Kamis, 23 Februari 2012

TANTANGAN IMAN DALAM ERA TEKNOLOGI




 oleh:  Bhikkhu Sri Paññavaro

         Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang membawa modernisasi dan industrialisasi sering dipandang oleh sementara bangsa-bangsa Timur sebagai meluasnya pengaruh Barat. Modernisasi dan industrialisasi ditanggapi juga sebagai penyebab makin meluasnya agama yang dianut oleh sebagian besar bangsa-bangsa Barat. Sebagian umat Buddha, dan juga Hindu, melihatnya sebagai budaya yang memacu materi yang akan membahayakan kehidupan spritual. Dengan demikian akan menjauhkan manusia dari Tuhan.

         Pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang menghasilkan teknologi modern adalah dorongan alami manusia untuk berkembang dan mencapai hidup yang lebih baik. Tetapi, menggunakan teknologi untuk mencapai hidup lebih baik tidak mungkin dicapai hanya dengan ketrampilan. Demikian juga untuk mencapai kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih besar, tidak mungkin dicapai hanya dengan bekal kecerdasan otak.

         Selisih kecerdasan otak dan ketrampilan, agama harus mampu merasuki suatu bangsa untuk modernisasi dan industrialisasi dengan membekali sikap-sikap mental: disiplin, kesungguhan, tekun, berani menghadapi kehidupan, jujur, dan bertanggung jawab.

 Antara Iman dan Akal

        Persoalannya sekarang adalah agama bersumber pada keyakinan atas kebenaran mutlak sedangkan ilmu pengetahuan berdasarkan pada akal. Keyakinan atau iman itu bukanlah akal. Dan sebaliknya, akal yang terus berkembang kadang-kadang tidak bisa menerima keyakinan apabila akal tidak terelakkan untuk berhadapan dengan keyakinan.

         Bangsa yang ingin mencapai kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, menginginkan modernisasi dan industrialisasi; tidak bisa terelakkan lagi cara hidupnya telah dirasuki oleh kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Kehidupannya berdsarkan alur akal. Sebagai contoh: hari depan harus kita atur dan kita persiapkan sekarang. Majunya taraf hidup suatu bangsa adalah hasil kerja keras bangsa itu sendiri. keberhasilan adalah hasil usaha kita. Kalau sekarang kita tidak membangun dengan kerja keras, hari depan kita akan gelap. Kita menjadi tertinggal jauh di tengah-tengah bangsa lain. Kalau kita malas, menerima apa adanya yang ada di depan mata tanpa usaha, maka kehancuran pasti terjadi.

         Cara berpikir rasional ini tidak jarang memojokkan atau paling tidak menyisihkan keyakinan. Di manakah kemudian bisa tampak keyakinan terhadap Tuhan dalam cara berpikir zaman modern ini? Apakah keyakinan itu hanya tinggal bahwa pada awal Tuhan mencipta, selanjutnya tergantung tingkah laku manusia itu sendiri? Apakah maju mundurnya kehidupan, makmur-miskinnya bangsa, suka-duka manusia, urusan mereka sendiri?

         Kebaikan, kejahatan, dan dosa mulai disentuh juga oleh akal. Apakah batasan kebaikan dan kejahatan? Apa gunanya berbuat baik? Mengapa tidak boleh melakukan kejahatan? Mengapa manusia bisa berbuat jahat? Mengapa bisa melakukan dosa? Jawaban atas keragu-raguan ini harus diberikan oleh agama dalam dimensi yang dituntut ilmu pengetahuan.

         Pemuka-pemuka agama dihadapkan pada suatu tantangan untuk menerjemahkan ajaran-ajaran agama ke dalam alur ilmu pengetahuan. Ajaran agama adalah kebenaran, bagi kita tidak ada persoalan. Tetapi sekarang, bagaimana pokok-pokok kebenaran yang menjadi keyakinan itu diajarkan kepada bangsa yang menuju modernisasi dan industrialisasi dengan alur ilmu pengetahuan.

         Kalau ini tidak disadari dan dimulai, maka orang akan hidup dengan rasional karena maju dalam industrialisasi; tetapi mengambang dalam keyakinan beragama. Bukannya menjadi tidak beragama, tetapi keyakinannya tidak hidup dalam kehidupan sehari-hari. Ini akan membawa resiko, manusia kehilangan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, siap menghadapi penderitaan, rendah hati, kerukunan, dan tanggung jawab. Atau sebaliknya, kalau pemuka agama tidak menempatkan diri pada alur ilmu pengetahuan, maka orang akan mengembangkan dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pincang.

 Tuhan Menyatukan Makhluk

       Agama Buddha memandang Tuhan sebagai Yang Mahaesa, Yang Mutlak, Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan. Tuhan bukan makhluk, dan juga bukan dewa, bukan alam. Oleh karena apapun yang dipandang sebagai makhluk atau memiliki sifat makhluk adalah tidak kekal, rangkaian, dan selalu berubah. Hakikat Tuhan akan disadari oleh semua makhluk pada akhir perjuangan hidup, akhir penderitaan. Oleh karena itu Tuhan menyatukan semua makhluk.


         Keyakinan ini akan membuahkan rasa satu, persaudaraan, kerja sama, dan saling menghargai. Masing-masing ingin membantu yang lain, tanpa perlu lagi dikenal nama agamanya, timbul rendah hati, tanggung jawab, jujur, dan cinta kasih tanpa perlu menonjolkan agama yang dianutnya. Ini bukan berarti identitas agamanya lenyap, tetapi sikap-sikap yang telah dipunyai itu adalah identitas agama yang sesungguhnya.



Hukum Dharma

        Timbul tenggelamnya kehidupan, bergeraknya tata surya, dan sesuatu di alam semesta ini diatur oleh Tuhan dengan dipahami oleh agama Buddha sebagai Hukum Dharma. Hukum Dharma ini adalah Tuhan sebagai Maha Pengatur, Maha Tahu, ada di mana-mana. Demikian sepanjang masa, tanpa awal, tanpa akhir dan tanpa berubah.

         Hukum Dharma harus dimengerti dan diyakini untuk memberikan arah pada setiap perbuatan. Kesengsaraan dan kemiskinan adalah akibat dari kelalaian, kemalasan, kejahatan. Keberhasilan adalah hasil dari kerja keras, disiplin, dan kebajikan. Hari depan kita adalah tanggung jawab kita. Kita tidak mungkin menggantungkan diri pada siapapun juga. Berani menghadapi persoalan dalam kehidupan ini, karena persoalan-persoalan itu tidak kekal. Timbul tenggelam silih berganti. Apa yang terjadi pada kehidupan kita adalah akibat tindakan yang kita lakukan sendiri. Kita harus berusaha menyadari dan menerima dengan wajar. Kemudian berjuang kembali menuju yang lebih baik. Ini adalah Hukum Dharma yang tidak mungkin berubah.

         Kelaparan di Ethiopia, bencana-bencana alam yang banyak membawa korban, dan segala macam penderitaan hendaknya disadari sebagai akibat yang menjadi tanggung jawab manusia atas perbautannya. Jawaban ini tidak memberi tempat lagi bagi akal untuk mempertentangkan kepincangan-kepincangan dunia itu dengan Maha Dewa atau Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tuhan sebagai Hukum Dharma meliputi semuanya, baik Buddha, manusia biasa, dewa maupun binatang. Tetapi pada saat yang sama, penderitaan dan kesulitan menuntut kita untuk melakukan amal kebajikan. menggunakan sepenuhnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menolong orang lain. Melihat penderitaan dan kesulitan dengan tanpa melakukan amal kebajikan apapun adalah kejahatan mental.

        Tuhan sebagai tujuan semua makhluk, Yang Maha Esa dan Yang Mutlak, dan Tuhan sebagai Hukum Dharma bukan kebenaran yang datang dari akal. Kebenaran yang merupakan keyakinan bagi umatnya ini bukan hasil renungan filosofis, tetapi bersumber pada Penerangan Sempurna (Bodhi) yang dicapai oleh Manusia Yang Telah Bangun (Buddha). Tetapi keyakinan itu adalah keyakinan yang bisa diterima oleh alur akal.

         Agama Buddha tidak mengakui bahwa akal adalah sumber kebenaran (atakkavacara). Malahan kalau akal dijadikan sumber kebenaran maka akan timbul rimba pendapat (takkagahana). Sumber kebenaran adalah pengetahuan langsung melalui pencapaian. Tetapi karena semua orang mempunyai akal, maka akal harus dipakai untuk menuntun orang dalam usahanya mencapai pengetahuan langsung.

         Akal harus digunakan untuk memberi pegangan iman. Iman yang diterima akal akan membuat manusia sepenuhnya beragama, dan sepenuhnya bisa menggunakan serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk modernisasi dan industrialisasi.



Modernisasi sebagai Kebajikan

        Umat beragama harus bisa menggunakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dengan sepenuhnya demi kesejahteraan dan demi kepentingan manusiawi seutuhnya. Kerja dengan sungguh-sungguh adalah kebajikan. Sebaliknya, kerja setengah hati akan membuahkan akibat yang tidak baik, bukan kebajikan. Hasil kerja yang dimanfaatkan demi kepentingan diri sendiri, keluarga, dan demi kepentingan bangsa adalah kebajikan. Sebaliknya, kalau mempunyai cara hidup bahwa hasil kerja keras harus dimiliki sebanyak mungkin, dipakai sedikit dan tidak peduli orang lain; adalah kejahatan yang muncul dari keserakahan dan kepicikan.

         Umat beragama menggunakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan penuh kesungguhan, sebagai upaya memupuk amal kebajikan tanpa kontradiksi dalam dirinya dengan keyakinan agama. Dampak-dampak negatif yang muncul dari modernisasi dan industrialisasi, dan persoalan-persoalan kehidupan harus dihadapi dengan ulet dan sabar, siap menderita, tidak gampang mengeluh dan menyerah.

         Kesulitan hidup yang disadari sebagai ketidak-kekalan akan dihadapi dengan lebih banyak mendalami pengetahuan agama. Semua itu akan menumbuhkan dan memperkuat sikap-sikap mental: keuletan, ketabahan, kebijaksanaan; dan makin teguhnya keyakinan terhadap Tuhan. Semua itu adalah kebajikan dalam iman.

         Umat beragama seperti pisau. Ilmu pengetahuan dan teknologi laksana batu asah. Setelah diasah tajam, pisau digunakan untuk berbagai keperluan dengan fungsi utama memotong. Ketajaman sebagai kebajikan. Kebajikan menyebabkan terpotongnya kemalasan, kekikiran, keserakahan, keputus-asaan, dan kejahatan. Juga terpotongnya keterbelakangan, kesengsaraan, dan kemiskinan. Selesai tugas memotong, selesailah kewajiban hidup.

         Cita-cita bersama mewujudkan citra masyarakat Pancasila yang utuh sejahtera, beragama sepenuhnya dan berteknologi modern bukan suatu impian. Tetapi benar-benar paduan harmoni yang bisa terwujud.***



Sumber : KUMPULAN DHAMMADESANA Jilid 3; Sri Paññavaro Thera

Tidak ada komentar: