Senin, 26 Desember 2011

BAB DUA



Kelompok Dua



12. Usaha Tanpa Henti
Ada dua hal, O para bhikkhu, yang telah kuketahui dengan baik: tidak merasa puas hati dengan keadaan pikiran baik yang sejauh ini telah dicapai, dan tidak mengendurkan usaha dalam perjuangan mencapai tujuan.1 Sungguh tanpa henti aku telah berjuang, dan aku bertekad: “Biarlah hanya kulit, otot dan tulangku yang tersisa; biarlah darah dan daging di tubuhku mengering, namun aku tetap tidak akan mengendurkan energi sampai aku berhasil mencapai apapun yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, energi manusia, usaha manusia!”

Melalui ketekunan telah kumenangkan pencerahan spiritual, melalui ketekunan telah kumenangkan jaminan yang tiada bandingnya untuk bebas dari belenggu.

Jika kalian juga, O para bhikkhu, mau berjuang tanpa henti dan bertekad: “Biarlah hanya kulit, otot dan tulangku yang tersisa; biarlah darah dan daging di tubuhku mengering, namun aku tetap tidak akan mengendurkan energi sampai aku berhasil mencapai apapun yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, energi manusia, usaha manusia!” – maka kalian juga akan segera merealisasikan melalui pengetahuan langsung kalian sendiri, langsung di dalam kehidupan ini juga, tujuan kehidupan suci yang tak tertandingi, yang untuk itu putra-putra keluarga baik-baik pergi meninggalkan kehidupan berumah menjadi tak berumah. Dan setelah memasuki kehidupan itu, kalian akan berdiam di sana.

Oleh karena itu, O para bhikkhu, kalian harus melatih diri kalian demikian: “Tanpa henti aku akan berjuang dan bertekad: ‘Biarlah hanya kulit, otot dan tulangku yang tersisa; biarlah darah dan daging di tubuhku mengering, namun aku tetap tidak akan mengendurkan energi sampai aku berhasil mencapai apapun yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, energi manusia, usaha manusia!’ ” Demikianlah kalian harus melatih diri.

(II, i, 5)


13. Tinggalkanlah Kejahatan

Tinggalkanlah kejahatan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja manusia tidak mungkin meninggalkan kejahatan, aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan maka kukatakan, “Tinggalkanlah kejahatan!”

Seandainya saja meninggalkan kejahatan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan “Tinggalkanlah kejahatan!”

Kembangkanlah kebaikan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, maka aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka kukatakan. “Kembangkanlah kebaikan!”

Seandainya saja pengembangan kebaikan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian mengembangkannya. Tetapi karena mengembangkan kebaikan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan, “Kembangkanlah kebaikan!”2

(II, ii, 9)


14. Ketenangan dan Pandangan Terang

Ada dua hal, O para bhikkhu, yang merupakan bagian dari pengetahuan tertinggi.3 Apakah dua hal itu? Ketenangan dan pandangan terang.4

Jika ketenangan dikembangkan, manfaat apa yang dihasilkannya? Pikiran menjadi berkembang. Dan apakah manfaat dari pikiran yang berkembang? Semua nafsu ditinggalkan.5

Jika pandangan terang dikembangkan, manfaat apa yang diperoleh? Kebijaksanaan menjadi berkembang, Dan apa manfaat dari kebijaksanaan yang berkembang? Semua kebodohan ditinggalkan.6

Pikiran yang dikotori oleh nafsu tidak terbebas; dan kebijaksanaan yang dikotori oleh kebodohan tidak dapat berkembang. Karena itu, para bhikkhu, melalui pudarnya nafsu terdapat pembebasan pikiran; dan melalui pudarnya kebodohan terdapat pembebasan oleh kebijaksanaan.7

(II, iii, 10)


15. Membalas Budi Orang Tua

Kunyatakan, O para bhikkhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan ayah.

Bahkan seandainya saja seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayahnya di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan kotoran mereka di sana bahkan – perbuatan itupun belum cukup, dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya. Bahkan seandainya saja dia mengangkat orang tuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya dalam tujuh macam harta, dia belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka. Apakah alasan untuk hal ini? Orang tua berbuat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.

Tetapi, O para bhikkhu, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam keyakinan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya tidak bermoral, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam moralitas; yang mendorong orang tuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kedermawanan; yang mendorong orang tuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan – orang seperti itu, O para bhikkhu, telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: dia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.

(II, iv, 2)


16. Penyebab-penyebab Konflik

Demikian yang telah saya dengar. Pada suatu ketika YM Mahakaccana sedang berdiam di Varana di tepi Danau Lumpur.8 Pada saat itu brahmana Aramadanda mendekati YM Mahakaccana dan bertukar salam dengannya. Setelah selesai bertukar salam dan bertegur sapa, dia duduk di satu sisi dan bertanya kepada YM Mahakaccana:

“Apakah penyebab dan alasannya, Guru Kaccana, sehingga bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, dan perumah tangga dengan perumah tangga?”

“Wahai brahmana, karena nafsu akan kesenangan indera, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan mengukuhi kesenangan-kesenangan indera maka bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, perumah tangga dengan perumah tangga.”

“Tetapi, Guru Kaccana, apakah penyebab dan alasannya sehingga petapa berselisih dengan petapa?”

“Brahmana, karena nafsu terhadap pandangan, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi, mengukuhi pandangan-pandangan maka petapa berselisih dengan petapa.”

“Tetapi, Guru Kaccana, apakah ada seseorang di dunia ini yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenangan indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan?”

“Ada, brahmana.”

“Siapakah orang itu, Guru Kaccana?”

“Di antara negara-negara timur, ada sebuah kota bernama Savatthi. Di sana berdiam Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan. Brahmana, Beliau-lah yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenangan indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan.”9

Setelah berbicara, brahmana Aramadanda bangkit dari duduknya, mengatur jubah atasnya di satu bahu, bersimpuh dengan lutut kanannya di tanah, dan menyatukan tangannya untuk memberikan hormat kepada Yang Terberkati. Dia mengucapkan ungkapan inspirasi ini tiga kali:
“Hormatku kepada Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan!
Hormatku kepada Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan!
Hormatku kepada Yang Terberkati, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang telah mengatasi nafsu dan kemelekatan pada kesenangan indera serta nafsu dan kemelekatan pada pandangan.

“Luar biasa, Guru Kaccana! Luar Biasa, Guru Kaccana! Sama seperti orang yang menegakkan apa yang terbalik, atau menguak apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau membawa lampu di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat bentuk. Demikian pula Dhamma telah dibabarkan dengan berbagai cara oleh Guru Kaccana. Sekarang saya pergi untuk berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sangha para bhikkhu. Biarlah Guru Kaccana menerima saya sebagai pengikut awam yang telah pergi berlindung sejak hari ini sampai akhir hidup saya.”10

(II, iv, 6)


17. Dua Macam Kebahagiaan
Ada dua macam kebahagiaan, O para bhikkhu. Kebahagiaan kehidupan rumah tangga dan kebahagiaan kehidupan bhikkhu. Tetapi kebahagiaan kehidupan bhikkhu adalah yang lebih tinggi dari antara keduanya.

… Kebahagiaan indera dan kebahagiaan meninggalkan kehidupan duniawi. Tetapi kebahagiaan meninggalkan kehidupan duniawi adalah yang lebih tinggi dari antara keduanya.

… Kebahagiaan yang ternoda dan kebahagiaan yang tak ternoda. 11 Tetapi kebahagiaan yang tak ternoda adalah lebih tinggi dari antara keduanya.

… Kebahagiaan yang berkenaan dengan seks dan kebahagiaan tanpa-seks – kebahagiaan tanpa-seks adalah yang lebih tinggi.

… Kebahagiaan yang luhur dan kebahagiaan yang memalukan – kebahagiaan yang luhur adalah yang lebih tinggi.

… Kebahagiaan jasmani dan kebahagiaan mental – kebahagiaan mental adalah yang lebih tinggi.

(II, vii; pilihan)


Catatan

1 Di sini Sang Buddha mengacu pada saat Beliau masih seorang Bodhisatta yang berjuang untuk pencerahan spiritual. AA menyebutkan, ketika “keadaan-keadaan yang baik dicapai”, jhana dan “sinar dari dalam” terlihat di dalam visi meditatif.

2 Teks ini menyatakan, dengan kata-kata sederhana yang mudah diingat, potensi manusia untuk mencapai apa yang baik. Dengan demikian gugurlah keabsahan tuduhan umum bahwa Buddhisme bersifat pesimis. Tetapi karena manusia, seperti yang kita ketahui dengan baik, juga memiliki potensi kuat untuk perbuatan jahat, tidak banyak alasan untuk optimisme yang keterlaluan. Yang mana dari potensi kita untuk – yang baik atau jahat – menjadi aktual, bergantung pada pilihan kita sendiri. Apa yang membentuk seorang manusia, adalah memiliki pilihan dan menggunakannya. Rangkaian pilihan kita dan kesadaran sebelumnya tentang pilihan itu akan berkembang bersama pertumbuhan kewaspadaan dan kebijaksanaan. Dan bersama dengan bertumbuhnya kedua sifat ini, maka kekuatan-kekuatan yang tampaknya “mengondisikan” dan bahkan memaksa pilihan kita untuk menuju ke arah yang salah akan menjadi lemah. Sungguh ini merupakan suatu jaminan Sang Buddha yang berani dan menggembirakan – benar-benar suatu “raungan singa” ketika Beliau berkata, dalam arti yang amat luas dan dalam, bahwa kebaikan dapat dicapai dan kejahatan dapat ditaklukkan.

3 Vijjabhagiya; yaitu mereka merupakan unsur-unsur pokok dari pengetahuan tertinggi (vijja). Ini bisa mengacu pada tiga pengetahuan sejati (tevijja), yang sering disebutkan di dalam khotbah-khotbah: (1) pengetahuan mengenai ingatan terhadap kelahiran terdahulu; (2) pengetahuan mengenai meninggalnya para makhluk dan kelahiran kembali mereka; dan (3) pengetahuan mengenai hancurnya noda-noda, yaitu pencapaian arahat; atau ini bisa juga mengacu pada pembagian berunsur delapan: (1) pengetahuan pandangan terang (vipassana-ñana), (2) kekuatan untuk menciptakan tubuh yang dibentuk oleh pikiran (manomaya iddhi), (3)-(8) enam pengetahuan langsung (abhiñña). Untuk yang terakhir (yang mencakup tiga pengetahuan sejati), lihat Teks 41.

4 Ketenangan (samatha) merupakan suatu konsentrasi yang memuncak dalam jhana, keadaan-keadaaan yang luar biasa tenang dan damai; pandangan terang (vipassana), menurut AA adalah “pengetahuan yang memahami bentukan-bentukan” (sankhara-pariggahaka-ñana) sebagai tidak kekal, penderitaan, dan tanpa diri.

5 Ketika ketenangan dikembangkan secara terpisah dari pandangan terang, ia menimbulkan penekanan terhadap lima rintangan (yang pertama adalah nafsu indera), dan memunculkan “pikiran yang lebih tinggi” dari jhana, yang memiliki ciri tidak adanya nafsu. Tetapi setelah ketenangan sudah dikembangkan bersama dengan pandangan terang maka ia dapat memunculkan jalan mulia, yang menghapus kecenderungan nafsu indera yang mendasari (melalui jalan Yang-Tidak-Kembali-Lagi) dan kemelekatan terhadap dumadi (melalui jalan Arahat). AA menginterpretasikan ketenangan di sini dalam arti kedua – agaknya karena kalimat terakhir dari sutta – dan menjelaskan: “Pikiran menjadi berkembang menuju kesadaran-sang-jalan (magga-citta). Nafsu (raga) menjadi ditinggalkan karena ini berlawanan (tidak sesuai) dengan kesadaran-sang-jalan, dan jalan itu tidak sesuai dengan nafsu. Pada suatu momen nafsu, tidak ada kesadaran-sang-jalan; dan pada momen sang jalan, tidak ada nafsu. Ketika nafsu muncul, ia menghalangi munculnya momen-sang-jalan, memotong di dasarnya; tetapi ketika sang jalan muncul, ia mencabut akar nafsu dan menghapusnya.”

6 AA: “Ini merupakan kebijaksanaan sang jalan (magga-pañña) yang menjadi berkembang, yaitu diperluas dan diperjelas. ‘Kebodohan batin yang ditinggalkan’ merupakan kebodohan besar di akar siklus kehidupan. Kebodohan batin tidak sesuai dengan kebijaksanaan-sang-jalan, dan kebijaksanaan-sang-jalan tidak sesuai dengan kebodohan batin. Pada momen kebodohan batin, tidak ada kebebijaksanaan-sang-jalan, dan pada momen kebijaksanaan-sang-jalan tidak bisa ada kebodohan batin. Ketika kebodohan batin muncul, ia menghalangi munculnya kebijaksanaan-sang-jalan, dan memotong di dasarnya; tetapi ketika kebijaksanaan-sang-jalan muncul, ia mencabut akar dan menghapus kebodohan batin. Dengan cara ini, dua fenomena yang ada-bersama telah ditangani di sini: kesadaran-sang-jalan (magga-citta) dan kebijaksanaan-sang-jalan (magga-pañña).”

7 Tingkat Arahat sering dilukiskan sebagai “pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan” (anasava-cetovimutti-paññavimutti); lihat Teks 22, dll. AA menjelaskan “pembebasan pikiran” sebagai konsentrasi yang dihubungkan dengan buah (dari tingkat arahat;phala-samadhi), “pembebasan lewat kebijaksanaan” (paññavimutti) sebagai kebijaksanaan yang dihubungkan dengan buah itu.

8 Mahakaccana adalah salah satu siswa arahat Sang Buddha yang paling menonjol, yang dianggap paling hebat dalam kemampuannya menjelaskan secara terperinci cetusan-cetusan ringkas Sang Guru.

9 Sebagai Arahat, Mahakaccana mungkin telah mengajukan diri sebagai contoh dari orang yang telah menanggulangi ketagihan pada kesenangan-kesenangan indera dan ketagihan pada pandangan, tetapi karena kerendahan hati maka beliau mengacu pada Sang Buddha.

10 Ini merupakan rumusan kitab yang ada tentang “pergi untuk berlindung”, tindakan awal bagi orang yang menjadi pengikut Sang Buddha. Biasanya, pernyataan ini dibuat di hadapan Sang Buddha sendiri sebagai saksinya, seperti di Teks 34 di bawah.

11 Sasavanca sukham anasavañca sukham. Hal ini mengacu pada tiga noda: nafsu indera, nafsu terhadap kehidupan, dan kebodohan batin. Lihat Teks 131 §4. Orang yang nodanya telah dihancurkan (khinasava) adalah seorang arahat.



http://www.samaggi-phala.or.id





Tidak ada komentar: