Sabtu, 24 Desember 2011

Damai di Setiap Langkah 4





MEMELIHARA KESADARAN DI SETIAP SAAT


Suatu senja di musim salju yang dingin, ketika saya pulang ke rumah sehabis berjalan-jalan di perbukitan, saya temukan semua pintu serta jendela di padepokan saya telah terbuka. Ketika saya pergi tadi, saya belum menguncinya, dan angin yang dingin telah bertiup ke dalam rumah, membuka jendela-jendela dan menghamburkan semua kertas dimeja saya ke seluruh ruangan.

Segera saya menutup semua pintu dan jendela, menyalakan lampu, mengumpulkan kertas-kertas, serta menata mereka kembali dengan rapi di atas meja. Lalu saya menyalakan api di perapian, dan dengan segera retihan batang kayu mengembalikan kembali kehangatan di dalam ruangan.

Kadangkala di dalam keramaian kita merasa lelah, dingin, dan kesepian. Kita mungkin berharap untuk menyendiri dan menjadi hangat kembali, seperti yang saya lakukan ketika menutup jendela dan duduk di dekat perapian terlindung dari kelembaban dan angin dingin. Indera-indera kita adalah jendela kita terhadap dunia, dan kadang-kadang angin bertiup melaluinya serta mengganggu segala sesuatu yang ada di dalam diri kita. Beberapa di antara kita membiarkan jendela kita terbuka sepanjang waktu, mengizinkan pemandangan dan suara dunia menyerbu kita, menembus kita, dan menampakkan kesedihan, kesusahan kita.

Kita merasa begitu dingin, kesepian dan takut. Apakah anda pernah menonton suatu program TV yang mengerikan, tetapi tak sanggup mematikannya? Suara-suara yang parau, ledakan senjata api, sungguh menyedihkan. Tetapi anda tidak bangun dan mematikannya, mengapa anda menyiksa diri seperti ini? Tidakkah anda ingin menutup jendela-jendela anda? Apakah anda takut terhadap kesunyian – kekosongan dan kesendirian yang akan anda temui ketika anda berhadapan dengan diri sendiri saja?

Menonton program TV yang jelek, kita “menjadi” program TV itu. Kita adalah apa yang kita pikirkan dan rasakan. Jika kita marah, kita merupakan kemarahan itu. Jika kita jatuh cinta, kita adalah cinta. Jika kita melihat pada puncak gunung yang diselimuti salju, kita adalah gunung itu. Kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan. Jadi mengapa kita membuka jendela-jendela kita untuk program TV yang jelek yang dibuat oleh para produser yang sensasional untuk mencari uang dengan mudah, program yang membuat jantung kita berdebar, kepalan tangan kita mengetat, dan membiarkan kita kehabisan tenaga? Siapakah yang mengizinkan program TV semacam itu dibuat dan ditonton bahkan oleh anak-anak yang masih sangat muda? Kita! Kita terlalu enteng, terlalu siap untuk menonton apapun yang ada di layar, terlalu kesepian, malas, atau bosan untuk membentuk kehidupan kita sendiri. Kita menyalakan TV dan membiarkannya, mengizinkan orang lain untuk membimbing kita, membentuk kita dan menghancurkan kita. Menyesatkan diri kita dengan cara seperti ini berarti menyerahkan nasib kita ke dalam tangan orang lain yang bisa jadi tidak bertanggung jawab. Kita harus menyadari program mana yang merugikan sistem syaraf, batin dan jantun kita, dan program mana yang bermanfaat bagi kita.

Tentu saja, saya tidak berbicara hanya tentang televisi. Semua yang ada di sekeliling kita, berapa banyak daya tarik yang dibuat oleh teman dan diri kita sendiri? Dalam sehari, berapa kali kita tersesat dan berhamburan karena mereka? Kita harus sangat berhati-hati untuk menjaga peruntungan dan kedamaian kita. Saya tidak menganjurkan agar kita mesti menutup semua jendela kita, karena di sana banyak keajaiban yang kita sebut “di Sebelah Luar”.

Kita dapat membuka jendela kita untuk keajaiban ini dan melihat semuanya dengan kesadaran. Dengan cara ini, bahkan ketika sedang duduk di tepi aliran air yang jernih, mendengarkan music yang indah, atau menonton bioskop yang baik sekali, kita tidak perlu sepenuhnya terbawa kedalam arus air yang jernih, musik, atau film tersebut. Kita dapat terus menyadari diri dan pernapasan kita. Dengan cahaya kesadaran yang bersinar di dalam diri kita, kita dapat menghindari sebagian besar bahaya. Arus akan menjadi lebih jernih, musik lebih selaras, dan jiwa sanubari si pembuat film akan tampak sepenuhnya.

Sebagai meditator pemula, kita mungkin ingin meninggalkan kota dan pergi ke pedesaan untuk membantu menutup jendela-jendela yang mengganggu semangat kita. Di sana kita bisa menyatu dengan hutan yang sunyi, serta menemukan dan memulihkan diri kita, tanpa dihanyutkan oleh kesemrawutan “dunia sebelah luar”.

Hutan yang segar dan sunyi membantu kita tetap dalam kesadaran, dan ketika kesadaran kita telah mantap dan kita telah dapat menjaganya dengan tanpa tergoyahkan, kita mungkin ingin kembali ke kota dan menetap di sana, dengan lebih sedikit persoalan. Tetapi kadang-kadang kita tidak bisa meninggalkan kota, dan kita harus menemukan unsur-unsur yang menyegarkan dan menentramkan yang dapat mengobati kita di tengah kesibukan kehidupan kita. Kita mungkin ingin mengunjungi seorang teman yang baik yang bisa membantu kita, atau pergi berjalan-jalan di taman serta menikmati pepohonan dan angin yang sejuk.

Apakah kita berada di kota, pedesaan, atau hutan belantara, kita perlu menopang diri kita dengan memilih lingkungan kita secara cermat dan memelihara kesadaran kita di setiap saat.




DUDUK DI MANA SAJA


Bila anda perlu untuk melambat dan kembali pada diri sendiri, anda tidak perlu bergegas pulang menuju ke bantal meditasi anda atau ke pusat meditasi untuk mempraktikkan bernapas dengan sadar. Anda bisa bernapas di mana saja, dengan duduk di kursi anda di kantor atau duduk di mobil anda.

Bahkan ketika anda berada di pusat perbelanjaan yang penuh orang atau mengantri di bank, jika anda mulai merasa kosong dan perlu kembali pada diri sendiri, anda bisa berlatih bernapas dan tersenyum seraya tetap berdiri di sana.

Di manapun anda berada, anda bisa bernapas dengan penuh perhatian. Kita semua perlu kembali pada diri sendiri dari waktu ke waktu, agar bisa menghadapi berbagai kesulitan hidup. Kita dapat melakukannya dalam posisi apapun – berdiri, duduk, berbaring atau berjalan. Jika bisa, anda duduk, karena bagaimanapun, posisi duduk adalah yang paling stabil.

Pada suatu ketika, saya menunggu pesawat terbang yang terlambat empat jam di Bandar Udara Kennedy, New York, dan saya menikmati duduk bersilang kaki tepat di tempat menunggu. Saya cukup menggulung sweater atau mantel saya dan menggunakannya sebagai bantal dan duduklah saya. Orang memandang saya dengan rasa ingin tahu, tetapi sesaat kemudian mereka mengacuhkan saya, dan saya duduk dalam kedamaian. Di sana tidak ada tempat untuk istirahat, Bandar udara itu penuh dengan orang, jadi saya cukup mengenakkan diri sendiri, di mana saya berada. Anda mungkin tidak ingin bermeditasi begitu menyolok, tetapi bernapas dengan sadar dalam posisi apapun, kapan saja, bisa membantu anda memulihkan diri sendiri.



MEDITASI DUDUK


Sikap badan untuk bermeditasi yang paling stabil adalah duduk bersilang kaki di atas bantal duduk. Pilihlah bantal dengan ketebalan yang sesuai untuk menopang anda. Posisi setengah teratai dan teratai penuh sangat baik untuk membangun kestabilan jasmani dan batin. Duduk dalam posisi teratai, dengan lembut menyilangkan kaki dengan menempatkan satu kaki (untuk setengah teratai) atau kedua kaki (untuk teratai penuh) pada paha yang berlawanan. Jika posisi teratai sulit, boleh juga duduk bersilang kaki atau dalam posisi apapun yang menyenangkan.

Biarkan punggung anda tegak, mata anda setengah terpejam, dan secara enak silangkan tangan anda di dalam pangkuan. Jika anda mau, anda bisa duduk di kursi dengan kaki rata di lantai dan tangan anda ditempatkan di pangkuan. Atau anda dapat berbaring di lantai, pada punggung anda, dengan kaki lurus, terpisah beberapa inci, serta tangan di samping,lebih baik telapak menghadap ke atas.

Jika paha atau kaki anda terasa semutan atau nyeri selama duduk bermeditasi sehingga konsentrasi anda terganggu, anda bebas mengubah posisi. Jika anda lakukan secara perlahan dan penuh perhatian, tetap mengamati napas anda pada setiap pergerakan tubuh anda, maka anda tak akan kehilangan satu pun saat konsentrasi anda. Jika nyeri sekali, berdirilah, berjalanlah secara perlahan dan tetap sadar,dan ketika anda sudah siap, duduklah kembali.

Di beberapa pusat meditasi, para pelaksana tidak diizinkan untuk bergerak selama saat meditasi duduk. Mereka kerap kali harus menahan banyak ketidak-nyamanan. Bagi saya ini tampak tidak wajar. Bilamana sebagian dari tubuh kita kaku atau nyeri, ia mengatakan sesuatu pada kita, dan kita harus mendengarnya.

Kita duduk dalam meditasi adalah untuk membantu kita membangun kedamaian, kegembiraan, dan tanpa kekerasan, bukan untuk menahan ketegangan jasmani atau melukai tubuh kita. Mengubah posisi kaki kita atau melakukan sedikit meditasi berjalan, tidak akan mengganggu pihak lain, dan itu dapat membantu kita.

Kadangkala kita dapat menggunakan meditasi sebagai cara untuk bersembunyi dari diri sendiri dan dari kehidupan, seperti kelinci pulang ke liangnya. Melakukan ini, kita dapat menghindari beberapa persoalan sejenak, tetapi manakala kita keluar meninggalkan “liang” kita, kita harus menghadapi persoalanpersoalan dunia lagi. Misalnya, jika kita berlatih meditasi dengan intensif, kita mungkin merasakan semacam kelegaan karena kita menghabiskan tenaga kita dan mengalihkan energi kita untuk meditasi daripada untuk menghadapi persoalan-persoalan kita.

Tetapi ketika energi kita kembali lagi, persoalan-persoalan kita akan kembali lagi.

Kita perlu berlatih meditasi secara lembut, tetapi teratur, pada sepanjang hidup kita sehari-hari, tanpa mengabaikan satu kesempatan atau kejadian untuk melihat dengan cermat sifat sejati dari kehidupan ini, termasuk persoalan sehari-hari kita. Berlatih dengan cara ini, kita berada dalam hubungan yang sangat mendalam dengan kehidupan.




GENTA KEWASPADAAN


Menurut kebiasaan saya, kami menggunakan genta vihara untuk mengingatkan kami agar kembali pada saat ini. Setiap kali kami mendengar genta, kami berhenti berbicara, menghentikan pemikiran kita dan kembali pada diri sendiri, menarik dan menghembuskan napas, serta tersenyum. Apapun yang kami kerjakan, kami berhenti sejenak dan hanya menikmati pernapasan.

Kadang-kadang kami juga membacakan syair ini:

Dengarlah, dengarlah.

Bunyi yang indah ini membawaku kembali pada kesejatian diriku.


Ketika kami menarik napas, kami mengatakan,“Dengarlah, dengarlah”, dan ketika kami mengeluarkan napas, kami mengatakan “Bunyi yang indah ini membawaku kembali pada kesejatian diriku”.

Sejak saya tiba di Barat, saya belum banyak mendengar bunyi genta-genta vihara. Tetapi untunglah, terdapat genta-genta gereja di seluruh Eropa.

Tampaknya tidak sebanyak itu di Amerika Serikat; saya pikir alangkah sayangnya. Kapan saja saya mengajar di Swiss, saya selalu menggunakan genta-genta gereja untuk berlatih kewaspadaan. Ketika genta berbunyi, saya berhenti berbicara, dan kami semua mendengarkan seluruh bunyi genta. Kami sangat menikmatinya (saya pikir itu lebih baik daripada kuliahnya!) Bila kita mendengar bunyi genta, kita bisa menjeda dan menikmati pernapasan kita serta berhubungan dengan keajaiban-keajaiban dari kehidupan yang berada di sekitar kita – bunga-bunga, anakanak, suara-suara yang merdu. Setiap kali kita kembali berhubungan dengan diri kita, kondisinya menjadi menyenangkan bagi kita untuk menghadapi kehidupan pada saat ini.

Pada suatu hari di Berkeley, saya mengusulkan kepada para profesor dan mahasiswa di University of California agar setiap kali genta di kampus berbunyi, para profesor dan mahasiswa harus menjeda untuk bernapas dengan sadar. Setiap orang harus mengambil kesempatan untuk menikmati hidup ini! Kita tidak seharusnya sibuk sepanjang hari. Kita harus belajar untuk benar benar menikmati genta vihara, genta gereja, atau genta sekolah kita. Genta-genta itu sangat indah dan mereka dapat menyadarkan kita.

Jika anda mempunyai genta di rumah, anda dapat mempraktikkan bernapas dan tersenyum dengan bunyinya yang merdu. Tetapi anda tidak perlu membawa sebuah genta ke kantor atau pabrik anda. Anda dapat menggunakan suara apapun untuk mengingatkan anda untuk menjeda, menarik dan mengeluarkan napas, serta menikmati saat ini. Tanda atau lampu yang padam ketika anda lupa mengencangkan sabuk pengaman di mobil anda merupakan sebuah genta kewaspadaan. Bahkan bukan hanya suara, seberkas cahaya matahari yang masuk melalui jendela pun merupakan genta-genta kewaspadaan yang bisa mengingatkan kita untuk kembali pada diri sendiri, bernapas, tersenyum dan hidup sepenuhnya pada saat ini.





KUE DI MASA KANAK-KANAK



Ketika saya berusia empat tahun, ibu saya selalu membawakan sepotong kue untuk saya setiap kali beliau kembali dari pasar.Saya selalu pergi ke halaman depan dan menikmati waktu saya untuk memakan kue itu, kadang-kadang setengah jam atau empat puluh lima menit untuk sepotong kue. Saya akan menggigit sedikit dan memandang ke atas langit. Lalu saya akan menyentuh anjing dengan kaki saya dan memakan sedikit lagi. Saya sungguh menikmati berada di sana, dengan langit, bumi, semak-semak bambu, kucing, anjing, bunga. Saya bisa melakukan itu karena tidak banyak hal yang harus saya cemaskan. Saya tidak berpikir tentang masa yang akan datang, saya tidak menyesali hal-hal yang telah lalu. Saya sepenuhnya berada pada saat sekarang, dengan kue saya, semak-semak bambu, kucing, anjing, dan semuanya.

Adalah memungkinkan untuk memakan makanan kita selambat dan senikmat seperti saya memakan kue di masa kanak-kanak saya. Mungkin anda berkesan bahwa anda telah kehilangan kue di masa kanak-kanak anda, tetapi saya yakin ia tetap ada di sana,dan jika anda benar-benar menginginkannya, anda dapat menemukannya. Makan dengan sepenuh kesadaran adalah merupakan praktik meditasi yang sangat penting. Kita bisa makan dalam suatu cara di mana kita mengingat kue di masa kanakkanak kita. Saat ini diisi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jika anda penuh perhatian, anda akan menikmatinya.



MEDITASI JERUK KEPROK


Jika saya memberikan satu jeruk keprok yang baru dipetik untuk dinikmati, saya pikir tingkat kenikmatannya akan tergantung pada tingkat penyadaran anda. Jika anda bebas dari kecemasan dan kegelisahan, anda akan lebih menikmatinya. Jika anda dipengaruhi oleh kemarahan atau ketakutan, jeruk keprok itu mungkin tidak begitu nyata bagi anda.

Pada suatu hari, saya memberikan kepada sejumlah anak sekeranjang jeruk keprok. Keranjang itu diedarkan, dan setiap anak mengambil satu jeruk keprok dan menggenggamnya. Kita masing-masing memandang jeruk keprok kita, dan anak-anak diminta untuk bermeditasi tentang asalnya. Mereka tidak hanya melihat jeruk keproknya, tetapi juga induknya, pohon jeruk keprok.

Dengan beberapa petunjuk mereka mulai mambayangkan bunganya saat matahari bersinar dan hujan. Selanjutnya mereka melihat daun bunga rontok dan muncul buah hijau kecil. Matahari dan hujan berlanjut, dan jeruk keprok kecil itu tumbuh membesar.

Sekarang seseorang telah memetiknya dan jeruk keprok itu sekarang berada di sini. Setelah melihat ini, setiap anak diminta mengupas jeruk keprok perlahan-lahan, memperhatikan kabut dan keharuman jeruk keprok, dan selanjutnya membawanya ke dalam mulut serta menggigitnya dengan sadar, dalam kesadaran penuh akan susunan serta rasa si buah dan cairan yang keluar. Kita memakannya secara perlahan seperti ini. Setiap kali anda melihat jeruk keprok, anda dapat melihatnya secara mendalam. Anda dapat melihat segala sesuatu di alam semesta dalam sebuah jeruk keprok. Ketika anda mengupas dan menciumnya, betapa nikmatnya hal itu. Anda dapat mengambil
waktu memakan sebuah jeruk keprok dan menjadi sangat bahagia.



PERAYAAN KEAGAMAAN / EKARISTI



Praktik Ekaristi merupakan praktik kesadaran. Ketika Jesus memotong roti dan membagikannya kepada murid-murid beliau, beliau berkata, “Makanlah ini. Ini adalah dagingku”. Beliau tahu bahwa jika murid-murid beliau memakan sepotong roti dengan kesadaran, mereka akan mempunyai kehidupan yang sebenarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka mungkin memakan roti dalam kelalaian, sehingga roti itu sama sekali bukan roti, melainkan hantu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat orang di sekeliling kita, tetapi jika kita kurang memiliki kesadaran, mereka hanyalah momok, bukan orang, dan kita sendiri juga hantu. Melatih kesadaran memungkinkan kita untuk menjadi manusia sejati. Jika kita merupakan manusia sejati, kita juga akan melihat manusia sejati di sekeliling kita, dan kehidupan hadir dalam semua kesempurnaannya. Latihan memakan roti, jeruk keprok, atau kue adalah sama.

Ketika kita bernapas, ketika kita sadar, ketika kita melihat secara mendalam makanan kita, kehidupan menjadi nyata pada saat itu juga. Bagi saya, ritual Ekaristi merupakan praktik kewaspadaan yang sangat indah. Secara drastis, Jesus berusaha untuk menyadarkan murid-murid beliau.

Tidak ada komentar: