Kamis, 01 Maret 2012

DN 17 Mahāsudassana Sutta



Kemegahan Agung
Pelepasan Keduniawian Seorang Raja
Diterjemahkan dari bahasa Pāi ke bahasa Inggris oleh
Maurice O’Connell Walshe




[169] 1.1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.1 Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Kusinārā di hutan-sāl milik para Malla, menjelang Nibbāna akhirnya di bawah pohon-sāl kembar.


1.2. Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Bhagavā, sudilah Bhagavā tidak wafat di kota kecil yang menyedihkan dan dengan ranting pohon berserakan ini, di tengah hutan, di tempat yang jauh dari mana-mana! Bhagavā, ada kota-kota besar lainnya seperti Campā, Rājagaha, Savatthi, Sāketa, Kosambi, atau Vārāṇasī. Di tempat-tempat itu, ada para Khattiya, Brahmana, dan perumah tangga kaya yang penuh pengabdian kepada Sang Tathāgata, dan mereka akan melakukan pemakaman yang layak untuk Sang Tathāgata.’


1.3. ‘Ānanda, jangan menyebut tempat ini kota kecil yang menyedihkan dan dengan ranting pohon berserakan ini, di tengah hutan, di tempat yang jauh dari mana-mana! Suatu ketika, Ānanda, Raja Mahāsudassana2 adalah seorang raja pemutar-roda, raja yang adil dan jujur, yang telah menaklukkan wilayah di empat penjuru dan memastikan keamanan wilayahnya. [170] Dan Raja Mahāsudassana ini membangun Kusinārā ini, dengan nama Kusāvatī, sebagai ibu kota kerajaannya. Dan luasnya dua belas yojana dari timur ke barat, dan tujuh yojana dari utara ke selatan. Kusāvatī adalah negeri yang kaya, makmur, dan berpenduduk banyak, ramai oleh penduduk dan memiliki banyak persediaan makanan. Bagaikan kota dewa Āḷakamandā yang kaya … (seperti Sutta 16, paragraf 5.18), demikian pula kota kerajaan Kusāvatī. Dan kota Kusāvatī tidak pernah sepi dari sepuluh suara siang dan malam: suara gajah, kuda, kereta, genderang-bernada, genderang-samping, kecapi, nyanyian, simbal dan gong, dan teriakan, “Makan, minum dan bergembiralah” sebagai yang ke sepuluh.’


1.4. ‘Ibu kota Kusāvatī dikelilingi oleh tujuh tembok. Satu dari emas, satu perak, satu beryl, satu kristal, satu dari batu delima, satu dari jamrud, dan satu dari berbagai jenis permata.’


1.5. ‘Dan gerbang-gerbang Kusāvatī berwarna empat: satu emas, satu perak, satu beryl, satu kristal. [171] Dan di depan tiap-tiap gerbang terdapat tujuh pilar, setinggi tiga atau empat manusia. Satu dari emas, satu perak, satu beryl, satu kristal, satu dari ruby, satu dari jamrud, dan satu dari berbagai jenis permata.’


1.6. ‘Kusāvatī dikelilingi oleh tujuh baris pohon palem, dari bahan yang sama. Pohon emas, berbatang emas dengan daun dan buah perak, pohon perak berbatang perak, dengan daun dan buah emas, pohon beryl berbatang beryl, dengan daun dan buah kristal, pohon kristal berbatang kristal, dengan daun dan buah beryl, pohon ruby berbatang ruby,dengan daun dan buah ruby, dengan daun dan buah jamrud, pohon jamrud berbatang jamrud, sedangkan pohon dari berbagai jenis permata adalah sama sehubungan dengan batang, daun dan buah. Suara dedaunan yang ditiup angin menimbulkan bunyi yang merdu, menyenangkan, indah, dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik3 yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. [172] Dan Ānanda, mereka yang terbebas dari perbudakan dan para pemabuk di Kusāvatī, terpuaskan keinginannya oleh suara dari dedaunan yang tertiup angin.4


1.7. ‘Raja Mahāsudassana memiliki tujuh pusaka dan empat ciri. Apakah tujuh itu? Suatu ketika, pada hari Uposatha tanggal lima belas,5 ketika Raja telah membasuh kepalanya dan naik ke teras atas istananya untuk menjalankan hari Uposatha, Pusaka-Roda surgawi6 muncul di hadapannya, berjari-jari seribu, lengkap dengan lingkaran, sumbu, dan segala hiasannya. Melihatnya, Raja Mahāsudassana berpikir: “Aku telah mendengar bahwa seorang Raja Khattiya yang sah ketika melihat roda seperti ini pada hari Uposatha tanggal lima belas, maka ia akan menjadi seorang Raja Pemutar-Roda. Semoga aku menjadi raja demikian!”’


1.8. ‘Kemudian, bangkit dari duduknya, menutupi satu bahunya dengan jubahnya, Raja mengambil kendi emas dengan tangan kirinya, memercikkan air ke roda itu dengan tangan kanannya, dan berkata: “Semoga Pusaka-Roda mulia berputar, semoga Pusaka-Roda mulia menaklukkan!” Roda itu bergerak ke timur, dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya.7Dan di negeri mana pun [173] Roda itu berhenti, Raja menetap di sana bersama empat barisan bala tentaranya.’


1.9. ‘Dan raja-raja di wilayah timur datang menghadapnya dan berkata: “Selamat datang, Baginda, Selamat datang! Kami adalah milikmu, Baginda, perintahlah kami, Baginda!” Dan Sang Raja berkata: “Jangan membunuh. Jangan mengambil apa yang tidak diberikan. Jangan melakukan hubungan seksual yang salah. Jangan berbohong. Jangan meminum minuman keras. Makanlah secukupnya.”8Dan mereka yang melawannya di wilayah timur menjadi taklukannya.’


1.10. ‘Dan ketika Roda itu menyelam ke laut timur, keluar dari air dan berbelok ke selatan, dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya … menjadi taklukannya. Setelah menyelam ke dalam laut selatan, Roda itu berbelok ke barat …, setelah menyelam ke dalam laut barat, Roda itu berbelok ke utara dan Raja Mahāsudassana mengikuti bersama empat barisan bala tentaranya … [174] dan raja-raja yang melawannya di wilayah utara menjadi taklukannya.’


1.11. ‘Kemudian Pusaka-Roda, setelah menaklukkan wilayah-wilayah dari laut ke laut, kembali ke ibu kota Kusāvatī dan berhenti di depan istana raja ketika Raja sedang memimpin persidangan,9 seolah-olah menghias istana kerajaan. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Roda muncul di depan Raja Mahāsudassana.’


1.12. ‘Kemudian Pusaka-Gajah muncul di depan Raja, Mahāsudassana putih bersih,10 memiliki tujuh kekuatan, dengan kekuatan menakjubkan dalam hal melakukan perjalanan melalui angkasa, seekor gajah kerajaan yang diberi nama Uposatha.11 Melihatnya, Raja berpikir: “Seekor gajah tunggangan yang indah, seandainya aku dapat menjinakkannya!” Dan Pusaka-Gajah ini menyerah untuk dikendalikan bagaikan seekor kuda berdarah murni yang telah lama dilatih. Dan suatu ketika, Sang Raja, mencobanya, menunggang gajah itu pada dini hari dan mengendarainya dari laut ke laut, kembali ke Kusāvatī tepat pada waktu makan pagi. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Gajah muncul di depan Raja Mahāsudassana.’


1.13. ‘Kemudian Pusaka-Kuda muncul di depan Raja Mahāsudassana, berkepala gagak,12 bersurai hitam, dengan kekuatan menakjubkan dalam hal melakukan perjalanan melalui angkasa, seekor kuda kerajaan yang diberi nama Valāhaka.13 Dan Raja berpikir: “Seekor tunggangan yang menakjubkan, seandainya aku dapat menjinakkannya!” Dan [175] Pusaka-Kuda ini menyerah untuk dikendalikan bagaikan seekor kuda berdarah murni yang telah lama dilatih …. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Kuda muncul di depan Raja Mahāsudassana.’


1.14. ‘Kemudian Pusaka-Permata muncul di depan Raja Mahāsudassana. Permata itu adalah beryl, murni, indah, dipotong dengan sempurna dalam delapan sisi, jernih, cemerlang, sempurna dalam segala aspek, kilauan dari permata ini bersinar hingga radius satu yojana. Dan ketika Raja mencobanya, melakukan manuver-malam pada malam yang gelap bersama empat barisan bala-tentaranya, dengan Pusaka-Permata terpasang di puncak panjinya. Dan semua orang yang tinggal di desa di sekitar sana mulai bekerja karena berpikir hari sudah siang. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Permata muncul di depan Raja Mahāsudassana.’


1.15. ‘Kemudian Pusaka-Perempuan muncul di depan Raja Mahāsudassana, elok, rupawan, menarik, dengan kulit seperti bunga teratai, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, tidak terlalu gelap dan tidak terlalu cerah, kecantikannya melampaui kecantikan manusia, menyerupai kecantikan dewa. Dan sentuhan kulit Permata-Perempuan itu bagaikan sentuhan kapas atau sutra, dan anggota badannya sejuk di saat panas dan hangat di saat dingin. Aroma tubuhnya berbau cendana dan mulutnya berbau bunga teratai. Permata-Perempuan ini bangun sebelum Raja [176] dan tidur setelah Raja, dan selalu bersedia melakukan apa pun demi kesenangan Raja, dan gaya bahasanya memikat. Dan Permata-Perempuan ini selalu setia kepada Raja, bahkan dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Perempuan muncul di depan Raja Mahāsudassana.’14


1.16. ‘Kemudian Pusaka-Perumah tangga muncul di depan Raja Mahāsudassana. Dengan mata-batinnya yang, sebagai akibat dari kamma, ia miliki,15 ia melihat harta tersembunyi, yang ada pemiliknya atau pun yang tidak ada pemiliknya. Ia mendatangi Raja dan berkata: “Jangan khawatir, Baginda, aku akan menjaga harta kekayaanmu.” Dan suatu ketika, Sang Raja, mengujinya, menaikkannya ke perahu dan membawanya ke tengah arus sungai Gangga. Kemudian ia berkata kepada si Permata-Perumah tangga: “Perumah tangga, aku menginginkan kepingan uang emas!” “Baiklah, Baginda, menepilah.” “Aku menginginkan keping uang emas di sini!” Kemudian si perumah tangga menyentuh air dengan kedua tangannya dan menarik keluar sebuah kendi yang penuh dengan keping-kepingan uang emas, dan berkata: “Apakah ini cukup, Baginda?” dan Raja berkata: “Itu cukup, perumah tangga, engkau telah melayaniku dengan baik.” [177] Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Perumah tangga muncul di depan Raja Mahāsudassana.’


1.17. ‘Kemudian Pusaka-Penasihat muncul di depan Raja Mahāsudassana. Ia bijaksana, berpengalaman, cerdas, dan kompeten dalam menasihati Raja mengenai bagaimana melakukan apa yang harus dilakukan, dan untuk membatalkan apa yang harus dibatalkan, dan untuk mengabaikan apa yang harus diabaikan.16 Ia mendatangi Raja dan berkata: “Jangan khawatir, Baginda, aku akan menasihati engkau.” Dan demikianlah bagaimana Pusaka-Penasihat muncul di depan Raja Mahāsudassana, dan bagaimana ia dilengkapi dengan tujuh pusaka ini.’


1.18. ‘Dan lagi, Ānanda, Raja Mahāsudassana memiliki empat ciri.17 Apakah itu? Pertama, Raja tampan, indah dipandang, menyenangkan, dengan kulit menyerupai teratai terbaik, melampaui semua orang lain.’


1.19. ‘Ke dua, ia berumur panjang, melampaui semua orang lain.’


1.20. ‘Ke tiga, ia bebas dari penyakit, memiliki pencernaan yang sehat, lebih jarang mengalami kedinginan dan kepanasan dibandingkan orang-orang lain.’18 [178]


1.21. ‘Ke empat, ia disayang oleh para Brahmana dan perumah tangga. Bagaikan seorang ayah yang disayangi oleh anak-anaknya, demikian pula ia dengan para Brahmana dan perumah tangga. Dan mereka disayangi oleh Raja bagaikan anak-anak disayang oleh ayah mereka. Suatu ketika, Raja pergi ke taman-rekreasi bersama empat barisan bala-tentaranya, dan para Brahmana dan perumah tangga mendatanginya dan berkata: “Berjalanlah pelan-pelan, Baginda, agar kami dapat melihatmu selama mungkin!” dan Raja berkata kepada kusirnya: “Berkendaralah pelan-pelan agar aku dapat melihat para Brahmana dan perumah tangga ini selama mungkin.” Demikianlah Raja Mahāsudassana memiliki empat ciri ini.’


1.22. ‘Kemudian Raja Mahāsudassana berpikir: “Bagaimana jika aku membuat kolam-kolam teratai di antara pohon-pohon palem, satu sama lain berjarak seratus busur.19” Dan ia melakukan hal itu. Kolam-kolam teratai itu berlantai ubin empat warna, emas, perak, beryl, dan kristal. Masing-masing kolam dapat dicapai menggunakan empat tangga, satu emas, satu perak, satu beryl, dan satu kristal. Dan tangga emas memiliki tiang dari emas [179] dengan pegangan dan sandaran dari perak. Dan tangga perak memiliki tiang dari perak dengan pegangan dan sandaran dari emas, dan seterusnya. Dan kolam-kolam teratai itu dilengkapi dengan dua jenis pagar, emas dan perak – pagar emas memiliki tiang emas, pegangan dan sandaran dari perak, dan pagar perak memiliki pegangan dan sandaran dari emas.’


1.23. ‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku menanam di masing-masing kolam berbagai jenis [bunga] yang cocok untuk membuat karangan bunga20 – bunga teratai biru, kuning, merah, dan putih yang dapat tetap mekar di segala musim tanpa layu?” Dan ia melakukannya. Kemudian ia berpikir: “Bagaimana jika aku menempatkan para petugas mandi di tepi kolam ini untuk memandikan mereka yang datang ke sini?” Dan ia melakukannya. Kemudian ia berpikir “Bagaimana jika aku membuat meja persembahan di tepi kolam ini agar mereka yang ingin makan dapat memperolehnya, mereka yang ingin minum dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan pakaian dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan transportasi dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan tempat tidur dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan seorang istri dapat memperolehnya, mereka yang menginginkan kepingan uang emas dapat memperolehnya?” [180] Dan ia melakukan hal-hal itu.’


1.24. ‘Kemudian para Brahmana dan perumah tangga membawa banyak harta dan mendatangi Raja, berkata: “Baginda, ini adalah harta yang telah kami kumpulkan bersama khusus untuk Baginda, terimalah!” “Terima kasih, Teman-teman, tetapi aku telah memiliki cukup kekayaan dari penghasilan yang sah. Biarlah ini menjadi milik kalian, dan selain itu, ambillah lebih banyak lagi!” Karena ditolak oleh Raja, mereka menarik diri ke satu sisi dan berdiskusi: “Tidaklah benar jika kita membawa pulang harta ini. Bagaimana jika kita membangun tempat tinggal untuk Raja Mahāsudassana.” Maka mereka mendatangi Raja dan berkata: “Baginda, kami akan membangunkan tempat tinggal untukmu,” dan Raja menerimanya dengan berdiam diri.’


1.25. ‘Kemudian, Sakka, Raja para dewa, mengetahui pikiran Raja Mahāsudassana dalam batinnya, berkata kepada pelayannya, Dewa Vissakamma:21 “Mari, teman Vissakamma, dan bangunlah sebuah tempat tinggal untuk Raja Mahāsudassana.” “Baik, Baginda,” jawab [181] Vissakamma dan, secepat seorang kuat merentangkan tangannya atau melipatnya lagi, ia seketika lenyap dari alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa dan muncul kembali di hadapan Raja Mahāsudassana, dan berkata kepadanya: “Baginda, aku akan membangunkan sebuah tempat tinggal untukmu, sebuah istana yang bernama Dhamma.” Raja menerimanya dengan berdiam diri, dan Vissakamma membangunkan untuknya Istana Dhamma.’


1.26. ‘Istana Dhamma, Ānanda, panjangnya satu yojana dari timur ke barat, dan setengah yojana lebarnya dari utara ke selatan. Keseluruhan istana itu tingginya tiga kali tinggi manusia dengan lantai empat warna, emas, perak, beryl, dan kristal, dan terdiri dari delapan puluh empat ribu tiang dengan empat warna yang sama. Memiliki dua puluh empat tangga dengan empat warna yang sama. Dan tangga emas memiliki tiang dari emas dengan pegangan dan sandaran dari perak …. (seperti paragraf 23). [182] Istana ini juga memiliki delapan puluh empat ribu kamar dengan warna-warni yang sama. Dalam kamar emas terdapat ranjang perak, dalam kamar perak terdapat ranjang emas, dalam kamar beryl terdapat ranjang gading, dan di dalam kamar kristal terdapat ranjang cendana. Di pintu kamar emas terukir gambar pohon palem perak, dengan tangkai perak, daun dan buah emas …. Di pintu kamar perak terukir gambar pohon palem emas, dengan batang, daun dan buah dari emas, di pintu kamar beryl terukir gambar pohon palem kristal, dengan batang kristal, dan daun dan buah beryl, di pintu kamar kristal terukir gambar pohon palem beryl, dengan daun dan buah kristal.’


1.27. ‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku membuat hutan pohon palem yang seluruhnya terbuat dari emas di depan pintu kamar besar beratap segitiga di mana aku duduk di siang hari?” dan ia melakukannya.’


1.28. ‘Di sekeliling istana Dhamma terdapat dua pagar, [183] satu terbuat dari emas, satu dari perak. Pagar emas memiliki tiang-tiang dari emas, pegangan dan sandaran dari perak, dan pagar perak memiliki tiang-tiang dari perak, pegangan dan sandaran dari emas.’


1.29. ‘Istana Dhamma dikelilingi oleh dua jaring lonceng. Satu jaring terbuat dari emas dengan lonceng perak, dan yang lainnya terbuat dari perak dengan lonceng emas. Dan ketika jaring-jaring lonceng ini tertiup angin, suaranya merdu, menyenangkan, indah, dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. Dan mereka yang terbebas dari perbudakan dan para pemabuk di Kusāvatī terpuaskan keinginannya oleh suara dari jaring-jaring lonceng yang tertiup angin itu.’


1.30. ‘Dan ketika Istana Dhamma telah selesai, istana itu sulit dilihat, menyilaukan mata, bagaikan di akhir musim hujan, di musim gugur, ketika langit bersih dan tanpa awan, matahari yang menembus kabut adalah sulit dilihat, [184] demikian pula Istana Dhamma setelah selesai dibangun.’


1.31. ‘Kemudian Raja berpikir: “Bagaimana jika aku membuat danau-teratai yang diberi nama Dhamma di depan Istana Dhamma?” dan ia melakukannya. Danau ini satu yojana panjangnya dari timur ke barat, dan setengah yojana lebarnya dari utara ke selatan, dan berlantai empat jenis ubin, emas, perak, beryl, dan kristal. Terdapat dua puluh empat tangga menuju danau ini terbuat dari bahan yang berbeda-beda: emas, perak, beryl, dan kristal. Tangga emas memiliki tiang emas dengan pegangan dan sandaran perak, tangga perak dengan pegangan dan sandaran emas … (dan seterusnya seperti paragraf 22).’


1.32. ‘Danau Dhamma dikelilingi oleh tujuh jenis pohon palem. Suara dedaunan yang ditiup angin menimbulkan bunyi yang merdu, menyenangkan, indah, dan memabukkan, bagaikan suara dari lima jenis alat musik yang dimainkan dalam sebuah konser oleh para pemain ahli dan terlatih. Dan, Ānanda, mereka yang terbebas dari perbudakan dan para pemabuk di Kusāvatī terpuaskan keinginannya oleh suara dari dedaunan yang tertiup angin.’ [185]


1.33. ‘Ketika Istana Dhamma dan Danau Dhamma selesai, Raja Mahāsudassana, setelah memuaskan semua keinginan dari mereka yang pada saat itu adalah para petapa dan Brahmana, atau memberikan penghormatan, ia naik ke Istana Dhamma.’


[Akhir dari bagian pembacaan pertama]


2.1. ‘Kemudian Raja Mahāsudassana berpikir: “Dari kamma apakah ini berbuah, dari kamma apakah ini berakibat, sehingga aku sekarang begitu kuat dan berkuasa?” [186] Kemudian ia berpikir: “Ini adalah buah, akibat dari tiga jenis kamma: memberi, pengendalian-diri, dan penghindaran.”’’22


2.2. ‘Kemudian Raja pergi ke kamar besar beratap segitiga dan, berdiri di pintu, berseru: “Semoga pikiran nafsu lenyap! semoga pikiran kebencian lenyap! Semoga pikiran kekejaman lenyap! Sedemikian jauh dan tidak ada lagi pikiran nafsu, kebencian, kekejaman!”’


2.3. ‘Kemudian Raja masuk ke kamar besar beratap segitiga, duduk bersila di atas bantal emas dan, terlepas dari segala kenikmatan-indria, terlepas dari kondisi batin yang jahat, masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, yang muncul dari ketidakterikatan, dipenuhi oleh kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan menyingkirkan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, dengan mencapai ketenangan di dalam dan keterpusatan-pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang tanpa awal-pikiran dan tanpa kelangsungan-pikiran, yang muncul dari konsentrasi, dipenuhi dengan kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan memudarnya kegembiraan, berdiam dalam keadaan tanpa-gangguan, penuh perhatian dan berkesadaran jernih, ia mengalami dalam dirinya apa yang oleh Para Mulia dikatakan: “Berbahagialah ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian,” ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga. Dan, setelah melepaskan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat yang melampaui kenikmatan dan kesakitan, dan dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian.’


2.4. ‘Kemudian Raja, keluar dari kamar besar beratap segitiga, pergi ke kamar emas beratap segitiga dan, duduk bersila di atas bantal perak, berdiam dengan memancarkan cinta kasih ke satu arah kemudian arah ke dua, ke tiga, dan ke empat. Demikianlah ia berdiam, memancarkan pikiran cinta-kasih ke atas, ke bawah dan ke sekeliling, ke segala tempat, selalu dengan pikiran yang penuh dengan cinta-kasih, berlimpah, membesar, tanpa batas, tanpa kebencian atau permusuhan, dan ia melakukan hal yang sama untuk pikiran belas-kasihan, kegembiraan simpatik, dan keseimbangan.’23


2.5. ‘Dari delapan puluh empat ribu kota yang dikuasai oleh Raja Mahāsudassana,24 ibu kota Kusāvatī adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu istana, Istana Dhamma adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu aula beratap segitiga, kamar besar beratap segitiga adalah yang utama; delapan puluh empat ribu bantalnya terbuat dari emas, perak, gading, cendana, ditutupi oleh selimut bulu domba, wol, berselimutkan bulu dari kulit rusa-kadali, dengan penutup kepala, dengan bantal merah di kedua ujungnya; dari delapan puluh empat ribu ekor gajahnya yang dihias dengan spanduk emas dan ditutupi dengan jaring emas, Gajah Uposatha adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu keretanya yang ditutup dengan kulit singa, kulit-macan, kulit-macan tutul, atau kain berwarna jingga, dihias dengan perhiasan emas, spanduk emas, dan selimut dengan jaring emas, Kereta Vejayanta25 adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu permatanya, Pusaka-Permata adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu istrinya, Ratu Subhaddā26 adalah yang utama; [188] dari delapan puluh empat ribu perumah tangga, Pusaka-Perumah tangga adalah yang utama; dari delapan puluh empat ribu pelayan Khattiya, Pusaka-Penasihat adalah yang utama; delapan puluh empat ribu sapinya tertambat dengan tali rami dan ember susu (?) terbuat dari perak;27 delapan puluh empat ribu gulung kain terbuat dari rami, kapas, dan wol terbaik; delapan puluh empat ribu persembahan nasi tersedia untuk diambil oleh mereka yang membutuhkan, siang dan malam.’


2.6. ‘Dan pada saat itu, Delapan puluh empat ribu gajah milik Raja Mahāsudassana melayaninya siang dan malam. Dan ia berpikir: “Delapan puluh empat ribu ekor gajah ini melayaniku siang dan malam. Bagaimana jika, setiap akhir abad, empat puluh dua ribu gajah melayaniku bergantian?” Dan ia memberikan instruksi kepada Pusaka-Penasihatnya, [189] dan demikianlah hal itu dilakukan.’


2.7. ‘Dan, Ānanda, setelah beberapa ratus, beberapa ribu tahun berlalu, Ratu Subhaddā berpikir: “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat Raja Mahāsudassana. Bagaimana jika aku melihatnya?” Maka ia berkata kepada para perempuan: “Marilah, basuh kepala kalian dan kenakan pakaian bersih. Sudah lama sejak terakhir kali kita melihat Raja Mahāsudassana. Kita akan pergi melihatnya.” “Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab, dan mempersiapkan diri sesuai apa yang diperintahkan, kemudian kembali menghadap Ratu. Dan Ratu Subhaddā berkata kepada Pusaka-Penasihat: “Sahabat Penasihat, siapkan empat barisan bala tentara. Sudah lama sejak terakhir kali kita melihat Raja Mahāsudassana. Kita akan pergi melihatnya.” “Baiklah, Yang Mulia,” jawab Pusaka-Penasihat dan, setelah mempersiapkan empat barisan bala tentara, ia melapor kepada Ratu: “Sekarang adalah saatnya untuk melakukan apa yang engkau inginkan.”’ [190]


2.8. ‘Kemudian Ratu Subhaddā pergi bersama empat barisan bala tentara dan para perempuan menuju Istana Dhamma dan, masuk menuju kamar besar beratap segitiga dan berdiri bersandar pada tiang pintu. Dan Raja Mahāsudassana, berpikir: “Ada apakah keributan ini, seperti kerumunan besar orang?” Keluar ke pintu dan melihat Ratu Subhaddā bersandar pada tiang pintu. Dan ia berkata: “Tetap di sana, Ratu! Jangan masuk!”’


2.9. ‘Kemudian Raja Mahāsudassana berkata kepada pelayannya: “Ke sini, Teman, pergilah ke kamar besar beratap segitiga, ambilkan kasur emas dan hamparkan di antara pohon-pohon palem emas.” “Baik, Baginda,” jawab orang itu, dan melakukan sesuai perintah. Kemudian Raja Mahāsudassana berbaring ke arah kanan menyerupai posisi singa dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan berkesadaran jernih.’28


2.10. ‘Kemudian Ratu Subhaddā berpikir: “Indria-indria Raja Mahāsudassana murni, kulitnya bersih dan cemerlang, oh – aku harap ia tidak mati!”29 Maka ia berkata kepada Raja: “Baginda, dari delapan puluh empat ribu kota, Kusāvatī adalah yang utama. Bertekadlah, munculkan keinginan untuk hidup menetap di sana!” Demikianlah, mengingatkannya akan segala harta kerajaan (seperti paragraf 5), ia menasihatinya agar memunculkan keinginan untuk terus hidup.’ [191] [192]


2.11. ‘Mendengar kata-kata ini, Raja Mahāsudassana berkata kepada Sang Ratu: “Sejak lama, Ratu, engkau selalu mengucapkan kata-kata indah, menyenangkan, menarik kepadaku, tetapi sekarang pada saat-saat terakhir ini, kata-katamu tidak indah, tidak menyenangkan, dan tidak menarik bagiku.” “Baginda, bagaimanakah seharusnya aku berbicara kepadamu?”’


‘Beginilah seharusnya engkau berbicara: “Segala sesuatu yang menyenangkan dan menarik pasti mengalami perubahan, lenyap, menjadi kebalikannya. Jangan, Baginda, meninggal dunia dengan penuh keinginan. Meninggal dengan penuh keinginan adalah menyakitkan dan tercela. Dari delapan puluh empat ribu kota milikmu, Kusāvatī adalah yang utama: lepaskanlah nafsu, lepaskanlah keinginan untuk hidup di dalamnya … dari delapan puluh empat ribu istana, Dhamma adalah yang utama: lepaskanlah nafsu, lepaskanlah keinginan untuk hidup di dalamnya … (dan seterusnya hingga akhir, seperti paragraf 5).’ [193] [194] 2.12. ‘Mendengar kata-kata ini, Ratu Subhaddā menangis dan mengucurkan air mata. Kemudian, setelah menghapus air matanya, ia berkata: “Baginda, segala sesuatu yang menyenangkan dan menarik pasti mengalami perubahan … jangan, Baginda, meninggal dunia dengan penuh keinginan ….”’ [195]


2.13. ‘Segera setelahnya, Raja Mahāsudassana meninggal dunia; dan bagaikan seorang perumah tangga atau putranya akan merasa mengantuk setelah memakan makanan lezat, demikianlah ia merasakan sensasi [196] kematian, dan ia terlahir kembali di alam bahagia di alam Brahmā.’


‘Raja Mahāsudassana menikmati masa kanak-kanak selama delapan puluh empat ribu tahun, selama delapan puluh empat ribu tahun ia menjadi raja muda, selama delapan puluh empat ribu tahun ia berkuasa sebagai raja, dan selama delapan puluh empat ribu tahun sebagai seorang umat-awam, ia menjalani kehidupan suci di dalam Istana Dhamma.30 Dan, setelah melatih empat kediaman luhur, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di alam Brahmā.31


2.14. ‘Sekarang, Ānanda, engkau mungkin berpikir bahwa Raja Mahāsudassana pada saat itu adalah orang lain. Tetapi jangan engkau beranggapan demikian, karena Aku adalah Raja Mahāsudassana pada saat itu. Delapan puluh empat ribu kota dengan Kusāvatī sebagai yang utama adalah milikku, … [197] delapan puluh empat ribu persembahan nasi … adalah milikku.’


2.15. ‘Dan dari delapan puluh ribu kota, Aku hanya menetap di satu kota yaitu Kusāvatī; … [198] dari delapan puluh empat ribu istri yang kumiliki, hanya satu yang memerhatikanku, dan dia bernama Khattiyāni atau Velāmikāni;32 dari delapan puluh empat ribu gulung kain, aku hanya memiliki satu …; dari delapan puluh empat ribu persembahan-nasi di sana, hanya satu takaran pilihan kari yang kumakan.’


2.16. ‘Lihat, Ānanda, bagaimana segalanya yang terkondisi di masa lampau itu lenyap dan berubah! Demikianlah, Ānanda, hal-hal yang terkondisi adalah tidak kekal, tidak stabil, tidak membawa kebahagiaan, dan karena itu, Ānanda, kita tidak boleh bergembira dalam hal-hal yang terkondisi, kita harus berhenti tertarik dalam hal-hal tersebut, dan terbebas dari hal-hal tersebut.’


2.17. ‘Enam kali, Ānanda, Aku ingat telah meninggalkan jasmani ini di tempat ini, dan yang ke tujuh kali, Aku meninggalkan jasmani ini sebagai Raja Pemutar-Roda, raja yang adil yang telah menaklukkan empat penjuru dan menegakkan peraturan yang kokoh, dan yang memiliki tujuh pusaka. Tetapi, Ānanda, aku tidak melihat tempat mana pun di dunia ini bersama para dewa [199] dan māra dan Brahmā, atau dalam generasi ini bersama para petapa dan Brahmana, raja-raja dan umat manusia, di mana Sang Tathāgata akan meninggalkan jasmani ini untuk ke delapan kalinya.’


Demikianlah Sang Bhagavā berbicara, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan telah mengatakan hal ini, Sang Guru mengatakan:


‘Semua yang tersusun adalah tidak kekal, cenderung muncul dan lenyap,


Setelah muncul, akan hancur, kematiannya adalah kebahagiaan sejati.’
1. Seperti catatan RD, Sutta ini adalah perluasan dari percakapan yang tercatat dalam DN 16.5.17f. Legenda yang sama juga muncul, dengan beberapa variasi (dianalisa oleh RD) dalam Mahāsudassana Jātaka (No. 95). Seperti dalam DN 5, Sang Buddha pada akhirnya mengidentifikasikan, seperti dalam Jātaka, sebagai tokoh utama dalam kisah bersangkutan. Secara keseluruhan dipaparkan dalam atmosfer dongeng: cf. n.468.
2. ‘Raja Agung’ (RD). RD mungkin benar dalam memercayai landasan cerita itu (walaupun, saya rasa, moral Buddhisnya) ada pada mitos-matahari, suatu teori yang pada masanya sangat tidak populer karena terlalu berlebihan.
3. RD secara tidak sengaja menuliskan ‘tujuh’, bukannya ‘lima’. Lima jenis ini dijelaskan sebagai genderang dengan satu sisi terbuat dari kulit, kedua sisi dari kulit, seluruh bagian dari kulit, simbal (atau lonceng) dan alat musik tiup.
4. Atau mungkin ‘memanjakan indria mereka’ namun, sulit, saya rasa, ‘menari’ (yang oleh RD: lukisan tidak masuk akal!): baca PED pada paricarati. RD mengutip satu kalimat dari Sukhāvativyūha Mahāyāna, sebuah naskah penting dari aliran Tanah Suci (seperti, Shin di Jepang). ‘Tanah kebahagiaan’ (Sukhāvati) yang diciptakan oleh Buddha Amitābha bagi mereka yang berkeyakinan pada-Nya memiliki ciri yang sepertinya menyerupai penjelasan ini. Tetapi di sana, akibat yang ditimbulkan dari suara lonceng adalah: ‘Dan ketika orang-orang di sana mendengar suara lonceng itu, gambaran Buddha muncul dalam tubuh mereka (kekeliruan), gambaran Dhamma, gambaran Sangha’.
5. Cf. n.93.
6. RD menyatakan secara kategoris: ‘Ini adalah piringan matahari’, yang mungkin aslinya benar. Ini melambangkan kekuasaan kerajaan dan ajaran moral.
7. Gajah, kuda, kereta, dan jalan kaki.
8. Secara harfiah, ‘Makan sesuai makanan yang ada’. Arti yang tepatnya meragukan.
9. Attha-karaṇa-pamukhe. ‘Sewaktu ia sedang memimpin persidangan’ dihilangkan oleh RD.
10. Penjelasan ini mungkin berhubungan dengan penghormatan yang serupa dengan yang disebut gajah ‘putih’ di Thailand.
11. Baca n.93, RD menerjemahkan, yang sulit diterima ‘perubahan bulan’.
12. ‘Berkepala gagak’ (RD). Tetapi sebutan ini mungkin merujuk pada bentuknya, bukan warnanya.
13. ‘Awan-halilintar’, dan demikianlah diterjemahkan oleh RD.
14. Ini adalah penjelasan biasa, seperti catatan RD. Humor yang disampaikan Sang Buddha dalam penjelasan itu kepada Petapa Ānanda tua tidak boleh diabaikan.
15. Semua perolehan itu adalah akibat (vipāka) dari kamma masa lampau.
16. Klausa ke tiga dihilangkan oleh RD.
17. Iddhi: berbeda dengan yang terdapat dalam DN 2.87.
18. Iddhi: berbeda dengan yang terdapat dalam DN 2.87. Gahaṇi: dimaksudkan adalah organ pencernaan khusus. Tetapi terjemahan Sinhala pada abad pertengahan yang dikutip oleh RD (dan Childers), ‘api internal yang membantu pencernaan’ tidak terlalu salah.
19. Dhanu: ‘busur’. Childers, tetapi tidak dalam PED, mengartikan ‘suatu takaran panjang’ – makna yang diperlukan di sini.
20. RD menjelaskan: ‘Menanam karangan bunga untuk dipakai oleh orang-orang’ – karena bunga hanya digunakan untuk keperluan itu pada masa itu.
21. ‘Pembuat-segalanya’ (atau ‘Pekerja segala hal’), Skt. Visvakarman. Ia pernah datang sebagai ‘arsitek agung alam semesta’.
22. Baca DN 2.17 (habis). Pūraṇa Kassapa menyangkal ada jasa kebajikan dalam hal-hal ini.
23. Empat Kediaman Luhur (Brahmāvihāra): cf. DN 13.76ff.
24. Bentuk konvensional (seperti dongeng) dari jumlah yang terus diulang 84.000 sudah jelas.
25. ‘Bendera kemenangan’ (RD).
26. Subhadda ‘Ratu Agung’ (RD).
27. RD menerjemahkan ‘tanduk berujung perunggu’. Maknanya tidak jelas.
28. Seperti ketika Sang Buddha wafat, dan pada kesempatan lainnya. Cf. DN.16.4.40.
29. Cf. DN 16.4.37.
30. Jumlah ini lebih dari empat kali umur kehidupan pada masa Buddha Vipassī (DN 14.7). RD secara tidak sengaja menuliskan 48.000 dalam syairnya.
31. Alam tertinggi yang dapat dicapai pada masa tidak ada Buddha.
32. Ini mungkin adalah nama (seperti yang ditulis oleh Woodward dalam kalimat yang sama dalam SN 32.96), atau mungkin berarti ‘Perempuan Khattiya’ dan ‘gadis muda’. Akan tetapi, bagaimana dengan Subhaddā?

Tidak ada komentar: