Rabu, 07 Maret 2012

ATANATIYA PARITTA





Di kutip dari : (1) RIWAYAT AGUNG PARA BUDDHA,
(The Great Chronicle of Buddhas),
Tipitakadhara Mingun Sayadaw, Ehipassiko Foundation & Giri Mangala Publications ;
(2)The Book of Protection,
Ven. Piyadassi, thera, Buddha Dharma Education Association Inc






Demikian yang saya dengar :


Pada suatu ketika, Sang Bhagava sedang menetap di vihara di atas Bukit Gijjhakuta di dekat Rajagaha. Selama masa itu Dhatarattha, Virulhaka, Virupakkha, dan Kuvera, empat raja dewa dari empat penjuru, mengadakan konferensi di Kota Surga Atanata (Atanatiya), Alam Kuvera, setelah mereka dengan hati-hati mempersiapkan pertahanan Tavatimsa—alamnya Sakka, raja para dewa—(dari serangan para asura dari) empat penjuru, dengan mengerahkan kawanan yakkha, gandhabba, kumbhanda, dan naga. Mereka menggubah syair-syair yang disebut atanatiya paritta dengan topik tujuh Buddha (sebelum Buddha Gotama). “Siapa saja yang tidak menghiraukan dan menentang ajaran para Buddha dan kekuasaan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh para Buddha akan dihukum dengan hukuman yang khusus”, mereka menyatakan. Mereka juga menempatkan sejumlah yakkha, gandhabba, kumbhanda, dan naga di empat penjuru sebagai perlindungan mereka. Sekitar tengah malam mereka mendatangi Bhagava dengan penampilan yang gilang-gemilang, cahaya tubuh mereka membanjiri seluruh Bukit Gijjhakuta. Setelah mendekati Bhagava dan bersujud kepada Beliau, mereka duduk di tempat yang semestinya.


(*Catatan: adalah tidak lazim bagi para dewa, duduk di depan para Buddha, mereka biasanya tetap berdiri. Tetapi di sini mereka duduk, karena penghormatan terhadap atanatiya paritta; Komentar).


Para yakkha yang datang bersama empat raja dewa mengambil sikap yang berbeda-beda di hadapan Bhagava; beberapa dari mereka bersujud kepada Bhagava dan duduk di tempat yang semestinya, beberapa lagi saling menyapa dengan Bhagava dan duduk di tempat yang semestinya; beberapa lagi merangkapkan tangan ke arah Bhagava dan duduk di tempat yang semestinya; beberapa memperkenalkan nama dan silsilahnya dan duduk di tempat yang semestinya; beberapa hanya duduk berdiam diri.


Dalam kerumunan para dewa itu, Vessavanna berkata kepada Bhagava sebagai berikut :


“Yang Mulia, di antara para yakkha yang memiliki kesaktian tinggi, beberapa memiliki keyakinan terhadap Bhagava sedangkan beberapa lainnya tidak. Demikian pula halnya dengan para yakkha dengan kesaktian menengah dan para yakkha dengan kesaktian rendah. Yang Mulia, banyak yakkha yang tidak menghormati Bhagava (mereka tidak menyukai Bhagava) karena Bhagava mengajarkan agar menghindari: pembunuhan, pencurian, hubungan seksual yang tidak benar, berbohong, dan meminum minuman keras, sedangkan para yakkha pada umumnya tidak menghindari diri dari: pembunuhan, pencurian, hubungan seksual yang tidak benar, berbohong, dan meminum minuman keras. Bagi para yakkha yang tidak memiliki moralitas Lima Sila, hal itu adalah tercela”.


“Yang Mulia, banyak para bhikkhu siswa Bhagava yang berdiam di vihara-vihara di tempat-tempat yang terpencil. Tempat-tempat terpencil itu adalah tempat kediaman para yakkha yang sakti yang tidak menghormati Bhagava. Agar mereka lebih percaya diri, sebagai perlindungan bagi para siswa bhikkhu, siswi bhikkhuni, siswa awam Bhagava, agar mereka semua bebas dari gangguan para yakkha, dan untuk hidup penuh ketenangan dan kedamaian dalam empat posisi tubuh bagi semua orang, sudilah Bhagava mengajarkan atanatiya paritta kepada para siswa”. (*Di sini, Vessavanna bertindak sebagai juru bicara bagi empat raja dewa karena ia akrab dengan Sang Bhagava dan juga karena ia memiliki gaya bahasa yang baik.)


Bhagava menerima usul Vessavanna dengan berdiam diri. Mengetahui bahwa Bhagava menyetujui sarannya, Vessavanna membacakan atanatiya paritta sebagai berikut:


Atanatiya Paritta (Pali)


01) Vipassissa ca namatthu; cakkhu mantassa sirimato
Sikhissapi ca namatthu; sabbabhuta nukampino.


02) Vessabhussa ca namatthu; nhatakassa tapassino
Namatthu Kakusandhassa; Marasena pamaddino.


03) Konagamanassa namatthu;brahmanassa vusimato
Kassapassaca namatthu; Vippamuttassa sabbadhi.


04) Angirasassa namatthu; sakyaputtassa sirimato
Yo imam dhammam desesi; sabbadukkhapanudanam.


05) Ye ca pi nibbuta loke; yathabhutam Vipassisum.
Te jana apisunatha; Mahanta vitasarada.


06) Hitam devamanussanam; yam namassanti Gotamam
Vijjacaranasampannam; mahantam vita saradam.


07) Yato uggacchati suriyo; adicco mandali maha
Yassa cuggacchamanassa; samvaripi nirujjhati
Yassa suggate suriye; divasoti pavuccati.


08) Rahadopi tattha gambhiro; samuddo saritodako
Evam tam tattha jananti; samuddo saritodako.


09) Ito sa purima disa; iti nam acikkhati jano
Yam disam abhipaleti; Maharaja yasassi so.


10) Gandhabbanam adhipati; dhataratthoti namasso
Ramati naccagitehi; gandhabbehi purakkhato.


11) Puttapi tassa bahavo; ekanamati me sutam
Asiti dasa eko ca; Indanama mahabbala.


12) Te capi buddham disvana; buddham adiccabadhunam
Duratova namassanti; mahantam vitasaradam.


13) Namo te purisa janna; namote purisuttama
Kusalena samekkhasi; amanussapi tam vandanti
Sutam netam; abhinhaso tasma evam vademase.


14) Jinam vandatha Gotamam; jinam vandama Gotamam
Vijjacaranasampannam; buddham vandama Gotamam.


15) Yena peta pavuccanti; pisuna pitthimamsika
Panatipatino ludda; cora nekatika jana.


16) Ito sa dakkhina disa
Iti nam acikkhati jano
Yam disam abhipaleti
Maharaja yasassi so.


17) Kumbhandanam adhipati; Virulho iti namaso.
Ramati niccagitehi; kumbhandehi purakkhato.


18) Puttapi tassa bahavo; ekanamati me sutam
Asiti dasa eko ca; Indanama mahabbala.


19) Te ca pi Buddham disvana; Buddham adiccabandhunam
Duratova namassanti; mahantam vitasaradam.


20) Namo te purisajanna; namo te purisuttama
Kusalena samekkhasi; amanussapi tam vandanti
Sutam netam abhinhaso; tasama evam vademase.


21) Jinam vandatha Gotamam; jinam vandama Gotamam
Vijjacaranasampannam; Buddham vandama Gotamam.


22) Yattha coggacchati suriyo; adicco mandali Maha
Yassa coggacchamanassa; divasopi nirujjhati.
Yassa coggatesuriye; samvariti pavuccati.


23) Rahadopi tatha gambhiro; samuddo saritodako
Evam tam tattha jananti; samuddo saritodako.


24) Ito sa pacchima disa; iti nam acikkhati jano
Yam disam abhipaleti; Maharaja yasassi so.


25) Nagananca adhipati; Virupakkho ti namaso
Ramati naccagitehi; Nageheva purakkhato.


26) Puttapi tassa bahavo; ekanamati me sutam
Asiti dasa eko ca; indanama mahabbala.


27) Te capi buddham disvana; Buddham adiccabandhunam
Duratova namassanti; mahantam vitasaradam.


28) Namo te purisajanna; namo te purisuttama
Kusalena samekkhasi; amanussapi tam vandanti
Sutam netam abhinhaso; tasma evam vademase.


29) Jinam vandatha Gotamam; jinam vandama Gotamam
Vijjacaranasampannam; Buddham vandama Gotamam.


30) Yena uttarakuruvho; Mahaneru sudassano
Manussa tattha jayanti; amama apariggaha.


31) Nate bijam pavapanti; napi niyanti nangala
Akatthapakimam salim; paribhunjanti manusa


32) Akanam athusam suddham; sugandham tandulapphalam
Tundikire pacitvana; tato bhunjanti bhojanam


33) Gavim ekakhuram katva; anuyanti disodisam
Pasum ekakhuram katva; anuyanti disodisam


34) Itthim va vahanam katva; anuyanti diso disam
Purisam vahanam katva; anuyanti diso disam.


35) Kumarim vahanam katva; anuyanti diso disam
Kumaram vahanam katva; anuyanti diso disam.


36) Te yane abhiruhitva
Sabba disa anupariyayanti
Pacara tassa rajino


37) Hatthiyanam assayanam; dibbam yanam upatthitam
Pasada sivika ceva; Maharajassa yasassino.


38) Tassa ca nagara ahu
Antalikkhe sumapita
Atanata kusinata parakusinata
Natasuriya parakusitanata


39) Uttarena kasivanto
Janoghamaparena ca
Navanavutiyo ambaraambaravatiyo
Alaka manda nama rajadhani.


Kuverassa kho pana Marisa maharajassa visananama rajadhani
Tasma Kuvero Maharaja; Vessavanoti pavuccati.


40) Paccesanto pakasenti
Tatola tattala tatotala
Ojasi tejasi tatojasi
Suro raja arittho nemi.


41) Rahadopi tattha dharani nama
Yato megha pavassanti
Vassa yato patayanti
Sabhapi tattha Salavanti nama.


42) Yattha yakkha payirupasanti; tattha niccaphala rukkha.
Nana dijagana yuta; mayurakoncabhiruda
Kokiladihi vagguhi


43) Jivanjivakasaddettha; atho otthavacittaka
Kukkutaka kuliraka; vane pokkharasataka.


44) Sukasalikasaddettha; dandamanavakani ca
Sobhati sabbakalam sa; kuveranalini sada.


45) Ito sa uttara disa; iti nam acikkhati jano
Yam disam abhipaleti; Maharaja yasassi so.


46) Yakkhananca adhipati; Kuvero iti namaso
Ramati naccagitehi; yakkheheva purakkhato.


47) Puttapi tassa bahavo; ekanamati me sutam
Asiti dasa eko ca; indanama mahabbala.


48) Te capi Buddham disvana; Buddham adiccabandhunam
Duratova namassanti; mahantam vitasaradam.


49) Namo te purisajanna; namo te purisuttama
Kusalena samekkhasi; amanussapi tam vandanti
Sutam netam abhinhaso; tasma evam vademase.


50) Jinam vandatha Gotamam; jinam vandama Gotamam
Vijjacaranasampannam; Buddham vandama Gotamam.


[*Arti dari Atanatiya Paritta :


”Sembah hormat kepada Buddha Vipassi yang telah memiliki mata (dari kebijaksanaan) dan keagungan. Sembah hormat kepada Buddha Sikhi yang berbelas kasih terhadap semua makhluk”.


”Sembah hormat kepada Buddha Vessabhu yang bebas dari semua noda dan telah memiliki daya petapa. Sembah hormat kepada Buddha Kakusanda sang penakluk (5 rangkap) pasukan besar Mara”.


”Sembah hormat kepada Buddha Konagamana yang telah melepaskan semua noda dan telah menjalankan kehidupan suci. Sembah hormat kepada Buddha Kassapa yang telah sepenuhnya terbebas dari semua noda”.


”Sembah hormat kepada Angirasa (Buddha Gotama), putra dari suku Sakya. Yang bercahaya gemilang dan telah membabarkan dhamma guna melenyapkan semua penderitaan”.


”Mereka Yang Mulia ketika hidup di dunia, telah memadamkan (api keinginan) dan menyelami melalui pengetahuan langsung (samadhi), segala sesuatu sebagaimana adanya, Mereka Yang Mulia tidak pernah memfitnah siapa pun ; Mereka Yang Mulia sangat perkasa dan bebas dari rasa takut”.


”Buddha Gotama mengasihi para dewa dan manusia, terberkahi dengan pengetahuan dan kebaikan, perkasa dan tiada rasa takut, semua makhluk memberi sembah hormat kepada-Nya (penghormatan bagi-Nya)”.


”Oh keturunan dari Adicca (suku Matahari), ketika sang Surya (matahari) yang gemilang, yang bulat sempurna, terbit, maka malam hari berakhir, dan itu disebut sebagai siang. Arah dari mana sang Surya (matahari) terbit (adalah arah timur). Disana terdapatlah samudera yang dalam dan luas”.


”Permukaan air yang membentang luas ini mereka mengenalnya sebagai samudera. Dimana disitu adalah timur (ke arah timur dari gunung Mahaneru) mereka menyebutnya (seperempat wilayah) sebagai penjuru timur”.


”Penjaga dari penjuru timur adalah Maharaja dewa bernama Dhatarattha, yang memiliki serombongan besar pengikut. Ialah raja penguasa dari para Gandhabba. Disertai oleh para gandhabba ia menikmati musik dan tarian mereka”.


”(Dhatarattha) Memiliki banyak putra, semuanya satu nama, demikianlah yang kudengar. Delapan puluh dan sepuluh dan satu jumlah mereka, kesemuanya bernama Inda, semuanya perkasa. Mereka juga berlindung kepada Buddha, sanak matahari, perkasa bebas dari rasa takut, dengan memberikan penghormatan kepada-Nya dari jauh : ’Penghormatan kepada-Mu, yang teristimewa di antara manusia; Kemulian bagi-Mu, Yang Terluhur di antara manusia’”.


”Dengan kemahatahuan-Mu, yang bagaikan seribu mata mengamati (umat manusia dengan mata pengetahuan), bahkan para makhluk halus memberikan penghormatan kepada-Mu. Demikianlah yang telah kami dengar. Karena itu, kami meminta para Yakkha untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Gotama, Sang Penakluk. Mereka pun juga berkata : ’Kami menghormati Buddha Gotama, Sang Penakluk; Kami menghormati Buddha Gotama yang terberkahi dengan pengetahuan dan kebaikan’”.


”Arah dari tempat para Peta (mayat), para pemfitnah, para pembunuh, para perampok ganas, dan para penipu dibuang, adalah arah selatan (ke kanan dari gunung Mahaneru) mereka menyebutnya (seperempat wilayah) sebagai penjuru selatan”.


”Penjaga dari penjuru selatan adalah Maharaja dewa bernama Virulha, yang memiliki serombongan besar pengikut. Ialah raja penguasa dari para Kumbhanda. Disertai oleh para Kumbhanda ia menikmati musik dan tarian mereka”.


”(Virulha) ) Memiliki banyak putra, semuanya satu nama, demikianlah yang kudengar. Delapan puluh dan sepuluh dan satu jumlah mereka, kesemuanya bernama Inda, semuanya perkasa. Mereka juga berlindung kepada Buddha, sanak matahari, perkasa bebas dari rasa takut, dengan memberikan penghormatan kepada-Nya dari jauh : ’Penghormatan kepada-Mu, yang teristimewa di antara manusia; Kemulian bagi-Mu, Yang Terluhur di antara manusia’”.


”Dengan kemahatahuan-Mu, yang bagaikan seribu mata mengamati (umat manusia dengan mata pengetahuan), bahkan para makhluk halus memberikan penghormatan kepada-Mu. Demikianlah yang telah kami dengar. Karena itu, kami meminta para Yakkha untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Gotama, Sang Penakluk. Mereka pun juga berkata : ’Kami menghormati Buddha Gotama, Sang Penakluk; Kami menghormati Buddha Gotama yang terberkahi dengan pengetahuan dan kebaikan’”.


”Oh keturunan dari Adicca (suku Matahari), ketika sang Surya (matahari) yang gemilang, yang bulat sempurna, terbenam, maka siang hari berakhir, dan itu disebut sebagai malam. Arah ke mana sang Surya (matahari) terbenam (adalah arah barat). Disana terdapatlah samudera yang dalam dan luas”.


”Permukaan air yang membentang luas ini mereka mengenalnya sebagai samudera. Dimana disitu adalah barat (ke arah barat dari gunung Mahaneru) mereka menyebutnya (seperempat wilayah) sebagai penjuru barat”.


”Penjaga dari penjuru barat adalah Maharaja dewa bernama Virupakkha, yang memiliki serombongan besar pengikut. Ialah raja penguasa dari para Naga. Disertai oleh para naga ia menikmati musik dan tarian mereka”.


”(Virupakkha) Memiliki banyak putra, semuanya satu nama, demikianlah yang kudengar. Delapan puluh dan sepuluh dan satu jumlah mereka, kesemuanya bernama Inda, semuanya perkasa. Mereka juga berlindung kepada Buddha, sanak matahari, perkasa bebas dari rasa takut, dengan memberikan penghormatan kepada-Nya dari jauh : ’Penghormatan kepada-Mu, yang teristimewa di antara manusia; Kemulian bagi-Mu, Yang Terluhur di antara manusia’”.


”Dengan kemahatahuan-Mu, yang bagaikan seribu mata mengamati (umat manusia dengan mata pengetahuan), bahkan para makhluk halus memberikan penghormatan kepada-Mu. Demikianlah yang telah kami dengar. Karena itu, kami meminta para Yakkha untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Gotama, Sang Penakluk. Mereka pun juga berkata : ’Kami menghormati Buddha Gotama, Sang Penakluk; Kami menghormati Buddha Gotama yang terberkahi dengan pengetahuan dan kebaikan’”.


”Di mana terletak Uttarakuru (benua utara) yang menyenangkan, tempat menjulang gunung Mahaneru yang indah, disana lahirlah banyak manusia yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak melekat”.


”Tidak perlu menabur benih maupun membajak. Jagung tumbuh dengan sendirinya bagi manusia untuk dinikmati”.


”Padinya, bebas dari serbuk merah dan sekam, bersih, manis harum, matang dalam buluh-buluh keemasan; demikian hal ini merekalah yang turut berperan”.


”Mereka memasang pelana pada sapi-sapi (seperti pelana pada punggung kuda) dan menungganginya dari satu tempat ke tempat lainnya”.


”Mereka dapat menguasai tubuh para pria, wanita, pemuda dan gadis sebagai kendaraan mereka dan menjelajah dari satu tempat ke tempat lainnya”.


”Duduk di atas kendaraannya (gajah dan kuda) mereka (para Yakkha dari Raja Vessavana) berpergian menjelajah ke berbagai arah”.


”Raja yang memiliki serombongan besar pengikut, memiliki gajah-gajah dan kuda-kuda di atasnya ia mengendarai. Ia juga memiliki kereta-kereta tempur, istana-istana dan tandu-tandu kerajaan surgawi. Ia memiliki kota-kota yang dibangun kokoh di dalam wilayah-wilayah surga”.


”Kota-kota yang bernama Atanata (Atanatiya), Kusinata, Parakusinata, Natapuriya, Parakusitanata. Ke arah utara terdapat kota Kapilavata, ke arah selatan ada Janogha, dan kota-kota yang bernama Navanavati, Ambara-ambaravati dan kerajaan Alaka manda”.


”Maharaja Kuvera (nama lain dari Vessavana) memiliki kerajaan yang bernama Visna, karenanya, Maharaja Kuvera juga disebut Vessavana. Terdapat para Yakkha (pengikut raja) yang senantiasa melakukan penyelidikan-penyelidikan sehingga membuat mereka dikenal. Mereka adalah Tatola, Tattala, Tatotala, Ojasi, Tejasi, Tatojasi, Suro, Raja (Sura-Raja) Arittho, Nemi (Arittha-Nemi)”.


”Disana (dalam kerajaan Visana) terletak danau Dharani yang darinya awan-awan hujan (menarik air) untuk seterusnya dicurahkan. Dan terdapat pula aula agung yang bernama Bhagalavati dimana para yakkha berkumpul. Terdapat pepohonan (yang mengitari aula) yang menghasilkan buah terus menerus, (di atas pepohonan ini) terdapat banyak beragam jenis burung. Terdengar di sana kicauan merak dan bangau serta lantunan merdu tekukur”.


”Disana (di dekat danau) kicauan burung yang mendendangkan ’hiduplah engkau! hiduplah engkau!’ terdengar. Burung Otthavacittaka (O’ menggembirakan hatimu!), unggas-unggas hutan, kepiting, dan burung-burung Pokkharasataka yang berkelana di hutan-hutan”.


”Disana kicauan burung Nuri dan Myna serta Dandamanavaka terdengar, dan danau teratai milik Kuvera senantiasa berada di puncak keindahannya pada setiap musim”.


”Arah itu utara (kearah utara dari gunung Mahaneru) mereka menyebutnya (seperempat wilayah) sebagai penjuru utara”.


”Penjaga dari penjuru utara adalah Maharaja dewa bernama Kuvera, yang memiliki serombongan besar pengikut. Ialah raja penguasa dari para Yakkha. Disertai oleh para yakkha ia menikmati musik dan tarian mereka”.


”(Kuvera) Memiliki banyak putra, semuanya satu nama, demikianlah yang kudengar. Delapan puluh dan sepuluh dan satu jumlah mereka, kesemuanya bernama Inda, semuanya perkasa. Mereka juga berlindung kepada Buddha, sanak matahari, perkasa bebas dari rasa takut, dengan memberikan penghormatan kepada-Nya dari jauh : ’Penghormatan kepada-Mu, yang teristimewa di antara manusia; Kemulian bagi-Mu, Yang Terluhur di antara manusia’”.


”Dengan kemahatahuan-Mu, yang bagaikan seribu mata mengamati (umat manusia dengan mata pengetahuan), bahkan para makhluk halus memberikan penghormatan kepada-Mu. Demikianlah yang telah kami dengar. Karena itu, kami meminta para Yakkha untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Gotama, Sang Penakluk. Mereka pun juga berkata : ’Kami menghormati Buddha Gotama, Sang Penakluk; Kami menghormati Buddha Gotama yang terberkahi dengan pengetahuan dan kebaikan’”.]


Kemudian Vessavanna berkata, “Yang Mulia, itulah atanatiya paritta yang dapat digunakan sebagai perlindungan bagi para siswa bhikkhu, siswi bhikkhuni, siswa awam Bhagava, agar mereka semua bebas dari gangguan para yakkha, dan untuk hidup penuh ketenangan dan kedamaian dalam empat posisi tubuh bagi semua orang. Yang Mulia, jika ada yakkha, atau gandhabba, atau kumbhanda, atau naga yang berniat mengganggu para siswa bhikkhu atau bhikkhuni atau umat awam yang telah memelajari paritta ini dengan baik, yakkha itu tidak akan mendapat penghormatan di dalam wilayah kekuasaanku”. (*kekuasaan 4 maharaja dewa dalam mengizinkan dan tidak mengizinkan adanya penghormatan itu). “Yang Mulia, yakkha itu juga tidak diperbolehkan memiliki istana sendiri juga tidak diperbolehkan untuk menjadi penghuni tetap di Kota Alakamanda”. ”Yang Mulia, yakkha itu tidak akan dapat menghadiri pertemuan-pertemuan para yakkha, lebih lanjut yakkha itu tidak akan diterima atau diberikan dalam pernikahan yakkha, yakkha itu akan dicela, dan para makhluk halus lainnya akan menaruh mangkuk kosong di atas kepalanya dan membelahnya (kepala) menjadi 7 bagian”. Setelah mengatakan kepada Bhagava, sanksi-sanksi yang akan diterima oleh para yakkha yang tidak patuh, dan seterusnya, Vessavanna melanjutkan kata-katanya dengan mengatakan bahwa terdapat orang-orang (pencuri) yang tidak mematuhi kekuasaan raja (raja magadha) yang di sebut memberontak terhadap kekuasaan raja, demikian pula terdapat yakkha-yakkha yang tidak mematuhi kekuasaan empat raja dewa yang memberontak terhadap kekuasaan empat raja dewa;


”O Bhagava, jika ada makhuk halus, Yakkha..; Gandhabba..; Kumbhanda..; Naga pria atau wanita, pemuda atau gadis, menteri, dan naga siapa pun, atau pengikut, yang dengan niat jahat berjalan, berdiri, duduk, berbaring dengan seorang bhikkhu, bhikkhuni, umat awam, yang telah mempelajari paritta ini dengan baik, maka (korban) yang diganggu tersebut harus berseru lantang melaporkan kepada para Yakkha, para Yakkha Perkasa, para Panglima Yakkha, para Panglima Besar Yakkha, dengan mengatakan : ’Oh Yakkha ini menangkapku, merasukiku, menyerangku, melukaiku, sangat mencelakaiku, dan tidak akan membiarkan (melepaskan) aku pergi!’. Siapakah para Yakkha itu, para Yakkha Perkasa, para Panglima Yakkha, para Panglima Besar Yakkha (yang kepada mereka seruan permohonan itu seharusnya ditujukan) : Inda, Soma, Varuna, Bharadvaja, Pajapati, Candana, Kamasettha, Kinnughandu, Nigahandu, Panada, Opamanna, Devasuta, Matali, Cittasena, Gandhabba, Nala, Raja, Janesabha, Satagira, Hemavata, Punnaka, Karatiya, Gula, Sivaka, Mucalinda, Vessamitta, Yugandhara, Gopala, Suppagedha, Hiri, Netti, Mandiya, Pancalacanda, Alavaka, Pajjunna, Sumana, Sumukha, Dadimukkha, Serisakka. Kepada para yakkha yang mengganggu empat kelompok siswa Buddha (bhikkhu, bhikkhuni, siswa awam laki-laki dan siswa awam perempuan), para jenderal dewa akan dipanggil untuk melaporkan dan menjelaskan secara terperinci”.


“Yang Mulia, itulah atanatiya paritta yang dapat digunakan sebagai perlindungan bagi para siswa bhikkhu, siswi bhikkhuni, siswa awam Bhagava, agar mereka semua bebas dari gangguan para yakkha, dan untuk hidup penuh ketenangan dan kedamaian dalam empat posisi tubuh bagi semua orang.


Setelah itu Vessavanna mengucapkan selamat berpisah kepada Bhagava dengan berkata, “Yang Mulia, kami masih memiliki banyak urusan; kami harus pergi sekarang.” Bhagava berkata, “Empat Raja Dewa, kalian mengetahui waktunya untuk pergi. (Kalian boleh pergi jika kalian suka.)”


Kemudian empat raja dewa itu bangkit dari duduknya, bersujud kepada Bhagava dan menghilang. Para yakkha yang datang bersama empat raja dewa itu berpisah dengan Bhagava dalam berbagai cara seperti saat kedatangan mereka. Beberapa yakkha bersujud kepada Bhagava dan menghilang; beberapa lainnya saling mengucapkan kata-kata perpisahan dengan Bhagava dan menghilang; beberapa lainnya lagi merangkapkan tangan ke arah Bhagava dan menghilang; beberapa lainnya lagi langsung menghilang tanpa mengatakan apa-apa.


Bhagava Menceritakan Kunjungan Empat Raja Dewa Keesokan paginya, Bhagava menceritakan kepada para bhikkhu tentang kunjungan empat raja dewa dan membacakan atanatiya Paritta, kemudian Beliau berkata : “Para bhikkhu, pelajarilah atanatiya paritta; pelajarilah berulang-ulang, hafalkanlah. Para bhikkhu, atanatiya paritta ini sangat bermanfaat bagi semua. Sebagai perlindungan bagi para siswa bhikkhu, siswi bhikkhuni, siswa awam laki-laki dan siswa awam perempuan; juga agar mereka terbebas dari gangguan para yakkha, serta untuk hidup penuh ketenangan dan kedamaian dalam empat posisi tubuh.”


Demikianlah yang dikatakan Bhagava kepada para bhikkhu. Para bhikkhu merasa senang dan gembira dengan apa yang telah dikatakan Bhagava.






www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar: