Tampilkan postingan dengan label Kisah Buddhist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Buddhist. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Mempersembahkan Jetavana



Anathapindika, seorang donatur utama Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk menemui Sang Guru Agung ketika Beliau sedang bersemayam di Veluvana (Hutan Bambu) di Rajagaha. Anathapindika lahir di Savatthi, putera seorang milyuner yang bernama Sumana. Sebelumnya ia bernama Sudattha, dan karena sifatnya yang dermawan, ia kemudian dikenal dengan nama Anathapindika (Si Pemberi Makan Kepada Yang Tidak Mampu). Anathapindika seorang pedagang yang sukses, yang berdagang dengan armada angkutan yang terdiri dari lima ratus kendaraan.

Pada suatu hari, dia datang ke Rajagaha untuk suatu urusan dagang. Saudara perempuannya adalah isteri pimpinan pedagang di Rajagaha. Ketika ia tiba di kediaman saudara perempuannya, saudara iparnya tidak datang menyambutnya seperti biasanya dan ia melihat adiknya sedang berada di halaman belakang, mempersiapkan suatu pesta. Para juru masak membuat hidangan khusus dan para pelayan hilir mudik mempersiapkan suatu perjamuan penting. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan Anathapindika. Persiapan perjamuan itu begitu meriah, sehingga Anathapindika mengira akan dilangsungkan suatu pesta pernikahan atau mereka akan menjamu raja.

Pada saat pimpinan pedagang telah selesai mengatur persiapan perjamuan, dia menemui dan menyalami Anathapindika. Tidak dapat dilukiskan betapa bahagianya Anathapindika ketika mengetahui bahwa segala persiapan itu adalah untuk menyambut Sang Buddha pada kesokan harinya. Dengan mendengar kata "Buddha" saja, sudah membuat Anathapindika tertarik dan ingin menemui Sang Buddha. Anathapindika diberitahu bahwa Sang Buddha sedang berada di Hutan Sitavana, yang letaknya tidak jauh dari tempat itu, dan besok ia dapat bertemu dengan Sang Buddha. Ia lalu pergi tidur. Keinginannya untuk bertemu Sang Buddha begitu kuatnya, sehingga ia tidak dapat tidur sepanjang malam dan terbangun pagi-pagi sekali dan segera berangkat menuju Hutan Sitavana.

Karena keyakinannya yang besar kepada Sang Buddha, tampak cahaya memancar dari tubuhnya. Di dalam perjalanannya ke tempat Sang Buddha berada, ia harus melewati kuburan. Ketika itu masih gelap gulita, sehingga menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia berpikir untuk pulang kembali. Namun Yakkha yang bernama Siraka, tanpa menampakkan diri memberinya semangat. Ketakutan lenyap dan timbul keyakinannya yang kuat kepada Sang Buddha. Cahaya pagi hari mulai muncul dan dengan penuh semangat ia melanjutkan perjalanannya. Kejadian ini terjadi untuk kedua dan ketiga kalinya. Pada akhirnya ia tiba di hutan Sitavana di mana Sang Buddha sedang bermeditasi berjalan bolak-balik dengan perlahan dan teratur, sedang menunggu kedatangan Anathapindika. Sang Buddha menyapanya dengan nama keluarganya, Sudatta dan memintanya untuk menghadap Beliau.

Anathapindika merasa gembira mendengar Sang Buddha memanggilnya demikian dan dengan penuh hormat ia bertanya kepada Sang Buddha apakah Beliau tidur dengan perasaan bahagia. Sang Buddha menjawab : "Seseorang yang telah terbebas dari perbuatan jahat, tenang, terbebas dari kemelekatan, teguh dan tidak melekat pada nafsu-nafsu keinginan, selalu tidur dengan nyenyak."

"Setelah memutuskan belenggu dan dapat mengendalikan nafsu keinginan, batinnya tenang dan setelah mencapai bahagia, ia akan tidur dengan nyenyak."

Setelah mengucapkan kedua bait tersebut, Sang Buddha menguraikan Empat Kesunyataan Mulia kepada Anathapindika. Pengertian tentang Ajaran ini bahwa segala yang muncul pasti akan lenyap, menjadi terang dan jelas bagi Anathapindika. Dengan mendengar uraian Dhamma Yang Mulia ini, Anathapindika menjadi Sotapanna (pemenang arus, Tingkat Kesucian Pertama), ia lalu mengundang Sang Buddha beserta murid-murid Beliau untuk menerima persembahan dana darinya pada keesokan harinya, di tempat kediaman saudara iparnya. Anathapindika kemudian bernamaskara, memberikan hormatnya kepada Sang Buddha kemudian pulang.

Anathapindika kemudian mempersiapkan segala dana yang akan dipersembahkan kepada Sang Buddha seorang diri, meskipun saudara iparnya ingin membantu. Setelah mempersembahkan dana makanan Anathapindika mengundang Sang Buddha untuk melewatkan musim hujan di Savatthi dan Sang Guru Agung menerimanya dan berkata : 
"O, perumah tangga, Sang Tathagata menyukai tempat yang sepi."

Anathapindika mengerti permintaan yang terkandung di dalam persetujuan Sang Buddha, ia lalu mencari tempat yang tenang dan sunyi di dekat Savatthi, di mana Sang Buddha dapat menetap. Ia akhirnya menemukan tempat yang sesuai untuk Sang Buddha, yaitu taman milik Pangeran Jeta. Pangeran Jeta memberitahu Anathapindika bahwa taman itu tidak dijual, kecuali tanah tersebut ditutupi dengan kepingan-kepingan uang emas. Anathapindika menyatakan keinginannya membeli taman itu seharga berapapun yang dikatakan oleh Pangeran Jeta, tetapi Pangeran Jeta tetap tidak menyetujuinya. Anathapindika lalu merundingkan kepada para pejabat istana tentang pernyataan Pangeran Jeta yang akan menjual taman itu apabila ditutupi dengan kepingan uang emas dan para pejabat istana menyetujui permintaan tersebut. Anathapindika lalu memerintahkan para pegawainya untuk membawa beberapa kereta berisi kepingan-kepingan uang emas, dan menutupi Hutan Jeta itu dengan kepingan uang emas yang dibawa. Ada sebagian kecil tanah hutan itu uang tidak tertutupi dengan kepingan uang emas dan Pangeran Jeta yang melihat hal itu mengatakan bahwa bagian tanah tersebut adalah persembahan darinya. Anathapindika menyetujui dan membangun pintu gerbang dan sebuah bangunan.

Anathapindika lalu membangun Vihara Jetavana ini dengan indah, membangun ruangan-ruangan untuk belajar, ruangan persembahan dana, perapian, gudang, kamar mandi, koridor, sumur, kolam, kamar-kamar dengan penghangat ruangan, paviliun-paviliun. Milyuner ini menghabiskan lima puluh empat kati kepingan emas untuk menyelesaikan bangunan di Vihara Jetavana ini.

Sang Buddha berdiam di Vihara Jetavana selama sembilan belas masa musim hujan, masa vassa. Di Vihara Jetavana inilah Sang Buddha melewatkan sebagian besar masa hidup Beliau, dan di tempat ini pula Sang Buddha banyak membabarkan Dhamma Yang Mulia.



Culla Subadha



Meskipun dari jauh, orang baik akan terlihat bersinar; 
Bagaikan puncak pegunungan Himalaya. 
Tetapi meskipun dekat, orang jahat tidak akan terlihat; 
Bagaikan anak panah yang dilepaskan pada malam hari.

Berawal dari Anathapindika masih remaja. Ia mempunyai sahabat akrab dari anak seorang bendahara bernama Ugga, yang tinggal di kota Ugga. Mereka belajar bersama ilmu sastra di rumah seorang guru. Ketika mereka belajar bersama, mereka membuat perjanjian, "Bila kita sudah dewasa, lalu menikah dan mempunyai anak, yang perempuan akan dijadikan isteri dari anak laki-laki." Ketika kedua remaja ini menjadi dewasa, mereka menjadi bendahara, yang tinggal di kota masing-masing.


Waktu berlalu, Anathapindika telah berkeluarga dan mempunyai anak perempuan yang bernama Culla Subhadda. Pada suatu kesempatan Bendahara Ugga berkunjung ke Savatthi dengan membawa kereta untuk berdagang. Ketika itu Anathapindika berkata kepada anak perempuannya Culla Subhadda, "Anakku sayang, ayahmu Bendahara Ugga akan datang mengunjungi kita; kamu harus melayaninya dengan baik." "Baiklah ayah", jawab Culla Subhadda, ia berjanji untuk mematuhi perintah ayahnya.


Sejak Bendahara Ugga tiba, Culla Subhadda menyiapkan sendiri piring-piring, masakan dan makanan lainnya, menghiasi rumah dengan bunga-bunga, menyediakan minyak wangi, obat gosok dan lain-lain untuk menyenangkan tamunya. Ketika waktu makan tiba, ia segera menyiapkan air untuk tamunya mandi dan sesudah itu ia melayani segala macam kebutuhan tamunya itu.


Ketika Bendahara Ugga memperhatikan tingkah laku Culla Subhadda yang menyenangkan itu, hatinya bahagia. Suatu hari ia berbincang-bincang dengan Anathapindika, ia mengingatkan kembali perjanjian di antara mereka, ketika mereka masih remaja, ia lalu memutuskan untuk memilih Culla Subhadda untuk menjadi menantunya.


Sekarang ini, Bendahara Ugga berguru kepada pertapa telanjang yang mempunyai pandangan yang salah, dan Anathapindika lalu bertanya kepada Sang Budhha tentang masalah ini. Sang Guru melihat bahwa Bendahara Ugga mempunyai kemampuan untuk mempelajari Dhamma, mengijinkan Culla Subhadda untuk menjadi menantu Bendahara Ugga. Sesudah Bendahara Anathapindika membicarakan masalah ini kepada isterinya, ia lalu menerima lamaran Bendahara Ugga dan mempersiapkan upacara pernikahan puterinya.


Bendahara Anathapindika memberikan beberapa hadiah kepada putrinya. Ia memberikan Sepuluh Peringatan, kemudian berkata, "Putriku sayang, kalau kamu tinggal di rumah mertuamu, api di dalam rumah jangan dibawa keluar dan sebagainya." Ia juga menyediakan delapan orang pengikut sebagai penasihat, ia berpesan kepada mereka, "Kalau ada kesalahan berada di pihak puteriku, kalian harus memberitahukan kesalahannya."


Ketika ia hendak melepaskan puterinya, ia berdana yang luar biasa besarnya kepada Bhikkhu Sangha, yang dipimpin oleh Sang Buddha, dan mengumumkan kepada masyarakat bahwa puterinya telah melakukan perbuatan baik sehingga puterinya memperoleh kebahagian, ia lalu melepas puterinya pergi dengan penuh rasa bahagia.


Ketika Culla Subhada tiba di kota Ugga, seluruh anggota keluarga mertuanya dan keluarga besar lainnya datang menyambut dengan penuh kehangatan. Ia memasuki kota dengan berdiri di atas kereta kencana, berpawai ke sekeliling kota, yang memperhatikan kebesaran dan kebahagiaannya. Ia menerima banyak hadiah dari penduduk, sehingga menimbulkan hubungan dan pengertian yang baik dengan penduduk di sekitarnya. Seluruh kota membicarakan dengan penuh hormat kecantikan dan keluhuran budinya.


Sekarang ini, ayah mertuanya sedang menjamu para pertapa telanjang pada suatu festival, dan pada saat itu ia mengirimkan pesan kepada menantunya, "Panggillah ia masuk, untuk memberikan hormat kepada pertapa-pertapa kita."


Tetapi dengan penuh kerendahan hati Culla Subhadda menolak untuk bertemu dan masuk menemui mereka. Berkali-kali mertuanya memberikan pesan supaya menantunya datang dan berkali-kali pula ia manolak untuk masuk. Akhirnya ayah mertuanya marah dan memerintahkan, "Usir dia keluar dari rumah ini!"


Tetapi ia menolak, "Tidak seorangpun dapat menghukum tanpa suatu alasan." Dengan segera Culla Subhadda mengumpulkan para penasihat yang mengiringinya dan menerangkan permasalahan di hadapan mereka.


Ayah mertua berbincang-bincang dengan isterinya tentang masalah ini dan berkata, "Perempuan ini menolak untuk memberikan hormat kepada para pertapa kita, alasannya karena mereka 'tidak sopan'." Ibu mertuanya berkata, "Bagamanakah tingkah laku para bhikkhunya, sehingga ia puja sedemikian tinggi ?"


Ia lalu memanggil Culla Subhadda dan berkata, "Bagaimanakah tingkah laku para bhikkhumu, yang kamu puja sedemikian tinggi? Apa yang mereka pahami dan bagaimana mereka mempraktekannya? Jawablah pertanyaan saya."


Dalam menjawab pertanyaan ibu mertuanya, Culla Subhadda menjelaskan tentang kemuliaan dan keluhuran dari Sang Buddha dan Ajaran-Nya sebagai berikut :


"Tenang ucapan mereka,
tenang pikiran mereka,
tenang langkah mereka berjalan,
tenang pendirian mereka
Mereka melihat ke bawah;
sedikit yang mereka ucapkan.
Itulah para bhikkhu saya.


Perbuatan mereka bersih,
Ucapan mereka bersih,
Pikiran mereka bersih,
Itulah para bhikkhu saya.


Tidak bernoda seperti mutiara,
Murni di dalam dan di luar
Penuh dengan sifat-sifat baik,
Itulah para bhikkhu saya.


Dunia gembira dengan keuntungan dan
bersedih karena kerugian.
Tetapi mereka tidak terpengaruh dari
keduanya; keuntungan dan kerugian.
Itulah para bhikkhu saya.


Dunia gembira karena terkenal dan
bersedih karena tidak terkenal.
Tetapi mereka tidak terpengaruh dari
keduanya; terkenal atau tidak terkenal.
Itulah para bhikkhu saya.


Dunia gembira karena pujian dan
bersedih karena celaan.
Tetapi mereka tidak bereaksi
terhadap keduanya; pujian dan celaan.
Itulah para bhikkhu saya.


Dunia gembira karena kesenangan dan
bersedih karena penderitaan.
Tetapi mereka tidak berubah
terhadap kesenangan dan penderitaan.
Itulah para bhikkhu saya".


Dengan kata-kata yang diucapkannya itu, dan pada saat itu juga Culla Subhadda memuaskan ibu mertuanya. Sehingga ibu mertuanya bertanya kepadanya,
"Mungkinkah bagi kami untuk bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu kamu?"
"Tentu saja mungkin," jawab Culla Subhadda.
"Kalau begitu, aturlah supaya kami dapat bertemu dengan mereka," tanya ibu mertuanya.
"Baiklah," jawab Culla Subhadda.

Kemudian Culla Subhadda menyiapkan persembahan-persembahan kepada Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha.

Ia lalu berdiri di lantai paling atas di istana dan menghadap Vihara Jetavana, sambil menghormat, ia merenungkan kebajikan-kebajikan Sang Buddha. Ia menghormati Sang Buddha dengan mempersembahkan dupa, wewangian dan bunga-bunga, lalu ia melemparkannya ke udara delapan genggam bunga melati, sambil berkata dengan penuh hormat,"Yang Mulia saya mengundang Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha besok pagi, semoga Sang Guru mengetahui permohonan undangan saya melalui bunga-bunga ini."


Bunga-bunga ini lalu melayang di udara dan membentuk payung bunga yang indah diatas Sang Buddha ketika Beliau sedang membabarkan Dhamma di tengah para bhikkhu.

Pada waktu itu Anathapindika, yang sedang mendengarkan Dhamma, mengundang Sang Buddha untuk menjadi tamunya besok pagi. Sang Buddha lalu menjawab,
"Saudara, saya sudah menerima undangan untuk besok pagi."
"Tetapi Yang Mulia," jawab Anathapindika, "Tidak ada seorangpun yang datang ke sini sebelum saya, undangan siapakah Yang Mulia terima?"

Sang Guru berkata : 
"Culla subhadda mengundangku, saudara."
"Tetapi, Yang Mulia, bukankah Culla Subhadda tinggal jauh dari sini, kira-kira seratus dua puluh leagues (1 league = 4,8km) dari sini ?"
"Ya," jawab Sang Buddha. "Tetapi perbuatan baik, meskipun jauh dapat menampakkan dirinya seperti saling berhadapan." Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :




"Meskipun dari jauh,
orang baik akan terlihat bersinar
bagaikan puncak
pegunungan Himalaya.
Tetapi meskipun dekat,
orang jahat tidak akan terlihat,
Bagaikan anak panah yang dilepaskan 
pada malam hari."

Dewa Sakka, raja para dewa menyadari bahwa Sang Guru telah menerima undangan Culla Subhadda, memberikan perintah kepada Dewa Vissakamma:
"Ciptakanlah lima ratus pagoda dan pada esok hari antarkanlah Bhikkhu Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha menuju Kota Ugga."


Keesokan paginya, Dewa Vissakamma menciptakan lima ratus pagoda dan menunggu di depan pintu Vihara Jetavana. Sang Buddha memilih lima ratus Arahat, dan rombongan ini bersama-sama lalu duduk di pagoda, dan melalui udara menuju Kota Ugga.

Bendahara Ugga beserta rombongan, dengan dikepalai oleh Culla Subhadda berdiri menunggu di jalan, di mana Sang Buddha akan tiba. Ketika ia melihat Sang Buddha mendekati dengan semua kemegahan dan keagungan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan yang luar biasa.

Ia menyampaikan penghormatan yang tertinggi dengan karangan bunga dan persembahan lainnya, mengundang Sang Guru untuk memasuki rumahnya, dan menyampaikan hormatnya. Ia mempersembahkan berbagai macam dana, mengundang Sang Buddha berkali-kali untuk bersedia menjadi tamunya. Selama tujuh hari ia mempersembahkan dana yang luar biasa besar.


Sang Buddha lalu mengingatkannya untuk selalu berbuat kebaikan dan membabarkan Dhamma kepada ayah mertuanya.

Dimulai dengan Bendahara Ugga, delapan puluh empat ribu makhluk hidup, mencapai pengertian terhadap Dhamma Yang Mulia.

Sebagai hadiah atas kemurahan hati Culla Subhadda, Sang Buddha lalu meminta Yang Mulia Anuruddha untuk tetap tinggal, dengan berkata, "Kamu tetap tinggal di sini."

Sang Buddha lalu kembali ke Savatthi. Sejak saat itu kota Ugga menjadi kota yang penduduknya mengerti akan Dhamma Yang Mulia, kota yang sejuk dan damai.













Rabu, 16 Januari 2013

Yang Ariya Kisa Gotami Theri



Orang yang pikirannya melekat pada anak-anak dan ternak peliharaannya, 
maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya, 
seperti banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

Kisa Gotami adalah seorang gadis dari sebuah keluarga miskin di kota Savatthi. Nama sebenarnya adalah "Gotami". Tetapi karena tubuhnya yang kurus maka dia dipanggil "Kisa". Setiap orang yang melihat Kisa Gotami berjalan, dengan badannya yang tinggi dan kurus, tak seorang pun dapat melihat kebaikan yang ada di dalam dirinya.


Kisa Gotami sulit mendapatkan suami karena miskin dan tidak memilik daya tarik. Namun secara tak terduga kebaikan Kisa Gotami terlihat oleh seorang pedagang kaya yang menganggap bahwa kebaikan tidak dapat dilihat dari penampilan luar saja. Pedagang kaya itu kemudian menikahi Kisa Gotami.


Kisa Gotami tidak menduga ternyata keluarga suaminya memandang rendah dirinya karena kasta, kemiskinan, dan penampilan dirinya. Hal-hal tersebut membuat Kisa Gotami sangat menderita, terutama karena suaminya tercinta harus menghadapi konflik antara orang-orang yang ia sayangi, yaitu orangtua dan isterinya.


Waktu terus berlalu, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pernikahannya itu. Kisa Gotami mulai diterima dan dihormati oleh seluruh keluarga suaminya. Dia sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, anaknya tersebut meninggal dunia ketika ia baru saja belajar berjalan. Kematian anaknya itu membuat Kisa Gotami sangat sedih dan amat takut."Akankah keluarga suamiku memandang rendah dan menyalahkan diriku atas semua yang telah terjadi?"

"O, tidak, aku harus berbuat sesuatu", pikirannya amat kalut.
Kejadian tersebut membuat Kisa Gotami menjadi gila, apalagi dia tidak pernah melihat kematian sebelumnya. Kisa Gotami tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal, dia menganggap anaknya hanya sakit dan harus mendapatkan obat untuk menyembuhkannya.

Dengan menggendong anaknya, Kisa Gotami meminta obat dari rumah ke rumah 
"Tolong..., oh tolonglah, berikanlah obat untuk anakku yang sakit ini", ucapnya dengan penuh pengharapan.


Tidak sedikit orang yang mengejeknya tanpa perasaan, namun ada seorang baik hati dan bijaksana yang iba melihatnya, kemudian dia menasihatinya untuk menemui Sang Buddha. 

"Saudari, pergilah kepada Sang Buddha, Beliau memiliki obat yang kamu butuhkan", kata orang baik hati dan bijaksana itu.

Dengan bergegas Kisa Gotami menemui Sang Buddha di Jetavana, di kediaman Anathapindika, di mana Sang Buddha sedang bermalam. Kemudian Kisa Gotami memohon kepada Sang Buddha, 
"Yang Mulia.... tolong ...... tolonglah…… berikanlah obat yang dapat menyembuhkan anakku yang sakit ini."


Lalu Sang Buddha menjawab, 
"Gotami, mintalah segenggam biji lada dari rumah keluarga yang belum pernah mengalami kematian."


"Baik, Yang Mulia," Kisa Gotami berkata dengan pikiran gembira.

Dengan membawa anaknya yang telah meninggal dunia itu, Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah, untuk meminta segenggam biji lada.
"Bolehkah saya meminta segenggam biji lada?" tanya Kisa Gotami. 
"Oh ... tentu saja," jawab si tuan rumah, kemudian diberikanlah segenggam biji lada kepada Kisa Gotami.


Kemudian Kisa Gotami bertanya lagi, 
"Apakah di rumah ini tidak pernah mengalami kematian dari salah satu anggota keluarga." 
"Tentu saja pernah", jawab si tuan rumah. Kemudian Kisa Gotami meninggalkan rumah tersebut dan menanyakan hal yang sama ke rumah-rumah lainnya. Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia tidak pernah menemukan sebuah rumah pun dimana kematian dari anggota keluarga belum pernah terjadi.


Hari sudah menjelang malam dan akhirnya Kisa Gotami menyadari bahwa bukan hanya ia seorang yang terpukul karena kematian orang yang disayangi.


Ternyata terdapat banyak orang yang telah meninggal dunia, ini merupakan segi-segi kehidupan manusia. Kisa Gotami menjadi sadar dan mengerti bahwa pada setiap kelahiran pasti ada kematian.

Tak lama setelah menyadari hal ini, sikap terhadap anaknya yang telah meninggal dunia berubah. Ia tidak lagi melekat kepada anaknya. Kisa Gotami memakamkan anaknya di hutan dan kembali kepada Sang Buddha. 


" Sudahkah kamu mendapatkan biji lada, Gotami?" tanya Sang Buddha.
"Yang Mulia, Saya tidak mendapatkan segenggam biji lada dari rumah yang keluarganya belum pernah mengalami kematian," jawab Kisa Gotami.

Kemudian Sang Buddha berkata, 
"Gotami, kamu berpikir bahwa hanya kamu yang kehilangan seorang anak, sekarang kamu menyadari bahwa kematian terjadi pada semua makhluk. Sebelum keinginan mereka terpuaskan, kematian telah menjemputnya."


Mendengar hal ini, Kisa Gotami benar-benar menyadari akan ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tanpa inti dari kelompok kehidupan dan mencapai tingkat kesucian Sotapatti dan memohon ditahbiskan untuk menjadi bhikkhuni. Kisa Gotami memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dengan bernamaskara. Kemudian memohon ditahbiskan menjadi anggota Sangha Bhikkhuni.


Tak lama setelah menjadi bhikkhuni, Kisa Gotami mempelajari sebab-sebab kemunculan dari benda-benda. Pada suatu hari, ketika Kisa Gotami sedang menyalakan beberapa lampu, ia melihat beberapa api lampu mati dan yang lainnya masih menyala. Tiba-tiba Kisa Gotami mengerti dengan jelas timbul dan tenggelamnya kehidupan makhluk. Sang Buddha dengan kemampuan-Nya yang luar biasa melihat dari Vihara Jetavana, mengirimkan seberkas sinar serta menampakkan diri-Nya di hadapan Kisa Gotami. Sang Buddha berkata kepada Kisa Gotami untuk meneruskan meditasi dengan objek ketidakkekalan dari kehidupan makhluk dan berjuang keras untuk mencapai Nibbana.


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair Dhammapada 114 berikut:


"Walaupun seseorang hidup seratus tahun, 

tetapi tidak dapat melihat keadaan tanpa kematian (Nibbana), 
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat "keadaan tanpa kematian"."

Kisa Gotami mencapai Tingkat Kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.


sumber : www.samaggi-phala.or.id











Sabtu, 12 Januari 2013

Yang Ariya Khema Theri



Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai, 
dan terlatih dalam membedakan jalan yang benar dan salah, 
yang telah mencapai tujuan tertinggi, maka ia Kusebut seorang "Brahmana "

Khema berasal dari keluarga yang berkuasa di Desa Sagala Magadha. Ia sangat cantik, kulitnya berwarna kuning keemasan. Kecantikan Khema tersebut membuat Raja Bimbisara meminang Khema dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Ratu Khema, amat memuja kecantikan wajahnya. Namun ia pernah mendengar bahwa Sang Buddha mengatakan bahwa kecantikan bukan hal yang utama, dan karena itu Ratu Khema menghindar untuk berjumpa dengan Sang Buddha. Raja Bimbisara mengerti sikap Ratu Khema terhadap Sang Buddha, ia juga mengetahui betapa istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya, lalu meminta pengarang lagu untuk menciptakan sebuah lagu yang isinya memuji keindahan hutan Veluvana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.

Ketika Ratu Khema mendengar lagu tersebut menjadi penasaran, karena hutan Veluvana yang digambarkan sebagai suatu tempat yang indah itu belum pernah ia dengar dan lihat sendiri.
"Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?" , tanya Ratu Khema kepada para penyanyi.
"Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang tentang hutan Veluvana", jawab mereka.
Setelah mendengar lagu dari penyanyi tersebut Ratu Khema lalu menjadi ingin sekali mengunjungi hutan Veluvana.
Sang Buddha yang pada saat itu sedang berkumpul membabarkan Dhamma kepada murid-murid-Nya, mengetahui kedatangan Ratu Khema, lalu Sang Buddha menciptakan bayangan seorang wanita muda yang amat cantik, berdiri di samping-Nya.

Ketika Ratu Khema mendekat, ia melihat bayangan wanita muda yang amat cantik, ia berpikir, "Yang saya ketahui Sang Buddha selalu berkata bahwa kecantikan bukanlah hal yang paling utama. Tetapi di sisi Sang Buddha sekarang berdiri seorang wanita yang kecantikannya luar biasa. Saya belum pernah melihat wanita secantik ini", ucap ratu Khema dengan kagum. Ratu Khema tidak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Sang Buddha, pandangannya hanya tertuju kepada bayangan wanita cantik di sisi Sang Buddha.

Sang Buddha mengetahui bahwa Ratu Khema amat serius memperhatikan bayangan wanita cantik itu, lalu Sang Buddha mengubah bayangan wanita muda yang amat cantik itu perlahan-lahan menjadi wanita tua, berubah terus sampai akhirnya yang tersisa hanyalah setumpuk tulang belulang. Ratu Khema yang memperhatikan semua itu lalu berkesimpulan, "Pada suatu saat nanti, wajah yang muda dan cantik itu akan berubah menjadi tua, rapuh lalu mati. Ah, semua itu bukan kenyataan!"

Sang Buddha mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, lalu berkata,
"Khema, inilah kenyataan perubahan dari kecantikan wajah. Sekarang lihatlah semua kenyataan ini."

Sang Buddha lalu mengucapkan syair,

"Khema, lihatlah paduan unsur-unsur ini, berpenyakit, penuh kekotoran dan akhirnya membusuk. 
Tipu daya dan kemelekatan adalah keinginan orang bodoh".

Ketika Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini Ratu Khema mencapai Tingkat kesucian Pertama (Sottapana). Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya, "Khema, semua mahluk di dunia ini, hanyut dalam nafsu indria, dipenuhi oleh rasa kebencian, diperdaya oleh khayalan, mereka tidak dapat mencapai pantai bahagia, tetapi hanya hilir mudik di tepi sebelah sini saja".

Sang Buddha lalu mengucapkan syair,

"Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan), 
seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. 
Tetapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, 
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, 
tanpa ikatan serta melepas kesenangan-kesenangan indria".

(Dhammapada, Tanha Vagga )

Setelah Sang Buddha selesai mengucapkan syairnya, Khema mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Sang Buddha lalu berkata kepada Raja Bimbimsara,
"Baginda, Khema lebih baik meninggalkan keduniawian ataukah mencapai nibbana?"

Raja Bimbisara menjawab, "Yang Mulia, izinkanlah ia memasuki Sangha bhikkuni, jangan dulu mencapai nibbana!"

Khema meninggalkan keduniawian dan menjadi salah satu murid Sang Buddha yang terkemuka.


sumber : www.samaggi-phala.or.id


Sangha Bhikkhuni



Setelah penahbisan Maha Pajapati Gotami menjadi bhikkhuni, pada saat itu pula sejumlah besar wanita ikut memasuki Sangha Bhikkhuni. Banyak di antara mereka adalah wanita-wanita terkemuka pada masa itu.

Yasodhara, ibu dari Yang Mulia Rahula, yang telah lama ingin sekali meninggalkan kehidupan duniawi segera memasuki Sangha Bhikkhuni dan terkenal sebagai Bhaddakaccana.

Janapada Kalyani yang tidak jadi menikah dengan Pangeran Nanda karena menjadi bhikkhu atas dorongan Sang Buddha ketika Beliau berkunjung ke Kapilavatthu untuk pertama kalinya, memasuki Sangha Bhikkhuni bersama dengan Yasodhara.

Nanda, anak Maha Pajapati Gotami, memasuki Sangha Bhikkhuni ketika ia mengetahui bahwa ibunya dan Yasodhara menjadi bhikkhuni. Ia sangat terkenal sebagai ratu yang amat cantik, dan tidak ingin bertemu Sang Buddha karena Beliau diketahui tidak memandang tinggi kecantikan seseorang, tetapi ia mendengar Ajaran Sang Buddha dari orang lain. Ketika Sang Buddha berkata bahwa seseorang harus datang sendiri untuk mendengar AjaranNya, ia mendatangi Sang Buddha. Di sana ia melihat seorang wanita yang lebih cantik dari dirinya sedang mengipasi Sang Buddha, tetapi tidak berapa lama kemudian wanita itu menjadi tua dan keriput. Nanda memperhatikan dengan seksama apa yang dilihatnya, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian tertinggi, menjadi Arahat.

Khema, mempunyai kulit bersinar keemasan, adalah seorang puteri dari kota Sagala yang kemudian menjadi permaisuri Raja Bimbisara. Ia amat bangga dengan kecantikannya dan ia tidak ingin menemui Sang Buddha yang ketika itu berada di Hutan Bambu, karena mendengar bahwa Sang Buddha tidak memandang tinggi kecantikan seorang wanita. Ketika raja lalu meminta pujangga membuat syair tentang keindahan Hutan Bambu, ia berminat untuk pergi dan melihat keindahannya. Ketika ia tiba di Hutan Bambu itu, ia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang dikipasi oleh seorang dewi yang amat cantik, yang kehilangan kecantikannya dalam waktu yang amat singkat. Ketika Sang Buddha membabarkan Dhamma kepadanya, ia menjadi Arahat, dan sesudah itu ia memasuki Sangha Bhikkhuni.

Uppalavanna adalah gadis yang amat cantik dari sebuah keluarga jutawan. Karena banyak pemuda kaya raya yang meminangnya untuk menjadi isteri, ayahnya berpikir untuk meminta anak gadisnya menjadi bhikkhuni untuk menghindar dari pinangan para pemuda tersebut. Ia menyetujui ide ayahnya ini dan memasuki Sangha Bhukkhuni. Ia menjadi Arahat setelah merenungkan tentang sifat dari sumbu sebuah lampu. Ia mempunyai kesaktian dan menawarkan diri untuk menunjukkan kesaktiannya dan dia dibebaskan Sang Buddha untuk menunjukkan kesaktian kembarnya di hadapan para pertapa.

Bhadda Kapilani, isteri dari Piphali, yang kemudian menjadi Yang Mulia Mahakassapa, meninggalkan rumah beserta suaminya. Karena tidak ada Sangha Bhikkhuni pada waktu itu, maka ia menghabiskan waktunya menjadi pertapa wanita. Segera setelah Maha Pajapati Gotami menjadi bhikkhuni, Baddha Kapilani lalu memasuki Sangha Bhikkhuni.

Banyak wanita terkemuka lainnya memasuki Sangha Bhikkhuni seperti Patacara, Dhammadinna, Sona, Sakula, Kundala Kesa, Sigalamata dan Kisa Gotami.



Minggu, 29 Juli 2012

CULAPANTHAKA



[Siswa Bodoh Yang Memahami Kekotoran Batin]




Amatlah beruntung bila dalam suatu masa kehidupan dapat memiliki guru seperti Hyang Buddha. Guru para dewa dan manusia ini memang sungguh-sungguh seorang guru sejati yang dapat menghantar keberhasilan siswa-siswaNya, apa pun latar belakang, kemampuan, sifat, waktu, tabiat siswa yang bersangkutan.

Beragam ribu murid dengan beragam ribu latar belakangnya: kaya-iskin, macam-macam status, raja maupun petani, pedagang, pekerja, pintar maupun bodoh dihadapi Hyang Buddha dengan sepenuh hati, penuh ketulusan dan selalu berupaya demi semata keberhasilan sang murid.

Sepertinya beragam murid yang dihadapinya bukanlah menjadi masalah bagi Hyang Buddha untuk menghantarnya kepada keberhasilan. Di mata Hyang Buddha, apa pun latar belakang dan keadaan muridnya tetap saja mempunyai potensi dan kemampuan untuk mencapai tingkat kesucian yang tertinggi.

Begitulah yang terjadi dengan Culapanthaka, siswa bodoh yang akhirnya mencapai kesucian Arahat. Culapanthaka termasuk siswa yang bodoh karena dia tidak mampu mengingat sebuah syair dalam tempo empat bulan, sehingga tidak diperkenankan kakaknya yang pintar, bhikkhu Mahapanthaka untuk dapat makan siang bersama Hyang Buddha dan mendengarkan khotbahNya.

Betapa sedihnya Culapanthaka melihat keadaan dirinya yang bodoh itu. Anak bendahara kerajaan di Rajagaha ini, dia pun merasakan sudah sangat frustasi oleh karena kebodohannya dan sikap kakaknya yang merehemkan dan menilai dirinya sbagai bhiksu yang tidak berguna. Namun, keadaan dirinya yang sudah frustasi itu ternyata tidak luput dari perhatian Hyang Buddha.

Hyang Buddha menyadari meski Culapanthaka seorang yang bodoh, namun masih memiliki keinginan yang keras untuk mendengarkan dan menerima Dharma. Di saat-saat kekecewaan Culapanthaka yang memuncak dan hamper membuahkan untuk undur diri dari hidup kebhiksuan, kembali menjadi permah-tangga, tiba-tiba saja Hyang Buddha yang mengetahui masih adanya keinginan keras Culapanthaka mendengarkan DharmaNya, dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti.

Kepala Culapanthaka yang tidak memiliki ingatan kuat dan intelegensia yang tidak tinggi itu, Buddha kemudian memberikan selembar kain bersih keadanya dan menyuruhnya untuk menggosok-gosok kain itu sambil duduk menghadap ke timur. Sewaktu mengerjakan tugasnya itu, Culapanthaka diperintahkan untuk mengulang kata "Rajoharanam? yang berarti "kotor?, dan Hyang Buddha sendiri kemudian pergi ke kediaman Jivaka memenuhi undangannya untuk makan bersama dengan para Bhiksu.

Culapanthaka siswa yang dianggap bodoh dan tidak diperkenankan makan bersama dengan Hyang Buddha oleh kakaknya yang pintar, Mahapanthaka itu kemudian mengerjakan tugas yang dititahkan oleh Hyang Buddha dengan sepenuh hati. Ia pun menggosok-gosok lembaran kain tersebut, sambil mengucapkan kata "Rajoharanam?. Berulang-ulang kali kain itu digosok-gosokkan, berulang-ulang kali pun kata "kotor? itu meluncur dari mulutnya. Berulang kali, berulang kali begitu seterusnya, entah sudah yang berapa juta kalinya, kata "kotor? itu keluar dari mulutnya.

Karena terus menerus kain itu digosok, maka kain itu pun menjadi kotor. Tentu saja kain yang menjadi kotor itu bukan lantaran ucapannya yang selalu menyebut-nyebut kata "kotor?, melainkan perubahan yang terjadi atas kain tersebut karena digosok-gosok. Melihat perubahan yang terjadi pada kain itu, - dari bersih menjadi kotor ? Culapanthaka pun tercenung. Ia segera menyadari baha segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal.

Penyadaran ketidakkekalan yang terjadi atas selembar kain yang digosok-gosoknya itu sekaligus menghantar perubahan pada dirinya, pada kesadarannya. Kebodohan itu bukanlah berarti kekal sehingga tidak mungkin dapat berubah. Sebagaimana dukkha yang dialami semua orang namun bukanlah berarti kekal sehingga tidak dapat diatasi demikian pula dengan kebodohan, yang sesungguhnya berkondisi dan dapat mengalami perubahan.

Culapanthaka mencapai pencerahan atas kekotoran batin dari selembar kain yang digosok-gosokannya. Dari rumah Jivaka, Hyang Buddha dengan kekuatan supernaturalnya mengetahui kemajuan yang tejadi pada diri Culapanthaka. Kemudian, Hyang Buddha dengan kemampuan abhinnaNya itu menemui Culapanthaka, sehingga ia seolah-olah berada di hadapan, duduk di depan Culapanthaka, dan berkata:

"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu: dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan empat kesunyataan mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat.?

Culapanthaka mendengarkan pesan Hyang Buddha itu dan merenungkannya di dalam meditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya terbuka dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, terbebas dari segenap kekotoran batin (kilesa), serta memiliki abhinna dan "Pandangan Terang? terhadap ketidakkekalan segala fenomena.

Culapanthaka yang dinilai bodoh karena tidak mampu menghafal sebuah bait dalam tempo empat bulan, kini dalam sekejap telah mampu melenyapkan kekotoran batinnya atas selembar kain yang digosok-gosoknya sambil mengucapkan kata: "kotor? berulang-ulang. Sungguh luar biasa motede yang dilakukan oleh Hyang Buddha di dalam mengajarkan DharmaNya dan menghantar siswanya mencapai keberhasilan "Pandangan Terang?.

Sebuah motedo yang disesuaikan dengan latar belakang, kebutuhan dan kemampuan siswanya. Seorang Guru Para Dewa dan Manusia seperti Hyang Buddha memang amat pandai di dalam mengajarkan DharmaNya dan mendidik siswaNya. Beragam metode pengajaran muncul dari pengabdianNya selama 45 tahun menghadapi siswa-siswanya yang beragam latar belakang, dan semuanya selalu memperoleh keberhasilan.

Tampaknya, bagi Hyang Buddha tidak ada manusia yang tidak akan mencapai pembebasan walau bagaimana pun latar belakangnya. Cepat atau lambat semuanya akan mencapai keberhasilan, dan snagat beruntung bila menjumpai Guru yang pandai. Culapanthaka yang bodoh, Ambapali yang pelacur, Channa sang kusir yang sombong, Sigala Muda yang berbakti, Rahula anaknya yang memperoleh warisan Dharma, semuanya mencapai pembebasan, bahkan termasuk Devadatta yang sekalipun telah mencoba membunuh Hyang Buddha kelak juga akan terbebas dari neraka avici.

Suatu pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah Tokoh Bodhi Culapanthaka dan Hyang Buddha dalam mengajar dan mendidik siswaNya, bahwa hendaknya jangan cepat memvonis atau menilai seseorang secara mutlak-mutlakan, selama diri kita sendiri belum bersih dari kilesa atau kekotoran batin. Siapa pun, apa pun latar belakangnya, kabut macam apa pun yang menyelimutinya, senantiasa potensi kebodhian itu, bodhicitta itu dapat tumbuh, muncul dan berkembang.

Si bodoh Culapanthaka itu pun akhirnya memberikan pelajaran pencerahannya dihadapan para bhiksu yang semula melecehkannya. Bagaikan raungan seekor singa muda, Culapanthaka yang kini telah memiliki kekuatan abinna dan terbebas dari kilesa (kekotoran batin) menyampaikan khotbah tentang keyakinan dan keberanian.

Kemudian kepada para bhiksu yang masih terheran-heran akan pencapaian Culapanthaka itu, Hyang Buddha menandaskan bahwa seseorang yang rajin dan tetap pada perjuangannya akan mencapai tingkat kesucian Arahat. Culapanthaka tlah membalikkan keadaan dirinya, dari kebodohan menjadi tercerahkan. (Jo)

CHANNA



[Berjuang Mencapai Pembebasan Setelah Mengalahkan Keangkuhannya]



Memperoleh sesuatu, seperti keinginan yang tercapai, kesuksesan atau memperoleh status yang baru kadangkala menjadikan seseorang itu lupa. Orang menjadi angkhu, congkak, dan sombong. Seorang yang semula pembantu, bisa menjadi lebih berkuasa, sombong setelah menjadi tuan atau merasa dekat dengan tuannya.

Psikologis seorang abdikrat yang kemudian menjadi otokrat sering dialami oleh banyak manusia terhadap status barunya. Demikianlah yang dialami oleh Channa, kusir Paneran Siddharta yang kemudian menjadi Bhiksu, masuk dalam status sosial baru dalam kalangan para Ariya dan bahkan merasa dekat dengan Sang Buddha.

Memperoleh status sosial yang baru, dan kedekatannya dengan Hyang Buddha menjadikan Channa lupa diri. Channa menjadi sombong, congkak, angkuh sehingga tidak disenangi oleh rekan-rekan Sangha lainnya. Ia begitu terpukau dengan status barunya. Lompantan status sosialnya dari seorang kusir menjadi anggota Sangha menjadikannya ia lupa diri.

Bhiksu Sombong

Kesombongan itu semakin bertambah, karena Bhiksu Channa merasa tiada orang lain yang paling dekat dengan Hyang Buddha. Tiada orang lain yang paling disayangi oleh Hyang Buddha. Bahkan Channa tidak menghormati murid utama Sang Buddha yang memiliki keistimewaan seperti Shariputra dan Maudgalyayana. Channa merasa, dialah orang yang mempunyai andil besar dalam kehidupan Hyang Buddha.

Pikir Channa, "Bukankah semasa pangeran, sebelum Siddharta itu menjadi Buddha, hanya akulah yang melayani sang Pangeran kemana-mana. Bukankah akulah yang menerangkan tentang empat peristiwa sehingga menyebabkan pangeran jadi pergi bertapa dan akhirnya menjadi Buddha. Bukankah, aku yang menyertakan pangeran ke tepi sungai Anoma untuk menggunting rambut dan melepaskan mahkota kerajaannya... Bukankah, aku pula yang membawa mahkota itu kehadapan ayahandanya dan melaporkan pangeran telah menjadi pertapa. Akulah orang pertama yang menyebabkan pangeran menjadi Buddha". Demikianlah, mungkin pikiran dan perasaan Channa, sehingga ia menganggap dirinya sebagai sesuatu yang lebih istimewa dimata rekan-rekan Sangha lainnya.

Kesombongan Channa, akhirnya menuai petaka. Ia semakin tidak disenangi oleh rekan-rekan Sangha lainnya. Channa jadi sok kuasa, sok pintar, sok orang yang paling dekat Hyang Budha, sok tahu, dan sok, sok, sok lainnya. Sikap-sikap dan tingkah laku Channa yang tidak baik inipun diketahui oleh Hyang Buddha. Tetapi Hyang Buddha menyatakan bahwa Channa tidak bisa berubah semasih Hyang Buddha masih hidup. Sampai menjelang hari-hari akhir kehidupanNya, Hyang Budha belum sempat menjatuhkan hukumanNya kepada anggota Sangha yang reseh dan meresehkan itu.

Hukuman Berat

Hingga saat-asat akhir kehiduapNya itu tiba. Ketika, Hyang Buddha merasa saat-saat terakhir kehidupannya akan tiba, maka dalam kesempatan wejangan terakhirNya yang disampaikan kepada Ananda, Hyang Buddha sempat menyinggung perihal Bhiksu Channa.

Kepada Ananda dikatakanNya, "Ananda, bila Hyang Tathagatha sudah tidak ada lagi, Sangha harus melaksanakan hukuman berat (brahmadanda) terhadap Bhiksu Channa." Ananda bertanya, "Tetapi, Bhante, apakah yang dimaksud dengan hukuman berat itu?"

Hyang Buddha menjelaskan, "Ananda, Bhiksu Channa boleh mengatakan apa saja yang ia suka, tetapi Bhiksu-Bhiksu lain tidak boleh bicara dengannya, tidak boleh menasehatinya dan tidak boleh memberi petunjuk kepadanya."

Beberapa waktu setelah pembacaan Vinaya dan Dharma selesai (Pesamuan Sangha Pertama), Bhiksu Ananda menghadap para Thera dan menyampaikan pesan terakhir Hyang Buddha itu. Bhiksu Ananda juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan mengenai hukuman berat yang harus dijatuhkan kepada Bhiksu Channa itu.

Para Bhiksu lalu mengatakan, "Kalau demikian halnya, laksanakanlah hukuman berat itu terhadap Bhiksu Channa." Ananda menjawab, "Tetapi para Bhante yang terhormat, bagaimana mungkin aku dapat melaksanakan hukuman berat tersebut, kepada Bhiksu Channa, karena Bhiksu Channa orangnya kuat dan kekar badannya."

"Kalau begitu, Bhiksu Ananda, pergilah bersama dengan lima ratus Bhiksu lain." "Baiklah Bhante," jawab Bhiksu Ananda. Kemudian berangkatlah Bhiksu Ananda dengan lima ratus Bhiksu lain, menjumpai Bhiksu Channa di vihara Ghosita, Kosambi, daerah Raja Udena.

Di vihara Ghosita, Bhiksu Ananda memberitahukan Bhiksu Channa mengenai keputusan Sangha yang menjatuhkan hukuman kepadanya. "Bhiksu Channa, Sangha telah menjatuhkan hukuman berat terhadap diri anda." Channa bertanya: "Tetapi Bhante, apakah yang dimaksud dengan hukuman berat itu?"

Dijelaskan oleh Ananda, "Bhiksu Channa, anda boleh mengatakan apa saja yang anda suka, tetapi Bhiksu-Bhiksu lain tidak diperkenankan untuk menasehati anda dan tidak diperkenankan untuk memberi petunjuk-petunjuk kepada anda."

Bhiksu Channa lalu menjawab, "Bhante, hancurlah sudah aku ini, tidak ada Bhiksu yang boleh bicara kepadaku, tidak ada Bhiksu yang boleh memberi nasehat kepadaku dan tidak ada Bhiksu yang boleh memberi petunjuk kepadaku." Setelah berkata begitu, Bhiksu Channa kemudian jatuh pingsan, tidak sadarkan diri di tempat itu juga. Ia merasa malu, cemas, dan muak dengan dirinya sendiri.

Kembali Berjuang

Channa tidak menyangka hukuman berat itu akan menimpa dirinya sampai-sampai tak sadarkan diri ketika menerimanya. Tetapi hukuman berat itu bagaimanapun beratnya tidak dapat ditolak dan harus dijalaninya. Kesalah dan kegagalan bukanlah akhir dari segala-galanya, tapi bisa menjadi hikmah untuk kembali bangkit berjuang. Menjadikan kekalahan itu sebagai motivasi untuk merebut kemenangan.

File naskah dalam komputer yang bisa terhapus dan hilang, bukanlah alasan untuk tidak berjuang menulis naskah itu kembali. Seribu kali kegagalan, sejuta kali kekalahan, tetapi satu langkah kemenangan itu harus dimulai dengan perjuangan dan kebangkitan kembali. Seperti Konfusius berujar, perjalanan seribu lie tetap harus dimulai oleh langkah pertama, maka meski berpuluh kali rumah didirikan di tepi pantai itu terhapus oleh ombak dan angin ribut, namun bagi seorang pejalan kesucian seperti praktisi Zen Buddhis akan selalu siap kembali membangunnya dari awal.

Channa pingsan dan tidak sadarkan diri mendengar hukuman yang dijatuhkannya. Tetapi haruskah ia tenggelam dalam ketidaksadaran? Tidak! Channa tahu, ketidaksadaran akan berakhir dengan kematian, dan hanya orang yang sadarlah yang akan mencapai kehidupan yang sejati. Karena itu, tak lama setelah siuman kembali, Bhiksu Channa pun bergegas membangkitkan motivasi dan tekadnya untuk berjuang melatih diri.

Bhiksu Channa itu pergi mencari tempat yang sunyi. Di tempat yang sunyi itulah ia kemudian dengan giat, tekun dan semangat yang menyala-nyala melatih diri. Melatih mengatasi sifat-sifat keakuan, kesombongan, dan kepongahannya. Karena ketekunan dan perjuangannya, maka dalam waktu tidak terlalu lama, Bhiksu Channa akhirnya dapat mencapai tingkat kesucian Arahat. "Hancurlah tumimbal lahir, hidup suci telah dilaksanakan, telah dilakukan apa yang harus dilakukan dan tidak ada lagi yang tersisa." Demikian suara Bhiksu Channa yang menjadi Arahat.

Setelah mencapai Arahat itu, kemudian Bhiksu Channa mencari Bhiksu Ananda. Setelah bertemu dengan Bhiksu Ananda, ia berkata: "Bhante yang terhormat, sekarang cabutlah kembali hukuman berat terhadap diriku." Dijawab oleh Bhiksu Ananda: "Bhiksu Channa, pada saat anda mencapai tingkat Arahat, pada saat itu pulalah hukuman berat terhadai diri anda telah dicabut kembali."

Channa bekas kusir pangeran Siddharta, telah terbebas dari hukuman beratnya, karena berhasil mencapai Arahat. Sungguh suatu perjuangan yang luar biasa. Dari suatu keadaan kekalahan dan bahkan sampai pingsan tak sadarkan diri sewaktu mendengar hukuman berat yang dijatuhkan kepadanya, menjadi pencapaian kemenangan, pencerahan, kesadaran sepenuhnya dalam pembebasan dan kesucian.

Senin, 23 Juli 2012

Visakha



(Wanita Penyokong Terbesar Sang Buddha)

Visakha adalah putri yang berbakti dan murah hati dari seorang jutawan. Ketika ia baru berumur 7 tahun, Sang Buddha mengunjungi tempat kelahirannya. Kakeknya, ketika mendengar adanya kunjungan Sang Buddha tersebut, menyuruh Visakha untuk keluar dan menyambut Sang Buddha. Meskipun ia masih amat muda, tetapi ia taat pada agama dan moral-etik. Dengan demikian, segera setelah mendengar uraian Dhamma dari Sang Buddha, ia mencapai tingkat Kesucian pertama.

Ketika ia berusia 15 tahun, beberapa orang brahmana yang melihatnya, berpikir bahwa ia akan menjadi istri yang ideal bagi tuannya yang bemama Punnavaddhana, putra seorang jutawan yang bernama Migara. Visakha memiliki 5 macam kecantikan seorang wanita—rambut yang indah, bentuk badan yang indah, struktur tulang yang bagus, kulit indah yang halus dan berwama keemasan, serta tampak muda. Dengan demikian mereka membuat persiapan pernikahan Visakha dengan Punnavaddhana.

Pada hari pernikahannya, ayahnya yang bijaksana memberinya beberapa nasihat yang dikelompokkan menjadi sepuluh, sebagai berikut:

1. Seorang istri tidak boleh mencela suami dan mertuanya di depan orang lain. Demikian juga kelemahan/kekurangan mereka ataupun pertengkaran rumah tangga tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
2. Seorang istri tidak seharusnya mendengarkan cerita-cerita dan laporan-laporan dari rumah-tangga orang lain.
3. Barang-barang boleh dipinjamkan kepada mereka yang mengembalikannya.
4. Barang-barang tidak boleh dipinjamkan kepada mereka yang tidak mengembalikannya.
5. Sanak famili yang miskin dan teman-teman yang miskin harus ditolong meskipun mereka tidak dapat membayar kembali.
6. Seorang istri harus duduk dengan anggun bila melihat mertua atau suaminya, ia harus menghormati mereka dengan berdiri dari duduknya.
7. Sebelum seorang istri makan, ia pertama-tama harus memastikan bahwa mertua dan suaminya telah dilayani. Ia juga harus memastikan bahwa pelayan-pelayannya telah diurus dengan baik.
8. Sebelum pergi tidur seorang istri harus memeriksa bahwa semua pintu telah ditutup, perabot rumah telah dirapikan. pelayan-pelayan telah melaksanakan tugas-tugas mereka, dan mertua telah pergi tidur. Sebagai aturannya, seorang istri harus bangun pagi-pagi sekali dan jika tidak sakit, ia tidak boleh tidur siang.
9. Mertua dan suami harus diperlakukan dengan sangat hati-hati laksana api.
10. Mertua dan suami harus dihormati seperti layaknya menghormati dewa.

Sejak Visakha berada di Savatthi, kota suaminya, dia baik dan murah hati kepada semua orang di kota itu sehingga semua orang mencintainya.

Suatu hari, ayah mertuanya sedang makan bubur-nasi manis dari mangkuk emas ketika seorang bhikkhu mendatangi rumah itu untuk pindapata. Meskipun si ayah-mertua melihat bhikkhu tersebut, ia tetap meneruskan makannya seolah-olah ia tidak melihat bhikkhu tersebut.

Visakha dengan sopan berkata kepada bhikkhu tersebut: "Maafkan, Yang Mulia Bhante, ayah mertuaku sedang makan makanan-sisa". Sudah sejak lama ayah-mertua Visakha tidak senang kepadanya karena Visakha adalah pengikut setia dan pendukung Sang Buddha, sedangkan dia tidak. Dia lalu mencari kesempatan untuk membubarkan perkawinan anaknya dengan Visakha, tetapi perilaku Visakha tidak bercacat. Sekarang dia mendapatkan kesempatan itu. Karena salah paham terhadap kata-kata Visakha tersebut, dia mengira Visakha telah menghina keluarganya. Dia memerintahkan Visakha untuk keluar dari rumah itu, tetapi Visakha mengingatkan dia akan permintaan ayahnya kepada 8 anggota keluarga. Ayah Visakha berkata kepada mereka, "Jika terdapat kesalahan pada putriku, selidikilah". Jutawan itu setuju dengan permintaan Visakha dan memanggil 8 anggota keluarga untuk datang dan memeriksa apakah Visakha bersalah karena kekasaran ucapannya. Ketika mereka tiba, dia berkata kepada mereka, "Temukanlah kesalahannya dan usir dia dari rumah ini".

Visakha membuktikan ketidak-bersalahannya dengan menerangkan sebagai berikut: "Tuan-tuan, ketika ayah mertuaku tidak mempedulikan bhikkhu yang ingin berpindapata di rumah ini dengan melanjutkan makan bubur-nasi manisnya, berarti dia tidak menambah kebajikan dalam kehidupannya yang sekarang. Dia hanya menikmati kebajikan-kebajikan dari perbuatan/kamma lampaunya. Apakah ini bukan seperti makan makanan-sisa?" Ayah mertuanya harus mengakui bahwa Visakha tidak bersalah karena ucapannya itu.

Masih ada beberapa lagi kesalah-pahaman setelah itu, tetapi Visakha selalu bisa menjelaskan hingga dia puas. Setelah kejadian-kejadian ini, ayah mertua Visakha menyadari kekeliruannya dan mengakui kebijaksanaan Visakha. Atas saran Visakha, dia mengundang Sang Buddha ke rumahnya untuk memberikan uraian Dhamma. Dengan mendengar uraian Dhamma itu, dia menjadi Sotapanna.

Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, Visakha berhasil mengajak keluarga suaminya menjadi keluarga Buddhis yang bahagia. Visakha juga sangat dermawan dan suka menolong para bhikkhu. Ia membangun vihara Pubbarama dengan biaya yang besar untuk kegunaan para bhikkhu. Visakha sangat gembira ketika Sang Buddha menggunakan 6 masa vassa Beliau di sana.

Dalam salah satu ceramah yang disampaikan kepada Visakha, Sang Buddha menguraikan tentang delapan kualitas pada diri seorang wanita yang dapat memelihara kesejahteraan dan kebahagiaan dirinya di dunia ini dan nanti; yaitu "Dalam hal ini, Visakha, seorang wanita itu melakukan pekerjaannya dengan baik, ia mengatur pelayan-pelayannya, ia menghormati suaminya, dan ia menjaga kekayaannya. Dalam hal ini, Visakha, seorang wanita itu memiliki keyakinan (saddha) di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, kebajikan-moral (sila), kemurahan-hati (caga), dan kebijaksanaan (panna)".

Dengan menjadi seorang wanita yang punya banyak bakat, ia memainkan peran penting di dalam berbagai kegiatan Sang Buddha dan para pegikutNya. Saat itu, ia diberi wewenang oleh Sang Buddha untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul di antara para bhikkhuni. Beberapa peraturan vinaya juga ditetapkan untuk para bhikkhuni ketika ia diminta untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Ia meninggal dalam usia yang tua benar yaitu 120 tahun.

Uppala



(Bhikkhuni YangMengandung)

Salah satu peristiwa yang terjadi diSavatthi adalah penabhisan seorang wanita bernama Uppala. Konsekuensi dari penabhisannya sangat terkenal, sehingga saya akan menceritakan hal ini kepada anda. Ia adalah wanita muda yang pada dasarnya sangat saleh, dan saat masih kecil ia bertanya kepada orang tuanya bagaimana bila ia menjadi seorang bhikkhuni pada umur tujuh belas tahun, dan mereka berkata: “Tidak, Kita berasal dari keluarga yang berkecukupan, kamu harus menikah dan mempunyai anak, dan seterusnya dan seterusnya. Dan ia berkata “Saya tidak ingin melakukannya saya ingin menjadi bhikkhuni.

Mereka menjadi berlaku sedikit keras kepadanya dan berkata : “Tidak, kamu harus menikah dan mempunyai anak,” dan seterusnya. Maka ia berpikir, “Saya akan menikah dan kemudian saya akan bertanya kepada suami saya apakah saya dapat menjadi seorang bhikkhuni.”

Kemudian ia mematuhi orang tuanya dan menikah. Sekitar tiga bukan setelah menikah, suaminya yang sangat gembira dengan perkawinannya berkata kepadanya, “Mengapa kita tidak pergi ke festival , mereka mengadakan festival di Savatthi. Lalu mengapa kita tidak mengenakan pakaian yang bagus dan perhiasan saat menikmati festival ini?

Dan ia berkata ‘Apa gunanya memakai pakaian pada tubh yang penuh dengan...../ dan kemudian ia menyebutkan tiga puluh jenis ciri-ciri dari tubuh yang tidak menyenangkan. Dan lelaki muda yang malan tersebut merasa hancur, anda tahu, - semua ini mengenai lemak, air ludah, darah, nanah, dan segala jenis yang menjijikkan- dan akhirnya lelaki muda yang malang tersebut berkata, “Yah, jika kau merasa demikian terhadap tubuhmu, kau sebaiknya menjadi seorang bhikkhuni!”

“Ah, itu dia” katanya. “Apakah kami mengizinkan saya?”

“Ya, jika kamu merasa ......

“Ya, saya merasa demikian, Itu benar-benar apa yang saya rasakan mengenai tubuh saya. Saya benar-benar ingin menjadi seorang bhikkhuni”

“Yah, jika kau memang merasa seperti itu, saya akan membawamu kepada Sang Buddha dan meminta-Nya untuk menabhiskanmu menjadi seorang bhikkhuni.”

Ia sangat berterima kasih kepada suaminya. Suaminya lalu membawa Uppala ke Jetavana dan membuat permintaan kepada Sang Buddha dan Sangha, dan berkata “Maukah anda menabhiskan wanita ini menjadi seorang bhikkhuni?” Saya dapat menyediakan jubah dan mangkuk....” dan seterusnya. Kemudian Sang Buddha berkata “Ya, biarlah ia ditabhiskan”.

Akhirnya ia ditabhiskan, tetapi ia ditempatkan dalam biara di bawah pimpinan Devadatta. Devadatta sudah menjadi bhikkhu selama bertahun-tahun – ia termasuk bhikkhu senior. Ia adalah sepupu Sang Buddha dan ia sangat iri hati. Ia selalu lekas tersinggung dan menjadi yogi yang sangat berkuasa dan mempunyai kekuatan batin yang hebat sekali, tetapi tidak mempunyai hati yang bersih. Tidak juga mempunyai perasaan. Beberapa waktu setelah wanita ini, Uppala, ditabhiskan dan diterima ke dalam biara tempat yang menjadi kekuasaan Devadatta, ia terlihat sedang mengandung. Beberapa bhikkhuni berkata “Bagaimana ini, kamu tampaknya sedang mengandung? Apakah kamu melanggar kesucian?”

Lalu katanya, “Tidak, saya tidak melanggarnya.”

“Yah, engkau tampak sedang mengandung.”

“Saya tidak pernah melanggar peraturan apapun”

Lalu terjadi kebuntuan. Dan waktu terlalu dan ia dapat dipastikan mengandung. Lalu mereka membawanya kepada Devadatta dan berkata “Apa yang harus kami perbuat, wanita ini mengandung.” Lalu Devadatta berkata lebih kurang sebagai berikut, “Lemparkan ia keluar. Ia harus diusir. Ia pasti melanggar peraturan.”

Dan Uppala berkata: “Tolong saudaraku, saya tidak melanggar peraturan apa pun. Jika Devadatta mengusirku keluar, maka berakhirlah sudah dikehidupan sebagai bhikkhuni. Bawalah saya kepada Sang Buddha – Sang Buddhalah yang telah mengizinkan saya untuk ditabhiskan.

Lalu mereka membawanya kepada Sang Buddha. Sang Buddha berpikir: “Ini adalah situasi yang sulit. Devadatta telah mengusirnya keluar dan saya tidak ingin terlihat mengampuni orang yang telah melanggar peraturan, tetapi wanita ini berkata ia tidak melanggar peraturan apapun.” Lalu katanya, “Saya tahu, orang yang dapat memutuskan persoalan ini adalah Visakha.”

Lalu Beliau memanggil Visakha datang kepadaNya dan menjelaskan kepada Visakha. “Ini adalah seorang wanita yang sudah menikah, ia sudah menikah sebelum datang untuk menjadi bhikkhuni. Selidiki sudah berapa lama ia mengandung, dari sana dapat diketahui apakah ia melanggar peraturean atau ia sudah mengandung pada saat ditabhiskan sebab ini adalah masalah yang sulit.

Saat itu Visakha telah memiliki enam belas anak dan seratus cucu, sehingga ia sangat berpengalaman melihat kehamilan. Dikatakan dalam sutta bahwa mereka melakukan ini didepan pengadilan, seluruh anggota sangha dan sejumlah besar siswa. Visakha menguji wanita itu dibelakang layar. Yang menarik adalah mereka mengukur daerah perut sama seperti yang dilakukan oleh ahli ginekologi pada masa sekarang ini.

Lalu Visakha memperkirakan bahwa wanita tersebut sudah mengandung sebelum ia ditabhiskan. Lalu ia datang dari balik layar dan berkata kepada Sang Buddha. “Saya perkirakan bahwa wanita ini sudah mengandung sebelum ia ditabhiskan. Ia sudah lama mengandung jadi tidak mungkin melanggar peraturan.”

Kemudian Sang Buddha berkata, “Benar, ia suci. Ia dapat tinggal di biara dan tidak ada pelanggaran atas kesuciannya.”

Lalu ia tinggal di biara dan mempunyai anak. Saat bayinya berumur beberapa bulan dan ia sedang mengasuhnya, suatu sore anak tersebut menangis dan seorang pangeran lewat di biara tersebut dan mendengar tangisan bayi tersebut dan berpikir: “Yah, pasti sangat menyusahkan bagi bhikkhuni-bhikkhuni tersebut, mempunyai bayi yang menangis ditengah-tengah mereka. Dan pasti sangat sulit bagi seorang bhikkhuni untuk membesarkan seorang bayi”. Lalu ia berpikir “Mungkin sebaiknya saya mengadopsinya dan bhikkhuni tersebut tidak akan lagi khawatir akan masa depan anak tersebut.”

Maka pangeran mengirim pesan yang mengatakan bahwa ia berkeinginan untuk mengadopsi anak tersebut. Uppala menyetujui bayi tersebut dibawa kerumah pangeran dan diadopsi oleh pangeran dan ratu,dan istri pangeran itu membesarkannya. Anak itu kemudian dikenal sebagai pangeran Kassapa. Kemudian pada saat berumur tujuh tahun, ia ingin menjadi seorang Bhikkhu. Lalu ia ditabhsikan pada saat berumur tujuh tahun dan dikenal sebagai pangeran Kassapa, bahkan setelah ditabhiskan, untuk membedakannya dari Kassapa yang lain. Ia sebenarnya lahir di Jetavana dan menjadi seorang arahat pada usia yang sangat muda.

Sujata

(Dan Khotbah Tentang 7 Tipe Istri)



Sujata berasal dari keluarga kaya, dan menikah dengn putra Anathapindika. Dia bersikap sombong, tidak mau menghormati orang lain dan tidak mau mendengra instruksi-instruksi dari suaminya dan orangtuanya. Konsekuensinya, pertentangan terjadi di keluarga itu tiap hari. Suatu ketika Sang Buddha mengunjungi rumah Anathanpindika. Beliau mendengar keributan yag tidak biasanya terjadi di dalam rumah itu, dan menanyakan apa yang terjadi. Anathapindika menjawab, "Yang Mulia, itu adalah Sujata, menantu saya. Dia tidak mau mendengar kepada mertua perempuannya, mertua laki-lakinya dan suaminya. Dia bahkan tidak menghormati dan menemui Sang Bhagava."

Sang Buddha lalu memanggil Sujata untuk datang kehadapan Beliau, dan berkata dengan lembut, "Sujata, terdapat 7 tipe istri yang mungkin dimiliki oleh seseorang laki-laki. Tipe yang manakah engkau?" "Apakah ketujuh tipe istri itu, Yang Mulia?" tanya Sujata.

"Sujata, terdapat istri yang buruk dan tidak diinginkan. yaitu seorang istri yang menyusahkan. Dia jahat, bertemperamen buruk, tak punya rasa kasihan, dan tidak setia kepada suaminya". "Terdapat istri yang seperti seorang pencuri. Dia menghabiskan uang yang dicari oleh suaminya". "Terdapat istri yang seperti bos. Dia malas, dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia kejam dan tidak punya rasa belas kasihan, selalu memarahi suaminya adn bergosip". "Sujata, terdapat pula istri yang baik dan terpuji. Yaitu istri yang seperti seorang ibu. Dia baik dan punya belas kasihan, serta memperlakukan suaminya seperti putranya, dan berhati-hati dalam menggunakan uang suaminya". "Terdapat pula istri yang seperti seorang adik. Dia hormat kepada suaminya sama seperti seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya. Dia rendah hati dan patuh kepada keinginan-keinginan suaminya." "Terdapat istri yang seperti seorang sahabat. Dia bergembira saat melihat suaminya, sama seperti seorang sahabat yang telah lama tidak berjumpa. Dia memiliki kelahiran yang mulia, bermoral dan setia". "Terdapat istri yang seperti seorang pelayan. Dia berlaku sebagai seorang istri yang penuh pengertian tatkala kekurangan atau kesalahan-kesalahannya ditunjukkan. Dia tetap tenang dan tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun meski suaminya mengucapkan kata-kata yang kasar. Dia patuh kepada keinginan-keinginan suaminya".

Sang Buddha lalu bertanya, "Sujata, tipe istri yang manakah engkau atau engkaih ingin menjadi tipe yang mana?" . Dia mengubah sikap lakunya dan menjadi pembantu suaminya, dan bersama-sama mereka berjuang mencapai pencerahan.

UGGASENA



[Mencapai Pencerahan Sebagai Seniman Akrobat]


Apakah bisa seorang seniman akrobat yang kerap kali memukai penonton oleh aksi-aksinya yang membahayakan dan juga mendapatkan tepuk tangan penonton dapat memperoleh pencerahan? Tentu saja bisa, karena pada hakekatnya seorang yang telah mencapai pencerahan batin adalah seorang yang telah bebas dari ikatan keakuan, kemelekatan terhadap ego, seperti ikatan polularitas tepuk tangan penonton yang menjadikan dirinya pusat perhatian penonton, maupun rasa takut, termasuk rasa takut akan keselamatan dirinya ketika melakukan akrobatik.

Popularitas, tepuk tangan yang mengikat ego dan ketakutan ataupun kekhawatiran ataupun kekawatiran akan diri sendiri merupakan hambatan atau belenggu dalam pencapaian tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat atau pencerahan batin yang sadar akan fenomena kekosongan tiadanya aku. Seperti yang seringkali diperlihatkan oleh Hyang Buddha, bahwa pencapaian pencerahan itu dapat terjadi di dalam segala aspek kehidupan atau sesuai dengan latar belakang dan kondisi dari orang yang bersangkutan, maka pencerahan itu pun bisa terjadi pada profesi seniman ketangkasan seperti pemain akrobatik.

Profesi sebagai seniman dan pemain akrobat itu bisa juga sebagai lahan subur bagi munculnya pencerahan kekosongan, pemahaman ketiadaan diri atau kesadaran tanpa aku. Begitulah kiranya yang terjadi pada Uggasena, salah seorang siswa Hyang Buddha yang berprofesi sebagai pemain akrobatik yang mencapai pencerahannya justru ketika sedang berakrobatik dan menjalani profesinya sebagai seniman yang popular.

Tetapi,dalam hidup Uggasena sebagai seniman popular dan pemain akrobatik yang akhirnya mencapai pencerahan ketika berakrobatik itu juga memiliki latar belakang yang berliku-liku. Kisah kehidupan Uggasema, yang pernah berkecupan sebagai anak dari seorang hartawan besar, jatuh cinta pada penari dan dilecehkan sang istri sehingga bertemu Hyang Buddha ini sungguh meliuk-liuk jungkir balik bagai gerakan-gerakan akrobatik yang dilakukannya.

Jatuh Cinta Kepada Penari

Kisahnya dimulai, ketika sebuah rombongan pemain drama keliling yang terdiri dari lima ratus penari dan beberapa pemain akrobat datang berkunjung ke Rajagaha. Di ibukota kerajaan Magadha ini, mereka mengadakan pertunjukkan di dalam lingkungan istana Raja Bimbisara selama tujuh hari. Dalam pertunjukkan itu, salah seorang penari muda yang merupakan putri dari seorang pemain akrobat bernyanyi dan menari di atas sebuah galah bambu panjang.

Saat itu, Uggasena, putra yang masih muda dari seorang hartawan yang hadir dan menonton acara yang sangat menarik itu jatuh cinta dengan sang penari akrobatik itu, Uggasena ingin menyunting sang penari akrobatik itu, meskipun tidak mendapat persetujuan dari orang tuanya, semua itu tidak mampu mencegah keinginannya untuk menikahi gadis tersebut.

Uggasena tetap menikahi penari muda itu dan mengikuti rombongan kesenian akrobatik itu kemanapun mereka pergi. Tetapi, apa yang dialami selama mengikuti rombongan sebagai suami sang penari muda itu, tidaklah sepadan dengan status sosil yang disandang sebelumnya sebagai putra seorang hartawan, sehingga ia harus menduduki jajaran yang rendah dalam rombongan itu sebagai pengangkut perlengkapan grup kesenian itu.

Lagi pula Uggasena sendiri tidak memiliki ketramplan baik sebagai seorang penari maupun pemain akrobatik, maka jadinya di dalam rombongan itu ia tidak masuk dalam jajaran profesional, tidak terlalu dibutuhkan dan tidak menjadi pusat perhatian sebagaimana yang dimiliki artis-artis rombongan itu.

Maka dengan ketrampilan yang minim itu, apa yang dilakukan Uggasena tidaklah cukup berarti bagi grup kesenian itu. Ia hanya ditugaskan menjadi pembantu yang mengangkut kotak-kotak perlengkapan kesenian maupun mengemudikan kereta dan pekerjaan kasar lainnya ketika rombongan itu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Menjadi Seniman Akrobat

Kehidupan sebagai suami yang beristrikan seorang artis dan mengikuti ke mana rombongan kesenian itu pergi terus berlangsung bertahun-tahun, hingga pada suatu saat pasangan itu dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu pun tumbuh besar dalam asuhan kedua orang tuannya, terutama perhatian dari ibunya.

Kepada anak laki-lakinya itu, sang penari sering menyanyikan sebuah lagu yang nadanya sangat menyesalkan kebodohan suaminya, ayah anak tersebut. Lagi itu berbunyi: "O kamu, putera seorang lelaki yang menjaga kereta-kereta; lelaki yang mengangkut kotak-kotak dan buntelan-buntelan! O kamu, putera seorang yang bodoh, yang tidak dapat melakukan apapun!?

Uggasena juga kerap mendengar lagu itu. Ia pun mengetahui bahwa lagu itu dinyanyikan istrinya dan dimaksudkan juga untuk menunjukkan kepadanya dan melecehkan dirinya. Karena kerap mendengar lagu yang dinyanyikan istrinya untuk menyindir dan melecehkan dirinya itu, Uggasena menjadi sangat terluka dan tertekan.

Maka, agar tidak selalu direndahkan oleh istrinya, Uggasena pun jadi ingin meningkatkan dirinya. Ia kemudian pergi menemui ayah mertuanya, seorang pemain akrobat, dan meminta agar diajari bermain akrobat. Setelah setahun berlatih, Uggasena menjadi pemain akrobat yang trampil.

Kini Uggasena, mantan anak hartawan yang menikahi penari rombongan kesenian itu telah menjadi artis, sebagai pemain akrobatik. Ia pun tidak lagi dipandang dengan sebelah mata oleh istrinya, anaknya, mertuanya maupun pemain-pemain lainnya yang tergabung dalam rombongan itu. Ternyata, Uggasena juga cerdas dan tangkas sebagai pemain akrobatik, sehingga rasa harga dirinya pun terungkap karena ia pun kini dapat menikmati tepuk sorak penonton yang ditujukan kepadanya, dapat menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.

Suatu ketika, rombongan Uggasena berkunjung ke Rajagaha, dan diumumkan bahwa Uggasena akan memperlihatkan ketrampilannya di muka umum selama tujuh hari. Dan ketika hari ketujuh itu tiba, dengan menggunakan sebatang galah yang panjang Uggasena melakukan akrobatik di atasnya. Dengan tanda-tanda yang diberikan dari bawah, ia berjungkir balik tujuh kali di atas galah itu.

Pencerahan Di Atas Galah

Saat Uggasena melakukan akrobatiknya itu, dari jauh melalui pandangan mata batinNya Hyang Buddha melihat Uggasena, dan dalam batinnya, Beliau mengetahui bahwa Uggasena memiliki potensi yang besar untuk segera mencapai pencerahan. Dalam pandangan Hyang Buddha, batin Uggasena telah masak dan telah tiba saatnya bagi Uggasena untuk mencapai tingkat kesucian arahat dan mencapai penerangan Bodhi.

Kemudian Hyang Buddha memasuki kota Rajagaha, dan melakukan upaya agar orang-orang (penonton) mengalihkan perhatiannya kepada Beliau dan bukan bertepuk tangan untuk Uggasena yang telah melakukan beberapa akrobatik itu. Mengalami bahwa ia ternyata tidak diperhatikan penontonnya yang beralih memperhatikan Hyang Buddha, maka ketika Uggasena melihat bahwa ia sedang diabaikan dan tidak diacuhkan itu ia hanya duduk di atas galah dengan perasaan yang sangat tidak puas dan tertekan.

Hyang Buddha yang telah memberi pelajaran itu mengetahui keadaan batin Uggasena. Hyang Buddha lalu datang menyapa Uggasena, "Uggasena, orang bijaksana seharusnya melepaskan semua kemelekatan pada kelompok-kelompok kehidupan (skandha), dan berjuang untuk mencapai kebebasan dari lingkaran tumimbal lahir.?

Hyang Buddha telah memberi pelajaran bahwa popularitas yang selama ini diperolehnya dari penontonnya itu bisa saja suatu saat lenyap, dan dirinya tidak diperhatikan lagi. Lalu, apakah sesungguhnya diri atau aku ini? Melalui sikapnya itu, Hyang Buddha memberi pelajaran mengenai terputusnya kemelekatan terhadap aku, yang pada umumnya sering membuat artis, seniman yang popular kerap menerima tepukan tangan dan menjadi pusat perhatian penonton itu menjadi terlena atau terikat.

Kemudian Hyang Buddha membabarkan syair  348 Dharmapada yang berbunyi: "Tinggalkan apa yang telah lalu, yang akan datang maupun yang sekarang dan capailah pantai seberang Nirvana. Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu, maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.?

Pada saat khotbah Dharma itu berakhir, dan dengan kondisi batin yang sebenarnya juga telah masak, Uggasena yang masih saja berada di atas galah akhirnya memahami sesungguhnya mengenai ketidakmelekatan terhadap aku itu, dan ia pun akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat. Uggasena kemudian turun dan memohon kepada Hyang Buddha untuk masuk dalam persamuan sangha.

Suatu hari, ketika para bhiksu yang lain menanyakan padanya apakah ia tidak mempunya segala macam perasaan takut ketika sedang turun dari tempat yang amat tinggi (sekitar sembilan puluh kaki). Uggasena menjawab dengan tegas tidak.

Mendengar jawaban ini, para bhiksu yang belum tahu bahwa Uggasena telah mencapai tingkat Arahat menanggapi dan mengartikannya bahwa hal itu sebagai cara Uggasena untuk menyatakan dirinya telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Para Bhiksu tidak yakin bahwa Uggasena telah mencapai Arahat dan menganggap Uggasena melakukan kebohongan, dan melaporkan kepada Hyang Buddha bahwa Uggasena telah berbohong.

Para bhiksu tersebut menemui Hyang Buddha dan berkata, "Bhante! Uggasena menyatakan diri sebagai seorang arahat; dia pasti mengatakan suatu kebohongan.? Kepada mereka, Hyang Buddha menjawab, "Para bhiksu seseorang yagn telah memotong semua belenggu, seperti murid-Ku Uggasena, tidak lagi memiliki ketakutan.?

Uggasena dengan profesinya sebagai pemain akrobat telah mencapai pencerahan. Ia telah mematahkan segala belenggu dan ikatan rasa keakuan yang terbentuk karena popularitas maupun rasa takut akan keselamatan jiwanya, kepentingan akunya ketika sedang berakrobatik.

Untuk itu, Hyang Buddha membabarkan syair Dharmapada 397 yang berbunyi:
"Ia telah memotong semua belenggu, tidak lagi gemetar, 
yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan, 
maka ia Kusebut seorang brahmana?.

(Jo Priastana)