Jumat, 17 Februari 2012

WADAH DAN ISI


Praktek komtemplasi utama adalah penyelidikan.Bagaimana kita melakukannya dan bagaimana hal itu bekerja ? Penyelidikan adalah apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas hidup kita,mendapatkan kearifan yang lebih mendalam,lebih banyak kedamaian,dan kebahagiaan.
Salah satu komentar yang saya dengar di Adelaide dalam suatu ceramah mengenai terorisme adalah : mungkin terlalu banyak agama di pimpin oleh cendekiawan ketimbang pertapa.Sebab,banyak  cendekiawan hanya membaca buku,dan seperti yang sering saya katakan,kadang kita bisa salah menyalahpahami isi buku itu,atau mengelirutahukan antara wadah dan isi.
Buku adalah wadah.Di dalamnya terdapat pesan,namun kadang anda harus membuka dan menguak kiasan di dalamnya agar dapat menemukan maknanya.Ketika kita memahami perbedaan antara wadah dan isi,barulah kita bisa memanfaatkan buku itu,dan kita memanfaatkannya bukan sebagai tanda kewenangan atau otoritas kebenaran,namun hanya sebagai palang penunjuk arah.
Ada ungkapan yang sangat terkenal dalam Zen mengenai jari yang menunjuk ke bulan.Seseorang berkata dan berpikir bahwa jari adalah bulan,padahal jari hanyalah penunjuk bulan,dan bulan adalah apa yang di tunjuk oleh jari.Jari melambangkan kitap suci dan bulan melambangkan kebenaran.

Palang penunjuk arah ada di sana untuk kita lihat,selidiki,renungi,tapi penunjuk arah bukanlah kebenaran itu sendiri.Ketika kita memahami perbedaan antara palang penunjuk dan tempat tujuan,peta dan wilayah,menu dan hidangan,wadah dan isi,jari dan rembulan,maka kita akan menjadi lebih bijaksana,lebih damai,dan lebih toleran.
Seseorang bertanya,seperti yang sering kita tanyakan,bagaimana kita tahu apa yang benar dan apa yang salah ?Ucapan Buddha dalam hal ini adalah: “Engkau bisa mengetahui kebenaran dari apa yang di lakukannya,membawa ke mana,dan pengaruhnya,sebab kebenaran pastilah sesuatu yang menciptakan kedamaian,keselarasan,kebebasan,yang menyelesaikan masalah ketimbang membuat lebih banyak masalah.” Jadi,jika anda memilih filosofi hidup atau dogma atau gagasan apapun yang menyebabkan lebih banyak kericuhan,pertikaian,duka,maka anda tahu bahwa itu tidaklah mungkin kebenaran.Hal ini seharusnya terlihat nyata bagi kita semua.
Jadi,bagaimana kita bisa menemukan kebenaran itu…? Yang membawa kedamaian,tanpa tikai,keharmonisan,kebebasan,kebahagiaan sejati.Kita tidak mendapatkannya dengan mempelajari buku-buku,tidak dengan mendengarkan ceramah Ajahn Brahm,namun mengunakan apa yang dikatakan,merenungi,memahami secara mendalam,dan menemukan maknanya.Kadang saya kaget juga bahwasanya setelah saya mengajar di sini selama bertahun-tahun,masih saja orang-orang yang sama datang minggu demi minggu.
Bayangkan jika saya adalah seorang guru sekolah dan orang-orang yang terus datang ke kelas saya tahun demi tahun,kapan mereka akan pernah lulus ? Jadi saya sering mengatakan bahwa tugas saya ,tujuan saya,adalah membuat kalian semua tidak perlu datang lagi.Ketika saya mengajar ke balairung kosong,saat itu saya baru mengatakan bahwa pekerjaan saya selesai,semua orang tidak perlu mendengarkan ajaran lagi.Namun,untuk benar-benar memahami kebenaran memang  memerlukan waktu tidak sebentar.Caranya adalah melalui pengamatan.
Banyak orang salah menyangka bahwa pengamatan itu sama dengan berpikir.Kepada yang suka berpikir berat,anda  tahu di Barat ada patung karya Rodin yang di sebut The Thinker (Pemikir).Ini mestinya salah satu karya seni terbaik dan bisa anda lihat di banyak buku.Banyak yang tahu bahwa Rodin adalah pria malang ini sendiri,dengan tangan di dagunya,dengan siku di pahanya,berpikir begitu keras,hingga kepalanya menjadi begitu berat sampai harus ditopang tangannya.Begitulah wajah kita ketika berpikir keras.
Seperti kepala kita yang menjadi benar-benar berat,anda tidak bisa mencapai kebenaran hanya dengan berpikir,berpikir,dan berpikir.Yang akan anda dapat hanyalah pusing,pusing,dan pusing,dan anda tidak akan sampai kemana-mana.Banyak yang pernah mencoba hal ini,mencoba berpikir keras untuk menembusi masalah.alih-alih berpikir,gunakanlah metode pengamatan.
Sebelum kita bisa sampai ke pengamatan,kita harus memiliki kedamaian batin yang cukup,keheningan yang memadai untuk bisa menampung batin yang gelisah dan tak mau diam,agar kita bisa memusatkan perhatian dengan benar.
                                                                                             
                                                                                           ( AJAHN BRAHM )




Tidak ada komentar: