Kamis, 26 Januari 2012

PEMBANGUNAN DI DALAM DIRI



          Tidak bisa dielakkan lagi bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu kebutuhan kehidupan modern. Dan memang, kita membutuhkannya demi kemajuan. Pernah ada suatu ungkapan tanya demikian: "llmu pengetahuan, menjadi seteru ataukah sekutu". Sekarang dengan jujur kita mengakui, bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi sekutu. Pada masa yang telah kita lalui, secara sadar —atau mungkin dengan tidak disadari— ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan dalam kehidupan kita. Dan perubahan yang menuju ke arah yang lebih baik, berarti: kemajuan. Sudah tentu, selama ilmu pengetahuan hanya semata-mata dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri; tidak membawa perubahan bagi kehidupan, tidak membawa kemajuan; selama itu pula ilmu pengetahuan tidak akan berguna.

         Tetapi juga tidak bisa ditutup-tutupi, perubahan yang membawa kemajuan dan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi adalah perubahan-perubahan di luar diri kita. Kemajuan dan kemudahan modernisasi adalah kemajuan dan kemudahan materi. Sebagaimana telah diungkapkan beberapa kali dalam artikel-artikel yang lalu, bahwa kita memang membutuhkan materi sebagai penunjang kehidupan ini. Dan Agama Buddha yang selalu berpijak pada Jalan Tengah mengakui fungsi kebutuhan materi dalam kehidupan ini.

         Yang menjadi persoalan sekarang adalah, perubahan yang demikian pesat, kemajuan yang demikian cepat yang terjadi di luar diri kita bisa menimbulkan goncangan mental, goncangan di dalam —di dalam diri kita.

         Kemajuan dan kemudahan yang dengan cepat telah diwujudkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan tidak disadari telah membangun budaya serba-materi, dan menyebabkan kemerosotan sikap mental sementara orang. Timbul budaya ingin serba mudah. Timbul keinginan untuk secepat mungkin —sekonyong-konyong— mendapatkan kenikmatan. Secepat mungkin maju. Secepat mungkin kaya. Secepat mungkin mempunyai kedudukan tinggi, dan sebagainya. Dan tidak jarang, sikap-sikap seperti ini mendorong perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain. Apapun caranya, asalkan mampu memberikan perubahan dengan cepat, akan ia lakukan tanpa banyak pertimbangan.

         Sekarang, yang ingin saya sampaikan kepada saudara: perubahan di luar diri kita —perubahan materi— yang terjadi, dan akan terus berlangsung dengan begitu cepat karena dorongan ilmu pengetahuan dan teknologi; tidak akan membawa arti yang lebih dalam bagi kehidupan ini bila tanpa dibarengi dengan perubahan di dalam diri kita. Mental yang hanya diseret untuk menikmati kenikmatan materi dengan begitu mudah akan menimbulkan kehausan yang terus menerus, dan kemudian, timbullah rasa hampa dalam mencari arti kehidupan. Apalagi bila kemajuan materi itu yang dijadikan tolok ukur kebahagiaan dan kesejahteraan. Ukuran itu pasti meleset.

         Sekali lagi, kita tidak boleh menjadi anti kemajuan di luar —anti kemajuan materi. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan seteru, tetapi memang, sekutu kita. Jalan Tengah telah mengamanatkan kepada kita, bahwa tidak bijaksana membiarkan hidupmu miskin dan penuh penderitaan. Yang sekali-kali tidak boleh ditinggalkan adalah: perubahan dan kemajuan yang di luar itu pada saat yang sama harus diikuti dengan perubahan dan kemajuan di dalam diri kita masing-masing.

         Dharma —agama— tidak hanya dan tidak pernah menjanjikan perubahan dan kemajuan yang hanya di luar. Tetapi, Dharma —agama— menunjukkan jalan bagaimana membangun dan memperkuat sikap mental kita untuk menghadapi dan mencerna perubahan serta kemajuan apapun yang terjadi di luar. Hanya dengan melakukan perubahan dan pembangunan di dalam diri kita masing-masing, perubahan dan kemajuan yang disebabkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar akan layak disebut sebagai kemajuan menuju kesejahteraan utuh.

         Sesungguhnya kearifan menuju kesejahteraan utuh ini telah menyinari Orde Baru sejak memulai rencana pembangunan bangsa. Bangsa Indonesia yang mempunyai sikap keagamaan cukup kuat dalam sepanjang sejarah perjalanannya, cukup mempunyai modal rohani yang jelas-jelas akan menerangi jalan dan menunjukkan gambaran utuh tentang kesejahteraan dan kebahagiaan.

         Persoalan selanjutnya adalah: Bagaimana Dharma —agama— itu memberikan manfaat? Pertanyaan ini adalah pertanyaan terbesar dan muncul di sepanjang masa menjadi tantangan kita semua. Dengan kalimat lain: Apakah perubahan yang telah diberikan oleh agama kepada kita? Kini kita telah melihat perubahan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi; tetapi bagaimanakah perubahan yang telah diberikan oleh agama? Sementara orang, yang kadang-kadang masih kita dengar, melontarkan pertanyaan: Agama-agama sudah lama berperan di bumi ini, tetapi mengapa perdamaian dunia belum pemah terjadi? Apakah Dharma —agama— telah gagal?

         Dengan sangat bijaksana dan juga dengan amat sederhana Sang Buddha mengumpamakan Dharma yang Beliau temukan dan ajarkan itu sebagai rakit. Rakit berfungsi untuk menyeberangi sungai dari tepi ini menuju ke tepi sebelah sana. Rakit akan bermanfaat bila rakit mampu memberikan perubahan, yaitu: membawa kita meninggalkan tepi ini, menyeberang, menuju ke tepi yang lain. Meskipun kita memiliki rakit, tetapi bila kita tetap berada di tepi ini, tidak ada perubahan —tidak menyeberang; maka rakit itu tidak ada gunanya— tidak bermanfaat.

         Bila kita tidak menyeberang, bukan rakit yang salah. Bukan rakit yang gagal. Kita sendiri yang sebenarnya telah gagal. Kita puas memiliki rakit hanya untuk menyimpannya. Sesungguhnya rakit hanyalah alat. Milik itu akan menjadi sangat berharga, bila kita mau memasukkannya ke sungai, kemudian kita kayuh dengan sekuat tenaga, untuk menyeberang dari satu tepi ke tepi lain yang menjadi tujuan kita.

         Sama seperti rakit itu, adalah Dharma —agama. Beragama bukan hanya merasa memiliki agama. Beragama bukan hanya meyakini agama. Dan juga beragama bukan hanya bersembahyang. Dharma —agama— memberikan perubahan —memberikan manfaat— di dalam diri kita, bila kita berusaha sekuat tenaga menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu: sikap bertanggung-jawab atas perbuatan sendiri —tidak menyalahkan makhluk setan atau mengharap-harap berkah dewa, ulet, tekun, jujur, suka menolong, dan setia kawan. Berusaha mengendalikan emosi, percaya diri, dan rendah hati. Berikan beberapa saat dalam setiap hari dalam hidup Saudara, untuk bermeditasi, berusaha melihat ke dalam diri sendiri. Setiap hari selama kita tidak tertidur, pikiran dan panca-indria ini selalu disibukkan dengan menanggapi segala sesuatu di luar diri kita; oleh karena itu, berikan beberapa saat untuk melihat ke dalam diri sendiri dengan bermeditasi. Meditasi akan menumbuhkan dan memperkuat daya tahan mental kita. Dan tidak hanya memperkuat daya tahan mental, meditasi akan mengubah mental ini untuk mampu menyadari nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi dan lebih hakiki, hingga akhirnya tercapai kesadaran-utuh tentang realita Yang Mahaesa.

         Tidak bijaksana memberikan penilaian, bahwa nilai-nilai agama diperlukan hanya karena berfungsi untuk menangkal dampak-dampak negatif modernisasi. Jauh, lebih dan itu, nilai-nilai agama yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mengubah terus-menerus sikap mental kita menuju kesejahteraan yang lengkap.

         Kalau kita memeluk agama sudah sekian lama, tetapi tidak ada perubahan dalam diri kita; kita gagal beragama. Kita gagal menggunakan rakit. Tetapi sama sekali, bukan rakit yang gagal. Kalau dulu sering marah, sering gelisah, tidak bisa tidur dengan tenang, tidak pernah merasa puas; dan sekarang tetap tidak ada perubahan, bahkan semua itu makin menjadi lebih parah; maka tidak ada manfaat dalam memeluk agama. Tetapi sebaliknya, kalau setelah menengok ke belakang kita sekarang menyadari bahwa marah, jengkel, gelisah, iri-hati, dan gejolak-gejolak negatif lainnya menjadi berkurang; inilah perubahan dan kemajuan yang telah diberikan oleh hidup beragama.

         Mungkin sulit menyadari perubahan yang terjadi di dalam diri kita sendiri, tetapi saya percaya, nurani kita dengan jujur akan mengatakan perubahan itu: sekarang lebih baik atau lebih kacau. Kalau kita terus-menerus berusaha menerapkan nilai-nilai Dharma —nilai-nilai agama— dalam kehidupan kita, maka pasti dunia kita yang tertetak dalam diri ini akan damai, dan juga memberikan kedamaian pada lingkungan.

         Sekarang kita telah berada dalam tahun 1990. Mari kita tengok kembali tahun yang telah kita lalui, kita lihat perubahan yang terjadi dengan bertanya kepada nurani kita. Kemudian kembali kita bertekad untuk membuat perubahan yang lebih besar dan lebih baik dalam diri kita dalam tahun ini.***




oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro



Sumber : BUDDHA CAKKHU No.16/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.

Tidak ada komentar: