Tampilkan postingan dengan label YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2012

PERANAN ORANGTUA MENENTUKAN MASA DEPAN ANAK






"Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat keluarga,
dan mempertahankan martabat keluarga,
dan tidak mengharapkan anak yang merendahkan martabat keluarga;
yang menjadi penghancur keluarga."

 (Khuddaka Nikaya, 252) 


PERMASALAHAN

"Anakku sulit diatur!"
"Anakku tidak berbakti."
"Anakku semaunya sendiri !"
"Anakku benci orangtuanya sendiri."

Inilah beberapa pernyataan bernada negatif yang sekarang amat sering diucapkan oleh para orangtua dalam menghadapi sikap anak-anaknya. Bahkan dengan pesimistis Bette Davis menulis dalam karyanya The Lonely Life, jika engkau belum pernah dibenci oleh anakmu maka engkau berarti belum pernah menjadi orangtua (INFOPEDIA). Kelihatannya sebagian besar orangtua jaman sekarang seakan telah kehilangan segala akal dan ilmu untuk dapat memahami tingkah laku anak-anak mereka. Mereka sering menanyakan pada diri sendiri maupun pada para penasehat, karma buruk apakah yang sedang mereka jalani saat ini. 

Pertanyaan ini terus menggema tanpa menemukan jawabnya. Sedihnya, mereka kadang
memperoleh jawaban yang menuduh bahwa semua bentuk kesalahan dan kenakalan anak-anak adalah akibat ketidakmampuan orangtua mendidik anak. Benar, mungkin memang mereka tidak mampu mendidik anak tetapi tentunya ada jalan keluar untuk mengatasi hal ini. Tentunya ada cara atau pedoman untuk memperbaiki sekaligus melatih orangtua untuk menghadapi situasi kurang menyenangkan ini.
Sesungguhnya, mendidik anak memang lebih sulit daripada melahirkan anak. Oleh karena itu, sebagai calon orangtua ataupun yang telah menjadi orangtua, hendaknya dibekali dengan pengetahuan yang memadai tentang pendidikan anak. Pada masa sekarang sebenarnya telah banyak buku diterbitkan membahas tentang pendidikan anak. Hanya saja, mungkin para calon orangtua maupun para orangtua belum sempat membacanya. Dalam agama Buddha, Sang Buddha juga telah mengajarkan para orangtua cara mendidik anak dengan baik.
Dalam kaitan dengan pembahasan ajaran Sang Buddha tentang pendidikan anak itulah maka makalah ini disusun.

PEMBAHASAN
Dalam masa serba materi ini persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup terasa semakin bertambah.Akibatnya, kesibukan setiap orang juga semakin bertambah. Pada pagi hari, mereka sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja dan kelelahan pada sore hari sepulang kerja. Bahkan kini juga ada kecenderungan suami istri bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sehari-hari.Akibat perubahan gaya hidup ini, waktu untuk berkomunikasi dalam keluarga, termasuk komunikasi antara orangtua dan anak, menjadi kurang diperhatikan. Anak kebanyakan hanya bertemu orangtua pada pagi hari ketika akan berangkat sekolah dan malam hari menjelang tidur. Sepanjang hari di rumah, anak hanya bersama dengan pembantu dan pengasuh yang akan memberikan pengarahan sesuai dengan kemampuan mereka, tentunya. Padahal Brian Tracy menyebutkan bahwa peranan tunggal sebagai orangtua yang paling penting adalah mencintai dan memelihara anak-anak, serta membangun dalam diri mereka perasaan harga diri dan keyakinan tinggi (hal. 318). Peran penting ini jelas tidak dapat digantikan oleh pembantu rumah tangga maupun pengasuh. Agar dapat melaksanakan peran sebagai orangtua yang bermanfaat bagi anak-anaknya dibutuhkan sikap saling pengertian antara orangtua dan anak. Sikap penuh pengertian ini adalah salah satu tonggak keharmonisan rumah tangga. Sikap ini dapat dicapai dengan meningkatkan kelancaran komunikasi setiap individu pembentuk rumah tangga tersebut. Merintis hubungan baik dalam keluarga dapat dimulai dengan menyediakan waktu untuk makan bersama minimal sekali dalam satu hari, misalnya. Acara makan ini sebaiknya terbebas dari berbagai macam gangguan,misalnya pembicaraan yang rumit tentang pekerjaan maupun acara televisi. Dengan demikian, kegiatan makan ini akan memberikan banyak kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk saling bertukar pikiran dan berbagi rasa. Kelihatannya memang sepele, namun apabila dilaksanakan akan dapat menghasilkan keharmonisan keluarga yang tidak terbayangkan sebelumnya.Jika acara makan bersama telah dapat dijadikan tradisi dalam keluarga maka selanjutnya orangtua dapat berperan sebagai teman yang baik bagi anak-anaknya. Teman yang mampu dan mau mendengarkan segala keluh-kesah maupun kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Pada saat itulah orangtua dapat mengarahkan anak dengan memberikan nasehat dan bimbingan moral yang diperlukan sebagai bekal dalam menghadapi masa depan mereka yang mandiri dan penuh percaya diri. Hal ini tentu membutuhkan sedikit pengorbanan waktu orangtua yang amat berharga. Hanya saja, bila kita tidak ingin berkorban untuk anak saat ini, di masa depan kita akan banyak mendapatkan kesulitan hidup karena masalah yang disebabkan oleh anak-anak. Bila tiba saat seperti demikian, maka penyesalan orangtua terhadap kegagalan hasil pendidikan anak barulah muncul. Segala cara ditempuh, semua biaya dikeluarkan dengan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan. Tampaknya, sungguh sulit hidup ini.
Oleh karena itu, masalah komunikasi antara orangtua dan anak adalah sangat penting dalam
meningkatkan peranan orangtua terhadap masa depan anak. Dengan bekal komunikasi dalam keluarga yang baik, orangtua dapat mengarahkan anak-anak menuju tercapainya sikap mandiri dalam masyarakat dan memiliki kebaikan serta kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Pada saat memberikan pengarahan hendaknya orangtua memperhatikan lima kondisi ideal yaitu berilah pengarahan pada saat yang tepat, bahaslah masalah yang sesuai dengan kenyataan bukan mengada-ada, katakanlah nasehat dan pengarahan itu dengan lemah lembut dan berbicaralah tentang tujuan bukan metoda serta bicaralah dengan pikiran penuh cinta kasih (Anguttara Nikaya III, 195). 

Sedangkan pengarahan orangtua dalam membimbing anak-anaknya adalah dengan berpedoman pada Ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam Digha Nikaya III, 189 yaitu:

1. MENCEGAH ANAK BERBUAT JAHAT
Kejahatan anak dimulai dari kebiasaan buruk anak sejak kecil yang dibiarkan oleh orangtuanya. Anak kecil sejak umur awal (kira-kira 18 bulan) telah berusaha memaksakan kehendak pada orangtuanya(Dobson, hal. 133). Pemaksaan ini dapat dilakukan misalnya pada saat menentukan makanan yang disukai dan menggunakan saat istirahatnya. Anak sering rewel karena tidak suka dengan makanan yang telah disediakan oleh orangtuanya. Menghadapi pemaksaan semacam ini seringkali orangtua kemudian mengalah. Inilah awal kekerasan anak pada orangtua. Inilah awal ketidaktaatan anak kepada orangtua.
Seharusnya orangtua dengan tegas namun bijaksana dan penuh kasih sayang berusaha menyadarkan bahwa anak harus makan makanan sesuai dengan yang telah disediakan orangtuanya. Caranya adalah dengan mengajak anak bermain-main dahulu sampai datang rasa laparnya dan selanjutnya dihadapkan kembali pada makanan yang telah disediakan tadi. Pertamanya mungkin anak tetap tidak menyukainya,namun lama-kelamaan karena lapar tentu akhirnya ia mau juga. Tidur pun ternyata dapat menjadi alat yang efektif anak memaksa orangtua. Ketika anak diingatkan waktu tidur telah tiba, sering anak beralasan untuk menentang orangtuanya. Untuk menghadapi masalah ini, anak dapat diberikan cerita-cerita menarik sebelum tidur sehingga anak merasakan bahwa kegiatan tidur adalah kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Cerita menarik itu dapat diambil dari cerita Buddhis yang dapat dibaca dari buku maupun didengar dari sekolah minggu Buddhis di vihara-vihara terdekat. Memang untuk mempersiapkan hal itu membutuhkan perhatian dan pengorbanan orangtua, namun mengingat besar manfaatnya dimasa datang,kenapa masih ada orangtua yang tidak ingin melakukannya?

Apabila anak sejak dini sudah dapat didisplinkan sehingga menurut kehendak orangtua, kini tiba saatnya orangtua mengisi batin anak-anak dengan kemoralan. Ajarkan pada mereka hal-hal yang perlu dihindari. Pokok dasar pendidikan ini adalah dengan menerapkan pengertian bahwa bila kita tidak ingin dicubit maka janganlah mencubit orang lain. Sebagai seorang umat Buddha maka pengenalan Pancasila Buddhis sejak awal adalah langkah terbaik menuju masa depan anak yang bersusila. Pancasila Buddhis adalah lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan untuk mengurangi pembunuhan dan penganiayaan;latihan untuk mengurangi mengambil barang-barang yang tidak diberikan secara sah / mencuri; latihan untuk mengurangi tindakan yang melanggar kesusilaan; latihan untuk mengurangi mengucapkan katakata yang tidak benar/berbohong; serta,latihan untuk mengurangi makan dan minum barang-barang yang memabukkan (Anguttara Nikaya III, 203). 

Pengenalan ini dapat diberikan selain pada saat acara makan bersama juga pada saat orangtua menemani anak-anak menonton televisi. Arahkan mereka sehingga dapat menentukan tokoh mana yang tidak baik agar perbuatannya dapat dihindari dan tokoh mana yang baik untuk ditiru. Jadikanlah televisi sebagai alat pelajaran kemoralan. Oleh karena itu, sering-seringlah menemani anak bila ia sedang menonton televisi. Jangan terlalu sering membiarkan anak menonton televisi sendirian. Sebab, acara televisi kadang kurang sesuai untuk pertumbuhan batin anak-anak bila tanpa bimbingan orangtua. Sesungguhnya, televisi bila digunakan dengan benar akan dapat memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan.
Disamping menganjurkan anak melaksanakan Pancasila Buddhis, anak hendaknya juga dikenalkan dengan berbagai bentuk perbuatan buruk selain perbuatan yang disebutkan dalam Pancasila Buddhis,misalnya memaki, memfitnah, berjudi dlsb. Terangkanlah bahwa perbuatan-perbuatan tersebut dapat merugikan atau tidak menyenangkan lingkungan. Pengenalan ini dapat menggunakan media surat kabar ataupun cerita-cerita Buddhis sederhana dan mudah diterima anak-anak. Tujuannya jelas, agar mereka tahu dan berusaha tidak melakukannya.


2. MENGANJURKAN ANAK BERBUAT BAIK
Selain mencegah kejahatan sebagai bentuk aktif negatif, kita juga harus mengarahkan anak melakukan tindakan aktif positif yaitu mengembangkan kebaikan. Tentu saja untuk hal ini juga dibutuhkan beberapa alat bantu. Salah satunya adalah dengan kembali memanfaatkan televisi seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, usaha membacakan atau menceritakan cerita-cerita Buddhis setiap malam sebelum tidur kepada anak-anak akan menumbuhkan konsep berpikir positif yang sesuai dengan Buddha Dhamma dalam diri anak-anak. Anak-anak, menurut Dr. Charles Schaefer, cenderung meniru orang-orang lain yaitu orang yang mereka kagumi dan hormati serta orang-orang yang mereka sayangi yaitu para tokoh masyarakat dan pahlawan dari cerita yang mereka baca atau ketahui (hal. 19). Cerita-cerita Buddhis yang banyak mengambil suasana alam binatang akan lebih mudah diterima dan ditiru anak-anak. Memang, dalam usia tertentu anak akan lebih mudah meniru nasehat yang diberikan oleh tokoh-tokoh binatang.
Suatu bukti nyata, tokoh kartoon yang disukai anak-anak kebanyakan adalah tokoh binatang. Selain itu juga, ajarilah anak-anak menyanyikan lagu-lagu Buddhis sehingga Ajaran Sang Buddha secara sederhana dapat mereka hafalkan melalui lagu yang mereka nyanyikan. Hafal syair lagu ini diharapkan akan membantu anak untuk memiliki keyakinan yang kuat dan pedoman hidup sesuai dengan Buddha Dhamma.
Pokok-pokok perbuatan baik yang perlu dikenalkan kepada anak-anak terutama adalah pengembangan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Sebagai contoh dalam mengembangkan sikap kerelaan pada anak dapat dilakukan dengan membiasakan anak memberikan uang atau makanan kepada pengemis yang datang ke rumah. Dapat juga anak dibiasakan berbagi barang-barang kesukaannya dengan saudara-saudaranya, misalnya saja, mainan ataupun makanan kesukaannnya. Bila hal ini telah dilatih sejak dini maka anak akan memiliki watak penuh welas asih dan akan lebih mudah memaafkan orang lain, lebih-lebih lagi, anak akan lebih menyayangi orangtuanya. Sebagai contoh latihan menyayangi orangtua dapat dibangkitkan dengan jalan membiasakan anak mengingat ulang tahun ayah dan ibunya. Pada hari ulang tahun ayah dan ibunya, anak hendaknya diminta, misalnya menyediakan sebuah bingkisan hadiah atau mungkin memberikan sebagian uang sakunya. Perlu ditekankan di sini, bukan nilai materinya yang penting melainkan nilai perhatian dan kasih sayangnya. Semakin banyak hari dalam setahun yang digunakan untuk mengingat jasa ayah dan ibunya, akan semakin dekat hubungan orangtua dengan anak,begitu pula sebaliknya. Hal ini akan menjadikan anak selalu ingat jasa kebajikan yang telah orangtua berikan kepadanya. 

Dengan demikian, sampai orangtua pikun dan renta pun anak-anak masih sayang dan ingin merawat mereka. Anak-anak akan selalu teringat bahwa dalam Dhamma telah disebutkan bahwa anak yang tidak merawat ayah dan ibunya ketika tua; tidaklah dihitung sebagai anak (Khuddaka Nikaya,393).

Kemoralan yang pada intinya pelaksanaan Pancasila Buddhis pada hari-hari biasa dan pelaksanaan Atthasila atau Delapan Sila pada hari-hari Uposatha dapat dikenalkan pada anak-anak sedikit demi sedikit. Tentu saja contoh dan teladan orangtua amatlah diperlukan. Artinya perbuatan orangtua yang sesuai dengan sila akan lebih mudah ditiru anak daripada nasehat belaka tanpa contoh nyata. Sang Buddha juga bersabda, sebagaimana ia mengajar orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat
(Dhammapada XII, 3). 


Hal senada juga dikatakan oleh Mr. Sigourney, jika Anda menginginkan anak Anda untuk sesuatu ...berusahalah menunjukkan sesuatu itu dalam hidup Anda dan dalam pembicaraan Anda sendiri. Sesungguhnya, tenaga yang paling potensial untuk membuat anak menjadi mahluk sosial adalah dengan mengamati perbuatan oranglain, terutama orangtuanya. Dengan demikian, usahakan setiap hari Uposatha (tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut penanggalan bulan) di cetiya di rumah diadakan pembacaan paritta khusus oleh ayah, ibu dan anak-anak pada pagi hari dan dilanjutkan dengan tekad melaksanakan Delapan Sila pada hari itu. Karena orangtua ikut aktif bersama dengan anak-anak, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak-anak untuk tidak melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak akan berbahagia memiliki orangtua yang bijaksana dan penuh kasih. Dengan demikian, mereka akan memiliki panutan hidup yang jelas. Mereka akan hormat dan kagum pada orangtuanya. Dan Dr. J.C. Dobson pun menuliskan, jika anak-anak dibawa untuk menghormati serta mengagumi orangtuanya, maka banyak kenakalan anak-anak dan kecerobohan dapat dihindari (hal. 105).
Konsentrasi dapat dikenalkan dengan melatih anak bermeditasi sejenak (kira-kira 15 menit) setiap hari. Sebaiknya dua kali sehari yaitu pagi sore setelah membaca paritta bersama ayah dan ibu. Ajarkan anak duduk bersila sesuai dengan petunjuk meditasi yang pernah didapat kemudian anjurkan anak mengucapkan kata "Bud-dho" sebanyak dua puluh kali, misalnya. Karena diucapkan, maka apabila pikiran anak menyimpang kita akan lebih gampang mengawasinya dan kemudian membenahinya.
Tunjukkanlah manfaat meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bila anak telah bersekolah,meditasi akan dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak. Tentunya jika prestasi sekolah anak meningkat maka orangtua pun akan merasa bangga.


3. MEMBERIKAN PENDIDIKAN
Pendidikan yang dimaksudkan di sini meliputi pendidikan lahir dan batin. Pendidikan anak Dewasa dalam Dhamma hal.sesungguhnya diawali dari rumah artinya diperoleh dari orangtua si anak sendiri. Disebutkan dalam Buddha Dhamma bahwa ayah dan ibu adalah guru yang pertama (Khuddaka Nikaya, 286). Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan anak sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Tentu saja pendidikan sejak dalam kandungan lebih bersifat batin daripada badan. Pendidikan batin di sini, salah satunya adalah pendidikan agama yaitu Agama Buddha. Ketika perkawinan sepasang suami istri telah diresmikan di sebuah vihara maka pada saat itulah mereka mulai mempersiapkan diri untuk memberikan pendidikan kepada calon anak-anaknya. Pasangan yang baru hendaknya selalu berusaha menjaga segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatannya agar ditujukan pada kebaikan. Dengan kata lain, mereka mendidik diri mereka sendiri dahulu sebelum memulai mendidik anaknya. Mereka hendaknya berusaha memiliki sebuah cetiya / altar di rumah. Setiap pagi dan sore sediakanlah waktu khusus untuk membaca paritta dan bermeditasi bersama. Pada hari Minggu atau hari kebaktian lainnya, suami istri kiranya dapat meluangkan waktunya untuk pergi ke vihara untuk melaksanakan puja bhakti serta mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. 

Apabila kebiasaan ini terus dilanjutkan pada saat telah terjadi kehamilan, 
maka sesungguhnya kedua calon orangtua tersebut telah siap mengawali tanggung jawab pendidikan anak  yang amat penting. Dalam usia kehamilan tertentu, tujuh bulan misalnya, dapat mengundang teman-teman maupun para bhikkhu untuk membacakan paritta agar anak dalam kandungan memperoleh keselamatan,begitupula ayah dan ibunya hendaknya memperoleh kebahagiaan. Menjelang kelahiran dan kemudian beberapa hari setelah kelahiran, alangkah baiknya bila juga mengundang teman maupun bhikkhu untuk membacakan paritta untuk keselamatan ayah, ibu dan anak. Demikian pula ketika ada peringatan-peringatan penting lainnya, ulang tahun misalnya, maka sungguh amat bermanfaat orangtua mengundang rekan vihara dan juga para bhikkhu untuk membaca paritta di rumah. Dengan demikian, anak telah dikenalkan tradisi Buddhis sejak usia dini. Disebutkan Dobson, hendaknya latihan kerohanian sudah dimulai sebelum anak-anak bisa memahami apakah artinya semua itu (hal. 123). Hal ini menyebabkan dimasa datang anak akan tetap menjadikan Buddha Dhamma sebagai pedoman hidupnya. Karena,meskipun anak-anak akhirnya akan membuat pilihan mereka sendiri dan menentukan arah kehidupan mereka, tetapi keputusan-keputusan itu akan dipengaruhi oleh dasar-dasar yang telah diletakkan oleh orangtuanya (Dobson, hal. 125).

Selain mengundang teman membaca paritta, hal yang jelas tidak boleh dihentikan apalagi dilupakan adalah kegiatan membaca paritta serta meditasi pagi-sore di cetiya di rumah oleh seluruh anggota keluarga. Dalam kegiatan membaca paritta bersama ini dapat pula dilakukan pembahasan Dhamma oleh ayah atau ibu atau mendengarkan pembabaran Dhamma yang terdapat di kaset-kaset rekaman.
Apabila telah tiba saatnya seorang anak masuk sekolah, maka anak akan memperoleh pendidikan ganda. Anak akan tetap memperoleh pendidikan di rumah namun sekaligus juga di sekolah yang telah ditentukan oleh orangtua. Penentuan sekolah ini merupakan hal penting pula. Perlu dijadikan dasar pemikiran pada saat memilih sekolah adalah faktor lingkungan, pergaulan, agama yang dominan di sekolah tersebut di samping masalah jarak rumah ke sekolah dan juga mutu sekolah tentunya. Perlu diingat, bahwa pergaulan anak amat menentukan corak watak anak dimasa depan. Ibarat kayu cendana yang wangi akan memberikan keharuman bagi kertas yang membungkusnya, sebaliknya daging busuk juga akan menyebarkan kebusukannya pada daun yang membungkusnya. Oleh karena itu, sekali lagi,berhati-hatilah memilihkan teman bergaul anak-anak agar tidak menjadikan penyesalan bagi semua fihak nantinya.

Dengan demikian jelas di sini bahwa yang dimaksudkan dengan pendidikan bukan hanya di sekolah saja. Sekolah selain sebagai tempat pendidikan sebenarnya lebih cenderung menjadi tempat pengajaran.Namun, rumah dengan kondisi rumahtangga yang damai dan harmonis antara setiap individu pembentuk rumah tangga adalah menjadi tempat pendidikan anak yang baik sekali.

4. MENYETUJUI CALON PASANGAN HIDUP ANAK
Satu hal wajar dalam proses kehidupan setelah anak beranjak dewasa adalah menentukan teman hidup. Di masa sekarang, pada umumnya anak memilih sendiri calonnya, tinggal tugas orangtua menyeleksi dan memberikan persetujuannya. Apabila calon menantu telah memenuhi persyaratan tertentu dari orangtua maka anak dapat meneruskan hubungan mereka ke jenjang perkawinan. Namun, apabila orangtua kurang berkenan dengan pilihan anak maka hendaknya anak disarankan untuk mencari lagi calon pasangan hidup yang lebih sesuai. Di sinilah peranan orangtua dalam menentukan masa depan anak menjadi amat penting. Orangtua hendaknya dengan bijaksana dan penuh kasih menyelesaikan tugas mulia ini. 
Orangtua dapat menghindarkan diri dari kebingungan di belakang hari karena masalah memilih calon menantu dengan cara seperti yang telah disinggung di atas, yaitu dengan memilihkan anak lingkungan yang sesuai. Bila anak telah terarah pada lingkungan yang benar, maka tentunya calon pasangan hidup pilihannya pun cenderung akan sesuai dengan harapan orangtua. Pilihan yang sesuai tentu saja harus memenuhi kriteria kepantasan dasar yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat keluarga tersebut tinggal. Kriteria kepantasan ini bersifat relatif. Sedangkan kriterian memilih menantu yang terdapat dalam Buddha Dhamma sebagai yang telah disebut dalam Maha Manggala Jataka bahwa pedoman memilih menantu perempuan, ia hendaknya ramah tamah, usia sepadan, setia, baik hati dan mampu memberikan keturunan, memiliki keyakinan, memiliki kemoralan serta berasal dari keluarga baik-baik (Jataka X, 453). Sedangkan kriteria memilih menantu laki-laki, ia hendaknya setia tidak tergolong lelaki hidung belang, pemabuk, penjudi dan pemboros (Parabhava Sutta, 16).
Selain kriteria di atas ada beberapa persyaratan penting lainnya yang perlu diketahui orangtua dalam memilih dan menentukan calon menantu. Persyaratan ini penting karena memperoleh menantu yang sesuai akan dapat menumbuhkan kebahagiaan untuk anak. Sedangkan kebahagiaan anak adalah pasti merupakan kebahagiaan orangtua pula. Pada kitab Anggutara Nikaya II, 59 Sang Buddha memberikan minimal empat kesamaan sebagai persyaratan agar rumah tangga berbahagia. Persyaratan itu adalah memiliki kesamaan dalam keyakinan yaitu yakin dengan Agama Buddha, kemoralan, kedermawanan serta kebijaksanaaan sesuai dengan Dhamma. Bila keempat kesamaan ini dapat dipenuhi maka kebahagiaan pasangan tersebut akan dapat tercapai.


5. MEMBERIKAN WARISAN PADA SAAT YANG SESUAI
Masalah memberikan warisan sering dihindari dalam pembicaraan masyarakat sehari-hari padahal urusan ini banyak menimbulkan perkara antar anggota keluarga bila orangtua telah meninggal. Oleh karena itu dalam tradisi Buddhis, memberikan warisan sebaiknya ketika orangtua masih hidup. Hal ini mempunyai maksud, bila anak ternyata tidak mampu memenuhi harapan orangtua maka orangtua masih dapat memberikan dukungan maupun nasehat yang diperlukan sehingga anak akhirnya akan mampu memperoleh kemajuan sesuai harapan orangtua.Warisan dapat diartikan peninggalan orangtua pada anak baik yang bersifat materi maupun bukan.Warisan yang bukan materi misalnya pendidikan, sopan santun, sikap hidup dan sebagainya. Sedangkan warisan yang dimaksudkan di sini lebih cenderung pada warisan yang bersifat materi. Hal yang penting ditekankan di sini adalah bukan besarnya nilai materi warisan yang diberikan tetapi kegunaan dan kemampuan anak memanfaatkan warisan yang diterimanya. Kemampuan ini tentunya merupakan hasil pendidikan orangtuanya pula. Oleh karena itu, peranan orangtua dalam mengarahkan anak agar memiliki ketrampilan tertentu untuk mempertahankan kehidupan dan menjadi mandiri setelah dewasa adalah menjadi salah satu tanggung jawab utama orangtua.


KESIMPULAN
Masa depan anak, kesuksesan maupun kegagalan banyak dipengaruhi oleh peranan orangtua di masa kecil anak. Komunikasi yang dibina dengan semaksimal mungkin akan memberikan dasar terpenting dalam pendidikan anak. Dasar pembinaan komunikasi adalah dengan menanamkan pengertian pada diri orangtua bahwa bayi adalah manusia sepenuhnya sejak kelahiran (Dobson, hal. 32). Hal inilah yang sering dilupakan oleh orangtua. Orangtua cenderung menganggap anaknya tidak tahu apa-apa. Orangtua merasa tidak perlu memberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan pikirannya kepada anak-anaknya.
Mereka menganggap anak-anaknya belum saatnya berbicara dan berdiskusi tentang sesuatu masalah dalam keluarga tersebut. Padahal mungkin masalah itu berkaitan dengan anak tersebut. Sikap inilah yang akan menghambat komunikasi orangtua dengan anak. 

Namun apabila hal ini dapat disadari dan diperbaiki maka komunikasi akan dapat terjalin baik. Apabila komunikasi telah terbina, maka nilai-nilai apapun yang hendak orangtua tanamkan pada anak akan lebih gampang diterima. Penanaman watak yang penting adalah meningkatkan mutu kebajikan dalam segala bentuk tingkah laku, ucapan dan cara berpikir anak yang benar dan sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Cara penanaman watak baik ini dapat menggunakan beberapa dorongan sebagai pertolongan. Jeremy Benthan, seorang ahli filsafat abad 19, mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua tenaga pendorong yaitu kesenangan dan kesakitan. Oleh karena itu, sistem memberikan hadiah dan hukuman bila diperlukan dapat diterapkan dengan bijaksana dan penuh kasih pada anak-anak. 
Perlu ditambahkan di sini bahwa hukuman atau pengendalian secara fisik haruslah merupakan metoda terakhir dalam usaha mengendalikan anak. Dr. Charles Schaefer menegaskan bahwa paksaan secara fisik bukanlah merupakan hukuman tetapi suatu pencegahan agar anak tidak berbuat hal-hal yang berbahaya dan merusak bagi dirinya sendiri, orang lain, atau benda-benda di sekitarnya (hal. 117).
Dr. Charles Schaefer pernah membuat survey terhadap 2000 orang anak yang menanyakan mereka tentang perubahan apakah yang mereka kehendaki atau inginkan terjadi dalam kehidupan keluarga mereka. Jawaban terbanyak bila diurutkan adalah pelajaran agama lebih banyak, kemudian komunikasi yang lebih baik dan ketiga adalah waktu yang lebih banyak untuk bersama-sama sebagai satu keluarga(hal. 160).
Menyadari sedemikian rindunya anak-anak generasi penerus kita pada kebersamaan dan komunikasi dengan orangtuanya yang telah hilang ditelan kebutuhan, maka renungkanlah sebuah slogan yang mulai sering terdengar: 

SUDAHKAH ANDA PELUK ANAK ANDA HARI INI ?


RENUNGAN



Anak-anak Mempelajari Hal yang Mereka Hayati dalam Hidup,
Kalau seorang anak hidup dengan kritik,
Dia akan belajar mengecam.
Kalau seorang anak hidup dengan kebencian,
Dia akan belajar berkelahi.
Kalau seorang anak hidup dengan ejekan,
Dia akan belajar menjadi pemalu.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa malu,
Dia akan belajar merasa bersalah.
Kalau seorang anak hidup dengan toleransi,
Dia akan belajar sabar.
Kalau seorang anak hidup dengan dorongan,
Dia akan belajar memiliki keyakinan.
Kalau seorang anak hidup dengan pujian,
Dia akan belajar menghargai.
Kalau seorang anak hidup dengan kejujuran,
Dia akan belajar adil.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa aman,
Dia akan belajar mempunyai iman.
Kalau seorang anak hidup dengan persetujuan,
Dia akan belajar menyukai dirinya sendiri.
Kalau seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Dia akan belajar menemukan cinta di dunia.



(Dorothy Noltie,
dikutip Brian Tracy hal. 328-329)


SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.

Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id


Jumat, 21 September 2012

JALAN KE SURGA




Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur. 

(Dhammapada V, 6)


Pembabaran Dhamma hari ini mungkin agak berbeda dengan yang biasa diberikan pada waktu-waktu lampau. Kalau biasanya selalu diuraikan Dhamma tentang bagaimana supaya kita hidup berbahagia didunia, sekarang kita akan melihat dari sisi yang lain. Sesungguhnya, dalam Agama Buddha, ada tiga tujuan hidup yang bisa didapatkan.
Tujuan hidup yang pertama adalah memperoleh hidup bahagia di dunia. Buddha Dhamma
menguraikanberbagai cara dan jalan agar tujuan tersebut dapat tercapai. Sebagai seorang mahasiswa,sebagai seorang pelajar, sebagai seorang tua, sebagai pedagang, sebagai pekerja, dll. dengan melaksanakan Ajaran Sang Buddha pasti akan mencapai tujuan itu. 

Cara kita mendidik anak, sikap anak kepada orang tua, sikap atasan kepada bawahan, sikap bawahan kepada atasan, dan yang lain-lain, telah diajarkan pula oleh Sang Buddha agar orang dapat mencapai tujuan ini.
Tujuan hidup yang kedua sebagai seorang umat Buddha, selain hidup di dunia bahagia, adalah dapat terlahir di surga setelah kehidupan ini. Bahasa sederhana kedua tujuan hidup ini adalah hidup di dunia bahagia, mati pun masuk surga. Kenapa demikian? Karena orang tentunya tidak bisa hidup kekal di dunia.
Sang Buddha telah bersabda bahwa hidup ini tidak pasti, justru kematianlah yang pasti. Kita tahu saat ini sedang hidup, namun kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita masih hidup. Kalau sekarang kita sudah berusaha menjadi mahasiswa yang baik, menjadi orang tua yang baik.... Kemana kita akan pergi setelah mati? Oleh karena itu, kita juga diajarkan cara agar mati masuk surga.

Tujuan hidup yang ketiga lebih tinggi lagi. Tujuan ini juga menjadi tujuan tertinggi seorang umat Buddha yaitu bagaimana agar bisa mencapai Nirwana atau Nibbana. Nirwana atau Nibbana adalah kondisi tidak terlahirkan kembali, baik di dalam kehidupan ini maupun setelah kehidupan ini. Nirwana tidak sama dengan surga. Nirwana adalah konsep Ketuhanan di dalam Agama Buddha, yang kekal, yang abadi. Surga tempatnya lain lagi.
Biasanya kita berbicara tentang bagaimana agar bahagia hidup di dunia. Kali ini akan diceritakan bagaimana pandangan Agama Buddha tentang surga. Apakah seorang umat Buddha bisa masuk surga? Ini merupakan problem yang pertama. Banyak yang mengatakan bahwa umat Buddha tidak punya surga. Walaupun jarang diceritakan tentang surga, bukan berarti Agama Buddha tidak mempunyainya. Bahkan kalau kita melihat kitab suci agama Buddha yaitu Tripitaka, terdapat surga sebanyak 26 tingkat! Jadi, kalau kita sudah siap, boleh langsung 'berangkat' ke surga. Memang, seseorang berangkat ke surga tidak bisa ditentukan sebelumnya, tidak tergantung umur. Orang dapat meninggal walau usia masih muda, tanpa harus menunggu usia tua terlebih dahulu. Hidup ini tidaklah pasti, yang pasti adalah kematian. 


Kita tahu bahwa sekarang ini kita hidup, tetapi kapan kita mati? Hari ini bisa, besok pun bisa. Seratus tahun lagi juga mungkin bisa. Karena itu, marilah kita berbicara tentang surga, karena keberangkatan kita ini tidaklah pasti. Apabila diibaratkan seseorang yang naik pesawat, orang yang meninggal itu sudah take off, sudah lepas landas. Kita yang berada di sini ini baru boarding, sebentar lagi take off. Ada juga yang baru punya tiket saja. Masih lama. Tetapi semua pasti berangkat, tidak ada pilihan lain. Karena itu, apakah seorang umat Buddha bisa masuk surga? Jawabannya: Bisa! Gampang lagi. Karena terlalu gampang sehingga jarang diceritakan. akhirnya orang menduga bahwa dalam Agama Buddha tidak mempunyai surga. Padahal, sebaliknya, amat banyak surganya. Ada 26 surga. Kenapa dibutuhkan 26 surga? Karena sesungguhnya setiap makhluk mempunyai perbuatan baik yang tidak sama banyaknya maupun tingkatannya. Seseorang yang telah berbuat baik sejak kecil, tentu surganya lebih tinggi daripada orang yang berbuat baik hanya ketika akan meninggal. Kalau surga bagi yang berbuat baik ketika akan meninggal sama dengan yang berbuat baik sejak kecil berarti rugi dan tidak adil. Melakukan perbuatan baik itu tidaklah gampang. Perbuatan baik lebih membutuhkan pengendalian diri daripada perbuatan jahat.

Perbuatan baik adalah melatih mengurangi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Itu sulit. Sebaliknya, bila hendak menambah ketamakan, kebencian dan kegelapan batin jauh lebih gampang. Coba orang diberitahu: "Jangan marah. Marah itu jelek." Ia akan menganggukkan kepala, setuju, tetapi tetap saja ia masih suka marah-marah. Kalau kita bisa bersabar, berarti sudah termasuk luar biasa. Karena apa?
Karena memang mengatasi diri sendiri itu sangat sulit. Oleh karena itu, kalau orang sudah bisa mengatasi diri sendiri untuk waktu yang cukup lama, berbuat baiknya juga sudah cukup lama, pasti surganya lebih tinggi daripada mereka yang berbuat baik hanya sedikit. Di dalam Agama Buddha jelas ada surga, bahkan 26 tingkat, sesuai dengan tingkat perbuatan baik yang telah dilakukan oleh seseorang.

Apabila problem pertama sudah terjawab bahwa dalam Agama Buddha ada surga, bahkan 26 tingkat; problem kedua adalah apakah syarat masuk surga? Ini lebih penting, sebab bila kita sudah memenuhi persyaratannya, berangkat ke surga saat ini pun pikiran akan tenang. Tiket sudah siap. Syarat untuk bisa lahir di surga, terdapat di dalam Tripitaka kitab Anguttara Nikaya IV, 288. Disebutkan di sana, agar terlahir di surga, syarat pertama adalah memiliki keyakinan, yakin kepada ajaran Sang Buddha, masuk surga. Apakah hanya dengan berbekal keyakinan saja dapat masuk surga? Dapat! Kenapa tidak pernah disebutkan? Terlalu gampang. Tetapi sekarang akan diceritakan agar diketahui.
Memiliki keyakinan pada Ajaran Sang Buddha langsung masuk surga. Apakah buktinya? 
Ada sebuah cerita di jaman Sang Buddha. Ada seorang anak lelaki yang tinggal dengan ayahnya yang amat kikir/pelit. Begitu kikirnya sehingga kalaupun anaknya sakit, anak itu tidak dibawa ke dokter. Dia berusaha mengobatinya sendiri. Karena dia merasa dokter itu mahal. Karena diobati sendiri maka anaknya tidak sembuh. Malah makin sakit. Si ayah khawatir kalau anaknya akan meninggal. Diletakkannya anak itu di teras rumah agar para tetangga yang datang ke rumahnya tidak akan melihat harta kekayaannya. Karena anak itu diletakkan di teras, maka sakitnya malah tambah berat dan gawat. 
Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang bermeditasi, dengan mata batin Beliau melihat bahwa anak itu akan meninggal hari itu juga. Beliau juga memahami bila anak itu meninggal dalam kondisi seperti ini maka ia akan terlahir di alam menderita. Maka Sang Buddha kemudian bertekad untuk menolong anak tersebut. Sang Buddha sengaja lewat di depan rumahnya. Sang Buddha dengan anggun dan agungnya melangkah lewat di depan rumah itu. Anak itu melihat Sang Buddha. Ketika dia melihat Sang Buddha, dia kagum, terpesona dengan keagungan dan keanggunan Beliau. Pada saat dia melihat dan terpesona, anak ini kemudian bersikap anjali. Merangkapkan kedua tangan di depan dada, menghormat. Kemudian anak itu berseru: "Aku Berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha." Setelah selesai mengucapkan kalimat perlindungan itu sebagai tanda keyakinannya kepada Sang Tiratana, dia meninggal. Dan, memang anak ini terlahir di alam surga. Dengan modal keyakinan (saddha)-lah dia terlahir di alam surga.
Persyaratan pertama adalah memiliki keyakinan (saddha) kepada Ajaran Sang Buddha, seseorang apabila meninggal dapat terlahir di surga. Lebih dari itu, persyaratan kedua, memiliki dan melaksanakan sila atau kemoralan. Latihan kemoralan yang paling sederhana adalah latihan untuk tidak melakukan lima hal, pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Lima latihan kemoralan ini dijalankan, mati masuk surga.

Ada sebuah cerita di jaman dahulu. Pada waktu itu hiduplah seorang penjahat besar, penjahat ini suka membunuh, suka merampok serta berbagai bentuk kejahatan dan kekejaman lainnya. Tetapi penjahat ini mempunyai kebiasaan unik, setiap hari Uposatha atau tanggal 1, 8, 15, 23 menurut penanggalan bulan (Imlek), dia menjalani sila atau latihan kemoralan. Libur, tidak berbuat segala bentuk kejahatan. Selama penjahat ini libur, dia menjalankan sila. Dia betul-betul menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukan. Hari itu adalah hari libur total. Pelaksanaan latihan kemoralan sehari dalam satu minggu ini dilakukannya selama bertahun-tahun. Setelah meninggal dunia, penjahat ini karena kejahatannya, dia terlahir di alam menderita, alam peta. 
Namun, akibat kebiasaannya melaksanakan sila seminggu sekali, ia terlahir di alam Vemanika Peta. Alam Peta ini punya kekhususan. Makhluk yang terlahir di alam Peta ini bila malam merasakan penderitaan yang luar biasa namun bila siang berbahagia di surga. Benar-benar suatu kehidupan yang amat berlawanan. Setengah hari di alam menderita dan setengah hari sisanya di alam bahagia. Terlahir di alam bahagia selama setengah hari ini adalah buah perbuatan baiknya, setiap bulan empat kali menjalankan sila di luar 25 hari yang digunakannya untuk membunuh,mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukan. Jadi kalau kita sekarang setiap hari sudah menjalankan sila dengan baik, tidak membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukan untuk jangka waktu yang lama, lahir di surga kiranya sudah bukan masalah besar lagi.
Tetapi lebih dari keyakinan (saddha) dan kemoralan (sila), agar dapat terlahir di surga persyaratan ke tiga, mengembangkan watak kedermawanan (caga). Ada pula sebuah cerita tentang pengembangan watak kedermawanan sehingga terlahir di surga. Dimasa yang telah sangat lama, ada seorang pemuda yang suka berbuat baik. Ia bersama-sama temannya selalu berusaha memberikan dan melakukan yang terbaik untuk lingkungannya. Apabila ia melihat ada sebuah sungai yang arusnya deras, sehingga banyak orang yang tidak bisa menyeberang, maka orang ini kemudian mengajak 32 orang temannya untuk membangun jembatan. 
Di waktu yang lain, ketika mereka melihat banyak orang berjalan jauh dan kehausan, mereka ber-33 orang sepakat untuk menyediakan tempat-tempat peristirahatan untuk para pengembara ini lengkap dengan tempat makan dan minumnya. Mereka selalu sibuk berbuat baik dengan berbagai macam cara. Melepaskan binatang yang dikurung dan menderita, dsb. Pokoknya, kebahagiaan mereka, 33 orang ini, adalah berbuat baik. kebajikan ini selalu mereka lakukan sampai saat meninggalnya.
Setelah 33 orang ini meninggal dunia, mereka memiliki satu alam surga baru. Surga untuk mereka dinamakan Alam Surga Tiga Puluh Tiga Dewa (tavatimsa).

Dalam Anguttara Nikaya IV, 288 disebutkan bahwa seseorang dapat terlahir di alam surga dengan memiliki persyaratan keempat, kebijaksanaan. Kebijaksanaan di dalam agama Buddha artinya orang yang bisa melihat hidup sebagaimana adanya. Orang yang tidak gampang tergoyahkan batinnya karena proses perubahan dunia. Kehidupan hanyalah berisikan proses sukha-dukkha, untung-rugi, memperoleh pangkat-dipecat, dipuju-dicela. Mereka yang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin pasti akan banyak mengalami kekecewaan menghadapi perubahan dunia. 
Namun, orang setelah mengenal Dhamma, ia akan mengerti bahwa keseimbangan batin dalam menghadapi perubahan akan diperoleh dari pengendalian keinginannya sendiri. Makin keinginan dikendalikan, makin sedikit kekecewaan dialami. Buddha Dhamma telah mengajarkan cara-cara paling praktis untuk mengendalikan keinginan yaitu dengan melatih meditasi. Latihan meditasi yang rutin akan menimbulkan ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran adalah modal utama kebahagiaan. Orang semacam ini ketika masih dalam kehidupan saat ini pun ia telah berbahagia. Apalagi setelah meninggal. 

Empat hal inilah yang harus disiapkan supaya kita dapat hidup di dunia bahagia. Memiliki keyakinan adalah hal penting. Menjaga dan mengembangkan keyakinan juga hal yang tidak boleh dipandang ringan. Menjaga dan menumbuhkan keyakinan salah satu caranya adalah dengan setiap hari Minggu datang ke cetiya atau vihara, membaca Paritta, mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Dari sini akan muncul keyakinan yang kuat pada kebenaran dan keluhuran Dhamma. Apalagi bila sering memperoleh pengalaman dari orang yang telah merasakan manfaat mengikuti Agama Buddha. Manfaat, dapat bersifat batin maupun fisik. Manfaat batin, misalnya memperoleh ketenangan, kesabaran. 

Manfaat fisik, misalnya, memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit tertentu, kesuksesan kerja, terbebas dari suatu bencana, dll.
Sesungguhnya, di dalam kehidupan seorang umat Buddha, banyak juga mengalami mukjizat.
Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan keyakinan kita, sering-seringlah ke vihara, mendengarkan dan diskusi Dhamma. Kemudian selain meningkatkan keyakinan, kita juga hendaknya meningkatkan praktek Dhamma di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tekun mengembangkan kemoralan tidak membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukan. Kemudian mengembangkan kedermawanan: suka memberi, berbagi pikiran, suka menyumbang pikiran, suka menyumbang nasehat, juga suka menyumbang tenaga untuk kegiatan sosial, untuk teman kita, untuk orang tua kita dan akhirnya kita mengembangkan kebijaksanaan dengan meditasi agar dapat menyadari bahwa segala sesuatu adalah proses. Kalau empat hal ini telah dimantapkan, maka jalan ke surga ibarat jalan tol, mulus, lancar sehingga akhirnya akan diperoleh kebahagiaan di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang.

Seperti yang dikatakan dalam syair Dhammapada di atas, seorang bijaksana hendaknya bisa mengenal dan melaksanakan Dhamma walaupun baru sebentar dia mengenal Dhamma. Seperti ibaratnya lidah kita. Lidah akan dapat merasakan sayur walaupun sayur itu hanya sebentar melewatinya. Minum pun juga demikian. Satu tegukan sangat cepat air melewati lidah, tahu-tahu sudah masuk. Walaupun demikian, lidah tetap dapat merasakan rasa manis, pahit, asin ataupun yang lain. Tetapi orang yang tidak bijaksana, diibaratkan seperti sebuah sendok. Sendok, walaupun direndam dalam sayur selama 2 minggu, tetap saja ia tidak dapat merasakan rasa sayur itu. 
Sendok yang setiap hari digunakan untuk menyendok makanan enak dari piring menuju ke mulut, tidak akan pernah dapat merasakan rasa enak makanan itu. Oleh karena itu, dalam mempelajari dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha, ukuran yang digunakan bukan lamanya seseorang telah menjadi umat Buddha, tetapi seberapa banyak dia mengerti dan memahami Dhamma. Walaupun sebentar, walaupun sepintas, tetapi kalau dia langsung mengerti Dhamma dan menembus Dhamma, itu sesungguhnya yang lebih bermanfaat. Kita bisa memanfaatkan hidup dan memanfaatkan Dhamma sehingga memperoleh kebahagiaan.


Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id

http://www.google.co.id/imgreshl=id&sa=X&noj=1&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=lMgbIekgOoZdTM:&imgrefurl=http://darmaharefa.wordpress.com/2012/07/03/bausurga/&docid=uuVR1wRtJKrK9M&imgurl=http://darmaharefa.files.wordpress.com/2012/07/bausurga.jpg&w=315&h=271&ei=KBRcULG4OYvKrAexn4DoCA&zoom=1&iact=rc&dur=614&sig=111097092107907739228&page=2&tbnh=152&tbnw=177&start=21&ndsp=25&ved=1t:429,r:13,s:21,i:187&tx=120&ty=79&biw=1280&bih=880

Kamis, 28 Juni 2012

Pendidikan Seks Untuk Remaja



Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


LATAR BELAKANG

Semakin hari tanggung jawab dan tugas pendidikan orangtua terhadap anak terasa semakin besar. Hal ini dapat terjadi karena di satu sisi, perkembangan dunia khususnya tentang informasi sangatlah luar biasa. Sedangkan di sisi lain, bekal orangtua untuk mendidik anak sangatlah minim. Ledakan arus informasi dapat dilihat dari adanya berbagai siaran TV dari dalam maupun luar negeri yang hampir setiap saat dapat ditonton. Akibatnya, pengetahuan anak sering melampaui orangtuanya. Perkembangan iptek, misalnya, anak dengan gampang dapat menyebutkan dan menanyakan arti istilah “kloning” yang mungkin jarang didengar orangtuanya, apalagi diketahui artinya. Demikian pula dengan adegan ciuman mesra sampai dengan adegan ranjang akan sering terlihat anak di TV. Lebih-lebih lagi bagi remaja yang mempunyai kesempatan memiliki seperangkat komputer yang dapat dihubungkan dengan dunia melalui internet, maka tampilan yang lebih “hot” semakin gampang diperoleh dengan bebas dan cepat.

Sesungguhnya, sebagai bekal mendidik anak, Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188 menyebutkan beberapa tugas orangtua terhadap anak-anaknya antara lain adalah menganjurkan anak berbuat baik, mencegah anak melakukan kejahatan dan memberi kesempatan anak memperoleh pendidikan. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya pendidikan melalui sekolah saja, melainkan juga pendidikan mental kemoralan. Diharapkan dengan mendapatkan pendidikan yang layak anak mampu membedakan antara perbuatan baik dan jahat. Pengertian perbuatan baik maupun jahat bukan saja menyangkut perbuatan sehari-hari yang kita kenal, seperti halnya berdana – mencuri; menolong – membunuh mahluk hidup, bermeditasi – mabuk-mabukan dan sebagainya. Tetapi, termasuk juga menjaga kesusilaan. Secara lebih khusus lagi, memberikan pendidikan agar seseorang - dalam hal ini - remaja, mampu mempergunakan organ seksual dengan benar. Hal ini jelas sekali apabila kita ingat sila ketiga dari Pancasila Buddhis yaitu tekad untuk melatih diri menghindari perjinahan. Dengan kata lain, perjinahan adalah penyalahgunaan organ seksual.

Anak-anak sejak usia dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seksual yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka. Memang, kadang orangtua agak sulit dan canggung untuk memulai bersikap terbuka dengan anak-anak khususnya berbicara tentang pendidikan seksual. Padahal, dengan sikap keliru tersebut, anak justru akan berusaha mencari sendiri pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan seksual dari berbagai sumber yang mungkin kurang layak. Akibatnya, pengetahuan yang diperolehnya pun akan setengah-setengah bahkan mungkin keliru sama sekali. Lebih gawat lagi, akhirnya anak ingin mencoba pengetahuan yang serba tanggung itu. Tentu sebagai hasil akhirnya, kembali orangtua yang akan pusing tujuh keliling mengambil sikap menentukan langkah apabila anak lelakinya terbukti menghamili teman sekolahnya; atau sebaliknya, mungkin anak wanita yang masih belum lulus SMU harus berhenti sekolah karena mengandung. Sungguh hal yang memusingkan.

Untuk menghindari hal itulah maka makalah ini disusun. Diharapkan setelah membaca makalah ini orangtua akan memiliki sedikit pedoman untuk memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Memang, keterangan dalam makalah ini tidak diberikan secara rinci karena dalam pelaksanaannya nanti hendaknya disesuaikan dengan situasi setiap keluarga. Perlu diingat di sini bahwa dalam memberikan pendidikan seksual, memang kita tidak dapat menghindari penggunaan istilah yang untuk sebagian orang dianggap jorok. Tetapi hal itu wajar, seperti yang pernah dikatakan oleh George Bernard Shaw: ”Kita tidak diajari untuk berpikir terhormat tentang seks. Akibatnya, kita tidak mempunyai bahasa untuk seks, kecuali yang tidak terhormat”

PEMBAHASAN

Pendidikan seks adalah upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan kata lain, pendidikan seks pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, serta komitmen agama agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi tersebut. Dengan demikian, pendidikan seks ini bisa disebut juga pendidikan kehidupan berkeluarga.

Tujuan pendidikan seksual
1. Keterangan yang disampaikan adalah untuk menerangi bukan untuk merangsang

2. Memberi pengertian tentang konsekuensi dari setiap prilaku seksual

3. Membantu pengambilan keputusan yang matang dalam masalah seksual yang muncul.

Dari tujuan pendidikan seks di atas, dapatlah disusun beberapa topik yang perlu diberikan kepada remaja, yaitu:

1. Mengenal beda dan fungsi organ seksual pria maupun wanita

2. Mengenal resiko penyalahgunaan organ seksual tersebut

3. Memberikan bekal keagamaan sebagai pedoman pergaulan

1. MENGENALKAN FUNGSI DAN BEDA ORGAN SEKS
Dalam memperkenalkan perbedaan dan fungsi organ seksual pria maupun wanita, orangtua pada tahap pertama dapat menggunakan binatang sebagai alat bantu. Ajaklah anak mengamati perbedaan jenis kelamin antara kucing jantan dengan betina, misalnya. Tunjukkanlah perbedaan yang menonjol di antara kedua jenis kelamin. Kemudian, tunjukkan pula kegiatan seksual mereka. Hal ini dapat diperoleh dari gambar, film TV, atau mungkin kita mengajak anak-anak ke kebun binatang.

Apabila anak mulai mengerti perbedaan kelamin yang ada di sekitarnya, mulai kenalkanlah dengan perbedaan yang ada pada manusia. Dalam tahap ini, peranan orangtua sungguh-sungguh amat penting sebab ayah dan ibu sebenarnya mewakili jenis pria dan wanita. Ayah hendaknya mulai menerangkan setahap demi setahap kepada anak lelakinya tentang perkembangan organ seks yang telah dialaminya. Demikian pula hendaknya seorang ibu menerangkan perkembangan dirinya kepada anak wanitanya. Dalam usaha menerangkan ini, orangtua hendaknya mempunyai sedikit bahan bacaan agar keterangan yang diberikan dapat jelas dan terarah. Pembicaraan terbuka dan penuh persahabatan akan sangat membantu membangun suasana positif dalam memberikan pendidikan seks yang masih cukup sensitif dalam masyarakat kita. Jangan timbulkan suasana penuh ketegangan pada anak, santai saja. Ajaklah mereka berdialog. Dengarkanlah juga pengalaman maupun informasi tentang seks yang mereka dapatkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Apabila informasi yang mereka dengar itu benar, katakanlah benar demikian pula apabila salah, arahkanlah mereka agar tidak tersesat.

2. MENGENALKAN RESIKO PENYALAHGUNAAN ORGAN SEKS

Setelah anak memahami perbedaan fisik antara pria dan wanita, kini orangtua hendaknya secara bijaksana mulai menunjukkan fungsi organ seks tersebut. Organ seks meliputi organ yang ada di luar tubuh, misalnya alat kelamin dan payudara; dan juga yang ada di dalam tubuh, misalnya rahim. Fungsi organ seks sesungguhnya selain digunakan untuk menjalankan berbagai macam aktifitas seksual juga untuk mengandung dan melahirkan. Dalam melaksanakan aktifitas seksual, salah satunya adalah melakukan hubungan seks. Hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang sudah terikat dalam perkawinan. Sebab, sesungguhnya hubungan seks bertujuan untuk:

1. reproduksi (memiliki keturunan)

2. Memperkuat hubungan batin pasangan dan meningkatkan intimitas

3. Memberikan kenikmatan

4. Meningkatkan harga diri

5. Mengendorkan ketegangan

Jelaslah di sini bahwa hubungan seks sebagai sarana coba-coba dan hiburan di antara teman, pacar maupun sembarang lawan jenis adalah keliru! Pengertian ini pantas diingat karena dimasa kini, sering dijumpai remaja dalam masa pacaran telah berani melakukan hubungan seks. Akan tetapi, anehnya masyarakat sekitar sering juga dapat menerima hal semacam ini. Padahal, beberapa waktu yang lalu, apabila terdapat orang yang sedang pacaran ketahuan melakukan hubungan seks maka kejadian itu akan menjadi aib yang sangat memalukan bagi si pelaku maupun keluarganya. Inikah yang disebut kemajuan jaman? Apakah hal ini menunjukkan bahwa tata nilai masyarakat tentang seks sudah mulai berubah? Sesungguhnya, konsep masyarakat tentang seks akan selalu berubah karena memang tidak ada dasar pengambilan pandangan yang jelas, tidak ada kaitan baku yang hakiki. Hal yang dahulu dianggap penyimpangan, sekarang menjadi biasa, homoseksual, penggunaan alat kontrasepsi, misalnya.

Selain itu, penyebab kegiatan seksual pra nikah semakin banyak adalah karena:

1. Makin mundurnya rata-rata usia kawin sehingga desakan seks semakin berlanjut

2. Peralatan KB yang mudah didapat

3. Paling penting, pergeseran konsep cinta dari self-sacrifice (pengorbanan diri) menjadi self-service (melayani dan memuaskan diri sendiri).

4. Masyarakat makin permissive (mengijinkan) terhadap perilaku ini karena mereka pun kebanyakan sudah masuk dalam kelompok self service tersebut.
Hasil penelitian oleh Liu Dalin dari Pusat Penelitian Sosiologi Seks, Shanghai mengungkapkan bahwa 86 % masyarakat kota dapat menerima seks pra nikah walaupun mayoritas responden masih menganggap keperawanan adalah milik wanita yang paling berharga untuk dibawa ke perkawinan.

5. Tekanan dari sesama teman atau pasangannya sendiri:
“Kalau engkau cinta betul padaku, buktikanlah.”
“Jangan ketinggalan jaman, jadi manusia purba.”

6. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kekaburan remaja akan cinta dan seks.
“Saya melakukannya sebab ingin ia mencintai saya.”
“Saya melakukannya sebab saya mencintainya.”

7. Remaja dewasa ini cenderung memberontak terhadap aturan-aturan orangtua, termasuk seks sebagai buah terlarang

8. Rasa ingin tahu dan penasaran akibat pemberitaan yang merangsang atau yang dibesar-besarkan di media massa, internet dlsb. Dalam suasana penasaran akan misteri seks, para remaja pun melakukan ‘riset’ nya sendiri-sendiri.

Meskipun dewasa ini kegiatan seksual pranikah hampir menjadi hal yang wajar, bukan berarti perbuatan ini diperbolehkan dan aman dilakukan, apalagi oleh para remaja. Ada beberapa konsekuensi logis yang mungkin diperoleh si pelaku. Konsekuensi pertama yaitu adanya perubahan yang dirasakan si pelaku pada dirinya sendiri. Perubahan ini meliputi perubahan secara fisik maupun mental. Secara fisik, si pelaku mungkin dapat terkena beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan kegiatan seksual. Bahkan ada kemungkinan kejangkitan penyakit AIDS yang hingga saat ini masih belum dapat diketemukan obat penyembuhnya. Atau, untuk remaja putri, resiko kehamilan sering harus ditanggung sendiri karena ditinggal si pacar setelah mengetahui kehamilannya. Sedangkan secara mental, si pelaku akan sering dibayangi dengan rasa bersalah, malu dan juga rendah diri karena merasa dirinya telah ternoda. Perasaan ini akan muncul dalam diri seseorang yang memang memiliki sedikit kemoralan. Bila tidak memiliki kemoralan sama sekali, mungkin mereka malah bangga dengan “prestasi” penyakit kelamin yang dimilikinya ataupun kehamilan semasa usia remaja ini. Sedangkan untuk mereka yang bermoral, jelas perbuatan yang melanggar sila ke tiga dalam Pancasila Buddhis ini tidak akan ada di dalam kamus kehidupannya.

Selain berpengaruh untuk si pelaku, hubungan seksual pra nikah juga dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan tempat si pelaku berada. Lingkungan pertama adalah orangtua dan keluarga. Mereka, paling tidak, akan malu mempunyai anak yang dipandang kurang bermoral tersebut. Lingkungan yang lain adalah para teman yang mungkin akan mencemoohnya dan bahkan, mengucilkannya.

3. MEMBERIKAN BEKAL KEAGAMAAN

Agama, dalam hal ini Agama Buddha mengajarkan Perbuatan Benar sebagai salah satu dari Jalan Mulia Beruas Delapan (Majjhima Nikaya I, 151), jadi pasti ada pedoman agar para generasi muda tidak gampang terjerumus oleh dampak negatif kemajuan jaman. Pedoman ini tampak jelas dalam peraturan pelaksanaan Pancasila Buddhis (Anguttara Nikaya III, 203). Pancasila Buddhis terdiri dari tekad untuk melatih menghindari pembunuhan serta penganiayaan, pencurian, perjinahan (pelanggaran kesusilaan), kebohongan dan mabuk-mabukan.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa perjinahan adalah merupakan penyalahgunaan organ seks. Adapun syarat suatu perbuatan disebut sebagai pelanggaran kesusilaan adalah:

1. Orang yang tidak pantas dikunjungi / obyek perjinahan

2. Niat melakukan hubungan seksual dengannya

3. Usaha melakukan hubungan seks

4. Terjadi hubungan seks

Berkenaan dengan perjinahan, Sang Buddha menjelaskan bahwa salah satu dari sepuluh cara perbuatan baik (Digha Nikaya II, 322; Digha Nikaya III, 269; Majjhima Nikaya I, 287) adalah: tidak melakukan perjinahan. Sebaliknya salah satu dari sepuluh perbuatan buruk (Digha Nikaya II, 320; Digha Nikaya III, 269; Majjhima Nikaya I, 286) adalah: melakukan perjinahan

Sang Buddha menganjurkan menghindari perjinahan karena perbuatan itu akan menimbulkan akibat yang akan merugikan si pelaku maupun lingkungannya. Salah satu uraian Sang Buddha tentang hal ini terdapat dalam Khuddaka Nikaya, Sutta Nipatta 18, Parabhava Sutta, 18, bahwa:

Barangsiapa tidak puas dengan istrinya sendiri, Terlihat bersama-sama dengan para pelacur dan istri-istri orang lain Inilah sebab musabab dari kemerosotan

Lebih lanjut dalam Anguttara Nikaya IV, 287, Sang Buddha menguraikan bahwa salah satu sebab yang dapat membawa keruntuhan bagi seseorang (Apãyamukha) adalah menggoda wanita.

Bahkan akibat buruk ini tidak hanya dalam kehidupan ini saja, melainkan juga dalam kehidupan yang akan datang, disebutkan bahwa:

Perjinahan, melakukan sendiri, menganjurkan, mengijinkan, ini membawa orang terlahir di alam neraka, di alam binatang, di alam setan; atau sekurang-kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi oleh lingkungannya.

(Anguttara Nikaya VII, 4:4)

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi jelas tidak akan pernah dapat dibendung oleh siapapun juga. Orangtua sebaiknya selain mengawasi perkembangan anak-anaknya, hendaknya juga dapat memberikan pendidikan sebagai pedoman yang jelas agar mereka memiliki kemantapan dalam menapaki kehidupan ini. Pendidikan seks perlu diberikan kepada para remaja sejak usia dini agar mereka dapat mengerti manfaat dan akibat dari penyalahgunaan organ seks mereka. Namun dari semua nasehat, remaja hendaknya diberi bekal moral agar dapat mandiri menghadapi dampak negatif gelombang pergaulan. Hal ini disebabkan kerena orangtua jelas tidak mampu mengawasi anaknya setiap saat. Anak suatu ketika harus dibiarkan mandiri. Bekal moral itu berupa petunjuk Sang Buddha yang terdapat dalam Anguttara Nikaya I, 51:
Hiri : Rasa malu berbuat jahat
Ottappa : Rasa takut akibat perbuatan jahat

Dengan tumbuhnya rasa malu dan takut melakukan perbuatan yang salah, anak akan selalu berusaha menghindari perbuatan keliru di mana pun ia berada. Pancasila Buddhis akan dapat dilaksanakan dengan baik di depan orangtua maupun apabila anak jauh dari orangtua. Sesungguhnya Sang Buddha telah bersabda dalam Khuddaka Nikaya, Jataka, 1048 bahwa tanpa pegetahuan dan tanpa belajar peraturan Vinaya, manusia niscaya akan menempuh kehidupan seperti kerbau buta di tengah rimba.


[ Dikutip dari Buku Dewasa dalam Dhamma, September 1998 ]

MENGHADAPI KRITIK






Oleh : Bhikkhu Uttamo


Mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara. 

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak dicela. 
(Dhammapada XVII, 7)

Hari ini kita bersama memperingati salah satu dari empat hari raya agama Buddha yang cukup penting yaitu hari Asadha. Sebenarnya, Asadha adalah nama bulan dalam penanggalan yang dipergunakan di India. Pada jaman Sang Buddha ketika bulan purnama di bulan Asadha Sang Buddha untuk pertama kalinya membabarkan Dharma kepada dunia. Pada waktu itu Sang Buddha mengajarkan kepada lima pertapa tentang intisari Ajaran Beliau yang disebut dengan Empat Kesunyataan Mulia. Kita dapat membayangkan betapa pentingnya saat Asadha tersebut. Bayangkan saja andaikata Sang Buddha walaupun telah terlahir dan telah mencapai kesucian namun Beliau tidak berkenan membabarkan Dharma! Dunia akan tetap diselimuti oleh awan kegelapan batin.

Kita sekarang dapat mengenal agama Buddha justru karena Sang Buddha berkenan mengajarkan Dharma. Hari ini kita dapat berkumpul di sini, bisa mendengarkan dan berdiskusi Dharma adalah karena jasa besar Sang Buddha. Hampir 3000 tahun yang lalu Beliau memberikan Ajaran Luhur tentang kehidupan kepada dunia.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu memiliki suatu prestasi. Anak-anak sekolah mendapat rapor bagus. lni prestasi. Saudara-saudara yang sudah bekerja memperoleh gaji. Itu juga bagian dari prestasi. Keberhasilan panitia perayaan Asadha ini dalam menyelenggarakan upacara seperti hari ini adalah juga bagian dari prestasi. Apa pun juga yang telah dilakukan dengan sebaik-baiknya di dalam kehidupan itulah prestasi. lbu-ibu mencuci baju, anak-anak membantu orang tuanya adalah merupakan hal yang terbaik yang mampu dikerjakan. Tetapi, hasil yang dikerjakan —baik oleh kita maupun orang lain— biasanya akan menimbulkan dua pandangan umum: pujian dan kritikan. Misalnya, setelah mengikuti upacara ini sebagian umat yang hadir menganggapnya baik dan memuji: "Hebat, acaranya juga bagus". Atau anak yang rapornya bagus dipuji ibunya: "Hebat, rapornya bagus". Masakan seorang istri setelah dicicipi oleh suaminya dipuji, "Enak sekali masakannya". Suami yang membawakan oleh-oleh untuk istrinya di rumah yang telah menunggu berhari-hari dipuji istrinya: "Engkau sungguh baik. Engkau pasti sangat mencintai saya". Kita pasti senang bila dipuji seperti itu. Jadi, bila memperoleh pujian tidak akan menimbulkan masalah dalam diri kita.Sebaliknya kita tidak gampang berlapang dada untuk menerima kritikan. Misalnya dikatakan: "Upacara hari ini sungguh jelek. Berantakan. Semrawut". Telinga kita bisa segera menjadi panas mendengar kritikan semacam itu. Ketika buku rapor dibuka, kritik pun muncul: "Sungguh jelek rapornya". Emosi kita akan naik. lbu sudah bersusah payah memasak dikritik, "Masakannya tidak enak". lbu tadi akan timbul kejengkelan. Sudah susah-susah membelikan oleh-oleh untuk istri diritik, "Oleh-oleh seperti ini saja harus beli dari tempat yang jauh". Emosi dapat meledak! Sekarang bagaimanakah cara kita menghadapi kritikan sesuai dengan Dharma? Dalam Anguttara Nikaya IV, 190 telah dikelompokkan macam-macam reaksi orang yang dikritik. Sewaktu kita memperhatikan reaksi-reaksi yang dijelaskan oleh Sang Buddha, tidak akan ada kata lain yang dapat diucapkan selain: "Sang Buddha memang psikolog yang hebat sekali".
Kita semua pasti akan termasuk salah satu kelompok yang telah dijelaskan oleh Sang Buddha tersebut. Diterangkan dalam Anguttara Nikaya IV, 190 itu, reaksi pertama menghadapi kritikan, paling gampang, paling sederhana adalah bila dikritik kita kemudian berlagak pilon, berlagak bodoh atau memang bodoh sungguh-sungguh. Contoh paling jelas adalah bila ada seorang pengemudi yang langsung memotong jalan tanpa memberikan tanda sebelumnya. Ia seakan tidak ingat bahwa di belakangnya atau di sampingnya masih banyak terdapat kendaraan lain. Akibatnya banyak orang yang dengan gugup berusaha menghindari tabrakan. Bila tabrakan telah dapat dihindarkan maka biasanya dengan geram orang itu akan dimaki: "Hei, monyet buta!" Namun si pengemudi sembrono yang diomeli tadi akan berlagak pilon, tenang-tenang saja, tidak mau melihat kiri maupun ke kanan, santai-santai seakan tidak terjadi apa-apa. Itulah sikap yang paling enteng menghadapi kritikan: berlagak bodoh. Atau bila orang yang dikritik hendak menunjukkan sedikit reaksi dapat pula ia berkata: "Maaf, lupa". Bila ada orang yang ditanya: "Kenapa kamu tidak pergi ke vihara?" "Saya lupa", jawabnya singkat. Mengucapkan kata 'lupa' itulah alasan yang paling gampang. Atau kalau tidak, ia akan berlagak pilon. "Kenapa kamu tidak pergi ke vihara?" "Ada acara apakah di vihara?" Pokoknya ia berlagak pilon. "Bagaimanakanh ini? Rapor jelek sekali?" Ia akan menjawab: "Rapor begitu sudah termasuk bagus". Istri yang dikritik juga dapat bereaksi seperti itu. Sudah bersusah payah memasak tetapi masih dikritik: "Masakannya tidak enak". Maka jawabnya: "Sungguhkah tidak enak? Setahuku sudah enak!" Padahal memang masakannya tidak enak. Tetapi itulah reaksi spontan yang paling gampang. Suami yag hampir kelupaan membelikan hadiah untuk istri, ia membeli barang secara sembarangan dan diberikan pada istrinya. Bila istrinya mengkritik: "Barangnya kurang baik". Sang suami akan mengelak dengan bertanya: "Apakah barang seperti itu jelek?" Inilah reaksi menghadapi kritikan: berlagak pilon. Inilah kelompok pertama. Kita dapat melihat dalam diri kita sendiri bagaimana reaksi kita bila menerima kritikan. Sudah berapa kali kita juga sudah berlagak pilon.

Kelompok kedua adalah orang yang bila dikritik, reaksinya marah-marah. Bila dikritik kita akan segera berseru: "Apakah hakmu mengatakan demikian?" Misalnya acaranya perayaan ini kacau dan semrawut, lalu ada yang mengatakan: "Acaranya kacau". Maka reaksinya adalah pertanyaan penuh emosi: "Kamu termasuk panitia atau bukan? Bila bukan panitia maka tidak perlu banyak bicara!" Dengan penampilan galak serta keras tersebut membuat si pengkritik hilang semangatnya dan kita pun dapat segera terbebas dari kritikan lainnya. Sungguh enak bila berlagak marah. Kalau dicela, "Rapornya jelek". Jawabnya: "Mama jangan sok tahu! Guru saya saja tidak mengatakan demikian! Mama tidak berhak mengatakan hal itu". Kritikan, "Masakanmu tidak enak". Mendapat reaksi, "Ibuku dahulu malah memuji bahwa masakanku enak! Kamu memang tidak tahu selera masakan, kamu tidak berhak mengkritik saya". Dicela dengan, "Oleh-olehmu jelek". Dijawab: "Dasar seleramu rendah. Kamu memang tidak sebanding dengan saya". Inilah kelompok kedua.

Kelompok ketiga lain lagi. Jikalau kita dikritik orang, kita cari teman. Hal ini juga umum sekali. "Mengapa acara perayaan Asadha hari ini sangat kacau?" Dijawab: "Kamu belum tahu kalau Asadha tahun lalu acaranya lebih kacau lagi". Kita cari teman. "Rapormu sungguh jelek". "Ada yang lebih jelek daripada ini, Ma". "Masakanmu tidak enak". Dibantah: "Kemarin masakannya lebih tidak enak, kenapa kamu tidak protes". "Oleh-olehnya tidak bagus". "Biasanya kamu mendapat yang lebih jelek dari ini juga tidak pernah banyak komentar!" Kita selalu berusaha mencari teman supaya kita terbebas dari kritikan.

Kelompok keempat dalam menghadapi kritikan lain lagi reaksinya. Jenis ini sungguh hebat. Jurusnya, cuek bebek, tidak perduli apapun yang dikatakan orang lain. 'Upacara Asadha hari ini jelek'. Ditanggapi dengan satu kata saja: 'Biarin!' Dan lebih parah, lain kali kesalahan itu diulang kembali. 'Rapormu jelek'. 'Jelek, tidak apa-apa'. Orang jenis ini modalnya hanya satu saja: Pokoknya cuek, jalan terus, tidak perduli segala kata dan nasehat orang lain.

Jadi, dalam menghadapi kritikan terkadang kita berusaha unjuk kemarahan, kadang kala kita bersikap cuek, tetapi kita juga bisa ngambek atau patah arang. Inilah kelompok kelima. 'Upacaranya jelek'. Ditanggapi dengan wajah sinis sambil berkata: 'Ya sudah, lain kali saya tidak akan ke vihara lagi'. Sebenarnya perbuatannyalah yang dikritik, hasil kerjanya yang dikritik tidak bagus, tetapi dijawab, 'Lain kali saya tidak mau ke vihara lagi. Di vihara saya malah mendapat kritikan saja'. Sikap ini jelas-jelas keliru. Seharusnya dia memperbaiki diri, bukan malah tidak mau ke vihara. 'Mengapa kamu terlambat datang ke vihara?' "Ya sudahlah. Lain kali saya tidak datang lagi'. Ini namanya ngambek, tidak memperbaiki suasana malahan ngawur. 'Rapornya jelek'. 'Ya sudah, lain kali saya tidak akan berangkat ke sekolah lagi. Malas, dikritik terus'. Masakannya tidak enak'. 'ya sudah, lain kali saya tidak akan memasak lagi'. Begitulah jawaban keras tipe orang yang suka ngambek.

Dari beberapa jenis reaksi menghadapi kritikan yang telah disebutkan tadi, sikap manakah yang paling sering kita lakukan? Jangan-jangan malah semua sering kita kerjakan?! Saudara, peringatan-peringatan hari raya agama Buddha sebenarnya ditujukan untuk mengingatkan kita akan keluhuran pribadi Sang Buddha. Pribadi Sang Buddha itu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah sikap Beliau dalam menghadapi kritikan.

Peraturan kebhikkhuan berbeda dengan peraturan para umat lakukan. Para umat biasa cukup melaksanakan Pancasila Buddhis atau lima sila: menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan serta mabuk-mabukan. Pada hari-hari tertentu, misalnya tanggal satu dan lima belas menurut penanggalan bulan (Imlek), umat dapat melaksanakan Atthasila atau delapan sila, yaitu lima sila yang telah disebutkan di atas dengan ditambah berpuasa setelah jam 12 siang, tidak mengenakan perhiasan maupun wangi-wangian, serta tidak duduk atau berbaring di tempat yang mewah.

Para bhikkhu memiliki 227 peraturan. Peraturan yang sedemikian banyak hampir semuanya muncul karena adanya kritikan para umat. Misalnya umat melihat seorang bhikkhu yang sedang bersiul-siul. Umat segera menyampaikan kritik dan rasa keberatannya kepada Sang Buddha: 'Sungguh tidak pantas untuk bhikkhu bersiul'. Dalam menghadapi kritikan semacam ini reaksi Sang Buddha tidak negatif seperti yang telah disebutkan di atas. Beliau justru menanggapi kritikan dengan penuh pengertian. Dengan kekuatan batinNya, Sang Buddha dapat mengerti bahwa memang benar ada seorang bhikkhu yang bersiul. Kemudian Beliau merumuskan sebuah peraturan baru, 'Mulai sekarang para bhikkhu tidak diperbolehkan bersiul'. Ada hal lain. Ketika umat melihat para bhikkhu suka berenang di sungai maupun di danau para umat kemudian mengkritik: 'Sungguh tidak pantas bagi para bhikkhu untuk berenang'. Kemudian setelah menganalisa kebenaran kritikan para umat tersebut, Sang Buddha merumuskan sebuah peraturan: 'Mulai sekarang para bhikkhu tidak diperkenankan untuk berenang'.

Ada sebuah cerita yang menarik di jaman Sang Buddha. Pada waktu itu, terdapatlah seorang saudagar yang kaya raya. Dia ingin menguji apakah di daratan India masih ada para pertapa yang sakti. Ia juga ingin mengetahui apakah masih ada pertapa yang telah mencapai kesucian dan melatih meditasi dengan baik serta tekun. Oleh karena itu, sebagai ujian kemampuan para pertapa ia menggantungkan sebuah mangkok emas di sebatang bambu kecil yang tinggi. Bambu tadi diolesi minyak seperti kalau jaman sekarang para lomba panjat pinang berhadiah. Hanya saja pada waktu itu ia menggunakan sebatang bambu kecil dengan mangkok emas diujungnya. Pedagang yang kaya raya ini mengatakan: 'Saya hendak melihat pertapa atau bhikkhu manakah yang mampu mengambil mangkok emas itu? Ia yang berhasil mengambilnya adalah pertapa yang sungguh sakti dan suci'. Karena mangkoknya terbuat dari emas, banyak pertapa yang berusaha memanjatnya. Namun karena bambunya licin dan juga kecil, maka hampir tidak mungkin ada yang mencapai ujungnya, apalagi mengambil mangkok emasnya. Sampai tengah hari masih belum ada orang yang mampu mengambil mangkok emas tersebut. Tetapi di antara kerumunan para penonton dan peserta lomba terdapatlah seorang bhikkhu murid Sang Buddha yang telah memiliki kesaktian. Melihat cara para peserta lomba berusaha memanjat batang bambu, bhikkhu itu ingin ikut lomba pula. Setelah tiba gilirannya maka dengan kesaktiannya ia memerintahkan batang bambu itu untuk melengkung ke bawah. Setelah batang bambu itu melengkung, ia dengan santainya mengambil mangkok emas itu. Selesai. Semua orang kagum dan bertepuk tangan, termasuk pedagangnya tadi. Mereka semua memuji kehebatan murid Sang Buddha. Mereka baru percaya bahwa memang murid Sang Buddha telah melatih meditasi dengan baik, memiliki kesaktian yang luar biasa dan juga telah mencapai kesucian. Mereka sungguh baru percaya akan hal itu. Segera kata pujian menyebar ke seluruh kota. Semua kagum dengan Sang Buddha dan para muridNya. Namun ketika Sang Buddha mendengar hal itu, Beliau malahan merumuskan sebuah peraturan baru: 'Mulai hari ini para bhikkhu tidak diperkenankan menunjukkan kesaktiannya'. Peraturan itu dibuat untuk menghindarkan kelompok umat yang hanya tertarik pada kesaktian para bhikkhu. Umat hendaknya tertarik karena keluhuran Ajaran Sang Buddha. Inilah beberapa contoh sikap Sang Buddha yang sungguh bijaksana dalam menanggapi kritikan.

Oleh karena itu, kalau kita mengingat kehidupan Sang Buddha, kita akan dapat melihat cara Sang Buddha menghadapi kritikan dengan bijaksana. Sangat berbeda dengan sikap-sikap yang telah disebutkan dalam Anguttara Nikaya IV, 190 tadi. Sikap negatif menghadapi kritikan memang lazim bagi orang yang belum mengenal agama Buddha. Tetapi bagaimanakah sikap kita menghadapi kritikan setelah kita mengenal agama Buddha?

Sang Buddha suatu ketika pernah ditanya oleh salah seorang siswaNya: 'Bagaimanakah sikap kita bila ada orang memuji? Mungkin ia memuji Ajaran Sang Buddha yang sedemikian luhur'. Sang Buddha memberikan pegarahan bahwa hendaknya menghadapi pujian semacam itu kita harus memiliki batin yang tenang. Bila kita terlalu senang dengan pujian maka akan sulit bagi kita untuk membedakan apakah pujian itu sungguh-sungguh ataukah palsu. Kalau itu hanyalah pujian palsu, kita dapat menanggapinya dengan: 'Maaf, hal itu tidaklah seperti yang dikatakan tadi'. Sebaliknya bila memang pujian itu sungguh-sungguh, maka kita dapat menjawab: 'Memang demikianlah kenyataannya'.

Sebaliknya bagaimana sikap kita bila dikritik? Sang Buddha juga mengarahkan agar kita hendaknya jangan cepat-cepat emosi. Kalau kita emosi maka kita akan sulit membedakan kritikan itu sebagai usaha menjatuhkan mental kita ataukah usaha untuk memperbaiki prestasi kita. Akibatnya, kritikan orang yang berniat baik malah kita tolak. Kita berarti akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, apabila mendapat kritikan yang membangun kita dapat mengatakan: 'Terima kasih, saya akan terus berusaha memperbaiki prestasi'. Namun bila kita mendapat kritikan yang tujuannya menjatuhkan mental kita maka kita dapat menanggapi: 'Maaf, kenyataan sesungguhnya tidak seburuk yang tadi dikatakan'. Inilah seharusnya sikap kita sebagai umat Buddha: Tahan terhadap pujian serta tahan terhadap kritikan. Seharusnya kita bahagia kalau mendapatkan banyak kritikan. Naluri kebanyakan orang hanya senang memperoleh pujian, tidak suka bila mendapat kritikan. Padahal, memperoleh kritikan adalah sama dengan memperoleh perhatian. Kadang-kadang, walaupun kritikan itu kelihatannya sepele tetapi sebenarnya orang itu telah memperhatikan kita. Hanya saja cara memperhatikannya yang mungkin agak kasar, misalnya: 'Kancing bajumu tidak rapi, seperti anak kecil saja!' Bila diambil nilai positifnya berarti dia sampai memperhatikan urusan kancing baju kita juga. Coba bayangkan bila kancing baju kita tidak rapi dan kemudian kita pergi ke pesta. Malu nanti jadinya. Dahulu ada seorang guru yang sangat galak. la memelihara kumis yang lebat: Suatu pagi, sehabis minum susu segar dia terburu-buru berangkat ke kantor. la tidak menyadari bahwa kumisnya yang lebat itu masih berlepotan susu segar, putih warnanya. Tidak ada orang yang berani mengkritiknya. Dengan tenang ia masuk ke kelas untuk mengajar. Semua murid berusaha menahan tawa mereka, apalagi para muridnya memang nakal-nakal. Semuanya tertawa cecikikan bila ia sedang membelakangi kelas, tetapi tetap tidak ada seorangpun yang berani memberitahukan ketidak-beresan ini kepadanya. Padahal bila ada orang yang mau mengkritiknya, berarti ada orang yang mau memperhatikannya pula. Sebetulnya hanya dengan satu kali usapan ringan saja maka masalah di kumisnya akan beres! Jadi, sekali lagi, orang yang mengkritik kita sesungguhnya ia telah memperhatikan kita walaupun dengan cara yang agak kurang halus. Oleh karena itu, tanggapilah kritikan yang kita terima secara positif. Tanggapilah kritikan itu sebagai perhatian orang kepada kita. Kemudian, seperti yang telah dicontohkan oleh Sang Buddha, renungkanlah sendiri apakah kritikan itu memang benar? Apakah memang sikap kita salah sehingga dia mengkritik kita? Kalau memang kita salah dan kritikannya benar, kita harus bertekad: 'Saya akan berusaha memperbaiki diri saya'.

Jadi, apabila kita mendapat kritikan: 'Upacara Asadhanya semrawut', kita harus merenungkannya dahulu. Bila memang demikian, kita hendaknya menjawab: 'Terima kasih, saya akan berusaha memperbaikinya'. Jangan kita berlagak pilon jangan ngambek, jangan marah, dan jangan emosi. Kita harus memperbaiki segala kekurangan kita. 'Rapormu jelek'. Tanggapilah dengan kata-kata: 'Jelek di bagian yang mana? Akan saya perbaiki di masa mendatang'. 'Masakanmu tidak enak?' 'Tidak enaknya bagaimana? Kalau terlalu asin, atau terlalu manis, akan saya tambahi bumbu yang lain'. 'Oleh-olehmu tidak baik'. Kita harus merenungkan kembali bahwa kita mungkin belum mengerti seleranya. Dengan demikian, maka segala macam kritikan yang kita terima dapat kita gunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Jadi, kalau gaya bahasa kita dikritik, tingkah laku kita dikritik, sebetulnya teman yang mengkritik itu menginginkan agar kita dapat lebih baik daripada saat ini. Bila tidak ada orang yang berani memberikan kritikan kepada kita, apakah berarti kita telah sempurna? Justru makin sulit kehidupan kita nantinya!

Sebuah contoh lagi, misalnya kita memiliki seorang anak. Anak itu sangat dimanja. Anak yang dimanja berarti anak yang tidak pemah dikritik orangtuanya. Apabila dia besar nantinya, ia akan hidup dalam penderitaan. Begitu dia menjumpai orang yang mengkritiknya, dia langsung mengalami stres, menangis. Apabila tidak tercapai keinginannya, dia stres, menangis. Tetapi bila anak tidak dimanja, dia dikritik jika bersalah. Merusak barang, dilarang. Berlarian di tempat yang licin dilarang... maka dia akan menjadi anak yang tabah menghadapi kesulitan hidup. Sesungguhnya, dalam kehidupan kita, bila kita berbicara akan dicela, kita diam pun akan dicela. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari celaan!

Satu contoh lagi. Pada setiap hari Minggu kita pergi ke vihara. Dalam pikiran kita, hal itu adalah termasuk perbuatan baik. Tetapi orang dapat menganggapnya sebagai perbuatan yang tidak baik. 'Mengapa hari Minggu harus ke vihara? Bukankah lebih enak keluar kota untuk acara keluarga, Kenapa pula harus bersibuk-sibuk di vihara? Lebih baik di rumah menyaksikan siaran televisi! Bukankah kita telah lelah selama 6 hari kerja, sekarang hari Minggu sebaiknya di rumah saja, santai-santai bersama keluarga'. Kita ada kemungkinan memperoleh kritikan semcam itu. Sebaliknya bila kita pada hari Minggu tetap tinggal di rumah maka orang lain akan memberikan kritikannya pula: 'Kenapa hari Minggu tinggal dalam rumah? Pergilah ke vihara, manfaatkanlah waktu dengan belajar dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha'. Sekali lagi kita terkena kritikan. ltulah sebabnya Sang Buddha menyatakan bahwa jika kita diam akan dikritik, berbicara pun akan dikritik. Tidak akan ada orang yang terbebas dari kritikan.

Oleh karena itu, dalam menghadapi kritikan yang terpenting adalah sikap batin kita. Kita harus siap menghadapi kritikan. Kita hendaknya juga mampu bersikap netral terhadap kritikan. Tumbuhkanlah dalam perenungan kita bahwa orang yang mengkritik kita sesungguhnya adalah orang yang memperhatikan kita. Kemudian hendaknya kita juga mampu memisahkan antara kritik yang membangun atau menghancurkan. Jadi, bila kita dikritik: 'Sering pergi ke vihara agar tampak suci, kan?' Ini adalah kritikan yang tidak benar. Bila dikritik: 'Kenapa harus pergi ke vihara? Berjudi saja lebih bermanfaat'. Ini juga merupakan kritikan yang tidak sehat. Biarkan saja. Sebaliknya, bila ada orang yang mengatakan: 'Mengapa kamu berjudi? Lebih bermanfaat kalau pergi ke vihara'. Kritikan ini sebaiknya kita ikuti. Jadi kita harus mampu memilah-milah sendiri.

Dengan demikian, hendaknya kita jangan takut dikritik, tetapi juga jangan semua kritikan yang kita terima kemudian kita ikuti. Dengarkanlah dahulu, renungkanlah dahulu. Bila kritikan itu membawa manfaat, gunakanlah kritikan itu untuk mengubah sikap hidup kita. Tetapi bila kritikan itu tidak bermanfaat, lupakanlah kritikan itu sebagai angin lalu, kemudian buktikanlah bahwa kita tidak sejelek yang dikritikkan tadi.

Semoga kita semua memperoleh manfaat dari perayaan Asadha ini. Hendaknya kita dapat memetik hikmah perayaan Asadha ini dengan merenungkan bahwa dalam kehidupan hendaknya kita memiliki arah dan tujuan hidup, sehingga segala kritikan maupun pujian akan menjadi hal yang bermanfaat bagi kita. Selamat Asadha 2540, semoga Saudara berbahagia di dalam mempelajari dan melaksanakan Buddha Dharma. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing.***



Sumber:


AGAMA BUDDHA PEDOMAN HIDUPKU; Bhikkhu Uttamo; Malang Indah Grafika, Malang, 1997.

Menggali Sebuah Impian


Oleh : Bhikkhu Uttamo

“ATITAM NANVAGAMEYYA,
NAPPATIKANKHE ANAGATAM.
YADATITAMPAHINATAM,
APPATANCA ANAGATAM.”
“Janganlah seseorang menyesali masa lalu,
atau melamun tentang masa mendatang.
Yang lalu sudah lewat,
yang akan datang belumlah tiba.”


Dulu, ketika kita masih kecil, kita sering ditanya oleh orang tua kita, tetangga, teman dan oleh siapa saja yang bertemu dengan kita. Maklum anak kecil, jawabannya tentu sangat polos. Aku mau menjadi guru, aku mau jadi pilot, aku mau jadi presiden, dan lain-lain jawabannya. Apakah cita cita yang dilontarkan pada masa kecil itu akan menjadi kenyataan? Tidak. Tidak semua cita-cita kita bisa tercapai, bahkan cita cita itu terkadang tidak sama dengan kemampuan kita sehingga kandas di tengah jalan.

Seperti halnya yang saya alami sekarang. Dahulu saya tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi bhikkhu, namun saat ini saya menjadi seorang bhikkhu. Cita cita hanyalah tinggal cita cita dan hanya menjadi sebuah kenangan.

Masing-masing orang mempunyai kemampuan yang tidak sama, karena pengalaman masa lampaunya yang tidak sama.

Dalam Brahma Vihara ada syair yang berbunyi :

 Sabbe satta
Kammassaka
Kammadayada
Kammayoni
Kammabhandhu
Kammapatisarana
Yam kammam karissanti
Kalyanam va papakam va
Tassa dayada bavissanti 

Semua makhluk
Memiliki kammanya sendiri
Mewarisi kammanya sendiri
Lahir dari kammanya sendiri
Berhubungan dengan kammanya sendiri
Apapun kamma yang diperbuatnnya
Baik atau buruk
Itulah yang akan diwarisinya. 


Dari syair di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing orang mempunyai potensi yang tidak sama, tergantung dari proses kammanya dan tentunya kondisi yang ada. Jadi kita tidak bisa iri dengan orang yang sukses dan juga tidak perlu merasa rendah kalau saat ini kita belum berhasil. Orang bisa saja sukses dengan potensi yang ada dalam dirinya, menjadi dokter, teknisi, ekonom, birokrat, dan lain sebagainya.

Dua potensi

Sebenarnya ada dua potensi yang ada dalam diri manusia yang jika dikembangkan akan membawa kebahagiaan.
Potensi yang dapat dikembangkan oleh manusia itu ada dua macam yaitu :

Potensi keduniawian.
Potensi spiritual.

Dua potensi ini jika diarahkan dan dikembangkan akan menuju kepada kebahagiaan duniawi dan batin.
Potensi duniawi tentunya hanya mengarah kepada harta, kehormatan, kedudukan, istri yang cantik atau suami yang tampan, dan kebahagiaan yang bersifat duniawi lainnya. Dan sifatnya hanya sementara.
Potensi spiritual juga akan membawa kebahagiaan dan kebahagiaan spiritual ini terus menerus akan membawa kedamaian batin.

Cita-cita duniawi dan cita-cita spiritual ini tidak mudah kita dapatkan, semuanya memerlukan tekad, usaha, perjuangan dan pengorbanan. Tanpa adanya faktor faktor tersebut adalah tidak mungkin cita cita itu berhasil dicapai. Bolehkah kita bercita-cita? Tentunya yang bersifat positif, tetapi harus kita ingat bahwa berhasil atau mungkin gagal akan kita hadapi.

Cara Menghadapi Masa Depan

Suatu hari ada seorang bapak yang datang ke vihara. Orang itu kelihatan seperti orang yang putus asa. Kebetulan waktu itu saya sendiri yang menemui orang itu. Orang tersebut bertanya kepada saya, “Bhante, hidup ini tidak menyenangkan, rutinitas hidup yang saya hadapi hanya itu-itu saja. Pernah orang mengatakan bahwa masa depan saya suram. Tolong Bhante, saya diramal atau dikasih jimat ataupun mantra yang ampuh. Supaya saya hidup mantap menghadapi masa depan.”
Tentu saja yang saya berikan bukan jimat sembarangan, tapi jimat Dhamma.

Kemudian orang ini saya arahkan sampai memahami benar tentang makna sebuah kehidupan.

Kisah seperti di atas bukan hanya dialami oleh seorang bapak dalam cerita di atas saja, tetapi juga dialami oleh banyak orang. Pada saat dihadapkan pada realita kehidupan muncul benih-benih keraguan, kecemasan bahkan takut menghadapi masa depan. Terkadang masa depan menjadi momok bagi sebagian besar orang. Mereka pergi ke tukang ramal, ke dukun, ke tempat-tempat keramat yang dianggap mempunyai kekuatan gaib dan magis untuk menghadapi realita kehidupan. Seorang pelajar cemas menghadapi masa-masa setelah ia selesai sekolah. Seorang dewasa cemas menghadapi kehidupan berumah tangga. Orang tua cemas menghadapi masa tuanya. Inilah yang sering muncul dalam kehidupan manusia.

Semua orang menginginkan hidupnya sukses, tetapi mereka terkadang hanya berhenti di angan-angan belaka. Sebagian besar orang hanya bisa menghayalkan cita cita, kalau harapan itu tidak disertai tindakan nyata juga memunculkan rasa kecemasan. Karena yang namanya menghayal tentunya tidak menjadi kenyataan. Pada saat hidupnya tidak seperti yang terjadi dalam mimpi-mimpinya, muncul rasa sedih, kecewa, cemas, takut, bahkan putus asa.

Jangan hanya sekedar bermimpi karena hidup bukanlah mimpi. Tetapi mimpi adalah bagian dari kehidupan.

Kita juga harus ingat bahwa yang namanya cita-cita itu kadang-kadang bisa sukses dan bisa juga gagal. Oleh karenanya yang terpenting dalam hidup ini adalah usaha meraih cita-cita, tetapi harus disertai kebijaksanaan. Jangan melekat pada cita-cita. Semakin melekat pada cita cita, maka rasa cemas semakin berkembang. Kalau cita-cita itu berhasil, kita tidak akan merasa cemas. Jika keberhasilan itu berubah menjadi sebuah kejatuhan maka kita harus tetap tegar dalam menghadapinya. Begitu pula saat menghadapi kegagalan akan timbul rasa putus asa, kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi hidup ini. Iringilah cita-cita atau harapan kita dengan Dhamma, maka saat mengalami apapun yang baik ataupun yang buruk maka rasa cemas tidak akan berkembang.

Jika Anda sering ikut meditasi di vihara, cetiya atau pusat-pusat meditasi lainnya, maka Anda akan mendengar kalimat “hidup saat ini”. Kalimat ini sering diungkapkan guru-guru meditasi kepada siswanya. Kalau kita tidak memahami kalimat itu maka aikan muncul pandangan yang keliru tentang agama Buddha. Hidup saat ini seolah-olah hanya diarahkan untuk hidup pasrah, tidak punya harapan, kosong, hanya menerima apa yang ada.

Kalimat ini sering disalah artikan oleh orang yang belum memahami ajaran agama Buddha sehingga mempunyai pandangan bahwa agama Buddha itu pesimis, tidak ada gairah hidup, loyo, hampa. Memang Sang Buddha dan para siswa Arya pernah berpesan, “hidup saat ini” tetapi bukan berarti agama Buddha tidak mengajarkan tentang misi dan visi.
Pernyataan orang itu salah dan wajar karena mereka belum mengerti.
Saat ditanya mengapa makhluk-makhluk mulia yang telah mengembangkan pikiran mereka kelihatan demikian tenang dan bersinar?

Sang Buddha menjawab :
“Mereka tidak sedih pada masa lalu, mereka tak mengejar apa yang belum datang.
Saat sekarang cukup buat mereka karenanya mereka demikian bercahaya.
Merindukan masa depan, menyesali masa lalu, dengan cara ini orang dungu merana seperti ilalang yang dibakar.”

Rahasia hidup bahagia dan sukses terletak pada apa yang dilakukan pada saat ini. Kita jangan cemas pada masa lalu dan masa depan. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk membetulkan apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu, dan kita juga tidak dapat mengantisipasi apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Karena kondisi dunia yang terus menerus berubah, maka hanya ada satu momen yang bisa dikendalikan secara sadar adalah saat ini.

Salahkah punya keinginan?

Pertanyaan ini sering muncul dalam diri umat Buddha sendiri. Hal ini wajar karena umat Buddha setiap saat mendengarkan ceramah terkadang menduga kalimat “kurangi keinginan”. Mengurangi keinginan yang dimaksud adalah keinginan rendah yang egois, yang hanya mengumbar keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang tidak membawa manfaat spiritual. Jika cita-cita atau keinginan kita tidak didasari oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin tentunya akan membawa manfaat bagi kehidupan kita.

Seperti halnya Sang Buddha, Beliau sebelumnya juga mempunyai keinginan menjadi seorang Sammasambuddha.

Keinginan Sang Buddha bukanlah keinginan rendah, tetapi keinginan yang membawa kehidupan spiritual diriNya sendiri dan tentunya bagi semua makhluk. Boleh saja kita mempunyai cita-cita, tentunya cita-cita itu harus membawa manfaat bagi kehidupan spiritual kita. Cita-cita duniawi hanyalah sebagai sarana untuk kesuksesan cita-cita spiritual kita. Jadi jangan sampai potensi dunia ini disalah-artikan yang akhirnya membawa kemerosotan batin.

Dalam mencapai keberhasilan tentunya perlu adanya program atau perencanaan.
Seperti halnya Sang Buddha, setelah Beliau bertekad dihadapan Buddha Dipankara, Beliau kemudian menyempurnakan Dasa Paramita untuk mencapai kesempurnaan dan akhirnya berhasil menjadi Buddha.

Cita-cita yang tanpa disertai tindakan hanya akan menjadi impian saja.
Untuk sukses duniawi kita perlu kerja keras sesuai dengan profesi masing-masing baik sebagai dokter, birokrat, ekonom, petani dan lain sebagainya.
Begitu pula dalam hal cita-cita spiritual kita juga harus mempunyai kemauan, usaha, pengorbanan, dan kesabaran.
Niscaya dengan faktor-faktor ini cita-cita kita akan tercapai.

Misi dan visi sudah ada, tetapi program ini harus disertai tindakan yang nyata dan jelas.
Walaupun programnya bagus tetapi tidak ada tindakan nyata dan jelas, maka program inipun hanya tinggal program. Benih-benih kesuksesan tidak akan nampak.

Sekarang muncul sebuah pertanyaan, kapan waktunya yang tepat untuk melakukan tindakan yang nyata sehingga program itu terlaksana?

Dalam Samyutta Nikaya I, 227, Sang Buddha bersabda :
“Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik.
Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

Dari sabda Sang Buddha tersebut jelas disebutkan tentang perencanaan yang matang sehingga membuahkan hasil yang bagus. Kurang hati-hati dalam berencana akan berakibat fatal, bukannya kesuksesan tapi kehancuran yang didapatkan. Kesempatan yang baik untuk berencana adalah pada saat badan ktia sehat, karena dengan fisik yang sehat kita akan dapat menjalankan tugas dengan baik. Sebaliknya, jika kondisi badan kita tidak sehat sangat sulit untuk menjalankan perencanaan hidup.

Sewaktu masih ada kesempatan untuk melakukan hal yang positif, maka gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya.

Perencanaan hidup yang matang akan mengakibatkan perubahan yang pesat. Oleh karena itu tidak perlu cemas terhadap masa depan. Orang merasa cemas yang berlebihan terhadap kesehatan keluarganya, penghasilan, nama baik dan harta kekayaan. Mereka berusaha membuat stabil yang malah menjadi tidak stabil. Semakin mereka mecemaskan masa depan, semakin mereka merasa kehilangan rasa percaya diri dalam hidup ini, dan mulailah mereka mengembangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri. Orang yang terus meneruskan berusaha mempertahankan kestabilan hidup, tidak pernah mengenal kata kedamaian pikiran.

Orang yang percaya kepada nasib akan berpikir bahwa ini sudah ditakdirkan, ini sudah ditentukan untukku oleh Makhluk Agung. Karena aku harus berdoa kepada Makhluk Agung untuk memperbaiki nasibku. Ia bahkan akan berdoa dengan mengabaikan kewajibannya setiap hari. Jika yakin terhadap hukum kamma, maka kita akan memahami hal ini sebagai hasil dari apa yang telah kita lakukan pada masa yang silam. Dan kita mestinya memperbanyak perbuatan baik dan menguatkan pikiran kita dengan meditasi. Dengan berbuat demikian, benih-benih kesuksesan akan berkembang.

Segala bentuk keinginan yang positif disertai dengan perencanaan yang matang dan dilaksanakan pada saat yang tepat serta berpegang pada hidup saat ini akan menghasilakan kesuksesan yang mantap. Oleh karena itu kita harus menjaga cita-cita ini sehingga kesuksesan itu berjalan sesuai dengan Dhamma.

Hidup Saat Ini Dan Perencanaan Hidup

Hidup saat ini dan perencanaan hidup kelihatannya bertentangan. Akan tetapi hidup saat ini dan perencanaan adalah hal yang sejalan. Hidup saat ini mengingatkan kita untuk tidak melekat pada keinginan kita, karena segala keinginan itu akan dihadapkan dengan keberhasilan dan kegagalan. Memahami keberhasilan dan kegagalan itu akan membuat pikiran kita damai setiap saat.

Terlalu melekat pada target perencanaan hidup akan mengakibatkan kesedihan, kekecewaan bahkan putus asa. Segala sesuatu kadang-kadang tidak sesuai dengan bayangan kita. Sedih, kecewa, dan putus asa muncul karena kita hanya bisa menerima satu sisi yaitu target kesuksesan, padahal kegagalan juga akan kita hadapi dan harus kita terima kenyataannya. Banyak orang menjadi putus asa menghadapi hidup ini gara-gara tidak bisa menerima kenyataan hidup. Kita harus bisa bersikap realistis dalam menghadapi kenyataan hidup ini.

Hidup saat ini dan perencanaan hidup sebenarnya merupakan dua hal yang selaras dan tidak bertentangan karena keduanya sesuai dengan Dhamma. Hidup saat ini sebagai kontrol perencanaan hidup sehingga jika terjadi kegagalan tidak mudah bersedih. Kecewa maupun putus asa. Sebaliknya, jika terjadi keberhasilan tidak mudah sombong, angkuh, dan takabur.

Dengan demikian, tidak perlu cemas menyongsong masa depan hidup kita karena jika kita dapat menindaklanjuti perencanaan hidup dengan prinsip saat ini maka kecemasan itu akan sirna dan kita akan mantap dalam menghadapi masa depan.

Cemas terhadap masa depan adalah hal yang keliru dan harus diluruskan.
Kita harus siap menghadapi masa depan dengan perencanaan yang matang disertai dengan prinsip hidup saat ini. Seperti halnya orang mengharapkan tahun baru yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Semua orang berharap tahun baru harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun yang pasti adalah tindakan yang nyata pada saat sekarang sebab hal ini menentukan hari esok.

Semoga sukses selalu ada pada Anda semua dan selalu dalam lindungan Sang Tiratana.

Kalagatanca hapeti attham.
Orang yang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan.
(Khuddaka Nikaya, Jataka Chakkanipata)

[Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.25/Tahun VIII/2002.]