Senin, 01 Oktober 2012

Menjadi Bodoh dan Belajar


Seorang guru besar bertanya pada empat mahasiswanya yang baru saja mengikuti sidang disertasi doktoralnya,

“Apa yang akan kalian lakukan setelah menyelesaikan jenjang doktor ini? mengingat ini adalah pencapaian level tertinggi dalam jenjang pendidikan akademik yang diidamkan oleh banyak orang”, Tanya sang guru besar.

“Saya akan bekerja mengejar puncak karir di perusahaan yang saya dambakan, kebetulan saya sudah positif diterima di perusahaan tersebut dan dijanjikan menduduki posisi strategis di situ”, jawab mahasiswa pertama dengan bangganya.

“Dengan kemampuan yang saya miliki, saya akan bekerja di laboratorium ternama dunia untuk mengejar mimpi saya menjadi ilmuwan yang bisa menemukan teori-teori baru sebagai terusan dari hasil disertasi saya kemarin”, jawab mahasiswa kedua penuh antusias.

“Perusahaan keluarga saya sedang mengalami pertumbuhan yang cukup baik, dan mereka berharap kehadiran saya nantinya akan membuat citra perusahaan semakin berkibar dan melejit di mata dunia”, jawab mahasiswa ketiga dengan penuh percaya diri.

“Saya akan melepas semua atribut kependidikan saya agar menjadi orang bodoh”, ujar mahasiswa keempat yang cukup mengagetkan guru besar dan teman-temannya.

“Maksud Anda?”, sergah guru besarnya tanda tak mengerti dengan apa yang disampaikan mahasiswa keempatnya itu.

“Banyak orang di dunia ini yang berhasil menyelesaikan studinya hingga ke jenjang tertinggi seperti yang kita semua capai saat ini, tapi tak banyak yang menjadi pintar karena kesombongan yang selalu menyelimuti mereka. Sedangkan saya akan melepaskan semua atribut kependidikan saya agar menjadi orang bodoh yang senantiasa mau untuk belajar. Ya, mau untuk belajar dan terus belajar.

Belajar untuk bisa menghargai orang lain. Belajar untuk bisa berempati pada orang lain. Belajar untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Belajar untuk tidak merendahkan orang lain. Belajar untuk bisa memaafkan setiap jengkal kesalahan orang lain.Belajar untuk bisa menerima orang lain dengan segala kekurangannya. Belajar untuk bisa tersenyum dalam kondisi sepahit apapun. Belajar untuk selalu ikhlas dan bersyukur. Serta belajar untuk bisa menjadi hamba yang taat pada Tuhannya, karena itu yang tidak pernah saya dapatkan dalam semua level pendidikan yang saya tempuh selama ini. Sehingga saya harus terus belajar dan belajar”, lanjut mahasiswa keempat menjelaskan keinginannya.

Sontak terdiamlah guru besar dan teman-temannya mendengar jawaban di luar dugaan tersebut, seraya merenungi bahwa pendidikan sebenarnya bukanlah di jenjang formal seperti yang telah mereka capai saat ini, tetapi di universitas kehidupan yang menuntut kemampuan untuk memahami orang lain dan lingkungannya, dan guru pendidikan terbaiknya adalah pengalaman masa lalu yang berharga.


Posted by:
Novi Ye Yenz

Member of TBLCK @Palembang (tHe BeSt LitTle Chi Kung)

Tidak ada komentar: