Minggu, 12 Februari 2012

KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA ATAS DIRINYA




oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro       

       
 Tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan seseorang terhadap kehidupan ini akan mewarnai sikapnya dalam menghadapi tantangan kehidupan.

         Kehidupan adalah rahasia terbesar bagi manusia yang akan selalu dibicarakan di sepanjang masa. Dorongan yang wajar akan timbul dalam diri manusia —sebagai makhluk yang berakal budi— untuk mencari jawaban tentang kehadiran dan peranannya di muka bumi ini. Sedangkan kebahagiaan atau keberhasilan adalah tema sentral yang tidak akan pernah dilepaskan.

 Pandangan Fatalistik

        Terhadap tiga macam pandangan yang sangat berbeda tentang keberhasilan dalam kehidupan ini:

- Suatu pandangan menganggap bahwa keberhasilan dalam kehidupan ini telah ditentukan oleh suatu makhluk agung atau dewa-dewa. Perbuatan manusia tidak berperan.

- Pandangan yang lain menganggap bahwa keberhasilan dan kehancuran manusia tidak ada sebabnya. Semua itu terjadi dengan sendirinya. Perbuatan baik maupun tidak baik sama sekali tidak mempunyai pengaruh.

- Pandangan yang lain lagi menganggap bahwa semua fenomena kehidupan ini terjadi semata-mata sebagai akibat perbuatan seseorang dari hidupnya yang lampau. Perbuatan baik dan buruk yang dilakukannya sekarang tidak berpengaruh.

           Ketiga pandangan di atas adalah pandangan-pandangan yang fatalistik. Oleh karena dengan berpandangan seperti itu apapun yang terjadi dalam kehidupan seseorang ini harus diterima dengan ketidak-berdayaan manusia untuk mengubahnya. Apapun yang dilakukannya sekarang tidak akan membawa perubahan bagi hidupnya sekarang.

         Agama Buddha mengajak kita untuk menyadari bahwa fenomena kehidupan ini, baik keberhasilan maupun kemunduran, merupakan akibat dari dua faktor kehidupan: yaitu faktor-faktor kehidupan yang lalu dan faktor-faktor kehidupan yang sedang terjadi sekarang.


Kemerdekaan Dan Tanggung Jawab

         Makhluk manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan dan kemerdekaan untuk berperan dan mengubah faktor-faktor hidupnya sendiri.

         Manusia dituntut tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan-perbuatannya yang lalu sebagai faktor-faktor kehidupan yang lalu dan juga perbuatan-perbuatannya yang dilakukannya sekarang sebagai faktor kehidupan sekarang. Manusia adalah arsitek dan sekaligus penanggung jawab tunggal atas kehidupannya sendiri. Kesadaran ini menuntut manusia untuk membawa dirinya dengan penuh ketekunan dan keuletan dalam mencapai keberhasilan dan kebahagiaan.

         Kehidupan sama sekali tidak boleh dipandang sebagai sandiwara boneka. Manusia bukan anak wayang yang memainkan peranan di tangan sutradara. Tetapi kita semua adalah sutradara bagi kehidupan kita masing-masing dalam tatanan Hukum Dharma.

         Kemampuan manusia adalah akumulasi dari perjuangannya dalam menghadapi tantangan kehidupan ini. Akumulasi dari pandangan, pemikiran, tindakan mengatasi problema-problema, dan keuletan mencapai tujuan. Kemampuan kita bukan suatu kemampuan yang sudah ditakar untuk diterima sebagai hadiah. Kemampuan itu akan berkembang seiring dengan totalitas sikap mental dan perbuatan kita. Dan sebaliknya, kemampuan itupun akan merosot karena sikap mental dan perbuatan kita sendiri.

         Sekarang pilihan tidak boleh menjadi lain. Pilihan manusia satu-satunya adalah mempersiapkan dirinya dengan menumbuhkan sikap mental dan perbuatan yang benar untuk membangkitkan kemampuan dari dalam dirinya sendiri; demikian sebaliknya, dengan kemampuannya itu membuat faktor-faktor yang berguna dalam hidupnya sekarang untuk mencapai keberhasilan.

 "Diri sendiri sesungguhnya tuan bagi dirinya sendiri, karena siapa lagi yang akan dapat menjadi tuan bagi dirinya? Seseorang yang dapat melatih dirinya sendiri dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang amat sukar diperoleh". (Dhammapada 160)

         Menggantungkan diri pada orang atau makhluk lain, atau sekadar menjalani nasib yang dianggapnya telah ditentukan, adalah sikap mental yang menghancurkan kemampuan yang seharusnya dikembangkan. Tetapi juga sebaliknya, dengan kemampuan yang dipunyainya ingin mencapai segala sesuatu yang diinginkan, adalah sikap mental yang akan membuahkan kekecewaan.

         Hukum Dharma —Hukum Karma— yang bersifat universal, yang melingkupi setiap bentuk kehidupan harus dijadikan tumpuan keyakinan. Tumbuhnya kemampuan, terwujudnya keberhasilan, dan semua fenomena kehidupan ini akan berjalan selaras dengan Hukum Dharma. Hanya harus selalu diingat, meskipun kemampuan, keberhasilan, dan segala warna kehidupan ini timbul selaras dengan Hukum Dharma; tetapi, semua itu kita sendiri yang harus membuat sebabnya. Bukan Hukum Dharma yang semata-mata menjadi sang penentu. Yang kepadanya kita menyerahkan nasib kita, memohonkan berkah dan ampunan. Hukum Dharma —Hukum Karma— mengisyaratkan Idhapaccayata, segala sesuatu timbul karena adanya sebab yang mendasarinya. Dan sebab itu kita sendiri yang harus membuatnya.

 Menumbuhkan kemampuan

        Sang Buddha menunjukkan lima sikap mental yang seharusnya dikembangkan untuk menumbuhkan kemampuan (bala) :

 1. Keyakinan (Saddha). Setiap manusia memerlukan sesuatu yang bisa dipegangnya sebagai keyakinan. Keyakinan itu akan memotivasi setiap tindakannya. Seseorang akan mempunyai kekuatan bertahan untuk mencapai sesuatu karena keyakinannya terhadap yang dilakukannya itu.

2. Semangat (Vinya). Semangat adalah faktor terpenting untuk keberhasilan. Semangat dan kemampuan adalah dua faktor yang sulit untuk dipisahkan. Banyak orang yang tidak mau mengerjakan sesuatu bukannya karena tidak mampu, tetapi tidak adanya semangat untuk melakukan. Banyak orang yang merasa bahwa hidup ini tidak berguna bagi dirinya, dan juga dirinya tidak berguna bagi orang lain; sesungguhnya bukan karena tidak mempunyai kepandaian, tetapi tidak mau berusaha untuk mengerjakan sesuatu. Suatu pepatah kuno mengatakan:

"Puncak kebesaran seseorang tidak dicapai secara mendadak. Mereka bekerja keras melewati tengah malam, sementara temannya tidur".

 Bekerja dengan penuh semangat, disertai ketekunan dan kegigihan menghadapi tantangan-tantangan yang muncul, merupakan proses terus-menerus terbentuknya sikap mental yang sangat berharga bagi setiap orang.

 3. Kesadaran (sati). Kesadaran adalah milik manusia yang paling berharga. Menyadari, memperhatikan dengan cermat setiap saat pada perbuatan yang kita lakukan akan membuahkan pengetahuan. Sesungguhnya dengan memperhatikan fenomena-fenomena kehidupan yang kita hadapi dan alami setiap saat, kita akan banyak mendapatkan hal-hal baru yang berharga. Penemuan-penemuan besar dalam dunia spiritual dan ilmu pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Tetapi semua itu memerlukan perhatian yang disertai ketekunan dan kegigihan. Juga dengan kesadaran —penuh perhatian— setiap orang akan mampu menjaga dirinya sendiri dari kehancuran.

4. Meditasi (samadhi). Meditasi akan menumbuhkan ketenangan bagi seseorang. Kegagalan, kekecewaan, ketegangan mental, seringkali menghancurkan kemampuan seseorang. Seseorang yang sebenarnya mampu, pada suatu saat merasa tidak mempunyai kemampuan lagi. Bukan karena memang benar-benar tidak mampu lagi, tetapi kesanggupannya telah dihancurkan oleh kondisi mentalnya sendiri yang kacau. Meditasi akan menguatkan mental seseorang. Menjadikan tenang dan tangguh menghadapi segala sesuatu.
5. Kebijaksanaan (Panna). Dalam arti yang sesungguhnya, kebijaksanaan adalah memahami kehidupan ini sebagaimana adanya. Memahami bahwa kehidupan ini mempunyai sifat tidak kekal, berubah terus menerus, tidak memuaskan, dan tidak tunduk pada kehendak kita. Perubahan dan kegagalan yang pasti dialami pada suatu saat, harus berusaha diterima sebagai suatu hal yang wajar dalam kehidupan ini. Tetapi demikian juga sebaliknya, perubahan, ketidak-puasan, dan kenyataan bahwa segala sesuatu tidak akan tunduk begitu saja pada kehendak kita; menuntut kita untuk berjuang dengan gigih, terus-menerus, penuh perhatian, dan selaras Hukum Dharma.

        Tumbuhnya kemampuan diri, tergantung pada diri kita sendiri. Demikian juga, kita sendiri pulalah faktor utama yang menghancurkan kemampuan diri. Itikad jahat, nafsu mengejar kenikmatan indria, kebimbangan, kegelisahan dan ketegangan, malas dan keengganan, adalah musuh-musuh yang siap setiap saat menyerbu, mengoyak, dan menghancurkan kemampuan diri.

         Sekalipun terdapat faktor dari luar yang menggoyahkan seseorang, tetapi bila seseorang berusaha sekuat tenaga menjaga dirinya dengan sikap yang tepat; faktor itu tidak akan mampu menghancurkannya.

         Kemampuan diri merupakan tanggung jawab kita sendiri sepenuhnya. Kemampuan itu bukan hadiah yang sudah ditakar. Kita sendiri harus menumbuhkannya, dan kita sendiri pula yang mempunyai kebebasan untuk menggunakannya.

         Dalam Dhammapada 165 amat jelas Sang Buddha menyatakan:

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri;
Tidak seorangpun yang dapat membuat suci orang lain.

***

 Sumber : BUDDHA CAKKHU No.20/XII/91; Yayasan Dhammadipa Aram

Tidak ada komentar: