhnya. Kali ini saya sudah mempraktekkannya.

Ketika fajar menyingsing saya merasa, "Oh! Saya berhasil!" Saya begitu gembira, saya hanya ingin siang hari, tanpa malam hari sama sekali. Saya ingin memusnahkan sang malam dan menyisakan siang hari saja. Saya begitu senang, saya telah berhasil. Saya berpikir, "Oh, sesungguhnya tidak ada apapun, hanya ada ketakutan saya, itulah semuanya".

Setelah pergi berpindapata dan makan, saya merasa baikan. Matahari bersinar, membuat saya merasa hangat dan enak. Saya beristirahat dan berjalan sebentar. Saya berpikir, "malam ini saya akan bermeditasi dengan lebih baik dan tenang, karena saya sudah melaluinya malam tadi. Mungkin tidak ada yang lebih dari itu".

Selanjutnya, ketika lewat tengah hari, tahukah kalian apa yang terjadi? Datang lagi jenazah yang lain, kali ini jenazah yang besar (Pada malam pertama tampaknya jenazah seorang anak keci). Mereka membawa jenazah itu dan memperabukannya tepat di sebelah tempat saya, tepat di depan "glot" saya. Ini bahkan lebih buruk dari kemarin malam!

"Baik", saya pikir, "dengan membawa jenazah dan membakarnya di sini akan membantu praktek saya".

Tetapi saya tetap tidak melakukan upacara apapun untuk mereka, saya tunggu mereka sampai pergi sebelum melihatnya.

Membakar badan/jenazah itu untuk saya amati sepanjang malam, tak dapat saya katakan bagaimana sebenarnya. Kata-kata tidak dapat menggambarkannya. Tak ada yang bisa saya sampaikan untuk menggambarkan rasa takut saya. Di kegelapan malam, ingat itu. Api pembakaran jenazah berkelip-kelip merah dan hijau serta nyala api meletup-letup pelan. Saya ingin melakukan meditasi jalan di depan jenazah itu tetapi saya hampir tidak bisa melakukannya. Akhirnya saya masuk ke dalam kelambu saya. Bau busuk dari daging yang terbakar tetap ada sepanjang malam.

Dan hal ini, sebelum semuanya benar-benar terjadi...

Ketika nyala api berkelip-kelip lemah saya membelakangi api itu. Saya lupa tentang tidur, saya bahkan tak bisa memikirkannya, mata saya kaku ketakutan. Dan tak ada orang yang bisa ditoleh, hanya ada saya. Saya harus percaya pada diri sendiri. Saya tak bisa berpikir harus ke mana, tak ada tempat untuk berlari pada malam yang kelam itu.

"Baik, saya akan duduk dan mati di sini. Saya tak akan pindah dari tempat ini".

Di sini, berbicara dengan pikiran biasa, apakah ia mau melakukannya? Apakah ia akan membawa kalian pada situasi semacam itu? Jika kalian berusaha untuk menimbang-nimbang, kalian tak akan pernah pergi. Siapa yang mau melakukan hal ini? Jika kalian tidak mempunyai keyakinan yang kuat pada ajaran Sang Buddha, kalian tak akan pernah melakukannya.
Sekarang, sekitar pukul sepuluh malam, saya duduk membelakangi api. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi terdengar suara langkah kaki terseret dari api di belakang saya. Apakah peti jenazahnya telah hancur? Atau mungkin seekor anjing mendekati jenazah itu? Tetapi tidak, suara itu lebih mirip langkah pasti seekor kerbau. 

"Oh, tak apalah..." Tetapi selanjutnya ia mulai berjalan ke arah saya, persis seperti orang! Ia berjalan di belakang saya, langkahnya berat, seperti seekor kerbau, tetapi bukan...! Gemerisik daun di bawah langkah kaki tampak berputar ke depan. Baik, saya hanya bisa bersiap untuk yang terburuk, kemana lagi harus pergi? Tetapi semuanya tidak terjadi, ia hanya berkeliling di depan dan selanjutnya pergi ke arah pa-kow. Selanjutnya semua tenang. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ketakutan membuat saya berpikir tentang berbagai kemungkinan.

Satu setengah jam kemudian, saya kira, langkah kaki tersebut datang kembali dari arah pa-kow. Persis seperti orang! Ia datang tepat ke arah saya, kali ini menuju ke arah saya bagaikan mau menubruk saya! Saya memejamkan mata dan tak mau membukanya.

"Saya akan meninggal dengan mata terpejam".

Ia lebih mendekat sampai akhirnya berhenti di hadapan saya dan duduk tidak bergerak. Saya merasa seolah-olah ia melambai-lambaikan tangan di depan mata saya yang terpejam. Oh! Memang begitu! Saya membuang segalanya, lupa semua tentang Buddho, Dhammo dan Sangho. Saya melupakan semuanya, hanya ada rasa takut dalam diri saya, menumpuk sepenuhnya. Pikiran saya tak bisa pergi kemana pun, hanya ada rasa takut. Sejak saya dilahirkan saya belum pernah mengalami rasa takut seperti ini. Buddho dan Dhammo telah menyingkir, saya tidak tahu kemana. Hanya ada rasa takut yang mengalir di dada sampai terasa menyesakkan.

"Baik, biarlah begitu, tak ada yang bisa dikerjakan".

Saya duduk bagaikan tidak menyentuh tanah dan hanya mengamati apa yang terjadi. Rasa takut begitu menguasai saya, bagaikan kendi yang penuh terisi air. Jika kalian mengisi kendi hingga penuh, lalu menuang sedikit lagi, kendi itu akan meluap. Begitu pula, rasa takut berkembang dalam diri saya sampai mencapai titik puncak dan mulai meluap.

"Mengapa aku begitu takut?" Suara dalam diri saya bertanya.

"Saya takut akan kematian", suara yang lain menjawab.

"Baik, sekarang di manakah kematian itu? Mengapa panik? Cari di mana tempat kematian. Di manakah kematian?"

"Mengapa, kematian ada di dalam diriku!"

"Jika kematian ada di dalam diriku, kemanakah kamu akan lari untuk menghindarinya? Jika kamu lari kamu mati, jika kamu tetap di sini kamu mati. Kemana pun kamu pergi ia pergi bersamamu karena kematian berada di dalam dirimu, tidak ada tempat bagimu untuk melarikan diri. Apakah kamu takut atau tidak, kamu akan mati, tidak ada tempat untuk menghindari kematian".

Segera setelah saya berpikir begitu, pemahaman saya sepenuhnya berubah. Semua rasa takut hilang semudah membalikkan telapak tangan. Ini sungguh menakjubkan. Begitu besar rasa takut tadinya toh itu bisa hilang begitu saja! Rasa tidak takut muncul di tempat rasa takut tadi. Sekarang batin saya bangkit lebih tinggi dan lebih tinggi sampai saya merasakan bagaikan berada di awan.

Segera setelah saya mengalahkan rasa takut, hujan mulai turun. Saya tidak tahu hujan macam apakah itu, anginnya begitu kencang. Tetapi saya tidak takut mati lagi. Saya tidak takut bahwa dahan-dahan di pohon bisa jatuh menimpa saya. Saya tidak mempedulikannya. Hujan bergemuruh bagaikan aliran air yang deras di musim panas, sungguh lebat. Ketika hujan reda semuanya basah kuyub.

Saya duduk tidak bergerak.

Lalu apakah yang saya lakukan selanjutnya, dengan keadaan basah kuyub seperti itu? Saya menangis! Air mata membasahi kedua pipi saya. Saya menangis karena berpikir, "Mengapa aku duduk di sini bagaikan anak yatim piatu atau anak yang ditinggalkan, duduk, berbasah kuyub di bawah hujan bagaikan orang yang tidak memiliki apapun, bagaikan orang bujangan?".

Selanjutnya saya berpikir, "Semua orang yang duduk nyaman di rumah saat ini mungkin sama sekali tidak menduga bahwa ada seorang bhikkhu yang duduk di sini, berbasah kuyub di bawah curah hujan sepanjang malam seperti ini. Apakah tujuannya semua itu?" Dengan berpikir begitu saya mulai menyesali akan air mata yang telah mengalir.

"Air mata ini bukanlah barang yang baik, biarlah mereka mengalir keluar semuanya".

Beginilah cara saya berlatih.

Sekarang saya tidak tahu bagaimana saya bisa menjelaskan hal-hal seterusnya. Saya duduk... duduk dan mendengar. Setelah mengalahkan perasaan saya, saya hanya duduk dan mengamati semua hal yang muncul dalam diri saya, begitu banyak hal yang bisa diketahui tetapi tidak mungkin untuk dijabarkan. Dan saya merenungkan kata-kata Sang Buddha.... Paccattam veditabbo viññuhi.(Baris terakhir ungkapan tradisional Pali yang mencantumkan sifat-sifat Dhamma.) "Ia yang bijaksana akan mengetahui untuk dirinya sendiri".

Bahwa saya sudah menahan penderitaan seperti itu dan duduk di bawah curah hujan... siapakah yang mengalami bersama saya? Hanya saya saja yang bisa mengetahuinya. Begitu banyak air mata namun rasa takut lenyap. Siapakah yang bisa menjadi saksi? Mereka yang berada di rumahnya di kota tak bisa mengetahuinya, hanya saya yang bisa melihatnya. Itu merupakan pengalaman pribadi. Meskipun saya ceritakan pada orang lain mereka tidak akan mengerti sepenuhnya, itu merupakan sesuatu untuk dirasakan oleh tiap-tiap orang untuk dirinya sendiri, lebih banyak saya merenungkan hal ini, ia menjadi lebih jelas. Saya menjadi lebih kuat, keyakinan saya menjadi lebih kokoh, sampai fajar menyingsing.

Sang fajar ketika saya membuka mata, semua tampak kuning.

Semalam sesungguhnya saya ingin buang air kecil tetapi perasaan telah menghalanginya. Pada pagi hari ketika saya bangkit dari duduk di manapun yang saya lihat tampak kuning, seperti sinar matahari pagi pada hari lain. Ketika saya buang air kecil, ada darah di sana.

"Eh? Apakah usus saya sobek atau ada sesuatu?" Saya agak takut... "Mungkin benar ada yang sobek di dalam".

"Baik, lalu kenapa? Jika memang sobek siapa yang harus disalahkan?" Segera suatu suara berkata. "Jika sobek tetap sobek, jika saya mati tetap mati. Saya hanya duduk di sini, saya tidak melakukan kejahatan apapun. Jika akan meledak, biarlah meledak", kata suara itu.

Batin saya bagaikan sedang berdebat dan berperang dengan dirinya sendiri. Satu suara dari sisi lain berkata, "Hei, ini berbahaya!" Suara yang lain akan menjawab, menegur dan mengesampingkannya.

Air seni saya tercemar oleh darah.

"Hmm. Di manakah saya bisa mendapatkan obat?"

"Saya tak akan mempedulikan hal itu. Bagaimanapun, seorang bhikkhu tak mungkin memotong tanaman untuk obat. Jika saya mati, lalu kenapa? Apa lagi yang harus dilakukan? Jika saya mati ketika sedang berlatih seperti ini maka saya sudah siap. Jika saya mati karena melakukan keburukan itu tidak baik, tetapi mati karena berlatih seperti ini saya siap".

Jangan ikuti suasana-hati kalian. Lihatlah dirimu sendiri. Praktek ini membutuhkan pertaruhan kehidupan kalian. Kalian harus sudah menangis paling tidak dua atau tiga kali. Itu baik, itulah praktek. Jika kalian mengantuk dan ingin berbaring maka jangan biarkan sampai tertidur. Singkirkan rasa kantuk sebelum kalian berbaring. Tetapi lihatlah diri kalian, kalian tidak mengetahui bagaimana cara berlatih.

Kadang-kadang, saat kalian kembali dari berpindapata dan kalian merenungkan makanan itu sebelum dimakan, kalian tidak bisa tenang, pikiran kalian bagaikan seekor anjing gila. Air liur mengalir, kalian begitu lapar. Kadang-kadang kalian bahkan tidak mempedulikan perenungan, kalian langsung makan. Itu adalah suatu malapetaka. Jika batin tak mau tenang dan sabar maka singkirkan mangkuk kalian dan jangan makan. Latihlah dirimu sendiri, itulah praktek. Jangan hanya mengikuti pikiran kalian. Singkirkan mangkuk kalian, berdiri dan tinggalkan, jangan izinkan diri kalian makan. Jika ia begitu ingin makan dan begitu keras kepala maka jangan biarkan ia makan. Air liur akan berhenti mengalir. Jika kekotoran-kekotoran batin tahu bahwa ia tak akan mendapatkan apapun untuk dimakan maka mereka akan takut. Besok mereka tak berani mengganggu kalian, mereka takut tak mendapatkan apapun untuk dimakan. Cobalah jika kalian tidak mempercayai saya.

Orang-orang tidak mempercayai praktek, mereka tidak berani untuk benar-benar melakukannya. Mereka takut akan kelaparan, mereka takut mati. Jika kalian tidak mencobanya kalian tak mengetahui yang sebenarnya. Kebanyakan kita tak berani melakukannya, tak berani mencobanya, kita takut. 

Jika tiba saatnya makan dan semacamnya, saya sudah mengalaminya lama sekali, sehingga saya mengerti seperti apa mereka itu. Dan itu juga hanyalah hal kecil. Jadi praktek bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dengan mudah.

Pertimbangkan: Apakah yang paling penting di antara semuanya? Tiada yang lain, kecuali kematian. Kematian adalah hal yang terpenting di dunia ini. Pertimbangkan, praktekkan, selidiki... Jika kalian tak mempunyai pakaian, kalian tak akan mati. Jika kalian tak mempunyai buah pinang untuk dikunyah atau rokok untuk dihisap, kalian tetap tak akan mati. Tetapi jika kalian tidak mempunyai nasi atau air, maka kalian akan mati. Saya melihat di dunia ini hanya dua hal ini yang penting. Kalian memerlukan nasi dan air untuk memberi makan tubuh ini. Jadi saya tidak tertarik pada yang lainnya, saya puas dengan apapun yang diberikan. Selama saya mendapatkan nasi dan air, itu cukuplah untuk praktek, saya merasa puas.

Apakah itu cukup bagi kalian? Semua yang lainnya hanyalah barang tambahan, kalian memperolehnya atau tidak, itu tidaklah penting. Kalian memperolehnya atau tidak, itu bukanlah masalah, bahan-bahan yang terpenting hanyalah nasi dan air.

"Jika saya hidup seperti ini mampukah saya bertahan?" Kutanyai diri sendiri, "Tampaknya cukup untuk dilewati dengan baik. Paling tidak saya bisa mendapatkan nasi pada saat berpindapata di desa manapun, sejumput dari setiap rumah. Air biasanya tersedia. Hanya dua ini saja cukup..." Saya tidak bertujuan untuk menjadi kaya.

Berkenaan dengan praktek, benar dan salah biasanya berdampingan. Kalian harus berani melakukannya, berani praktek. Jika kalian belum pernah ke tanah perkuburan, kalian harus melatih diri untuk pergi. Jika kalian tidak bisa pergi saat malam, pergilah di siang hari. Selanjutnya latihlah diri kalian untuk pergi sore sampai kalian bisa pergi saat menjelang malam dan tinggal di sana. Maka kalian akan melihat efek-efek dari praktek itu. Selanjutnya kalian akan mengerti.

.
Batin ini sekarang sudah diperdaya sebanyak berapa kali kehidupan yang tidak kita ketahui. Kita menghindari apapun yang tidak kita sukai atau cintai, kita hanya menuruti ketakutan-ketakutan kita. Dan kita katakan kita sedang praktek. Ini tidak bisa disebut "praktek"! Jika itu adalah praktek yang sejati, kalian bahkan akan mempertaruhkan kehidupan kalian. Jika kalian benar-benar telah memutuskan untuk praktek, mengapa kalian memperhatikan urusan-urusan yang sepele?... "Saya hanya mendapat sedikit, kalian memperoleh banyak". "Kamu berdebat denganku maka aku berdebat denganmu..." Saya sama sekali tidak memiliki pikiran-pikiran semacam ini karena saya tidak mencari hal-hal demikian. Apapun yang dilakukan orang lain itu urusan mereka. Pergi ke vihara lain, saya tidak melibatkan diri dalam urusan-urusan seperti itu. Bagaimanapun tinggi atau rendah praktek orang lain, saya tak akan mencampurinya, saya hanya mengurusi urusan saya sendiri. Dengan begitu saya berani praktek, dan praktek itu membangkitkan kebijaksanaan dan pandangan terang.


Jika praktek kalian benar-benar telah mengenai sasaran maka kalian benar-benar praktek. Siang atau malam kalian tetap berlatih.

Pada malam hari, ketika sunyi, saya akan duduk bermeditasi, lalu turun untuk berjalan, bergantian ke muka dan ke belakang, semalam paling tidak dua atau tiga kali. Berjalan lalu duduk, terus berjalan lagi... Saya tidak bosan, saya menikmatinya.

Kadang-kadang turun hujan rintik-rintik dan saya merenungkan saat saya dulu bekerja di ladang padi. Celana kerja saya masih basah dari hari sebelumnya tetapi saya harus bangun sebelum fajar dan mengenakannya lagi. Selanjutnya saya harus ke kolong rumah untuk mengeluarkan kerbau. Yang bisa saya lihat dari si kerbau hanyalah lehernya saja, karena di situ sangat berlumpur. Saya jangkau talinya yang terbungkus lumpur. Selanjutnya ekor kerbau akan dikibaskan dan ujungnya akan memercikku dengan lumpur. Kaki saya pedih karena kutu air dan saya akan berjalan dengan merenungkan, "Mengapa hidup begitu menyengsarakan?" Dan sekarang di sini saya sedang bermeditasi-jalan... apakah arti sedikit hujan bagi saya? Dengan berpikir begitu saya mendorong diri saya dalam praktek.

Jika praktek sudah memasuki sang arus maka tidak ada apapun yang bisa dibandingkan dengannya. Tiada penderitaan seperti penderitaan seorang pencari Dhamma, dan tiada kebahagiaan seperti kebahagiaannya juga. Tidak ada semangat yang bisa dibandingkan dengan semangat seorang pencari Dhamma dan tak ada kemalasan yang bisa dibandingkan dengannya pula. Para pelaksana Dhamma adalah hebat. Itulah sebabnya saya katakan jika kalian benar-benar praktek itu merupakan suatu pemandangan untuk dilihat.

Tetapi kebanyakan dari kita hanya membicarakan praktek tanpa melaksanakan atau mencapainya. Praktek kita bagaikan seorang yang atapnya bocor di satu sisi sehingga ia tidur di sisi lain rumah itu. Ketika cahaya matahari masuk pada sisi itu ia berguling ke sisi lain, dan selalu berpikir "Kapan aku bisa mempunyai rumah yang layak seperti yang lainnya?" Ketika seluruh atap berlubang maka ia akan bangun dan meninggalkannya. Ini bukanlah cara melaksanakan sesuatu, tetapi begitulah orang pada umumnya.

Batin kita, kekotoran-kekotoran batin kita... jika kalian ikuti mereka, mereka akan menimbulkan kesulitan. Lebih banyak kalian mengikutinya lebih merosot praktek kalian. Dengan praktek yang sesungguhnya, kadang-kadang kalian bahkan akan takjub melihat semangat kalian. Apakah orang lain praktek atau tidak, jangan pedulikan, laksanakan saja praktek kalian sendiri secara terus-menerus. Siapapun yang datang atau pergi tidaklah masalah, kerjakan saja praktek itu. Kalian harus melihat ke dalam diri sendiri sebelum hal itu bisa disebut "praktek". Jika kalian benar-benar praktek maka tidak ada konflik/pertentangan di dalam batin kalian, di sana hanya ada Dhamma.

Di mana saja kalian masih merasa janggal, di mana saja kalian masih kurang, di sanalah kalian harus melatih diri kalian. Jika kalian belum memecahkannya janganlah menyerah. Setelah selesai dengan satu hal kalian melekat pada hal lain, begitu terus-menerus sampai itu berakhir. Kapan saja kalian melekat, bertahanlah sampai kalian memecahkannya, jangan berhenti. Jangan merasa puas sampai itu berakhir. Arahkan semua perhatian kalian pada titik itu. Ketika duduk, berbaring, atau berjalan, amatilah tepat di situ.

Bagaikan seorang petani yang belum menyelesaikan sawahnya. Setiap tahun ia menanam padi tetapi tahun ini ia belum menyelesaikannya, sehingga pikirannya melekat pada pekerjaan itu, ia tidak bisa beristirahat. Pekerjaannya belum selesai. Bahkan pada saat ia bersama teman-temannya, ia tidak bisa santai, setiap saat ia dibayangi oleh pekerjaannya yang belum rampung. Atau seperti seorang ibu yang meninggalkan bayinya di atas loteng di dalam rumah ketika ia memberi makan hewan di bawah: ia selalu memikirkan bayinya, kalau-kalau ia terjatuh dari rumah. Walaupun ia mungkin melakukan pekerjaan lain, bayinya tak pernah lepas dari pikirannya.

Semua ini sama bagi kita dan praktek kita —kita tak pernah melupakannya. Walaupun kita mungkin mengerjakan hal lain, praktek kita tak pernah lepas dari pikiran kita, ia selalu bersama kita, siang dan malam. Semuanya harus seperti itu jika kalian ingin memperoleh kemajuan.
Pada awalnya kalian harus mempercayai seorang guru untuk memberi petunjuk serta menasehati kalian. Ketika kalian mengerti, maka praktekkanlah. Bila guru telah memberi petunjuk, kalian ikuti petunjuk-petunjuk itu. Jika kalian mengerti praktek itu, maka tidaklah perlu bagi sang guru untuk mengajar kalian, lakukanlah pekerjaan itu sendiri. Bilamana kelengahan atau sifat-sifat buruk muncul kenalilah sendiri, ajarilah diri kalian sendiri. Lakukanlah latihan itu sendiri. Batin adalah satu-satunya yang mengetahui, yang menjadi saksi. Batin mengetahui jika kalian masih sangat dibodohi atau hanya sedikit dibodohi. Kapan saja kalian masih salah cobalah untuk berlatih tepat pada titik itu, curahkanlah tenaga padanya. .
Praktek adalah seperti itu. Hal itu hampir seperti menjadi gila, atau kalian bahkan bisa mengatakan bahwa kalian gila. Jika kalian benar-benar praktek kalian memang gila, kalian "memberontak". Kalian sudah mengubah persepsi/pemahaman dan kemudian kalian menyesuaikan persepsi kalian. Jika kalian tidak menyesuaikannya, ia akan tetap menyusahkan dan menyedihkan seperti sebelumnya.


Jadi ada banyak penderitaan dalam praktek, tetapi jika kalian tidak mengenali penderitaan kalian sendiri, kalian tidak akan mengetahui Kesunyataan Mulia tentang Penderitaan. Untuk mengetahui penderitaan, untuk memusnahkannya, pertama-tama kalian harus mengalaminya. Jika kalian ingin menembak seekor burung tetapi tidak pergi dan mencarinya, bagaimana kalian akan pernah menembaknya? Penderitaan, penderitaan... Sang Buddha mengajarkan tentang penderitaan: Penderitaan karena kelahiran, penderitaan karena usia tua... jika kalian tidak mau mengalami penderitaan kalian tak akan melihat penderitaan. Jika kalian tidak melihat penderitaan kalian tak akan mengerti penderitaan. Jika kalian tidak mengerti penderitaan kalian tak akan bisa bebas dari penderitaan.

Sekarang orang tidak mau melihat penderitaan, mereka tidak mau mengalaminya. Jika mereka menderita di sini mereka lari ke sana. Kalian tahu? Mereka hanya menyeret penderitaan mereka di sekitar mereka, mereka tak pernah mengatasinya. Mereka tidak merenungkan atau menyelidikinya. Mereka berusaha melarikan diri dari penderitaan secara fisik. Selama kalian masih tidak tahu, kemana pun kalian pergi, kalian akan menemui penderitaan. Bahkan jika kalian naik pesawat terbang untuk menghindarinya, ia akan naik pesawat terbang bersama kalian. Jika kalian menyelam di bawah air, ia akan menyelam bersama kalian, karena penderitaan berada di dalam diri kita. Tetapi kita tidak mengetahuinya. Jika ia berada di dalam diri kita, ke mana kita bisa lari untuk menghindarinya?

Mereka pikir mereka telah menghindari penderitaan tetapi sesungguhnya tidak, penderitaan pergi bersama mereka. Mereka membawa serta penderitaan tanpa disadari. Jika kita tidak mengerti penderitaan maka kita tidak bisa mengerti sebab penderitaan. Jika kita tidak mengerti sebab penderitaan maka kita tidak bisa mengerti akhir penderitaan, tidak ada jalan bagi kita untuk menghindarinya.

Kalian harus perhatikan hal ini dengan tekun sampai kalian tidak meragukannya lagi. Kalian harus berani untuk melaksanakan praktek. Jangan melalaikannya, baik ketika di dalam kelompok ataupun sedang sendiri. Jika orang lain malas, itu bukan urusan kalian. Siapa pun yang banyak melakukan meditasi jalan, banyak praktek... saya jamin hasilnya. Jadi kalian benar-benar berlatih dengan konsisten, apakah orang lain datang atau pergi atau yang lainnya, satu masa vassa saja sudah cukup. Kerjakan seperti yang sudah saya ajarkan di sini. Dengarkan nasihat guru, jangan berdalih, jangan keras kepala. Apapun yang beliau katakan untuk dikerjakan, segeralah pergi dan kerjakan. Kalian tidak perlu takut pada praktek, pengetahuan pasti akan muncul darinya.

Praktek adalah juga patipada. Apakah patipada? Prakteklah dengan tekun dan terus-menerus. Jangan berlatih seperti Pendeta Tua Peh. Pada satu masa vassa ia memutuskan untuk tidak berbicara tetapi ia mulai menulis catatan,... "Besok tolong gorengkan nasi untukku". Ia ingin makan nasi goreng! Ia berhenti berbicara tetapi mulai menulis begitu banyak pesan sehingga ia bahkan lebih bingung daripada sebelumnya. Dalam satu menit ia akan menulis satu hal, selanjutnya yang lain, betapa lucunya!

Saya tidak tahu mengapa ia bersusah-payah memutuskan untuk tidak berbicara. Ia tidak mengetahui bagaimana praktek itu sebenarnya.


Sesungguhnya praktek kita adalah merasa puas dengan yang sedikit, hanya bersikap wajar. Jangan risaukan apakah kalian merasa malas atau rajin. Bahkan jangan katakan "aku rajin" atau "aku malas". Orang pada umumnya hanya berlatih ketika mereka merasa rajin, jika mereka merasa malas mereka tidak peduli. Beginilah orang pada umumnya. Tetapi para bhikkhu seharusnya tidak berpikir seperti itu. Bila kalian rajin, kalian berlatih; ketika kalian malas, kalian tetap berlatih. Jangan risaukan hal lain, potong mereka, singkirkan mereka, latihlah dirimu sendiri. Berlatihlah dengan terus-menerus, apakah siang atau malam, tahun ini, tahun depan, apapun waktunya... jangan perhatikan pikiran rajin atau malas, jangan cemas apakah hari panas atau dingin, berlatihlah. Ini disebut sammapatipada —Praktek Benar.

Sebagian orang benar-benar mencurahkan diri mereka pada latihan selama enam atau tujuh hari, selanjutnya, ketika mereka tidak memperoleh hasil yang diinginkan, mereka menyerah dan kembali pada cara semula, gemar mengobrol, bergaul, dan yang lainnya. Lalu mereka teringat praktek itu serta berlatih lagi selama enam atau tujuh hari, menyerah lagi... Ini seperti cara kerja kebanyakan orang. Pertama mereka melibatkan dirinya... lalu, ketika berhenti, mereka bahkan tidak ingat untuk membawa peralatan mereka, mereka hanya pergi dan meninggalkannya di sana. Kelak, ketika tanah semua kering, mereka teringat pekerjaannya dan mengerjakan sedikit lagi, hanya untuk ditinggalkan lagi.

Mengerjakan sesuatu dengan cara ini kalian tak akan pernah memperoleh taman atau padi yang baik. Begitu juga praktek kita. Jika kalian pikir patipada ini tidak penting, kalian tak akan sampai kemana pun dengan praktek ini. Sammapatipada tak dapat disangkal sangatlah penting. Lakukanlah secara terus-menerus. Jangan dengarkan suasana-hati kalian. Lalu kenapa jika suasana-hati kalian baik atau buruk? Sang Buddha tidak peduli dengan hal itu. Beliau telah mengalami semua hal yang baik dan buruk, hal-hal yang benar dan salah. Itulah praktek Beliau. Hanya mengambil apa yang kalian sukai dan membuang apa yang tidak kalian sukai, itu bukan merupakan praktek, tapi itu merupakan malapetaka. Kemana pun kalian pergi kalian tak akan pernah puas, di manapun kalian tinggal di sana ada penderitaan.

Berlatih seperti ini adalah bagaikan kaum Brahmana yang melaksanakan kurban mereka. Mengapa mereka lakukan itu? Karena mereka menginginkan sesuatu sebagai gantinya. Beberapa di antara kita berlatih seperti itu. Mengapa kita berlatih? Karena kita mencari kelahiran-kembali, bentuk keberadaan yang lain, kita ingin mencapai sesuatu. Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita tidak mau berlatih, tepat seperti kaum Brahmana melaksanakan upacara kurban mereka. Mereka melakukan hal itu karena nafsu-keinginan.

Pada suatu ketika ada seorang Thera yang mengikuti tradisi Mahanikai. Tetapi ia menilai itu kurang keras jadi ia mengambil penahbisan Dhammayuttika (Mahanikai dan Dhammayuttika merupakan dua tradisi sangha Theravada di Thailand). Lalu ia mulai berlatih. Kadangkala ia berpuasa selama lima belas hari, selanjutnya ketika makan ia hanya memakan daun dan rumput. Ia pikir memakan daging merupakan karma buruk, dan akan lebih baiklah bila memakan daun dan rumput.

Setelah beberapa saat... "Hmm. Menjadi seorang bhikkhu tidaklah begitu baik, ia tidak menyenangkan. Sangat sulit untuk menjaga latihan vegetarian saya sebagai seorang bhikkhu. Mungkin saya akan lepas jubah dan menjadi seorang pha khaow. Jadi ia lepas jubah dan menjadi pha khaow sehingga ia bisa mengumpulkan daun dan rumput untuk dirinya sendiri serta menggali akar dan ubi jalar. Ia terus begitu untuk beberapa saat sampai akhirnya ia tidak mengetahui apa yang harus ia kerjakan. Ia menyerah. Ia berhenti sebagai bhikkhu, berhenti sebagai pha khaow , ia melepaskan semuanya. Saat ini saya tidak tahu apa yang dikerjakannya. Mungkin ia sudah meninggal, saya tidak tahu. Ini semua karena ia tidak bisa menemukan sesuatu yang cocok untuk batinnya. Ia tidak menyadari bahwa ia hanya mengikuti kekotoran-batin. Kekotoran-batin mengendalikannya tetapi ia tidak mengetahuinya.

“Apakah Sang Buddha lepas jubah dan menjadi seorang pha khaow ?
Bagaimana Sang Buddha berlatih ? Apa yang Beliau kerjakan ?”Ia tidak mempertimbangkan hal ini. Apakah Sang Buddha pergi dan makan daun dan rumput seperti sapi ? Jadi, jika kalian ingin makan seperti itu…silahkan. Jika itu semua adalah yang bisa kalian lakukan,tetapi jangan mencela orang lain.

Apapun patokan praktek yang kalian rasa cocok ,bertahanlah dengan itu.
“Jangan mencungkil atau memahat terlalu banyak atau kalian tidak akan mempunyai pegangan yang baik.”
Kalian akan tertinggal tanpa hasil apa pun dan akhirnya menyerah.






Oleh: Ajahn Chah