Kamis, 02 Februari 2012

KEVADDHA SUTTA



Sumber: Materi Pokok Kitab Suci Sutta Pitaka I, Modul 1-6.
Oleh: Cornelis Wowor, M.A.
Penerbit : Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu Dan Buddha
Dan Universitas Terbuka 1992


Khotbah ini dibabarkan Sang Buddha ketika beliau berada di Pavarikambavana, Nalanda. Khotbah ini dibabarkan berkenaan dengan permohonan dari upasaka Kevaddha. Permohonan upasaka Kevaddha itu adalah sebagai berikut:


“Kota Nalanda sangat makmur dan berpengaruh, banyak penduduk yang menjadi pengikut Sang Bhagava.Baik sekali bilamana Sang Bhagava memberikan perintah kepada beberapa bhikkhu untuk mempertunjukan kekuatan batin yang melebihi kemampuan manusia biasa. Maka keyakinan kami kepada Sang Bhagava akan lebih bertambah”


Sang Buddha menjawab: “Kevaddha, tetapi bukan dengan cara begitu saya mengajar para bhikkhu, agar mereka mempertunjukkan kekuatan batin bagi para umat awam.”


Sampai tiga kali Kevaddha memohon demikian, akhirnya Sang Buddha berkata: “Ada tiga macam keajaiban (patihariya), yaitu: ‘keajaiban mengesankan (iddhi patihariya), keajaiban membaca-pikiran orang lain (adesana patihariya) dan keajaiban ajaran (anusasana patihari).


Keajaiban mengesankan (iddhi patihariya) adalah kemampuan untuk merubah diri dari seorang menjadi banyak; dari banyak orang menjadi seorang saja; menghilangkan diri atau sebaliknya: berjalan menembus dinding, benteng atau gunung tanpa ada hambatan; ia menyelam dalam tanah; berjalan di atas air bagaikan berjalan di atas tanah; dengan duduk bersila ia melayang di angkasa; menyentuh bulan dan matahari dengan tangannya; dengan tubuhnya ia dapat mengunjungi alam dewa brahma, dst..”


Keajaiban membaca pikiran (adesana patihariya) adalah kemampuan untuk mengetahui pikiran dan perasaan orang lain dengan mengatakan: “Orang itu berpikir begini atau begitu, ia berperasaan senang atau tidak senang, dan seterusnya…”


Dua keajaiban ini akan membuat orang yang yakin akan bertambah yakin, namun orang yang tak yakin kepada Sang Bhagava akan mengatakan bahwa ada mantra Gandhara dan mantra Kintamanivijja untuk melakukan itu.


“Kevaddha, karena saya melihat bahaya dari melakukan kekuatan batin ini, maka saya enggan dan malu untuk mempertontonkannya.”


“Apakah keajaiban ajaran (anusasana patihariya) itu?


Apabila seseorang mengajarkan agar berpikir ini, jangan berpikir begitu. Pertimbangkanlah hal ini, dan jangan begitu. Latihlah dan kembangkankah dirimu, lenyapkanlah kekotoran batin dan seterusnya. Selanjutnya, bilamana di dunia ini muncul seorang Tathagata yang mengajarkan dhamma kebenaran yang dimulai dengan melakukan Cula Sila, Majjima Sila, Mahasila, melaksanakan meditasi hingga mencapai Jhana I sampai dengan Jhana IV, mengembangkan kebijaksanaan hingga melenyapkan semua kekotoran batin, menjadi arahat…(uraian rinci seperti yang diuraikan dalam Brahmajala Sutta dan Sammannaphala Sutta).


Inilah keajaiban yang telah saya mengerti dan realisasikan serta telah saya ajarkan kepada orang lain.


Pada suatu ketika di antara para bhikkhu sangha dan seorang bhikkhu yang menjadi ragu-ragu sebagai berikut: “Kemanakah empat unsur (mahabhutarupa) padat, cair, panas dan udara pergi, mengapa tanpa meninggalkan bekas.” Bhikkhu itu mengembangkan batinnya dengan melakukan meditasi hingga ia memiliki kemampuan batin untuk mengunjungi dan berkomunikasi dengan para dewa.


Kemudian bhikkhu itu pergi ke alam dewa Catumaharajika menanyakan tentang kemana perginya empat unsur itu, namun para dewa tak dapat memberikan jawaban dan menyuruh bhikkhu itu untuk bertemu dengan Empat Raja Dewa yang lebih tinggi dan berkuasa daripada kami. Mereka mengetahuinya.


Ia pergi menghadap Empat Raja Dewa dan menanyakan pertanyaan itu, namun Empat Raja Dewa tidak dapat menjawabnya dan menyuruhnya untuk pergi ke alam Tavatimsa. Di alam Tavatimsa para dewa tak dapat menjawab pertanyaannya dan ia disuruh menghadap Sakka, raja alam dewa Tavatimsa. Sakka, juga tak dapat menjawab pertanyaannya. Sakka menyuruhnya ke alam Yama, tapi para dewa alam Yama menyuruhnya menghadap Suyama, raja alam dewa Yama. Suyama tak dapat menjawab juga, maka ia ke alam dewa Tusita, menghadap Santusita; ke alam dewa Nimmanarati, menghadap Sunimmita, raja alam Nimmanarati; ke alam Parinimmita Vasavatti, menghadap Vasavatti, raja alam Parinimmita Vasavatti, yang tak dapat menjawab pertanyaannya juga. Ia disuruh pergi ke alam dewa Brahma, tetapi para dewa pengikut Brahma tak dapat menjawab pertanyaannya itu. Lalu para dewa pengikut Brahma ini menyuruhnya untuk menghadap dewa Maha Brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta, pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari semua yang ada dan yang akan ada. Ia lebih tinggi dan berkuasa daripada kami.


Ia pergi menghadap dewa Maha Brahma dan bertanya: “Kemanakah empat unsur (mahabhuta), padat, cair, panas dan udara- pergi, mengapa tanpa bekas?”


Setelah Bhikkhu itu berkata, Maha Brahma menjawab: “Bhikkhu, saya adalah dewa brahma yang maha kuasa, maha tinggi, maha tahu, junjungan dari semua, pencipta, pengatur, asal mula segala sesuatu, ayah dari yang ada dan yang akan ada.”


Kemudian bhikkhu itu berkata kepada Brahma: “Saya tidak bertanya siapa anda, apakah anda itu benar seperti yang anda katakan. Tetapi yang saya tanya adalah kemanakah empat unsur itu pergi, mengapa tanpa bekas?”


Sampai tiga kali bhikkhu itu bertanya, namun Brahma tetap menjawab yang sama. Kemudian Brahma menarik bhikkhu itu ke sampingnya dan berkata:


“Para dewa pengikut Brahma ini berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang tidak saya tidak tahu, saya tahu semua, saya mengerti semua, tidak ada yang saya tidak realisasikan. Maka saya tidak menjawab di depan mereka. Bhikkhu saya tidak tahu jawaban ke mana empat unsur itu pergi, lenyap tanpa bekas. Bhikkhu, anda telah berbuat salah, telah bertindak salah karena anda telah melupakan Sang Buddha, anda telah bersusah payah mencari tahu hal ini, mencari jawaban untuk pertanyaanmu. Pergilah menghadap kepada Sang Bhagava. Terimalah jawaban apa pun yang akan diberikannya.”


Bhikkhu itu dalam sekejap lenyap dari alam Brahma dan muncul di hadapan saya, ia memberi hormat dan duduk. Setelah duduk ia bertanya kepada saya: “Bhante, ke manakah empat unsur pergi, lenyap tanpa bekas?”


Saya menjawab:” Bhikkhu, pertanyaan itu jangan tanyakan seperti yang kau katakan. Tetapi sebaliknya anda harus bertanya,


‘Di manakah unsur padat, cair, panas dan udara,
Panjang dan pendek, halus dan kasar,
bersih dan tak bersih, tidak di temukan?
Di manakah jasmani dan batin dari orang meninggal,
pergi tanpa bekas?’


Jawabannya:


‘Kebijakan Arahat, yang tak tampak, yang tanpa akhir, yang dapat dicapai dari beberapa sisi
Di situlah unsur padat, cair, panas dan udara,
Panjang dan pendek, kasar dan halus,
bersih dan tak bersih, tidak ditemukan.
Di situlah jasmani dan batin dari orang yang meninggal
pergi tanpa bekas.
Bilamana kesadaran lenyap, hal-hal itu pun lenyap.


Di akhir dari khotbah, Upasaka Kevaddha menjadi senang dan gembira.






http://www.samaggi-phala.or.id




Tidak ada komentar: