Rabu, 28 Desember 2011

BAB TIGA



Kelompok Tiga


18. Orang Tolol dan Orang Bijaksana
Para bhikkhu, orang tolol ditandai oleh perilakunya, orang bijaksana ditandai oleh perilakunya. Kebijaksanaan memancar terang di dalam perilaku.

Lewat tiga hal orang tolol dapat dikenali: lewat perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang buruk.

Lewat tiga hal orang bijaksana dapat dikenali: lewat perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang baik.

(III, 2)


19. Dhamma, Sang Pengawas

Sang Buddha berkata: “Para bhikkhu, bahkan seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur, tidak mengatur wilayahnya tanpa pengawas.1

Setelah Beliau berbicara, seorang bhikkhu berkata kepada Sang Bhagava demikian: “Tetapi Bhante, siapakah pengawas penguasa dunia itu, raja yang adil dan luhur itu?”

“Dhamma, hukum kebenaran-lah, O para bhikkhu,” jawab Sang Bhagava.2

“Dalam hal ini, seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur – yang bergantung pada hukum kebenaran (Dhamma), yang menghargai, menjunjung tinggi dan menghormatinya, dengan hukum kebenaran sebagai panji, bendera dan kekuasaannya – dialah yang memberikan perlindungan, naungan, keamanan bagi ksatria yang melayaninya; bagi bala tentaranya, bagi para brahmana dan perumah tangga, bagi penghuni kota dan desa, bagi para petapa dan brahmana, bagi binatang dan burung.

“Seorang penguasa dunia, raja yang adil dan luhur – yang dengan demikian memberikan perlindungan, naungan dan keamanan bagi semuanya – dialah yang berkuasa dengan berdasarkan hanya pada kebenaran. Dan peraturan itu tidak dapat digulingkan oleh makhluk jahat apapun dalam bentuk manusia.

“Walaupun demikian, para bhikkhu, Sang Tathagata, Sang Arahat, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, Raja Dhamma yang adil dan luhur – yang bergantung pada Dhamma, menghargai Dhamma, menjunjung tinggi Dhamma dan menghormatinya, dengan Dhamma sebagai panji, bendera dan kekuasaannya – Beliaulah yang memberikan perlindungan, naungan dan keamanan hukum dalam hal tindakan lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. (Beliau mengajarkan demikian): ‘Tindakan tubuh seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan. Tindakan ucapan seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan. Tindakan mental seperti ini seharusnya dijalankan, dan yang seperti itu seharusnya tidak dijalankan.’

“Sang Tathagata, Sang Arahat, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, Raja Dhamma yang adil dan luhur, yang dengan demikian menyediakan perlindungan, naungan dan keamanan hukum dalam hal tindakan lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, Beliaulah yang memutar Roda Dhamma yang tiada bandingnya sesuai dengan Dhamma saja. Dan Roda Dhamma tidak dapat diputar balik oleh petapa atau brahmana apapun, oleh dewa atau Mara atau Brahma atau siapapun di dunia ini.”3

(III, 14)


20. Penyebab Rasa Malu

“Para bhikkhu, jika para petapa kelana yang memiliki kepercayaan lain bertanya kepada kalian: “Sahabat, apakah demi kelahiran kembali di alam surgawi kalian menjalani kehidupan suci di bawah bimbingan petapa Gotama?’ – tidakkah kalian akan merasa tidak suka, malu dan terhina?”

“Tentu saja, Bhante.”

“Kalau demikian, para bhikkhu, kalian mengatakan bahwa kalian merasa sakit, malu dan tidak suka karena ide usia yang amat panjang, keelokan yang amat sangat, kebahagiaan yang tinggi, keagungan yang tinggi dan kekuasaan yang tinggi. Betapa kalian harus merasa jauh lebih tidak suka, malu dan terhina oleh perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran!”

(III, 18)


21. Tiga Jenis Pasien

Para bhikkhu, ada tiga jenis pasien yang terdapat di dunia ini, Apakah yang tiga itu?

Ada satu pasien: tidak peduli apakah dia memperoleh gizi yang sesuai, obat yang sesuai, dan perawatan yang memadai atau tidak, dia tidak akan sembuh dari penyakitnya.

Ada pasien lain: tidak peduli apakah dia memperoleh semua itu atau tidak, dia akan sembuh dari penyakitnya.

Ada pasien lain lagi yang akan sembuh dari penyakitnya hanya jika dia mendapat gizi yang cocok, obat yang cocok, dan perawatan yang memadai, tetapi tidak akan sembuh jika dia tidak memperolehnya. Baginya, para bhikkhu, diet khusus, obat penyembuh dan perawatan yang baik diberikan. Tetapi selain dia, dua jenis pasien yang lain pun harus dilayani juga.4

Tiga jenis pasien ini terdapat di dunia ini.

Begitu pula, para bhikkhu, ada tiga jenis manusia lain yang dapat dibandingkan dengan tiga pasien itu.
Ada satu jenis manusia: tidak peduli apakah dia memiliki kesempatan melihat Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dibabarkan oleh Beliau atau tidak, dia tidak akan masuk ke jalan kepastian dan tidak akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik.5

Ada manusia lain: tidak peduli apakah dia memiliki kesempatan bertemu Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dinyatakan oleh Beliau atau tidak, dia akan masuk ke jalan kepastian dan akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik.

Demikian juga, ada manusia yang akan masuk ke jalan kepastian dan akan mencapai kesempurnaan di dalam keadaan-keadaan yang baik hanya jika dia memiliki kesempatan melihat Sang Tathagata dan mendengarkan Dhamma serta Vinaya yang dibabarkan oleh Beliau. Namun dia tidak akan mencapai hal itu jika dia tidak mendapat kesempatan ini. Bagi manusia inilah, O para bhikkhu, diberikan instruksi Dhamma. Tetapi selain dia, kepada dua yang lain pun Dhamma harus diajarkan juga.6

Inilah tiga jenis manusia yang terdapat di dunia ini, yang dapat dibandingkan dengan tiga pasien itu.

(III, 22)


22. Tiga Jenis Mentalitas
Para bhikkhu, ada tiga jenis manusia yang terdapat di dunia ini. Apakah yang tiga itu? Ada manusia dengan pikiran seperti luka menganga; manusia dengan pikiran seperti kilat;7 manusia dengan pikiran seperti berlian.

Para bhikkhu, seperti apakah manusia yang memiliki pikiran seperti luka menganga? Dia adalah orang yang cepat naik darah dan mudah jengkel. Jika dikritik sedikit saja, dia sudah kehilangan kesabaran, lalu menjadi marah dan jengkel; dia keras kepala dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kejengkelan. Persis seperti, misalnya, luka bernanah yang jika dipukul dengan tongkat atau pecahan tanah liat akan mengeluarkan lebih banyak nanah, demikian juga orang yang cepat naik darah …. dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kejengkelan. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti luka menganga.

Dan seperti apakah manusia yang memiliki pikiran seperti kilat? Dia adalah orang yang memahami sebagaimana adanya, “Inilah penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah asal mula penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah berhentinya penderitaan”; dia memahami sebagaimana adanya, “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan.” Sama seperti orang yang baik penglihatannya akan dapat melihat objek di dalam kegelapan malam lewat sinar kilat, demikian pula orang yang memahami Empat Kebenaran Mulia sebagaimana adanya. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti kilat. Dan seperti apakah manusia dengan pikiran seperti berlian? Dia adalah orang yang lewat hancurnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga, masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena dia telah merealisasikannya bagi dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung. Sama seperti tidak ada yang tidak dapat dipotong oleh berlian – entah itu batu permata lain atau batu karang – demikian pula orang itu, lewat hancurnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga, masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena dia telah merealisasikannya bagi dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung. Orang seperti ini dikatakan memiliki pikiran seperti berlian.

Inilah tiga jenis manusia yang terdapat di dunia.

(III, 25)


23. Bebas dari Pembentukan Aku
Pada suatu ketika YM Sariputta mendekati Sang Buddha, menghormat Beliau dan duduk di satu sisi.8Yang Terberkati kemudian berkata kepadanya:

“Sariputta, apakah aku mengajarkan Dhamma secara ringkas, atau apakah aku mengajarkannya secara rinci, atau apakah aku mengajarkannya baik secara ringkas maupun rinci, sulit menemukan mereka yang memahaminya.”

“Sekaranglah, Yang Terberkati, waktu untuk itu! Sekaranglah, Yang Tertinggi, waktu bagi Yang Terberkati untuk mengajarkan Dhamma secara ringkas, untuk mengajarkannya secara rinci, dan untuk mengajarkannya baik secara ringkas maupun rinci. Akan ada orang orang yang memahami Dhamma.’

“Kalau demikian, Sariputta, beginilah orang seharusnya melatih diri: ‘Kita seharusnya tidak mengembangkan pembentukan aku, pembentukan-milikku atau kecenderungan yang mendasari kesombongan baik yang berkenaan dengan tubuh yang sadar ini atau berkenaan dengan semua objek luar9 – dan kita seharusnya masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran, pembebasan lewat kebijaksanaan, sehingga kita tidak lagi terkena pembentukan aku, pembentukan-milikku dan kecenderungan yang mendasari kesombongan. Beginilah caranya orang seharusnya melatih diri.

“Sariputta, jika seorang bhikkhu tidak lagi memiliki pembentukan-aku, pembentukan-milikku dan kecenderungan yang mendasari kesombongan – baik yang berkenaan dengan tubuh yang sadar ini atau berkenaan dengan semua objek luar – dan ketika dia masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran, pembebasan lewat kebijaksanaan, maka dia disebut seorang bhikkhu yang telah memotong nafsu keinginan dan menyingkirkan segala penghalang, orang yang telah mengakhiri penderitaan, dengan sepenuhnya menghancurkan kesombongan.

“Mengenai hal ini, Sariputta, telah kukatakan di dalam ‘Pertanyaan-pertanyaan Udaya’ di ‘Jalan Menuju Pantai Seberang’:10

“Ditinggalkannya nafsu-nafsu indera
Beserta sentuhan kesedihan yang pahit;
Lenyapnya kelambanan dan ketumpulan mental,
Terhalaunya kecemasan yang mengganggu;
Kewaspadaan dan ketenangan yang murni
Yang didahului oleh pemikiran mengenai Dhamma:
Aku nyatakan, inilah pembebasan lewat pengetahuan,
Hancurnya kebodohan.”11

(III, 32)


24. Penyebab-penyebab Tindakan

Para bhikkhu, ada tiga penyebab asal mula tindakan. Apakah yang tiga itu? Keserakahan, kebencian dan kegelapan batin.12

Suatu tindakan yang dilakukan dengan keserakahan, terlahir dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, muncul dari keserakahan, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.13

Suatu tindakan yang dilakukan dengan kebencian, terlahir dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, muncul dari kebencian, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Suatu tindakan yang dilakukan dengan kebodohan batin, terlahir dari kebodohan batin, disebabkan oleh kebodohan batin, muncul dari kebodohan batin, akan masak di manapun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Para bhikkhu, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan yang ditaruh di ladang subur, ditabur di tanah yang sudah dipersiapkan dengan baik: jika ada cukup hujan, benih-benih ini akan tumbuh, menjadi tinggi dan amat berkembang.

Demikian pula, O para bhikkhu, tindakan apapun yang dilakukan karena keserakahan, kebencian atau kebodohan batin… akan masak di mana pun individu itu terlahir; dan di manapun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya.

Para bhikkhu, inilah tiga penyebab asal mula tindakan.

Para bhikkhu, ada tiga penyebab lain untuk asal mula tindakan.

Apakah yang tiga itu? Tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin.

Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-keserakahan, terlahir dari tanpa-keserakahan, disebabkan oleh tanpa-keserakahan, muncul dari tanpa-keserakahan… Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-kebencian… Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa-kebodohan-batin, terlahir dari tanpa-kebodohan-batin, disebabkan oleh tanpa-kebodohan- batin, muncul dari tanpa-kebodohan-batin, begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan batin lenyap maka tindakan itu ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa depan.14

Para bhikkhu, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan ditaruh di ladang yang subur: jika seseorang membakarnya sehingga menjadi abu, kemudian menampi abu itu di angin yang kencang atau membiarkannya terbawa arus yang mengalir deras, maka benih-benih itu akan langsung hancur, lenyap sepenuhnya, dibuat tak mampu bertunas dan tidak lagi bisa muncul di masa depan.15
Demikian pula, para bhikkhu, tindakan yang dilakukan di dalam tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, tanpa-kebodohan-batin. Begitu keserakahan, kebencian dan kebodohan batin telah lenyap, tindakan tindakan ini ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa depan.
Para bhikkhu, inilah tiga penyebab lain bagi asal mula tindakan.

(III, 33)


25. Tidur Nyenyak
Demikian yang telah saya dengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negara Alavi, Beliau beristirahat di atas tumpukan daun yang ditebarkan di jalur ternak di hutan simsapa.

Pada saat itu Hatthaka dari Alavi16 lewat di jalur itu ketika sedang berjalan-jalan, dan di sana dia melihat Sang Bhagava duduk di atas tumpukan daun. Setelah mendekati Yang Terberkati dan memberi hormat kepada Beliau, Hatthaka duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava:

“Yang mulia, apakah Bhante telah tidur nyenyak?”

“Ya, pangeran, aku telah tidur nyenyak. Di antara mereka di dunia yang selalu tidur nyenyak, akulah salah satunya.”

“Tetapi, Bhante, malam-malam musim dingin ini sungguh dingin dan ini adalah minggu penuh es. Betapa kerasnya tanah yang telah diinjak-injak ternak, betapa tipisnya tebaran daun, betapa jarangnya daun di atas pohon, betapa tipisnya jubah coklat seorang bhikkhu dan betapa dinginnya angin yang bertiup. Walaupun demikian, Yang Terberkati mengatakan bahwa Beliau tidur nyenyak dan bahwa Beliau adalah salah satu di antara mereka di dunia yang selalu tidur nyenyak.”

“Pangeran, sekarang akan kuajukan pertanyaan tentang hal ini dan engkau boleh menjawab menurut pendapatmu. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini, pangeran? Misalnya ada seorang perumah tangga atau putra perumah tangga yang tinggal di rumah dengan atap yang tinggi, diplester di luar dalam, terlindung dari angin, dengan pintu yang dikunci dan jendela tertutup. Dan ada tempat tidur di rumah, yang ditutupi permadani wol hitam yang berbulu panjang, dengan sprei wol putih, penutup ranjang yang berhias bunga, dibentangi kulit rusa yang sangat indah, dengan tirai di atas bagian kepala dan bantal merah menyala di kedua ujungnya. Juga ada lentera yang menyala di sana dan empat istri melayaninya dengan baik. Bagaimanakah pendapatmu, pangeran: apakah orang itu akan tidur nyenyak atau tidak, atau bagaimana?”

“Dia pasti akan tidur nyenyak, Bhante. Dia akan menjadi salah satu dari mereka di dunia ini yang tidur nyenyak.”

“Bagaimana pendapatmu, pangeran? Apakah tidak mungkin di dalam diri perumah tangga atau putra perumah tangga itu ada rasa kesal pada tubuh atau pikirannya, yang disebabkan oleh nafsu, kebencian dan kebodohan batin, yang menyiksanya sehingga dia tidak dapat tidur nyenyak?”

“Mungkin saja demikian, Bhante.”

“Nah, pangeran, nafsu, kebencian dan kebodohan batin yang menyiksa perumah tangga itu, yang menyebabkan dia tidak tidur nyenyak, telah ditinggalkan oleh Sang Tathagata, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul pohon palma, terhapus sehingga mereka tidak lagi bisa muncul di masa depan. Oleh karena itulah, pangeran, aku telah tidur nyenyak.”

Brahmana yang dirinya telah padam
Selalu tidur dengan bahagia;
Dia tidak melekati nafsu-nafsu indera,
Bebas dari penopang, sejuk pikirannya.
Setelah memotong semua jerat kemelekatan,
Setelah melenyapkan rasa was-was jauh di dalam hati,
Dia Yang Damai pun tidur dengan bahagia,
Mencapai kedamaian pikiran yang sempurna.

(III, 34)


26. Tiga Utusan Agung
Ada tiga utusan agung,17 para bhikkhu. Apakah yang tiga itu?

Ada orang yang memiliki perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Karena memiliki perilaku buruk seperti itu, pada saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam penderitaan, di tempat yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Di sana penjaga neraka menarik kedua tangannya dan menyeretnya ke hadapan Yama, Raja Kematian, sambil berkata: “Tuanku, orang ini tidak memiliki rasa hormat terhadap ayah dan ibunya, tidak juga terhadap para petapa dan brahmana, tidak juga dia menghargai mereka yang lebih tua di keluarga. Semoga Tuanku menjatuhkan hukuman yang sesuai kepadanya!”

Kemudian, para bhikkhu, Raja Yama bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya mengenai utusan agung pertama: “Apakah engkau tidak pernah melihat, sahabat, utusan agung pertama yang muncul di antara umat manusia?”

Dan dia menjawab: “Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

Kemudian Raja Yama berkata: “Tetapi, sahabat, tidakkah engkau pernah melihat wanita atau pria, yang berusia delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, yang rapuh, bungkuk bagaikan siku atap, melengkung, bersandar pada tongkat, berjalan tertatih-tatih, sakit-sakitan, karena masa muda dan kekuatannya telah lenyap, giginya ompong, rambutnya kelabu dan jarang atau gundul, kulitnya berkeriput, dan kaki tangannya bengkak?”

Dan dia menjawab: “Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

Kemudian Raja Yama berkata kepadanya: “Sahabat, tidakkah pernah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena usia tua dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

Kemudian Raja Yama berkata: “Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau harus mengalami buahnya.”

Para bhikkhu, setelah Raja Yama bertanya, memeriksa dan berkata kepadanya demikian mengenai utusan agung pertama, sekali lagi beliau bertanya, memeriksa dan berkata kepada laki-laki itu tentang utusan kedua, dengan mengatakan: “Tidakkah pernah terpikirkan olehmu, sahabat, utusan agung kedua yang muncul di antara umat manusia?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

“Tetapi sahabat, tidakkah engkau pernah melihat seorang wanita atau pria yang sakit, dan dalam kesakitan, dia terbaring di atas kotorannya sendiri dan harus diangkat oleh seseorang dan dibaringkan oleh orang lain?”

“Ya, Tuan, saya telah melihat itu.”

“Sahabat, tidakkah pernah terpikir olehmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena penyakit dan tidak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

“Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau akan harus mengalami buahnya.”

Para bhikkhu, setelah Raja Yama bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya demikian sehubungan dengan utusan agung kedua, sekali lagi beliau bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya tentang utusan agung ketiga, dengan mengatakan: “Tidakkah engkau pernah melihat, sahabat, utusan agung ketiga yang muncul di antara umat manusia?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melihatnya.”

“Tetapi, sahabat, tidakkah engkau pernah melihat seorang wanita atau pria, sesudah dua atau tiga hari meninggal, yang mayatnya bengkak, pucat dan membusuk?”

“Ya, Tuan, saya telah melihatnya.”

“Kalau demikian, sahabat, tidakkah pernah muncul di pikiranmu, sebagai orang dewasa yang pandai, ‘Aku juga akan terkena kematian dan tak dapat lolos darinya. Biarlah sekarang kulakukan tindakan-tindakan yang luhur lewat tubuh, ucapan, dan pikiran’?”

“Tidak, Tuan, saya tidak melakukannya. Saya lalai.”

“Karena lalai, sahabat, engkau telah gagal melakukan tindakan-tindakan luhur lewat tubuh, ucapan dan pikiran. Maka engkau akan diperlakukan sesuai dengan kelalaianmu. Tindakan jahatmu itu tidak dilakukan oleh ibu atau ayah, saudara lelaki, saudara perempuan, teman atau pendamping, tidak juga oleh sanak saudara, para dewa, para petapa atau brahmana. Tetapi engkau sendirilah yang telah melakukan tindakan jahat itu, dan engkau akan harus mengalami buahnya.”

Kemudian setelah bertanya, memeriksa dan berbicara kepadanya mengenai utusan agung ketiga, Raja Yama pun diam.

Setelah itu, para penjaga neraka menjatuhkan berbagai jenis siksaan kepadanya, yang menyebabkan dia menderita rasa sakit yang menusuk, parah, tajam, dan menyedihkan. Walaupun demikian, dia tidak mati sampai tindakan jahatnya itu telah habis.18

(III, 35)


27. Kesombongan Berunsur Tiga
Aku dibesarkan dengan lembut, O para bhikkhu: sangat lembut, dengan amat sangat lembut aku diasuh. Di rumah ayahku dibuat kolam-kolam teratai: di salah satu kolam teratai biru mekar, di kolam lain teratai putih dan di kolam ketiga teratai merah, hanya untuk kunikmati. Alas kaki yang kupakai selalu diolesi krim dari Benares. Dan penutup kepalaku, mantelku, pakaian dalam dan pakaian luarku terbuat dari muslin Benares. Siang dan malam tirai putih dipasang di atasku, kalau-kalau udara dingin dan panas, debu, dedak atau embun menggangguku. Aku memiliki tiga istana, satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin dan satu untuk musim penghujan. Di istana musim penghujan, empat bulan masa penghujan itu aku dilayani hanya oleh pemusik-pemusik wanita, dan selama itu aku tidak meninggalkan istana. Sementara di rumah orang lain, para pembantu dan budak menerima makanan dari beras hancur yang dicampur dengan kuah asam, di rumah ayahku mereka diberi beras pilihan dan daging pilihan.

Di antara kemegahan seperti itu dan di dalam kehidupan yang benar-benar tanpa masalah, O para bhikkhu, buah-pikir ini muncul di benakku:19 “Seorang manusia biasa yang tidak belajar, walaupun pasti menjadi tua sendiri dan tidak dapat lolos dari usia tua, merasa tidak suka, terhina atau muak ketika melihat orang yang tua dan jompo, karena dia lupa akan situasinya sendiri. Padahal aku juga pasti menjadi tua dan tidak dapat lolos dari menjadi tua. Seandainya saja, ketika melihat orang yang tua dan jompo aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidak pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kemudaan pun lenyap.

Sekali lagi aku merenung: “Seorang manusia biasa yang tidak belajar, walaupun pasti menjadi sakit sendiri dan tidak bisa lolos dari penyakit, merasa tidak suka, terhina atau muak ketika melihat seorang yang sakit, karena dia lupa akan situasinya sendiri. Padahal aku juga pasti menjadi sakit dan tidak dapat lolos dari penyakit. Seandainya saja, ketika melihat seorang yang sakit, aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidaklah pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kesehatan pun lenyap.

Sekali lagi aku merenung: “Seorang manusia biasa yang tidak belajar pasti mati sendiri dan tidak dapat lolos dari kematian. Walaupun demikian, ketika melihat orang mati dia merasa tidak suka, terhina dan muak, karena lupa akan situasinya sendiri. Aku juga pasti mati dan tidak dapat lolos dari kematian. Seandainya saja, ketika melihat orang mati, aku merasa tidak suka, terhina atau muak, hal ini tidaklah pantas bagi orang seperti diriku.” Ketika aku merenung demikian, O para bhikkhu, semua kesombonganku terhadap kehidupan pun lenyap.20

(III, 38)


28. Disarankan oleh Para Bijaksana
Para bhikkhu, tiga hal ini disarankan oleh para bijaksana, disarankan oleh orang-orang yang agung. Apakah yang tiga itu?

Perbuatan memberi disarankan, meninggalkan keduniawian disarankan, dan melayani orang tua sendiri disarankan. Inilah tiga hal yang disarankan oleh para bijaksana, disarankan oleh orang-orang yang agung.

Para bijaksana menyarankan perbuatan memberi,
Perbuatan tak merugikan, pengendalian diri dan penjinakan.
Memberikan pelayanan pada orang tua terkasih sendiri
Dan pada mereka yang menjalankan kehidupan suci.
Inilah jenis-jenis perbuatan
Yang dilakukan oleh para bijaksana.
Manusia agung, yang memiliki visi,
Akan menuju alam yang menjanjikan keberuntungan.21

(III, 45)


29. Yang Terkondisi dan yang Tidak Terkondisi

Para bhikkhu, ada tiga tanda kondisi dari yang terkondisi. Apakah yang tiga itu? Asal mulanya dipahami, lenyapnya dipahami, perubahannya ketika masih berlangsung dipahami.22 Inilah tiga tanda kondisi dari yang terkondisi.

Para bhikkhu ada tiga tanda tak-terkondisi dari yang tak terkondisi. Apakah yang tiga itu? Tidak ada asal mula yang dipahami, tidak ada kelenyapan yang dipahami, tidak ada perubahan ketika masih berlangsung yang dipahami. Inilah tiga tanda tak-terkondisi dari yang tak terkondisi.23

(III, 47)


30. Pulau Perlindungan
Suatu ketika dua orang brahmana tua yang sudah rapuh, lanjut usia, uzur, di akhir kehidupan, berusia seratus dua puluh tahun, menghampiri Sang Buddha dan berkata kepada Beliau demikian:

“Kami adalah brahmana, Tuan Gotama, yang rapuh dan lanjut usia… berusia seratus dua puluh tahun. Tetapi kami belum melakukan apapun yang baik dan bermanfaat, kami belum membuat perlindungan bagi kami sendiri.24 Sudilah Tuan Gotama mengingatkan dan mendesak kami, sehingga hal itu dapat membawa menuju kesejahteraan dan kebahagiaan kami untuk masa yang lama!”

“Benar, brahmana, kalian rapuh dan lanjut usia… dan belum melakukan apapun yang baik dan bermanfaat, kalian belum membuat perlindungan bagi kalian sendiri. Memang, brahmana, dunia ini disapu oleh usia tua, penyakit, dan kematian. Walaupun dunia itu disapu oleh usia tua, penyakit, dan kematian, namun bagi orang yang meninggalkan dunia ini, pengendalian-diri – dalam tindakan, ucapan, dan pikiran – akan memberikan perlindungan dan keamanan, pulau bagi perlindungan dan pertolongan.”

Kehidupan tersapu berlalu, sungguh singkat rentang tahun-tahun kita
Tak ada perlindungan bagi orang telah mencapai usia tua.
Dengan memahami bahaya yang muncul dalam kematian,
Lakukanlah tindakan-tindakan baik yang menuju kebahagiaan.
Jika orang terkendali dalam tubuh,
Terkendali dalam ucapan dan pikiran,
Tindakan-tindakan berjasa yang dilakukannya selagi hidup
Membawa kebahagiaan ketika dia pergi.

(III, 51)


31. Ajaran yang Dapat Dilihat
Suatu ketika seorang brahmana menghampiri Sang Buddha… dan berkata kepada Beliau demikian:

“Telah dikatakan, Guru Gotama, ‘Dhamma dapat dilihat secara langsung.’25 Dengan cara apa, Guru Gotama, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana?”

“Brahmana; bila seseorang dipenuhi nafsu, dikuasai nafsu dan tergila-gila karena nafsu, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi orang lain, dan kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia juga berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia tidak memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, atau kebaikan bagi orang lain, atau kebaikan bagi keduanya.26 Tetapi bila nafsu telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia tidak akan berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia akan memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan bagi keduanya. Dengan cara ini, brahmana, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.

“Brahmana, bila seseorang berakhlak buruk karena kebencian, dikuasai kebencian dan tergila-gila karena kebencian… Bila seseorang bingung karena kebodohan batin, dikuasai kebodohan batin dan tergila-gila karena kebodohan batin, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi orang lain, dan kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia juga berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia tidak memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain, atau kebaikan bagi keduanya. Tetapi bila kebencian dan kebodohan batin telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dia tidak akan berperilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, dan dia akan memahami, seperti apa adanya, kebaikan bagi dirinya sendiri, kebaikan bagi orang lain dan kebaikan bagi keduanya. Dengan cara ini, brahmana, Dhamma dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.”

(III, 53-54)


32. Nibbana yang Dapat Dilihat

Suatu ketika brahmana Janussoni menghampiri Sang Buddha … dan berkata kepada Beliau demikian:27

“Telah dikatakan, Guru Gotama, ‘Nibbana dapat dilihat secara langsung.’ Guru Gotama, dengan cara apakah Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana?”

“Brahmana, bila seseorang dipenuhi nafsu… buruk akhlaknya karena kebencian… bingung karena kebodohan batin, dikuasai dan tergila-gila karena kebodohan batin, maka dia merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, kerugian bagi yang lain, kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Tetapi bila nafsu, kebencian dan kebodohan batin telah ditinggalkan, dia tidak lagi merencanakan kerugian bagi dirinya sendiri, tidak juga kerugian bagi yang lain, tidak juga kerugian bagi keduanya; dan di pikirannya dia tidak mengalami penderitaan dan kesedihan. Dengan cara inilah, brahmana, Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.

“Karena dia mengalami hancur totalnya nafsu, kebencian dan kebodohan batin, dengan cara ini, brahmana, Nibbana dapat dilihat secara langsung, segera, mengundang orang untuk datang dan melihat, berharga untuk dilaksanakan, untuk dialami sendiri oleh para bijaksana.”28

(III, 55)


33. Kepada Siapa Pemberian Harus Diberikan?

Suatu ketika Vacchagotta si kelana menghampiri Sang Buddha dan berkata demikian: 29

“Telah saya dengar, Guru Gotama, bahwa Petapa Gotama berkata: ‘Hadiah harus diberikan hanya kepadaku dan bukan kepada yang lain; hadiah harus diberikan hanya kepada siswa-siswaku dan bukan kepada siswa-siswa yang lain. Hanya apa yang diberikan kepadaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada yang lain; hanya apa yang diberikan kepada siswa-siswaku saja yang memberikan buah yang besar, bukan apa yang diberikan kepada siswa-siswa yang lain.’ Guru Gotama, apakah mereka yang mengatakan demikian itu benar-benar menyampaikan kata-kata Guru Gotama dan tidak salah mewakili Beliau? Apakah mereka menyatakan hal ini sesuai dengan ajaran-ajaran Guru? Apakah pernyataan mereka itu tidak menimbulkan alasan untuk dicela? Kami tentu saja tidak ingin salah mewakili Guru Gotama.”

“Mereka yang mengatakan demikian, Vacca, tidak melaporkan kata-kataku dengan benar, melainkan salah mewakiliku. Pernyataan mereka tidak sesuai dengan ajaran-ajaranku dan pernyataan mereka yang salah tentu saja akan menimbulkan penyebab celaan.

“Vacca, siapapun yang mencegah orang lain agar tidak memberikan dana berarti menyebabkan penghalang dan kesukaran bagi tiga orang: dia menghalangi si pemberi untuk melakukan suatu tindakan yang berjasa, dia menghalangi si penerima untuk menerima pemberian itu, dan sebelum itu, dia merendahkan dan merugikan wataknya sendiri. Inilah, Vacca, apa yang sesungguhnya kuajarkan: bahkan seandainya seseorang melempar air bekas cucian mangkuk atau cangkir ke kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup di sana bisa memperoleh makanan dari itu – bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia.

“Tetapi aku memang menyatakan bahwa persembahan yang diberikan kepada mereka yang luhur akan memberikan buah yang kaya, dan buah persembahan tidak akan sebanyak itu bila diberikan kepada mereka yang tidak luhur.30 Orang yang luhur telah meninggalkan lima sifat dan memiliki lima sifat lain. Apakah lima sifat yang telah dia tinggalkan itu? Nafsu indera, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kecemasan, dan keraguan: inilah lima sifat yang telah dia tinggalkan. Dan apakah lima sifat yang dia miliki? Dia memiliki keluhuran, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan serta visi pembebasan dari orang yang telah sempurna latihannya. Inilah lima sifat yang dimilikinya.

“Memberi kepada orang yang telah meninggalkan lima sifat itu dan yang memiliki lima sifat ini – inilah yang kunyatakan akan memberikan buah yang kaya.”

(III, 57)


34. Apakah Bhikkhu Bermanfaat bagi yang Lain?
Suatu ketika Sangarava si brahmana menghampiri Sang Buddha dan berbicara kepada Beliau demikian: 31

“Kami adalah kaum brahmana, Guru Gotama: kami mempersembahkan kurban dan mengajak yang lain untuk mempersembahkan kurban. Orang yang mempersembahkan kurban sendiri dan orang yang mengajak orang lain untuk melakukannya sama-sama terlibat dalam praktek yang berjasa, yaitu persembahan kurban yang dapat menyebar pada banyak orang. Namun anggota keluarga ini atau itu yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia menjinakkan dirinya sendiri saja, menenangkan dirinya sendiri saja, mencapai Nibbana bagi dirinya sendiri saja. Jika memang demikian halnya, maka dia melakukan praktek berjasa, yaitu tindakan meninggalkan kehidupan rumah tangga, yang melibatkan hanya satu orang saja.”

“Brahmana, aku akan bertanya kepadamu dan engkau boleh menjawabnya menurut pendapatmu. Brahmana, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini: Sang Tathagata muncul di dunia, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang trampil di dalam perilaku dan pengetahuan sejati, yang maha tinggi, pengenal dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru bagi para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau berkata demikian: ‘Datanglah! Inilah jalannya. Inilah jalan yang telah kutempuh, yang melaluinya aku telah secara langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci yang sekarang ini kunyatakan. Datanglah! engkau juga harus berlatih demikian, sehingga engkau juga, dengan usahamu sendiri, akan langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci ini dan berdiam di dalam pencapaian itu!’

“Maka guru ini menunjukkan Dhamma, dan yang lain pun berlatih dengan cara itu. Dan dari antara mereka yang melakukannya, ada ratusan, ribuan, ratusan ribu. Bagaimana pendapatmu, brahmana: karena memang demikian halnya, apakah tindakan meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek berjasa yang melibatkan hanya satu orang atau banyak orang?”

“Kalau demikian halnya, Guru Gotama, meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek yang berjasa yang menyebar pada banyak orang.”

Ketika hal itu telah dikatakan, YM Ananda berbicara kepada brahmana Sangarava demikian:32 “Dari kedua praktek ini, wahai brahmana, bagimu mana yang lebih menarik karena lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan karena memberikan buah yang lebih kaya serta manfaat yang lebih besar?”

Maka brahmana Sangavara berkata kepada YM Ananda: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Untuk kedua dan ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, saya tidak bertanya siapa yang engkau hormati dan puji, tetapi bagimu mana dari kedua praktek itu yang tampak lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan yang memberikan buah yang lebih kaya serta bermanfaat lebih besar?”

Tetapi juga untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya brahmana Sangarava menjawab: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”

Kemudian Sang Buddha berpikir: “Bahkan untuk ketiga kalinya, ketika Ananda memberikan pertanyaan yang sama, brahmana Sangarava ini tetap menghindar dan tidak menjawab. Apakah tidak seharusnya kubebaskan dia dari situasi itu?” Maka Beliau berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, apakah yang mungkin menjadi topik pembicaraan di antara anggota istana, seandainya saja mereka duduk bersama hari ini di istana kerajaan?”

“Beginilah topik pembicaraannya, Guru Gotama: ‘Dahulu ada lebih sedikit bhikkhu, tetapi lebih banyak yang mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dari kekuatan supranormal yang melebihi manusia. Sebaliknya sekarang ada lebih banyak bhikkhu, tetapi lebih sedikit yang menunjukkan mukjizat kekuatan supranormal yang melebihi manusia itu.’ Itulah yang menjadi topik pembicaraan.”

“Ada tiga macam mukjizat, brahmana. Apakah yang tiga itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran.

“Apakah yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu, dia berubah menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah melewati ruang; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila dia pergi melalui udara bagaikan seekor burung; dengan tangannya dia menyentuh dan membelai matahari dan rembulan, begitu kuat dan berkuasa; dia menggunakan penguasaan atas tubuhnya bahkan sejauh alam-Brahma. Inilah, brahmana, yang disebut mukjizat kekuatan supranormal.

“Apakah yang merupakan mukjizat membaca pikiran? Ada orang yang, dengan sarana tanda,33menyatakan: ‘Demikianlah pikiranmu, seperti inilah pikiranmu, demikianlah buah-pikirmu.’ Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah.

“Orang lain tidak membuat pernyataannya lewat sarana tanda, melainkan setelah mendengar suara manusia, suara makhluk halus atau dewa… atau dengan mendengarkan suara getaran-buah-pikir seseorang… atau secara mental menembus arah kecenderungan mentalnya ketika dia berada di dalam keadaan meditasi yang bebas dari buah-pikir.34 Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah. Inilah yang disebut mukjizat membaca pikiran.

“Dan brahmana, apakah mukjizat pengajaran? Ada orang yang mengajarkan demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan berpikir dengan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ Inilah yang disebut mukjizat pengajaran.35

“Inilah, O brahmana, tiga jenis mukjizat. Dari tiga jenis mukjizat ini, yang manakah yang tampak bagimu sebagai yang paling bagus dan paling tinggi?”

“Mengenai mukjizat kekuatan supranormal dan pembacaan pikiran, Guru Gotama, hanya pelakunya saja yang akan mengalami hasilnya; hasilnya hanya dimiliki oleh orang yang melakukannya. Kedua mukjizat ini, Guru Gotama, bagi saya tampak memiliki sifat tipuan tukang sulap. Tetapi mengenai mukjizat pengajaran – inilah, Guru Gotama, yang bagi saya tampak sebagai yang paling bagus dan paling tinggi di antara ketiganya.

“Betapa luar biasa dan menakjubkannya hal ini telah disampaikan oleh Guru Gotama. Kami akan mengingat Guru Gotama sebagai orang yang memiliki tiga mukjizat ini. Guru Gotama menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal. Beliau secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain. Dan Guru Gotama mengajar orang lain demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ ”

“Brahmana, sungguh-sungguh engkau telah menyampaikan kata-kata yang sangat sesuai. Maka juga akan kunyatakan bahwa aku menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal… bahwa aku secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain… dan bahwa aku mengajar orang lain bagaimana caranya mengarahkan pikiran.”

“Tetapi apakah ada bhikkhu lain, selain Guru Gotama, yang memiliki tiga mukjizat ini?”

“Ya, brahmana. Para bhikkhu yang memiliki ketiga mukjizat ini tidak hanya berjumlah seratus, atau dua ratus, tiga ratus, empat ratus, atau lima ratus, tetapi bahkan lebih banyak bhikkhu yang telah memilikinya.”

“Dan di manakah berdiamnya bhikkhu-bhikkhu ini, Guru Gotama?”"Di dalam Sangha para bhikkhu ini juga, brahmana.”

“Luar biasa, Guru Gotama! Luar biasa, Guru Gotama! Sama seperti orang menegakkan apa yang terjungkir balik atau menguak apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat, atau memegang lampu di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata bisa melihat bentuk. Demikian pula Dhamma telah dibabarkan dengan berbagai cara oleh Guru Gotama. Saya sekarang pergi untuk berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sangha para bhikkhu. Biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak saat ini sampai akhir hayat.”

(III, 60)


35. Tiga Pendapat Sektarian
Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi.36Apakah tiga pendapat ini?

Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37

(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.

(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”

Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.

Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.

Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.39 Dan apakah Dhamma itu?

“Inilah enam elemen” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, yang… oleh petapa dan brahmana yang pandai.

“Inilah enam landasan kontak”… “Inilah delapan belas pemeriksaan mental”… “Inilah Empat Kebenaran Mulia” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.Nah, karena apakah dikatakan bahwa enam elemen merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam elemen itu: elemen tanah, air, panas, udara, ruang dan kesadaran.40

Karena apakah dikatakan bahwa enam landasan kontak merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam landasan kontak itu: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran sebagai landasan kontak.

Karena apakah dikatakan bahwa delapan belas pemeriksaan mental merupakan Dhamma yang diajarkan olehku?41 Inilah delapan belas pemeriksaan mental itu: Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, orang memeriksa suatu bentuk yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Ketika mendengarkan suatu suara dengan telinga… Ketika mencium suatu bau dengan hidung… Ketika mecicipi suatu citarasa dengan lidah… Ketika merasakan suatu objek dengan sentuhan pada tubuh… Ketika memahami suatu objek mental dengan pikiran, orang memeriksa suatu objek yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Inilah delapan belas pemeriksaan mental.

Karena apakah dikatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia itu merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Berdasarkan pada enam elemen ada yang turun ke dalam kandungan.42 Ketika hal itu terjadi, ada materi dan batin (nama-dan-rupa).43 Dengan materi dan batin sebagai kondisi, ada enam landasan indera; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, ada kontak; dengan kontak sebagai kondisi, ada perasaan. Kepada orang yang merasakan inilah kuperkenalkan, “Inilah penderitaan”, “Inilah asal mula penderitaan”, “Inilah berhentinya penderitaan”, “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan”.44

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok khanda yang terkena kemelekatan adalah penderitaan.45

Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan? Dengan kebodohan sebagai kondisi, muncullah bentukan-bentukan yang diniati.46 Dengan bentukan-bentukan yang diniati sebagai kondisi, kesadaran terjadi; dengan kesadaran sebagai kondisi, materi dan batin terjadi; dengan materi dan batin sebagai kondisi, enam landasan indera terjadi; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak terjadi; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan terjadi; dengan perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan terjadi; dengan nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan terjadi; dengan kemelekatan sebagai kondisi, proses dumadi terjadi; dengan proses dumadi sebagai kondisi, kelahiran terjadi; dengan kelahiran sebagai kondisi, menjadi tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan terjadi. Demikianlah asal mula seluruh massa penderitaan hidup ini. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan? Dengan pudar dan berhentinya kebodohan ini secara total, bentukan-bentukan yang diniati berhenti. Dengan berhentinya bentukan-bentukan yang diniati; kesadaran berhenti. Dengan berhentinya kesadaran, materi dan batin berhenti. Dengan berhentinya materi dan batin, enam landasan indera berhenti. Dengan berhentinya enam landasan indera, kontak berhenti. Dengan berhentinya kontak, perasaan berhenti. Dengan berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti. Dengan berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti. Dengan berhentinya kemelekatan, proses dumadi berhenti. Dengan berhentinya proses dumadi, kelahiran berhenti. Dengan berhentinya kelahiran, menjadi tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti. Demikianlah berhentinya seluruh massa penderitaan. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan.

Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju berhentinya penderitaan? Inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, cara hidup benar, usaha benar, kewaspadaan benar dan konsentrasi benar. Para bhikkhu, inilah yang disebut Kebenaran Mulia tentang jalan yang menuju berhentinya penderitaan.

Empat Kebenaran Mulia inilah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.

(III, 61)


36. Kepada Suku Kalama
Demikian yang telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berkelana dengan diiringi Sangha para bhikkhu yang besar jumlahnya, ketika Beliau tiba di kota suku Kalama yang bernama Kesaputta.47 Suku Kalama dari Kesaputta mendengar: “Dikabarkan bahwa petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keluarga Sakya, telah tiba di Kota Kesaputta. Ada laporan yang baik tentang Guru Gotama yang beredar demikian: ‘Yang Terberkati itu adalah Sang Arahat, yang telah sepenuhnya tercerahkan, yang terampil dalam pengetahuan benar dan perilaku benar, yang maha tinggi, yang tahu tentang dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, Yang Telah Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau memperkenalkan pada dunia dengan para dewanya, dengan Mara, dengan Brahma, pada generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya, setelah merealisasikan dengan pengetahuan langsungNya. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir, dengan arti yang benar dan ungkapan yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni.’ Adalah baik bila kita menemui arahat seperti itu.”

Kemudian suku Kalama dari Kesaputta menemui Sang Buddha. Beberapa memberi hormat pada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, duduk di satu sisi; beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi. Kemudian suku Kalama itu berkata kepada Sang Buddha:

“Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kami, Tuan, merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah yang berbicara salah?”

“Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ 48 Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya.

“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, bencian dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?”49 – “Kerugiannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang serakah, membenci dan bodoh batinnya, yang dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya dikendalikan oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan penderitaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”

:”Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Tidak bermanfaat, Tuan” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dikecam, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”

“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti tradisi lisan… ”

“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan’, maka kalian harus menjalankannya.

“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang, apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?” – “Kesejahteraannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”

“Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Tuan.” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tidak tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dipuji, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”

“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan…

“Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat.50 Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.”

“Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi kasih sayang… dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri sendiri… dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.

“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.

“Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, di suatu alam surgawi.’

“Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.’

“Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?’

“Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal.’ 51

“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.”

“Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.

“Luar biasa, Tuan! … (seperti di Teks 34) … Biarlah Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat.”

(III, 65)


37. Nafsu, Kebencian dan Kebodohan Batin
“Para bhikkhu, petapa kelana dari kelompok lain mungkin bertanya kepada kalian demikian: ‘Sahabat, ada tiga sifat ini: nafsu,52 kebencian dan kebodohan batin. Sahabat, apakah perbedaan di antara tiga sifat ini, apakah ketidaksamaan dan kelainannya?’ Jika ditanya demikian, para bhikkhu, bagaimanakah kalian akan menjawab petapa-petapa kelana dari sekte lain itu?”

“Bagi kami, Bhante, akar ajaran ada pada Yang Terberkati, dan Bhantelah pembimbing serta sumbernya. Adalah baik jika Bhante sendiri mau menjelaskan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan Bhante, para bhikkhu akan menyimpannya di pikiran.”

“Kalau demikian, para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” jawab para bhikkhu. Sang Buddha mengatakan demikian:

“Jika para petapa kelana dari sekte lain menanyakan tentang perbedaan, ketidaksamaan, dan kelainan di antara tiga sifat ini, demikian ini kalian harus menjawab: ‘Nafsu tidak amat tercela tetapi sulit dihilangkan. Kebencian lebih tercela tetapi lebih mudah dihilangkan. Kebodohan batin sangat tercela dan sulit dihilangkan.’53

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya nafsu yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang indah: bagi orang yang memperhatikan objek yang indah secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’54

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebencian yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara tidak benar, maka kebencian yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebodohan batin yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang tidak benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara tidak benar, maka kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya nafsu yang belum muncul, dan bagi lenyapnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara benar, maka nafsu yang belum muncul tidak akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan ditinggalkan.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebencian yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab:‘Pembebasan pikiran oleh cinta kasih: bagi orang yang memperhatikan secara benar kebebasan pikiran oleh cinta kasih, maka kebencian yang belum muncul tidak akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan ditinggalkan.’

“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebodohan batin yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara benar, maka kebodohan batin yang belum muncul tidak akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan lenyap.”‘

(III, 68)


38. Dumadi (Menjadi)

Suatu ketika YM Ananda datang menemui Sang Buddha dan berkata kepada Beliau demikian: “Bhante, orang berbicara tentang ‘dumadi, dumadi.’ Bagaimanakah dumadi ini terjadi?”55

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam lingkup-indera, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam lingkup-indera?”56

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam yang rendah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.57

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam alam bentuk?” 58

“Tentu saja tidak, Bhante.”

“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam menengah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.

“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam tanpa bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di alam tanpa-bentuk?”59

“Tentu saja tidak, Bhante.”"Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan sehingga mereka menjadi terbentuk di alam yang tinggi. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.

“Demikianlah, Ananda, cara dumadi terjadi.”

(III, 76)


39. Latihan Berunsur Tiga

Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vesali di Hutan Besar di Balai dengan Atap Meruncing. Saat itu seorang bhikkhu dari suku Vajjian menghampiri Beliau… dan berkata kepada Beliau demikian:

“Bhante, saya tidak dapat menghafal lebih dari seratus lima puluh peraturan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu.”60

“Kalau demikian, bhikkhu, ada tiga jenis latihan ini: latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi.61

“Dan apakah latihan dalam moralitas yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memiliki keluhuran, terkendali oleh pengendalian Patimokkha, sempurna di dalam perilaku dan usaha, melihat bahaya di dalam kesalahan yang terkecil sekalipun. Setelah menjalankan peraturan-peraturan latihan, dia berlatih di dalamnya. Inilah yang disebut latihan dalam moralitas yang lebih tinggi.

“Dan apakah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu? Di sini, terpisah dari kesenangan-kesenangan indera, terpisah dari keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam di jhana pertama, yang dibarengi oleh buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari kesendirian. Dengan meredanya buah-pikir dan pemeriksaan, dia masuk dan berdiam di jhana kedua, yang memiliki keyakinan internal dan kemanunggalan pikiran, tanpa buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari konsentrasi. Dengan memudarnya kegembiraan, dia berdiam dengan tenang-seimbang. Dengan kewaspadaan dan pemahaman yang jernih, dia mengalami kebahagiaan dengan tubuh. Dia berdiam di jhana ketiga, yang dinyatakan demikian oleh mereka yang agung: ‘Dia tenang seimbang, waspada, orang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan lenyapnya rasa senang dan rasa sakit, dan dengan lenyapnya suka cita dan kesedihan sebelumnya, dia masuk dan berdiam di jhana keempat, yang tidak menyakitkan namun juga tidak menyenangkan, dan mencakup kemurnian kewaspadaan lewat ketenang-seimbangan. Inilah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu.

“Dan apakah latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memahami segala sesuatu sebagaimana adanya: Ini adalah penderitaan. Ini adalah asal mula penderitaan. Ini adalah berhentinya penderitaan. Ini adalah jalan menuju berhentinya penderitaan.’ Inilah kebijaksanaan yang lebih tinggi itu.62“Bhikkhu, apakah engkau mampu berlatih dalam tiga latihan ini?”

“Ya, Bhante.”

“Kalau demikian, bhikkhu, berlatihlah dalam tiga latihan ini: moralitas yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Jika engkau berlatih demikian, engkau akan meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, engkau tidak akan melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.”

Sesudah itu bhikkhu tersebut mempraktekkan latihan dalam moralitas yang tebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Karena dia berlatih demikian, dia pun meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, dia tidak lagi melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.

(III, 83 dan 88; digabungkan)


40. Tiga Latihan dan Empat Tahap

Para bhikkhu, lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu, yang dilatih oleh para pria muda yang menginginkan tujuan. Semua peraturan itu tercakup di dalam tiga latihan ini. Apakah yang tiga itu? Latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Inilah tiga latihan yang merangkum lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan itu.

Di sini, O para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah orang yang sepenuhnya terampil di dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil di dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting, dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa begitu? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya.63 Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah dia ambil.64 Dengan hancur leburnya tiga belenggu itu seluruhnya, dia menjadi Pemasuk-Arus, orang yang tidak lagi terkena kelahiran kembali di alam yang rendah, yang mantap keberuntungannya, dengan pencerahan sebagai tujuannya.65

Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang kurang penting dan kemudian memperbaiki diri… dengan hancur leburnya tiga belenggu ini seluruhnya dan dengan melemahnya keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, dia menjadi Yang-Kembali-Sekali-Lagi, yang kembali ke dunia ini hanya satu kali lagi dan kemudian mengakhiri penderitaan.

Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas dan konsentrasi, tetapi hanya agak terampil dalam kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri… Dengan hancur leburnya lima belenggu yang lebih rendah, dia menjadi orang yang akan terlahir lagi secara spontan (di alam surgawi) dan di sana mencapai Nibbana akhir, tanpa pernah kembali dari alam itu.66

Kemudian, para bhikkhu seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan pelatihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa demikian? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya. Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah diambilnya. Dengan hancur leburnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga dia masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tak ternoda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena telah mewujudkannya untuk dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung.67

Kemudian, O para bhikkhu, orang yang terampil sebagian mencapai sukses sebagian, orang yang terampil sepenuhnya rnencapai sukses sepenuhnya. Tetapi kunyatakan, peraturan-peraturan latihan ini tidaklah tanpa buah.

(III, 85)


41. Pemurnian Pikiran – I
Para bhikkhu, ada kotoran kasar di dalam emas, seperti misalnya tanah, pasir dan kerikil. Si pandai emas atau pembantunya pertama-tama akan menuangkan emas itu ke dalam palung dan mencuci, membilas dan membersihkannya dengan seksama. Setelah itu, masih tersisa sejumlah kotoran di dalam emas itu, seperti misalnya kerikil halus dan pasir kasar. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mencuci, membilas dan membersihkannya lagi. Setelah ini, masih ada kotoran halus di dalam emas itu, seperti misalnya pasir halus dan debu hitam. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mengulang pencucian, dan setelah itu barulah hanya debu emas yang tertinggal.

Sekarang dia menuangkan emas itu ke dalam panci untuk melelehkan dan memisahkan debu emas itu. Tetapi dia belum mengeluarkannya dari wadah, karena kotorannya belum sepenuhnya hilang68dan emas itu belum benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar; emas itu masih rapuh dan belum dapat dicetak dengan mudah. Tetapi saatnya akan tiba ketika si pandai emas atau pembantunya sekali lagi melelehkannya secara tuntas, sehingga seluruh kotoran pun hilang. Sekarang emas itu benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar, dan dapat dengan mudah dibentuk. Apapun perhiasan yang ingin dibuat oleh pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.

Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang menekuni pelatihan dalam pikiran yang lebih tinggi: di dalam dirinya ada kekotoran yang kasar, yaitu perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Perilaku semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran tingkat menengah yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir indera, buah-buah pikir tentang niat jahat dan kekerasan.69 Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran halus yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir tentang sanak saudaranya, negara asalnya; dan reputasinya. Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.

Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada buah-buah pikir tentang keadaan-keadaan mental yang lebih tinggi, yang dialaminya di dalam meditasi.70 Konsentrasi itu belum damai dan tinggi; konsentrasi itu belum mencapai ketenangan yang penuh, belum juga mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini harus dipertahankan dengan cara menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.

Tetapi akan tiba saatnya ketika pikirannya menjadi mantap ke dalam, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi. Konsentrasi ini kemudian tenang dan halus; konsentrasi ini telah mencapai ketenangan penuh dan mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini tidak dipertahankan dengan menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.

Kemudian, menuju keadaan mental apapun yang dapat direalisasikan lewat pengetahuan langsung, dia mengarahkan pikirannya ke sana, dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.71

Jika dia inginkan: “Semoga aku memiliki berbagai macam kekuatan spiritual: sesudah menjadi satu, semoga aku menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, semoga aku menjadi satu; semoga aku muncul dan lenyap; pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah olah melewati ruang; menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; berjalan diatas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila pergi melalui udara bagaikan seekor burung; menyentuh dan membelai rembulan dan matahari dengan tanganku, begitu kuat dan berkuasa; menggunakan penguasaan atas tubuhku bahkan sejauh alam Brahma” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan: “Dengan elemen telinga dewa, yang termurnikan dan melebihi manusia, semoga aku mendengar dua jenis bunyi, yang agung dan yang bersifat manusia, yang jauh dan yang dekat” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan: “Semoga aku memahami pikiran makhluk lain, manusia lain, sesudah menyelimuti mereka dengan pikiranku. Semoga aku memahami pikiran yang dikuasai nafsu sebagai pikiran yang dikuasai nafsu; pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu; pikiran dengan kebencian sebagai pikiran dengan kebencian; pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian; pikiran dengan kebodohan batin sebagai pikiran dengan kebodohan batin; pikiran tanpa kebodohan batin sebagai pikiran tanpa kebodohan batin; pikiran yang mengkerut sebagai pikiran yang mengkerut dan pikiran yang terganggu sebagai yang terganggu; pikiran yang tinggi sebagai yang tinggi dan pikiran yang tidak tinggi sebagai yang tidak tinggi; pikiran yang dapat dilampaui sebagai yang dapat dilampaui dan pikiran yang tidak terlampaui sebagai yang tidak terlampaui; pikiran yang terkonsentrasi sebagai yang terkonsentrasi dan pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai yang tidak terkonsentrasi; pikiran yang terbebas sebagai yang terbebas dan pikiran yang tidak terbebas sebagai pikiran yang tidak terbebas” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Semoga aku dapat mengingat tempat kediaman masa laluku yang berunsur banyak, yaitu satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan-dunia, berkalpa-kalpa pengembangan-dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia demikian: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan seperti ini, seperti itu makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itulah masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di tempat lain, dan di sana aku bernama demikian, dari suku demikian, dengan penampilan demikian, demikian makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itu masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di sini.’ Semoga demikian aku mengingat kembali tempat kediaman masa laluku dengan ciri dan detilnya” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka, demikian: ‘Makhluk-makhluk yang terlibat perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang menghina orang-orang suci, yang memiliki pandangan salah, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan salah, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam penderitaan, di alam yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Akan tetapi makhluk-makhluk yang terlibat perilaku yang baik lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang tidak menghina para suci, yang memiliki pandangan benar, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan benar, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam yang baik, di alam surgawi.’ Demikian dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para makhluk lenyap dan terlahir kembali, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka” dan mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.

Jika dia inginkan, “Lewat hancurnya noda-noda, semoga aku di dalam kehidupan ini juga masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

(III, 100; §1-10)


42. Pemurnian Pikiran – II
Seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan dalam pikiran yang lebih tingggi dari waktu ke waktu harus memperhatikan tiga hal ini.72 Dari waktu ke waktu dia harus memperhatikan hal konsentrasi, dari waktu ke waktu memperhatikan usaha yang bersemangat, dari waktu ke waktu memperhatikan ketenang seimbangan.73

Jika seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan yang lebih tinggi memberikan perhatian pada konsentrasi saja, ada kemungkinan pikirannya jatuh ke dalam kelambanan. Jika dia memberikan perhatian pada usaha yang bersemangat saja, ada kemungkinan pikirannya akan jatuh ke dalam kegelisahan. Jika dia memberikan perhatian pada ketenang-seimbangan saja, ada kemungkinan pikirannya tidak akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Tetapi, jika dari waktu ke waktu dia memperhatikan masing-masing dari tiga hal ini, maka pikirannya akan lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Misalnya seorang pandai emas atau pembantunya membuat tungku, menyalakan api di lubangnya, mengambil emas dengan menggunakan tang dan menaruhnya ke tungku. Dari waktu ke waktu dia meniupnya, secara berkala dia memercikkan air, dari waktu ke waktu dia hanya memandangi saja.74Seandainya pandai emas itu terus menerus meniup emas itu, emas itu akan menjadi terlalu panas. Seandainya dia terus menerus memercikkan air, emas itu akan menjadi terlalu dingin. Seandainya dia hanya memandangi saja, emas itu tidak akan menjadi murni sempurna. Tetapi, jika dari waktu ke waktu si pandai emas memperhatikan masing-masing dari tiga fungsi ini, emas itu akan menjadi lentur, dapat diolah dan bersinar, dan emas itu dapat dengan mudah dicetak. Perhiasan apapun yang ingin dibuat oleh si pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, sekarang emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.

Demikian pula ada tiga hal yang harus diperhatikan secara berkala oleh seorang bhikkhu yang berlatih dalam pikiran yang lebih tinggi, yaitu hal konsentrasi, usaha yang bersemangat, dan ketenang-seimbangan. Jika dia memberikan perhatian yang teratur ke setiap hal itu, maka pikirannya akan menjadi lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.

Dia mengarahkan pikirannya pada keadaan mental apapun yang dapat direalisasikannya lewat pengetahuan langsung, dan dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.

(III, 100; §11-15)


43. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – I

O para bhikkhu, sebelum pencerahanku, ketika masih sebagai bodhisatta, buah-pikir ini muncul di dalam pikiranku: “Apakah kepuasan di dunia ini, apakah bahaya di dunia ini, dan apakah jalan keluar dari dunia ini?”75 Kemudian aku berpikir: “Apapun suka cita dan kebahagiaan yang ada di dunia, itulah pemuasan di dunia; bahwa dunia ini tidak kekal, dipenuhi oleh penderitaan dan terkena perubahan, itulah bahaya di dunia ini; hilangnya dan ditinggalkannya nafsu keinginan untuk dunia ini, itulah jalan keluar dari dunia ini:”

Para bhikkhu, selama aku belum sepenuhnya memahami, sebagaimana adanya, pemuasan dunia sebagai pemuasan, bahaya dunia sebagai bahaya, dan jalan keluar dari dunia ini sebagai jalan keluar, selama itu pula tidak kunyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia dengan para dewa, Mara dan Brahmanya, di dalam generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya.

Tetapi setelah aku sepenuhnya memahami semua ini, kemudian aku nyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia ini dengan… para dewa dan manusianya. Pengetahuan dan visi muncul di dalam diriku: “Tak tergoyahkan pembebasan pikiranku; ini adalah kelahiranku yang terakhir; sekarang tidak ada dumadi lagi.”

(III, 101; §1-2)


44. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – II

Aku telah pergi berkelana mencari pemuasan di dunia ini, O para bhikkhu. Pemuasan apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada pemuasan di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.

Aku telah pergi berkelana mencari bahaya di dunia ini. Bahaya apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada bahaya di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.

Aku telah pergi berkelana mencari jalan keluar dari dunia ini. Jalan keluar dari dunia ini telah kutemukan; dan sejauh mana ada jalan keluar dari dunia ini, itupun telah kulihat lewat kebijaksanaan.

(III, 101, §3)


45. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – III

Seandainya saja, O para bhikkhu, tidak ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk tidak akan menjadi melekat pada dunia.

Tetapi karena ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk menjadi melekat padanya.

Seandainya saja tidak ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk tidak akan kecewa dengan dunia ini. Tetapi karena ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk menjadi kecewa dengannya.

Seandainya saja tidak ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk tidak akan dapat keluar dari dunia ini, tetapi karena ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk dapat keluar darinya.

(III, 102)


46. Di Kuil Gotamaka

Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam diri di Kuil Gotamaka, dekat Vesali. Di sana Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:

“Berdasarkan pengetahuan langsunglah aku mengajarkan Dhamma, O para bhikkhu, bukan tanpa pengetahuan langsung. Dengan dasar yang baik aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa dasar yang baik. Dengan keyakinan aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa keyakinan. Karena itu, para bhikkhu, nasihatku seharusnya diikuti dan petunjukku diterima. Hal ini, para bhikkhu, sudah cukup untuk kepuasan kalian, cukup untuk kegembiraan kalian, cukup untuk suka cita kalian: Sang Bhagava telah sepenuhnya tercerahkan; Dhamma Sang Bhagava telah dibabarkan dengan baik; Sangha telah berperilaku dengan baik.”

Demikianlah kata Sang Buddha. Dengan gembira para bhikkhu itu menyetujui kata-kata Sang Buddha. Ketika khotbah ini disampaikan, beribu-ribu sistem dunia bergetar.76

(III, 123)


47. Bukan Doktrin Rahasia

Tiga hal ini, O para bhikkhu, dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu? Bercinta dengan wanita, hymne para brahmana dan pandangan salah.

Sebaliknya, tiga hal ini, O para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia. Apakah yang tiga itu? Lingkaran rembulan, lingkaran matahari, dan Dhamma serta Vinaya yang disampaikan oleh Tathagata.

(III, 129)


48. Tiga Ciri Kehidupan

Apakah para Tathagata muncul di dunia ini atau tidak, masih tetap merupakan suatu kenyataan, suatu kondisi kehidupan yang kokoh dan perlu, bahwa semua bentukan adalah tidak kekal… bahwa semua bentukan terkena penderitaan… bahwa semua hal adalah tanpa diri.77

Satu Tathagata sepenuhnya menyadari kenyataan ini dan menembusnya. Setelah sepenuhnya sadar mengenai hal itu dan menembusnya, Beliau mengumumkannya, mengajarkannya, membuatnya diketahui, menyampaikannya, mengungkapkannya, menganalisisnya dan menjelaskannya: bahwa semua bentukan adalah tidak kekal, bahwa semua bentukan terkena penderitaan, bahwa semua hal adalah tanpa diri.

(III, 134)


49. Hari-hari Yang Bahagia

Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.

Sungguh saat yang membawa berkah dan patut dirayakan,
Pagi yang bahagia dan kebangkitan yang penuh sukacita,
Momen-momen yang berharga dan menggembirakan
Akan datang kepada mereka yang memberikan dana
Kepada orang-orang yang menjalankan kehidupan suci.Pada hari seperti itu, tindakan benar lewat ucapan dan perbuatan,
Buah-pikir yang benar dan aspirasi yang luhur,
Memberikan hasil kepada mereka yang melatihnya;
Sungguh bahagia mereka yang memperoleh hasil seperti itu,
Karena mereka telah berkembang dalam Ajaran Sang Buddha.

Semoga engkau dan semua sanak saudaramu
Berbahagia dan menikmati kesehatan yang baik!

(III, 150)


Catatan
1 Raja cakkavatti adalah penguasa ideal di dalam legenda Buddhis. Dia menguasai dunia dengan Kebenaran (Dhamma), bukan dengan kekuatan. Dia membangun tahta dari keluhuran dan kesejahteraan universal. Julukan itu secara harafiah berarti “raja pemutar roda”, karena simbol kebesarannya sebagai raja universal adalah “permata roda” mistis (cakkaratana) yang menjadi terwujud di hadapannya melalui kekuatan keluhurannya sebagai bukti untuk haknya mengatur dunia. Untuk detilnya lihat khususnya DN 17 dan 26, dan MN 129.

2 Berkenaan dengan penguasa dunia, Dhamma tidak menunjuk Ajaran Sang Buddha (seperti di bagian berikut ini) melainkan hukum keadilan dan keluhuran moral yang diterapkan untuk mengatur suatu negara.

3 Dalam ikonografi India, roda (cakka) adalah simbol kekuasaan dalam lingkup urusan praktis dan spiritual. Penguasa dunia, seperti yang telah dijelaskan di atas, berkuasa di bawah standar “permata roda”, yang mewakili gelarnya untuk kekuasaan universal. Dhamma juga disimbolkan lewat sebuah roda, yang menurut kitab-kitab komentar mewakili realisasi kebenaran sempurna Sang Buddha dan gelarnya untuk melayani sebagai Guru Dunia. Lihat juga Bab X, nomor 13.

Mara adalah Penggoda atau Yang Jahat, yang digambarkan sebagai dewa jahat yang mencoba untuk mengalihkan para calon siswa dari jalan menuju pembebasan. Tidak seperti Setan, dia tidak berurusan secara khusus untuk membujuk orang melakukan tindakan-tindakan yang akan membawa mereka menuju neraka. Mara tetap merasa puas hati dengan menahan mereka tetap terperangkap di dalam jerat indera, sehingga mereka tidak dapat lolos dari kelahiran ulang. Brahma adalah Tuhan Sang Pencipta menurut sistem brahma kuno, yang muncul dalam Buddhisme sebagai gubernur sementara di sistem dunia, yang berkuasa dan berusia panjang, tetapi masih merupakan makhluk yang tidak kekal yang terperangkap dalam kebodohan batin dan terikat kepada roda dumadi (lihat Teks 190 §2).

4 AA: “Jenis pasien pertama, yang tidak dapat disembuhkan, tetap harus menerima perawatan karena dia bisa berpikir bahwa dengan perawatan yang cocok, dia masih bisa sembuh. Jika ia diabaikan, dia akan merasa jengkel dan menyimpan niat jahat, yang bisa membawa dia menuju kelahiran kembali yang tidak bahagia. Tetapi jika dia dirawat dengan baik, dia akan melihat bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan dan dimungkinkan telah dilakukan untuknya, dan dia akan menganggap penderitaannya itu sebagai akibat yang tidak dapat dihindari dari kammanya sendiri. Dia akan menjadi ramah terhadap mereka yang merawatnya dan karena buah-buah pikir ramah ini dia akan memiliki kelahiran kembali yang bahagia. Jenis kedua – orang yang pasti sembuh – dan orang yang hanya agak sakit juga harus dirawat, sehingga kesembuhan mereka bisa dipercepat.”

5 “Memasuki jalan keamanan” (okkamati niyamam), yaitu jaminan pembebasan akhir, dengan masuk ke jalan Pemasuk-Arus, atau salah satu dari tahap kesucian yang lebih tinggi.

6 Menurut AA, yang pertama dari tiga hal itu disebut padaparama, yaitu “orang yang paling-paling hanya bisa mencapai kata-kata (Ajaran itu) saja”; dia tidak akan mencapai tahap-tahap kesucian di dalam kehidupan sekarang ini. Yang kedua disebut ugghatitaññu, yaitu orang yang langsung menembus kebenaran ketika instruksi pendek diberikan. Jenis ketiga disebut vipacitaññu, yaitu orang yang akan menembus kebenaran setelah menerima instruksi yang mendetil dan berulang-ulang; kategori ini juga mencakup jenis yang disebut neyya, yang dapat menembus kebenaran setelah suatu periode latihan. Jenis-jenis ini dijelaskan di Pug 41. AA selanjutnya mengatakan bahwa instruksi yang diberikan kepada jenis pertama bisa membantunya di dalam kehidupan yang akan datang. Jika diberikan kepada jenis kedua, itu akan mempercepat kemajuannya menuju pencapaian akhir. Tetapi jenis ketiga jelas membutuhkan instruksi clan bimbingan yang berulang-ulang.

7 Orang dengan “pikiran seperti kilat” (vijjupamacitta) adalah orang yang sedang berlatih (sekha), orang yang telah menembus kebenaran Ajaran tetapi belum sepenuhnya merealisasikan kebenaran itu. Orang dengan “pikiran seperti berlian” (vajirupamacitta) adalah arahat, yang telah menghancurkan semua noda.

8 Sariputta adalah siswa utama Sang Buddha dan siswa yang paling menonjol dalam kebijaksanaan. Lihat Teks 178, di mana dia mengaumkan “raung singanya”.

9 AA menjelaskan “pembentukan-aku” (ahankara) sebagai pandangan yang salah, dan “pembentukan-milikku” (mamankara) sebagai nafsu keinginan; “kesombongan” (mana) mencakup semua khayalan bodoh yang didasarkan pada pengertian mengenai “aku” yang nyata. Istilah “tubuh sadar ini” (saviññanake kaye) terdiri dari tubuh sadar orang itu sendiri dan tubuh sadar orang lain. “Semua objek eksternal” (bahiddha sabbanimittesu): semua objek indera, manusia dan fenomena.

10 Sn 1106-7. Parayana, “Jalan Menuju Pantai Seberang”, merupakan bab terakhir dari Sn, yang mengandung 16 sub-bagian. Di dalam setiap sub-bagian itu terdapat seorang penanya brahmana yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam mengenai Buddha. “Pertanyaan-pertanyaan Udaya” adalah yang keempat belas (syair 1105-11). Kenyataan bahwa karya ini dikutip beberapa kali di dalam kitab-kitab Nikaya menunjukkan kekunoannya. Lihat juga Teks 59.

11 Empat baris pertama pada bait itu menyinggung empat dari lima rintangan: nafsu indera, niat jahat, kemalasan dan kelambanan, dan kegelisahan serta kecemasan. Di baris kelima “kewaspadaan yang murni dan ketenangan” (upekkha-satisamsuddham) merupakan kiasan menuju jhana keempat (lihat formula standar untuk jhana, Teks 39 ). Menurut AA, “didahului oleh pikiran mengenai Dhamma (dhammatakka-purejavam) mengacu pada niat yang benar (samma-sankappa), faktor kedua dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terdiri dari buah-buah pikir yang bebas dari pikiran sensualitas, niat jahat dan kekerasan. “Hancurnya kebodohan batin” merupakan buah dari tingkat arahat, yang muncul ketika kebodohan batin telah dihancurkan oleh jalan menuju tingkat arahat.

12 Lobha, dosa, moha. Ketiganya ini biasa disebut “akar yang tidak baik” (akusala-mula). Istilah “keserakahan” mencakup semua tingkat ketertarikan, dari jejak kemelekatan yang paling kecil sampai bentuk keserakahan dan egoisme yang paling besar; “kebencian”, semua tingkat penolakan, dari sentuhan yang paling ringan dalam bentuk humor yang jelek sampai bentuk kemarahan dan dendam yang besar; “kegelapan batin” identik dengan “kebodohan batin” (avijja), tetapi penekanannya ada pada segi psikologis dan etis. Untuk penjelasan yang lebih lengkap, lihat Nyanaponika Thera (1978).

13 Sang Buddha di sini mengacu kepada pembagian berunsur tiga di dalam matangnya kamma. Suatu kamma dapat memberikan hasil di dalam kehidupan sekarang (ditthadhamma-vedaniya), atau di dalam kehidupan langsung berikutnya (upapajja-vedaniya), atau di dalam kehidupan-kehidupan selanjutnya yang manapun (apara-pariyaya-vedaniya). Lihat Vism. XIX, 14.

14 Aspek positif dari tiga akar yang baik adalah: tidak adanya nafsu (meninggalkan keduniawian, tidak melekat), cinta kasih, dan kebijaksanaan. Di sini, tindakan yang muncul dari tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin harus dipahami bukan sebagai tindakan bajik biasa melainkan sebagai “kamma yang bukannya gelap dan juga bukannya terang, dengan akibat yang bukan gelap dan juga bukan terang, dengan hasil yang bukan gelap dan bukan terang, yang membawa menuju hancurnya kamma” (Teks 90), yaitu, niat untuk mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tindakan-tindakan duniawi yang muncul dari tiga akar yang baik ini tidak dapat digambarkan sebagai “tidak lagi bisa muncul di masa depan”. Sebaliknya, tindakan-tindakan semacam itu, karena merupakan “kamma terang dengan hasil terang” (Teks 90), akan memberikan buah-buah yang menyenangkan dan menyebabkan kelahiran yang beruntung.

15 AA menjelaskan perumpamaan itu demikian: Benih-benih di sini mewakili kamma yang baik dan kamma yang tidak baik. Orang yang membakarnya dengan api mewakili meditator. Api itu mewakili pengetahuan tentang Jalan Mulia. Waktu ketika orang itu membakar benih-benih itu sama seperti waktu ketika meditator membakar kekotoran batin dengan pengetahuan tentang Sang Jalan. Waktu ketika benih itu telah dihancurkan sampai menjadi abu adalah waktu ketika penopang lima kandha terpotong akarnya (yaitu selama kehidupan arahat, ketika lima khanda tidak lagi ditopang oleh nafsu keinginan). Waktu ketika abu itu disebarkan oleh angin atau terbawa oleh arus dan tidak lagi dapat tumbuh adalah waktu ketika lima kandha itu berhenti sepenuhnya (dengan parinibbana arahat itu) dan tidak pernah lagi terwujud di dalam lingkaran dumadi.

16 Hatthaka adalah putra raja Alavi dan menjadi Yang-Tidak-Kembali-Lagi (anagami). Dia dipuji oleh Sang Buddha sebagai suri teladan bagi pengikut awam dan dinyatakan murid awam yang terkemuka di antara mereka yang dapat diikuti, melalui empat dasar kemurahan hati (sangahavatthu; lihat Teks 176)

17 Devadutta. Di dalam penjelasan tradisional mengenai awal kehidupan Sang Buddha, pertemuan awal beliau yang megejutkan dengan orang tua; orang sakit dan mayatlah yang menghancurkan kenyamanan duniawinya dan membuat dia mulai mencari suatu jalan pencerahan. Menurut penjelasan tradisional, makluk-makluk ini sebenarnya adalah devadutta, dewa dalam samaran yang turun ke bumi untuk menggugah beliau dari keterlenaannya dalam kegelapan batin.

18 Bagian teks yang menjelaskan mengenai siksaan telah diringkas. Dalam Buddhisme, kehidupan d dalam neraka tidaklah kekal. Suatu bentuk kehidupan yang menyakitkan seperti ini merupakan akibat yang sesuai hukum dan tindakan-tindakan jahat dan akan berakhir ketika kekuatan penyebab yang mengondisikannya habis. Penyebab-penyebab yang baik dari masa lampau bisa kemudian memiliki kesempatan untuk berjalan dan menimbulkan kelahiran kembali yang lebih berbahagia.

19 Bacaan berikut ini menjelaskan dalam istilah psikologis realistis, pengalaman serupa yang diwakilkan secara simbolis dalam legenda tradisional mengenai pertemuan Buddha yang akan datang dengan tiga utusan agung. Lihat nomor 17 di atas.

20 Tiga jenis kesombongan (mada) yang dijelaskan di sini; yang lebih menjurus ke racun daripada ke arogansi adalah: (1) kesombongan karena kemudaan seseorang (yobbana-mada) (2) kesombongan karena kesehatan seseorang (arogya-mada) (3) kesombongan karena kehidupan (jivita-mada); bandingkan Teks 102. Pada jenis-jenis mada yang lain, lihat Bab IV, no. 50. kesombongan dalam arti kecongkakan muncul di teks Buddhis di bawah nama mana. Mengenai tiga cara mana, lihat Teks 127.

21 Kelihatannya dalam syair itu, “meninggalkan keduniawian” diwakili oleh “perbuatan tak merugikan, pengendalian diri dan penjinakan”, karena ini merupakan praktek-praktek yang dijalankan oleh mereka yang meninggalkan keduniawian. “Pelayanan bagi mereka yang menjalani kehidupan suci” harus dicakupkan di bawah pelayanan terhadap orang tua.

22 Sutta yang sekarang ini secara ontologi memberikan perbedaan yang mendasar antara realitas yang terkondisi dengan Yang Tidak Terkondisi. Realitas yang terkondisi mencakup segala sesuatu yang muncul melalui penyebab dan kondisi, yaitu seluruh dunia fenomena fisik dan mental, yang meluas menembus tiga alam dumadi. Menurut AA, “tanda-tanda kondisi dari yang terkondisi” (sankhatassa sankhata-lakhanani) adalah landasan untuk dikenal atau dipahami sebagai yang terkondisi.

Istilah-istilah Pali untuk tiga tanda ini adalah: uppada, vaya, thitassa aññathattam. Bacaan ini merupakan sumber dari bagian Abhidhamma di kemudian hari mengenai suatu momen pengalaman tunggal yang dibagi menjadi tiga sub-momen kemunculan, kelangsungan, penguraian (appada, thiti, bhanga). AA mengidentifikasikan “perubahan sementara masih berlangsung” dengan kelapukan (jara), yang diambil oleh AT di sini sebagai sub-momen kelangsungan, ketika untuk suatu saat yang sangat cepat suatu fenomena yang muncul “menghadapi kelapukannya sendiri” (bhangabhimukha), sebelum benar-benar hancur.

23 Asankhatassa asankhata-lakkhanani. Yang Tak Terkondisi adalah Nibbana, yang tidak menunjukkan kemunculan, perubahan atau kelenyapan apapun.

24 Akatabhiruttana. Yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa yang memberikan perlindungan di dalam kehidupan berikutnya.

25 Menjadi “dapat dilihat secara langsung” (sanditthika) adalah sifat kedua dari enam sifat yang disebutkan di dalam rumusan standar untuk penghormatan terhadap Dhamma; perumusan lainnya (yang menghilangkan sifat pertama, “dibabarkan dengan baik”) muncul di dalam kalimat berikutnya. Vism VII, 76, menjelaskan arti ini: “Ini mengacu kepada jalan mulia (ariya magga) yang dapat dilihat oleh orang suci ketika dia telah terbebas dari keserakahan, dll., di dalam kesinambungan mentalnya.”

26 Kalimat “Dia juga berperilaku buruk… atau kebaikan keduanya”, ditambahkan di III, 54.

27 Brahmana ini adalah penasehat spiritual Raja Pasenadi; dia sering mengajukan pertanyaan kepada Sang Buddha seperti dalam Teks 86, 129 dan 143 di bawah.

28 Ini mengacu kepada “elemen Nibbana dengan sisa yang tertinggal” (sa-upadisesanibbana-dhatu). Lihat It 44: “Di sini seorang bhikkhu adalah seorang arahat, orang yang noda-nodanya telah hancur … Lima kemampuan inderanya tetap tidak rusak, dan dengan lima indera itu dia masih mengalami apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, dan merasakan rasa senang dan rasa sakit. Di dalam dirinya padamlah nafsu, kebencian, dan kegelapan batin yang disebut elemen Nibbana dengan sisa yang tertinggal.” Lihat Bab IV, nomor 12 di bawah.

29 Si kelana Vacchagotta sering muncul di dalam sutta yang melibatkan Sang Buddha di dalam pertanyaan-pertanyaan yang gencar tentang pokok-pokok metafisika yang spekulatif, dan Sang Buddha menolak menjawabnya; lihat MN 72, SN Bab 33, SN 44:7-11. Menurut MN dia akhirnya menjadi bhikkhu di bawah bimbingan Sang Buddha dan mencapai tingkat arahat.

30 Ini mengacu pada jasa kamma yang diperoleh dengan memberikan persembahan kepada para brahmana dan petapa. Menurut Sang Buddha, “kemampuan berbuah” dari suatu perbuatan memberi – yaitu kemampuannya untuk memberikan manfaat kepada si pemberi – bergantung pada interaksi dua faktor: niat dari si pemberi dan kemurnian dari penerima. Pemberian yang diberikan dengan keyakinan, kerendahan hati dan rasa hormat oleh seorang pemberi yang bijaksana akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan secara asal-asalan oleh seorang yang tidak bermoral. Dan suatu pemberian yang diberikan kepada seorang petapa yang luhur dan lurus akan memberikan lebih banyak buah daripada pemberian yang diberikan kepada orang yang secara spiritual tidak berkembang. Pemberian yang diberikan kepada arahat, ladang jasa yang paling tinggi, merupakan perbuatan paling berjasa, seperti yang dijelaskan oleh Sang Buddha. Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai tema ini, lihat MN 142.

Sifat-sifat yang ditinggalkan (persis di bawah ini) adalah lima rintangan. Sifat-sifat yang dimilliki adalah lima “kelompok-dhamma” dari “orang yang sempurna di dalam latihan” (asekha), yaitu arahat.

31 Brahmana Sangarava juga muncul di dalam Teks 111. Kritik yang dilontarkan secara ringkas dan jelas kepada Sang Buddha mengungkapkan perbedaan di dalam perspektif yang memisahkan brahmana dari petapa non-brahmana, samana. Sementara para brahmana menjalani kehidupan berumah tangga yang mapan sebagai pendeta, membaktikan diri mencari jasa melalui ritual dan pengurbanan, para petapa menekankan pentingnya meninggalkan keduniawian dan penguasaan-diri melalui meditasi. Para brahmana memiliki tujuan untuk kelahiran kembali di surga atau di alam Brahma, sedangkan para petapa mencari jalan keluar dari seluruh lingkaran kehidupan dan kematian yang berulang-ulang. Umumnya para petapa tidak mengenali otoritas kitab Veda (lihat Teks 36), dan Sang Buddha khususnya mengkritik praktek para brahmana yang mengurbankan binatang, yang Beliau nyatakan sebagai sumber perbuatan tak berjasa, bukan sumber jasa.

32 Ananda adalah pendamping pribadi Sang Buddha. Sebenarnya beliau yang ingat semua khotbah Sang Buddha dan bertanggung jawab untuk penyusunan Sutta Pitaka pada Konsili yang diadakan setelah Sang Buddha parinibbana.

33 Nimitta. Seperti yang dijelaskan dalam AA, ini mengacu pada indikasi eksternal, yang diinterpretasikan mengacu pada keadaan pikiran orang yang bersangkutan.

34 Bacaan ini telah diringkas. AA menjelaskan yang pertama berarti pengungkapan para dewa yang memiliki pengetahuan supranormal tentang pikiran-pikiran makhluk yang lain. Indikasi yang lain terletak dalam suara-suara halus yang dihasilkan oleh pikiran mereka sendiri, yang ditembus oleh kemampuan telinga-dewa. Yang ketiga mengacu kepada orang dalam suatu pencerapan meditatif yang bebas dari buah-pikir; dalam hal ini pembaca buah-pikir tidak dapat membaca pikiran meditator, tetapi meramal dengan dasar kecenderungan mentalnya sendiri, buah-buah pikir yang dia pikirkan pada waktu muncul dari penyerapan.

35 Anusasanipatihariya. Sebagai contoh, AA memberikan instruksi sebagai berikut: “Engkau harus memikirkan tentang meninggalkan keduniawian, bukan tentang sensualitas. Engkau seharusnya merenungkan ide tentang ketidakkekalan, bukannya ide tentang kekekalan. Engkau seharusnya meninggalkan nafsu terhadap lima tali kesenangan indera dan memperoleh Dhamma supra duniawi dari empat jalan dan buah.” Untuk contoh kekuatan mukjizat pengajaran Sang Buddha, lihat Teks 78.

36 Ungkapan titthayatana merupakan istilah figuratif untuk pandangan-pandangan spekulatif dari para pemikir non-Buddhis. Doktrin dari tanpa tindakan (akiriyavada) mengajarkan bahwa tindakan moral tidak berfaedah dan melibatkan penolakan kamma. Hal ini melemahkan motivasi bagi tindakan moral yang memiliki tujuan.

37 Pandangan pertama, bahwa semua pengalaman adalah akibat dari kamma lampau, oleh umat Buddha dianggap sebagai pandangan Jain. Pandangan ketiga, yang menolak peran usaha manusia, diajarkan oleh Makkhali Gosala, yang hidup pada zaman Sang Buddha. Dia memegang pandangan bahwa semua peristiwa ditentukan oleh nasib (lihat DN 2; MN 76). Doktrin ini, juga doktrin tanpa tindakan, termasuk “pandangan salah dengan tujuan yang sudah pasti” (niyata-miccha ditthi), yaitu pandangan-pandangan yang menuju pada kelahiran yang buruk.

38 Inilah sepuluh arah tindakan yang tidak baik. Di dalam Devadaha Sutta (MN 101), Sang Buddha menghadapi pengikut Jain dengan argumen-argumen lain melawan teori mereka bahwa apapun yang kita alami disebabkan oleh tindakan masa lampau.

39 AA: “Setelah menunjukkan bahwa tiga pandangan ini – yang menuju pada tanpa-tindakan (di dalam arti moral) adalah kosong, tidak tertopang dan tidak menuju ke pembebasan, Yang Terberkati sekarang mulai membabarkan ajaranNya sendiri, yang ditopang dengan baik dan menuju pembebasan. Karena tidak akan ada akhir dari apa yang bisa dibicarakan oleh orang-orang tak pandai tanpa pemahaman yang benar, hanya orang-orang pandailah yang dikhususkan di sini.

40 AA: “Di sini acuan dibuat untuk subjek meditasi yang berupa elemen (dhatu-kammatthana). Bila dilihat dari enam elemen, penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut: elemen tanah, air, api, dan udara merupakan empat elemen materi primer (maha-bhuta). Elemen ruang mewakili bentuk sekunder atau ‘turunan’ (upada-rupa). Ketika butir tunggal dari bentuk turunan ini disebutkan, jenis-jenis turunan lain (yaitu kemampuan indera dan objek-objeknya, dll.) dengan sendirinya tersirat. Elemen kesadaran (viññana-dhatu) adalah pikiran (citta) atau kelompok kesadaran (viññana-khandha). Perasaan yang menyertainya adalah kelompok perasaan, persepsi yang menyertainya adalah kelompok persepsi, kontak dan kehendak yang menyertainya adalah kelompok bentukan kehendak. Itulah empat kelompok mental; empat yang utama dan bentuk-bentuk turunannya merupakan kelompok bentuk. Empat kelompok mental merupakan “batin” (“mentalitas”, nama) dan kelompok bentuk adalah “bentuk” (atau materi, rupa). Jadi hanya ada dua hal ini: nama dan bentuk, materi dan batin (namarupa). Di luar itu, tidak ada suatu inti (satta) maupun suatu jiwa (jiva). Dengan cara ini, orang harus memahami secara ringkas subjek meditasi dari enam elemen yang menuju ke tingkat arahat.” Dengan cara yang mirip, pengelompokan-pengelompokan lain yang ada di dalam sutta dijelaskan secara mendetil di AA, sebagai persiapan untuk praktek pandangan terang analitis.

41 Istilah teknik yang digunakan di sini, manopavicara, menjelaskan aktivitas mental yang diniati, yang mampu menimbulkan jenis-jenis pengalaman tertentu yang berhubungan dengan perasaan.

42 Gabbhassavakkanti. Istilah figuratif untuk avakkanti (atau okkanti; turun) menurut AA berarti asal mula atau manifestasi. Apa yang ditunjuk oleh istilah ini adalah proses kelahiran kembali, atau lebih tepatnya, “rekonsepsi”. Empat elemen materi dan ruang merupakan fondasi materi untuk kelahiran kembali, yang ditopang oleh ovum yang dibuahi. Tetapi untuk terjadi kelahiran kembali, diperlukan suatu komponen non-materi, yaitu arus kesadaran yang diberikan oleh suatu makhluk yang telah mati dari kehidupan sebelumnya. Arus kesadaran ini merupakan elemen keenam, yaitu “elemen kesadaran”. Di dalam MN 38, elemen kesadaran diacu sebagai gandhabba, dan di sana dikatakan bahwa untuk terjadinya konsepsi diperlukan tiga faktor: persatuan seksual dari ibu dan ayah, kesuburan wanita, dan kesadaran, gandhabba dari makhluk yang akan dilahirkan kembali.

43 Okkantiya sati namarupam. Ini adalah variasi dari rantai “sebab-akibat yang saling bergantungan” (lihat nomor 46) yang biasanya diungkapkan demikian: “dengan kesadaran sebagai kondisi, batin dan materi terbentuk”. Mata rantai “kesadaran” di sini digantikan oleh “turun ke dalam rahim” yaitu turunnya kesadaran ke dalam rahim. Di sana kesadaran itu memberikan kehidupan pada ovum yang telah dibuahi, dan hal ini mengaktifkan organisme berperasaan, yang diacu sebagai batin dan materi. Inilah salah satu sumber kitab yang membenarkan penjelasan komentar dari rantai “kesadaran” sebagai rantai kesadaran kelahiran kembali (patisandhi-viññana). Pada titik ini perumusan sebab-akibat yang saling bergantungan diberikan hanya sejauh mata rantai “perasaan”, tetapi persis di bawah perumusan itu dijelaskan keseluruhannya.

44 Vediyamaanassa kho pan’aham bhikkhave ‘idam dukkhan’ … ti paññapemi. AA mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perasaan di sini bukanlah sensasi semata (anubhavanto) melainkan perasaan yang dihubungkan dengan pemahaman (jananto). Untuk itu, diberikan perenungan akan perasaan dari Satipatthana Sutta sebagai contohnya. Artinya, Empat Kebenaran Mulia terutama ditujukan kepada mereka yang memahami sifat sejati perasaan, ketika perasaan itu menampakkan diri dalam pengalaman nyata dan pengamatan yang penuh kewaspadaan.

45 “Lima kelompok yang terkena kemelekatan” (panc’upadanakkhandha) merupakan skema pengelompokan prinsip yang digunakan oleh Sang Buddha untuk menganalisis sifat pengalaman. Di antaranya, lima faktor ini membentuk pengalaman secara utuh: bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan yang berkehendak, dan kesadaran. Mereka juga merupakan “bahan bakar” atau penyangga bagi kemelekatan (upadana), yaitu penopang yang diambil pada saat mulainya kehidupan. Menurut ajaran Sang Buddha, tidak ada diri berinti di atas dan di luar lima kelompok ini yang berfungsi sebagai inti identitas pribadi. Lima kelompok ini termasuk di dalam kebenaran tentang penderitaan karena mereka semua bersifat tidak kekal dan merupakan landasan bagi rasa sakit dan penderitaan.

46 Analisa umum dari Empat Kebenaran ini menyebutkan nafsu keinginan (tanha) semata sebagai asal mula penderitaan. Tetapi di sini perumusan asal mula yang saling bergantungan (paticca-samuppada) dimasukkan untuk memberikan penjelasan yang lebih lengkap. Demikian pula persis di bawahnya, berhentinya penderitaan tidak dijelaskan hanya sebagai akibat dari berhentinya nafsu keinginan. Di sini diberikan juga seluruh formula untuk pembalikan sebab-akibat yang saling bergantungan.

47 Menurut AA, kota ini terletak di pinggir hutan dan dengan demikian berfungsi sebagai tempat perhentian untuk berbagai kelompok petapa dan pengelana. Kunjungan para pendatang menyebabkan penduduk kota itu terbuka bagi berbagai rangkaian teori filsafat. Tetapi sistem berpikir yang saling berlawanan yang mereka hadapi itu menyebabkan keraguan dan kebingungan. Sutta ini sering dilukiskan sebagai “piagam Sang Buddha bagi penyelidikan yang bebas”. Namun walaupun hal itu memang mematahkan kepercayaan buta, keunggulan pendapat pribadi tidak dianjurkan di dalam lingkup spiritual. Akan kita lihat bahwa satu kriteria penting untuk penilaian sehat yang diajukan oleh Sang Buddha adalah pendapat para bijaksana, dan menerapkan kriteria ini berarti bahwa orang disiapkan untuk mengenali orang lain yang lebih bijaksana daripada dirinya sendiri dan menerima rekomendasi mereka karena yakin bahwa mereka akan membimbingnya menuju manfaat jangka panjang.

48 Sepuluh kriteria yang tidak memadai mengenai keterangan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori: (1) Yang pertama adalah dalil yang didasarkan pada tradisi, yang mencakup empat kriteria pertama. Dari kriteria ini, “tradisi lisan” (anussava) biasanya dianggap mengacu pada tradisi Veda, yang menurut para brahmana, berasal dari Dewa Pertama dan diturunkan ke generasi-generasi berikutnya. “Turun-temurun” (parampara) menunjukkan tradisi pada umumnya dan kesinambungan yang tidak terputus dari ajaran-ajaran atau guru-gurunya. “Kata orang” (atau “laporan”; itikira) bisa berarti pendapat populer atau persetujuan umum. Dan “koleksi kitab suci” (pitaka-sampada) mengacu pada koleksi kitab-kitab agama apapun yang dianggap sebagai tidak bisa salah. (2) Rangkaian keduayang terdiri empat kriteria berikutnya, mengacu pada empat jenis penalaran yang dikenali oleh para pemikir di zaman Sang Buddha; perbedaan-perbedaan mereka tidak perlu menghalangi kita di sini. (3) Rangkaian ketiga, yang merupakan dua butir terakhir, terdiri dari dua jenis otoritas pribadi: yang pertama adalah kharisma pribadi pembicara (mungkin mencakup juga kualifikasi eksternalnya, misalnya dia memiliki pendidikan yang tinggi, memiliki banyak pengikut, dihormati raja dll.); yang kedua adalah otoritas yang bermula dari hubungan pembicara dengan dirinya, yaitu bahwa dia adalah guru pribadinya sendiri (kata Pali garu yang digunakan di sini identik dengan kata Sanskertaguru). Untuk analisa yang mendetil, lihat Jayatilleke, hal. 175-202, 271-75.

49 Menurut Sang Buddha, ini merupakan tiga akar tidak bajik yang mendasari semua perilaku tidak bermoral dan semua keadaan pikiran yang kotor; lihat Teks 24, 37. Karena tujuan Ajaran Sang Buddha adalah hancurnya keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, Sang Buddha secara halus telah membimbing para Kalama untuk melihat kebenaran Ajaran Beliau, hanya dengan cara merenungkan pengalaman mereka sendiri. Sama sekali Sang Buddha tidak perlu memaksakan otoritas kepada mereka.

50 Pada titik ini, Sang Buddha memperkenalkan praktek empat “tempat tinggal yang agung” (brahmavihara), pengembangan cinta kasih universal, kasih sayang, suka cita altruistik (yang tidak mementingkan diri sendiri), dan ketenang-seimbangan. Cinta kasih (metta) secara formal didefinisikan sebagai keinginan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk; kasih sayang (karuna) sebagai rasa empati kepada mereka yang tertimpa penderitaan; suka cita altruistik (mudita), sebagai suka cita dalam keberhasilan dan nasib baik orang lain; dan ketenang seimbangan (upekkha), sebagai sikap netral atau tidak pilih kasih terhadap makhluk. Untuk pembahasan terperinci tentang sifat-sifat ini, baik secara umum maupun sebagai subjek meditasi, lihat Vism Bab IX.

51 AA “‘Di dalam dua hal’ (ubhayen’eva): karena dia tidak melakukan kejahatan dan karena tidak ada kejahatan yang akan menimpanya.”

52 Nafsu-keinginan (raga). Seringkali digunakan padan katanya, yaitu keserakahan (lobha). Di situ, seperti juga di sini, tiga akar tindakan yang tidak baik (akusala-mula) dijelaskan.

53 Untuk menunjukkan bahwa nafsu keinginan adalah “tidak amat tercela”, AA menawarkan sebagai contoh bahwa tidak ada noda sosial yang melekat pada perkawinan, walaupun perkawinan itu bermula dari nafsu seksual. Dan jika, dalam hal itu, nafsu tetap berada dalam batas hukum moral dasar, nafsu seksual itu sendiri tidak akan membawa pada kelahiran kembali yang tidak bahagia di alam-alam yang rendah. Jadi, nafsu tidak amat tercela sehubungan dengan akibat kammanya. Tetapi karena nafsu mempunyai akar yang sangat dalam pada sifat manusia, “ini sama sulitnya untuk dihilangkan seperti jelaga berminyak, dan kemelekatan tertentu bisa mengikuti seseorang sampai bahkan selama dua atau tiga kehidupan”.

Kebencian dan kebodohan batin keduanya dianggap tercela di dalam masyarakat dan memiliki akibat kamma yang serius, karena keduanya bisa membawa pada kelahiran kembali di alam-alam sengsara. Tetapi kebencian merupakan keadaan pikiran yang tidak menyenangkan, dan karena makhluk secara alami ingin berbahagia, mereka ingin bebas darinya. Juga dengan minta maaf pada mereka yang telah kita sakiti sewaktu marah, maka kita dapat lebih mudah menghapus akibat kemarahan di dalam diri sendiri dan orang lain. Tetapi ide-ide yang bodoh, jika berakar dalam pada nafsu keinginan, pandangan salah atau kesombongan, juga akan sulit dihilangkan, sama seperti nafsu.

54 Bacaan ini sesuai dengan Teks 2, dengan “niat-jahat” – yang di sini diwakili oleh padan katanya yaitu “kebencian” – dan “keraguan” yang digantikan oleh “kebodohan batin”, akar yang mendasarinya. Untuk penjelasan istilah-istilah teknis, lihat catatan-catatan berikut mengenai Bab I: no. 4 tentang perhatian yang tidak benar, no. 6 tentang objek yang menjijikkan, no. 7 tentang membebaskan pikiran dengan cinta kasih; no. 10 tentang perhatian yang benar.

55 Bhava: kehidupan pribadi yang selalu diterima oleh Buddhisme sebagai proses dumadi (menjadi) yang dinamis. Kitab-kitab komentar membedakan antara dua fase dumadi yang terus menerus naik turun (kammabhava), “dumadi yang aktif secara kamma”, kesempatan-kesempatan di mana kita terlibat dalam aktivitas yang berkehendak (= kamma), yang menyemai “benih-benih” kelahiran kembali dan pengalaman di masa depan; dan upapattibhava, “dumadi kelahiran kembali”, kesempatan-kesempatan pengalaman yang merupakan akibat dari masaknya kamma masa lampau dan di situ kamma memberikan buahnya. Sutta ini memberikan penjelasan mengenai bagaimanakammabhava menimbulkan upapattibhava.

56 Kammabhava: “dumadi di lingkup indera” adalah kehidupan di alam lingkup-indera, yang terendah dari tiga alam kehidupan, yang terdiri dari alam neraka, alam binatang, lingkup setan, dunia manusia dan enam surga rendah. (Lihat Pendahuluan hal. 27 dan Tabel 1 dan 2).

57 Sebagaimana suatu benih yang punya potensi untuk berkembang menjadi suatu jenis tanaman yang sesuai dengan sifatnya, begitu pula kesadaran yang digunakan oleh seseorang untuk melakukan tindakan berkehendak berfungsi sebagai benih dengan potensi untuk menimbulkan bentuk kehidupan baru yang sesuai dengan sifat etis dari tindakan itu. Pernyataan itu merupakan suatu ringkasan dari prinsip sebab-akibat yang saling bergantungan: kesadaran yang diiringi kebodohan batin dan nafsu keinginan didorong oleh kamma (=bentukan yang berkehendak) menjadi suatu kehidupan baru (=kesadaran dan batin dan materi) yang dibatasi oleh kelahiran di satu sisi dan kematian di sisi lain.

58 Rupabhava: alam bentuk halus, alam perantara dalam kosmos Buddhis; di sini tidak ada tingkat-tingkat pengalaman indera yang lebih kasar dan para makhluk melewatkan sebagian besar waktunya dalam kegembiraan meditatif. Kelahiran kembali pada alam ini terjadi melalui penguasaan jhana (lihat Teks 77). Di alam ini terdapat lima Kediaman Murni. Ke dalam alam ini kelompok Yang-Tidak-Kembali-Lagi akan terlahir.

59 Arupabhava: alam kosmologi tertinggi, di mana materi telah sepenuhnya lenyap dan hanya pikiran yang ada. Alam ini terdiri dari empat alam yang amat halus. Ke dalam alam ini diperoleh kelahiran kembali dari penguasaan atas empat meditasi non-materi atau tanpa bentuk (aruppa; lihat Teks 87).

60 Ini dikatakan dengan acuan pada Patimokkha, kode peraturan monastik, yang dalam versi Pali sebenarnya mengandung 227 peraturan. Mungkin saat ini Patimokkha belum mencapai bentuk akhirnya.

61 Adhisila-sikkha, adhicitta-sikkha, adhipañña-sikkha. Tiga pembagian latihan Buddhis ini sering dihubungkan dengan delapan faktor dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Lihat Pendahuluan hal. 45-9.

62 Tentu saja ini merupakan penembusan Empat Kebenaran Mulia. Penembusan penuh terhadap Empat Kebenaran ini muncul dengan pencapaian jalan supra duniawi, tetapi kebijaksanaan yang lebih tinggi dapat juga mencakup kebijaksanaan pandangan terang yang menuju pada jalan supra duniawi.

63 AA mengatakan bahwa kecuali untuk empat Parajika (pelanggaran yang menyebabkan bhikkhu dikeluarkan dari Sangha secara permanen), peraturan-peraturan lainnya harus dipahami sebagai “peraturan latihan yang minor dan tidak begitu penting” (khuddanukhuddakani sikkhapadani). Parajika melarang hubungan seksual, mencuri barang-barang yang cukup berharga sehingga dituntut secara hukum; membunuh manusia, dan secara sadar membuat pernyataan palsu mengenai suatu pencapaian spiritual yang lebih tinggi; pelanggaran dari peraturan-peraturan ini menyebabkan bhikkhu langsung dikeluarkan dari Sangha. Pernyataan AA di sini tampaknya terlalu liberal, karena kelas-kelas lain dari peratuaran Vinaya tentunya mencakup peraturan yang “mendasar untuk kehidupan suci”, seperti misalnya larangan untuk berbohong secara sengaja dan minum-minuman yang bersifat racun dan melemahkan kesadaran, (lihat Teks 62), yang keduanya termasuk dalam kelas Pacittiya. Ungkapan “peraturan latihan yang minor dan tidak begitu penting” adalah salah satu pokok argumentasi pada Konsili Buddhis Pertama (lihat Vin II 287-88).

Rehabilitasi dari suatu pelanggaran yang lebih ringan daripada Parajika diperoleh dengan menjalani hukuman yang telah ditentukan, yang di banyak kasus hanyalah pengakuan kepada bhikkhu lain. AA mengganti kata-kata, “Hal ini tidak dikatakan tidak mungkin baginya” menjadi “Karena aku tidak menyatakan bahwa adalah tidak mungkin bagi seorang suci (ariyapuggala) untuk melakukan pelanggaran seperti itu dan untuk memperbaiki dirinya sendiri.” Sutta ini akan dapat membantu menghalau pendapat yang tersebar di negara Buddhis, bahwa orang-orang suci sepenuhnya tidak mungkin melanggar Vinaya. Sesungguhnya, persis di bawahnya, Sang Buddha mengatakan bahwa bahkan para arahat pun dapat melakukan pelanggaran minor semacam itu; AA menambahkah bahwa mereka mungkin melakukan pelanggaran atas peraturan-peraturan yang diberikan (hampir pasti tanpa niat untuk melakukannya), tetapi mereka tidak melanggar moralitas dasar. Lihat Teks 177 untuk sembilan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang arahat.

64 AA menjelaskan peraturan-peraturan “yang amat mendasar bagi kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci” (Adibrahmacariyakani brahmacariyasaruppani) sebagai “empat peraturan latihan moralias yang agung” (yaitu empat Parajika), “yang mendasar bagi kehidupan suci pada Sang Jalan (yang mulia)” dan “sesuai dengan kehidupan suci dari empat jalan (supra-duniawi)”. Orang suci tidak mungkin akan melanggar ini dengan sengaja.

65 Tiga belenggu (samyojana) yang dilenyapkan oleh Pemasuk-Arus adalah: pandangan mengenai pribadi, yaitu pandangan mengenai adanya diri sehubungan dengan lima kelompok khanda; keraguan tentang Sang Buddha, Ajaran Beliau dan jalan latihan; serta kemelekatan pada peraturan dan sumpah; yaitu: praktek-praktek ritual dan pengampunan dosa yang diterapkan karena percaya bahwa praktek-praktek tersebut akan menghasilkan pembebasan.

66 Yang-Tidak-Kembali-Lagi mematahkan seluruh lima belenggu yang lebih rendah (orambhagiyani samyojanani) – tiga belenggu yang pertama (lihat catatan sebelumnya) dan juga dua belenggu berikutnya, yaitu nafsu sensual dan niat jahat. Karena belenggu-belenggu ini mengikat para makhluk ke alam dumadi indera (Teks 38), Yang-Tidak-Kembali-Lagi tidak pernah dapat lagi terlahir di alam indera tetapi mengambil kelahiran di alam bentuk (biasanya di salah satu Kediaman Murni). Di situ dia mencapai Nibbana akhir.

67 Ini adalah pencarian tingkat arahat, pembebasan penuh. Selain noda-noda, arahat juga menghancurkan lima “belenggu yang lebih tinggi” (uddhambhagiyani samyojanani): nafsu akan alam bentuk, nafsu akan alam tanpa bentuk, kesombongan, kegelisahan dan kebodohan batin. Belenggu-belenggu itu sebagian tumpang tindih dengan noda-noda: dua yang pertama tercakup dalam noda nafsu untuk dumadi; yang terakhir sama dengan noda kebodohan batin.

68 Edisi teks Pali di sini menunjukkan berbagai pembacaan yang tidak pasti, tetapi karena maksudnya cukup jelas maka diberikan terjemahan bebas yang disederhanakan.

69 Kamavitakka, byapadavitakka, vihimsavitakka. Ini sama dengan tiga buah pikir yang salah atau niat yang salah, yang harus ditanggulangi oleh niat benar, faktor kedua dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Lihat juga Teks 51, 175, 187 §7.

70 Dhammavitakka. Terjemahannya didasarkan pada penjelasan AA, yang mengambil ungkapan ini untuk mengacu pada sepuluh korupsi pada meditasi pandangan terang (dasa vipassanupakkilesa); lihat Vism XX, 105 28. Penjelasan serupa diberikan mengenai dhammuddhacca, “kegelisahan tentang keadaan-keadaan yang lebih tinggi”, di Teks 83. Tetapi, bisa saja dhammavitakka dipahami sekadar sebagai perenungan tentang Ajaran.

71 Sati sati ayatane. Ini mengacu kepada kondisi-kondisi pendahulu yang dibutuhkan agar pencapaian dapat mengikuti, yaitu, enam “pengetahuan tinggi” (abhiñña). Yang lima bersifat duniawi; yang keenam adalah pencapaian supra duniawi tingkat arahat, yang di sini disebut hancurnya noda (asavakkhaya). Kondisi yang diperlukan untuk kelima pengetahuan-tinggi adalah penguasaan atas jhana keempat; landasan bagi tingkat arahat adalah pengembangan pandangan terang yang didasarkan pada konsentrasi. Untuk penjelasan rinci mengenai kelima pengetahuan tinggi duniawi, lihat Vism Bab XII dan XIII.

72 Dalam Ee, khotbah ini dicakupkan ke dalam Sutta Nomor 100, yaitu yang berhubungan dengan Teks 41 kita sebelumnya. Tetapi ada sedikit keraguan bahwa ini merupakan sutta terpisah, dan sutta ini muncul sedemikian juga di Be dan juga di AA.

73 Upekkhanimitta. Ini mengacu kepada pengamatan dan pemeriksaan yang tak melekat tentang keadaan meditatif pikiran. AA: Dia memeriksa kecepatan pengetahuan (ñanajavam upekkheyya), yaitu intensitas pandangan terang yang menembus.

74 Ajjhupekkhati. Ini mengacu kepada butir ketiga, upekkha, ketenang-seimbangan, yang secara harafiah berarti “menonton”, yaitu pengamatan atau pemeriksaan yang tidak melekat.

75 Tiga istilah ini, yang sering muncul bersama dalam teks, ada dalam bahasa Pali: assada, adinava, nissarana. Kitab-kitab komentar menghubungkan mereka dengan Empat Kebenaran Mulia demikian: “bahaya” menunjukkan kebenaran akan penderitaan; “pemuasan”, kebenaran akan asal mula penderitaan (karena kesenangan adalah rangsangan terhadap nafsu keinginan, yang sesungguhnya merupakan asal mula dari penderitaan); dan “jalan keluar”, kebenaran akan berhentinya penderitaan, atau Nibbana. Walaupun kebenaran keempat, kebenaran akan Sang Jalan, tidak disebutkan secara eksplisit dalam tiga serangkai itu, namun hal itu disiratkan sebagai sarana bagi jalan keluar.

76 Menurut AA, bhikkhu-bhikkhu ini sama dengan mereka yang sebelumnya diajar oleh Sang Buddha tentang Mulapariyaya Sutta (MN 1). Mereka sombong dan arogan, tetapi Sang Buddha telah membuat mereka rendah hati lewat Mula Sutta dan kemudian mengkhotbahkan sutta ini kepada mereka ketika Beliau mengetahui bahwa sikap mereka telah berubah dan pemahaman mereka telah masak. Kali ini para bhikkhu memberikan persetujuan mereka dan selagi duduk mereka mencapai tingkat arahat seiring dengan empat pengetahuan analitis (patisambhida lihat – Bab I, nomor 18). Jika kita menganggap bahwa Gotamaka Sutta inilah yang membawa dampak besar bagi dipenuhinya Mulapariyaya Sutta yang agung, dapat kita pahami mengapa dikatakan bahwa teks pendek ini memiliki kekuatan yang sedemikian besar sehingga dapat menyebabkan berguncangnya sistem tata surya.

77 Sabbe sankhara anicca, sabbe sankhara dukkha, sabbe dhamma anatta. Untuk perbedaan antara sankhara atau “bentukan” dan dhamma, “hal-hal” secara umum, lihat Bab I, nomor 20.


http://www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar: