Minggu, 22 Januari 2012

KEWAJIBAN DALAM HIDUP



oleh: Bhikkhu Uttamo

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi memiliki kelakuan buruk dan tidak terkendali, sesungguhnya lebih baik adalah kebidupan sehari dari orang yang memiliki sila dan tekun bersamadhi. (Dhammapada VIII, 9)


Baru saja kita membacakan Paritta, baru saja kita juga mengembangkan meditasi. Tentu saja semuanya ditujukan untuk kebaikan, dan kebahagiaan almarhum Bp. Lie Yap Yoe dan juga keluarga yang ditinggalkan.

Saudara-saudara, satu tahun lamanya almarhum telah tidak bersama-sama dengan kita. Dan satu tahun ini rasanya cepat sekali berlalu. Saya masih ingat sekali tanggal 5 September tahun 1995, ketika saya ke sini di suatu malam, di ruang sebelah sana. Saat itu adalah hari upacara penyempurnaan jenazah almarhum, malahan waktu itu dihadiri oleh sembilan atau sepuluh bhikkhu. Cukup banyak bhikkhu. Tidak terasa sekarang sudah setahun lamanya. Memang setahun cepat sekali kalau kita jalani, apalagi kalau hari-hari kita diisi dengan berbagai macam kesibukan. Almarhum meninggal pada usia 71 tahun, lima hari sebelum hari ulang tahun beliau. Kenyataannya beliau hidup 71 tahun, tetapi kalau anak-anaknya, yang setia-setia dan baik-baik ini, ditanya: "Sudah cukup puaskah berkumpul dengan papanya?", toh papanya telah bersama mereka sampai umur 71 tahun, saya yakin semua anaknya, bahkan cucu dan menantunya, akan mengatakan: "Sebetulnya sih kurang. Kalau bisa, ingin berkumpul dengan orang tua sampai 1000 tahun".

Kalau kita membuka berita duka di koran setiap hari, sekarang yang meninggal pada usia kepala 6 sudah jarang sekali, misalnya usia 60 atau 61 tahun. Kepala 3, kepala 4, sudah meninggal. Kepala 5, meninggal. Karena itu kalau sudah kepala tiga, kita hendaknya sudah siap-siap berangkat. Mereka yang usianya belum kepala 3, silahkan menyongsong kepala 3. Yang sudah kepala 4 berarti sudah meleset dari saringan. Apalagi yang kepala 5, lebih-lebih yang kepala 6, kepala 7, dst. Karena banyak yang berangkat berusia muda, dan rata-rata yang berangkat di usia muda adalah orang baik-baik, maka kadang-kadang timbul pemikiran salah di dalam masyarakat dan juga di kalangan umat Buddha.

Baru saja umat Buddha di Vihara Samaggi Jaya, Blitar kehilangan seorang umat Buddha yang baik sekali. Tiap hari dia datang ke vihara. Kalau ada panen di daerahnya, pasti dia bawa sebagian hasil panen itu ke vihara. Panen jagung, dia bawa jagung ke vihara. Panen ketela, dia bawa ketela ke vihara. Panen kacang, dia bawa kacang ke vihara. Panen omelan, dia bawa kedamaian ke vihara. Namun, mendadak ia meninggal dunia, kecelakaan. Kepalanya berlubang. Padahal dia masih berumur 20 tahun, masih muda sekali. Orangnya halus, tidak pernah ngebut, baik-baik. Hari itu dia ngebut. Anak vihara yang dibonceng berkata: "Jangan ngebut". "Biar saja". Katanya. Nah, tidak lama kemudian dia menabrak truk. Anak vihara yang dibonceng tadi menabrak pundak temannya. Akibatnya kepalanya bocor kena helm dan harus dijahit. Hidung dan bibirnya bengkak kena pundak temannya tadi. Tetapi anak yang memboncengkan tadi kepalanya menempel di bak belakang truk itu. Kejadian ini pada jam setengah sebelas malam. Jalanan sepi, tidak ada apa-apa. Lalu orang kemudian berkonsep. 'Kenapa orang berhati baik meninggal dalam usia muda?' Pertanyaan seperti ini juga muncul di kalangan kita. Beberapa kali saya mendengar umat Cetiya Dhammajaya ini bertanya: 'Mengapa orang baik cepat meninggal dunia, Bhante?' Lalu biasanya cepat saya jawab: 'Apakah orang yang hidup sampai tua berarti jahat-jahat?' Hari ini yang paling senior di antara para bhikkhu yang hadir adalah Bhante Tithaketuko yang sudah berusia 71 tahun. Apakah beliau jahat? Tidak. Beliau baik-baik, sabar-sabar. Apakah Sang Buddha yang mangkat dalam usia 80 tahun adalah termasuk orang jahat? Jelas pendapat ini salah besar!

Dalam dunia ini sebetulnya banyak orang berhati baik dan berumur panjang. Kalau kita memiliki anggapan: 'Orang baik mati muda', berarti sebaiknya kita menjadi orang jahat saja biar mati tua. Lalu kita melakukan berbagai macam kejahatan, merampok, mencuri. Apakah hasilnya? Usia kita malah pendek. Mati karena ditembak! Di dalam Agama Buddha, permasalahan bukan pada umur panjang ataupun pendek; mati muda ataupun mati tua, melainkan sejauh mana orang itu mampu mengisi kehidupannya dengan hal yang bermanfaat. DalamDhammapada disebutkan, daripada kita hidup seratus tahun dengan kelakuan buruk, lebih baik hidup satu hari tapi mengenal dan melaksanakan Dhamma. ltu lebih baik.

Ada seorang umat yang menyombongkan diri: Saya panjang umur. Ketika diperhatikan gaya hidup orang tersebut memang luar biasa, jamu dan ramuannya saja satu kamar, penuh botol, toples, dan lain-lain benda. Ada satu toples yang menarik perhatian saya. Sambil menunjuk saya berkata: "Toples ini kenapa menyeramkan sekali?" Jawabnya: "Ya Bhante, ini isinya 'arak plus'. Plus embrio kijang yang langsung diambil dari dalam kandungan". ltulah sebabnya toples tersebut menjadi menyeramkan. Kijangnya masih terbungkus oleh plasenta. Jadi jelas, ada seekor kijang hamil yang ditembak, kemudian anaknya diambil, direndam dalam arak dan ramuan lain-lain agar orang itu menjadi awet muda. Memang luar biasa, dia berumur 70 tahun, istrinya berumur 20 tahun. Awet muda sungguh. Hebat, kan? Memang luar biasa! Tapi kalau ditanya: "Apakah agama Buddha itu?" Tidak mengerti sama sekali. "Bagaimanakah riwayat Sang Buddha?" "Tidak tahu, pokoknya saya hanya mengerti dagang, dan istri saya masih muda". Repot. Apakah orang semacam ini dapat meninggal dengan bahagia nantinya? Mungkin, ia malah akan meninggal dengan berpikir: "Bagaimana nasib jandaku nanti?" Dia malah akan lahir di alam menderita. Ini kisah nyata. Dia memang berumur panjang, tetapi kualitas hidupnya secara Dhamma tidak berarti. Dan di dalam agama Buddha, kualitas hidup inilah yang penting. Satu hari kenal Dhamma, itu lebih bagus daripada tidak mengenal sama sekali.

Di zaman Sang Buddha terdapat sebuah kisah. Ada seorang yang mendengarkan ceramah Dhamma, padahal sebelumnya tidak mengenal Dhamma. Setelah mendengar ceramah Dhamma, dia merasa sangat bahagia. Sewaktu berjalan di jalan raya, dia meninggal karena ditabrak oleh seekor sapi. Sapi di India memang boleh berjalan bebas di jalan raya sedangkan kalau di Indonesia yang bebas berkeliaran adalah ayam, anjing, dan kucing. Menurut kepercayaan di India, menubruk atau menyakiti seekor sapi adalah merupakan karma buruk, karena sapi menjadi kendaraan salah satu dewa. Oleh karena itu, di sana kotoran sapi dikumpulkan dan ditempelkan di dinding rumah, terutama di pagar. Apabila kotoran sapi tersebut telah menjadi kering, orang akan mengambilnya dan digunakan untuk bahan bakar. Dengan demikian, sapi dapat bebas berkeliaran ke pasar-pasar, jalan-jalan dan seluruh pelosok kota. Maka pada zaman Sang Buddha, tidaklah jarang orang yang meninggal ditabrak sapi. Sama persis dengan kejadian pada orang yang diceritakan di atas. Tetapi karena orang ini telah mengenal Dhamma pada hari itu, pengertian akan Dhamma inilah yang menjadikannya terlahir di alam bahagia. Jadi, jelaslah kini bahwa dalam kehidupan ini hal yang penting bukanlah panjang-pendeknya umur, melainkan berapa banyak Dhamma yang telah kita pelajari serta berapa dalam Dhamma yang telah kita laksanakan. Sang Buddha telah bersabda bahwa kehidupan sesungguhnya tidaklah pasti, kematian itulah yang pasti. Saat ini kita memang masih memiliki kehidupan, namun sampai kapan kita dapat memastikan diri masih akan terus hidup?

Kadang-kadang kalau melihat jadwal janji di buku agenda saya, sebetulnya saya merasa takut. Buka jadwal acara, saya takut sendiri. Tanggal 5 September saya diundang ke Sidoarjo. Undangan waktu itu pada bulan Agustus. Saya katakan "Ya", lalu saya tulis di agenda, tetapi saya sempat berpikir: 'Kalau sebelum 5 September ini saya meninggal, bisa-bisa saya nanti menjadi makhluk yang tak tampak, terikat oleh tanggal janji saya ini'. Gara-gara hutang janji, sewaktu akan meninggal saya teringat hutang janji saya. Hal itu dapat menyebabkan saya terlahir di sekitar tempat ini. Menyedihkan sekali. Maka ikatan janji ini memang berat.

Mengapa takut akan ikatan janji? Karena kehidupan tidaklah pasti. Siapakah yang dapat menjamin bahwa pada tanggal 5 September ini saya pasti dapat berada di sini? Tidak ada seorangpun. Anak vihara Blitar yang telah diceritakan tadi pun masih baik-baik saja pada waktu pagi hari, pada siang harinya juga masih sehat-sehat saja, malamnya pun masih baik-baik saja, jam sebelas malam: meninggal. Begitulah, tidak ada yang bisa menduga.

Kalau dilihat, kehidupan tidak pasti dan banyak orang muda yang meninggal. Maka hendaknya cara berpikir kita bukanlah 'Janganlah berbuat baik, nanti engkau akan mati muda'. Itu salah. Justru harus dibalik. Segala sesuatu hendaknya dilihat dari dua sisi. Sisi terang atau Sisi gelap. Kalau saudara melihat dari sisi gelap, jangan berbuat baik nanti mati muda. Hidup tidaklah pasti. Kematian itu yang pasti, karena itu jangan berbuat baik, nanti kamu segera mati. Pandangan salah itu hendaknya kita balik dengan mengatakan: 'Dia meninggal dalam usia muda, umur 30 tahun. Untunglah, dia sudah memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. Untunglah dia sudah mengenal Buddha Dhamma'.

Satu contoh lagi. Orang seperti saya ini, menurut para ahli ramal seharusnya saya akan meninggal dalam usia. Saya diramal meninggal dalam usia 25 tahun. Namun, si ahli ramal menjadi heran dan bertanya kenapa saya tidak meninggal dalam usia 25 tahun. Saya ingat, karena tepat ketika saya berusia 25 tahun saya berkeputusan untuk menjadi seorang samanera (calon bhikhu). Jadi, ramalannya meleset. Ini satu kejadian.

Kemudian ada orang lain yang membawa foto saya ke tukang ramal yang lain pula. Tukang ramal ini mengatakan: "Orang ini mestinya meninggal ketika berumur 28 tahun", padahal waktu itu usia saya sudah kepala 3. Jadi ramalannya meleset lagi. Dalam ramalan itu juga disebutkan bahwa seharusnya pada usia 33 tahun saya menjadi bhikkhu. Tetapi saya sudah mendahului ramalan itu. Pada umur 25 tahun saya menjadi samanera dan setahun kemudian menjadi bhikkhu. Jadi ternyata saya telah berkali-kali meleset dari ramalan tentang kematian. Ada ramalan lain yang menyatakan bahwa usia saya tinggal beberapa tahun lagi. Apakah saya mampu melewati saat itu? Saya tidak tahu. Sesungguhnya kita semua dapat berulang kali lolos dari kematian karena disebabkan adanya pengingkatan mutu hidup kita. Inilah hal yang sangat penting.

Kalau dalam kehidupan kita ini banyak diisi dengan hal yang bermanfaat, sambil merenungkan bahwa kehidupan adalah tidak pasti, kematianlah yang pasti, maka pastilah setiap saat kita akan selalu bersemangat mengisi hidup kita dengan sebaik-baiknya. Mengisi kehidupan sesuai dengan Ajaran Sang Buddha adalah yang paling bermanfaat. Ajaran Sang Buddha menganjurkan kita untuk selalu mengembangkan dana (kerelaan), sila (kemoralan), dansamadhi (konsentrasi) di dalam kehidupan. Hendaknya kita melaksanakan dana, sila, dan samadhi seakan-akan kita akan segera meninggal, besok pagi kita sudah tidak hidup lagi. Tidak akan bangun lagi.

Dalam suatu upacara pelimpahan jasa saya bertanya kepada salah seorang pengurus: "Peserta upacara pelimpahan jasa tahun ini apakah lebih banyak daripada tahun lalu?" "Lebih banyak, Bhante". Kemudian saya berkata: "Saudara-saudara yang ikut upacara pelimpahan jasa tahun ini lebih banyak. Kenapa? Sebab sebagian di antara mereka yang hadir pada upacara ini tahun lalu telah meninggal dan disertakan pula dalam upacara tahun ini. Tahun depan pasti akan lebih banyak lagi. Hal ini bisa terjadi karena salah satunya di antara kita nanti akan ikut dibacakan paritta di sini". Memang, kehidupan ini tidaklah pasti, kematianlah yang pasti. Oleh karena itu, setiap hari, setiap saat, hendaknya kita mengisi kehidupan ini agar selalu berkualitas. Praktekkanlah Dhamma dengan baik, sehingga andaikata kita meninggal dalam usia 17 tahun pun kita akan meninggal dengan tenang. Sudah cukup mengerti Dhamma. Dengan mengenal Dhamma, mengenal Jalan Mulia Berunsur Delapan, sebetulnya saudara-saudara telah mengenal Jalan Kebenaran, Jalan Keselamatan. Dengan demikian selama hidup 17 tahun ini, 17 tahun pula berbahagia karena sudah mengenal dan melaksanakan Buddha Dhamma. Meninggal malam inipun tidak masalah. Meninggal pada umur 20 tahun juga sama; 30 tahun juga sama. Kenapa? Karena kualitas Dhamma ini telah kita miliki dan jalani.

Oleh karena itu, jika kita ingin mengembangkan kebajikan dengan melaksanakan dana, sila, dan samadhi, lakukanlah segera seakan-akan nanti malam kita akan meninggal, dan besok kita sudah tidak dapat melihat matahari lagi. Tetapi bila hendak berbuat buruk yaitu dengan tidak melakukan dana, sila, dan samadhi, tundalah seakan-akan kita dapat hidup seribu tahun lagi. Jadi kalau kita akan mengomel, tunda saja. Marahlah di tahun depan saja. Bila telah sampai waktunya pada tahun berikutnya, tunda kembali. Setahun lagi; saya masih akan tetap hidup untuk 1000 tahun. Jadi, intinya bila muncul keinginan untuk melakukan perbuatan jahat, tundalah. Namun bila timbul keinginan untuk melakukan perbuatan baik, cepatlah dilakukan seakan-akan kita akan meninggal nanti malam. Dengan begitu cara berpikir demikian, kita akan selalu siap menghadapi kematian. Kematian tidak akan pernah mengetuk pintu rumah kita dahulu sebelum mendatangi kita. Oleh karena itu, kita harus berjuang agar selalu siap menghadapi kematian setiap saat. Umat Buddha adalah umat yang berani menghadapi kematian. Berani mati setiap saat. Tetapi ingat, kita jangan mencari kematian. Berani mati tetapi tidak berarti cari mati. Kalau kita hendak cari mati maka kita akan mendapatkannya dengan minum racun. Atau, di jalan ramai kita ngebut sambil mabuk. Ini adalah orang yang cari mati. Andaikata dia ditanya: 'Kenapa kamu ngebut sambil mabuk?' Bila ia menjawab: 'Saya berani mati, Bhante'. Itu jawaban salah. Orang semacam itu bukanlah orang yang berani mati, orang itu cari mati. Berani mati artinya orang yang siap menghadapi kematian setiap saat dengan selalu melaksanakan kebajikan yaitu dana, sila, dan samadhi setiap saat. Sehingga apabila kita meninggal hari ini pun kita akan merasa bahagia. Inilah yang perlu kita renungkan.

Pada hari ini kita bersama mengadakan peringatan atas wafatnya almarhum Bp. Lie Yap Yoe. Walaupun beliau belum lama saya kenal, saya dapat melihat bahwa beliau ini cukup bagus cara mendidik anggota keluarganya. Cara beliau mengorganisasi rumah tangganya juga baik, sehingga hubungan batin di antara masing-masing anggota keluarga dapat serasi, akrab, dan penuh kedamaian. Para anggota keluarga dapat saling bergurau dengan bebas. Sangat membahagiakan. Kalau hal ini tidak dibiasakan sejak anak-anak masih kecil maka hasilnya tidak mungkin demikian. Sebuah rumah tangga bahagia yang dapat mengerjakan secara bersama perusahaan keluarganya. Tidak ada percekcokan, permasalahan maupun kekurangan ini dan itu. Inilah hasil nyata pendidikan orang tua. Hal ini pula yang rasanya membuat beliau dapat dengan tenang meninggalkan dunia ini. Apa yang seharusnya dikerjakan telah selesai dilaksanakan. Sekarang tinggal tugas dan kewajiban kita. Sekarang sudah kita ketahui bersama bahwa almarhum telah mampu menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Almarhumah lbu pun yang telah wafat beberapa waktu yang lalu juga telah dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Maka sekarang sebagai anak-anaknya dan kita semua yang ada di sini hendaknya segera menumbuhkan tekad untuk selalu berjuang meningkatkan kualitas hidup kita masing-masing. Kita harus mengenal Dhamma dan kita harus melaksanakan Dhamma dengan sepenuh hati kita. Tadi sudah disebutkan, daripada orang hidup seratus tahun tetapi tidak bijaksana dan terkendali maka lebih baik orang yang hidup sehari dengan bijaksana dan tekun bersamadi. Setelah kematian orang yang memiliki kualitas hidup semacam ini akan terlahir di salah satu dan dua puluh enam alam surga. Dikatakan pula bahwa orang bijaksana adalah bagaikan lidah yang dapat merasakan sayur yang melewatinya sebelum masuk ke perut. Orang tidak bijaksana hanya bagaikan sendok. Menyendoki sayur ke mana-mana tetapi tidak pernah merasakan rasa sayurnya itu sendiri. Dimasukkan ke dalam sambel tidak akan terasa pedas. Dimasukkan ke dalam garam juga tidak merasakan asin. Apa sebab? Memang hanya sebuah sendok!

Demikian pula orang yang tidak bijaksana. Sudah sejak dahulu selalu pergi ke vihara namun tetap saja tidak mengerti Ajaran Sang Buddha yang sedemikian luhur dan agung. Hal ini diibaratkan seperti sendok. Tetapi kalau kita dapat mengenal Dhamma walaupun hanya sejenak, sudah mampu mencicipi Dhamma, maka berarti kita seakan merasakan surga, surga kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita juga menajamkan lidah kita, dalam arti menajamkan cara berpikir dan kebijaksanaan kita untuk menembusi Buddha Dhamma. Sekarang cobalah bertanya pada diri sendiri: 'Selama saya sering pergi ke vihara, apakah yang telah saya rasakan, apakah manfaat yang telah saya dapatkan untuk kehidupan?' lni harus direnungkan. Kalau kita tidak merasa memperoleh manfaat dengan mengenal Ajaran Sang Buddha maka kita dapat dikelompokkan sebagai sebuah sendok. Sungguh menyedihkan. Tetapi walaupun baru satu hari saja duduk di sini kita sudah langsung dapat melihat indahnya, keluhurannya dan manfaatnya agama Buddha, 'Ajaran Sang Buddha sungguh sangat masuk akal, saya langsung menjadi tenang dan tentram hati saya', berarti kita adalah lidah yang bermanfaat.

Sekarang, marilah bertanya pada diri sendiri. Besok hari Minggu, para umat juga harus ditanya tentang lidah atau sendok. 'Apakah Anda memilih sebagai lidah atau sendok?' Kalau dia memilih sebagai lidah, dia harus diuji apakah benar dia mengerti tentang agama Buddha dengan baik, apakah dia juga melaksanakan Ajaran Sang Buddha, apakah dia telah menjalankan Pancasila Buddhis? Ataukah Atthasila? Apabila dia mengatakan dirinya sebagai lidah tetapi tidak pernah menjalankan Pancasila Buddhis, bahkan riwayat Sang Buddha saja tidak pernah membacanya... maaf saja, dia hanyalah seperti sebuah sendok. Jadi sering-seringlah ke vihara dan belajarlah Buddha Dhamma, cicipilah rasa Dhamma. Kenikmatan cita rasa Dhamma itu sungguh luar biasa. Di dalam Dhammapadadikatakan? 'Dari semua rasa di dunia, rasa Dhammalah yang tertinggi. Rasa Dhammalah yang paling unggul'.

Bila kita telah mengerti Dhamma maka kita akan dapat membedakan hal yang penting sebagai hal yang penting dan hal yang tidak penting sebagai hal yang tidak penting. Seandainya kita diajak hura-hura di hari Minggu pun kita akan memilih untuk ke Vihara untuk mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Ini baru luar biasa. Oleh karena itu, masih belum terlambat, saat ini kita masih hidup. Nanti malam, siapa tahu? Selagi masih hidup, cepatlah bertekad untuk menjadi lidah yang terbaik. Rasakanlah Dhamma dengan baik. Gunakanlah waktu kita dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kualitas diri kita dengan melaksanakan dana, sila dan samadhi. Sesungguhnya, hidup tidaklah pasti, kematian itu yang pasti.

Dana dalam pengertian Buddhis artinya adalah kerelaan. Dana tidak harus berbentuk materi, apalagi uang. Tidak selalu. Dana dapat pula berbentuk dana tenaga, ucapan dan bahkan pikiran. Pada umumnya dana materi hanyalah sebagai bentuk awal saja. Bila orang sudah terbiasa dengan kerelaan materi, ia akan dapat mengembangkan diri dengan melaksanakan kerelaan yang bukan materi, memaafkan orang yang bersalah kepada kita, misalnya. Intisari latihan berdana adalah membentuk kebiasaan berpikir: Semoga semua makhluk berbahagia. Dengan demikian, kita akan selalu berusaha membahagiakan pihak lain dengan segala kemampuan yang ada pada diri kita.

Apabila dana atau kerelaan telah kita jalankan, kita dapat mengembangkan sila atau kemoralan. Kemoralan dijalankan dengan melaksanakan minimal Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis terdiri dari latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, serta mabuk-mabukan. Dengan melaksanakan Pancasila Buddhis ini kita akan dapat memperoleh banyak manfaat. Salah satu manfaat yang penting adalah membebaskan kita dari rasa bersalah. Hal ini dapat terjadi karena isi Pancasila Buddhis adalah merupakan aturan dasar untuk kehidupan bermasyarakat tanpa cacat. Selain itu, karena melaksanakan Pancasila Buddhis adalah juga termasuk melakukan perbuatan baik maka akan dapat memberikan hasil panjang usia pada diri kita. Hal ini sudah terbukti dengan cerita di atas. Seharusnya saya berusia pendek, ternyata dengan melaksanakan sila dapat hidup sampai hari ini. Oleh karena itu, bila kita ingin panjang usia, salah satunya adalah dengan melaksanakan sila apalagi menjadi samanera. Saudara yang sudah berusia 17 th, atau yang sudah berusia 25 th, cepat-cepatlah berusaha menjadi samanera, agar memperoleh umur panjang. Jadilah samanera yang baik. Untuk yang wanita, jadilah Silacarini atau boleh juga menjadiAnagarini. Umur panjang juga akan didapatkan. Oleh karena itu, jalanilah sila atau kemoralan minimal lima sila, atau boleh ditingkatkan menjadi delapan sila. Apabila kita tidak ingin menjadi seorang samanera, ataupun tidak ingin menjadi Anagarini, maka jalanilah sila di dalam kehidupan sehari-hari. Minimal satu minggu sekali, jalanilah delapan sila, Atthasila.

Setelah melaksanakan dana atau kerelaan kemudian melatih sila atau kemoralan maka yang ketiga adalah mengembangkan konsentrasi dalam meditasi. Belajarlah meditasi dengan bimbingan para bhikkhu yang sering melatih meditasi. Meditasi yang dimaksudkan di sini adalah meditasi yang sesuai dengan Ajaran Sang Buddha yaitu meditasi konsentrasi atau Samatha Bhavana sebagai dasar dan kemudian dilanjutkan dengan meditasi perenungan atau Vipassana Bbavanasebagai kelanjutannya. Dengan kedua jenis meditasi ini maka batin akan menjadi tenang seimbang serta akan selalu siap menghadapi kerasnya kehidupan ini. Dengan batin tenang akan membuat kita menjadi awet muda, murah senyum dan berhati lapang. Oleh karena itu, kembangkanlah mulai sekarang kerelaan, kemoralan, dan konsentrasi. Dana, sila, samadhi. Maka kebahagiaan pasti akan menjadi milik saudara.***

Sumber:

AGAMA BUDDHA PEDOMAN HIDUPKU; Bhikkhu Uttamo; Malang Indah Grafika, Malang, 1997.

Tidak ada komentar: