Kamis, 17 Mei 2012

Empat Kebenaran Mulia - KEBENARAN ARIYA KEDUA



KEBENARAN ARIYA KEDUA

Apakah Kebenaran Ariya tentang Sumber Penderitaan?
Penderitaan bersumber pada kecanduan [Craving (Pali: tanha, Skt. trsna), arti harafiahnya: ‘kedahagaan’; tanha kadang pula diterjemahkan sebagai ‘nafsu-keinginan-rendah’, atau kecanduan, ketergila-gilaan; kedahagaan [psikologis] yang tak habis-habisnya – meliputi hal-hal yang paling kasar hingga yang paling subtil, yakni: pikiran yang haus akan objek, bergerak terus, tak mau hening-istirahat – ed.]
Yang membentuk kembali makhluk-hidup dan disertai dengan kegemaran dan ketergila-gilaan, kegemaran pada ini dan itu: dengan kata lain, kecanduan akan kenikmatan indria, kecanduan untuk menjadi dan kecanduan untuk takmenjadi.
Tetapi dimanakah kecanduan ini muncul dan berkembang? Dimana saja ada yang tampaknya menarik dan menguntungkan, di sanalah kecanduan muncul dan berkembang. Inilah Kebenaran Ariya tentang Sumber Penderitaan: demikianlah pandangan, pengetahuan,kebijaksanaan, pemahaman dan cahaya yang timbul
dalam diriku mengenai hal yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Kebenaran ArIya ini harus ditembus dengan meninggalkan sumber asal-penderitaan. . . .Kebenaran Ariya ini telah ditembus dengan meninggalkan sumber asal-penderitaan: demikianlah pandangan,pengetahuan, kebijaksanaan, pemahaman dan cahaya yang timbul dalam diriku mengenai hal yang belum pernah terdengar sebelumnya.
[Samyutta Nikaya LVI, 11]
Kebenaran Ariya Kedua dengan ketiga aspeknya adalah: ‘Itu adalah sumber penderitaan, yaitu kemelekatan pada nafsu-keinginan (desire). Nafsu-keinginan harus dibiarkan berlalu. Nafsu-keinginan telah dibiarkan pergi berlalu.’
Kebenaran Ariya Kedua menyatakan bahwa ada sumber dari penderitaan dan sumber-penderitaan adalah kemelekatan kepada tiga jenis nafsu: nafsu kenikmatan indria (kama tanha), nafsu menjadi (bhava tanha) dan nafsu
menyingkirkan (vibhava tanha). Demikianlah pernyataan Kebenaran Ariya Kedua, teorinya, pariyatti-nya. Inilah yang anda renungkan: sumber penderitaan adalah kemelekatan pada nafsu-keinginan.

TIGA JENIS NAFSU-KEINGINAN
Nafsu-keinginan atau tanha (dalam bahasa Pali) penting untuk dipahami.
Apakah nafsu itu? Kama tanha sangat mudah dimengerti. Nafsu macam ini adalah
mengingini kenikmatan-indria melalui tubuh atau indria lainnya dan selalu mencari sesuatu buat menggairahkan atau menyenangkan indra — inilah kama tanha.
Anda dengan gampang bisa merenung: bagaimana rasanya memiliki hasrat akan hal-hal yang nikmat? Sebagai contoh, ketika anda makan, bila anda sedang lapar dan makanannya enak, anda dapat menyadari adanya keinginan untuk imbuh sesendok lagi. Perhatikanlah perasaan yang timbul tatkala anda sedang mengecap sesuatu yang nikmat; perhatikan bagaimana anda menginginkannya lagi. Jangan hanya percaya saja; cobalah sendiri. Jangan mengira bahwa anda sudah tahu karena sudah pernah.Cobalah sewaktu anda sedang makan. Coba sesuatu yang
nikmat dan lihat apa yang terjadi: timbulnya hasrat untuk tambah lagi.
Inilah kama tanha.
Kita juga merenungkan keinginan untuk menjadi sesuatu. Ketika ada kebodohan, maka manakala kita tidak sedang mengejar makanan-enak atau musik yang
merdu, kita dapat terperangkap dalam dunia ambisi dan pencapaian — nafsu-keinginan untuk menjadi. Kita terperangkap dalam rombongan yang berusaha untuk menjadi bahagia, menjadi kaya; atau kita berusaha membuat hidup kita agar terasa penting dengan berjuang membetulkan dunia. Jadi, perhatikanlah: rasa-ingin untuk menjadi sesuatu yang lain dari keadaan anda sekarang ini.
Dengarkan bhava tanha dalam hidup anda: ‘Saya ingin melatih meditasi agar bebas dari kepedihan. Saya mau mencapai pencerahan. Saya ingin menjadi bhikkhu atau bhikkhuni. Saya ingin menjadi umat awam yang tercerahkan.
Saya ingin memiliki istri, anak dan pekerjaan.
Saya ingin menikmati keduniawian tanpa harus melepaskan apapun sekaligus mejadi arahat yang tercerahkan.’
Manakala kita kecewa berat terhadap keinginan untuk menjadi sesuatu, maka timbullah keinginan untuk menyingkirkan (get rid of it) sesuatu. Jadi sekarang kita
merenungkan vibhava tanha, nafsu-keinginan untuk menyingkirkan: ‘Saya ingin menyingkirkan penderitaan saya. Saya ingin menyingkirkan kemarahan saya. Saya
memiliki kemarahan ini dalam diri saya dan saya ingin menyingkirkannya. Saya ingin meyingkirkan rasa cemburu, cemas dan gelisah.’ Perhatikan ini sebagai refleksi vibhava tanha. Kita sungguh-sungguh mengkontemplasikannya dalam diri kita yang ingin menyingkirkan sesuatu; kita tidak-lah sedang berusaha untuk menyingkirkan vibhava tanha. Kita tidak berdiri melawan nafsu untukmenyingkirkan ataupun mendorongnya. Alih-alih, kita hanya merefleksi, ‘Demikianlah adanya; demikianlah rasanya ingin meyingkirkan sesuatu — Saya musti mengendalikan amarah saya !; Saya harus membunuh sang iblis dan menyingkirkan amarah saya — kemudian saya akan menjadi ….’ — Kita dapat melihat dari rentetan pemikiran ini bahwa menjadi dan menyingkirkan ternyata
sangat erat hubungannya.
Namun, ingatlah bahwa ketiga kategori kama tanha, bahva tanha dan vibhava tanha hanyalah cara memudahkan guna mengkontemplasikan nafsu-keinginan.
Ketiganya bukanlah bentuk nafsu-nafsu yang sama sekali terpisah, melainkan hanya ragam aspek darinya saja.
Insight kedua dari Kebenaran Ariya Kedua adalah:
‘Nafsu-keinginan harus dibiarkan berlalu.’ – Maka dari itu,melepas, membiarkannya pergi berlalu, termasuk dalam praktik kita. Anda memiliki pengetahuan bahwa nafsu keinginan harus dilepas (let it go), tetapi pengetahuan ini bukanlah nafsu-keinginan untuk melepas apapun. Bila anda tidak cukup bijaksana dan tidak merefleksikan dalam pikiran anda, anda cenderung hanyut menuruti ‘Saya ingin menyingkirkan, saya ingin melepas semua nafsu keinginan’
— tetapi inipun hanyalah nafsu-keinginan jenis lain. Namun anda bisa merefleksikannya; anda bisa melihat nafsu-keinginan-menyingkirkan, nafsu-menjadi sesuatu atau nafsu pada kenikmatan indria. Dengan memahami
ketiga macam nafsu ini, anda dapat membiarkannya berlalu.
Kebenaran Ariya Kedua tidak menyuruh anda berpikir, ‘Saya memiliki banyak nafsu indria’, atau, ‘Saya sangat ambisius. Saya sangat bhava tanha plus, plus,
plus!’ atau, ‘Saya adalah seorang nihilis. Saya hanya ingin lepas. Saya benar-benar fanatik vibhava tanha. Inilah aku.’ Kebenaran Ariya Kedua bukan demikian, bukan mengenai mengidentifikasi [ Mengidentifikasi: menyamakan, men-cap, mengidentikkan sesuatu dengan‘aku’ – ed.] diri dengan nafsu-nafsu dalam cara apapun; hal ini adalah tentang mengenali nafsu-keinginan.
Dulu saya sering menghabiskan waktu mengamati bagaimana kebanyakan latihan saya adalah nafsu untuk menjadi sesuatu. Contohnya, betapa maksud baik praktik
meditasi saya sebagai biarawan sebenarnya adalah agar jadi disukai — betapa hubungan saya dengan biarawan atau biarawati atau umat awam berkaitan dengan keinginan untuk disukai dan didukung (approved of ).
Itulah bhava tanha — nafsu akan pujian dan sukses.
Sebagai biarawan, ada bahva tanha: ingin agar orang-orang mengerti semuanya dan menghargai Dhamma.
Bahkan nafsu-keinginan yang halus, nyaris mulia ini, sebenarnya juga: bhava tanha.
Bahkan juga ada vibhava tanha dalam kehidupan spritual, yang dapat berupa pembenahan diri yang amat sangat: ‘Saya ingin menyingkirkan, melenyapkan dan
memusnahkan kekotoran batin ini.’ Saya benar-benar mendengarkan diri saya berpikir, ‘Saya mau menyingkirkan nafsu-keinginan. Saya mau menyingkirkan kemarahan.Saya tidak ingin jadi ketakutan atau cemburu lagi. Saya ingin menjadi berani. Saya ingin memiliki kegembiraan dan kesenangan dalam hati saya.’
Berlatih Dhamma bukanlah dengan membenci diri sendiri [karena mempunyai pemikiran-pemikiran semacam itu], melainkan dengan: benar-benar melihat bahwa semua pemikiran-pemikiran itu memang terkondisi14 dalam pikiran. Mereka semua tak-kekal. Nafsu-keinginan bukanlah diri kita yang sesungguhnya, melainkan hanya kebiasaan kita yang cenderung untuk be-reaksi karena kebodohan akibat tidak memahami Empat Kebenaran Ariya dalam ketiga aspeknya. Kita condong selalu bereaksi demikian terhadap segala sesuatu. Ini reaksi normal dikarenakan kebodohan (ignorance).
Tetapi kita tidak perlu terus melanjutkan penderitaan.
Kita bukanlah korban tanpa harapan dari nafsu-keinginan.
Kita dapat membiarkan nafsu-keinginan sebagaimana adanya dan dengan demikian mulai membiarkannya berlalu. Nafsu-keinginan memiliki kekuatan atas kita dan membohongi kita HANYA selama kita menggenggamnya, mempercayainya serta bereaksi padanya.

MENGGENGGAM ADALAH PENDERITAAN
Biasanya kita menyamakan penderitaan dengan perasaan, tetapi perasaan bukanlah penderitaan.Penderitaan ialah menggenggam nafsu-keinginan. Nafsu keinginan tidak menyebabkan penderitaan; penyebab penderitaan adalah menggenggam nafsu-keinginan.
Pernyataan ini untuk refleksi dan renungan dalam pengalaman pribadi anda.
Anda musti benar-benar menyelidiki nafsu keinginan dan mengetahui apa nafsu-keinginan itu. Anda harus mengetahui apa yang alamiah serta perlu buat bertahan hidup dan apa yang sesungguhnya tak diperlukan buat bertahan hidup (survival). Kita bisa saja menjadi sangat idealis dengan berpikir bahwa kebutuhan-makan pun jugalah sejenis nafsu-keinginan yang semestinya jangan pula kita punyai; memang, dalam membicarakan hal demikian kadang seseorang bisa menjadi sangat konyol. — Tetapi Sang Buddha bukanlah seorang yang idealis atau moralis. Beliau tidak berusaha hendak mengutuk apapun. Beliau hanya berusaha untuk mem-bangun-kan kita akan kebenaran sehingga kita bisa melihat segalanya dengan jelas.
Ketika ada penglihatan yang jelas dan benar,maka takkan ada penderitaan. Anda masih dapat merasa lapar. Anda dapat tetap memerlukan makanan tanpa membuatnya menjadi nafsu-keinginan. Makanan adalah kebutuhan alami tubuh. Tubuh bukanlah diri; tubuh perlu mendapat makanan, bila tidak tubuh akan melemah dan mati. Demikanlah sifat alami tubuh — tiada yang salah dengannya. Bila kita menjadi sangat moralis dan berpikir tinggi serta percaya bahwa kita adalah tubuh kita, bahwa kelaparan adalah permasalahan kita-sendiri, dan bahkan seharusnya kita tidak makan — maka ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kebodohan. Ketika anda benar-benar melihat sumber penderitaan, anda akan merealisasi bahwa permasalahannya adalah penggenggaman (grasping) nafsu-keinginan bukan nafsu-keinginan itu sendiri. Menggenggam artinya dibohongi oleh nafsu-keinginan, berpikir bahwa inilah‘aku’ dan ‘milikku’: ‘Nafsu-keinginan ini adalah saya dan ada sesuatu yang salah dalam diri saya karena memilikinya’;atau, ‘Saya tidak suka diri saya yang sekarang. Saya harus menjadi sesuatu yang lain’; atau, ‘Saya harus menyingkirkan sesuatu dulu sebelum saya bisa menjadi apa yang saya inginkan.’ Semua ini adalah nafsu-keinginan. Jadi
dengarkanlah dengan perhatian-murni tanpa mengatakan baik atau jahat, melainkan hanya mengenali apa adanya.

MEMBIARKAN BERLALU (LETTING GO)
Ketika kita mengkontemplasikan dan dengan cermat mendengarkan nafsu-keinginan, maka kita tidak lagi melekat padanya; kita hanya membiarkan mereka
sebagaimana adanya. Kemudian kita sampai pada realisasi bahwa sumber penderitaan, nafsu-keinginan, dapat dikesampingkan dan dibiarkan berlalu,
Bagaimana anda membiarkannya berlalu? Caranya dengan membiarkannya sebagaimana adanya; ini bukan berarti anda memusnahkan atau membuangnya,
melainkan lebih pada meletakkan dan membiarkannya sendiri. Melalui latihan melepas, kita menyadari keberadaan sumber penderitaan, yaitu kemelekatan pada nafsu keinginan, dan kita sadar bahwa kita harus melepas ketiga nafsu-keinginan ini. Kemudian kita menyadari bahwa kita telah melepas ketiga nafsu-keinginan ini, dan tiada lagi kemelekatan padanya.
Ketika anda menyadari diri anda sedang melekat pada sesuatu, ingatlah bahwa ‘melepas’ tidak sama dengan‘menyingkirkan’ atau ‘membuang’. Bila saya sedang memegang sebuah jam dan anda berkata, ‘Lepaskan jam itu!’, perkataan anda bukan berarti ‘buang’. Boleh jadi saya berpikir bahwa saya musti membuangnya karena saya melekat padanya, tetapi ini pun hanyalah nafsu-keinginan untuk menyingkirkan. Kita cenderung berpikir bahwa menyingkirkan objek merupakan cara untuk menyingkirkan kemelekatan. Tetapi bila saya dapat merenungkan kemelekatan, penggenggaman jam ini, saya menyadari bahwa tiada artinya berusaha menyingkirkannya — jam ini bagus; tepat waktu dan tidak berat untuk dibawa-bawa. Jam ini bukanlah masalahnya. Jadi apa yang saya lakukan? Lepaskan, kesampingkan —letakkan dengan lembut tanpa ada kebencian. Kemudian saya boleh mengambilnya lagi, melihat pukul berapa saat itu serta kembali meletakkannya bila perlu. Anda dapat menggunakan pengetahuankebijaksanaan‘melepas’ ini pada nafsu-keinginan indria.
Mungkin anda sedang ingin bersenang-senang. Bagaimana cara mengesampingkan nafsu-keinginan ini tanpa menimbulkan kebencian? Sangat sederhana: sekedar kenalilah saja tanpa menilai atau mengadilinya. Anda dapat
mengkontemplasikan keinginan untuk menyingkirkannya— karena anda merasa bersalah memiliki nafsu yang bodoh ini — tetapi kesampingkan saja. Anda tidak lagi melekat padanya ketika anda melihatnya sebagaimana adanya, mengenalinya hanya sebagai nafsu-keinginan.
Jadi caranya adalah dengan selalu berlatih setiap waktu dalam kehidupan sehari-hari. Bilamana anda sedang merasa tertekan dan negatif, begitu di saat anda menolak larut tenggelam dalamnya, inilah pengalaman yang mencerahkan. Ketika anda melihat-nya, anda tak perlu tenggelam dalam lautan depresi dan keputusasaan. Anda sebenarnya bahkan dapat stop dengan belajar untuk tidak
menimbang-ulang tentangnya sedikitpun.[ “You can actually stop by learning not to give things a second thought“,maksudnya: secara mental tegas-disiplin-‘tega’, tidak bimbang, tidak member kesempatan ke-dua kepada timbulnya buah-buah pikir tersebut, secara mental tidak meliriknya lagi – fokus pada metode-praktik – ed.]
Anda harus memahaminya sendiri melalui latihan sehingga anda dapat mengetahui sendiri bagaimana cara melepas sumber penderitaan. Dapatkah anda
melepas nafsu-keinginan dengan ingin melepaskannya?
Apakah yang sebenarnya melepas pada saat itu? Anda harus merenungkan pengalaman melepas dan benar-benar meneliti dan menyelidiki sampai pengetahuan kebijaksanaan timbul. Teruskan sampai insight itu timbul: ‘Ah, melepas, ya, sekarang saya mengerti. Nafsu-keinginan telah dilepas.’ Bukan berarti bahwa dengan ini anda bisa melepas nafsu-keinginan selamanya, tetapi pada saat itu, anda benar-benar telah melepas dan anda telah melakukannya dengan kesadaran perhatian penuh. Maka ada pengetahuan. Inilah yang kita sebut pengetahuan kebijaksanaan.
Dalam bahasa Pali, kita menyebutnya nanadassana atau pemahaman yang mendalam.
Saya mendapat pengalaman pertama saya dalam melepas pada tahun pertama meditasi saya. Saya memikirkan secara intelektual bahwa saya harus melepas
semuanya dan kemudian saya berpikir: ‘Bagaimana anda melepas?’
Tampaknya mustahil untuk melepas apapun. Saya terus merenungkan: ‘Bagaimana anda melepas?’ Kemudian saya akan berkata, ‘Anda melepas dengan melepas.’ ‘Kalau begitu, lepaskan!’ Kemudian saya berkata:
‘Tetapi, apakah saya sudah melepas?’ dan, ‘Bagaimana anda melepas?’ ‘Kalau begitu hanya lepaskan!’ Saya terus melakukannya, sehingga bertambah frustasi. Tetapi pada akhirnya semakin jelas apa yang terjadi. Bila anda berusaha
untuk menganalisa pelepasan secara mendetil, anda dapat terjebak dengan membuatnya menjadi sangat rumit. Pelepasan bukanlah sesuatu yang dapat anda pikirkan dalam kata-kata, melainkan sesuatu yang anda lakukan.
Sehingga saya hanya melepas satu saat begitu saja. masalah dan obsesi pribadi. Caranya bukanlah dengan menganalisa dan menambah permasalahan dari yang
sudah ada, tetapi melatih keadaan meninggalkannya sendirian, melepasnya.
Pada mulanya, anda melepas tetapi kemudian mengambilnya kembali karena kebiasaan memegang yang kuat. Tetapi paling tidak anda menangkap maksudnya. Bahkan ketika saya memiliki pengetahuan untuk melepas, saya melepas untuk sesaat tetapi kemudian mulai memegang lagi dengan berpikir: ‘Saya tidak dapat
melakukannya, saya terlanjur memiliki banyak kebiasaan jelek!’ Tetapi janganlah percaya pada keluhan itu, jangan merendahkan diri anda sendiri karena itu semua
sangat tak dapat dipercaya. — Masalahnya hanyalah melatih untuk melepas. Semakin anda mulai melihat bagaimana melakukannya, maka semakin mampu anda mempertahankan keadaan tidak melekat.

PENCAPAIAN
Adalah penting untuk mengetahui bahwa anda telah melepas nafsu-keinginan: ketika anda tak lagi menilai (judge) atau berkeras buat menyingkirkannya; kala anda mengenali bahwa ya demikianlah adanya (just the way it is). Ketika anda benar-benar tenang dan damai, maka anda akan menemukan bahwa tiada kemelekatan pada apapun.Anda tidak terperangkap, berusaha untuk memperoleh
atau menyingkirkan sesuatu. Kewarasan itu hanyalah sekedar mengetahui sesuatu sebagaimana adanya tanpa merasa perlu untuk mengadili atau membuat penilaian
ini-itu tentangnya.Kita selalu mengatakan, ‘Ini mestinya tidak begini!’, ‘Saya tidak seharusnya berlaku begini!’ dan, ‘Anda seharusnya tidak begini atau begitu!’, dan seterusnya. Saya yakin bahwa saya dapat memberitahu anda bagaimana anda seharusnya — dan anda pun dapat memberitahu saya bagaimana saya seharusnya. Kita ini seharusnya penyayang, dermawan, baik hati, pekerja keras, rajin, berani dan penuh kasih. Saya bahkan tidak perlu mengenal anda
untuk memberitahu semua itu! Tetapi untuk benar-benar mengenal anda, saya perlu terbuka terhadap anda —daripada memulai dari suatu pemikiran muluk tentang bagaimana seharusnya seorang pria atau wanita, atau bagaimana seharusnya seorang Buddhis atau Kristen.
Masalahnya bukan karena kita tidak tahu bagaimana seseorang seharusnya berlaku. Penderitaan kita bermula dari kemelekatan pada ideal serta pelbagai kerumitan yang kita ciptakan sendiri mengenai bagaimana sesuatu seharusnya. Kita ini tak bakalan pernah menjadi seperti apa kita seharusnya menurut ideal tertinggi kita. Kehidupan, sesama, negara, dunia tempat kita hidup — segala sesuatu tidak pernah tampak sebagaimana seharusnya. Kita menjadi sangat kritis terhadap semuanya dan diri kita sendiri: ‘Saya tahu saya harus lebih sabar, tetapi pokoknya saya TIDAK bisa sabar!’… Dengarkan tentang semua ‘seharusnya’ dan‘seharusnya tidak’ dan segala hasrat: menginginkan yang menyenangkan, menginginkan untuk menjadi [sesuatu] atau menyingkirkan sisi yang buruk dan menyakitkan. Ini bagaikan mendengar seseorang di balik pagar berkata,
‘Saya menginginkan ini dan tidak menyukai itu. Seharusnya begini dan seharusnya tidak begitu.’ Sungguh dibutuhkan waktu untuk mendengarkan pikiran penggerutu; untuk membawanya ke kesadaran.
Saya biasanya sering melakukan ini bila saya merasa tidak puas atau mencela. Saya akan menutup mata dan mulai berpikir, ‘Saya tidak suka ini dan saya tidak
mau itu’, ‘Orang itu seharusnya tidak begini’, dan ‘Dunia mestinya tidak demikian.’ Saya akan terus mendengarkan sejenis siluman-pencela ini mengoceh dan mengoceh— mengkritik, mencela saya, anda dan dunia. Kemudian saya akan berpikir, ‘Saya menginginkan kebahagiaan dan kenyamanan; saya ingin merasa aman; saya ingin dicintai!’ — [Bahkan] saya akan sengaja membiarkan hal-hal ini keluar serta dengan seksama mendengarkan untuk mengetahuinya — yang hanyalah kondisi-kondisi [Conditions: cuma akibat rentetan peng-kondisian masa lalu yang bak lingkaran-setan tiada henti; berwujud a.l. kebiasaan, kecenderungan (habit) pikiran – ed.] yang timbul dalam pikiran. Jadi, bawa saja mereka semua
dalam pikiran anda — bangkitkan semua harapan, nafsu dan kritikan. Bawa semuanya dalam kesadaran, maka anda akan mengetahui nafsu-keinginan dan mampu mengesampingkannya (lay it aside).
Semakin kita merenung dan menginvestigasi penggenggaman, semakin pengetahuan-kebijaksanaan terbit: ‘Nafsu-keinginan harus dilepas.’ Kemudian, melalui latihan dan pemahaman mengenai melepas yang sebenarnya, kita mendapatkan pengetahuan ketiga dari Kebenaran Ariya Kedua: ‘Nafsu-keinginan telah dilepas.’ Kita benar-benar memahami pelepasan. Bukan pelepasan teoritis, tetapi pengetahuan langsung. Anda memahami bahwa pelepasan telah dicapai. Inilah gunanya praktik.

Tidak ada komentar: