Kamis, 01 Maret 2012

MAHAPADANA SUTTA





Sumber: Materi Pokok Kitab Suci Sutta Pitaka I, Modul 1-6.
Oleh: Cornelis Wowor, M.A.,
Penerbit: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu Dan Buddha
Dan Universitas Terbuka 1992




Khotbah ini dibabarkan Sang Buddha ketika beliau berada di Kareri-Kuti, Jetavana, Savathi. Khotbah ini dibabarkan Sang Buddha berkenaan dengan pembicaraan para bhikkhu, tentang sebab dan akibat dari perbuatan pada kehidupan-kehidupan yang lampau.


Para bhikkhu, telah sembilan puluh satu kappa berselang ketika Sang Buddha Vipassi, Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia. Telah tiga puluh satu kappa berselang ketika Sang Buddha Sikkhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia. Pada tiga puluh satu kappa yang lampau pula Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia. Pada kappa yang istimewa ini, Sang Buddha Kakusanda Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia. Pada kappa yang istimewa ini pula Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia. Pada kappa yang istimewa ini pula saya, Arahat Samma Sambuddha muncul di dunia.


Para bhikkhu, Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga ksatria. Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga ksatria. Sang Buddha Vassabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga ksatria. Sang Buddha Kakusanda Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga brahmana. Sang Buddha Konagama Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga brahmana. Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga brahmana. Saya sendiri Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga ksatria.


Para bhikkhu, Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kondanna. Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kondanna. Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kondanna. Sang Buddha Kakusanda Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kassapa. Sang Buddha Konagama Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kassapa. Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Kassapa. Saya sendiri Arahat Samma Sambuddha berasal dari keluarga Gotama.


Para bhikkhu, panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah delapan puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah tujuh puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah empat puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Kakusanda Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah empat puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah tiga puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah dua puluh ribu tahun. Panjang usia kehidupan pada masa saya adalah singkat sekali, pendek sekali, dan cepat sekali, hanya seratus tahun.


Para bhikkhu, Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Pataliya. Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Pundarika. Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Sala. Sang Buddha Kakusandha Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Sirisa. Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Udumbara. Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Nigrodha. Saya Arahat Samma Sambuddha mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Assattha.


Para bhikkhu, kedua murid utama Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah Khanda dan Tissa. Kedua murid utama Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah Abhibhu dan Sambava. Kedua murid utama Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah Vidhura dan Sanjiva. Kedua murid utama Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah Bhiyyosa dan Uttara. Kedua murid utama Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha adalah Tisa dan Bharadvaja. Kedua murid utamaku adalah Sariputta dan Moggallana.


Para bhikkhu, pada masa Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi tiga pertemuan para siswa (savaka sannipata), yaitu pertemuan pertama dihadiri oleh enam juta delapan ratus ribu bhikkhu arahat, pertemuan kedua dihadiri oleh seratus ribu bhikkhu arahat, sedangkan pertemuan ketiga dihadiri oleh delapan puluh ribu bhikkhu arahat. Pada masa Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi tiga pertemuan para siswa, yaitu pertemuan pertama dihadiri oleh seratus ribu bhikkhu arahat, pertemuan kedua dihadiri oleh delapan puluh ribu bhikkhu arahat, sedangkan pertemuan ketiga dihadiri oleh tujuh puluh ribu bhikkhu arahat. Pada masa Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi tiga pertemuan para siswa yaitu pertemuan pertama dihadiri oleh delapan puluh ribu bhikkhu arahat, pertemuan kedua dihadiri oleh tujuh puluh ribu bhikkhu arahat, sedangkan pertemuan ketiga dihadiri oleh enam puluh ribu bhikkhu arahat. Pada masa Sang Buddha Kakusandha Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi pertemuan para siswa yang dihadiri oleh empat puluh ribu bhikkhu arahat. Pada masa Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi pertemuan para siswa yang dihadiri oleh tiga puluh ribu bhikkhu semuanya arahat. Pada masa Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha terjadi pertemuan para siswa yang dihadiri oleh dua puluh ribu bhikkhu arahat. Pada masa saya sendiri terjadi pertemuan para siswa yang dihadiri oleh seribu dua ratus lima puluh bhikkhu arahat.


Para bhikkhu, bhikkhu pembantu Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Asoka. Bhikkhu pembantu Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Khemankura. Bhikkhu pembantu Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Upasannaka. Bhikkhu pembantu Sang Buddha Kakusandha Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Buddhija. Bhikkhu pembantu Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Sotthija. Bhikkhu pembantu Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Sabbamita. Bhikkhu pembantuku bernama Ananda.


Para bhikkhu, ayah Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Raja Bandhuma, ibunya bernama Bandhumati Devi; kerajaan dari raja Bandhuma bernama Bandhumati. Ayah Sang Buddha Sikhi Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Raja Aruna, ibunya bernama Pabbavati Devi; kerajaan dari raja Aruna bernama Arunawati. Ayah Sang Buddha Vessabhu Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Raja Supatita, ibunya bernama Yasavati Dewi; kerajaan dari raja Supatita bernama Anopama. Ayah Sang Buddha Kakusanda Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Brahmana Agidatta, ibunya bernama Visakha, pada waktu itu raja Khema yang memerintah di Kerajaan Khemavati. Ayah Sang Buddha Konagamana Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Brahmana Yannadatta, ibunya bernama Uttara, pada waktu itu raja Sobha yang memerintah di kerajaan Sobhavati. Ayah Sang Buddha Kassapa Bhagava Arahat Samma Sambuddha bernama Brahmana Brahmadatta, ibunya bernama Dhanavati, pada waktu itu raja Kiki yang memerintah di kerajaan Baranasi. Ayahku bernama raja Suddhodana, ibuku bernama Dewi Maya, raja Suddhodana memerintah di kerajaan Kapilavattu”.


“Para bhikkhu, saya telah menceritakan kepada kamu kalian tentang munculnya Buddha Vipassi, dimana beliau menjadi Buddha, nama kedua murid yang utamanya, jumlah siswa-siswanya yang berkumpul dalam pertemuan, nama bhikkhu pembantunya, kerajaan dimana mereka tinggal serta nama ayah dan ibunya.
Para bhikkhu, ketika Buddha Vipassi masih sebagai Bodhisatta, beliau lenyap dari alam Tusita, dan dengan penuh perhatian Beliau masuk ke rahim ibunya. Demikianlah hal itu terjadi sesuai dengan Dhammata. Para bhikkhu sesuai dengan Dhammata, ketika Bodhisatta lenyap dari alam (surga) Tusita dan masuk ke rahim ibunya, di alam semesta ini muncul cahaya gemilang yang tiada batasnya, yang melampaui kemegahan: para dewa maupun alam-alam yang lebih tinggi lagi, para mara, para brahmana, alam-alam yang lebih rendah termasuk para pertapa, para brahmana, para pangeran dan manusia lainnya. Begitu pula di angkasa raya yang tidak bermateri dan kelam gelap, yang terdapat di antara planet-planet, yang walaupun matahari dan bulan yang bercahaya terang dan megah tidak dapat menyinarinya; tetapi cahaya gemilang yang muncul itu menyinarinya. Dengan adanya cahaya tersebut, maka makhluk-makhluk yang ada dan hidup di situ dapat saling melihat, maka mereka berkata: “Ternyata ada makhluk-makhluk lain yang berada di sini”. Begitu pula sepuluh ribu tata surya (cakkavala) bergetar, bergoyang dan terjadi gempa. Cahaya gemilang yang tanpa batas itu muncul di dunia melampaui kemegahan para dewa. Demikianlah hal ini terjadi sesuai dengan dhammata.
Para bhikkhu, sesuai dengan dhammata bahwa bila Bodhisatta masuk ke rahim ibunya, maka empat putra dewa pergi ke empat penjuru untuk melindunginya, dan berkata: “Semoga tidak ada manusia, bukan manusia atau makhluk apapun yang mengganggu Bodhisatta atau ibu Bodhisatta!”
Para bhikkhu, sesuai dengan dhammata bahwa bila bodhisatta masuk ke rahim ibu, ibu bodhisatta tersebut adalah seorang wanita yang bermoral tinggi, ia menghindari pembunuhan, pencurian, perzinahan, dusta serta minum minuman yang memabukkan.


Para bhikkhu, sesuai dengan Dhammata bahwa pada hari ke tujuh setelah Bodhisatta lahir lahir, ibunya meninggal dunia dan terlahir kembali di alam surga Tusita.
Umumnya bagi wanita melahirkan anak setelah hamil selama sembilan bulan atau sepuluh bulan, tetapi ibu Bodhisatta tidak akan melahirkan bila belum genap sepuluh bulan masa kehamilannya. Demikianlah ini terjadi sesuai dengan Dhammata.


Bila wanita lain melahirkan anaknya dengan posisi duduk atau berbaring, tetapi ibu Bodhisatta melahirkan anak dengan posisi berdiri. Ketika Bodhisatta dilahirkan, para dewa yang terlebih dahulu menerimanya sesudah itu barulah manusia. Ketika Bodhisatta dilahirkan, dan sebelum Ia menyentuh tanah, empat putra dewa menerimanya, dan memberikannya kepada ibunya dengan berkata: “Berbaringlah, ibu, karena keagungan putra yang terlahir darimu!”
Ketika Bodhisatta dilahirkan, ia terlahir tanpa noda, tanpa dikotori oleh cairan, jaringan, darah atau oleh apapun, tetapi ia bersih dan suci. Demikianlah ini terjadi sesuai dengan Dhammata.


Ketika Bodhisatta dilahirkan oleh ibunya, terjadi dua macam gerimis yang dicurahkan dari angkasa, yaitu gerimis panas dan dingin, dengan itu mereka memandikan Bodhisatta dan ibunya. Bila Bodhisatta lahir, ia berdiri kokoh dengan kedua kaki-nya, dengan memandang ke utara ia melangkah tujuh langkah, dan masih dilindungi kain putih yang ditudungkan di atas kepalanya, ia menengok ke berbagai arah dan bagaikan suara banteng ia berkata: “Tertinggilah aku dalam dunia! Tertualah aku dalam dunia! Terbaiklah aku dalam dunia! Inilah kelahiranku yang terakhir! Tidak ada kelahiran berikut lagi bagiku.” Demikianlah hal ini terjadi sesuai dengan Dhammata.


Para bhikkhu, sesuai dengan Dhammata, ketika Bodhisatta lahir, di alam semesta ini muncul cahaya gemilang yang tiada batasnya, yang melampaui kemegahan para dewa… Begitu pula di angkasa raya yang tidak bermateri dan gelap kelam yang ada di antara planet-planet, yang walaupun matahari dan bulan bersinar terang dan megah tidak dapat menyinarinya, namun cahaya gemilang yang muncul itu dapat menyinarinya. Dengan adanya cahaya itu, maka makhluk-makhluk yang ada dan hidup di situ dapat saling melihat dan berkata: “Ternyata ada makhluk-makhluk lain di sini.” Begitu pula, sepuluh ribu tata surya (cakkavala) bergetar, bergoyang dan terjadi gempa.


Ketika pangeran Vipassi lahir, mereka mengabarkannya kepada raja Bandhumata dengan berkata: “Sri baginda, seorang putra telah terlahir bagimu! Silahkan Baginda melihatnya! Setelah raja Bandhumata melihat bayi itu, ia memanggil para Brahmana peramal dan berkata: “Brahmana sekalian lihatlah putra ini”.


Para bhikkhu, setelah para brahmana peramal melihat bayi itu, mereka berkata kepada raja Bandhumata: “Berbahagialah baginda, karena orang yang maha besar telah terlahir sebagai putramu! Beruntunglah baginda! Kemujuran adalah milikmu karena di dalam keluargamu telah terlahir seorang anak seperti dia! Baginda, karena bayi ini memiliki tiga puluh dua tanda orang agung (mahapurisa lakkhana), maka bagi dia hanya ada dua macam cara hidup saja dan tidak ada yang lain.”


Bilamana ia hidup sebagai orang biasa (berumah tangga) ia akan menjadi raja dunia, raja yang penuh kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk, pelindung orang-orang yang baik, pemilik tujuh macam harta dunia. Ketujuh macam harta dunia tersebut adalah: Kekuasaan gajah, kuda, permata, wanita, kepala keluarga dan penasehat. Ia akan mempunyai lebih dari seribu putra, perkasa, kesatria dan penghancur musuh-musuh yang kejam. Bila ia telah menguasai dunia ini sampai di ujung dunia, ia memerintah tidak dengan cara menganiaya atau menggunakan senjata, tetapi dengan kebenaran (dhamma). Tetapi bilamana putra itu meninggalkan kehidupan berumah tangga dengan menjadi pertapa, ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha untuk melenyapkan kabut kegelapan dunia.


Baginda, apakah tiga puluh dua tanda orang agung yang dimiliki anak itu? Bayi itu memiliki:
Telapak kaki rata (suppatitthita-pado)
Pada telapak terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
Tumit yang bagus (ayatapanhi)
Jari-jari panjang (digha-anguli)
Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudu taluna)
Tangan dan kaki bagaikan jala (jala hattha pado)
Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha pado)
Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavatthaguyho)
Kulit bagaikan perunggu berwarna emas.
Kulit sangat licin, sehingga tidak debu yang dapat melengket pada kulit.
Pada setiap pori di kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
Potongan tubuh yang agung (brahmuju-gatta)
Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo)
Pada kedua bahunya tidak ada lekukan.
Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho)
Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi)
Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu)
Empat puluh buah gigi (cattalisa-danto)
Gigi geligi rata (sama-danto)
Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto)
Gigi putih bersih (susukka-danto)
Lidah panjang (pahuta-jivha)
Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika (brahmassaro karavika-bhani).
Mata biru (abhinila-netto)
Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo)
Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas lembut (unna bhamukantare jata odata mudu-tula-sannibha)
Kepala bagaikan berserban (unhisa-siso)


Setelah berusia beberapa ribu tahun pangeran Vipassi naik kereta untuk berjalan-jalan, dalam perjalanan ia melihat orang tua yang lemah, orang sakit, mayat yang akan dikremasi dan seorang pertapa.


Kemudian pangeran Vipassi mencukur rambutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi petapa.


Petapa Vipassi bersemedi dan merenung: “Sekarang, yang nyata adalah usia tua dan kematian. Apakah yang menyebabkan usia tua dan kematian?” Melalui perenungan yang sungguh-sungguh maka muncul pengertian: ‘Sebab ada kelahiran (jati) maka ada usia tua dan kematian (jara-marana). Sebab ada proses menjadi (bhava). Sebab ada kehausan atau keinginan (tanha) maka ada kemelekatan. Sebab ada perasaan (vedana) maka ada kehausan atau keinginan, sebab ada kontak (phassa) maka ada perasaan. Sebab ada enam landasan-indera (salayatana) maka ada kontak. Sebab ada jasmani dan batin (nama-rupa) maka ada kesadaran. Sebab ada kesadaran (vinnana) maka ada jasmani dan batin. Kesadaran kembali lagi pada jasmani dan batin, dan tidak ada proses yang lain lagi. Seseorang lahir, berusia tua dan mati dari satu kondisi, terlahir kembali pada kondisi yang lain.


Para bhikkhu, kemudian dalam diri Bodhisatta Vipassi muncul pikiran sebagai berikut: “Apa yang sekarang tidak ada sehingga usia tua dan kematian juga tidak ada, apakah yang lenyap maka usia tua dan kematian lenyap?” Dengan merenungkan sungguh-sungguh maka timbul pengertiannya: “Sebab tidak ada kelahiran maka usia tua dan kematian tidak ada, bila kelahiran lenyap maka usia tua dan kematian lenyap… sebab proses-menjadi tidak ada maka kelahiran tidak ada, bila proses-menjadi lenyap maka kelahiran lenyap… sebab kemelekatan tidak ada maka proses-menjadi tidak ada, bila kemelekatan tidak ada maka proses-menjadi tidak ada, bila kemelekatan lenyap maka proses menjadi lenyap… kehausan tidak ada maka kemelekatan tidak ada, bila kehausan lenyap maka kemelekatan lenyap… sebab perasaan tidak ada maka kehausan tidak ada, bila perasaan tidak ada maka kehausan tidak ada, bila perasaan lenyap maka kehausan lenyap… sebab kontak tidak ada maka perasaan tidak ada, bila kontak lenyap maka perasaan lenyap… sebab keenam-landasan-indera tidak ada maka kontak tidak ada, bila keenam-landasan-indera tidak ada, bila jasmani dan batin lenyap maka keenam-landasan-indera lenyap… sebab kesadaran tidak ada maka jasmani dan batin tidak ada, bila kesadaran lenyap maka jasmani dan batin lenyap… sebab jasmani dan batin tidak ada maka kesadaran tidak ada, bila jasmani dan batin lenyap maka kesadaran lenyap.”


Para bhikkhu, kemudian dalam diri Bodhisatta Vipassi muncul pikiran sebagai berikut: “Saya telah menemukan Jalan Pembesan dengan vipassana yaitu dengan lenyapnya jasmani dan batin maka kesadaran lenyap, begitu sebaliknya; sebab jasmani dan batin lenyap maka keenam-landasan-indera lenyap, sebab keenam-landasan-indera lenyap maka kontak lenyap, sebab kontak lenyap maka perasaan lenyap, sebab perasaan lenyap maka kehausan lenyap, sebab kehausan lenyap maka kemelekatan lenyap, sebab kemelekatan lenyap maka proses-menjadi lenyap, sebab proses menjadi lenyap maka kelahiran lenyap, sebab kelahiran lenyap maka usia tua, kematian, kesedihan, ratap-tangis, kesakitan, ketidaksenangan dan putus asa lenyap. Demikianlah proses pelenyapan dari semua kelompok penderitaan.”


Para bhikkhu, selanjutnya Bodhisatta Vipassi tetap memperhatikan sungguh-sungguh tentang muncul dan lenyapnya dari kelima kelompok kemelekatan: “Inilah jasmani (rupa), inilah proses munculnya jasmani, inilah jasmani, inilah proses munculnya jasmani, inilah proses lenyapnya jasmani; inilah perasaan (vedana), inilah proses munculnya perasaan, inilah proses lenyapnya perasaan; inilah pencerapan (sanna), inilah proses munculnya pencerapan, inilah proses lenyapnya pencerapan; inilah bentuk-bentuk mental (sankhara), inilah proses munculnya bentuk-bentuk mental, inilah proses lenyapnya bentuk-bentuk mental; inilah kesadaran (vinnana), inilah proses munculnya kesadaran (vinnana), inilah proses lenyapnya kesadaran. Tidak lama kemudian, karena melakukan perenungan sungguh-sungguh mengenai muncul dan lenyapnya mengenai kelima kelompok kemelekatan. Dia terbebas dari kemelekatan dan batinnya terbebas dari semua kotoran-batin (asava).


Para bhikkhu, kemudian dalam diri Sang Buddha Vipassi Bhagava Arahat Samma Sambuddha muncul pikiran sebagai berikut: “Apakah sekarang saatnya saya mengajarkan dhamma?” Kemudian pikiran ini muncul: “Saya telah menemukan dhamma kebenaran ini, yang sangat dalam, yang sulit sekali untuk dipahami, sulit sekali dimengerti, damai, agung, bukan didasarkan pada logika, halus sekali dan hanya dapat dipahami oleh orang bijaksana. Sedangkan pada umumnya, orang-orang menyenangi hal-hal yang mengingat mereka, menuju hal-hal itu dan puas dengan hal-hal itu, adalah sulit bagi mereka untuk memahami, mengerti bahwa ‘ini disebabkan oleh itu’, dan segala sesuatu terjadi berdasarkan kondisi yang saling bergantungan. Hal-hal inipun sulit untuk dipahami, yakni untuk menenangkan semua kegiatan kehidupan, menghancurkan semua kehausan, menghentikan arus kehidupan yang berulang-ulang kali, tanpa nafsu indera, ketenangan batin dan nibbana.
Apabila sekarang ini saya mengajarkan dhamma, dan orang-orang tidak dapat memahami apa yang saya ajarkan, maka keadaan itu akan melelahkan dan sia-sia belaka.”


Ketika itu dewa Maha Brahma menyadari apa yang dipikirkan oleh Sang Buddha Vipassi, muncul pikiran: “Dunia akan lenyap dan binasa, karena Sang Buddha Vipassi mengurungkan niatnya untuk mengajarkan dhamma.”


Para bhikkhu, selanjutnya bagaikan seorang yang gagah perkasa yang merentangkan atau merapatkan kedua tangannya yang telah direntangkan, Maha Brahma lenyap dari alam Brahma, dan muncul di depan Sang Buddha Vipassi.


Para bhikkhu, setelah Maha Brahma membuka jubah pada bagian bahu kanannya, dan dengan kaki kanan yang ditekukkan serta tangan ber-anjali ke arah Sang Buddha Vipassi, ia berkata: “Bhante, semoga Sang Bhagava mengajarkan dhamma! Karena ada makhluk-makhluk yang mata mereka hanya dikotori debu sedikit saja, mereka akan dapat mengerti Dhamma, tetapi bila mereka tidak mendengar Dhamma, maka mereka akan meninggal tanpa memperoleh manfaat yang besar.”


Para bhikkhu, Sang Buddha Vipassi menyadari permohonan Maha Brahma, dan karena kasih sayangnya kepada semua makhluk, maka ia melihat dunia dengan mata-kebuddhaan. Dengan mata-kebuddhaan beliau dapat melihat makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori sedikit debu saja, dan makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori banyak debu; ada makhluk yang inderanya peka, ada yang tidak peka; ada makhluk yang bersifat baik dan ada yang buruk; ada yang pintar dan ada yang bodoh; di antara mereka ada yang menyadari adanya bahaya-bahaya dalam kehidupan di alam-alam dan bahaya dari perbuatan salah.


Para bhikkhu, kemudian berpikir sebagai berikut muncul dalam diri Sang Buddha Vipassi: “Kepada siapakah pertama-tama saya akan ajarkan Dhamma? Siapakah yang dapat mengerti dengan cepat Dhamma ini?” Selanjutnya beliau berpikir: “Di Bandhumati ada seorang pangeran bernama Khanda dan seorang putra pendeta bernama Tissa, mereka terdidik, pintar dan bijaksana, sejak lama ada debu sedikit saja yang mengotori mata mereka. Bilamana sekarang ini saya mengajarkan Dhamma kepada mereka, maka mereka akan cepat memahaminya.”


Sang Buddha Vipassi pergi ke Bandumati dan bertemu dengan mereka. Kepada mereka Sang Buddha Vipassi membabarkan kata-kata prakhotbah, yaitu, uraian tentang manfaat berdana, tentang moral (sila), tentang surga, tentang bahaya dan kesia-siaan serta gangguan-gangguan dari nafsu indera, manfaat karena meninggalkan pemuasan nafsu indera. Ketika Sang Buddha Vipassi mengetahui bahwa pikiran mereka telah siap, lembut, tanpa prasangka, baik sekali dan penuh keyakinan, maka berulah beliau menguraikan Dhamma yang telah ditemukan beliau, yaitu: Kebenaran tentang dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan melenyapkan dukkha. Selanjutnya, bagaikan kain bersih yang noda-nodanya telah dicuci semua dan telah siap intuk diwarnai; demikian pula Khanda dan Tissa walaupun masih duduk di situ, mencapai ‘mata-dhamma’ yang tanpa noda, dan mereka mengetahui: “Segala sesuatu yang muncul karena adanya sebab, pasti semuanya akan lenyap.”


Lalu mereka berkata kepada Sang Buddha Vipassi: “Bhante, sangat mengagumkan! Bagaikan orang-orang yang mengembalikan pada posisi yang benar apa yang telah terbalik, menemukan apa yang disembunyikan, menunjukkan jalan yang benar bagi yang salah, atau menerangi kegelapan sehingga bagi mereka yang mempunyai mata dapat melihat, begitulah Dhamma yang dinyatakan dengan berbagai cara oleh Sang Bhagava. Dengan ini kami berlindung kepada Sang Bhagava dan Dhamma. Kami memohon di-pabbajja oleh Sang Bhagava.”


Para bhikkhu, demikianlah, maka 84.000 orang dipabbajja dan diupasampadakan oleh Sang Buddha Vipassi. Sang Buddha Vipassi mengajarkan, membangkitkan semangat, mengarahkan dan menggembirakan mereka dengan uraian Dhamma yang menunjukkan bahaya, kesia-siaan dan keburukan dari segala sesuatu yang muncul karena adanya sebab dan manfaat dari pencapaian Nibbana. Setelah mereka dibimbing, semangat mereka dibangkitkan, diarahkan dan digembirakan dengan uraian-uraian Dhamma, tidak lama kemudian mereka terbebas dari kekotoran batin dan mencapai kesucian sempurna (bodhi).


Karena telah banyak orang yang diupasampadakan menjadi bhikkhu dan mereka semua adalah arahat, maka Sang Buddha Vipassi berkata: “Para bhikkhu, saya ijinkan kamu pergi. Pergilah para bhikkhu demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, demi kasih sayang kepada dunia, bekerjalah untuk kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi dengan berdua, tetapi pergilah sendiri-sendiri dengan arah masing-masing. Khotbahkanlah Dhamma yang indah pada awal, indah pada pertengahan, dan indah pada akhir, dalam ungkapan dan hakekatnya. Umumkanlah penghidupan suci yang sungguh-sungguh mulia dan sempurna kepada semua makhluk. Bagi makhluk-makhluk yang matanya dikotori debu sedikit, bila mereka mendengar Dhamma, mereka akan mengerti Dhamma; tetapi bila tidak mendengar Dhamma maka mereka akan meninggal tanpa memperoleh manfaat yang besar. Setelah enam tahun berselang, datanglah ke taman milik raja Bandhumati untuk mendengarkan Patimokkha.”


Pada hari itu semua bhikkhu berangkat untuk melaksanakan kewajiban mereka kepada semua orang.


Para bhikkhu, pada waktu itu ada 84.000 pusat keagamaan di seluruh Jambudipa. Pada hari akhir dari tahun pertama para dewa mengumumkan: “Kawan-kawan, satu telah berakhir, sekarang sisa lima tahun. Setelah lima tahun berselang nanti, kita pergi ke Bandhumati untuk mendengarkan Patimokkha.”
Demikianlah (begitu pula yang mereka umumkan di setiap akhir tahun) pada akhir tahun ke enam para dewa mengumumkan: “Kawan-kawan, enam tahun telah berakhir. Sekarang saatnya bagi kita ke Bandhumati untuk mendengarkan Patimokkha.” Di antara para bhikkhu tersebut ada yang pergi dengan menggunakan kekuatan batin mereka sendiri dan yang lain dibantu oleh kekuatan para dewa, sehingga pada hari yang sama mereka tiba di Bandhumati untuk mendengar Patimokkha.


Para bhikkhu, kemudian Sang Buddha Vipasi mengucapkan Patimokkha:


“Kesabaran adalah tapa yang paling tinggi
Para Buddha bersabda: “Nibbana yang
tertinggi dari segala sesuatu”
Beliau bukanlah pertapa yang merugikan
orang lain atau pertapa yang tidak menyebabkan
orang lain menjadi susah.Tidak melakukan kejahatan,
Mengembangkan kebajikan,
Mensucikan batin.
Itulah ajaran para Buddha


Tidak memfitnah, tidak menganiaya
Mengendalikan diri sesuai dengan peraturan
Makan dan tidur secukupnya, dan hidup menyepi
Senantiasa berpikir luhur
Itulah ajaran para Buddha.”


Para bhikkhu, berdasarkan pengertiannya yang sempurna tentang Dhamma-dhatu, maka Tathagata dapat mengingat kembali para Buddha yang lampau. Karena ia telah mencapai kesempurnaan, telah melenyapkan semua kekotoran batin, telah menghancurkan semua rintangan, telah memutuskan lingkaran kehidupan dan terbebas dari penderitan. Demikianlah, sehingga ia dapat mengingat kelahiran para Buddha, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, panjang usia kehidupan mereka, pasangan murid utama mereka, bhikkhu pembantu mereka, kelompok bhikkhu yang datang berkumpul; maka ia dapat berkata: &quotDemikian itulah kelahiran dari para Bhagava, nama mereka, keturunan mereka, keluarga mereka, sila (moral) mereka, Dhamma mereka, kebijaksanaan mereka, bagaimana mereka hidup dan bagaimana mereka mencapai kesucian.”


Demikianlah Sabda Sang Bhagava, dan para bhikkhu merasa gembira dan bersuka cita mendengar sabda Sang Buddha.

Tidak ada komentar: