Rabu, 03 Oktober 2012

15.ANUMANA SUTTA



Penerbit : Dewi Kayana Abadi, Jakarta 2003 


1. Demikian telah saya dengar : Pada suatu ketika Bhikkhu Mahamoggallana menginap di Sumsumaragira, hutan Bhesakala di Taman Rusa, di daerah suku Bhagga. Kemudian Bhikkhu Mahamoggallana menyapa para bhikkhu, dengan berkata : ”Para bhikkhu”.”Ya, bhante” jawab para bhikkhu tersebut kepada Bhikkhu Mahamoggallana.Kemudian Bhikkhu Mahamoggallana berkata sebagai berikut :”Para bhikkhu, andaikata seorang bhikkhu mempersilahkan dengan berkata : ’Para bhikkhu, silahkan menegurku, saya patut diberitahu oleh para bhikkhu’, tetapi apabila ia merupakan seseorang yang sulit diajak bicara, disertai sifat-sifat yang membuatnya sulit diajak bicara, sukar diatur, tidak mampu menerima petunjuk, maka rekan-rekan pertapanya akan menilai bahwa ia tidak sesuai untuk diajak bicara dan bahwa ia tidak sesuai untuk diberi petunjuk-petunjuk dan orang tersebut tidak patut diberi kepercayaan.

2. Para bhikkhu, apakah sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara?Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan-keinginan jahat.Para bhikkhu, bhikkhu siapa pun yang memiliki keinginan jahat dan dikuasai oleh keinginan-keinginan jahat, inilah sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.Para bhikkhu, kemudian seorang bhikkhu memuji-muji dirinya sendiri dan merendahkan yang lainnya. Bhikkhu siapa pun yang memuji-muji dirinya sendiri dan merendahkan yang lainnya, ini pun merupakan sifat-sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu sangat marah, dikuasai kemarahan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya ia menjadi seseorang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kemarahannya mencari-cari kesalahan pada diri orang lain, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya ia melakukan penyerangan. Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kemarahannya ia melakukan penyerangan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengeluarkan kata-kata kemarahan. Bhikkhu siapa pun yang sangat marah dan karena kemarahannya ia mengeluarkan kata-kata kemarahan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sukar diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu, yang ditegur, mengucapkan kata-kata celaan tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang menegur. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, mengucapkan kata-kata celaan tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang menegur, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, merendahkan orang yang menegurnya karena ditegur. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, merendahkan orang yang menegurnya karena ditegur, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, berbalik menegur orang yang menegurnya karena ditegur demikian. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, berbalik menegur orang yang menegurnya karena ditegur demikian, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, menutupi pertanyaan dengan menanyakan orang yang menegurnya pertanyaan lain, menjawab yang tidak sesuai dengan permasalahan, menunjukkan sikap tidak bersahabat dan itikad jahat serta kedongkolan. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, menutupi pertanyaan dengan menanyakan orang yang menegurnya pertanyaan lain, menjawab yang tidak sesuai dengan permasalahan, menunjukkan sikap tidak bersahabat dan itikad jahat serta kedongkolan, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang ditegur, tidak berhasil menjelaskan tindakan-tindakannya kepada orang yang menegurnya. Bhikkhu siapa pun yang setelah ditegur, tidak berhasil menjelaskan tindakan-tindakannya kepada orang yang menegurnya, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu kasar, dan pendengki, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu pengiri dan penggerutu, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu curang dan menipu. Bhikkhu siapa pun yang curang dan menipu, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu keras kepala dan sombong. Bhikkhu siapa pun yang keras kepala dan sombong, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu mengejar keduniawian, menggenggamnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya. Bhikkhu siapa pun yang mengejar keduniawian, menggenggamnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya, ini pun merupakan sifat yang membuatnya sulit diajak bicara.

Para bhikkhu, inilah yang disebut sifat-sifat yang membuat seorang bhikkhu sulit diajak bicara.

3. Para bhikkhu, namun apabila seorang bhikkhu mempersilahkan dengan berkata : ’Para bhikkhu, mohon menegur saya, saya patut diberi petunjuk oleh para bhikkhu dan apabila ia seseorang yang mudah diajak bicara, penuh dengan sifat yang membuatnya mudah diajak bicara, penurut, mampu menerima petunjuk, maka rekan bhikkhunya akan menilai bahwa ia harus diajak bicara dan bahwa ia patut diberi petunjuk dan bahwa kepercayaan seharusnya diberikan kepada orang ini’.Para bhikkhu, apakah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara?Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu tidak memiliki keinginan jahat ataupun dibawah pengaruh keinginan jahat. Bhikkhu siapa pun yang tidak memiliki keinginan jahat ataupun di bawah pengaruh keinginan jahat, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak meninggikan dirinya sendiri maupun merendahkan yang lain, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah dan dikuasai kemarahan yang sangat besar, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahannya, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah sehingga melakukan penyerangan, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengucapkan kata-kata kemarahan. Bhikkhu siapa pun, yang tidak menjadi sangat marah dan tidak mengucapkan kata-kata kemarahan karena kemarahannya, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang dicela, tidak membalas mencela terhadap orang yang mencelanya, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang dicela, tidak merendahkan orang yang mencelanya karena celaan itu, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang dicela, tidak berbalik mencela orang yang mencelanya karena celaan itu, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu yang dicela, tidak menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lain kepada orang yang mencelanya, tidak menjawab yang menyimpang dari masalahnya, tidak menunjukkan sikap yang tidak bersahabat dan tidak menunjukkan sikap itikad jahat dan kedongkolan. Bhikkhu siapa pun, yang setelah dicela tidak menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lain kepada orang yang mencelanya, tidak menjawab dengan menyimpang dari masalah, tidak menunjukkan sikap tidak bersahabat, itikad jahat dan kedongkolan, ini pun merupakan sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu setelah dicela, berhasil menjelaskan tindakan-tindakannya kepada orang yang mencelanya, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak menjadi kasar, tidak dengki, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak iri, tidak sakit hati, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu bukan merupakan orang yang penuh tipu muslihat, tidak suka menipu, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak keras kepala, tidak sombong, inilah sifat-sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, selanjutnya seorang bhikkhu tidak mengejar keduniawian yang bersifat sementara, tidak menggenggamnya erat-erat, mudah melepaskannya. Bhikkhu siapa pun, yang tidak mengejar keduniawian yang bersifat sementara, tidak menggenggamnya erat-erat, mudah melepaskannya, ini pun merupakan suatu sifat yang membuatnya mudah diajak bicara.

Para bhikkhu, inilah yang disebut sifat-sifat yang membuat seorang bhikkhu mudah diajak bicara.

4. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Orang yang memiliki keinginan jahat dan di bawah pengaruh keinginan jahat, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki keinginan jahat dan di bawah pengaruh keinginan jahat, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain’.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya , demikian : ’Saya tidak mau mempunyai keinginan jahat maupun di bawah pengaruh keinginan jahat, mengagungkan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya mengagungkan diri saya sendiri dan merendahkan orang lain, saya akan menjadi tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain’.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu megetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya dan berpikir : ’Saya tidak akan menjadi seorang yang mengagungkan diri sendiri dan merendahkan orang lain’.

5. Siapa pun yang menjadi sangat marah, dikuasai oleh kemarahan, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat pemarah dan di bawah pengaruh kemarahan, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan mempunyai sifat pemarah maupun di bawah pengaruh kemarahan, siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mencari-cari kesalahan orang lain, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat sangat marah (pemarah) dan karena kemarahan itu lalu mencari-cari kesalahan orang lain, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain’.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan menjadi orang yang sangat marah (pemarah) maupun orang yang mencari-cari kesalahan pada orang lain karena kemarahan’.

6. Siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya melakukan penyerangan, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat sangat marah (pemarah) dan karena kemarahan itu lalu melakukan penyerangan, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan menjadi orang yang sangat marah (pemarah) maupun orang yang melakukan penyerangan karena kemarahan itu’.

7. Siapa pun yang menjadi sangat marah dan karena kemarahannya mengucapkan kata-kata kemarahan, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat sangat marah (pemarah) dan karena kemarahan itu lalu mengucapkan kata-kata kemarahan, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan menjadi orang yang sangat marah (pemarah) maupun orang yang mengucapkan kata-kata kemarahan karena kemarahan itu’.

8. Siapa pun yang dicela, membalas celaan tersebut tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang mencela itu, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat membalas celaan tersebut tanpa dipikir terlebih dahulu terhadap orang yang mencela itu, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya apabila dicela, tidak akan membalas celaan tersebut tanpa dipikir terlebih dahulu, terhadap orang yang mencela itu’.

9. Siapa pun yang dicela, merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya apabila dicela, tidak akan merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut’.

10. Siapa pun yang dicela, membalikkannya pada orang yang mencela itu atas celaan tersebut, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat membalikkannya pada orang yang mencela itu atas celaan tersebut, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya apabila dicela, tidak akan membalikkannya pada orang yang mencela itu atas celaan tersebut ’.

11. Siapa pun yang dicela, menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela itu, memberikan jawaban yang menyimpang dari permasalahan, dan menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela itu, memberikan jawaban yang menyimpang dari permasalahan, dan menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya apabila dicela, tidak akan menutupi pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela itu, saya tidak akan memberikan jawaban yang menyimpang dari permasalahan, dan saya tidak akan menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan’.

12. Siapa pun yang dicela, tidak berhasil memberikan penjelasan mengenai tindakannya kepada orang yang mencela itu, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat tidak berhasil memberikan penjelasan mengenai tindakan saya kepada orang yang mencela itu, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya apabila dicela, akan memberikan penjelasan mengenai tindakanku itu kepada orang yang mencela’.

13. Siapa pun yang kasar dan dengki, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat kasar dan dengki, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan menjadi kasar dan dengki’.

14. Siapa pun yang iri dan menggerutu, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat iri dan menggerutu, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan iri dan menggerutu’.

15. Siapa pun yang curang dan menipu, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki curang dan menipu, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan curang dan menipu’.

16. Siapa pun yang keras kepala dan sombong, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima olehku; demikian pula apabila saya memiliki sifat keras kepala dan sombong, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat diterima oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan keras kepala dan sombong’.

17. Siapa pun yang mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak membiarkannya lepas, orang seperti itu tidak menyenangkan dan tidak dapat disetujui olehku; demikian pula apabila saya mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak membiarkannya lepas, saya akan tidak menyenangkan dan tidak dapat disetujui oleh orang lain.Para bhikkhu, apabila seorang bhikkhu mengetahui hal ini, ia harus menetapkan pikirannya, demikian : ’Saya tidak akan menjadi seorang yang mengejar keduniawian, tidak memegangnya erat-erat, melepaskannya dengan mudah’.

18. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Sekarang, apakah saya memiliki keinginan jahat, di bawah pengaruh keinginan jahat?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya memiliki keinginan jahat, di bawah pengaruh keinginan jahat’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya tidak memiliki keinginan jahat, tidak di bawah pengaruh keinginan jahat’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

19. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Sekarang, apakah saya mengagungkan diri sendiri, meredahkan yang lainnya?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya mengagungkan diri sendiri, merendahkan yang lainnya’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak mengagungkan diri sendiri, tidak merendahkan yang lainnya, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang mengagungkan diri sendiri dan merendahkan yang lainnya’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

20. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang penuh kemarahan, dikuasai kemarahan?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang penuh kemarahan, dikuasai kemarahan’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak penuh kemarahan, tidak dikuasai kemarahan, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang penuh kemarahan dan dikuasai kemarahan’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

21. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang penuh kemarahan, dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan tersebut?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang penuh kemarahan dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan tersebut’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak penuh kemarahan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang penuh kemarahan dan mencari-cari kesalahan orang lain karena kemarahan tersebut’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

22. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang penuh kemarahan, dan melakukan penyerangan karena kemarahan tersebut?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang penuh kemarahan dan melakukan penyerangan karena kemarahan tersebut’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak penuh kemarahan, tidak melakukan penyerangan karena kemarahan tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang penuh kemarahan dan melakukan penyerangan karena kemarahan tersebut’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

23. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang penuh kemarahan, dan karenanya mengucapkan kata-kata penuh kemarahan?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang penuh kemarahan dan karenanya mengucapkan kata-kata penuh kemarahan’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak penuh kemarahan dan karenanya tidak mengucapkan kata-kata penuh kemarahan, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang penuh kemarahan dan karena kemarahanku mengucapkan kata-kata penuh kemarahan’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

24. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang setelah dicela membalas celaan itu terhadap orang yang mencelaku?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang setelah dicela membalas celaan itu terhadap orang yang mencelaku’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut setelah dicela tidak membalas celaan itu terhadap orang yang mencelanya, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Apabila dicela, saya tidak membalas celaan orang yang mencela tersebut’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

25. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang setelah dicela merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang setelah dicela merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut setelah dicela tidak merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Apabila dicela, saya tidak merendahkan orang yang mencela itu karena celaan tersebut’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

26. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang apabila dicela berbalik menyerang orang yang mencela itu karena celaan tersebut?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang apabila dicela berbalik menyerang orang yang mencela itu karena celaan tersebut’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut ketika dicela tidak berbalik menyerang orang yang mencela itu karena celaan tersebut, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Apabila dicela, saya tidak berbalik menyerang orang yang mencela itu karena celaan tersebut’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

27. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang apabila dicela, menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, apakah saya memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, apakah saya menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang apabila dicela menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, saya memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, saya menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut apabila dicela tidak menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, tidak memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, tidak menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan , sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Apabila dicela, saya tidak menutupi pertanyaan dengan menanyakan pertanyaan lainnya kepada orang yang mencela, saya tidak memberi jawaban yang menyimpang dari permasalahan, saya tidak menunjukkan air muka marah, itikad jahat dan kejengkelan’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

28. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang setelah dicela tidak berhasil menjelaskan tindakanku, pada orang yang mencela itu?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang setelah dicela tidak berhasil menjelaskan tindakanku, pada orang yang mencela itu’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut setelah dicela sanggup menjelaskan tindakannya, pada orang yang mencela itu, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Apabila dicela, saya sanggup menjelaskan tindakanku, pada orang yang mencela itu’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

29. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang kasar dan pendendam?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang kasar dan pendendam’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak kasar dan pendendam, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’saya tidak kasar dan pendendam’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

30. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang pengiri dan penggerutu?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang pengiri dan penggerutu’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak iri dan menggerutu, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang pengiri maupun penggerutu’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

31. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya penghianat dan penipu?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya penghianat dan penipu’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut bukan penghianat dan penipu, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang penghianat maupun penipu’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

32. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya seorang yang keras kepala dan sombong?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang keras kepala dan sombong’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut tidak keras kepala dan sombong, sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang keras kepala dan sombong’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

33. Para bhikkhu, dalam hal ini pribadi haruslah diukur terhadap pribadi oleh seorang bhikkhu, demikian : ’Apakah saya mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya?’.Para bhikkhu, apabila sewaktu bhikkhu tersebut merenungkan, ia menyadari, demikian : ’Saya seorang yang mengejar keduniawian, memegangnya erat-erat, tidak mudah melepaskannya’, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan keadaan-keadaan jahat yang tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, akan tetapi apabila bhikkhu tersebut sewaktu merenungkan, mengetahui demikian : ’Saya bukan seorang yang mengejar keduniawian, tidak memegangnya erat-erat, mudah melepaskannya’, maka, dengan diliputi kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif itu harus ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

34. Para bhikkhu, apabila sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih ini belum disingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, tetapi apabila sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih tersebut telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, dengan diliputi oleh kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif tersebut haruslah ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

35. Para bhikkhu, bagaikan seorang wanita atau seorang pria, yang masih muda, dalam masa-masa awal kehidupannya dan menyenangi perhiasan-perhiasan, kemudian mengamati bayangannya sendiri di depan permukaan sebuah cermin yang jernih, atau di atas permukaan semangkuk air murni.Apabila ia melihat ada debu atau noda di sana, ia akan berusaha menyingkirkan debu atau noda tersebut.Tetapi apabila ia tidak melihat ada debu atau noda di sana, ia merasa senang karenanya dan berpikir : ’Sesungguhnya ini baik untukku, sesungguhnya saya sangat bersih’.

36. Demikian pula, para bhikkhu, apabila sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih ini belum disingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, bhikkhu tersebut harus berjuang untuk menyingkirkan semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih tersebut.Para bhikkhu, tetapi apabila sewaktu merenungkan, seorang bhikkhu melihat bahwa semua keadaan batin yang jahat dan tidak terlatih tersebut telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka, para bhikkhu, dengan diliputi oleh kegiuran dan kegembiraan, hal-hal negatif tersebut haruslah ditinggalkan oleh bhikkhu tersebut, berlatih siang dan malam dalam keadaan-keadaan batin yang terlatih.

Demikianlah apa yang diuraikan oleh Bhikkhu Mahamoggallana. Para bhikkhu tersebut senang dan gembira dengan apa yang diuraikan oleh Bhikkhu Mahamoggallana.


Sumber :www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar: