Minggu, 18 Desember 2011

10.Mengabdi pada Praktik


        Berjalan di Jalan Tengah Sang Buddha itu sungguh penuh tantangan dan tak mudah. Ada dua ekstrim, baik dan buruk.Jika kita percaya apa yang orang katakan, kitapun nurut dan melaksanakannya. Kalau ada seseorang menjengkelkan, kita serta merta membalas orang itu. Tidak ada kesabaran dan ketabahan (khanti). Bila mencintai seseorang, kita maunya melindunginya dari kepala hingga tumit. Benar tidak? Kedua sisi jalur ini meleset dari tengah. Ini bukan yang dianjurkan Sang Buddha. Ajaran beliau adalah: bertahap letakkan segala sesuatunya.Latihannya merupakan sebuah jalan yang menuntun keluar dari keberadaan, lepas dari kelahiran kembali — sebuah jalan yang bebas dari proses menjadi, kelahiran, kebahagiaan, ketidak-bahagiaan, baik dan buruk.

        Orang-orang yang kecanduan eksistensi buta akan jalan tengah. Mereka meleset keluar dari Jalan, jatuh pada sisi kesenangan, — lalu sepenuhnya malah melewatkan yang di tengah saat menyebrang ke sisi ketidak-puasan dan kejengkelan.Mereka terus melewatkan yang ada di tengah. Tempat suci ini tidak terlihat bagi mereka saat mereka tergopoh-gopoh pulang-pergi. Mereka tidak singgah di tempat yang tanpa keberadaan dan tiada-kelahiran. Mereka tidak menyukainya, jadi mereka tak mau tinggal. Keluar dari rumah, mereka digigit anjing atau naik ke atas mereka dipatuk burung nasar. Inilah keberadaan (existence).

         Manusia itu buta terhadap hal yang bebas dari eksistensi yang tiada kelahiran kembali. Hati manusia buta terhadap itu, jadi ia berulang kali melewatinya dan mengabaikannya.Sang Buddha berjalan di Jalan Tengah, merupakan jalan praktik yang benar, yang mengatasi keberadaan dan kelahiran-kembali.Pikiran melampaui kebaikan dan keburukan. Ini merupakan jalan para bijak yang damai. Jika kita tidak menjalankannya kita tidak akan pernah menjadi seorang bijak yang tenang. Kedamaian takkan berkesempatan untuk mekar. Mengapa?Karena keberadaan dan kelahiran kembali. Karena ada kelahiran dan kematian. Jalan Buddha tidak ada kelahiran atau kematian.Tidak ada rendah dan tidak ada tinggi. Tak ada kebahagiaan dan tiada penderitaan. Tiada baik dan tiada buruk. Ini merupakan jalan yang lurus. Ini merupakan jalan yang damai dan hening. Kedamaiannya bebas dari kesenangan dan kesakitan, kebahagiaan dan kesedihan. Inilah cara mempraktikkan Dhamma.Saat mengalaminya, pikiran dapat berhenti. Ia dapat berhenti bertanya. Tak perlu lagi mencari jawaban. Di sana! Inilah makanya Sang Buddha mengatakan bahwa yang bijaksana mengetahui langsung oleh diri mereka sendiri. Tidak perlu lagi bertanya kepada orang lain. Kita mengerti jelas oleh kita sendiri tanpa sedikitpun keraguan bahwa segala hal memang tepat persis seperti yang dikatakan Sang Buddha.

        Demikian saya telah menceritakan beberapa cerita tentang bagaimana saya berlatih. Saya tidak memiliki banyak pengetahuan. Saya tidak belajar (study) banyak. Apa yang telah saya pelajari adalah bathin dan pikiran saya, saya mempelajarinya secara alamiah melalui pembuktian, percobaan dan kesalahan-kesalahan. Saat saya menyukai sesuatu, saya akan menyelidikinya ke mana ia akan pergi dan akan menjadi apa.Yang pasti akhirnya hal ini membuat saya cukup menderita.Praktik saya adalah untuk mengamati diri sendiri. Seiring dengan pemahaman dan insight yang mendalam, lambat laun saya jadi memahami diri saya sendiri.

        Berlatihlah dengan tekun dan tanpa gentar! Jika anda ingin praktik, cobalah untuk tidak berpikir-pikir terlalu banyak. Saat bermeditasi, kalau menyadari bahwa anda sedang memaksakan diri untuk mencapai sesuatu, lebih baik berhenti. Ketika pikiran anda menjadi tenang dan anda mulai berpikir, “Ini dia! Bukankah ini? Inikah?”, maka berhentilah juga. – Bungkus,simpan, letakkan saja pengetahuan analitis dan teoritis anda dalam dada. Dan jangan mengeluarkannya untuk berdiskusi atau untuk mengajar. Itu bukanlah bentuk pengetahuan yang berasal dari dalam. Mereka merupakan bentuk pengetahuan yang lain.

         Kenyataan sesuatu hal yang terlihat tidak sama dengan penjelasan yang tertulis. Contohnya, katakanlah kita menulis kata “nafsu indera”. Tatkala nafsu indera sungguh menyerang bathin ini, maka ungkapan tertulisnya tidaklah mungkin sama dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ia sama dengan “kebencian”.Kita dapat menulis huruf-hurufnya pada papan tulis, tetapi hal ini tidak sama saat kita sungguh-sungguh mengalami kebencian. Kita tak sempat lagi membaca huruf-huruf tersebut, dan bathin kita sekejab ditelan api kemarahan.

        Ini merupakan sebuah titik yang amat penting. Pengajaran teoritis itu memang benar akurat, namun sangat penting untuk merasukkannya ke dalam hati. Ia harus di-internalisasi.Dhamma yang tidak meresap ke dalam bathin, belum benar-benar diketahui. Ia belum benar-benar dipahami. Tidak berbeda dengan saya. Saya tidak belajar secara luas, tetapi saya memang sudah belajar cukup buat lulus ujian teori Buddhis.Pada suatu hari saya berkesempatan mendengarkan kotbah dari seorang master meditasi. Seiring saya mendengarkannya timbul pemikiran yang tidak hormat.
Saya tidak tahu bagaimana mendengarkan kotbah Dhamma yang sesungguhnya. Saya tidak dapat membayangkan apa yang sedang dibicarakan oleh bhikku meditasi pengembara yang membingungkan ini. Dia mengajar seakan-akan datang dari pengalaman langsungnya,seolah-olah dialah kebenaran itu.

        Seiring berjalannya waktu saya memperoleh pengalaman langsung di dalam praktik. Saya menyaksikan sendiri kebenaran pada ajaran guru tadi. Saya mengerti bagaimana memahaminya. Insight pun kemudian muncul mengikuti keterjagaan ini. Dhamma mulai mengakar di dalam bathin dan pikiran saya. Ini memerlukan waktu yang cukup lama sebelum saya benar menyadari bahwa segala yang diajarkan oleh bhikku pengembara tersebut datang dari apa yang telah ia saksikan sendiri. Dhamma yang diajarkannya datang langsung dari pengalamannya sendiri, bukan dari buku. Ia berbicara menurut pandangan-terang (insight) dan pemahamannya. Ketika saya menempuh Jalan itu sendiri, saya menjumpai setiap detail yang telah dijelaskan dan mesti mengakui bahwa dia benar.Maka sayapun berlanjut.

        Berjuanglah, berusaha mengambil setiap kesempatan yang ada untuk praktik Dhamma. Apakah jadinya menenangkan atau tidak, jangan risaukan itu dulu. Yang terpenting adalah membuat roda-praktik ini segera menggelinding dan membangun sebab-sebab bagi pembebasan di waktu mendatang.Kalau anda sudah melaksanakan tugas ini, tak perlu mengkhawatirkan hasilnya. Jangan cemas manakala anda belum memperoleh hasil. Kecemasan bukanlah kedamaian. Kalau sebaliknya, anda tidak melaksanakan pekerjaan tersebut,bagaimana anda boleh mengharapkan hasil? Jangan pernah berharap. Hanya dia yang mencari, yang menemukan. Siapa yang makan dialah yang kenyang. — Segala sesuatu di sekeliling kita, membohongi kita. Mengenali ini walaupun sampai sepuluh kali masih tetap lebih baik.Namun penipu tua itu terus mencelotehkan kebohongan-kebohongan kuno dengan trik-trik usang. Masih lumayanlah jika kita tahu tipuan mereka; tetapi hal itu bisa jadi butuh waktu yang lama sebelum kita menyadarinya. Konco lawas itu terus datang dan mencoba memperdayai kita dengan bualannya dari waktu ke waktu.

        Mempraktikkan Dhamma berarti menegakkan kebajikan, mengembangkan samadhi dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam hati kita. Mengingat dan merenungi tiga permata: Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Tinggalkan semuanya total tanpa kecuali. Tindakan-tindakan kita merupakan sebab dan kondisi yang akan berbuah dalam kehidupan ini. Jadi berjuanglah dengan tekun.

        Kendati harus duduk di kursi untuk meditasi, tetap mungkin untuk memusatkan perhatian. Pada awal latihan kita hanya perlu memusatkan perhatian pada nafas. Jika suka boleh juga dalam hati melafal kata “Buddha”,”Dhamma”, atau “Sangha” bersamaan dengan setiap nafas. Pastikan untuk tidak mengontrol nafas saat memusatkan perhatian. Apabila nafas terasa tak teratur dan tak nyaman, ini tanda bahwa kita belum melakukannya dengan benar. Selama kita belum merasa nyaman dengan nafas ini, ia akan terasa terlalu dangkal atau terlalu dalam, terlalu halus atau terlalu kasar. Tetapi bagaimanapun kita akan merasa rileks dengan nafas kita suatu saat, merasakan senang dan nyaman. Menyadarinya dengan jelas setiap tarikan dan hembusan, kemudian kita bergandengan dengannya. Kita akan kehilangan nafas ini jika tidak melakukannya dengan perhatian.Kalau ini terjadi, lebih baik berhenti sejenak lalu pusatkan kembali perhatian anda.

Tidak ada komentar: