Kamis, 27 Oktober 2011

MENGAPA MEMILIH AGAMA BUDDHA?


Transkrip dari kaset ceramah

            Para Bapak, Ibu dan saudara-saudara yang berbahagia, pada malam hari ini kita mencoba untuk merenungkan kira-kira kenapa saya memilih Agama Buddha? Karena memang sebagian besar diantara kita yang umat Buddha kalau ditanya penyebab kita menjadi umat Buddha, sering-sering juga masih bingung. Ada yang ditanya, “Kenapa sih kamu memilih Agama Buddha?”. Jawabnya, “Orang tua saya Buddhis, karena orang tua saya Buddhis, saya ikut”. “Kenapa kalau orang tuanya Buddhis, kok kamu harus ikut?”. “Karena kalau nggak ikut, nggak dikasih makan.” “Lho… apa hubungannya Agama Buddha dengan makan?” “Karena kalau habis pai-pai, habis sembahyang, masakan di meja sembahyang boleh dimakan, buah boleh dimakan. Saya nggak sembahyang, saya nggak makan.” Ini adalah type tradisional. Banyak sekali umat Buddha menjadi umat gara-gara orang tua. Bahkan sebetulnya ini memang gejala yang umum sekali, hampir di semua agama, orang mengikuti agama adalah cenderung karena lingkungannya, khususnya adalah karena orang tuanya. Nah…. Ini adalah klasifikasi yang pertama.

            Ada lagi orang mengikuti Agama Buddha bukan karena orang tua. Orang tuanya malah bukan Buddhis. Tapi, dia ikut Agama Buddha. Ketika ditanya, “Kenapa ikut Agama Buddha?” “Karena pacar.” “Soalnya di vihara ceweknya cantik-cantik dan cowoknya ganteng-ganteng. Apalagi kalau ada fashion show, kelihatan cantiknya, kelihatan gantengnya, sehingga saya mau ikut Agama Buddha, pokoknya saya dapat jodoh.” Ini ada juga type yang begini. Sehingga kalau nanti sudah ketemu umat Buddha, sudah pacaran, ternyata umat Buddha-nya ini ternyata type yang menjengkelkan, akhirnya dia mengatakan, “Yah… sudah… batal, nggak jadi pacaran sama kamu, otomatis aku nggak jadi umat Buddha. Aku mau pacaran sama yang lain ahr. Karena yang lain ini bukan umat Buddha, aku ikutlah. Pokoknya aku agama ikut pasangan hidup.” Ini jenis yang kedua yah…. cukup banyak. Bisa lho… di antara kita yang hadir di malam hari ini ada yang kelompok kedua ini. Saya ikut Agama Buddha itu kan gara-gara di vihara cantik dan ganteng. Kalu jelek-jelek malah nggak ada yang ikut. Nah, ini type yang kedua.

            Sebetulnya type yang kedua ini termasuk type kebutuhan. Kalau type yang pertama tadi adalah type kebudayaan, jadi ikut orang tua, ikut tetangga, ikut tradisi, ikut agama Buddha-nya. Itu adalah type kebudayaan.

Yang kedua ini adalah type kebutuhan, sehingga bagi anak muda, kebutuhannya apa? Punya pacar yang cantik, punya pacar yang ganteng, jadilah umat Buddha.

Bagi yang sudah bekerja, ikut Agama Buddha supaya hoki datang. Kenapa? Karena di Agama Buddha ini ada aneh-anehnya. Ada dewa ini, dewa itu. Kemudian ada yang pengen nebak bola, piala dunia. Ada lho gara-gara piala dunia, satu bulan jadi umat Buddha, supaya sempat sembahyang tanya sama dewa bola,  apa yang menang hari ini? Skornya berapa? Supaya saya voor-nya setengah atau satu setengah, atas atau bawah? Bisa. Ini adalah pemilihan agama karena type kebutuhan.

Ada lagi, kepengen usahanya sukses, karena Anda tentu mengerti bahwa di dalam Agama Buddha ini juga mengenal beberapa ‘hu’. Toko saya mau laris, pasang ‘hu’. Wah… kalau nggak Buddhis, nggak ketemu ‘hu’. Tapi ada juga Buddhis yang ‘hu’ modern. Apa itu? Fotonya Bhikkhu. Saya pernah dan sering menemui. Mau disuruh ngepret rumah, kan saya kepret. Sampai di toko saya lihat foto saya. “Eh…… ini kok fotonya saya kok di sini?” “Ya Bhante, biar laris.” “Lha…. yang tadi digudang apa itu?” “Untuk takut-takut tikus Bhante”. Wah… jadi foto saya serba bisa ya. Saya saja nggak laku-laku, masa foto saya ditempel di toko supaya laris tokonya. Ini termasuk type kebutuhan yang agak modern. Jadi fotonya Bhikkhu atau jimat-jimatnya Bhikkhu.

Kalau Bhikkhunya pulang, habis nginap. Yang pertama disikat, sabunnya dulu. Oh…. Ini, sabunnya Bhante, berkah ini. Wah…dipake sekeluarga enteng jodoh semua ini. Wong, padahal Bhikkhunya aza ngak laku-laku, katanya sabun dipake sekeluarga enteng jodoh. Bagaimana ini? Lalu kalau sudah itu, handuknya.

Kadang-kadang umat ngomong, “Bhante, cuci jubah disini Bhante”. “Lho, emang kenapa?” “Biar sini kejatuhan berkahnya”. Lho… apa sih artinya jubah kotor? Kok, bisa kejatuhan berkah.” “Iya Bhante. Kita kan punya kesempatan mencucikan”. Ini macam-macam, teori kebutuhan sih….

Nah, type yang kebutuhan ini juga kemudian berkembang, masuk Agama Buddha bukan karena pengen jodoh, bukan karena pengen usaha sukses, kepengen sembuh dari sakit.

Ada umat yang sudah sakit lama, didoain nggak bisa. Apalagi special orang yang sakit kesurupan. Itu banyak yang jadi umat Buddha. Jadi, orang yang sakit, ndak sembuh-sembuh terutama yang kesurupan. Itu juga biasanya lalu memilih beragama Buddha. Kenapa demikian? Karena katanya seorang Bhikkhu ini dipandang punya kelebihan. Padahal Bhikkhu itu punya kekurangan, kekurangan rambut. Tapi dianggap punya kelebihan. Sehingga kadang-kadang kalo saya datang aza, “Bhante, nanti sepak bola menang yang mana?” Itu sudah pertanyaan umum sekali. Nah, sekarang juga gitu, kalo datang ke rumah orang, “Bhante, rumah ini banyak makhluknya nggak Bhante?” Oh…. iya, saya lihat ada makhluk tampak. Ini suami, istri, anaknya. Ini adalah makhluk tampak.” “Nggak Bhante, maksudnya makhluk tak tampak.” Lhar… kamu aza nggak tampak, apalagi aku.” Nah… terus demikian. Wah… sudah panggil Bhikkhu, panggil apa aza bacain doa. Eh… kebetulan sembuh. Eh… kebetulan lancar semua. Nah… jadilah dia umat Buddha.

Saudara-saudara, kalau pemilihan agama hanya karena dua jenis ini, jenis kebudayaan atau jenis kebutuhan. Saya kira saya tidak perlu bahas pada malam hari ini, karena ini tidak ada manfaatnya. Saya justru akan mencoba membahas tentang bagaimana kita memilih Agama Buddha adalah karena pengertian, bukan karena tradisi, bukan karena kebutuhan, tetapi karena pengertian yang benar. Apakah sekarang pengertian yang benar di dalam Agama Buddha?

Saudara-saudara, Agama Buddha ini sebetulnya merupakan sesuatu agama yang cukup menarik. Sayangnya, perkembangan Agama Buddha setelah keruntuhan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, ini perkembangannya agak kurang bagus. Ibaratnya barang bagus tetapi bungkusnya tidak bagus.

Anda kan sering belanja di toko, beli sabun atau minuman. Anda pernah kan belanja beli sabun atau beli minuman? Kalau bungkusnya sabun itu lecek atau kalau tempat minuman ini kucel, kemudian juga lecet disana, lecet disini. Anda mau beli barang itu? Hah? Atau anda , yah… saya pilih sabun yang lain lhar. Padahal sabunnya merknya sama, cuma satu bungkusnya lecek, yang satu bungkusnya bagus. Kan anda nukar. Aku nukar lah. Padahal yang anda tukar hanya bungkusnya. Demikian juga dengan minuman. Gelasnya lecek, penyok sana, penyok sini, lecet sana, lecet sini. Itupun anda tukar nanti. Aku mau nukar yang mulus. Nah… padahal anda hanya menukar bungkus, bukan menukar isi.

Anda beli buku, anda beli majalah. Kalau sampulnya terlipat sedikit aza, tukar dong, tukar yang bagus, yang masih mulus. Oh… sudah habis, hanya satu itu. Yah…. Sudah lha, terpaksa. Kan begitu? Betul? Apa yang anda lakukan di masyarakat? Begitu kan?

Nah, Agama Buddha itu juga begitu. Seperti sabun yang wangi, seperti minuman yang menyegarkan. Seperti majalah yang isinya bermanfaat tetapi bungkusnya ini agak lecek, agak kurang menarik. Apakah bungkusnya? Bungkusnya itu adalah tradisi.

Misalnya ; menggunakan bahasa yang sulit. “Buddhang saranang gacchami”. Itu banyak orang terpeleset loh menyebut itu. Pänätipätä veramani sikkhäpadang samädiyämi. Coba bagi anda yang baru sekali mendengarkan. Apa itu? Apa itu? Apa itu? Yang sudah berkali-kali mendengarkan aza bisa selip, bisa terpeleset. Ini padahal hanya bungkus, sehingga kadang-kadang , Ahr…. demi bungkus, sudahlah. Tinggal. Itu bahasa upacara.

Lalu duduk di lantai. Itu juga kadang menjadi problem yang dianggap besar sekali. “Wah… Agama Buddha itu aku nggak mau ikut.” “Kenapa?” “Duduknya di lantai, dengkulku nggak tahan, capek, rematik.” Padahal itu bungkus. Anda duduk di kursi yah tidak mengurangi hakekat kebaktian di vihara. Atau harus anjali. “Wah… anjali itu kan perintahnya, merangkapkan kedua tangan di depan dada. Lhar… tanganku cuma satu. Lhar… bagaimana ini? Aku nggak ikut Agama Buddha ahr….” “Karena apa?” “Karena kalau nanti semua orang mengatakan merangkapkan kedua tangan di depan dada. Aku cuma satu di depan dada. Aku nanti kesalahan. Aku nanti karma buruk. Aku nanti masuk neraka. Wah… nggak lhar, nggak lhar.

Anda tertipu dengan bungkus sehingga isinya yang sesungguhnya malah tidak diperhatikan. Nah… oleh karena itu saudara-saudara, bungkus kita banyak, sangat banyak. Ada yang lecek sana, ada yang lecek sini. Ada yang lecek sudutnya, ditukar. Eh… lecek sudut bawahnya. Ditukar lagi, tengahnya yang lecek. Sabun juga demikian, bungkus ini sobek, ditukar bungkus yang lain. Sobeknya di tempat yang berbeda.

Jadi sebetulnya kalau kita membahas tradisinya, juga tidak akan selesai. Bahkan kadang diantara umat Buddha sering mempermasalahkan tradisi ini, geger-geger, cekcok-cekcok, tidak bersepakat gara-gara tradisi. Padahal sebetulnya tradisi ini hanya bungkus. Ibaratnya sekarang, sudahlah… bungkusnya dibuka. Sabunnya sama, airnya sama, menyegarkan. Majalahnya sama, isinya bermanfaat. Kenapa orang sibuk dengan bungkus?

Nah… oleh karena itu saudara. Inilah yang sebenarnya menghambat kemajuan Agama Buddha sejak runtuhnya zaman Majapahit sampai hari ini, sebetulnya adalah karena kita sibuk urusan bungkus. Sehingga kalau kita mau ngomong-ngomong dengan umat Buddha yang lain. Kalau mau memilih agama, kita akan tanya, “Kamu agamanya apa?” “Buddha”. “Buddha yang mana?” Lha, ini sudah menanyakan bungkus. “Oh… aku Buddha A.” “Wah… Buddha A itu sesat.” “Buddha B itu yang cocok.” “Wah… Buddha B salah, Buddha C yang paling sesuai”. Jadi kita mempertentangkan bungkus bungkus bungkus yang tidak ada manfaatnya. Geger geger geger yang akhirnya rugi sendiri.

Nah saudara-saudara, kalau begitu, <span>BUKAN</span> bungkus yang kita bahas. Apa sebetulnya yang ada di dalam Dharma yang membuat kita menjadi tertarik Agama Buddha? Atau yang membuat kita seharusnya sadar akan kelebihan Dharma? Sehingga saya bertekad menjadikan Agama Buddha sebagai pedoman hidupku mulai sekarang sampai selama-lamanya.

Saudara-saudara, Agama Buddha itu sesungguhnya bukan agama upacara atau bukan agama bungkus. Jangan anda mengatakan, “Saya umat Buddha karena saya sudah sembahyang sekian puluh tahun”. “Coba lihat itu patung di rumah saya, sampai hitam kena dupa.” “Coba lihat karpet di rumah saya, sampai berlubang-lubang kena tetesan api dupa”. “Berapa puluh tahun saya namaskara, sampai karpet saya habis bulunya”. Itu bukan jaminan umat Buddha. “Oh… saya umat Buddha. Coba lihat liontin saya, 1,2,3,4,5… Wah keliling, 32 liontin dipake semua.” Itu bukan  umat Buddha.

Saya umat Buddha, saya sudah hafal paritta sekian banyak, buku biru habis, buku kuning habis, buku merah habis, buku ramalan pun habis. Tafsir mimpi habis, sehingga Singapur tahu, mana juga tahu. Tidak ada manfaatnya. Tetapi sebetulnya memilih Agama Buddha karena pengertian itu adalah karena kita melaksanakan di dalam kehidupan.

Nah saudara-saudara. Apa yang sekarang kita harus laksanakan di dalam kehidupan? Apa yang membuat menarik kita sebagai umat Buddha yang penuh pengertian melaksanakan Dharma  di dalam kehidupan sehari-hari?

Saudara-saudara, Agama Buddha itu sebetulnya memberikan pelajaran mulai kita dari awal sampai akhir, di dalam kehidupan kita. Satu contoh : di dalam Dharma diajarkan bagaimana kita merancang melahirkan anak yang baik, kan dimulai dari situ kan? Kehidupan kan dimulai dari kelahiran.

Jadi di dalam Dharma itu sudah dijelaskan, salah satu di dalamMAHATANHASANKHAYA SUTTA  dijelaskan ‘Apakah syarat kehamilan?’

Kehamilan itu ada 3 kondisi. Syarat yang pertama di dalam Dharma disebutkan, sel ibu matang, atau katakanlah dalam bahasa sekarang sel telur (ovum) matang, masa subur.

Yang kedua, syarat kehamilan adalah ketika sel bapak datang, atau dalam bahasa yang sederhana, sperma ada disitu.

Yang ketiga, disebut Patisandhi viňňana atau kesadaran penerus ada didalam pertemuan sel telur dan sperma tersebut.

Nah, jadi ada 3 kondisi. Jadi dari sini kita bisa melihat. Oh… orang hamil ini ada 3 kondisi. Patisandhi viňňana dari mana? Sebetulnya ini adalah dari makhluk yang meninggal. Kesadaran penerusnya datang pada saat sel telur dan sel sperma kondisinya sesuai, maka patisandhi datang.

Hal inilah yang sebetulnya yang menjelaskan kenapa ada orang yang married, sudah sekian tahun. Diperiksa dokter, semuanya sehat, pria dan wanitanya sehat. Kok nggak hamil hamil? Kenapa? Karena kehamilan bukan hanya ditentukan oleh sel telur dan sel sperma saja yang sehat, tetapi juga kesadaran penerus, sehingga kita sekarang bisa mulai berpikir bagaimana supaya mendapatkan kesadaran penerus yang baik.

Nah… lalu kita melaksanakan; banyak membaca paritta, meditasi, sehingga getaran pikiran suami istri itu adalah getaran pikiran yang positif, getaran pikiran yang baik sehingga akhirnya ketika sel telur dan sel sperma ini bertemu, kesadaran penerus itu yang baik. Maka ketika kehamilan datang, datanglah anak yang baik. Ini sebetulnya adalah merupakan salah satu awal kelahiran. Kemudian ketika ada kehamilan lalu anak lahir, juga ada peraturan di dalam Dharma yang mengajarkan bagaimana prilaku orang tua terhadap anak. Ini terdapat di dalamSIGALOVADA SUTTA, itu sangat dijelaskan bahwa orang tua hendaknya mencegah anak berbuat jahat. Jadi ketika anak…., kadang-kadang anak kecil kan lihat semut, dipencet. Lihat semut, dipelintir. Lihat nyamuk, ditepok. Lihat cecak, dijepret karet. Orang tua punya kewajiban mengarahkan anak untuk berbuat baik. Kita tanya, “Nak, kamu kalau dijepret karet, sakit nggak?” “Ya sakit.” “Lhar… makhluk lain kalau dijepret karet juga sakit”. “Tapi kok nggak ngomong?” “Karena dia bibirnya nggak seperti kamu! Coba kalau kamu bibirnya kayak cecak, yah kamu juga nggak bisa ngomong.”

Jadi kita mulai menerangkan, bahwa menyakiti makhluk lain itu buahnya adalah pada diri kita sendiri. Anak diajarkan untuk takut melakukan kejahatan. Dengan demikian, maka anak sejak kecil dididik untuk menjadi baik dan ini ada sutta-nya. Karena itu, menjadi orang tua gampang. Menjadi orang tua mudah, melahirkan anak mudah, tapi mendidik anak itu sangat sangat sulit.

Nah saudara-saudara, tugas orang tua yang pertama kepada anak adalah mendorong anak untuk tidak melakukan kejahatan. Kemudian yang kedua, mendukung anak supaya anak melakukan kebaikan. Jadi kalo tadi yang mencet semut dilarang, jepret cecak dilarang. Tapi melepas makhluk / ‘fang sen’ boleh diminta, boleh disuruh. Jadi, “Ini nak, hari ini kubelikan burung 50 ekor.” “Ayo, kamu lepaskan.” Nah, anak umur 2 tahun disuruh belajar melepaskan makhluk / di ‘fang sen’. Ini belajar untuk dia menjadi orang yang baik.

Di kasih buah satu, lalu ngomong kepada anaknya, “Nak, kamu bagi ya buah ini dengan kakakmu atau bagi dengan adikmu.” Ini mendorong anak untuk berbuat baik. Nah, itu masih banyak lagi yang lain. Sehingga pendidikan orang tua kepada anak ini bisa maksimal kalau kita bisa mengikuti beberapa pelajaran Sang Buddha tersebut. Kemudian sebaliknya anak kepada orang tua, juga punya kewajiban. Misalnya membantu orang tua.

Jadi kalau orang tua buka toko dan sebagainya. Cobalah dibantu buka toko itu. Tolong dia, bantu bukan toko, jagain toko. Kalau malam orang tua capek, pegal, anak boleh bantu pijitin dan jangan narik uang. “Ini kalau aku pijitin ½ jam Rp. 1.000,- ya.” Bukan demikian, tetapi saya bantu karena orang tua sudah baik kepada saya. Nah, ini diajarkan, tetapi kalau anak belum punya kesadaran, orang tua lah yang mendidik. “Ayo, saya capek, pijitin.” “Alaaa…. bapak ini gayanya capek-capek.” “Eh, kamu saya kasih kesempatan berbuat baik lho.”  “Pijitin!”

Nah, membantu orang tua. Ini salah satu kewajiban anak. Tapi orang tua tidak buka toko, orang tua tidak mau dipijitin, karena kalau dipijitin geli semua. Apa yang bisa dikerjakan? Anda sekolah dengan baik, bisa melewati ulangan-ulangan dengan nilainya yang bagus, membuat orang tua tidak stress, tidak terlibat perkelahian massal, tidak terjebak di dalam narkoba. Sebetulnya anda sudah termasuk membantu orang tua. Sehingga orang tua bekerja untuk mencari uang sekolah anda, dan tidak dipusingkan dengan prilaku anda yang tawuran, narkoba dan lain sebagainya.

Ini adalah merupakan beberapa tugas. Itu masih banyak yang lain yang ada di dalam SIGALOVADA SUTTA, yang kalau saya bahas pada malam hari ini akan bisa sangat panjang sekali. Yang jelas pokoknya anak ini tadi mulai lahir, sudah diproses, kemudian mulai dewasa dewasa dewasa diproses.

Lalu, anak belajar karena sekolah. Apakah Agama Buddha bisa memberikan kontribusi / bantuan kepada anak yang sekolah? Bisa! Kenapa demikian? Karena Sang Buddha sendiri telah menyatakan di dalam Dharma “Seseorang yang hidup tidak belajar itu seperti sapi.” Apakah sapi? Tiap tahun umurnya bertambah, tiap tahun dagingnya bertambah, tapi otaknya tetap. Ya kan? Coba bertahun-tahun anda lihat sapi, ndak ada yang bangun rumah bertingkat. “AH… saya sudah ndak mau makan rumput nih. Aku mau makan humburger.” Sudah ngak ada sapi yang begitu berpikirnya. Kenapa demikian? Karena sapi bertambah umur, bertambah daging, tapi tidak bertambah kebijaksanaanya. Dan di dalam Dharma disebut seperti orang yang tidak belajar. Berarti Agama Buddha sebetulnya mendorong seseorang untuk belajar.

Nah, lalu apa yang bisa digunakan untuk belajar? Salah satunya adalah bermeditasi. Dengan anda sering melatih meditasi, sebetulnya anda berkonsentrasi, menyadari bahwa hidup saat ini. Kenapa demikian? Karena kesadaran bahwa saya punya kenang-kenangan yang lampau ataupun rencana-rencana yang akan datang, itu sebetulnya yang membuat kita stress, membuat kita sulit berkonsentrasi. Tetapi kalau kita biasa melatih meditasi, pagi bangun tidur 15 menit, malam mau tidur 15 menit. Maka sesungguhnya kemampuan berpikir anda, daya ingat anda, konsentrasi anda sebetulnya akan meningkat sekali. Anda boleh buktikan! Bagi anda yang kebanyakan pelajar. Coba praktekkan meditasi! Dua atau tiga bulan saja. Dalam 2 atau 3 bulan ke depan, anda bisa kaget bahwa begitu anda membuka buku, anda cepat sekali mengerti isi buku yang anda baca. Kemudian besok ulangan, anda langsung siap maju, tanpa harus menyiapkan kertas-kertas kecil yang disembunyikan di lipantan baju, tangan ditulis-tulis sehingga tangannya seperti kamus, sudah tidak ada lagi. Kenapa? Karena kemampuan daya pikir anda sudah meningkat, sudah tidak dibutuhkan lagi seperti itu.

Nah, kemudian anda sebagai pelajar, mulai dewasa, lalu pengen pacaran. Apakah ada Agama Buddha tentang pacaran? Ada! Kenapa kok ada? Lhar…. Umat Buddha kan bukan harus jadi bhikkhu semua. Nah, apakah resepnya pacaran? Nah, itu juga ada di dalam salah satu sutta bahwa sebetulnya kalau kita mau akrab dengan seseorang, kita bukan mengharapkan orang lain memperhatikan kita dulu, tetapi kita harus memperhatikan dia dulu. Di dalam dunia ini kan menanam padi, baru panen padi. Jangan minta panen, baru tanam!

“Perhatikanlah aku!” “Cintailah aku! Nanti engkau pasti kucintai juga.” Modal dong… , harus modalnya dikeluarin dulu. Aku mencintai kamu dulu. Kalau dicintai, dia lari, dicintai, lari, dicintai, lari. Seruduk terus, kena juga. Loh, bagaimana caranya? Nah… no.1 saudara-saudara, disebutkan di dalam Dharma. Untuk kita bisa mempunyai keabraban dengan seseorang. No. 1 adalah kerelaan. Rela itu bisa berarti materi, bisa berarti bukan materi. Kalau anda mengajak calon anda makan di restauran. Lalu tiap kali makan, anda hanya mau, “Kamu dulu ya yang bayarin yah…Nanti aku bulan depan”. Ini sudah bulan depan. “Bulan lalu kamu kan juga ngomong gitu.” “Maksudku bulan ini lho. Kamu bulan ini tetap bayar”. “Lhar itu kan sudah 3 bulan kamu katakan begitu, kalau kamu akan bayar bulan depan.” “Bulan yang akan datang ini loh. Kamu bulan ini tetap bayar saja.” Selalu bulan yang akan datang, selalu bulan yang akan datang. Lhar, kapan datangnya? 20 tahun pacaran gitu, rugi besar. Kenapa? Karena kita tidak mau berdana, berdana yang bersifat materi.

Ulang tahun. Lupa. Telepon juga nggak. Ketika ditanya, “Lho, kamu ulangtahunku ingat?” “Ingat.” “Lho, kenapa nggak telepon?” “Pulsa mahal.” Sudahlah….kalau begitu kamu nggak usah sama aku.

“Kartu?” “Kartu beli juga mahal.” “Ngeprint sendiri.” “Wah… tinta printer lebih mahal.” Yah… kalau sudah tidak mau berdana, jangan pacaran saja. Itu kalau sudah pacaran begitu, itu harus ada debet dan kreditnya. Tanggal sekian pemasukkan ini, tanggal sekian, pengeluaran segitu. Teruuuus dicatat. Nanti kalau nggak jadi pacaran. Ditotal. Kamu hutang sama aku sekian. Kalau sudah suami istri, juga kasih total, aku dulu investasi untuk mendapatkan kamu sekian. Ini sudah nggak usah dilanjutin kalau pacaran model begitu.

Nah, jadi kalau berdana begitu sebetulnya kita memberi perhatian, tetapi bukan hanya materi, juga bisa. Contohnya : Eh, ayo! Kita berangkat mendengarkan Dharma. Aku boncengin ya. Aku ngebut ya. Aku lewat jalan yang agak rusak. Jadi sabuk pengaman harus dipasang. Kalau anda tidak berdana non-materi, dalam arti anda mau memperhatikan, kapan dapat sabuk pengaman yang bisa bikin geli-geli. Ini tentu adalah butuh perhatian. Selain itu juga, selalin berdana dalam arti materi. Berdana dalam arti perhatian, ikut kalau bantu bawa-bawa apa, kita juga bantu bawakan. Juga omongan yang manis. “Wah… hari ini waktu kamu mau tampil dalam pertemuan begini. Oh… kamu kelihatan rapi sekali ya. Lain loh penampilannya.” Nah, dengan kata-kata yang manis seperti ini, bahkan bukan dengan lawan jenis yang bisa menjalin orang senang berhubungan dengan kita. Kita dekati dengan cara seperti ini, teman sejenis pun bisa. Tetapi yah… tentu itu untuk bisnis dan lain sebagainya. Jadi jangan anda berpikiran yang negatif. Yah…. Mungkin kalau ada rekan bisnis.

Coba anda lihat, beberapa kantor, beberapa pertokoan, beberapa usaha, asuransi dan sebagainya. Kalau ada ulang tahun, kan dikasih kartu ulang tahun. Loh koq ingat? Nah, itulah perhatian. Kartunya mungkin nggak mahal, tapi nilai perhatian ini lho yang mengikat. Kadang-kadang juga ditelepon. “Bagaimana kabar? Koq di vihara kamu nggak pernah muncul?” Ini sebetulnya adalah bentuk perhatian dan kata-kata yang manis. Nah… itu ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk menjalin hubungan dalam masyarakat. Baik mencari pasangan hidup maupun rekanan kerja. Nanti, makin dewasa makin dewasa sudah punya pacar. Lalu mau berumah tangga.

Nah, kalau sudah berumah tangga. Di dalam SIGALOVADA SUTTA kembali disebutkan disitu. Tugas dan kewajiban suami serta istri, hak dan kewajiban suami istri. Apakah kewajiban suami yang pertama?

Bukan memberi uang kepada istri, karena itu adalah kewajiban yang terakhir.
Bukan memberi perhiasan kepada istri, karena itu juga kewajiban yang terakhir.

Yang pertama yang harus dikerjakan seorang suami kepada istri adalah MEMUJI ISTRI. Para bapak-bapak yang sudah married, sudah sering belum memuji nyonya nya? Memuji istrinya? Sudah sering belum? Karena laki-laki itu kalau jelek diomong. Kalau baik, diam. Masakan enak, diam. Masakan asin, rewel. “Apa ini masakan koq asinnya kayak gini?”

Lho… yang enak seminggu itu nggak diomong. Istrinya make-up nya bagus terus, diam. Hari ini lipstiknya kena gigi. “Pake lipstik koq sampe gigi?” Jadi yang jelek yang direwelkan. Padahal seorang wanita, lain. Jelek boleh dikritik, tetapi baik juga harus dipuji. Buktinya apa? Istrinya sudah masak, nanti juga tanya, “Bagaimana pak? Enak nggak masakanku hari ini? Lho, suaminya mestinya tanggap. “Enak, apalagi kalau garamnya kamu kurangi dikit.” Itu istri sudah lega. “Ya pak, besok aku kurangi dikit.” Anda katakan enak, garam kurangi sedikit. Lega sudah. Jangan. “Enak apanya? Garamnya banyak kayak gitu!” “Besok makan luar aza kamu. Emang dikirain disini restauran!”

Memuji… waktu pacaran anda suka memuji. Aduh…. cantiknya kamu. Lho cantik apanya? Wong aku jerawatan. “Lho, langit tanpa bintang ibarat gedung manunggal tanpa lampu. Jadi jerawatmu, sebetulnya justru itu yang membuatku tertarik, tapi satu aza, banyak-banyak aku juga ngeri. Ini sebetulnya memuji, memuji istri sendiri. Kan nggak apa-apa, daripada memuji istrinya orang.

Nah, oleh karena itu saudara-saudara, wanita itu memang membutuhkan demikian. Mungkin ibu-ibu pengalaman demikian. Yah… ibu-ibu, begitu nggak? “Pa, aku ini masih cantik nggak sih?” Lho, itu sebetulnya dia mengharapkan jawaban. “Aku itu nggak butuh cantik. Aku senang sama kamu itu bukan karena cantik, karena cantik itu terbatas usia. Masa sudah nenek-nenek masih ngomong cantik. Bukan kecantikan yang aku inginkan. Tangung jawab mu itu loh. Kamu itu kalau sama suami, sama anak. Aduh…. kamu itu penuh tanggung jawab. Ini lho yang membuat aku sangat sangat mencintaimu.” Dengan begitu, aduh… istrinya bisa langsung pingsan loh. Yah…. Nggak sampai masuk gawat darurat. Waduh… enaknya, ini angin surga apa ini? Suamiku kok bisa ngomong itu.

Jadi ini adalah menjadi kewajiban suami dan menjadi hak istri. Jadi kalau istri-istri belum mendapatkan pujian berarti anda belum mendapatkan hak anda secara Agama Buddha. Bapak-bapak yang belum pernah memuji istrinya, berarti anda belum melaksanakan tugas anda, kewajiban anda kepada istri anda. Lalu, bagaimana tugas istri? Saya ceritakan salah satu aza tugas istri. Menjaga harta suami. Loh, apakah menjaga itu?

Dulu dikasih gelang satu, tetap satu. Bisa demikian.
Dulu dikasih gelang satu, bisa jadi dua. Itu juga bisa, kenapa demikian?

Di dalam era seperti hari ini, kadang-kadang bukan hanya pria saja yang bekerja. Tetapi juga wanita ikut bekerja. Nah… di dalam Dharma, menjaga harta pria, menjaga harta suami. Bisa berarti anda menjadi kasir di dalam rumah. Tetapi juga anda bisa mengembangkan harta suami itu dengan sebaik-baiknya. Jadi anda ikut bekerja, berjuang di toko, di masyarakat, di kantor dan sebagainya, sehingga keuangan rumah tangga ini bisa lancar.

Ada yang menarik, satu lagi saya kenalkan. Tugas istri adalah baik, berbaik hati, mau membantu ipar-ipar suami, jadi bukan iparnya suami, maksudnya keluarganya suami.

Saya lalu merenungkan kenapa demikian ya? Karena kadang-kadang istri itu kalau sama adik ipar atau kakak ipar kan agak galak. Ibu-ibu! Ibu-ibu! Ngalami nggak? Sama kakak ipar, sama adik ipar agak galak. “Huh… kamu gayanya. Kalau aku nggak dapat adikmu, mana sudi aku lihat kamu”.

Eh…. ternyata di dalam Dharma, itu menjadi tugas istri, menjadi hak suami. Istri-istri harus baik sama ipar-iparnya, baik ipar pria atau ipar wanita, mertua dan lain sebagainya.

Nah, ini berkembang. Kemudian nanti kalau sudah bekerja, punya pasangan hidup. Nanti punya anak. Nah, lanjut lagi seperti tadi lagi.

Jadi proses Agama Buddha. Kenapa kita bisa memilih Agama Buddha? Karena Agama Buddha bisa dipakai sejak manusia lahir atau bahkan belum dilahirkan / masih bakal / bayi di dalam kandungan, sampai lahir, pendidikan anak, proses belajar, mencari pasangan hidup, menjadi suami istri, demikian seterusnya. Bahkan nanti kalau akan meninggalpun, Agama Buddha pun memberikan jalan bahwa seseorang saat mau meninggal, Patisandhi Viňňana akan terlahir di alam lain, karena itu, lalu apakah yang harus dilakukan? meditasi yang tadi dilatih sejak anda masih belajar, itulah yang dipraktekkan di ranjang pembaringan ajal kita masing-masing. Jadi, karena sudah menjadi kebiasaan sejak muda bermeditasi. maka pada saat akan meninggal bermeditasi.

Nah, masuklah tahap yang berikutnya, bukan hanya Agama Buddha digunakan dalam kehidupan ini, untuk mencapai kebahagiaan dari berbagai segi. Juga setelah meninggal karena kemampuan meditasi yang kita latih, sejak remaja itu sudah kita praktekkan terus. Maka ketika meninggal, kita bisa mengarahkan, kita mau lahir dimana.

Di dalam Dharma telah dikenal bahwa setelah kehidupan ini, ada 26 alam surga.  Makin lama anda berbuat baik, makin banyak perbuatan baik yang anda kerjakan, makin tinggi nilai kebajikan yang anda miliki, maka semakin tinggi pula surga yang anda dapatkan. Semakin lama pula anda tinggal di surga tersebut.

Ibaratnya kalau anda membeli minuman 1 gelas ini. Kalau anda punya uang Rp. 500,- Anda mendapatkan minuman 1 gelas. Ketika anda membayar Rp. 1.000,- maka anda dapatkan 2 gelas. Ketika anda membayar Rp. 5.000,- anda mendapatkan 10 gelas. Makin banyak uang yang anda dapatkan, makin banyak barang yang anda dapatkan. Demikian pula alam setelah kematian. Makin banyak karma baik yang anda miliki di dalam kehidupan ini, karena sejak kecil selalu dididik ayahnya untuk melakukan kebajikan, menghindari kejahatan, sesuai dengan SIGALOVADA SUTTA.

Demikian pula ibunya selalu mendorong anak supaya selalu berbuat baik, selalu ke vihara, selalu membaca paritta, selalu ‘fang sen / melepas makhluk’ dan lain sebagainya. Maka ketika meninggal dunia di usia yang sudah lanjut. Kebajikan kita ini andaikan seperti uang Rp. 5.000,- yang bisa dipakai membeli 10 gelas.

Tetapi kadang orang yang mungkin tertarik Agama Buddha karena pacarnya, sehingga sudah setengah umur, baru melakukan kebaikan karena didorong oleh pacarnya, suruh ke vihara, suruh mendengar Dharma, suruh praktek ajaran Sang Buddha, suruh melepas makhluk dan lain sebagainya, suruh bermeditasi. Setengah umur sampai mati, seperti orang yang punya uang Rp. 2.000,- sehingga dia hanya dapat 4 gelas.

Ada lagi yang orang mengikuti Agama Buddha karena kebutuhan, sudah sakit berat, baru ikut Agama Buddha. Ya……waktu meninggal;
“Buddhang saranang gacchami “
“Dhammang saranang gacchami “
“Sanghang saranang gacchami “
Padahal seluruh hidupnya jahat. Itu seperti orang yang punya uang Rp. 500,- Dia lahir di surga, surga yang paling rendah-rendah saja. Kenapa? Karena kebajikan dia, karena keyakinan dia, dia lahir di surga yang paling rendah.

Oleh karena itu, makin banyak kebajikan yang kita lakukan, makin lama kebajikan kita kerjakan, sesungguhnya kita mendapatkan surga yang lebih banyak lagi.

Oleh karena itu saudara-saudara, selain hidup di dunia bahagia. Sebetulnya seorang umat Buddha memilih ajaran Sang Buddha, memilih Agama Buddha sebagai agama adalah karena mati surganya banyak. Coba surga banyak. Apa untungnya? Kita boleh milih, boleh milih dan gampang masuk. Coba saudara-saudara. Satu contoh ; kalau saya disuruh melempar gelas ini supaya mengenai pak Frans. Sulit! Karena pak Frans cuma satu. Saya lempar, belum tentu kena. Tapi kalau saya melempar, pokoknya kena kepalanya siapa saja, kan banyak orang tuh, katakanlah 26 orang. Saya merem, saya berani koq lempar. Mesti kena salah satu. Kenapa? Banyak jumlahnya, ya kan?

Nah, Agama Buddha juga begitu. Karena pilihan surga itu bukan hanya satu, pilihan surga itu 26. Maka sesuai dengan kebaikan anda, anda akan mencapai surga yang lebih tinggi, yang lebih tinggi, yang lebih tinggi. Sehingga hidup di dunia bahagia. Mati tersedia 26 surga. Apalagi yang lebih hebat lagi dari Agama Buddha sehingga kita perlu memilih Agama Buddha? Bahwa Agama Buddha tujuan akhir mencapai Nibbana. Ini sesungguhnya bisa dicapai ketika manusia masih hidup.

Nibbana sebagai tujuan akhir atau Nirvana adalah Tuhan di dalam Agama Buddha. Konsep Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam Agama Buddha, Tuhan di dalam Agama Buddha bukan dicapai ketika manusia sudah meninggal. Karena itu sulit dibuktikan, karena semua orang yang meninggal, tidak pernah kembali dan laporan pernah ketemu dengan Tuhannya. Ada yang pernah laporan? Tidak ada. Tetapi Tuhan di dalam Agama Buddha yang disebut Nirvana / Nibbana sebetulnya bisa dicapai ketika manusia masih hidup.

Pangeran Siddharta setelah 6 tahun bermeditasi, mencapai kesucian, sebetulnya mencapai pengertian tertinggi tentang konsep ketuhanan di dalam Agama Buddha. Para murid Sang Buddha, yang kemudian melatih diri dan mencapai kesucian, sebetulnya mereka pun juga mengerti konsep ketuhanan di dalam kehidupan ini juga.

Oleh karena itu saudara-saudara, konsep Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam Agama Buddha bisa dicapai di dalam kehidupan ini, bisa kita buktikan dengan jalan mulia berunsur delapan. Oleh karena itu, Dharma ajaran Sang Buddha ini mengundang untuk dibuktikan, bukan hanya dipercaya. Tetapi mengundang untuk dibuktikan sehingga akhirnya ketika kita sebagai umat Buddha, bukan hanya sembahyang mengikuti tradisi, kita sebagai umat Buddha, bukan hanya menjalani ajaran Sang Buddha karena kebutuhan. Tetapi karena kita mengerti bahwa pencapaian konsep Ketuhanan Yang Maha Esa bisa dicapai di dalam kehidupan ini juga.

Oleh karena itu saudara-saudara, inilah sesungguhnya menjadi pilihan kita sebagai seorang umat Buddha, bahwa umat Buddha ada yang umat Buddha tradisi, ada umat Buddha kebutuhan dan yang ketiga adalah umat Buddha karena pengertian.

Pada malam hari ini saya mencoba mengenalkan kepada anda ketiga jenis pengikut ajaran Sang Buddha ini, supaya masing-masing di antara kita ini bisa merenungkan, “Saya type yang mana?” Type apapun juga anda, tidak usah kecewa. Karena mulai sekarang sampai selama-lamanya nanti, anda mulai bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha di dalam kehidupan sehari-hari.

Anda sebagai pelajar, ingin meningkatkan kualitas Dharma anda, mau meningkatkan kualitas pelajaran, mau meningkatkan nilai-nilai pelajaran. Dharma menyediakan.

Anda ingin cari pacar. Dharma menyediakan.

Anda ingin menjadi suami istri. Dharma menyediakan.

Anda ingin menggalang kerjasama dengan teman-teman kerja. Dharma menyediakan.

Anda ingin mati dan terlahir di salah satu dari 26 alam surga. Anda ingin mencapai kesucian, mencapai kebebasan, mencapai Tuhan Yang Maha Esa di dalam kehidupan ini. Dharma memberikan.

Apa yang ada di dalam kehidupan ini yang bisa diberikan oleh Dharma?
Semuanya ada. Dharma ibaratnya supermarket. Apa saja kebutuhan anda, anda bisa ambil, anda bisa dapatkan.

Oleh karena itu saudara-saudara, jangan hanya bermasalah dengan bungkus bungkus bungkus sabun, bungkus bungkus Dharma yang isinya hanya tradisi-tradisi. Tetapi marilah kita melihat Dharma yang lebih dalam. Sehingga akhirnya Dharma ini akan memberikan manfaat di semua segi kehidupan. Sehingga dengan demikian pula, kita lalu memilih Agama Buddha sebagai agama kita, bukan hanya untuk upacara tetapi untuk pedoman hidup, langkah hidup kita, mulai sekarang sampai selama-lamanya sehingga mencapai kebahagiaan di kehidupan ini. Terlahir di salah satu dari 26 surga. Ataupun bahagia di dalam kehidupan ini yang tertinggi yaitu Nirvana / Nibbana / Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan ini.

Inilah yang perlu saya sampaikan. Semoga anda berbahagia. Semoga bermanfaat. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.


Oleh : Bhikkhu Uttamo Mahathera



1 komentar:

mahapuri lakasana mengatakan...

bhante kalo Saya sendiri muslim, tapi ajaran budha saya pikir ajarannya memang canggih.