Sabtu, 03 Desember 2011

Vegetarian, Boleh Atau Tidak?



vegetarian
vegetarian


Buddhistzone.com -Buddha Gotama seringkali menghadapi masalah vegetarianism ini. Yang pertama adalah dari Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang terkenal ambisius dan jahat. Devadatta mencoba mengadu domba Sangha dengan mengajukan lima aturan kebhikkhuankepada Sang Buddha agar diterapkan oleh Sangha, yakni :

1. Bhikkhu hanya hidup dari dana yang diterima.

2. Tidak boleh memakan ikan atau daging.

3. Selamanya harus hidup di hutan.

4. Mengenakan jubah dari bekas mayat atau sampah.

5. Hidup di bawah pohon.

Lima aturan ini menyulitkan Sang Buddha untuk memutuskannya, Devadatta yakin jika Sang Buddha menolak permintaannya, maka akan banyak bhikkhu yang mendukungnya serta menyatakan bahwa Sang Buddha tidak welas asih (menolak vegetarian) dan senang hidup dalam kemewahan. Sedangkan apabila Sang Buddha menerimanya, maka berarti Sang Buddhamenerapkan pola menyiksa diri.

Menanggapi hal ini, Sang Buddha dengan penuh kebijaksanaan menyatakan bahwa bhikkhu yang menyenangi vegetarianism boleh melakukannya. Beliau tidak secara tegas menyatakan menolak atau menerima hal tersebut sebagai suatu keharusan. Berdasarkan keputusan Sang Buddha ini, sangat jelas bahwa vegetarianism sebenarnya bukan bagian resmi dalam Dharma Vinaya. Vegetarianism bukanlah pasport mencapai kesucian dan kebebasan sejati (Nibbana). Dengan kata lain, apakah vegetarianism dilaksanakan atau tidak, seseorang tetap mempunyaikesempatan dan kemampuan untuk mencapai kesucian dan Nibbana.

Selain masalah Devadatta, Sang Buddha pun pernah menghadapi masalah tentang vegetarianism dengan Nigantha Nathaputta, yang dikenal sebagai Mahavira, pemimpin Jainism. Ia seringkali mencemooh Sang Buddha dengan berkata, “Pertapa Gotama makan daging yang disiapkan bagi - Nya dengan mata kepala - Nya sendiri.” Cemoohan ini kemudian disampaikan oleh kaum Brethen kepada Sang Buddha. Mendengar ini Sang Buddha menjawab, “Ini bukan pertama kalinya, Brethen, bahwa Nathaputta mencemooh aku karena Aku makan daging yang disediakan bagiKu, dia melakukannya seperti pada masa lampau.”

Kemudian Beliau menceritakan tentang suatu kehidupan yang lalu (Telovada Jataka) dimanaSang Buddha dilahirkan sebagai seorang Brahmana, Brahmadatta menjadi Raja Benare, danNathaputta sebagi orang kaya. Suatu waktu Brahmana turun dari Himalaya dan pergi ke kota untuk meminta dana makanan, orang kaya ini berniat untuk mengganggunya. Ia membawa Brahmana ke rumahnya, mempersilakan duduk, dan menyajikan ikan, dan berkata, “Makanan ini disediakan untukmu dengan membunuh makhluk hidup. Ini bukan kesalahanku tetapi kesalahanmu.”

Menjawab hal ini Bodhisatva berkata,“Pembunuhan yang kejam, dimasak, dan disediakan untuk dimakan. Dia menjadi kotor oleh dosa dengan memakan daging.” “Pembunuhan ini dilakukan untuk menghidupi anak dan istri. Namun, jika dimakan dengan hati yang suci, tidak ada dosa yang diperbuat.” Jadi, dapat dikatakan bahwa membunuh merupakan suatu kesalahan tetapi bukan kesalahan yang memakan daging. Para bhikkhu diizinkan untuk makan makanan apapun sepanjang apa yang dilakukannya tanpa disertai kesenangan atau nafsu. Sang Buddha tidak mempunyai hak untuk mencegah siapa saja untuk melakukan pembunuhan, seseorang dapat melakukan apa saja dan bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatannya itu.

Sang Buddha bersabda, “Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki dua pun Aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyak pun Aku memiliki cinta kasih.” (Anguttara Nikaya, II,72).

“Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan di sekelilingnya, tak terbatas di mana pun.” (Jataka, 37).

Dalam banyak kejadian, Buddha Gotama juga menjelaskan bahwa pembunuhan adalah perbuatan yang tidak baik (akusala kamma) dan perdagangan daging (mamsa vanijja)adalah salah satu dari lima jenis perdagangan yang seharusnya dihindari oleh umat Buddhis.

Untuk para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan di manapun mereka berada, seorang bhikkhu dalam Dhamma Vinaya selalu mengembangkan 4 hal yaitu :

1. Cinta kasih (metta)

2. Belas kasihan (karuna)

3. Simpati (mudita)

4. Keseimbangan batin (upekkha)

Selain itu, Sang Buddha juga menjelaskan bahwa siapa saja yang sering membunuh makhluk hidup untuk dipersembahkan bagi Sang Tathagata atau murid-murid - Nya, akan menimbun keburukan, sebelum mempersembahkan dana, mereka berkata, “Pergi dan tangkaplah makhluk hidup.” Waktu itu, ketika mereka dibunuh mereka mengalami kesakitan dan penderitaan.Kemudian mereka mempersembahkan kepada Tathagata dan murid-murid - Nya apa yang tidak diperkenankan untuk mereka lakukan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa hewan yang dibunuh (oleh dirinya sendiri atau orang lain) dan kemudian dipersembahkan sebagai pengabdian (udissa-mamsa) adalah makanan yang tidak diperkenankan bagi seorang bhikkhu, sedangkan daging atau ikan yang dibeli oleh umat yang saleh dari pasar, yang dijual sebagai konsumsi umum (pavatia-mamsa)adalah makanan yang diperkenankan oleh Sang Buddha, dan bisa diterima dan dimakan oleh murid - Nya.

Akhirnya, keputusan ada di tangan kita sendiri, apakah akan menjalankan vegetarian atau tidak? Sang Buddha sudah cukup menjelaskan di atas, tinggal bagaimana kita menerapkannya karena apa yang kita lakukan, kita sendiri yang akan menerima akibatnya.




Oleh: Yenny
Dikutip dari:
1. Issues of Vegetarianism: ‘Are You Herbivore or Carnivore?’ oleh Jan Sanjivaputta
2. Tiga Guru-Satu Ajaran oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

Tidak ada komentar: