Kamis, 26 April 2012

DUNIA MEMERLUKAN CINTA KASIH





oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera

         Tanggal 21 Mei 1989 adalah saat bulan purnama sempurna di bulan Waisak. Kembali kita peringati peristiwa suci Waisak, yaitu Tiga Peristiwa Suci pada pribadi Guru Besar yang kita cintai Buddha Gotama: saat kelahiran, tercapainya Penerangan Sempurna, dan Parinibbana (wafat) Beliau. Pada setiap tahun, hari yang keramat ini selalu memberikan semangat baru pada diri kita.

         Sang Buddha telah meninggalkan kita 2533 tahun yang lalu, Namun, sepanjang masa kita tetap ditantang dalam perjuangan kehidupan. Perjuangan kehidupan itu tidak pernah berhenti dan tidak akan berhenti. Pelajar berjuang dalam dunia pendidikan. Karyawan berjuang dalam menyempurnakan tugasnya. Pedagang berjuang dalam usahanya. Seniman, sarjana, rohaniawan, para pengemban tugas negara, semuanya berjuang untuk mencapai puncak tujuan. Dalam perjuangan itulah kita menghadapi tantangan-tantangan, persoalan, dan kesulitan. Tantangan kehidupan ini seringkali menggoncangkan semangat kita. Kadang-kadang di antara kita ada yang merasa seperti tidak mampu lagi berjalan untuk maju. Ditinggalkannya perjuangan untuk mencapai cita-citanya itu. Kemudian mereka hidup tanpa tujuan dan tanpa semangat lagi.

         Tiap-tiap tahun peringatan suci Waisak mengajak kita untuk meresapkan kembali pesan-pesan keramat Sang Buddha. Karena di tengah-tengah perjuangan menghadapi persoalan kehidupan, persoalan yang harus kita akui, persoalan yang tidak boleh kita tutup-tutupi itu acapkali pikiran kita menyesal dan menuntut, "Seandainya Sang Buddha masih di tengah-tengah kita, tentu Beliau menjadi tempat bertanya, menjadi penghibur, dan sumber semangat bagi kita. Namun sekarang Sang Buddha sudah tiada, masih mungkinkan kita bertemu lagi dengan Beliau?"

         Dalam Maha Parinibbana Sutta, sutta yang mencatat pesan-pesan terakhir Sang Buddha saat menjelang Parinibbana (wafat); Beliau pernah berpesan, "Dhamma dan Vinaya yang telah Kuajarkan, itulah yang akan menjadi gurumu kelak setelah Aku tiada lagi".

        Dhamma —Ajaran Luhur— dan vinaya atau sila —tuntunan moral— yang telah Beliau ajarkan kepada kita, masih utuh di tengah-tengah kita. Kita masih bisa menjumpainya pada setiap saat. Dalam menghadapi tantangan kehidupan, atasilah tantangan itu dengan semangat Dhamma yang ampuh. Periksalah diri Saudara dengan Dhamma dan Sila itu. Dhamma akan memberikan jawaban, Dhamma akan menunjukkan jalan keluar, Dhamma akan menghibur dan menumbuhkan semangat baru pada saat-saat Saudara menghadapi tantangan kehidupan. Dhamma adalah sahabat yang paling tepat dalam perjuangan kehidupan ini. Karena itu, meskipun Sang Buddha —Guru yang kita cintai— sudah ribuan tahun meninggalkan kita, namun Dhamma dan Sila yang telah Beliau ajarkan dengan sempurna itu, yang menjadi pengganti Beliau sekarang, menjadi Guru kita semua sekarang ini.

        Konflik-konflik batin, ketegangan, kebingungan, frustasi, rasa tidak aman, malapetaka, peperangan, kejahatan, dan pertengkaran; semuanya akan bermunculan bila kita telah berpaling dari Dhamma. Karena, seribu satu macam penderitaan itu adalah akibat dari karma jelek, dari perbuatan tidak baik yang telah kita perbuat. Cobalah kita lihat dan teliti, maka kita pasti sadar, dan kita tidak akan menyalahkan lagi kepada siapapun juga, karena segala macam kesulitan itu adalah akibat dari perbuatan kita sendiri.

        Oleh karena itu, marilah kita jadikan hikmah peringatan suci Waisak tahun ini untuk kembali kepada Dhamma.

        Meskipun dengan bermacam-macam cara Sang Buddha mengajarkan Dhamma, meskipun luas; tetapi Dhamma —Ajaran Luhur Beliau itu— semuanya mempunyai jiwa yang sama. Sama dalam setiap segi yang Beliau ajarkan, dan tetap sama juga pada sepanjang masa lebih dari 2500 tahun. Jiwa itu tidak lain adalah: metta dan vimutti —cinta kasih dan kebebasan. Cinta kasih yang tulus, dan kebebasan dalam arti bebas dari hawa nafsu.

         Kalau suatu rumah tangga sedang tidak harmonis; kalau suatu ketika timbul suatu ketegangan, atau pertengkaran; bahkan peperangan yang bisa menelan korban jutaan umat manusia, apakah yang bisa digunakan untuk menyelamatkannya? Apakah materi yang banyak, yang berlebihan, yang mampu menyelamatkan keluarga yang hampir retak? Apakah kekuatan, kekerasan, atau senjata yang lebih banyak dan lebih modern yang bisa menyelamatkan dunia ini dari kehancuran, yang bisa menciptakannya perdamaian; karena semuanya ketakutan dengan senjata-senjata itu? Jawabannya singkat: "Semuanya tidak!"

        Sang Buddha pernah menyatakan:

 "Loko Patthambhika Metta".

 Hanya cinta-kasihlah yang bisa menyelamatkan dunia ini.

       Dalam menyelesaikan ketegangan, pertengkaran, dan kesulitan-kesulitan rumah tangga, bila seorang ayah hanya menggunakan kekuasaannya sebagai kepala rumah tangga; atau dengan berpendirian bahwa bila saya memiliki materi yang lebih banyak pasti semuanya bisa selesai; atau juga dengan menggunakan kekerasan supaya semuanya diam ketakutan; maka keharmonisan tidak mungkin bisa dicapai. Tetapi, bila sang ayah, ibu, dan anak-anak saling mempunyai rasa cinta yang tulus, ketentraman dan kedamaian pasti bisa tumbuh dalam keluarga, untuk dinikmati bersama. Juga dalam menghadapi problem yang lebih besar. Bila materi, kekuatan atau kekerasan diandalkan sebagai kunci untuk menyelesaikannya, maka problem tidak akan selesai dengan baik. Bahkan menjadi berantakan.


        Tanpa adanya dasar cinta kasih, kecerdasan yang dimiliki seseorang bisa digunakan untuk menghancurkan kehidupan ini. Tanpa adanya dasar cinta kasih kepandaian bisa menjadi kejahatan dan kekejaman yang luar biasa. Tanpa adanya cinta kasih, ilmu pengetahuan bisa menjelma menjadi penghancur nilai-nilai kemanusiaan.

         Karena itu, marilah kita tumbuhkan cinta kasih yang tulus —cinta kasih yang tidak disertai keserakahan— di dalam kehidupan kita masing-masing. Memang, tidak mungkin bagi kita untuk membuat penghuni bumi ini semuanya mempunyai cinta kasih yang tulus. Tetapi janganlah kita lupa bahwa ada sesuatu yang paling mungkin, yaitu: menumbuhkan cinta kasih dalam diri kita masing-masing. Memang, rasanya cukup susah mendidik orang lain untuk mempunyai cinta kasih, tetapi sangat mungkin mendidik diri kita sendiri untuk mempunyai cinta kasih. Mengapa sering kita lupakan hal ini? Mengapa kita tidak memulainya sekarang? Seringkali kita terbius dengan pikiran jelek kita sendiri, dengan menyatakan, "Tidak mungkin mengubah dunia ini menjadi penuh cinta kasih, tidak mungkin membuat seseorang mempunyai cinta kasih, maka apakah perlunya saya mempunyai cinta kasih?" Alangkah sempitnya bila pengertian kita seperti itu.

         Menumbuhkan cinta kasih dalam diri kita sendiri adalah sesuatu yang paling mungkin. Mengapa kita tidak memulainya? Bila tidak, berarti kita ikut menambah ketegangan di dunia ini, menambah ketegangan dalam rumah tangga kita, dan juga menambah berat ketegangan dalam diri kita sendiri. Bukan meringankannya. Karena itu, sekali lagi, ajakan saya, marilah kita tumbuhkan cinta kasih yang tulus, cinta kasih yang tidak disertai keserakahan di dalam kehidupan kita, di dalam diri kita masing-masing. Meskipun saudara baru bisa mempraktekkan selangkah; itu adalah langkah yang sudah nyata. Karena meskipun baru selangkah, berarti selangkah Saudara sudah berjalan. Ketegangan sudah selangkah berkurang, dan kedamaian sudah selangkah lebih maju.

         Marilah kita junjung nilai kemanusiaan ini, marilah kita selamatkan keluarga kita, dan dunia ini dari ketegangan, kekacauan dan masih banyak lagi untuk disebutkan, dengan memulainya dari diri kita masing-masing, memulai dengan cina kasih yang tulus. Memulai dengan menumbuhkan rasa persahabatan kepada semuanya, kepada semua kehidupan.

         Sekarang, dan bertambah dari dunia ini dan dunia kehidupan kita masing-masing semakin membutuhkan cinta kasih.

         Pada saat-saat yang keramat ini, sudah seharusnya kita berterima kasih kepada Guru Besar kita Sang Buddha, karena dalam waktu berkalpa-kalpa sejak Beliau masih sebagai Bodhisatta, Beliau telah berjuang untuk mencapai Penerangan Sempurna. Dan dari Penerangan Sempurna yang telah Beliau capai itulah kita mengenal Dhamma. Selama 45 tahun penuh Beliau mengabdi, membabarkan Dhamma untuk kebahagiaan semua umat manusia. Mengangkat derajat kehidupan kita. Dan berbahagialah kita yang sampai saat ini masih bisa menemui Dhamma yang luhur itu.***


Sumber : KUMPULAN DHAMMADESANA Jilid 3; Sri Paññavaro Thera

Tidak ada komentar: