Jumat, 24 Februari 2012

Milinda Pañha (PENDAHULUAN)


PENDAHULUAN


Milinda Pañha merupakan buku Buddhis kuno yang diagungkan serta dianggap bernilai tinggi sehingga oleh orang-orang Burma dimasukkan ke dalam Kitab Suci Pali. Di dalam Kitab Pali dikatakan bahwa percakapan antara Raja Milinda dengan Nagasena terjadi 500 tahun setelah Sang Buddha parinibbana. T.W. Rhys David, penerjemah yang terkemuka untuk kitab-kitab Pali, menganggap buku ini sangat bagus. Beliau mengatakan, “Saya berani mengatakan bahwa ‘Pertanyaan Raja Milinda‘ ini jelas merupakan karya besar prosa India; dan dipandang dari sudut kesusasteraan benar-benar merupakan buku terbaik di kelasnya, terbaik yang pernah dihasilkan di negara mana pun juga.”1
Gaya Milinda Pañha sangat mirip dengan dialog Platonik, di mana Nagasena memainkan peran sebagai Socrates dan menang berdebat dengan Raja Milinda di dalam sudut pandang Buddhis, karena penalarannya yang sehat dan perumpamaannya yang pas. Si pengarang memang tidak dikenal, tetapi hampir dapat dipastikan dia dahulu hidup di India barat laut atau di Punjab, karena dia sama sekali tidak menyebutkan daerah pedalaman India di bagian selatan Sungai Gangga.1 Dan ini didukung oleh keterangan yang ada tentang Raja Menander, raja orang-orang Bactria yang dikenal sebagai Milinda.
Banyak yang diketahui tentang Raja Menander. Sejumlah besar mata uangnya telah ditemukan di daerah yang luas di bagian India Utara, sampai sejauh Kabul di sebelah Barat, Mathura di sebelah Timur serta Kashmir di sebelah Utara. Seringkali dia tergambar sebagai seorang laki-laki muda atau kadang-kadang juga laki-laki yang sangat tua. Plutarch mengatakan, “Menander adalah seorang raja yang terkenal amat adil dan sangat dekat dengan rakyatnya. Maka pada waktu dia meninggal -yang terjadi di suatu camp- berbagai kota berebut untuk memiliki abunya. Pertengkaran itu diselesaikan dengan kesepakatan para wakil dari berbagai kota itu untuk membagi re!iknya, dan kemudian mereka mendirikan monumen-monumen untuk mengenang Sang Raja”.
Suatu penerbitan tentang harta karun Mir Zakah baru-baru ini menegaskan kepemimpinan Menander di Ghazni dan daerah-daerah sakitarnya di lembah Kabul sebelah utara (ada 521 mata uang Menander di dalam harta karun itu). Penemuan Attic Tetradrachm Menander akhirnya menyelesaikan spekulasi itu. Menander pasti telah memerintah di daerah Kabul. Di sebelah utara dia menduduki Hazara dan lembah Swat.2 Jadi Menander adalah satu dari raja-raja Yunani yang tetap berada di Bactria untuk melanjutkan kekuasaan Yunani yang didirikan oleh Alexander Agung, dan Menander adalah salah satu raja terpenting. Mungkin dia bertahta dari kira-kira 150 SM sampai 110 SM (jadi percakapan ini terjadi lebih dari 400 tahun sesudah Sang Buddha parinibbana). Strabo mengingatkan tentang hebatnya kerajaan Bactria yang berekspansi melebihi batas mulanya, dan dia secara kebetulan juga menyebutkan bahwa raja yang terutama bertanggung jawab untuk perluasan itu adalah Demetrius dan Menander … Tetapi dibanding Demetrius,3 Menander meninggalkan tanda yang jauh lebih mendalam berkenaan dengan tradisi India.
Menander menguasai Delta Indus, jasirah Surastra (Kathiavar), menduduki Mathura di Jumna, menyerbu Madyamika (Nagari dekat Chitor) dan Saketam di selatan Oudh, serta mengancam ibukotanya, Pataliputta. Tetapi penyerbuan itu dipukul mundur dan Menander dipaksa kembali ke negaranya sendiri.4 Karena rakyat Bactria kemudian menjadi Buddhis maka dapat dipastikan bahwa Raja Menander benar-benar adalah Raja Milinda yang diacu di dalam buku itu. Namun ada juga kemungkinan bahwa percakapan itu merupakan alat sastra yang digunakan oleh pengarang untuk menambah daya tarik terhadap apa yang pada mulanya merupakan penjelasan terperinci tentang ajaran Buddhis, dan merupakan sangkalan terhadap pandangan salah yang selama itu telah disebarluaskan oleh mereka yang memusuhi Buddhisme.
Cerita pembukaan dalam Miln. yang berkenaan dengan masa muda Nagasena juga hampir identik dengan cerita tentang Mogaliputta Tissa muda yang diceritakan dalam Mahavamsa, Kitab Suci Ceylon. Mogaliputta Tissa Thera hidup kira-kira 100 tahun sebelum Menander dan disebutkan 2 kali di dalam teks (Miln. hal. 3,71) sehingga mungkin saja cerita inilah yang lebih tua. Tetapi, Mahavamsa ditulis jauh sesudahnya oleh Mahanama pada permulaan abad ke-6 Masehi, sehingga cerita itu mungkin saja telah dipinjam oleh Mahanama dari buku Miln., yang pada waktu itu merupakan kitab suci yang diedit oleh Buddhagosa. (Dalam Milinda Tika, uraian tentang Miln., dinyatakan bahwa beberapa syair dalam prolog dan epilog dalam Miln. dikarang oleh Buddhagosa).
Dari percakapan yang dianggap terjadi antara Milinda dengan Purana Kassapa, Makkhali Gosala dan beberapa petapa lain, jelas terlihat bahwa cerita pembukaan ini hanya karangan belaka, karena petapa-petapa ini sezaman dengan Sang Buddha. Cerita ini didasarkan pada Samañña Phala Sutta dari Digha Nikaya. Tetapi ada satu perbedaan yang patut dicatat. Di dalam Samaññaphala Sutta,5 Pangeran Ajatasattu mengunjungi Sang Buddha tetapi tidak bisa mengenalinya; sementara dalam pendahuluan di Miln., Raja Milinda berkata tentang Nagasena, “Tidak perlu menunjukkan dia kepadaku”. Jadi Raja Milinda tampak lebih tinggi daripada Pangeran Ajatasattu.
Bangkitnya Kerajaan Magadha
Di dalam Mahaparinibbana Sutta, Sang Buddha meramalkan bahwa kota Pataliputta, yang dibangun persis sebelum kemangkatannya, akan menjadi kota besar. “Ananda, dari antara kota dan kota besar yang kini merupakan pusat perkumpulan dan perdagangan suku Arya, kota yang baru ini akan menjadi kota terbesar yang disebut Pataliputta, suatu tempat di mana barang-barang dibongkar, dijual dan didistribusikan. Tetapi kota ini akan mengalami bahaya banjir, api dan pertikaian dari dalam”.5 Kerajaan Magadha, yang beribukota Pataliputta (Patna modern), lama-kelamaan menjadi kota yang paling kuat di seluruh India.
Di pertengahan abad ke 4 SM seorang Sudra bernama Mahapadma Nanda merampas tahta kerajaan Magadha dan menjadi penguasa kerajaan yang membentang dari sungai Brahmaputra di sebelah timur sampai ke Beas di sebelah Barat. Tetapi di seberang sungai Beas ada beberapa kerajaan kecil.
Pada saat yang bersamaan Alexander Agung menguasai Persia dan menyeberangi Hindu Kush untuk masuk ke Bactria (Afganistan Utara). Dibutuhkan waktu 2 tahun untuk menaklukkan daerah yang tidak ramah ini, tetapi waktu melakukan hal itu, Alexander Agung mendirikan juga beberapa kota yang menembus jauh ke utara sampai ke Samarkand dan Leninabad (dulu: di Uni Soviet). Ada juga kota lain yang telah diidentifikasikan di Charikar (sebelah utara Kabul). Setelah mendengar tentang sungai Indus, Alexander Agung kembali menyeberangi Hindu Kush pada tahun 372 SM dan terus mendesak ke Taxila (Takkasila) di sebelah timur. Tetapi ketika dia sampai di sungai Jhelum, dia dihadang raja Paurava yang mempunyai gajah-gajah perang. Bahkan para veteran Macadonia pun tidak mampu melawan musuh seperti itu. Maka Alexander terpaksa mundur sampai ke sungai Indus untuk kemudian kembali melalui Persia di mana dia meninggal di Babylon pada 323 SM. Walaupun demikian dia telah meninggalkan dasar-dasar kerajaan Bactria dan telah menjelajah sungai Jhelhum dan sungai Indus.
Setelah kematian Alexander, Chandragupta, pendiri dinasti Maurya, dapat mengusir garnisun Yunani dari lembah Indus. Pada tahun 321 SM dia mengalahkan Nanda dan menguasai kerajaan Magadha dengan ibukotanya Pataliputta. Penerus Alexander, Seleukos I Nikator, memimpin suatu ekspedisi melawan orang-orang India pada tahun 311 SM dengan harapan merebut kembali daerah Punjab. Tetapi dia terhalang kekuasaan Chandragupta. Pada tahun 304 SM Seleukos dengan senang hati menandatangani persetujuan dengan Chandragupta, dan memberikan anak perempuannya untuk dinikahi dan bahkan juga memberikan daerah-daerah yang luas, yang sekarang menjadi Baluchistan dan Afganistan, sebagai alat tukar untuk 500 gajah perang. Seleukos mengirimkan duta besarnya, Magasthenes, ke Pataliputta. Dilihat dari peninggalan tulisannya, kita mengetahui tentang besarnya pasukan dan kekuatan pertahanannya di sana. Chandragupta memerintah selama 24 tahun dan putranya Bindusara, sangat sedikit yang kita ketahui tentang dia, memerintah selama 28 tahun sampai kematiannya di tahun 269 SM.
Pada saat kematian Bindusara, putra tertuanya sudah menjadi raja muda di Takkasila, sedangkan putranya yang kecil, Asoka, adalah raja muda di Ujjeni di selatan. Asoka bertempur dengan saudaranya memperebutkan hak untuk bertahta dan saudaranya terbunuh di dalam pertempuran itu. Asoka kemudian menjadi penguasa kerajaan yang besar, dari Bengala sampai ke Afganistan. Walaupun demikian dia tetap masih belum puas. Setelah sembilan tahun bertahta, sesudah pertempuran berdarah merebut Kerajaan Kalinga (Orissa), barulah Asoka meninggalkan peperangan dan menjadi pengikut Buddhisme yang taat. Kaisar Asoka mengirimkan utusan-utusan bhikkhu ke daerah tapal batas kekaisarannya yang luas. Banyak prasasti Asoka yang telah ditemukan di Lembah Kabul yang ditulis di dalam bahasa Yunani dan Aramaik. Di tempat lain, prasastinya menyebutkan bahwa dia telah berhasil menyebarkan Dhamma di Mesir, Siriya, Macadonia, Yunani, Cyprus, Bactria, Kashmir, Gandhara, dsb. Mahavamsa mengatakan bahwa banyak utusan yang dikirimkan ke Kashmir, Gandhara, Bactria, Himalaya, Sindh (Gujarat). Prasasti di dalam wadah relik yang ditemukan di stupa-stupa Sanci mencatat keberhasilan misi itu ke Pegunungan Himalaya. Sayangnya catatan-catatan stupa yang lain telah dirusak. Namun dapat kita pastikan bahwa misi ke Kashmir dan Gandhara itu berhasil, karena bahkan di zaman Sang Buddha pun Takkasila merupakan pusat belajar yang terkenal. Mahavamsa juga mencatat bahwa pada peresmian Stupa Agung di tahun 157 SM, para bhikkhu datang dari Alasanda (Charika) yang terletak di Yona (Bactria).
Bangkitnya Kerajaan Bactria
Setelah Asoka mangkat pada tahun 227 SM, kekaisaran Maurya mulai terpecah-pecah. Pada tahun 250 SM meletus pemberontakan di dalam kekaisaran yang didirikan oleh Seleukos, di bawah pimpinan gubernurnya, Diodotus I. Kekaisaran itu terus berkembang di bawah penggantinya, Diodotus II dan Euthydemus. Pada permulaan abad 2 SM, para penguasa Yunani dari kerajaan baru Bactria menyeberangi Hindu Kush dan mulai menyerbu India dari barat laut. Di antara raja-raja Yunani yang berkuasa sampai di sebelah selatan Kush, kelihatannya Apollodotus-lah raja yang pertama. Dua kali dia disebutkan berhubungan dengan Menander. Kekuasaan mereka berkembang ke barat daya sampai Ariana (Afganistan selatan) dan ke selatan sampai lembah Indus.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, Menander pasti telah berkuasa di lembah Kabul dan Swat dan pada suatu saat dia juga menguasai lembah Indus. Sagala, kota yang disebutkan di dalam Miln. sebagai tempat di mana percakapan itu terjadi, adalah kota kuno orang-orang Madras yang datang di daerah itu kira-kira pada abad 6 SM. Sekarang kota itu disebut Sialkot, yang terletak di antara sungai Chenab dan Ravi, dekat perbatasan Kashmir. Di buku Miln. halaman 53, disebutkan bahwa Kashmir berjarak 12 yojana (84 mil) dan bahwa Milinda lahir di pulau Alasanda, yang jaraknya kurang 200 yojana dari situ. Ada banyak kota yang didirikan oleh Alexander selama penaklukannya, beberapa di antaranya mungkin merupakan tempat kelahiran Menander. A.K. Narain menduga bahwa kota kelahiran Menander adalah kota yang didirikan di Charikar, tetapi jaraknya kurang dari 200 yojana (1400 mil) dengan perhitungan biasa. Ataukah mungkin itu kota Alexandra yang terletak di Leninabad atau salah satu dari kota-kota Alexandra yang terletak lebih jauh ke barat?
Namun, dari bukti-bukti yang ada dapat kita perkirakan bahwa Menander lahir di Bactria tetapi dibesarkan di Ariana (lembah Kabul), dan bahwa di tahun-tahun pertama pemerintahannya dia mengembangkan kerajaan ayahnya sampai ke lembah Indus dan lebih jauh lagi, dan kemudian mungkin mendirikan ibu kota di Sagala. Tidak seperti Bactria yang banyak sekali dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani, daerah-daerah baru ini sudah Buddhis. Pada waktu itu, Menander telah banyak dididik di dalam tradisi Yunani tetapi telah mengenal Buddhisme secara langsung dan tak pelak lagi dia pasti sering menjumpai para bhikkhu yang hidup di kerajaannya. Walaupun demikian, kelihatannya agak tidak mungkin kalau pengetahuannya tentang ajaran Buddhisme cukup untuk dapat mengadakan dialog seperti yang di tulis di dalam Miln. karena Milinda tampaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang teks yang ada. Saya berpendapat bahwa pengarang paling tidak telah bertemu sebentar dengan Menander, dan kemungkinan besar dia mendasarkan karyanya ini pada tradisi lisan percakapan itu. Kemudian dia menggunakan pengetahuannya sendiri yang luas untuk mengembangkan dialog itu menjadi karya yang panjang, yang kita miliki sekarang ini. Mungkin dia menggunakan dialog sebagai alat untuk menambah daya tarik pada risalatnya. Dan untuk menyenangkan hati raja Yunani itu, dia membuatnya sebagai salah satu tokoh utama.
Hipotesa ini mendapat dukungan dari terjemahan bahasa China yang hanya terdiri dari tiga bagian pertama yang hampir identik dengan teks Pali mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, tetapi cerita pendahuluannya berbeda. Dalam hal ini, kedua-duanya tidak tampak otentik.
Perbandingan dengan Teks China7
Sebagaimana telah ditunjukkan oleh V. Trenchner ketika dia menyalin teks Pali di tahun 1860-an, dapat kita pastikan bahwa Milinda Pañha yang asli ditulis di dalam bahasa Sanskerta karena permulaannya adalah kata-kata “Tam yatha nusuyata” (demikianlah yang telah diturunkan), dan bukannya rumusan Pali “Evam me sutam” (demikianlah yang telah saya dengar). Dan hal ini dipertegas oleh adanya terjemahan teks China yang menunjukkan beberapa perbedaan yang patut dicatat walaupun jelas sumbernya sama.
  1. Di dalam tiga bagian pertama, versi China sama dengan versi Pali, dan ini menunjukkan bahwa empat bagian lain (Dilema, Pertanyaan yang Diselesaikan dengan Kesimpulan, Praktek Petapa dan Perumpamaan) merupakan tambahan kemudian.
  2. Karya bahasa China, Nagasena-Bhikshusutra, mengambil nama sang bhikkhu; sementara karya bahasa Pali, Milinda Pañha, mengambil nama sang raja.
  3. Karya bahasa Pali mempunyai dua belas pertanyaan ekstra.
  4. Cerita-cerita kehidupan lampau Nagasena dan Milinda tidak sama.
  5. Versi China tidak menyebutkan Abhidhamma; sementara hal itu sering disebutkan dalam versi Pali.
  6. Pada klasifikasi Bodhipakkhiya Dhamma yang sangat terkenal, penterjemah China melenceng di dalam beberapa istilah, dan ini menunjukkan bahwa dia tidak terbiasa dengan teks Pali.
  7. Versi Pali mengatakan bahwa binatang mempunyai penalaran tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan; versi China mengatakan bahwa binatang mempunyai kebijaksanaan tetapi hatinya berbeda.
Walaupun ada banyak perbedaan kecil di antara dua teks itu, ada hubungan yang erat antara perumpamaan-perumpamaan yang digunakan untuk menerangkan istilah yang didefinisikan serta urutan pertanyaannya. Hal itu membuat kita yakin bahwa keduanya adalah terjemahan karya yang lebih tua (mungkin di dalam bahasa Sanskerta). Tetapi kita harus hati-hati menyimpulkan; yang mana yang lebih otentik. Bhikkhu Thich Mihn Chau, yang berusaha membuktikan keantikan karya asli yang mendasari terjemahan China, menyatakan bahwa karya itu ditulis segera setelah Sang Buddha mangkat. Beliau menunjukkan tidak adanya klasifikasi teks ke dalam Vinaya, Sutta, Abhidhamma dan Nikaya, yang didefinisikan dengan baik baru pada Konsili ketiga, sementara Menander baru lahir lebih dari 100 tahun setelah konsili ini. Jadi, jelas bahwa ‘yang asli’ tidak dibuat lebih awal dari abad pertama SM. Kesenjangan panjang sebelum terjemahan-terjemahan itu muncul pada sekitar tahun 400 M, merupakan waktu yang cukup lama untuk melakukan berbagai penambahan dan amandemen, atau penghilangan dan pengosongan.
Melihat alasan-alasan yang telah disebutkan di atas dan fakta bahwa percakapan di dalam Miln. dikatakan terjadi kira-kira 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat, sementara Menander hidup paling tidak 100 tahun lebih awal, maka kemungkinan besar Miln. dikarang beberapa waktu setelah kematian Menander. Mungkin saja karya itu berdasar pada tradisi lisan dari percakapan yang benar-benar terjadi antara Menander dengan satu atau beberapa bhikkhu.
Penerus Menander, Ratu Agathocleia dan Strato I Soter, melanjutkan tahta kerajaan setidak-tidaknya 40 tahun setelah kematian Menander. Tetapi mereka menyaksikan dinasti baru di India Barat, yaitu dinasti Saka (Scythia) dan Yueh-Chih dari Asia Tengah. Lalu era Bactria Yunani pun berakhir.
Penyusunan Kitab Pali
Epilog mengatakan bahwa kitab itu dibagi menjadi enam bagian dan 22 bab yang berisi 262 pertanyaan, sementara 42 dari pertanyaan itu belum diturunkan, jadi sebenarnya semua berjumlah 304. Tetapi sungguh sulit melihat bagaimana ini dihitung. Ada ketidakcocokan hitungan di dalam berbagai teks yang ada, walaupun hal ini mungkin sudah dapat diduga karena karya itu sudah sangat tua.
Sekarang ini hanya ada 237 pertanyaan. Untuk menomori bab-bab saya mengikuti urutan teks Palinya. Hanya saja saya telah memasukkan 7 bab terakhir ke dalam Bab 17.
Di dalam edisi Milinda Pañha ini, walaupun saya telah mengikuti susunan teks Pali, banyak perumpamaan yang saya hilangkan. Dan perumpamaan yang panjang (walaupun indah) saya singkat, namun saya harap hal ini tidak merusak keindahan karya aslinya. Tujuannya adalah agar buku ini cukup padat dan menarik bagi pembaca dari negara-negara barat yang sibuk. Buku ini adalah suatu ringkasan, bukan terjemahan, dan karena itu di sana-sini saya menggabungkan beberapa alinea menjadi satu agar ringkas. Walaupun demikian saya tetap berusaha menyesuaikan dengan maksud pengarang aslinya, yang merupakan penjelasan tentang ajaran Sang Buddha dan uraian tentang beberapa konsep salah yang mungkin menyesatkan.
Referensi yang diberikan di catatan kaki adalah nomor halaman teks Pali dari Pali Text Society. Dalam terjemahannya nomor-nomor halaman ini diberikan dengan tanda kurung di bagian kiri atas, atau di dalam tubuh teks pada buku Vinaya dan Jataka.
Untuk membantu mereka yang ingin mengetahui kata Pali yang diterjemahkan (yang kadang-kadang berbeda dengan terjemahan Rhys Davids atau Miss Horner), saya sertakan kata-kata Pali di bagian Apendiks bersama dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Saya juga telah menyusun daftar kutipan kitab suci yang diberikan pengarang Miln. dan beberapa bacaan lain yang hanya terdapat di Miln., yang mungkin menarik untuk dipelajari lebih lanjut.
Bagi mereka yang belum terbiasa dengan terminologi Buddhis, saya telah menyertakan Apendiks istilah-istilah Pali dengan penjelasan singkat mengenai maknanya.
Catatan:
  1. T.W. Rhys Davids, pendahuluan QKM.
  2. A.K. Narain, The Indo-Greeks.
  3. Cambridge History of India, Vol. I. Hal 446.
  4. V.A. Smith. The Early History of India.
  5. D. i. 50.
  6. D. ii. 87, 88
  7. Untuk perbandingan lebih detail dan menyeluruh, lihat Milinda Pañha and Nagasenabhikshusutra (A Comparitive Study) Bhikkhu Thich Mihn Chau.
 www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar: