Senin, 05 Maret 2012

UDUMBARITA SUTTA





Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya V
Oleh : Lembaga Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : CV. Danau Batur Jakarta 1992


Demikian yang telah kami dengar:


01. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Puncak Gijjhakuta dekat Rajagaha. Ketika itu pertapa pengembara Nigrodha bersama 3000 muridnya tinggal sementara di Aramaparibbajaka Udumbarika. Pada waktu itu pula, di sore hari Sandhana ke luar dari Rajagaha untuk menemui Bhagava. Tapi sementara berjalan ia berpikir: “Tidak tepat bagiku untuk menemui Bhagava sekarang karena Beliau sedang istirahat. Begitu pula para bhikkhu sedang bermeditasi. Lebih baik saya pergi ke Aramaparibbajaka Udumbarika untuk menemui pertapa Nigrodha.” Demikian itu yang dilakukan Sandhana.


02. Pada waktu itu pertapa Nigrodha sedang duduk dengan sejumlah besar pengikutnya yang sedang bercakap-cakap dengan ribut dan berteriak-teriak, mereka membicarakan hal-hal yang tak bermanfaat (bagi pertapa) seperti cerita tentang: raja-raja, politik, tentara, kepanikan, peperangan, minuman dan makanan, pakaian, tempat tidur, wangi-wangian, keluarga, kereta, desa, kampung, kota, negara, wanita, pahlawan, gosip pinggir jalan dan di tempat ambil air, hantu, iseng, spekulasi tentang dunia dan laut, serta tentang existensi dan non-existensi.

03. Ketika pertapa pengembara Nigrodha melihat Sandhana yang sedang mendatanginya, ia memerintahkan para pengikutnya dengan berkata: “Saudara-saudara, diam dan jangan ribut, lihatlah Sandhana, murid Samana Gotama, datang. Sandhana adalah salah seorang siswa berbaju putih dari Samana Gotama yang tinggal di Rajagaha, siswa-siswa Samana Gotama menyukai ketenangan, mereka dilatih dalam ketenangan, mereka memuji ketenangan. Alangkah baiknya jika ia melihat betapa tenang kelompok kita, ia akan merasa cocok dan akan mengikuti kita.” Setelah ia berkata demikian para pertapa itu diam.


04. Sandhana berjalan mendekati pertapa pengembara Nigrodha dan ketika mereka bertemu ia memberi salam kepada pertapa pengembara Nigrodha lalu duduk di sampingnya. Setelah duduk Sandhana berkata kepada pertapa pengembara Nigrodha: “Cara bicara dalam pertemuan dan pandangan para pertapa yang mulia berbeda dengan apa yang dilakukan dan dianut oleh Sang Bhagava. Mereka bercakap-cakap dengan ribut dan berteriak-teriak, mereka membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat hagi pertapa seperti cerita tentang: raja-raja, politik, tentara, kepanikan, peperangan, minum dan makanan, pakaian, tempat tidur, perhiasan, wangi-wangian, keluarga, kereta, desa, kampung, kota, negara, wanita, pahlawan, gosip pinggir jalan dan di tempat ambil air, hantu, iseng spekulasi tentang dunia dan laut, serta tentang existensi dan non existensi. Tetapi Sang Bhagava menyenangi ketenangan dan tinggal di hutan di mana suara atau bunyi-bunyian tidak terdengar dan di mana angin dari padang rumput berhembus serta bebas dari keramaian orang-orang yang merupakan tempat yang sesuai untuk mengembangkan batin hagi setiap orang.”


05. Setelah Sandhana bicara, Nigrodha menjawab: “Hai orang yang berumah tangga, perhatikanlah, kau tahu dengan siapa Samana Gotama bercakap-cakap? Dengan siapakah ia berbincang-bincang? Berhubung dengan siapakah maka ia mencapai kebijaksanaan yang cemerlang? Kebijaksanaan Samana Gotama melemah karena kebiasaannya menyendiri. Ia melakukan pertemuan bukan di dalam ruangan. Ia tak siap untuk bercakap-cakap. Ia hanya sibuk dengan hal-hal sepele. Bagai seekor sapi bermata satu yang berjalan melingkar-lingkar mengikuti tepian jalan saja, seperti itulah Samana Gotama, Sandhana, sesungguhnya bila Samana Gotama datang ke kelompok kami ini, dengan sebuah pertanyaan saja kami dapat mengalahkannya. Ya, kami kira, kami dapat menggulingkannya bagaikan tempayan kosong.”


06. Pada saat itu dengan telinga dewa (dibba cakkhu) yang melampaui kemampuan manusia biasa Sang Bhagava mendengar percakapan antara Sandhana dan pertapa pengembara Nigrodha. Beliau turun dari puncak Gijjhakuta pergi ke Maranivapo yang terletak di tepi sungai Sumagadha, di tempat yang terbuka ini Beliau berjalan sana ke mari. Pertapa pengembara Nigrodha melihat Sang Bhagava yang sedang berjalan-jalan dan memerintahkan para pengikutnya dengan berkata: “Saudara-saudara, diam dan jangan bersuara. Samana Gotama sedang berjalan-jalan di Moranivago di tepi sungai Sumagadha. Pertapa itu menyukai ketenangan, mereka memuji ketenangan. Alangkah baiknya jika ia melihat kelompok kita yang tenang, ia akan merasa cocok dan menjadi anggota kita. Jika Samana Gotama datang ke sini, kita dapat menanyakan pertanyaan berikut ini: ‘Bhante, ajaran dhamma apakah yang Sang Bhagava ajarkan kepada para siswa Beliau sehingga para siswa yang telah belajar itu mendapat ketenangan, dan menyatakan kemauan yang kuat sekali untuk melaksanakan kehidupan suci yang tinggi (adibrahmacariya)’.” Setelah ia mengatakan hal itu para petapa diam.


07. Kemudian Sang Bhagava mendatang pertapa pengembara Nigrodha berkata kepada beliau:
“Selamat datang Sang Bhagava, Sang Bhagava silakan ke mari, Lama sekali bagi Sang Bhagava untuk mendapatkan kesempatan ke sini. Bhante silakan duduk di tempat duduk ini.”


Sang Bhagava duduk di tempat duduk yang telah tersedia dan pertapa pengembara Nigrodha duduk di sebuah tempat yang lebih rendah di samping Beliau. Setelah pertapa pengembara Nigrodha duduk, Sang Bhagava berkata kepadanya: “Nigrodha, apakah yang anda sekalian bicarakan dengan duduk bersama-sama di sini yang telah terhenti karena saya ke sini?”


Pertapa pengembara Nigrodha menjawab pertanyaan Sang Bhagava dengan berkata: “Bhante, baru saja kami melihat Sang Bhagava berjalan-jalan di Moranivago di tepi sungai Sumagadha. Setelah melihat Sang Bhagava kami berkata: ‘Jika Samana Gotama datang ke sini, kami akan bertanya kepadanya, Bhante, ajaran dhamma apakah yang Sang Bhagava ajarkan kepada siswa beliau sehingga para siswa yang telah belajar itu mendapatkan kesenangan dan menyatakan bahwa mereka memiliki kemauan yang kuat sekali untuk melaksanakan kehidupan suci yang tertinggi (adibrahmacariya)?’ ”


“Nigrodha, sulit sekali bagi seseorang yang berpandangan lain, memiliki kepercayaan lain, memiliki keyakinan lain dan yang tanpa memiliki ajaran yang jelas serta cara pelaksanaannya, untuk mengerti ajaran dan cara saya mengajar para siswaku sehingga para siswa yang telah belajar itu mendapat kesenangan dan menyatakan bahwa mereka memiliki kemauan yang kuat sekali untuk melaksanakan kehidupan suci yang tertinggi. Nigrodha, sebaiknya kita membicarakan ajaranmu yang berkenaan dengan pelaksanaannya dalam kehidupan yaitu: ‘Apa yang dicapai dan apa yang tidak dicapai dalam melaksanakan pertapaan dengan menyiksa diri.’ ”


Setelah Sang Bhagava berkata demikian, para pertapa pengembara dengan nyaring berseru: “Bhante, hebat sekali! Bhante, menakjubkan sekali kemampuan dan kehebatan Samana Gotama yang memiliki ajaran sendiri dan mengajak membicarakan ajaran orang lain!”


08. Pertapa pengembara Nigrodha menyuruh para pertapa itu diam, dan ia berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, kami melaksanakan pertapaan menyiksa diri dan kami berpendapat bahwa cara ini akan merupakan inti ajaran serta kami patuh pada ajaran ini. Apakah yang dicapai dan apakah yang tidak dicapai dengan pertapaan menyiksa diri ini?”"Nigrodha, misalnya ada seorang pertapa telanjang yang memiliki kebiasaan yang tak teratur, menjilati tangannya, ia tidak belajar atau tinggal bersama seorang guru, ia tidak menerima sesuatu yang langsung diberikan kepadanya, ia tidak menerima makanan yang dimasak dalam belanga, makanan yang diletakkan di ambang pintu, makanan yang dihasilkan dari bahan yang ditumbuk dengan menggunakan lesung dan alu atau makanan yang dibuat dari tepung yang digiling. Ia tidak menerima makanan dari tempat makanan yang dipakai bersama oleh dua orang. Ia tidak menerima makanan dari wanita hamil, dari ibu yang masih menyusui anak, atau dari wanita yang masih diliputi oleh nafsu berahi. Ia tidak menerima makanan yang dikumpulkan pada musim panas. Ia tidak menerima makanan di tempat ada anjing dan lalat berkerumun. Ia tidak menerima ikan atau daging. Ia tidak menerima atau minum minuman keras, alkohol, atau minuman yang dibuat dari biji-bijian. Ia menerima makanan dari satu keluarga saja atau ia hanya makan sesuap nasi; ia menerima makanan dari dua keluarga atau hanya makan dua suap nasi; ia menerima makanan dari tujuh keluarga atau hanya makan tujuh suap nasi. Ia mempertahankan hidupnya hanya dengan menerima dana makanan satu, dua atau tujuh kali. Ia makan sekali sehari, makan sekali dua hari, atau makan sekali seminggu. Demikianlah caranya ia terikat dengan peraturan makan pada waktu tertentu sampai pada hanya makan sekali dalam tiap minggu. Ia makan sayur-sayuran, nasi kasar, biji-bijian nivara, kue, hata, makanan yang dibuat dari tepung beras, air tajin, tepung dari biji-bijian berminyak, rumput, tahi sapi, buah-buahan, akar-akaran di hutan atau buah yang jatuh. Ia mengenakan pakaian dari kain yang kasar, kain halus bercampur dengan kain kasar, kain yang diambil dari sisa pembakaran mayat, potongan-potongan kain sisa, pakaian yang dibuat dari kulit pohon tirita; atau ia mengenakan kulit kijang, kulit berbelang, pakaian yang dibuat dari rumput kusa, kulit pohon atau potongan-potongan kain kecil. Ia mengenakan pakaian yang dibuat dari rambut manusia, rambut kuda atau pakaian yang dibuat dari bulu burung hantu. Ia adalah orang yang mencabuti janggut dan rambutnya, ia terikat pada cara mencabut janggut dan rambutnya. Ia melaksanakan cara berdiri tegak dan jongkok yang lama, ia terikat dengan melaksanakan cara berdiri dan jongkok. Ia tidur di atas dipan berduri, dipan diberi paku atau duri. Ia tidur di dipan papan, di atas tanah, atau ia tidur hanya pada satu sisi. Ia adalah orang yang hanya menutupi dirinya dengan debu atau lumpur. Ia tinggal di alam terbuka. Ia duduk di mana saja. Ia makan kotoran dan ia terikat pada cara makan kotoran. Ia tidak minum air dingin dan ia terikat pada cara tidak minum air dingin. Ia hanya tidur pada masa ketiga (pukul 02.00 – 06.00). Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, Nigrodha? Jika hal-hal ini benar, apakah pertapaan menyiksa diri dilaksanakan atau tidak?”"Bhante, sesungguhnya bila hal-hal ini benar, maka pertapaan menyiksa diri telah dilaksanakan dan bukan sebaliknya.”


“Nigrodha, saya tegaskan bahwa pertapaan menyiksa diri yang dilaksanakan seperti itu ada beberapa kesalahan.”


09. “Bhante, dengan cara apa saudara menegaskan bahwa hal itu ada kesalahan?”"Nigrodha, ketika seorang pertapa melaksanakan pertapaan, dan setelah ia melaksanakannya ia merasa puas, karena tujuannya terpenuhi. Hal ini merupakan suatu kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, demikian pula ketika seorang pertapa melaksanakan pertapaan dan setelah melaksanakannya ia memuji dirinya sendiri serta memandang rendah pertapa lain. Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan.


10. Nigrodha, begitu pula ketika seorang pertapa melaksanakan pertapaan, ia mendapat hadiah-hadiah, perhatian dan kemasyuran. Karena itu ia merasa puas karena tujuannya tercapai. Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Juga, setelah ia mendapat hadiah-hadiah, perhatian dan kemasyuran, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah pertapa lain. Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Demikian pula, karena ia mendapat hadiah-hadiah, perhatian dan kemasyuran, ia mabuk dan menjadi ketagihan, ia lambat laun menjadi lalai. Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, begitu pula, ketika seseorang pertapa melaksanakan pertapaan, ia membeda-bedakan makanan dengan berkata: ‘Ini sesuai untukku, itu tidak sesuai untukku. Itu saya tolak.’ Dengan adanya makanan yang disukainya itu ia bertambah rakus dan ketagihan, terikat pada makanan seperti itu, tidak melihat adanya bahaya dengan sikapku ini, berpendapat bahwa sikapnya ini tidak berbahaya dan ia menikmatinya. Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan.Nigrodha, demikian pula, karena keinginannya untuk mendapat hadiah, perhatian dan kemasyuran, ia berpikir: ‘Para Raja akan memperhatikanku, dan begitu pula dengan para mentri mereka, juga para bangsawan, para brahmana, para pendiri sekolah-sekolah dan para keluarga yang ada dalam kerajaan raja-raja itu.’ Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan.


11. Demikian pula, Nigrodha, ada pertapa yang kesal terhadap beberapa brahmana dan pertapa tertentu dengan berkata: ‘Orang itu hidup dari berbagai hasil tumbuh-tumbuhan seperti umbi-umbian, buah yang muncul dari batang pohon buah yang muncul dari bonggol pohon, buah yang berbuah dari ranting dan biji-bijian, ke lima macam buah ini dimakannya dengan dikunyah. Berdasarkan hal-hal ini orang-orang menyebutnya ‘orang suci’ (samana).’ Inipun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, begitu pula, seorang pertapa melihat brahmana dan pertapa tertentu menerima perhatian, penghormatan pelayanan serta mendapat dana dari para penduduk, setelah melihat hal ini pertapa tersebut berpikir: ‘Para penduduk memperhatikan orang yang hidup berfoya-foya, mereka menghormat dan melayaninya serta memberinya dana. Sedangkan saya seorang pertapa yang hidup dalam pertapaan tidak diperhatikan, tidak dihormati, tidak dilayani serta tidak diberi dana oleh mereka.’ Karena itu ia merasa iri dan benci kepada para penduduk. Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, begitu pula, seorang pertapa yang mencari-cari perhatian dalam masyarakat umum merupakan kesalahan dalam pertapaan.


Nigrodha, juga pertapa yang pada waktu menerima dana makanan dengan cara menyelinap di antara orang-orang, seolah-olah mau menyatakan: ‘Cara ini merupakan bagian dari pertapaanku.’ Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan.


Nigrodha, begitu pula dengan para pertapa yang bersifat misterius. Karena bila ditanya: ‘Apakah anda menyetujui hal ini?’ Sesungguhnya ia tidak setuju, tetapi ia berkata: ‘Ya’. Atau ia setuju, tetapi ia berkata: ‘Tidak setuju’. Jadi ia dengan sadar berdusta mengatakan yang sebaliknya dari apa yang dipikirkannya. Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan.


12. Nigrodha, demikian pula ketika Tathagata atau siswa Tathagata menguraikan Dhamma dengan cara yang patut diperhatikan, tetapi para pertapa tertentu itu tidak memperhatikannya. Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, ada pula pertapa yang mudah marah dan membenci. Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan. Nigrodha, ada juga pertapa yang bersifat munafik, penipu, pendendam dan iri, ia licik, curang keras kepala dan congkak, ia senang dengan keinginan-keinginan jahat dan dikuasai oleh sifat-sifat jahat itu. Ia berpandangan sesat, mempercayai dogma yang meta-empiris, salah mengerti dengan apa yang dialaminya, ia tamak dan bertindak bertentangan dengan kehidupan pertapaan. Ini pun merupakan kesalahan dalam pertapaan.


Nigrodha dalam hal ini bagaimana pendapatmu? Apakah hal-hal ini merupakan hal-hal yang salah dalam pertapaan menyiksa diri atau tidak?”


“Bhante, sesungguhnya hal-hal ini merupakan kesalahan-kesalahan dalam pertapaan menyiksa diri. Bhante mungkin sekali seorang pertapa memiliki semua macam kesalahan ini, atau memiliki beberapa kesalahan, atau hanya memiliki satu kesalahan.”


13. “Nigrodha, sekarang kita lihat hal-hal yang sebaliknya yang ada pada pertapa yang melaksanakan pertapaan. Dengan melaksanakan pertapaan ia tidak sombong dan begitu pula ketika tujuannya tercapai. Demikianlah ia pada tingkat itu menjadi suci. Begitu pula ketika pertapa berhasil dalam pertapaannya, ia tidak menjadi congkak atau merendahkan orang lain. Ia tidak mabuk, kecanduan maupun kurang waspada. Ia tidak membanggakan dirinya atau terpengaruh oleh hadiah-hadiah, perhatian maupun pujian; ia tidak memuji dirinya sendiri atau menghina orang lain ataupun ia menjadi tergila-gila, ketagihan atau lalai. Ia tidak membeda-bedakan makanan dengan berkata: ‘Ini cocok untukku, ini tidak cocok untukku’. Menolak makanan yang tidak disukai tetapi rakus pada makanan yang disukai serta melekat dan menikmati makanan itu tanpa melihat bahaya dari makanan itu atau memikirkan bahwa makanan itu dapat mencelakakannya. Ia tidak berkeinginan untuk mendapat hadiah, perhatian, kemasyuran serta penghormatan dari raja dan para menteri, bangsawan, brahmana, para pemuka masyarakat atau para pendiri kelompok keagamaan.


14. Demikian pula ia tidak merasa kesal terhadap brahmana dan pertapa tertentu dengan berkata: ‘Orang itu hidup dari berbagai hasil tumbuh-tumbuhan seperti umbi-umbian, buah yang muncul dari batang, buah yang muncul dari bonggol, ranting dan bibi-bijian, ke lima macam buah ini dimakannya dengan dikunyah, dan berdasarkan hal ini orang-orang menyebutnya orang suci’. Ketika melihat beberapa brahmana dan pertapa tertentu menerima perhatian, penghormatan, pelayanan dan dana dari penduduk, setelah melihat hal-hal ini ia tidak berpikir: ‘Para penduduk memperhatikan orang yang hidup berfoya-foya, mereka menghormat dan melayani serta memberinya dana, sedangkan saya seorang pertapa yang hidup dalam pertapaan tidak diperhatikan, tidak dihormati, tidak dilayani dan tidak diberi dana oleh mereka.’ Ia tidak merasa iri ataupun benci kepada penduduk. Ia tidak mencari perhatian dari masyarakat. Ia tidak pernah pergi menyelinap di antara orang-orang, dengan seolah-olah menyatakan: ‘Cara ini merupakan bagian dari cara pertapaanku. Cara ini merupakan bagian dari cara pertapaanku’. Ia tidak bersifat misterius, karena bila ditanya jika ia setuju, ia menjawab setuju sebab ia memang setuju; sedangkan bila ia tidak setuju maka ia menjawab tidak setuju. Ia menghindarkan dirinya dari kebohongan.


15. Begitu pula ketika Tathagata atau siswa Tathagata menguraikan Dhamma dengan cara yang patut diperhatikan, ia memperhatikannya. Ia pun tidak mudah marah dan membenci. Ia tidak munafik tidak menipu, tidak mendendam atau tidak iri, ia tidak licik, ia tidak curang, tidak keras kepala dan tidak sombong. Ia tidak menyukai pikiran-pikiran jahat dan tidak dikuasai oleh sifat-sifat jahat. Ia tidak berpandangan sesat, tidak mempercayai dogma meta-empiris, tidak salah mengerti dengan apa yang dialaminya; ia tidak tamak dan tidak bertindak bertentangan dengan kehidupan sebagai pertapa. Nigrodha, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini? Apakah dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci atau tidak?”"Bhante, tentu saja dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci dan bukan tidak suci, serta mencapai tingkat tertinggi dan mencapai inti kebenaran.”


“Nigrodha, tidak, pertapaan seperti ini belum mencapai tingkat tertinggi, juga belum mencapai inti kebenaran, karena cara ini baru mencapai bagian luar saja.”


16. “Bhante, dengan cara apa maka suatu pertapaan mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran? Alangkah baiknya bila Sang Bhagava membimbingku sehingga dengan pertapaanku saya dapat mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran.”"Nigrodha, perhatikanlah, pertapa yang mengekang diri dengan Empat Macam Pengekangan (Catu Yama Samvaro), dan apakah Empat Macam Pengekangan itu? Itu adalah jika seorang pertapa tidak melukai mahluk hidup atau menyebabkan mahluk hidup terluka, maupun ia menyetujui mahluk hidup dilukai. Ia tidak mengambil barang yang tidak diberikan atau menyetujui orang lain melakukannya. Ia tidak berdusta, ataupun menyebabkan kebohongan, maupun menyetujui orang lain berdusta. Ia tidak ingin untuk memuaskan nafsu inderiyanya ataupun menyuruh orang lain untuk memuaskan nafsu inderiyanya maupun menyetujui orang lain melakukannya. Nigrodha, dengan memenuhi Empat Macam Pengekangan ini maka ia telah mengekang dirinya. Bagi dia yang telah mengekang dirinya dan pertapaannya didasarkan pada pengekangan diri seperti ini, ia maju dan tidak akan kembali melakukan hal-hal yang rendah. Ia memilih tempat tenang untuk bermeditasi dalam hutan, di bawah pohon, di lereng gunung, di celah gunung, dalam gua gunung, di tempat pembakaran mayat atau di atas tumpukan jerami yang berada di tempat terbuka. Setelah kembali dari menerima dana makanan dan setelah makan maka ia duduk bersila dengan tubuh yang tegak, pikiran penuh semangat dan waspada, ia melepaskan kehidupan duniawi, maka batinnya bebas dari ikatan kehidupan duniawi, ia mensucikan batinnya dari keserakahan. Ia melenyapkan kebencian maka batinnya bebas dari kebencian dan batinnya diliputi oleh cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua mahluk, dan ia mensucikan batinnya dari kejahatan. Ia melenyapkan kemalasan dan kelalaian maka ia bebas dari kemalasan dan kelalaian, ia sadar, waspada dengan pikiran terpusat, ia mensucikan batinnya dari kemalasan dan kelalaian. Ia melenyapkan kegelisahan dan kekhawatiran maka ia bebas dari perasaan tegang, dengan pikiran yang tenang ia mensucikan batinnya dari kegelisahan dan kekhawatiran. Ia melenyapkan keragu-raguan, ia hidup bagaikan orang yang telah bebas dari kekacauan batin dan batinnya berada dalam kebaikan, ia mensucikan batinnya dari keragu-raguan.


17. Setelah ia melenyapkan lima rintangan batin (nivarana) dan dengan kebijaksanaan ia melemahkan semua hal yang mengotori batinnya, ia memenuhi batinnya dengan cinta kasih yang dipancarkannya ke satu jurusan, ke dua jurusan, ke tiga jurusan dan ke empat jurusan. Juga cinta kasihnya dipancarkannya ke atas, ke bawah, ke sekelilingnya dan ke seluruh dunia, dan dcngan demikian ia terus memancarkan cinta kasih dari batinnya yang penuh cinta kasih yang tak terbatas luhur serta tak terukur dan yang bebas dari kebencian maupun dendam. Ia pun memenuhi batinnya dengan kasih sayang yang dipancarkannya ke seluruh dunia… Ia pun memenuhi batinnya, dengan simpati atas keberhasilan orang lain yang dipancarkannya ke seluruh dunia… Ia pun memenuhi batinnya dengan keseimbangan yang dipancarkannya ke satu jurusan ke dua jurusan, ke tiga jurusan dan ke empat jurusan. Juga, keseimbangannya dipancarkannya ke atas, ke bawah, ke sekeliling dan ke seluruh dunia, dan dengan demikian terus memancarkan keseimbangan dari batinnya yang penuh keseimbangan yang tak terbatas, luhur serta tak terukur dan yang bebas dari kebencian dan dendam. Nigrodha, bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Apakah dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci atau tidak?”"Bhante, tentu saja dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci dan bukan tidak suci, serta mencapai tingkat tertinggi dan mencapai inti kebenaran.”


“Nigrodha, tidak, pertapaan seperti ini belum mencapai tingkat tertinggi, juga belum mencapai inti kebenaran, karena cara ini baru mencapai bagian luarnya saja.”


18. “Bhante, dengan cara apa maka suatu pertapaan mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran? Alangkah baiknya bila Sang Bhagava membimbingku sehingga dengan pertapaanku saya dapat mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran.”"Nigrodha, perhatikanlah, pertapa yang mengekang dirinya dengan Empat Macam Pengekangan, bagi dia yang telah mengekang dirinya serta pertapaannya didasarkan pada pengekangan seperti ini, ia maju dan tidak akan kembali melakukan hal-hal yang rendah. Ia memilih tempat yang tenang untuk bermeditasi: di dalam hutan, di bawah pohon, di lereng gunung, di celah gunung, dalam gua gunung, di tempat pembakaran mayat atau di atas tumpukan jerami yang berada di alam terbuka… dan ia melenyapkan lima rintangan batin (nivarana) serta dengan kebijaksanaan ia melemahkan semua hal yang mengotori batinnya, ia memenuhi batinnya dengan cinta kasih, kasih sayang, simpati dan keseimbangan. Ia mengingat kehidupan-kehidupannya yang lampau — satu kehidupan yang lampau, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu kehidupan yang lampau, kehidupan-kehidupan dalam satu kalpa leburnya bumi dan terjadinya bumi, kehidupan-kehidupan dalam banyak kalpa leburnya dan terjadinya bumi. Pada suatu tempat tertentu, begitu namaku, begitu keluargaku, begitulah kedudukanku dalam masyarakat, begitulah makananku, begitulah pengalamanku yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dan begitulah batas usiaku. Ketika saya meninggal dari suatu tempat saya terlahir kembali di tempat lain. Di tempat itu pula saya memiliki nama, keluarga, kedudukan dalam masyarakat, makanan, pengalaman yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan serta begitu pula batas usiaku. Ketika saya meninggal dari alam itu, saya terlahir kembali sini… Demikianlah ia mengingat kembali kehidupan-kehidupannya yang lampau dalam semua bentuk secara terinci. Nigrodha, bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Apakah dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci atau tidak?”


“Bhante, tentu saja dengan hal-hal ini pertapa menjadi suci dan bukan tidak suci, dan mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran.”


“Nigrodha, tidak, pertapa seperti ini belum mencapai tingkat tertinggi, juga dalam mencapai inti kebenaran, walaupun pertapa ini telah mencapai kulit bagian dalam.”


19. “Bhante, dengan cara apa suatu pcrtapa mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebcnaran? Alangkah baiknya bila Sang Bhagava membimbingku sehingga dengan pertapaanku saya dapat mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran.”"Nigrodha, perhatikanlah, pertapa yang mengekang diri dengan Empat Macam Pengekangan, melenyapkan Lima Rintangan (Nivarana), telah memenuhi batinnya dengan cinta kasih, kasih sayang, simpati dan keseimbangan yang dipancarkan ke seluruh dunia, dan sanggup mengingat kembali kehidupan-kehidupannya yang lampau dalam semua bentuk secara terinci. Ia dengan kekuatan mata-batin (dibba cakkhu) yang suci, yang melampaui kemampuan mata manusia biasa, melihat mahluk yang meninggal dari suatu bentuk kehidupan dan terlahir kembali dalam bentuk kehidupan yang lain; ia dapat mengenal kembali orang yang luhur dan yang jahat, orang yang baik dan yang buruk, orang yang bahagia dan orang yang menderita, yang meninggal dunia sesuai dengan perbuatan (kamma) mereka: Begitulah dan demikianlah orang-orang yang buruk, jahat dalam perbuatan, ucapan dan pikiran, pencela para ariya (mahluk suci), berpandangan sesat, mereka memperoleh kamma mereka sendiri yang disebabkan oleh pandangan sesat, dan ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di beberapa alam penuh penderitaan dan kesedihan. Tetapi bagi mahluk-mahluk yang baik dalam perbuatan, ucapan dan pikiran, tidak mencela para ariya (mahluk suci) berpandangan benar, mereka memperoleh kamma mereka sendiri yang disebabkan oleh pandangan benar, dan ketika mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali di alam-alam penuh bahagia dan menyenangkan. Demikianlah dengan kekuatan mata batin (dibba cakkhu) yang suci yang melampaui kemampuan mata manusia biasa, ia melihat mahluk mahluk yang meninggal dari suatu bentuk kehidupan dan terlahir kembali dalam bentuk kehidupan yang lain; ia dapat mengenal kembali orang yang luhur dan yang jahat, orang yang baik dan yang buruk, orang yang bahagia dan orang yang menderita, yang meninggal dunia sesuai dengan perbuatan (kamma) mereka.”Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Nigrodha? Apakah dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci atau tidak?”


“Bhante, tentu saja dengan hal-hal ini pertapaan menjadi suci dan bukan tidak suci dan mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran.”


“Nigrodha, demikianlah pertapaan mencapai tingkat tertinggi serta mencapai inti kebenaran. Begitulah ketika engkau berkata kepadaku: ‘Bhante, apakah dalam Dhamma Sang Bhagava, dalam mana ia melatih para siswanya, para siswa yang telah terlatih itu mencapai kebahagiaan dan menyatakan bahwa Dhamma Sang Bhagava merupakan penyokong mereka yang paling tinggi dan merupakan prinsip dasar dari kebenaran?’ Saya katakan bahwa Dhamma itu merupakan ajaran tertinggi dan paling baik yang saya ajarkan kepada para siswaku sehingga mereka telah saya latih mencapai kebahagiaan dan menyatakan bahwa Dhamma Sang Bhagava merupakan penyokong mereka yang paling tinggi dan prinsip dasar dari kebenaran.”


Setelah Sang Bhagava berkata demikian, para pertapa pengembara menjadi ribut, berisik dan dengan riuh mereka berseru: “Dalam hal ini, kami dan para guru kami mengajarkan hal yang sia-sia. Kami tidak mengetahui apa-apa tentang ajaran mereka yang ternyata lebih tinggi daripada ajaran kami.”


20. Ketika Sandhana, umat berumah tangga, menyadari: “Ternyata para pertapa pengembara ini walaupun menganut ajaran lain, namun mereka mengerti apa yang dikatakan oleh Sang Bhagava.” Lalu Sandhana berkata kepada Nigrodha: “Baru saja kau berkata kepadaku: ‘Perhatikanlah hai orang yang berumah tangga, kau tahu dengan siapa Samana Gotama bercakap-cakap? Dengan siapa ia berbincang-bincang? Berhubungan dengan siapakah maka ia mencapai kebijaksanaan yang cemerlang? Kebijaksanaan Samana Gotama melemah karena kebiasaannya menyendiri. Ia tidak menguasai materi yang dibicarakan dalam pertemuan. Ia tidak siap untuk berdialog. Ia hanya sibuk dengan hal-hal yang sepele. Bagaikan seekor sapi bermata satu yang berjalan berputar-putar mengikuti tepian jalan, seperti itulah Samana Gotama. Sandhana, sesungguhnya bilamana Samana Gotama datang ke kelompok kami ini, maka dengan sebuah pertanyaan saja kami dapat mengalahkannya. Kami kira, kami dapat menggulingkannya bagikan tempayan kosong’. Sekarang Sang Bhagava, Arahat Samma Sambuddha berada di antara kita. Tunjukanlah bahwa beliau tidak menguasai materi yang dibicarakan dalam pertemuan. Tunjukkanlah bahwa beliau bagaikan sapi bermata satu yang berjalan berputar-putar. Nyatakanlah bahwa dengan sebuah pertanyaan saja kau dapat menundukkan beliau dan dapat menggulingkan beliau bagaikan tempayan kosong.” Setelah Sandhana berkata demikian, Nigrodha duduk diam dengan perasaan kesal, membungkukkan badan serta kepala ditundukkan, terpekur dan membisu.


21. Ketika Sang Bhagava melihat keadaan Nigrodha, beliau berkata: “Nigrodha, apakah benar kau mengatakan hal-hal itu?”"Bhante, benar. Saya mengatakan hal-hal itu, betapa bodoh saya ini, betapa dungu saya ini, saya salah.”"Nigrodha, bagaimana pendapatmu tentang hal-hal berikut ini? Apakah kau pernah mendengar dari para pertapa pengembara yang dihormati tua, guru-gurumu dan guru-guru dari para gurumu bahwa: ‘Mereka yang pada waktu yang lampau sebagai para Arahat, para Samma Sambuddha meramalkan bahwa para Bhagava bila bertemu dalam suatu pertemuan biasanya berbicara dengan suara yang hiruk pikuk, gaduh dan berisik, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi pertapa seperti cerita tentang raja-raja, politik, tentara, kepanikan, peperangan, minuman, makanan, pakaian, tempat tidur, perhiasan, wangi-wangian, keluarga, kereta, desa, kampung, kota, negara, wanita, pahlawan, gosip pinggir jalan dan di tempat mengambil air, hantu, iseng, spekulasi tentang dunia dan laut, serta tentang existensi dan non-existensi, seperti kamu sekalian dan guru-guru kamu sekalian lakukan sekarang?’ Atau apakah mereka berkata: ‘Para Bhagava menyenangi ketenangan dan tinggal di hutan di mana suara atau bunyi-bunyian tidak terdengar dan di mana angin dari padang rumput berhembus serta bebas dari keramaian orang-orang dan yang merupakan tempat yang sesuai untuk mengembangkan batin, seperti sekarang dilakukan oleh Sang Bhagava.’


Nigrodha, kau sendiri pintar dan telah berusia lanjut, apakah hal seperti berikut ini tidak pernah terpikirkan olehmu: ‘Buddha adalah Sang Bhagava, beliau mengajarkan Dhamma kebuddhaan. Sang Bhagava hanya belajar sendiri, beliau mengajarkan Dhamma yang dapat dipelajari oleh setiap orang. Sang Bhagava adalah penuh ketenangan, beliau mengajarkan Dhamma ketenangan. Sang Bhagava telah selamat, beliau mengajarkan Dhamma keselamatan. Sang Bhagava dalam kedamaian, beliau mengajarkan Dhamma kedamaian.”


22. Setelah Sang Bhagava mengatakan hal ini, pertapa mengembara Nigrodha berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, saya telah melakukan pelanggaran, bodoh, dungu dan bersalah karena telah mengatakan hal-hal itu kepada Sang Bhagava. Bhante, saya harap Sang Bhagava menerima pengakuan saya dan mengatakan bahwa saya melakukan suatu pelanggaran, agar pada waktu yang akan datang saya akan lebih waspada.”"Nigrodha, memang engkau telah melakukan suatu pelanggaran, bodoh, dungu dan bersalah karena telah mengatakan hal-hal itu untukku. Nigrodha, selama engkau mengetahui itu suatu pelanggaran, mengakui perbuatan itu, kami menerima pengakuanmu. Karena hal ini telah menjadi kebiasaan bagi para ariya bahwa barang siapa yang mengetahui perbuatan salahnya sebagai suatu kesalahan, dan mengakui bahwa ia telah bersalah, maka di masa yang akan datang dia akan lebih waspada dan berhati-hati. Nigrodha, tetapi saya katakan ini padamu: ‘Marilah orang yang pintar, jujur, ikhlas dan lurus, saya akan membimbingnya, saya akan mengajar Dhamma kepadanya. Bilamana ia melaksanakan seperti apa yang diajarkan, maka pada kehidupan ini ia sendiri akan mengetahui dan merealisasikan tujuan akhir dari penghidupan suci, yang merupakan cita-cita dari orang-orang yang meninggalkan kehidupan duniawi menjadi pertapa, dalam tujuh tahun, Nigrodha, iapun dapat mencapainya, bahkan tidak dalam tujuh tahun jikalau ia melaksanakan seperti apa yang diajarkan, maka pada kehidupan ini, ia sendiri akan mengetahui dan merealisasikan tujuan akhir dari penghidupan suci, yang merupakan cita-cita dari orang-orang yang meninggalkan kehidupan duniawi menjadi pertapa, dalam enam tahun, lima tahun, empat tahun, dua tahun, satu tahun… enam bulan… lima bulan, empat bulan, tiga bulan, dua bulan, satu bulan atau setengah bulan. Nigrodha iapun dapat mencapainya tidak dalam setengah bulan. Jika seorang yang pintar, jujur, ikhlas dan lurus datang kepadaku, saya akan membimbingnya, saya akan mengajar Dhamma kepadanya. Bilamana ia melaksanakan seperti apa yang diajarkan, maka pada kehidupan ini ia sendiri akan mengetahui dan merealisasikan tujuan akhir dari penghidupan suci, yang merupakan cita-cita dari orang-orang yang meninggalkan kehidupan duniawi menjadi pertapa, dalam tujuh hari.’


23. Nigrodha, mungkin kau berpikir: ‘Samana Gotama mengatakan hal-hal ini karena suatu keinginan untuk mendapatkan murid’; tetapi kau janganlah mengartikan kita-kataku seperti itu. Biarlah dia yang adalah gurumu tetap sebagai gurumu. Nigrodha, mungkin kau berpikir: ‘Samana Gotama mengatakan hal-hal ini karena keinginannya agar kita melanggar peraturan kita’. Tetapi kau janganlah mengartikan kata-kataku seperti itu. Biarlah peraturanmu tetap peraturanmu. Nigrodha, mungkin kau berpikir: ‘Samana Gotama mengatakan hal-hal ini karena keinginannya agar kita keluar dari cara kehidupan kita’. Tetapi kau janganlah mengartikan kata-kataku seperti itu. Biarlah cara hidupmu tetap cara hidupmu. Nigrodha, mungkin kau berpikir: ‘Samana Gotama mengatakan hal-hal ini karena keinginannya untuk menyatakan kepada kita tentang hal-hal tertentu dari ajaran kita yang salah dan dipandang salah oleh orang-orang dalam perkumpulan kita’. Tetapi kau janganlah mengartikan kata-kataku seperti itu. Biarlah hal-hal tertentu dari ajaranmu yang salah dipandang salah oleh orang-orang dalam perkumpulanmu tetap demikian bagimu. Nigrodha, mungkin kau berpikir: ‘Samana Gotama mengatakan hal-hal ini karena keinginannya untuk melepaskan kita dari hal-hal tertentu dari ajaran kita yang benar dan dipandang benar oleh orang-orang dalam perkumpulan kita’. Tetapi kau janganlah mengartikan kata-kataku seperti itu! Biarlah hal-hal tertentu dari ajaranmu yang benar dan dipandang benar oleh orang-orang dalam kumpulanmu tetap demikian bagimu. Nigrodha, mengapa saya berkata seperti itu, yaitu bukan karena saya ingin kau keluar dari cara kehidupanmu, bukan karena saya ingin menyatakan hal-hal yang salah dalam ajaranmu, atau karena saya ingin melepaskan kau dari ajaranmu yang benar. Tetapi, ada hal-hal buruk yang tidak dilenyapkan, hal-hal jahat yang menyebabkan kelahiran diperbarui, yang menyebabkan penderitaan, yang menyebabkan kesakitan, yang menyebabkan kelahiran, menjadi tua dan kematian di masa datang. Maka untuk melenyapkan hal-hal ini, saya mengajarkan dhamma dan bagi orang yang melaksanakannya ia akan dapat melenyapkan kesucian akan berkembang dan dalam kehidupan ini kau sendiri akan mencapai serta tetap berada dalam pengertian dan merealisasikan kebijaksanaan tertinggi.”


24. Setelah beliau berkata demikian, para pertapa pengembara duduk diam dengan perasaan kesal, membungkukkan badan serta kepala ditundukkan, terpekur dan membisu. Dengan begitu mereka membiarkan batin mereka dikuasai oleh Mara. Lalu Sang Bhagava berpikir: “Setiap orang dari orang-orang bodoh ini dikuasai oleh kejahatan, sehingga tak ada seorangpun di antara mereka yang berpikir: “Marilah kita mengikuti penghidupan suci yang diajarkan oleh Samana Gotama, sehingga kita dapat belajar dan mengetahuinya. Apakah arti tujuh hari itu?”Kemudian, setelah Sang Bhagava mengucapkan Sihanada (Auman Singa di Aramaparibbajaka Udumnarika, beliau bangkit serta melayang ke angkasa dan turun di Gijjhakuta; sedangkan Sandhana kembali ke Rajagaha.






www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar: