Kamis, 29 November 2012

Living Meaningfully, Dying Joyfully

 Oleh Ajahn Brahm

Di dalam presentasi ini, saya akan menggunakan cerita-cerita dan anekdot-anekdot, beberapa cerita humor, untuk menunjukkan bagaimana caranya agar kita bisa menemukan sendiri arti dari kehidupan, untuk menjalani kehidupan yang berarti. Lalu, saya akan menunjukkan bahwa menjalani kehidupan yang berarti, yang sesuai dengan Dharma, akan mengatasi kesedihan karena kehilangan, dan memungkinkan kita meninggal dunia dengan sukacita.

oooooooo

Pada musim panas tahun 1969, beberapa saat setelah hari ulangtahun saya yang ke-18, saya sedang menikmati pengalaman pertama saya di hutan tropis. Saya sedang berwisata ke Semenanjung Yucatan di bagian timur laut Guatemala, menuju ke suatu daerah di mana baru saja ditemukan piramid-piramid peninggalan peradaban Maya yang telah lenyap.

Pada masa-masa itu, perjalanan sangatlah sulit. Perlu tiga atau empat hari bagi saya untuk menjelajahi beberapa ratus kilometer dari Guatemala City menuju ke kompleks kuil yang telah runtuh berantakan yang dikenal dengan nama Tical. Saya menelusuri sungai-sungai hutan belantara yang sempit dengan menggunakan perahu nelayan yang berlumuran minyak, menempuh perjalanan darat melalui jalan-jalan yang berdebu dengan duduk di atas tumpukan barang di belakang truk, dan melalui jalan-jalan kecil hutan rimba dengan memakai angkong yang sudah bobrok. Itu adalah suatu daerah yang terpencil, miskin dan belum tersentuh tangan manusia.

Ketika pada akhirnya saya tiba di areal kuil-kuil yang telah diabaikan dan piramid-piramid kuno yang begitu luas itu, saya tidak punya seorang pemandu wisata atau buku-buku pemandu untuk memberitahukan saya arti dari monumen-monumen batu yang menjulang ke langit dan yang begitu mengagumkan itu. Tidak ada seorang pun di sana. Jadi, saya pun mulai memanjat salah satu dari piramid-piramid yang tinggi itu.

Begitu sampai di puncaknya, tiba-tiba saya memahami arti dari sebuah piramid, apa tujuannya.

Selama tiga hari itu, saya menjelajahi hutan belantara itu sendirian. Jalan-jalan, gang-gang kecil dan sungai, adalah seperti terowongan yang melalui hutan yang begitu lebat. Hutan belantara dengan cepat menjadi langit-langit yang menutupi setiap jalan yang saya telusuri. Saya tidak bisa melihat langit selama berhari-hari. Bahkan, saya sama sekali tidak bisa melihat apa pun yang ada di depan sana. Saya berada di tengah-tengah hutan rimba.

Di puncak piramid itu, saya berada di atas segala macam penghalang dari hutan rimba. Saya tidak hanya bisa melihat posisi saya di tengah-tengah pemandangan yang terbentang luas di hadapan saya, tetapi sekarang saya juga bisa melihat ke segala arah, tanpa batas.

Berdiri di atas sana seolah-olah sedang berada di puncak dunia, saya membayangkan bagaimana jadinya bagi seorang Indian Maya yang masih muda yang dilahirkan di hutan, dibesarkan di hutan, yang menjalani seluruh kehidupan mereka di hutan. Saya membayangkan mereka di dalam beberapa ritual keagamaan, di mana mereka dituntun secara perlahan-lahan dengan tangan oleh seorang suci yang sudah tua, naik ke puncak sebuah piramid untuk pertama kalinya.

Ketika mereka naik melampaui ketinggian pepohonan dan menyibak dunia hutan belantara mereka yang terbentang di hadapan mereka, ketika mereka menerawang dengan melampaui batas dunia mereka ke angkasa dan di atasnya, mereka akan melihat kekosongan di atas sana dan di sekelilingnya, tanpa ada sesuatu dan seorang pun di antara mereka dan ketanpabatasan. Hati mereka akan dipenuhi oleh simbol-simbol Kebenaran Sejati yang jelas. Pemahaman akan tumbuh dan membuahkan hasilnya. Mereka akan memahami posisi mereka di dalam dunia mereka, dan mereka telah menyaksikan ketanpabatasan, kekosongan, yang mengelilingi semuanya. Mereka telah menemukan arti dari kehidupan mereka.

oooooooo

Menjalani kehidupan yang berarti, memerlukan pengetahuan dan pemahaman mendalam seperti ini. Kita semua perlu menyediakan waktu dan kedamaian untuk mendaki piramid yang ada di dalam diri kita masing-masing, untuk berdiri di atas dan melampaui segala penghalang dari hutan belantara di dalam kehidupan kita, meskipun untuk waktu yang singkat saja. Lalu, kita akan melihat sendiri posisi kita di tengah-tengah segala sesuatunya, kilasan singkat dari perjalanan hidup kita, dan memandang bebas pada ketanpabatasan yang memegang semuanya. Sebut saja itu meditasi jika anda suka, pengetahuan yang senyap atau penglihatan yang tidak bergerak. Ia seperti seorang Indian Maya yang naik ke puncak piramid dan melampaui hutan belantara tempat tinggalnya, untuk menemukan arti dari kehidupan.

oooooooo

Saya bisa saja memberitahukan anda apa yang dimaksud dengan “menjalani kehidupan yang berarti” itu, tetapi itu hanya akan menambah satu lagi filosofi ke dalam kebingungan ilmu pengetahuan spiritual yang mungkin saja telah membebani anda selama ini. Salah satu keindahan dari Buddhisme adalah bahwa ia tidak mengatakan kepada anda apa yang harus anda percayai, tetapi ia memberitahukan anda bagaimana cara untuk menemukannya.

Sebagai contoh, selama bertahun-tahun, saya mempercayai apa yang orang lain katakan kepada saya tentang kebahagiaan.

Ketika saya berumur 14 tahun, saya sedang belajar untuk menghadapi ujian O-level saya di sebuah SMA di London. Orangtua saya dan guru-guru menasehati saya untuk berhenti bermain sepakbola di sore hari dan pada akhir pekan, agar saya bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah saya di rumah. Mereka menjelaskan betapa pentingnya ujian O-level itu dan jika saya bisa lulus, maka saya akan bahagia.

Jadi, saya pun menuruti nasehat mereka dan lulus ujian dengan hasil yang sangat baik. Tetapi hal itu tidak membuat saya terlalu bergembira karena dengan keberhasilan saya itu berarti sejak saat itu saya harus belajar lebih keras lagi, selama dua tahun ke depan, untuk menghadapi ujian A-level. Orangtua saya dan guru-guru kembali menasehati saya untuk berhenti pergi ke luar rumah di malam hari dan pada akhir pekan, berhenti mengejar gadis-gadis selain mengejar bola kaki, dan sebaliknya agar saya tinggal di rumah dan belajar. Mereka mengatakan kepada saya betapa pentingnya ujian A-level itu dan jika saya bisa lulus, maka saya pun akan bahagia.

Jadi, saya pun menuruti nasehat mereka dan, sekali lagi, saya berhasil lulus ujian dengan hasil yang sangat baik. Tetapi sekali lagi, hal itu tidak menjadikan saya terlalu bergembira, karena sekarang saya harus belajar dengan sekuat tenaga, untuk tiga tahun lagi, di sebuah universitas, untuk meraih gelar sarjana. Orangtua saya (ayah saya kini telah meninggal dunia) dan guru-guru menasehati saya untuk menghindari bar-bar dan pesta pora, dan sebaliknya saya harus bekerja keras. Mereka mengatakan kepada saya betapa pentingnya gelar sarjana itu untuk bisa sukses di dalam hidup, dan jika saya bisa meraihnya, maka saya bisa bahagia.

Pada titik ini, saya mulai curiga.

Saya melihat beberapa orang teman lama saya yang telah berhasil meraih gelar sarjana mereka dan bekerja dengan lumayan keras. Mereka berkata kepada saya bahwa mereka bekerja begitu keras untuk menabung agar bisa membeli sesuatu yang penting. Bila mereka sudah punya cukup uang untuk membeli mobil, atau sebuah apartemen kecil, maka mereka akan bahagia.

Ketika mereka sudah membeli mobil kecil mereka, mereka masih saja tidak begitu bahagia. Mereka harus berjuang untuk mengatasi kekacauan di dalam kehidupan percintaan mereka, mencari pasangan hidup mereka masing-masing. Mereka bilang, bila mereka sudah menikah, maka mereka akan bahagia.

Begitu mereka telah menikah, mereka harus bekerja keras untuk membeli apartemen yang lebih besar lagi, atau bahkan sebuah rumah impian. “Bila kami sudah memiliki simpanan yang cukup untuk didepositokan, maka kami akan bahagia”, kata mereka.

Lalu mereka akan memiliki anak-anak yang membangunkan mereka di tengah malam, yang menghisap habis semua sisa uang mereka dan tiba-tiba saja menciptakan gelombang kekhawatiran yang baru. Untuk kesekian kalinya kebahagiaan akan terganggu. Dan seperti kebanyakan orang-orang yang berkata kepada saya, “Begitu anak-anak sudah dewasa, meninggalkan rumah dan mandiri, maka kami bisa melakukan apa pun yang kami inginkan”. Lalu mereka pun akan bahagia.

Pada saat anak-anak sudah meninggalkan rumah, para orangtua sudah beranjak pensiun. Mereka terus bekerja keras, berinvestasi dan menabung untuk hari tua mereka. “Bila kami pensiun nanti”, kata mereka, “Maka kami akan bahagia.”

Bahkan sebelum mereka pensiun, dan tentu saja sesudahnya, teman-teman dan sanak keluarga saya yang telah berusia lanjut, semuanya akan pergi ke gereja. Apakah anda pernah memperhatikan berapa banyak orang-orang lanjut usia yang suka pergi ke vihara dan gereja? Itu karena mereka semua berpikir, “Bila saya nanti meninggal, maka saya akan bahagia!”

Itu adalah jenis kebahagiaan yang mereka ingin saya mempercayainya: “Bila kamu mendapatkan ini atau itu, maka kamu akan bahagia.” Kebahagiaan selalu berupa mimpi tentang masa depan, seperti pelangi yang berjarak satu atau dua langkah ke depan, tetapi selamanya tidak dapat dicapai. Ada sesuatu yang salah. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bahagia sekarang.

Itulah yang terjadi bila kita hanya percaya begitu saja pada orang lain, dan bukan dengan melihat kebenarannya sendiri. Jika anda menjalani kehidupan anda dengan mengumpulkan kakayaan, menimbun kemelekatan, atau bahkan mengejar surga – anda akan menemukan bahwa anda tidak menjalani kehidupan yang berarti.

oooooooo
Banyak pakar-pakar media zaman sekarang menyimpulkan bahwa mendapatkan pasangan hidup adalah kunci dari menjalani hidup yang berarti. Kebanyakan dari kita, menurut saya, menerima saja pendapat itu bulat-bulat tanpa mencoba mempertanyakannya secara sungguh-sungguh.

Mengapa meskipun kita tidak bisa memilih siapa-siapa saja yang akan dilahirkan menjadi anak-anak kita, namun kita tetap saja mencintai mereka selamanya, dan tanpa syarat? Walaupun pada kenyataannya mereka dilahirkan dengan kondisi yang jauh dari harapan kita, kita tetap saja menyayangi mereka? Di lain pihak, walaupun kita sudah memilih suami atau istri kita dengan sangat berhati-hati, menelusuri diri mereka dengan begitu cermat melebihi apa pun yang ada dalam hidup kita sebelum menandatangani kontrak, pada umumnya kita tidak mencintai mereka selamanya, dan tentu saja tidak pernah dengan tanpa syarat! Mengapa?

Itu karena cinta yang mengalir di antara pasangan hidup tidaklah sama dengan cinta yang mengalir di antara orangtua dan anaknya.

Di dalam sebuah artikel di majalah Time beberapa tahun lalu yang berjudul, “The Chemistry of Love”, para ahli kimia biologi mendemonstrasikan bahwa ketika pria bertemu wanita di sebuah acara makan malam yang romantis dan diterangi lilin, hormon-hormon akan dikeluarkan memasuki aliran darah untuk menimbulkan suatu perasaan mabuk kepayang. Pasangan anda secara harfiah dikatakan “menggairahkan anda”. Dan anda menyukai perasaan itu, bukan orangnya. Atau seperti Time menyebutnya, “Anda mencintai cara mereka di dalam membuat anda merasakan gairah tersebut”. Selanjutnya, ketika tubuh anda mulai mentolerir zat-zat kimia itu secara alamiah, pasangan anda tidak lagi menggairahkan anda. Itu hanyalah proses kimiawi saja. Jadi, tolong jangan pernah berteriak atau marah kepada pasangan anda, sebaliknya berteriak dan marahlah pada buku ilmu kimia!

Rasa cinta dan kasih sayang di antara orangtua dan anak adalah berbeda. Anda menyayangi mereka walaupun jika tidak ada apa pun untuk anda di sana. Anda mencintai mereka terlepas dari apa pun cara mereka mempengaruhi perasaan anda. Itu adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, cinta tanpa syarat.

Ayah saya menunjukkan cinta seperti itu ketika saya masih berumur sekitar 13 tahun. Ketika hanya ada kami berdua, duduk di dalam mobil tuanya, di sebuah gang di London Barat, dia berpaling kepada saya dan berkata….

“Nak, apa pun yang engkau lakukan di dalam hidupmu, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu.” Lalu dia pun melanjutkan mengendarai mobilnya pulang ke rumah kami.

Saya, pada saat itu, terlalu kecil untuk memahami apa yang dia maksud, tetapi cukup dewasa untuk mengetahui bahwa hal itu adalah sesuatu yang penting. Saya terus mengingatnya. Hanya setelah bertahun-tahun kemudian, lama setelah ayah saya meninggal dunia, ketika saya masih seorang bhikkhu muda, barulah saya bisa menguraikan arti sebenarnya dari kata-kata ayah saya tersebut.

Rumah ayah saya, rumah kami, adalah sebuah apartemen kontrakan yang kecil di daerah miskin di London Barat. Sebuah rumah yang tidak begitu cocok untuk dipamerkan kepada orang lain. Kami tidak pernah takut pada pencuri, karena kami pikir jika seorang pencuri menyelinap masuk dan melihat tempat tinggal kami, dia mungkin akan meninggalkan sesuatu untuk kami dari kantongnya sendiri karena merasa kasihan!

Apa yang ayah saya maksud, apa yang sebenarnya coba dia katakan adalah:
“Nak, apa pun yang engkau lakukan di dalam hidupmu, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu”.

Itulah yang dimaksud dengan cinta tanpa syarat. Itu adalah jenis cinta yang sering ditemukan di antara orangtua dan anaknya. Itu adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Cinta tanpa ada embel-embel apa pun. Cinta yang membebaskan. “Apa pun yang engkau lakukan di dalam hidupmu, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu”.

oooooooo

Kembali kepada cerita tentang pasangan hidup, cinta jenis apa yang mengalir di antara anda dan pasangan anda? Anda bisa melakukan suatu ujicoba untuk menemukan jawabannya.

Bayangkanlah pasangan anda. Apakah anda benar-benar mencintai mereka? Apakah anda menginginkan mereka berbahagia? Apakah anda benar-benar peduli pada kesejahteraan mereka? Apakah kebahagiaan mereka adalah hal yang paling penting bagi anda di dunia ini?

Sekarang, bayangkan bahwa setelah menghadiri konferensi ini, anda pulang ke rumah dan menemukan bahwa pasangan anda telah berselingkuh dan melarikan diri ke Paris dengan sahabat karib anda sendiri. Bagaimana perasaan anda?

Jika anda benar-benar peduli pada kebahagiaan mereka, maka anda akan terharu ketika mendengar betapa bahagianya mereka berdua sekarang. Jika anda benar-benar mencintai pasangan anda, anda akan bergembira ketika mengetahui bahwa pasangan anda sekarang menjadi lebih berbahagia dengan sahabat karib anda dibandingkan dengan ketika dia masih bersama-sama dengan anda. Jika kebahagiaan orang yang anda cintai adalah begitu penting bagi anda, maka anda akan bersuka cita – Oh, betapa senangnya! — setelah mendengar berita bahwa mereka berdua sedang menikmati masa-masa indah mereka di bawah terang rembulan di Seine. Anda selalu menginginkan agar pasangan anda berbahagia, dan sekarang mereka sudah bahagia. Apa masalahnya?

oooooooo

Ujicoba ini menunjukkan bahwa cinta di dalam kebanyakan hubungan asmara adalah cinta yang egois, cinta dengan syarat. Ia bersumber dari kemelekatan dan akan bercabang, cepat atau lambat, menuju penderitaan. Mereka bilang ada tiga jenis cincin (ring) di dalam sebuah pernikahan:
- Cincin pertunangan (Engagement ring)
- Cincin pernikahan (Wedding ring)
- dan penderitaan (Suffer-ring)

oooooooo

Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri adalah tanpa kemelekatan. Ia bersumber dari rasa memberi dan, tak terelakkan lagi, akan bercabang menuju kebebasan. Ia adalah jenis cinta yang berkata, “Apa pun yang kamu lakukan, pintu hatiku selalu terbuka untukmu”. Ia merupakan cara bagi kita untuk bisa menjalani kehidupan yang berarti.

Cinta tanpa kemelekatan seperti ini adalah merupakan dasar pijakan bagi segala jenis perbuatan kedermawanan. Jika anda memberi sumbangan agar bisa terkenal, itu bukan cinta tanpa kemelekatan. Jika anda melayani masyarakat karena ingin dipuji, itu bukanlah memberi. Jika anda bersahabat dengan orang lain karena ingin mendapat sesuatu sebagai imbalannya, maka itu bukanlah welas asih. Kedermawanan, seperti cinta tanpa kemelekatan, akan berkata, “Apa pun yang kamu lakukan, siapa pun kamu, saya memberikan hatiku kepadamu dan membaginya bersamamu”.

Bahkan para bhikkhu pun mempraktekkan kedermawanan. Kehidupan kebhikkhuan saya adalah suatu festival/ajang untuk memberi.

Seorang perempuan menelepon saya satu jam sebelum saya memberikan khotbah umum.

“Apakah anda berceramah malam ini?” dia bertanya dengan sopan.

“Ya, nyonya. Khotbah dimulai pada pukul 19.30″, jawab saya.

“Berapa biayanya untuk bisa menghadiri ceramah anda?” lanjutnya.

“Tidak ada, nyonya, sama sekali tidak ada”, saya menjelaskan.

“Bukan, bukan!” dia menyela, “Anda tidak mengerti. Berapa jumlah uang yang harus saya bayar?”

“Nyonya, anda tidak perlu membayar uang apa pun. Semua ceramah saya gratis”.

“Dengar!” teriaknya di ujung telepon, “DOLLAR! SEN! Berapa jumlah uang yang harus saya keluarkan dari kocek saya untuk bisa melewati pintu masuk?”

“Nyonya”, kata saya sambil menenangkannya, “Anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk bisa melewati pintu masuk, baik itu di pintu masuk maupun di pintu keluar. Kami tidak menanyakan nama anda ataupun memaksa anda untuk menyumbangkan apa pun. Jika anda tidak menyukai ceramahnya, anda bisa pergi meninggalkan ruangan di setiap saat. Gratis”.

Dan pembicaraan pun terhenti beberapa saat.

“Kalau begitu” katanya dengan nada heran, “Lalu apa yang kalian (maksudnya “para bhikkhu”) dapatkan dari semua ini?”

“Kebahagiaan, nyonya”, jawab saya, “Hanya kebahagiaan yang kami dapatkan”.

oooooooo

Pemberian tanpa kemelekatan seperti inilah yang membedakan antara kehidupan yang biasa-biasa saja dengan kehidupan yang berarti. Semakin banyak yang anda lepaskan, semakin kaya pula kehidupan seseorang. Itu sebabnya mengapa kotak-kotak amal di vihara-vihara saya di Perth itu dinamakan “Kotak-kotak Pelepasan”.

Sang Buddha bersabda di dalam Dhammapada ayat 204:
“Kepuasan adalah kekayaaan yang terbesar.”

Jadi, Buddhisme itu, yang mengajarkan kepuasan seperti itu melalui cinta kasih tanpa kemelekatan: “Apa pun yang kamu lakukan, pintu hatiku selalu terbuka untukmu”, adalah ajaran yang mengajarkan tentang penciptaan kekayaan. Arti dari kehidupan adalah untuk menghasilkan kekayaan seperti itu. Kepuasan adalah portofolio anda, cinta tanpa kemelekatan adalah saham anda, menjadikan investasi paling aman dengan dividen yang secara harfiah “berada di luar dunia ini”, semuanya dijamin oleh Kepala Bank Sentralnya, yakni Sang Buddha sendiri.

oooooooo

Seorang pengarang puisi romantis Inggris abad ke tujuhbelas, John Keates, mengawali puisinya yang terkenal “Endymion” dengan kata-kata:
“A thing of beauty, is a joy forever”.

Sesungguhnya, kebanyakan dari kita menemukan arti kehidupan ini melalui penghargaan kita akan keindahan – dengan memandang matahari terbenam yang indah di sore hari, melihat air terjun di hutan belantara yang belum terjamah tangan manusia, atau dengan berhenti sejenak untuk menikmati warna-warni bunga yang tersenyum di pinggir jalan. Keindahan memang memberikan arti bagi kehidupan, tetapi tidak sebanding dengan apa yang telah kita bicarakan sebelumnya.

Keindahan bagi seorang bhikkhu, kata Sang Buddha (di dalam Cakkavatti Sihanada Sutta), adalah kebajikan. Orang yang paling menawan di dunia adalah mereka yang memiliki hati yang murni. Adalah bagus untuk bersama-sama dengan orang yang baik. Dan seseorang yang suci di tengah-tengah orang banyak adalah seperti sekuntum bunga mawar yang muncul di tengah-tengah semak belukar berduri. Bahkan seseorang yang sudah tua dengan muka keriput, gigi ompong dan rambut beruban, yang telah menjalani kehidupan penuh kebajikan, akan bersinar dengan keindahan di dalam dirinya (inner beauty) yang akan membuat setiap super-model menjadi iri hati.

Guru-guru bhikkhu seperti saya menganjurkan semua pendengarnya untuk menjalani kehidupan yang bermoral, untuk mendapatkan keindahan di dalam diri (inner beauty), yang disebut John Keates, sebagai “a joy forever”. Itulah sebabnya mengapa saya menyebut Buddhist City Centre saya di Perth, Australia Barat, bukan dengan “Dhammaloka”, melainkan “Salon Kecantikan Ajahn Brahm”! Saya “mempermak” sedikit kehidupan anda, memberikan perawatan wajah pada kejujuran anda, dan menghilangkan keriput pada aturan kemoralan (sila) anda. Menjalani kehidupan dengan keindahan seperti itu adalah menjalani kehidupan yang berarti. Cobalah. Jika anda mendambakan saat-saat yang indah, maka jadilah orang yang baik.

oooooooo

Semua hal-hal yang baik akan berakhir. Kita semua akan mati. Sebagai bhikkhu, saya sudah sering menghadiri upacara pemakaman, kalau dihitung jumlahnya bisa melebihi jumlah bunga-bunga yang ada di kompleks pemakaman. Saya sudah sering mendengarkan para sanak saudara dan teman-teman yang setelah upacara pemakaman selesai berbicara tentang orang yang barusan meninggal tersebut. Sungguh luar biasa ketika ternyata apa yang mereka ingat bukanlah tentang harta kekayaan si mendiang, atau rumahnya, atau kekuasaannya. Apa yang mereka katakan setelah upacara pemakaman adalah tentang hal-hal yang bagus dari si mendiang, kebaikan hatinya dan betapa dermawannya dia. Seolah-olah mereka semua sedang menceritakan rangkuman seluruh kisah kehidupan dari orang yang baru meninggal tersebut. Dan apa yang diingat, satu-satunya yang diingat, adalah hal-hal seperti kedermawanan, kebajikan dan cinta tanpa mementingkan diri sendiri. Kualitas-kualitas seperti inilah, di dalam dunia akuntansi, yang disebut sebagai “bottom line” dari kehidupan seseorang. Ini merupakan arti dari kehidupan mereka dan yang memberi arti pada kehidupan mereka. Adalah aneh jika hanya melalui kematian sajalah baru kita bisa menyadari kebijaksanaan dari ajaran-ajaran Sang Buddha tentang apa yang dimaksud dengan menjalani kehidupan yang berarti.

oooooooo

Bagi seseorang yang memiliki “bottom line” yang menguntungkan, yang menjalani kehidupan mereka yang berarti, maka mereka bisa meninggal dengan penuh sukacita. Seorang umat Buddha akan memahami bahwa karena mereka telah mengumpulkan banyak karma baik, maka mereka bisa secara sah menanti dengan tenang saat-saat indah setelah mereka meninggal dunia. Mereka tahu bahwa mereka hanyalah mengganti tubuh tua yang sudah usang itu dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Itu seperti membeli sebuah mobil baru, kenderaannya berubah tetapi yang mengendarainya tetap orang yang sama. Adakah hal yang menyedihkan di sana?

Dan menjalani hidup yang berarti, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah suatu latihan untuk melepaskan. Anda melepaskan sejumlah kekayaan anda untuk mempraktekkan kemurahan hati. Anda melepaskan sifat-sifat tidak baik anda untuk menjalankan aturan kemoralan (sila). Anda melepaskan sifat egois anda untuk mempraktekkan welas asih. Dan anda melepaskan hawa nafsu untuk mempraktekkan meditasi. Dharma adalah suatu pedoman yang lengkap untuk melatih pelepasan.

Jadi, bila tiba saatnya untuk melepaskan tubuh anda dan mengalami proses kematian, seseorang yang terlatih di dalam Dharma akan melepaskan dengan sukacita. Di dalam pengalaman panjang saya menangani kematian, baik dari umat Buddha maupun non Buddha di negara-negara Barat, umat Buddha meninggal dunia dengan jauh lebih tenang dan sukacita daripada yang lain.

Pernah sekali, seorang murid saya menelepon saya dari rumah sakit. Perempuan ini, yang berusia empat puluhan, pada pagi itu telah didiagnosa mengidap kanker yang tidak bisa disembuhkan. Dia diperkirakan hanya bisa hidup sekitar dua atau tiga bulan lagi. Saya mengunjunginya pada siang hari itu juga. Di tempat tidur pasiennya, dia tersenyum dan berguyon dengan saya sambil membuat rencana untuk menghadapi kematiannya.

Ketika saya meninggalkan kamarnya, kepala perawat di rumah sakit itu meminta waktu untuk berbicara kepada saya. Dia memberitahukan saya bahwa dia sangat khawatir kalau murid saya itu akan menolak menerima kenyataan diagnosa tentang kematiannya yang sudah dekat itu. Saya harus menjawab dengan cukup yakin, bahwa murid saya itu tidak menolaknya sama sekali. Bahkan sebaliknya, dia malah membicarakan kematiannya dengan saya selama lebih dari satu jam! Anda lihat kan, si kepala perawat yang berpengalaman itu tidak pernah melihat sifat kerelaan yang muncul begitu saja seperti itu pada pasien-pasien yang lain. Yang dia lihat hanyalah ketakutan dan air mata, kemarahan dan pengingkaran. Dan dia secara keliru telah menafsirkan bahwa dengan tidak adanya sifat-sifat negatif seperti itu, adalah merupakan tanda-tanda pengingkaran. Dia belum pernah melihat umat Buddha meninggal dunia sebelumnya, dan dia merasa sulit untuk bisa memahami bagaimana mereka bisa menghadapi kematian dengan begitu sukacita.

Beberapa bulan kemudian, pada upacara pemakaman murid saya ini, dokter yang merawatnya yang beragama Kristen berkata bahwa dia begitu kagum melihat bagaimana umat Buddha bisa meninggal dunia dengan sukacita.

Bila anda memahami Dharma, dan hidup dengan pemahaman itu, maka tidak ada kesedihan apa pun tentang kematian. Satu-satunya hal yang membuat saya sedih adalah ketika orang-orang tidak menjalani kehidupan yang berarti dan menyia-nyiakan kehidupan mereka yang berharga.

oooooooo

Ayah saya meninggal dunia ketika saya berumur 16 tahun. Saya sangat mencintainya dan masih mencintainya sampai saat ini. Namun saya tidak pernah menangis pada upacara pemakamannya, dan tidak pernah menangis sejak saat itu. Saya tidak suka menangis. Perlu waktu bertahun-tahun bagi saya untuk memahami apa yang saya rasakan pada saat itu. Sekarang saya menggunakan pemahaman itu sebagai pedoman untuk menghadapi kematian, dengan sukacita. Inilah pemahaman saya.

Sebagai seorang anak muda, saya menyukai musik. Segala jenis musik, apakah itu klasik atau rock, jazz atau musik country. Saya suka menghabiskan sebagian besar malam hari saya di panggung-panggung konser dan klub-klub di pusat kota London, menikmati beberapa orkestra dan band-band, musisi-musisi dan penyanyi-penyanyi terbaik di dunia. London adalah suatu tempat yang bagus untuk tumbuh dewasa jika anda menyukai musik.

Ketika konsernya telah selesai, saya akan berdiri bersama orang-orang lain, bertepuk tangan dan berteriak agar konsernya dilanjutkan. Seringkali, orkestra atau band tersebut akan melanjutkan bermain musik selama beberapa menit lagi. Tetapi pada akhirnya mereka harus berhenti dan saya harus pulang ke rumah. Dan seingat saya ketika berjalan keluar dari panggung konser pada larut malam, kelihatannya hujan selalu turun di London, di dalam bentuknya yang paling menyusahkan yang dinamakan “gerimis”. Kondisinya sangat dingin, basah dan gelap, dan saya tahu bahwa saya mungkin tidak akan pernah menyaksikan orkestra yang hebat itu lagi. Namun, walaupun di dalam kondisi malam hari yang gelap gulita dan tidak menyenangkan itu, saya tidak pernah bersedih. Saya tidak pernah jatuh ke dalam keputusasaan. Sebaliknya, saya malah merasa gembira dan tergugah karena telah berkesempatan mendengarkan musik yang hebat itu. Sebuah pertunjukan yang luar biasa, sebuah pengalaman yang menakjubkan! Saya berada bertahun-tahun cahaya jauhnya dari kegelapan yang menyelimuti malam di kota London.

Itulah satu-satunya cara saya untuk menggambarkan perasaan saya ketika ayah saya meninggal. Ia adalah sebuah pertunjukan yang singkat, cuma enambelas tahun lamanya. Saya bertepuk tangan dan bersorak-sorai kegirangan meminta tambahan waktu di akhir pertunjukan. Ayah saya terus memainkan musik lebih lama sedikit dan, pada kenyataannya, itu merupakan sebuah pertunjukan yang luar biasa bagi kehidupannya. Ketika saya berjalan keluar dari krematorium di Mortlake, London Barat, setelah upacara pemakamannya, saya mengingat dengan jelas bahwa saat itu hujan gerimis dan suhu udara sangat dingin. Namun saya sama sekali tidak merasa sedih.

Saya merasa tergugah, terangkat dan tergerak begitu dalam. “Ayah, itu adalah pertunjukan yang menakjubkan. Itu adalah sebuah konser yang sangat luar biasa yang engkau perlihatkan di depan anakmu. Saya tidak akan pernah melupakan irama-irama dan nada-nada serta perasaan mendalam yang engkau berikan kepada orkestramu. Engkau adalah seorang maestro kehidupan. Betapa beruntungnya saya karena telah menjadi bagian dari konsermu”. Saya merasa tergugah, bukan bersedih. Saya merasa begitu berterima kasih, bukan berdukacita. Saya merasa telah menyaksikan salah satu kehidupan yang paling hebat di zaman saya.

Begitulah seseorang bisa meninggal dengan sukacita, dan dengan sukacita pula melihat kematian orang-orang kesayangannya. Di dalam dirinya, seseorang tahu: “Yang tercinta, sahabatku, pintu hatiku akan selamanya terbuka untukmu, tidak peduli apa pun yang pernah kamu lakukan, bahkan jika kamu meninggal”. Bahkan di dalam kematian, anda melepaskan mereka pergi. Cinta tanpa kemelekatan seperti ini adalah cinta yang membebaskan. Membebaskan orang-orang yang harus meninggalkan anda, dan membebaskan diri anda sendiri dari segala kesedihan.

Jadi, inilah yang saya maksud dengan menjalani kehidupan yang berarti, dan meninggal dengan sukacita. Ini adalah hal-hal yang telah saya saksikan sendiri ketika saya mendaki melampaui kebingungan di dunia ini di dalam meditasi kebhikkhuan saya, seperti mendaki sampai ke puncak piramid di hutan belantara Amerika Tengah. Ini adalah hal-hal yang dikatakan Sang Buddha di dalam Sutra-Sutra kuno. Dan kini ia telah tertulis di hati anda, siap untuk menuntun anda.

Bila anda menjalani kehidupan yang berarti, anda tidak hanya akan meninggal dunia dengan sukacita, tetapi anda juga akan memberikan kebahagiaan yang begitu besar kepada semua orang yang bertemu dengan anda, di dalam hidup anda dan di dalam kematian.

Terima kasih.

Ajahn Brahmavamso

Bodhinyana Monastery, Western Australia.

* Note : Disampaikan oleh Ven. Ajahn Brahmavamso di Global Conference on Buddhism 2002 (8 Desember 2002, Shah Alam, Malaysia).
* Sumber : The Buddhist Society Of Western Australia (http://www.bswa.org/)

Link English edition:
http://www.what-buddha-taught.net/Books6/Ajahn_Brahm_Living_Meaningfully_Dying _Joyfully.htm

Tidak ada komentar: