Kamis, 17 Mei 2012

Empat Kebenaran Mulia -KEBENARAN ARIYA PERTAMA



By : Venerable Ajahn Sumedho

KEBENARAN ARIYA PERTAMA

Apakah Kebenaran Ariya tentang Penderitaan? Hidup adalah penderitaan, menjadi tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, perpisahan dari yang dicintai ialah penderitaan, tidak mendapatkan yang diinginkan ialah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan.
Inilah Kebenaran Ariya tentang Penderitaan; demikianlah penglihatan, pengetahuan, kebijaksanaan, pemahaman dan cahaya yang timbul dalam diriku mengenai hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Kebenaran Ariya ini harus ditembus dengan sepenuhnya memahami penderitaan: demikianlah penglihatan,pengetahuan, kebijaksanaan, pemahaman dan cahaya
yang timbul dalam diriku mengenai hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Kebenaran Ariya ini telah ditembus dengan sepenuhnya memahami penderitaan; demikianlah penglihatan, pengetahuan, kebijaksanaan, pemahaman dan cahaya
yang timbul dalam diriku mengenai hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.
[Samyutta Nikaya LVI, 11]
Kebenaran Ariya Pertama dengan ketiga aspeknya adalah: ‘Ada penderitaan, dukkha. Dukkha harus dipahami.Dukkha telah dipahami.’
Ajaran ini sangat terampil karena diungkapkan dalam rumusan sederhana yang mudah diingat, dan bisa dipakai untuk semua hal yang anda alami, lakukan atau
pikir mengenai hal yang lampau, sekarang atau akan datang.
Penderitaan atau dukkha adalah ikatan umum yang dialami kita semua. Semua orang di mana-mana menderita. Manusia menderita di masa lalu, di India kuno;
Inggris modern; dan di masa depan, manusia juga bakal menderita…. Apa kesamaannya antara kita dengan Ratu Elizabeth? — kita sama-sama menderita. Dengan pelacur di Charing Cross, apa kesamaan kita? — penderitaan.
Penderitaan melingkupi semua tingkatan dari manusia elit yang paling istimewa sampai dengan yang rendahan dan tersisih. Semua orang di mana-mana menderita — inilah perikatan antara kita semua, suatu hal yang kita semua
paham.
Manakala kita membahas tentang penderitaan umat manusia, cenderung rasa welas-asih kitalah yang muncul. Tetapi ketika kita berbicara mengenai opini-opini
kita, tentang pendapat saya dan pendapat anda mengenai politik dan agama, kita bisa berperang. Saya mengingat sepuluh tahun yang lalu sewaktu menonton
film di London. Saya mencoba untuk membayangkan orang-orang Rusia sebagai manusia-biasa dengan memperlihatkan para wanita Rusia dengan bayi-bayinya
dan para prianya membawa anak-anak mereka berpiknik.
Pada waktu itu gambaran orang Rusia seperti ini tidaklah biasa karena kebanyakan propaganda Barat menampilkan mereka bagai monster-monster raksasa atau manusia reptil yang berhati dingin — sehingga kita tidak pernah menimbang mereka sebagai manusia-biasa. – Kalau anda mau membunuh orang, anda memang mesti membuat citra mereka tampak seperti itu; akan sulit membunuh
orang bila anda menyadari bahwa sebenarnya mereka juga sama menderitanya dengan kita. Anda harus berpikir bahwa mereka berhati dingin, tidak bermoral, tidak berharga dan batil — bahwa lebih baik kalau mereka disingkirkan saja.
 Anda harus berpikir bahwa mereka memang jahat dan merupakan hal yang mulia untuk menyingkirkan kejahatan. Dengan sikap seperti ini, anda merasa dibenarkan buat mengebom dan menembaki mereka. Sebaliknya, apabila anda mengingat tentang adanya ikatan kesamaan dalam penderitaan kita, maka pikiran ini bakal mencegah anda untuk tega melaksanakan hal-hal semacam itu.
Kebenaran Ariya Pertama bukanlah pernyataan metafisik yang suram bahwa semuanya adalah penderitaan.
Perhatikan bahwa ada perbedaan antara doktrin metafisik dimana anda membuat pernyataan mengenai yang absolut dan Kebenaran Ariya yang merupakan refleksi
atau permenungan. Kebenaran Ariya adalah kebenaran yang digunakan untuk refleksi; bukan yang absolut; bukan Sang Absolut. [Sesuatu yang absolut (mutlak, solid, independen memang dari sono-nya, dari dirinya sendiri) berarti takkan bisa berubah – tidak ada jalan-keluarnya – ed.]
Pada bagian ini biasanya orang Barat kebingungan karena mereka mengartikan Kebenaran Ariya ini sebagai kebenaran metafisik Buddhisme — tetapi bukanlah demikian maksudnya.
Anda bisa melihat bahwa Kebenaran Ariya Pertama bukanlah pernyataan yang absolut dikarenakan adanya Kebenaran Ariya Keempat, yakni: jalan menuju ke tanpapenderitaan.Anda tak mungkin memiliki penderitaan yang absolut dan kemudian ada jalan-keluarnya bukan? Tidak masuk akal. Walaupun begitu toh ada juga beberapa orang yang memungut Kebenaran Ariya Pertama lalu mengatakan bahwa Sang Buddha mengajarkan semuanya adalah penderitaan.
Kata Pali, dukkha, berarti ‘tidak mampu memuaskan’ atau ‘tidak mampu menahan apapun’: selalu berubah, tidak mampu untuk benar-benar memuaskan atau membahagiakan kita. Demikianlah dunia inderawi, yang hakekatnya hanya getaran. Namun pada kenyataannya malah lebih buruk bila kita dapat menemukan kepuasan di dunia indera karena kita kemudian takkan mencari yang melampauinya; kita cuma bakal terikat padanya. Namun, tatkala kita sadar akan dukkha, kita mulai mencari jalan keluar sehingga kita tak lagi selalu terperangkap dalam kesadaran indera saja.

PENDERITAAN DAN KEAKUAN

Refleksi pada untaian kata Kebenaran Ariya pertama sangatlah penting.
Kebenaran ini diungkapkan dengan sangat jelas: “Ada penderitaan”, bukannya, ‘Saya menderita.’Secara psikologis, refleksi ini merupakan cara yang lebih
baik untuk mengungkapkannya. Kita cenderung untuk mengartikan penderitaan kita sebagai ‘Saya benar-benar menderita. Saya sangat menderita — dan saya tidak ingin menderita.’ — Ya beginilah cara berpikir kita terkondisi.
‘Saya menderita’ selalu membawa makna bahwa ‘Saya adalah orang yang sangat menderita. Penderitaan ini adalah milik saya; saya memiliki banyak penderitaan dalam hidup saya.’ Kemudian seluruh proses kait-mengkait
antara diri sendiri dengan ingatan berlangsung. Anda mengingat apa yang terjadi ketika anda masih bayi… dan sebagainya.
Perhatikanlah bahwa sekarang kita tidak lagi mengatakan ada orang yang menderita. Maka penderitaan bukan lagi suatu penderitaan personal (pribadi) ketika kita memandangnya sebagai ‘Ini ada penderitaan.’ Cara pandang kita bukan: ‘Duhh…, betapa kasihannya saya ini,mengapa saya harus begitu menderita? Apa yang telah aku lakukan sehingga nasibku seperti ini? Mengapa saya bertambah tua? Mengapa saya harus memiliki kesusahan,kepedihan, ratap tangis dan keputus-asaan? Ini tidak adil! Saya tidak mau. Saya hanya mau kebahagiaan dan rasa-aman’ – Semua pemikiran semacam ini timbul dari kekeliru-tahuan (ignorance): [kebodohan psyche; batin yang salahpaham akan sifat dasar segala fenomena (tak-permanen, tak bisa sungguh memuaskan, tidak memiliki diri) dan kita melihatnya secara keliru-terbalik,menyangka fenomena sebagai: permanen, sungguh mampu memuaskan,solid- mutlak-independen; disamping salah melihat, kita makhluk yang belum tercerahkan juga melekat pada kebodohan batin ini – ed.]
 yang memperumit segala sesuatu dan berakibat pada permasalahan kepribadian.
Untuk lepas dari penderitaan kita harus mengakuinya dalam kesadaran. Tetapi pengakuan dalam meditasi Buddhis tidak bertolak dari ‘Saya sedang menderita’
melainkan, ‘Ada kehadiran penderitaan’, karena: kita tidak mengidentifikasi diri kita dengan permasalahan tersebut, melainkan sekedar mengenali keberadaannya.
‘Saya pemarah; saya mudah sekali marah; bagaimanakah cara menghilangkannya?’ cara berpikir demikian tidaklah skillful [: terampil secara spiritual; suatu istilah yang agak khas di dalam Buddhisme, berkait dengan pengertian: kecerdasan spiritual, keterampilan memilih atau menggunakan metode-jitu yang manjur serta bermanfaat bagi kemajuan [spiritual] – ed.]
— hal ini memicu semua anggapan-tersembunyi  mengenai diri  [The underlying assumptions of a self: kecenderungan-kecenderungan mental mendasar (bawah sadar) yang otomatis-cepat suka menganggap begitu saja adanya “aku” yang solid-mandiri sebagai tokoh [atau korban] dari pengalaman-pengalaman kita. Kebodohan mental ini menyebabkan moda pikir (pengalaman) kita jadi sempit, picik, kaku, mencekam, tegang, menjengkelkan – tak bisa longgar-luas-perspektif-rileks – ed.] dan sulit sekali untuk mendapatkan perspektif [yang longgar] dari pemikiran semacam itu. Keadaan pikiran menjadi sangat kisruh karena perasaan mengenai masalah-ku atau pemikiran-ku dengan mudahnya membikin kita tertekan atau membuat kita mengadili serta mencela diri kita sendiri. Kita condong untuk melekat dan mengidentifikasi daripada mengamati, menyaksikan dan memahami sesuatu sebagaimana adanya. — Namun manakala anda bisa sekedar mengakui adanya perasaan kalut, bahwa ada ketamakan atau kemarahan, maka timbullah refleksi yang jujur mengenai sebagaimana apa adanya dan anda pun telah menghilangkan semua anggapan-tersembunyi [tentang diri] — atau paling tidak menyusutnya.
Jadi jangan melekat kepada hal-hal ini sebagai suatu kesalahan personal tetapi tetaplah merenungkan kondisi-kondisi ini sebagai tak-kekal, tak-memuaskan dan
bukan-diri. Tetaplah merefleksi, melihatnya sebagaimana adanya. – Umumnya kecenderungan orang adalah untuk memandang hidup dari sudut: “Ini adalah masalah saya”, — dengan demikian orang menyangka bahwa ia sudah berlaku jujur serta terus-terang pada diri sendiri.
Lalu kehidupan kita pun cenderung untuk semakin mempertegas sikap pikir seperti itu karena hidup kita terus beroperasi berlandaskan anggapan salah tersebut. Tetapi bahkan pandangan itu sesungguhnya juga: tidak-kekal, tidak-memuaskan dan bukan-diri.
‘Ada penderitaan’ (There is suffering) merupakan pengakuan yang sangat jelas dan tepat bahwa pada saat ini ada perasaan ketidak-bahagiaan. Perasaan ini bisa
berkisar dari kesedihan mendalam dan keputusasaan sampai sekedar perasaan terganggu; dukkha tidak harus berarti penderitaan yang berat. Anda tidak harus
dihancurkan oleh kehidupan, anda tidak harus berasal dari Auschwitz atau Belsen untuk mengatakan adanya penderitaan. Bahkan Ratu Elizabeth pun bisa berkata, ‘Ini ada penderitaan.’ Saya yakin dia juga pernah merasakan saat-saat kesedihan mendalam serta keputusasaan, atau paling tidak, saat-saat terganggu.
Dunia indera itu merupakan [dunia] pengalaman yang sensitif. Maksudnya, anda selalu terpapar pada senang dan sakit serta dualisme samsara. Rasanya seperti berada dalam sesuatu yang sangat rapuh dan tertular oleh apapun yang kontak dengan badan ini serta indera-inderanya. Ya demikianlah hidup ini. Inilah akibat dari kelahiran…

PENYANGKALAN PENDERITAAN

Biasanya, penderitaan bukanlah sesuatu yang ingin kita ketahui — kita hanya ingin cepat-cepat menyingkirkannya. Begitu timbul perasaan tak nyaman atau terganggu, orang-biasa yang belum tercerahkan cenderung untuk segera menyingkirkan atau malah menekannya. Maka kita bisa lihat mengapa masyarakat
modern terjebak untuk selalu mencari kesenangan dan kenikmatan dalam sesuatu yang baru, menggairahkan atau romantis. Kita cenderung untuk membesar-besarkan keindahan dan kenikmatan masa muda, sementara sisi tak enak dari kehidupan yakni: usia tua, penyakit, kematian,bosan, keputusasaan dan depresi kita kesampingkan. Ketika kita bertemu dengan sesuatu yang tidak menyenangkan,
kita segera berusaha untuk lari ke yang kita senangi. Bila kita merasa bosan, kita pergi ke sesuatu yang menarik. Bila kita merasa takut, kita mencari keamanan. Ini merupakan tindakan yang sangat alami. Kita mengasosiasikan prinsip nikmat-dan-sakit dengan sesuatu “yang menarik” dan“yang musti disingkirkan”.
Jadi, manakala pikiran tidak jernih dan tak bisa menerima (receptive), maka pikiran
pun menjadi pilih-pilih. Pikiran memilih yang disukai dan berusaha menekan yang tidak disukai. Sehingga kebanyakan pengalaman kita musti ditekan sebab banyak
yang akhirnya selalulah pada bagian tertentu berkait dengan sesuatu yang tak menyenangkan.
Kalau timbul sesuatu yang tidak mengenakkan,kita segera berseru, ‘Lari!’ Bila ada yang menghalangi,kita berkata, ‘Bunuh dia!’ Kecenderungan ini tampak
dalam kerja pemerintah kita…. Bukankah sebenarnya mengerikan kala kita memikirkan orang macam apa yang menjalankan pemerintahan — karena mereka masih sangat tidak bijaksana dan belum tercerahkan. Tetapi, ya demikianlah adanya. Pikiran yang tidak bijaksana berpikir tentang pemusnahan: ‘Ada nyamuk. Bunuh!’, ‘Semut-semut menyerbu kamar; semprot baygon!’ Di Inggris ada sebuah perusahaan bernama Rent-o-Kil (sewa untuk bunuh). Saya kurang tahu entah itu semacam mafia Inggris atau bukan, tetapi spesialisasinya adalah membunuh hama — apapun artian anda tentang kata ‘hama’ …

MORALITAS DAN WELAS-ASIH

Itulah makanya kita memiliki hukum seperti,‘Saya akan menahan diri untuk tidak membunuh dengan sengaja,’ karena insting alami kita adalah membunuh:
bila ada yang menghalangi, bunuh saja. Anda dapat melihatnya di kerajaan rimba. Sedikit banyak kita juga memiliki sifat pemangsa; kita menyangka bahwa kita ini
beradab namun sebenarnya kita memiliki sejarah yang sangat berdarah-darah – dalam artian sebenar-benarnya.
Masa lalu kita dipenuhi pembantaian tanpa akhir dan pembenaran atas segala kesewenang-wenangan terhadap manusia lain — belum lagi termasuk binatang — dan semuanya disebabkan oleh kebodohan mendasar ini, pikiran yang tidak merefleksi-lah yang memberitahu kita untuk memusnahkan segala yang menghalangi.
Namun, dengan refleksi kita melangkah untuk merubahnya; kita berjalan melampaui naluri dasar itu,pola kebinatangan kita. Kita bukan lagi cuma boneka
masyarakat yang taat hukum, takut membunuh Cuma karena takut ancaman dihukum. Sekarang kita benar-benar mandiri bertanggungjawab.
Kita menghormati hidup makhluk lain, bahkan hidup serangga dan hewan yang
tidak kita sukai. Tak ada orang yang menyukai nyamuk atau semut, tetapi kita dapat merefleksikan fakta bahwa mereka juga memiliki hak hidup. Demikianlah refleksi dari pikiran; ini bukan lagi cuma bereaksi: ‘Dimana semprotan baygonnya.’ (Saya juga tidak menyukai semut merayapi lantai saya; reaksi pertama saya adalah, ‘Dimana semprotan baygonnya.’), pikiran reflektif saya menunjukkan makhluk ini mengganggu dan walaupun saya lebih suka kalau
mereka menyingkir saja, namun mereka memiliki hak untuk hidup. Inilah refleksi pikiran manusiawi. Cara yang sama berlaku pula terhadap keadaan pikiran yang tidak menyenangkan. Jadi ketika anda sedang marah, daripada berkata: ‘Oh saya lagi-lagi marah!’kita merefleksikan: ‘Ini ada kemarahan.’ Sama halnya dengan rasa takut — bila anda mulai memandangnya sebagai ketakutan ibu saya atau ketakutan ayah saya atau ketakutan anjing saya atau ketakutan saya, maka semuanya menjadi jejaring lengket dari berbagai macam makhluk yang terhubung di satu sisi dan tidak terhubung di sisi lain; sehingga menjadi sulit untuk memiliki pemahaman yang baik. Kendatipun demikian, ketakutan dalam makhluk ini dan ketakutan dalam anjing kudis, adalah hal yang sama. ‘Ada rasa takut.’ Hanya demikian saja. Ketakutan yang saya alami tidaklah berbeda dengan kecemasan
atau ketakutan yang dialami orang lain. Sehingga dengan demikian kita juga memiliki welas-asih meski bagi anjing tua kudisan sekalipun. Kita memahami bahwa adanya ketakutan itu adalah sama-sama tidak mengenakkan baik bagi anjing maupun kita. Tatkala seekor anjing ditendang dengan sepatu boot yang berat dan ketika kita ditendang dengan sepatu boot yang berat, perasaan sakitnya sama.Sakit hanyalah sakit, dingin hanyalah dingin, kemarahan hanyalah sekedar kemarahan. Perasaan ini bukan milikku,namun sekedar: ‘Ini ada rasa-sakit.’ Demikianlah cara berpikir terampil (skillful) yang membantu kita melihat segala sesuatu lebih jelas daripada hanya terus memperkuat sudut pandang personal (diri-pribadi). Maka hasil dari mengenali keadaan dari penderitaan — bahwa ini
ada penderitaan — timbullah insight kedua dari Kebenaran Arya Pertama: ‘Dukkha mesti dipahami.’ Penderitaan ini harus dikaji secara mendalam.

MENGKAJI PENDERITAAN

Saya mendorong anda agar berusaha memahami dukkha: untuk benar-benar mengamatinya, berdiri di bawahnya serta menerimanya. Cobalah untuk memahami
ketika anda sedang merasakan kesakitan, atau putus-asa dan sedih, atau benci dan sengit — apapun bentuknya,apapun kualitasnya, entah ekstrim atau lamat-lamat. Ajaran ini tidaklah berarti bahwa guna mencapai pencerahan maka hidup anda harus amat-sangat malang. Anda tidak harus mengalami kehilangan segala galanya atau disiksa dengan keji; anda hanya musti mampu melihat serta mengenali penderitaan, kendati bila yang timbul sekadar sebuah ketidakpuasan ringan, dan berusahalah memahaminya.
Kita gampang sekali mencari kambing hitam buat permasalahan kita. ‘Ah, kalau saja ibuku benar-benar mencintaiku atau andai semua di sekelilingku benar-benar
bijaksana, dan berdedikasi guna menciptakan lingkungan yang sempurna bagiku, maka aku takkan memiliki permasalahan emosional seperti sekarang ini’ — Ini
bodoh dan konyol! Namun ya memang demikianlah cara kebanyakan orang memandang dunia, mereka mengira bahwa: mereka jadi galau dan sengsara disebabkan karena mereka mendapat perlakuan yang tidak adil. Tetapi dengan rumusan Kebenaran Arya Pertama ini, walaupun andai hidup kita cukup malang, yang kita lihat bukanlah bahwa penderitaan yang berasal dari luar sana, melainkan
penderitaan yang kita ciptakan dalam pikiran kita sendiri. Ini merupakan keterjagaan (awakening) dalam diri seseorang.
Keterjagaan pada Kebenaran mengenai Penderitaan. Dan ini adalah Kebenaran Ariya karena tak lagi menyalahkan duka yang dialami kepada pihak lain. Oleh karena itu pendekatan Buddhisme sungguh unik dibandingkan agama-agama lain karena penekanannya pada jalan-keluar dari penderitaan dengan menggunakan kebijaksanaan,kebebasan dari semua delusi — daripada mengejar suatu keadaan yang sangat damai atau kemanunggalan dengan Yang Ultimit.
Bukan maksud saya buat mengatakan bahwa orang lain tidak pernah menjadi sumber rasa frustasi dan kejengkelan kita, tetapi yang ingin kita tunjukan dalam
ajaran ini adalah: reaksi kita sendiri terhadap kehidupan.
Jika ada orang yang jahat terhadap anda atau dengan sengaja dan dengki berusaha membuat anda menderita, dan anda berpikir bahwa orang itulah yang membuat anda menderita, itu berarti anda masih belum memahami
Kebenaran Ariya Pertama (!). Bahkan andai  ia mencabuti kuku anda atau perbuatan keji lainnya sekalipun — selama anda menyangka bahwa anda menderita karena orang itu, anda belum memahami Kebenaran Arya Pertama.
Pemahaman mengenai penderitaan adalah melihat dengan jelas bahwa REAKSI kita terhadap orang yang mencerabuti kuku kita — ‘Saya benci kamu’ — ini-lah penderitaan. Kuku yang ditarik keluar memang mengakibatkan rasa sakit,
tetapi penderitaan itu adalah yang melibatkan ‘Aku benci kamu,’ ‘Betapa kejinya kau kepadaku,’ dan ‘Aku takkan memaafkanmu selamanya.’
Namun, jangan menunggu sampai ada orang yang menarik kuku anda baru anda mempraktikkan Kebenaran Ariya Pertama. Cobalah melatihnya dengan hal-hal kecil,seperti kalau ada orang yang berlaku tidak tenggang-rasa atau kasar atau mengabaikan anda. Jika anda menderita karena ada orang yang merendahkan atau menyinggung anda, anda bisa berlatih dengan perasaan itu. Sering sekali dalam kehidupan sehari-hari kita merasa tersinggung atau jengkel. Kita dapat merasa terganggu atau ter-iritasi hanya karena cara berjalan atau penampilan seseorang,
paling tidak saya bisa merasa demikian. Terkadang anda dapat memperhatikan bahwa anda merasa tidak senang hanya dikarenakan oleh cara berjalan seseorang atau karena orang itu tidak melakukan sesuatu yang semestinya dilakukan — kita bisa menjadi sangat jengkel dan marah karena hal-hal seperti itu. Kendati orang itu sama sekali tidak menyakiti anda atau melakukan apapun kepada anda, seperti menarik keluar kuku anda, tetapi toh anda tetap menderita. Kalau anda tidak mampu melihat penderitaan dalam kasus-kasus yang sederhana ini, maka
anda tidak bakal bisa bersikap heroik jika ada orang yang benar-benar mencopoti kuku anda.Kita berlatih dengan kekecewaan kecil dalam hidup kita. Kita perhatikan bagaimana kita dapat terluka dan tersinggung atau terganggu dan ter-iritasi oleh tetangga, orang di sekeliling kita,keadaan disekeliling kita serta diri kita sendiri. Kita tahu bahwa penderitaan ini musti dipahami. Kita berpraktik dengan sungguh-sungguh melihat penderitaan sebagai obyek dan memahami ‘Inilah penderitaan.’ Sehingga kita memiliki insight mendalam mengenai penderitaan.

KENIKMATAN DAN KETIDAK-ENAKAN

Kita dapat mengkaji: Sampai manakah cara hidup hedonistik yang memburu kenikmatan [sebagai tujuan akhir bagi dirinya sendiri] telah membawa kita? Pengejaran kesenangan ini sudah berlangsung selama beberapa dekade tetapi sebagai hasilnya apakah umat-manusia jadi lebih berbahagia? Dewasa ini kita seakan telah diberi hak dan kebebasan buat melakukan apapun yang kita suka
dengan narkoba, seks, jalan-jalan dan sebagainya – semua jalan terus; semuanya diperbolehkan; tidak ada yang dilarang. Di jaman sekarang ini, tampaknya anda harus melakukan sesuatu yang amat-sangat memalukan, amat sangat kejam, baru anda mungkin dikucilkan masyarakat.
Tetapi apakah dengan selalu menuruti hasrat-hasrat kita, kita menjadi lebih bahagia atau lebih rileks atau puas?
Justru sebaliknya, kita condong menjadi lebih egois; tidak menimbang dampak perbuatan kita bagi orang lain. Kita cenderung untuk berpikir hanya mengenai diri kita sendiri; saya dan kebahagiaan saya, kebebasan saya dan hak saya.
Sehingga yang terjadi adalah: saya menjadi pengacau,sumber frustasi, gangguan dan kesengsaraan bagi banyak orang di sekeliling saya. Bila saya berpikir bahwa saya dapat berbuat apapun yang saya mau atau omong apapun yang ingin omongkan, meski itu berarti mengorbankan orang lain, maka saya hanyalah sebuah pengacau dalam masyarakat (!).
Ketika perasaan ‘yang saya maui’ dan ‘yang menurut saya seharusnya [begini] dan seharusnya tidak [begitu]’muncul, serta kita ingin menikmati semua kesenangan dalam hidup, kita pastilah jengkel-jengkel karena hidup jadi nampak tidak ada harapan — semuanya serba salah. Kita diputar-putar oleh kehidupan — cuma pusing berlarian di antara situasi takut dan berhasrat. Bahkan meski kala kita mendapatkan semua yang kita maui, kita toh bakal berpikir bahwa ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang belum lengkap. Jadi bahkan ketika hidup sedang pada
puncaknya, tetaplah ada rasa penderitaan – perasaan ada sesuatu masih perlu dilakukan, semacam keraguan atau kecemasan yang menghantui kita.
Sebagai contoh, saya selalu menyukai pemandangan indah. Suatu waktu saya memimpin retret di Swiss, saya dibawa melihat pengunungan yang indah dan saya
memperhatikan bahwa selalu ada perasaan tak-enak dalam pikiran saya oleh karena adanya begitu banyak keindahan, pemandangan indah yang tiada akhirnya. Saya punya perasaan ingin memegang semuanya, sehingga harus tetap terjaga agar dapat tuntas menikmati semuanya dengan mata saya. Akibatnya saya tegang dan kelelahan!
Bukankah ini adalah dukkha?
Saya menemukan bahwa manakala saya berlaku kurang mindful (waspada), walaupun dalam suatu tindakan tak berbahaya seperti menikmati pegunungan
indah, begitu batin ini mulai menggapai dan berusaha merengkuh sesuatu, pastilah timbul perasaan tidak mengenakkan. Ya, bagaimana mungkin anda bisa
mendekap pegunungan Jungfrau dan Eiger? Paling yang bisa anda lakukan hanyalah memfotonya, berusaha menangkap semua keindahannya dalam sepotong kertas.
Inilah dukkha; bila anda berusaha memegangi sesuatu yang indah karena anda tak mau berpisah dengannya –ini-lah penderitaan.
Berada dalam situasi yang tak anda sukai juga penderitaan. Contohnya, saya tidak pernah suka naik kereta bawah tanah di London. Saya bakal menggerutu:
‘Saya tidak mau ke bawah tanah dengan poster-poster jeleknya dan stasiun-stasiun bawah tanah yang kotor itu. Saya tidak mau dimasukkan dalam gerbong kecil di bawah tanah.’ Hal ini benar-benar merupakan pengalaman buruk bagi saya. Tetapi saya akan mendengar suara gerutuan dan keluhan ini — penderitaan akibat tak ingin bersama dengan yang tidak disenangi. Kemudian, setelah mengkontemplasikannya, saya berhenti membuat apapun darinya sehingga saya bisa hadir berada dengan ketidakenakan dan keburukan tanpa menderita. Sayapun
kini menyadari bahwa: ya demikianlah adanya dan ini oke.
Kita tak perlu menciptakan masalah — baik tentang berada di stasiun bawah tanah yang kumuh atau sedang melihat pemandangan indah. Demikianlah apa adanya, sehingga kita mampu mengenali dan menghargainya dalam bentuknya yang berubah-rubah tanpa melekat (grasping).
Melekat adalah keinginan untuk menggenggam yang kita suka; ingin melenyapkan yang tidak kita sukai; atau mengingini untuk mendapat sesuatu yang tidak kita
miliki.Kita juga bisa menderita karena orang lain.
Saya ingat bahwa sewaktu saya di Thailand, saya punya pemikiran negatif tentang salah seorang bhikkhu. Apabila ia melakukan sesuatu, saya akan berpikir, ‘Seharusnya ia tidak melakukan itu,’ atau ketika ia mengatakan sesuatu, saya akan berpikir, ‘Seharusnya ia tidak mengatakan hal itu!’ Saya terus membawa bhikkhu ini dalam pikiran saya dan bahkan kala saya pergi ke tempat lain, saya akan tetap memikirkan bhikkhu itu; persepsi mengenainya akan muncul dan reaksi yang sama pun muncul: ‘Ingatkah kamu waktu ia mengatakan ini dan ketika ia melakukan itu?’ dan:‘Seharusnya ia tidak mengatakan ini dan semestinya ia tak
melakukan itu.’
Pula, ketika menemukan guru seperti Ajahn Chah, saya ingat mengingini agar ia sempurna. Saya berpikir, ‘Oh, ia guru yang luar biasa — sungguh luar biasa!’ Tetapi kemudian beliau akan melakukan sesuatu yang tak saya sukai dan saya berpikir, ‘Saya tidak mau ia melakukan perbuatan yang tak saya suka karena saya
ingin memikirkan ia sebagai orang yang luar biasa.’ Sama saja dengan berkata, ‘Oh, Ajahn Chah, jadilah luar-biasa bagi saya setiap saat. Janganlah pernah melakukan apapun yang bisa menimbulkan pemikiran negatif dalam benak saya.’ — Jadi kendatipun anda sudah menemukan seseorang yang sangat anda hormati dan cintai, tetap saja ada penderitaan dari kemelekatan. Sudah pasti nantinya
orang itu bakal melakukan atau mengatakan sesuatu yang takkan anda sukai atau setujui, menimbulkan sejenis kebimbangan dalam diri, dan anda pun bakal menderita.
Pada suatu masa, beberapa bhikkhu Amerika datang ke Wat Pah Pong, biara kami di Timur Laut Thailand. Mereka sangat rewel dan tampaknya cuma memandang sisi yang buruk-buruk saja. Mereka tidak berpikir Ajahn Chah adalah guru yang sangat baik dan mereka tak menyukai biaranya.
Saya merasakan terbitnya kemarahan dan kebencian dalam diri saya karena mereka mengkritik sesuatu yang sangat saya cintai. Saya merasa jengkel — ‘Eh, kalau kalian tidak suka, keluarlah dari sini. Dia adalah guru paling hebat di dunia dan kalau kalian toh tidak bisa melihatnya, sana PERGI!’ Kemelekatan semacam ini — gandrung ataupun pengabdian — adalah penderitaan karena bila sesuatu
atau seseorang yang anda cintai dikritik, anda merasa marah dan jengkel.

INSIGHT DALAM BERBAGAI SITUASI

Terkadang kebijaksanaan (insight) timbul pada saat yang tak terduga. Peristiwa ini terjadi pada diri saya manakala saya tinggal di Wat Pah Pong. Daerah timur laut
Thailand dengan semak-belukar serta dataran-rendahnya bukanlah tempat yang terindah dan disukai di dunia; dan daerah ini menjadi sangat terik di musim panas. Kita mesti keluar di tengah terik siang pada tiap hari Uposatha dan menyapu dedaunan di jalan. Daerah yang harus disapu sangat luas. Kami akan menghabiskan siang itu di bawah jerangan matahari, berkeringat dan menyapu dedaunan hingga menjadi tumpukan dengan sapu-lidi biasa; inilah salah satu tugas kami. Saya tidak suka melakukan ini. Saya kerap berpikir, ‘Saya tidak mau melakukannya. [Jauh-jauh] saya ke sini bukanlah buat menyapu dedaunan; Saya ke
sini untuk mencapai pencerahan — dan mereka malah menyuruh saya menyapu rontokan daun. Lagipula, cuaca di luar sangat panas, saya berkulit putih; Saya bisa kena kanker kulit.[ Orang kulit-putih (bule), karena kurangnya pigmen, rentan terhadap sinar matahari, bisa menyebabkan kanker kulit – ed.]
Saya berdiri di luar sana di suatu siang, merasa sangat malang, dan berpikir, ‘Duhh, apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku ke sini? Mengapa aku tinggal di sini?’ Di sana, saya berdiri dengan sapu bergagang panjang, lunglai, menyesali diri sendiri dan membenci semuanya. Kemudian Ajahn Chah datang, tersenyum kepada saya serta berkata, ‘Wat Pah Pong [ternyata] adalah penuh penderitaan,
ya `kan ?’ seraya melangkah pergi. Saya lalu berpikir, ‘Mengapa ia berkata demikian?’ dan, ‘Sesungguhnya,kamu juga tahu, semuanya toh tidak begitu buruk.’ — Ia membuat saya merenung: Apakah menyapu dedaunan benar mengesalkan? … Tidak, tidak demikian. Perbuatan ini termasuk netral; anda menyapu dedaunan, dan bukan soal di sini ataupun di sana … Apakah keringatan
ini begitu menyengsarakan? Apakah pengalaman ini sungguh celaka dan memalukan? Apakah ini benar-benar seburuk anggapan saya? …. Tidak, — berkeringat itu oke-oke saja, sesuatu yang alami sekali. Dan saya juga tidak
mendapat kanker kulit, lagian orang-orang di Wat Pah Pong sangatlah baik. Gurunya amat bijak dan ramah. Para bhikkhu memperlakukan saya dengan baik. Para umat awam datang serta memberi makanan, dan ….. Apa yang saya gerutukan?’
Dengan merefleksikan pengalaman nyata di sana, saya pun berpikir, ‘Saya baik-baik saja. Orang-orang menghargai saya. Saya diperlakukan dengan baik. Saya
diajari oleh orang yang menyenangkan di negeri yang sangat menyenangkan.
Tak ada apapun yang salah,kecuali saya ; saya membuatnya jadi masalah karena saya tidak mau keringatan dan menyapu dedaunan.’ Kemudian saya memiliki pengetahuan-kebijaksanaan yang sangat jelas. Tiba-tiba saya menangkap sesuatu dalam diri saya yang selalu menggerutu dan mencela, serta yang menghambat saya untuk membaktikan diri pada apapun atau mempersembahkan diri pada situasi manapun.
Pelajaran lain dari pengalaman saya berasal dari adat-kebiasaan mencuci kaki para bhikkhu senior ketika mereka pulang dari keliling pindapata [menerima
persembahan makanan]. Setelah mereka berjalan telanjang kaki melalui desa-desa dan sawah, kaki mereka akan berlumpur. Di luar ruang makan terdapat tempat
mencuci kaki. Ketika Ajahn Chah datang, semua bhikkhu — sekitar 20 atau 30 orang — akan menghambur keluar dan mencuci kaki beliau. Tatkala pertama kali melihatnya, saya berpikir, ‘Saya tidak akan melakukan itu. Tidak akan!’
Keesokan harinya, kembali tiga puluh bhikkhu terburu-buru keluar ketika Ajahn Chah muncul dan mencuci kaki beliau — saya berpikir, ‘Sungguh perbuatan yang bodoh—tiga puluh bhikkhu mencuci kaki satu orang. Saya tidak bakal melakukan itu.’ Keesokan harinya lagi, reaksi saya bertambah keras… tiga puluh bhikkhu menghambur dan mencuci kaki Ajahn Chah dan….’ Saya benar-benar marah.
Saya muak! Saya merasa itu adalah hal terbodoh yang pernah saya lihat — tiga puluh orang pergi mencuci kaki satu orang! Mungkin Ajahn Chah mengira bahwa ia patut menerimanya, tahukah anda — kebiasaan ini benar-benar mengelembungkan egonya. Mungkin ia jadi punya ego raksasa, dengan banyaknya orang yang mencuci kakinya setiap hari. Saya takkan pernah melakukannya!’
Saat itu saya mulai membangun reaksi yang kuat, reaksi yang berlebihan.
Saya akan duduk di sana dan merasa sangat sengsara dan marah. Saya akan melihatpara bhikkhu dan berpikir, ‘Mereka semua tampak dungu di mata saya. Saya tak tahu lagi apa gunanya saya di sini.’
Tetapi saya mulai mendengar pemikiran saya dan berpikir, ‘Sungguh cara berpikir yang tak menyenangkan.
Apa sih yang benar perlu untuk di buat kesal? Mereka toh tidak meminta saya untuk melakukannya. Tidak apa-apa – [sebenarnya] tidak ada yang salah tho dengan tiga puluh orang mencuci kaki satu orang. Perbuatan itu tidaklah tak-bermoral atau jahat, mungkin mereka memang menikmatinya; barangkali mereka memang ingin melakukannya — mungkin tak apa-apa untuk melakukannya…. Mungkin saya harus melakukannya!’
Maka keesokan paginya, tiga-puluh-satu bhikkhu tergopoh-gopoh mencuci kaki Ajahn Chah. Selanjutnya tiada masalah lagi. Saya merasa sangat baik: hal buruk
dalam diri saya telah berhenti. Kita dapat berefleksi dengan hal-hal yang menimbulkan kekesalan dan kemarahan dalam diri kita: apa sungguh ada yang salah dengan mereka atau justru kita sendiri yang menciptakan dukkha darinya? Kemudian kita pun mulai memahami masalah-masalah yang kita ciptakan dalam hidup kita sendiri dan pada hidup orang lain di sekitar kita.
Dengan perhatian-penuh (mindfulness) kita akan sanggup menanggung keseluruhan hidup ini — beserta kegairahan dan kebosanannya, harapan dan keputusasaannya,kenikmatan dan kesakitannya, takjub dan kelelahannya, awal serta akhirnya, lahir dan matinya. Kita sanggup menerima keseluruhannya dalam benak kita daripada hanya menyerap yang menyenangkan serta menekan yang tidak menyenangkan. Proses insight adalah: menyongsong dukkha, melihat dukkha, mengakui dukkha,mengenali dukkha dalam segala bentuknya. Sehingga
anda tak lagi latah bereaksi seperti kebiasaan lama, larut menimang hawa-nafsu atau menekan. Oleh karena itu anda jadi mampu menanggung penderitaan, anda bisa lebih sabar dalam menghadapinya.
Ajaran ini tidaklah berada di luar pengalaman kita.
Sebaliknya, ajaran ini merupakan refleksi pengalaman nyata kita — bukan permasalahan intelektual yang rumit. Jadi berusahalah sunguh-sungguh dalam pengembangan-diri daripada terjebak dalam rutinitas. Seberapa sering anda
merasa bersalah atas kegagalan dan kesalahan anda di masa lampau?
Apakah anda harus menghabiskan seluruh waktu anda memuntahkan kembali semua yang telah terjadi dalam hidup anda dan tengelam dalam spekulasi dan analisis tanpa henti? Beberapa orang membentuk dirinya menjadi kepribadian yang begitu rumitnya. Bila anda terus hanyut tenggelam dalam ingatan, pandangan-pandangan serta opini anda sendiri, maka anda akan terus terjebak di dalam dunia ini dan takkan pernah melampauinya.

Anda dapat melepas beban ini bila anda bersedia menggunakan ajaran dengan terampil. Katakan pada diri sendiri: ‘Saya tidak akan terjebak lagi; saya menolak untuk ikut dalam permainan ini. Saya takkan menyerah pada gejolak suasana hati ini.’ Mulailah menempatkan diri anda pada posisi yang mengetahui: ‘Saya mengetahui ini adalah dukkha; itu adalah dukkha.’ Adalah sangat penting untuk
bertekad bersedia menyongsong dimana ada penderitaan dan mau tinggal bersamanya. Sebab hanya dengan mengamati dan mehadapi-langsung penderitaan dengan cara demikian maka seseorang boleh berharap untuk
mendapatkan pengetahuan yang mendalam: ‘Penderitaan ini telah dimengerti.’
Jadi inilah ketiga aspek dari Kebenaran Ariya Pertama.
Inilah formula yang musti kita gunakan dan aplikasikan dalam refleksi hidup kita. Bilamana anda merasakan penderitaan, pertama-tama buatlah pengenalan: ‘Itu adalah penderitaan’, kemudian: ‘Penderitaan harus dipahami’, dan akhirnya: ‘Penderitaan telah dipahami.’ Pemahaman dukkha ini adalah pengetahuan-kebijaksanaan dari Kebenaran Ariya Pertama.

Tidak ada komentar: