Minggu, 25 Maret 2012

YM Bhante K Sri Dhammananda



Yang Mulia Bhante K Sri Dhammananda lahir pada tanggal 18 Maret 1919 dari keluarga KA Garmage di desa Kirinde, Matara, Selatan Ceylon. Seperti umumnya anak yang lahir di jaman kolonial Inggris, beliau juga diberi nama Inggris, Martin. Beliau merupakan anak tertua dari 3 laki-laki dan 3 perempuan.
Beliau mulai pendidikan formalnya di sebuah sekolah pemerintah di dusun Kirinde pada umur tujuh tahun. Sebagai seorang anak kecil, ia memiliki ketertarikan akan ajaran Sang Buddha. Buddhisme sangat dekat di hati para penduduk dikarenakan adanya Sangha yang kuat, yang menggunakan vihara sebagai pusat aktivitas religius.

Martin muda banyak ikut dalam beberapa program religius yang berdasarkan prinsip-prinsip dan moral-moral buddhism. Ia juga memiliki seorang paman yang merupakan kepala vihara di sana. Bersama dengan Ibu yang saleh, pamannya mengajarkan bimbingan spiritual di masa kecilnya. Lalu keinginan ingin menjadi bhikkhu secara perlahan muncul di pikirannya.

Saat umur 12 tahun, ia ditahbiskan menjadi samanera(calon bhikkhu) oleh Yang Mulia K Dhammaratana Maha Thera dari Vihara Kirinde. Ia diberi nama Dhammananda yang artinya orang yang berpengalaman bahagia mengarungi dhamma. Ia menjadi samanera selama sepuluh tahun, dan pada umur 22 tahun Samanera Dhammananda baru kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu di tahun 1940. 

Yang mentahbiskan adalah Yang Mulia K Ratanapala Maha Thera dari Vihara Kitawila. Pendidikan tinggi dan pelatihan Bhante Dhammananda belajar di Sri Dhammarama Pirivena,Ratmalana tahun 1935, lalu di Institute Buddhis Vidyawardhana, Colombo 1937, untuk mempelajari ajaran Sang Buddha secara serius. Gurunya adalah Yang Mulia Kotawila Deepananda Nayaka Thera. Setelah ia menyelesaikan studinya di tahun 1938, ia memasuki Vidyalankara Pirivena, di Peliyadoga, Kelaniya, perguruan tinggi Buddhis yang prestisi untuk memasuki jenjang universitas.

Selama tujuh tahun, Bhikkhu Dhammananda mengikuti program diploma di Vidyalanka Pirivena dimana ia mempelajari Sanskrit, Tipitaka Pali dan filsafat buddhis,lalu subjek agama lainnya. Kepala pembimbingnya yang sangat terkenal di intstitut itu adalah Bhikkhu Lunupokune Sri Dhammananda. Pada usia 26 ia menyelesaikan diplomanya di bidang Linguistik dan Tipitaka Pali.Belajar tujuh tahun dan latihan secara intensif di kedisiplinan bhikkhu dari tahun 1939-1945 di Vidyalanka Pirivena membuat pengetahuan dan kemampuan misionaris yang luar biasa. Beliau mampu membantu para umat Buddha di Ceylon, khususnya mereka yang dididik secara Inggris,dan target utamanya adalah Umat Kristen, yang memiliki pemahaman intelektual akan aspek-aspek ajaran buddha.

Pada tahun 1945 Bhikkhu Dhammananda melanjutkan pendidikannya di Universitas Hindu Benares di India dimana beliau memperoleh bea siswa. Di Universitas, ia membaca Sanskrit, Hindi dan Filsafat India. 
Pembimbing saat di universitas adalah YM P. Panananda Nayaka Thera dari Colombo, YM Dr H Saddhatissa Maha Thera (yang kemudian menjadi kepala Vihara Buddhis London), YM Dr.U Dhammaratana dan almarhum YM Dr Amritandanda Thera, dari kepala Sangha di Nepal. YM Dhammananda belajar selama empat tahun di universitas dengan gelar Master of Arts dalam bidang FilsafatIndia pada tahun 1949.Dari sekian orang terkenal yang mengajarnya adalah Almarhum Dr. S. Radhakrishnan, yang kemudian menjadi Presiden Republik India.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, YM Dhammananda kembali ke Ceylon.Di Kotawilla ia mengajar di Institut Buddhis Sudharma dan menekankan pendidikan,kesejahteraan dan keagamaan untuk para penduduk. Ia juga menerbitkan Jurnal Buddhis empat bulanan "Sudharma" dalam bahasa Sinhala. Ia memberikan pengajaran kepada para pengikutnya untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik buddhisme.

Misi ke Malaysia

Pada tahun 1952, YM K Sri Pannasara Nayaka Thera,kepala dari Vidyalanakara Pirivena, menerima sebuah undangan dari Masyarakat Sasana Abhiwurdhi Wardhana di Malaysia yang memohon untuk menetapkan seorang bhikkhu tinggal di sana untuk keperluan keagamaan komunitas Buddhis Sinhala di kota. Dari 400 Bhikku di Vidyalankara Pirivena, YM Dhammananda dipilih untuk misi ke Malaysia. Beliau dengan segera menerima undangan tersebut walaupun ia ingin melayani umat buddha di tanah kelahirannya. Ia merupakan bhikkhu yang banyak belajar dan penuh perhatian di Ceylon, Malaysia tidak memiliki bhikkhu yang berkualitas walaupun untuk upacara yang sederhana.

Di Malaysia, selama tahun 1950an, banyak Vihara Buddhis Theravada menjadi tempat belajar Dhamma. Walaupun, bukan hanya sedikit vihara di sana, banyak Chinese dan Vihara Thailand di negara itu. Para umat mengunjungi mereka untuk meminta blessing atau mendengar parita. Seperti itulah situasi YM Dhammananda berangkat menuju Malaysia tahun 1952.

Mula kegiatan misionaris

Kepala vihara di sana, YM K Gunaratana Maha Nayaka Thera (1891-1964), seorang bhikkhu Sinhala yang terkenal akan penjelasan sederhana akan ajaran Buddha. Ia berkesempatan berdiskusi dengan YM Gunaratana untuk beberapa masalah dan isu-isu yang berkembang dalam propagandanya di Malaysia. 
Sudah seperti diatur, YM Gunarata berkonsentrasi misi penyebarannya di Penang sedangkan YM Dhammananda memfokuskan di daerah Kuala Lumpur. YM Gunaratana di Malaysia sejak tahun 1926 dan sudah biasa dengan suasana buddhisme di kota.

Pada tahun 1950an Administrasi Militer Inggris mengumumkan bahwa Malaysia berada di tengah-tengah keadaan darurat dikarenakan pemberontakan komunis. Hal ini menyebabkan beliau naik pesawat menuju Kuala Lumpur dikarenakan kereta api diserang oleh komunis. Beliau tiba di Vihara Brickfield, dan disambut hangat oleh YM M Panasiri Mahatera, alumni dari Vidyalankara Pirivena. Datang untuk melayani masyarakat buddhis di Malaysia, YM Dhammananda tidak membuang-buang waktu untuk merencanakan kegiatan di Vihara.

Membangun Kebangsaan

Pada Maret 1952, Bhikkhu Dhammananda menerima sebuah surat dari Sekretaris Sir Gerald Templer, Komisaris Inggris di Malaysia. Ia meminta untuk bertemu. Sir Gerald Templer ingin mengetahui apakah ajaran Buddha sama dengan komunis, dikarenakan banyak orang Chinese yang terlibat komunis. Mereka secara tradisional adalah Buddhis juga. Pandangan keliru dari Sir Templer akan buddhisme segera diperbaiki saat YM Dhammananda meyakinkannya bahwa Buddhisme itu bukan kekerasan dan agama cinta kasih.

YM Dhammananda menjelaskan kepada Sir Gerald Templer bahwa ajaran Buddhis mengajarkan spiritual dan aspekaspek moral kehidupan berbeda dengan komunis yang merupakan gerakan politik. Dijelaskan demikian, Sir Templem malah mengundang beliau untuk membantu pemerintah secara psikologis untuk memenangkan "hati dan pikiran" masyarakat. Target utama pemerintah adalah penduduk di desa-desa yang baru.

Dengan dibantu oleh YM Pannasiri, beliau memulai aktivitas misionarisnya. Bersama dengan Sasana Abhiwurdhi Wardhana Society dan Selangor Regional Centre of the World Fellowship of Buddhist memberikan dukukannya kepadanya akan aktivitas awal misionaris ini. Dengan bersungguh-sungguh dan pendekatan yang bijak, kunjungan YM Dhammananda ke berbagai dusun Chinese disambut dengan ramah dan tanpa kecurigaan.

YM Dhammananda hanya memiliki satu motivasi saat beliau berkunjung ke Dusun Baru, untuk menanamkan pesan Sang Buddha kepada penduduk agar memahami buddhis yang akan membuat mereka hidup damai, bahagia dan sejahtera. Beliau percaya bahwa tugas utamanya sebagai seorang Bhikkhu adalah mengajar kepada banyak orang. Walau beliau tidak dapat berkomunikasi bahasa Chinese saat beliau berkunjung ke dusun seperti Ampang dan Sungei Buloh, penterjemahnya akan menjelaskan saat percakapan berlangsung.

Dari misi YM Dhammananda, banyak chinese di negera tersebut menjadi sadar akan ajaran sesungguhnya Sang Buddha. Pada umumnya banyak Chinese di Malaysia menganut buddhism karena ajaran tradisi. Bagaimanapun,banyak diantara mereka yang tidak paham ajaran Sang Buddha. Mereka salah presepsi pada adat dan tradisi saat mereka tumbuh, atau yang dipraktekkan oleh orang tua dan leluhur sebagai buddhis.
Sayangnya, banyak adat dan tradisi didasarkan pada kepercayaan takhyul semata dari.Ini menyebabkan Buddhism mendapat gambaran buruk dan dianggap kuno dan agama tahyul oleh tingkat masyarakat yang berpendidikan.

Saat yang bersamaan, misionaris kristen secara aktif mengubah Chinese dan India di negara itu menjadi kristen.Hasilnya mereka dilarang mengajar di malaysia karena hukum yang berlaku, dan bukan penduduk asli malaysia menjadi target.
YM Dhammananda sendirian menahan serangan gencar misionaris kristen tahun 1950, khususnya di wilayah Kuala Lumpur.Beliau menyadari hanya satu cara melindungan para remaja, mendidik Chinese untuk memahami ajaran Sang Buddha. Di setiap ceramah, beliau menyajikan buddhism adalah rasional dan cara logik untuk membuktikan sejalan dengan ilmu pengetahuan modern.

Merayakan Waisak

Hari Waisak - Hari suci umat Buddha -ditandai dengan kelahiran, kebuddhaan dan terakhir parinibbananya Sang Buddha yang terlahir sebagai Pangeran Siddharta Gautama pada bulan purnama di bulan Waisak (Bulan Mei untuk kalendar sekarang) tahun 623 sebelum masehi. 
Siddharta mulai pencariannya untuk pencerahan saat berumur 29 tahun dan setelah enam tahun merealisasikan kebenaran sejati, menjadi Buddha- artinya - seorang yang sadar. Suatu yang menguntungkan bahwa kebuddhaanya jatuh pada saat bulan Waisak di tahun 588 sebelum masehi, pada bulan purnama. Sang Buddha mengajarkan ajarannya selama 45 tahun sampai Beliau meninggal (parinibbana) pada bulan purnama di tahun 543 sebelum masehi. Dengan demikian, semua kejadian besar kehidupan Sang Buddha terjadi pada bulan Purnama di bulan Waisak. Dengan demikian, umat Buddha baik Theravada maupun Mahayana memperingati tiga kejadian ini.

Dengan hati misionaris, YM Dhammananda memperingati perayaan Hari Waisak sebagai saat yang tepat untuk menjelaskan ajaran Sang Buddha kepada ratusan Buddhis chinese yang jarang datang ke Vihara Brickfield pada hari hari lain. Ribuan dari mereka disebut umat buddha Waisakan, yang hanya mengunjungi vihara sekali saat Hari Waisak. Banyak sekali Umat Buddha Waisak tidak memahami ajaran Sang Buddha. 
Di sini, YM Dhammananda mendapat kesempatan untuk mengadakan acara keagamaan, memberikan ceramah dan membagikan buku buku kecil kepada para pengunjuk saat hari Waisak. Walaupun mereka mengunjungi vihara sekali setahun,namun perjalanan mereka sangat berarti karena mereka belajar Dharma.Program samanera tahunan YM Dhammananda mengetahui dari sejarah Buddhism bahwa perkembangan dan penyebaran agama selalu melalui Sangha, khususnya Sangha di negeri asalnya.

Oleh karena itu, di bulan Desember 1976 beliau berinisiatif menyelenggarakan program pelatihan Sangha untuk umat Buddha yg fasih berbahasa inggris di vihara Brickfield. Tujuan dari program pelatihan adalah untuk memberikan kesempatan kepada umat Buddha Malaysia mengalami kehidupan sebagai seorang bhikkhu. Sejak saat itu program tersebut menjadi kegiatan tahunan dimana program tersebut berlangsung selama dua minggu sewaktu liburan sekolah pada akhir tahun.

Dengan di selenggarakannya program pelatihan ini, YM Dhammananda telah menaburkan bibit untuk Sangha local. Sejak program pertama di luncurkan, beberapa perserta sekarang ini telah menjadi anggota Sangha secara penuh.Ini memberikan harapan baik untuk komunitas umat Buddha Malaysia karena itu menandakan permulaan munculnya Sangha di negara tersebut. Di tahun 1980, upacara pentahbisan bhikkhu yg lebih tinggi kepada YM Sukita Dhamma (orang Afrika Amerika) dilaksanakan di Chapter House of the International Buddhist Pagoda di vihara oleh YM Dhammananda. Pentahbisan yang sama kepada orang orang asing lainnya juga dilakukan dari waktu ke waktu.

Membentuk Masyarakat Buddhis Misionaris


YM Dhammananda tiba di Malaya pada tahun 1952, pemberhentian pertama di Penang sebelum bermukim di Vihara Brickfield, Kuala Lumpur. Beliau datang atas undangan dari Sanasa Abhiwurdhi Wardhana Society(SAWS), yang kemudian melayani khususnya komunitas umat Buddha Sinhala. Dari sinilah, beliau dengan giat membawa ajaran Buddha kepada warga Malaysia, khususnya orang-orang non pribumi yg fasih berbahasa inggris yg mulai mengunjungi vihara untuk mendengarkan uraian dhammanya. Dengan semangat misionarisnya dia menyadari bahwa cita-citanya akan dapat tercapai lebih baik jika dia dapat mendirikan sebuah organisasi untuk menampung semangat-semangat dari pendatang baru buddhis.

Oleh karena itu, di tahun 1962 beliau mendirikan The Buddhist Missioary Society (BMS) di vihara. Perkumpulan ini bertanggung jawab atas penyebaran ajaran Buddha melalui penerbitan dan sokongan atas seminar-seminar buddhis, khotbah, dan diskusi rutin dhamma, pelatihan kepemimpinan pemuda dan aktivitas kesejahteraan. Peran utamanya sebagai organisasi misionaris adalah sebagai berikut:
- Mempelajari dan menyebarkan agama Buddha
- Mendukung, memperkuat dan mengembangkan kualitas–kualitas kebenaran, cinta kasih dan melatih ajaran Sang Buddha
- Mengadakan khotbah apabila memungkinkan
- Mencetak literature buddhis
- Membantu di pembukaan sekolah-sekolah keagamaan dan memberikan bantuan kepada organisasi-organisasi buddhis apabila di perlukan.
- Memberikan bantuan spiritual/nasehat kepada anggota anggota atau umat Buddha di saat-saat mengalami sakit dan/atau kematian

Bahkan YM Dhammananda tidak pernah membayangkan kesuksesan BMS seperti sekarang ini. Menggunakan Vihara Brickfield (sekarang dikenal dengan nama Buddhist Maha Vihara) sebagai pusat, bekerja sama dengan SAWS, BMS berkembang dengan pesat. BMS sangat efektif dalam mensponsori terbitan-terbitan dari sejumlah brosur dan literature agama Buddha, kebanyakan diantaranya ditulis oleh beliau sendiri. Judul-judul terkenal dari penulis lain juga diterbitkan ulang. Kebanyakan dari terbitan-terbitan ini diberikan secara gratis sementara yang lain memakai harga nominal yang sama untuk memastikan lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk membaca Dharma.

Proyek sukses lain adalah 12-pelajaran “Agama Buddha untuk anda” kursus korespondensi yang di luncurkan di tahun 1979. Dalam setahun lebih dari 500 murid telah mendaftar untuk kursus tersebut. BMS, di bawah petunjuk dari YM Dhammananda, telah menargetkan pada generasi yang lebih muda di banyak kegiatan-kegiatannya. 

Oleh karena itu, sebuah BMS Youth Section didirikan untuk mengkoordinasi aktivitas-aktivitas untuk remaja dan di bawah umur 40 tahun, termasuk kursus “Agama Buddha untuk pemula” untuk pendatang baru dharma di vihara. Sebuah BMS untuk wanita juga didirikan untuk menyediakan aktivitas-aktivitas keagamaan dan kesejahteraan. Beliau merupakan pelopor dalam menemukan majalah perkumpulan “The Voice of Buddhism”yang mana sekarang ini telah memasuki umur ke 33 sejak pertama kali terbitannya. 

Majalah tersebut disebarkan secara gratis kepada anggota-anggotanya dan pembaca pembaca di seluruh dunia, dengan menampilkan artikel artikel yang relevan dengan agama Buddha dan melaporkan kegiatan-kegiatan dari BMS dan SAW di Buddhist Maha Vihara.

Merangkul Komunitas Buddhis Malaysia


Program yg diadakan YM Dhammananda tidak terbatas ke sekedar penerbitan-penerbitan dan khotbah dalam batas Buddhist Maha Vihara. Beliau sangat sering berpergian hingga saat ini, walaupun usianya yang sudah tua dan kondisi kesehatan yang tidak baik untuk memberikan khotbah dhamma ke seluruh pelosok negeri, termasuk sabah dan Serawak. Di daerah yg kebanyakan pendengarnya lebih fasih berbahasa mandarin, reaksi yang diterima sangat besar walaupun khotbah-khotbah beliau disampaikan melalui penerjemah. Beliau juga merupakan penceramah rutin di forum umum yg diselenggarakan oleh kelompok umat Buddha di Singapura. Seperti khotbah-khotbahnya di Malaysia, khotbahnya mengenai agama Buddha di Singapura menarik perhatian ratusan pendengar.

Beliau menyadari bahwa masa depan dari umat Buddha Malaysia tergantung pada muda-mudi dan orang yang berpendidikan. Oleh karena itu, beliau selalu menempatkan perhatian khusus pada pelajar-pelajar, khususnya di perguruan tinggi dan universitas. Bersama-sama dengan almarhum YM Sumangalo, seorang bhikkhu misionaris Amerika buddhis, beliau merupakan pelopor dalam mendukung para pelajar buddhis di perguruan tinggi untuk mendirikan perkumpulan umat Buddha di kampus mereka.Disamping menjadi pembicara tetap di berbagai perguruan dan universitas, beliau juga mengatur khotbah dan diskusi khusus untuk pelajar-pelajar di kampus pada hari minggu pagi di Buddhist Maha Vihara untuk memperluas pengetahuan dan pengertian mereka tentang agama Buddha.

Tidaklah mengherankan bahwa beliau telah menjadi dermawan utama di Buddhist Gem Feloowship (BGF), yang didirikan pada tahun 1980 bertindak sebagai suatu organisasi untuk lulusan buddhis untuk menyokong komunitas pelajar-pelajar buddhis di dalam pelatihan dan pendidikan keagamaan. BGF telah bekerja sama dengan YM Dhammananda pada program misionaris untuk para mahasiswa dan komunitas buddhis pada umumnya. Terima kasih kepada program misionaris beliau, banyak lulusan dari perguruan tinggi yang sekarang merupakan pemimpin di berbagai perkumpulan Buddhist di seluruh negeri. Dengan adanya lebih dari 300 organisasi buddhis di Malaysia menggambarkan keanekaragaman tradisi dari aliran Theravada, Mahayana dan Vajrayana, YM Dhammananda selalu mendukung pendekatan secara universal terhadap semua aliran-aliran tersebut. 

Banyak organisasi yang mengikuti tradisi Mahayana dan juga merupakan anggota dari Young Buddhist Association of Malaysia (YBAM). Sedangkan yang lainnya merupakan cabang dari aliran Vajrayana. YM Dhammananda, bagaimanapun, selalu mendukung keterbukaan pikiran kepada para umatnya. Beliau telah mengundang YM Dalai Lama dan banyak guru-guru Tibet terkenal untuk mengunjungi Buddhist Maha Vihara dan memberikan khotbah. Demikian pula, almarhum Guru Hsuan Hua juga pernah memberikan ajaran di Buddhist Maha Vihara.

Di Penang, beliau bersama-sama dengan YM Hsin Yin dari Taiwan dalam membentuk forum Buddhist dengan judul “Dua Guru, Satu Pesan”. Semua khotbah-khotbah yang diberikan dalam forum ini adalah mengenai keterbukaan dan kedewasaan spiritualnya dalam pengertian dan pemenuhan kebutuhan keagamaan komunitas umat Buddha Malaysia yang mengikuti tradisi-tradisi yang berbeda.

Di Panggung Internasional

Reputasi YM. Dhammananda sebagai misionaris Buddhist dan sarjana telah terkenal baik di Malaysia dan luar negeri. Sewaktu masih muda, beliau terbiasa untuk melakukan perjalanan ke luar negeri untuk memberikan khotbah dhamma di konferensi-konferensi dan pertemuan-pertemuan utama umat Buddha. Sementara beliau sering hadir sebagai peserta yang mewakili Malaysia, beliau biasanya diundang sebagai pembicara konferensi, khususnya di pertemuan yang diorganisasikan oleh World Fellowship of Buddhists,World Conference on Religion and Peace, World Sangha Council and the Asian Council on Religion and Peace. Di waktu yang sama beliau telah berpartisipasi di sejumlah konferensi akademis dalam keagamaan dan filsafat sebagai pembicara yang mewakili agama Buddha.

Banyak kelompok-kelompok umat Buddha di barat yang telah mengundang YM Dhammananda untuk memberikan khotbah dhamma. Pada tahun 1970 dan 1975, beliau mengunjungi Inggris dan Amerika Serikat atas undangan dari kelompok-kelompok umat Buddha dan perkumpulan akademis di kedua Negara tersebut. Di Inggris, beliau mengunjungi mahasiswa-mahasiswa di Universitas Lancester, Universitas Hull, Universitas Manchester dan Universitas Oxford. Di Amerika Serikat beliau berbicara kepada mahasiswa-mahasiswa di dua Universitas Buddhis, yakni Universitas Dharma Realm Buddhist di Talmage,California dan Universitas Oriental Studies di Los Angeles. Beliau juga mengunjungi banyak Negara-negara lain untuk memberikan khotbah dhamma termasuk Australia, New Zealand, Indonesia, Singapura dan Sri Lanka.

Sebagai hasil dari melakukan perjalanan dan hubungan yang luas, beliau telah sukses mendirikan sebuah jaringan yang luas dan efektif dengan kelompok-kelompok umat Buddha di negara-negara dengan tradisi buddhis seperti Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Taiwan dan Japan dan di negara-negara yang minoritas buddhis termasuk Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Persamuan Bhikkhu Sri Lanka di Malaysia dan Singapura Sumbangan dari bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka kepada kelahiran dan pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara sangat besar sekali, khususnya di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Kebangkitan kembali di awal abad ke 20 telah tersebar khususnya oleh eksodus orangorang Sri Lanka ke Malaysia yang membawa serta guru guru keagamaan mereka dari Sri Lanka untuk memenuhi kebutuhan spiritual dan kebudayaan persaudaraan Buddhist Sinhala.



sumber:Internet

Tidak ada komentar: