Kamis, 19 Januari 2012

MENGHADAPI TANTANGAN HIDUP


oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera

Sumber Asli: Kaset Khotbah Dhamma


         Menurut Dharma, sebagai manusia kita mempunyai 3 macam kewajiban yang sudah selayaknya harus kita selesaikan dengan sebaik-baiknya. Yang pertama adalah kewajiban kepada diri kita sendiri, kemudian bersamaan dengan itu, kita juga mempunyai kewajiban kepada keluarga, dan masyarakat.

         Dalam Dhammapada 204, Sang Buddha menegaskan bahwa "Arogya Parama Labha", yang artinya, Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar bagi manusia. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan fisik/jasmani yang sehat. Sangat benar kalau Sang Buddha memberikan nilai bahwa kesehatan adalah keuntungan yang terbesar. Mengapa demikian? Karena kita semua akan tidak sayang mengeluarkan kekayaan, harta benda yang kita miliki demi kesehatan. Seseorang yang sakit akan rela menghabiskan berapapun hartanya, asalkan bisa kembali menjadi sehat. Namun dari ungkapan "Arogya Parama Labha" —Keuntungan/laba yang terbesar adalah sehat—, yang tidak kalah pentingnya bukan semata-mata kesehatan fisik, tetapi adalah kesehatan mental. Seorang dokter pernah mengatakan kepada saya; kalau seseorang sudah mencapai usia lebih dari 50 tahun, apalagi kemudian sudah di atas 60 tahun, maka 75% sakit fisiknya tidak lain disebabkan oleh mental, atau karena gangguan pikirannya sendiri. Hanya 25% yang benar-benar sakit karena fisik. Begitu besar pengaruh pikiran kita kepada jasmani ini. 75% pikiran kita akan membuat penyakit pada jasmani kita.

         Kehidupan berumahtangga dan kehidupan bermasyarakat adalah suatu kehidupan yang tidak pernah selesai menghadapi tantangan. Pada waktu seorang wartawan dari sebuah koran membuat wawancara dengan saya di departemen agama, ia menanyakan, apakah seorang bhikkhu juga mempunyai problem? Saya menjawab: "Ya, benar". Karena seorang bhikkhu adalah seorang manusia. Tidak ada kehidupan yang tanpa persoalan, dan persoalan itu menjadi tantangan setiap orang. Kalau kita bisa menghadapi tantangan itu dengan mental yang sehat, maka tantangan itu akan mendewasakan kita. Tetapi sebaliknya, kalau saudara menghadapi tantangan itu dengan mental yang tidak sehat atau sakit, tantangan itu akan menghancurkan saudara. Setiap orang menjadi dewasa, menjadi bijaksana, menjadi teguh dalam kehidupan ini, tidak lain dan tidak bukan karena dia menghadapi tantangan itu.



        Sejak masih kecil, saudara sudah dimasukkan ke sekolah TK, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi. Itu tidak hanya untuk mencari ilmu, tetapi dengan memasuki sekolah, memasuki dunia pendidikan, sesungguhnya setiap orang sejak anak-anak, sejak remaja, sudah dikenalkan dengan sifat-sifat kehidupan ini, yaitu "tantangan" yang harus dihadapi untuk mencapai kemajuan dan keberhasilan. Kalau saudara mendengar ungkapan dari anak-anak saudara: "Saya gembira karena wali kelas menaikkan saya. Saya bergembira dan bersyukur kepada kepala sekolah yang telah meluluskan saya". Sesungguhnya, siapakah yang menaikkan anak-anak saudara? Siapakah yang meluluskan saudara? Bukan kepala sekolah, tetapi yang meluluskan saudara adalah saudara sendiri.

         Kalau saudara mengerjakan soal ujian dengan baik, meskipun tidak mampu mendapatkan nilai yang maksimal, paling tidak saudara harus mendapatkan nilai minimal untuk lulus, maka saudara akan bisa lulus. Kalau saudara tidak mengikuti ujian, tidak mengikuti dan mengerjakan ulangan-ulangan dengan baik, sekalipun saudara menangis sampai air mata saudara menjadi darah, tidak mungkin guru-guru saudara akan meluluskan saudara. Karena yang membuat saudara lulus, berhasil menjadi sarjana, sesungguhnya adalah saudara sendiri. Yang mewisuda saudara menjadi sarjana, sesungguhnya saudara sendiri, bukan orang lain. Demikian pula dengan kehidupan ini. Kalau saudara ingin berhasil, ingin maju, saudara harus berjuang; dan salah satu modal perjuangan dalam kehidupan ini adalah dengan mempunyai mental yang sehat, yang tidak sakit. Anak nakal, anak tidak bisa dididik, tidak mau sekolah, para pekerja tidak mau menurut, teman-teman kemudian berkhianat; kalau saudara tidak mempunyai mental yang sehat saudara akan hancur. Kalau semua problem ini datang kepada saudara, apakah saudara akan mampu mengatasi semuanya dengan uang, dengan kekayaan, dengan kekuasaan saudara? Sudah tentu: Tidak! Tetapi semuanya itu membutuhkan mental yang kuat. Kalau mental saudara lemah dan sakit, saudara akan hancur sebelum saudara memulai satu usaha.

         Mungkin di antara saudara ada yang pernah menerima surat kaleng atau surat berantai. Pengirimnya tidak tanggung-tanggung: Dewi Kwan Im. Kalau mental saudara tidak sehat, maka saudara akan menjadi gelisah, jangan-jangan nanti saya hancur, jangan-jangan nanti saya celaka. Apalagi di surat itu dibeberkan bukti-bukti dari mereka-mereka yang celaka. Mungkin Kuwait dicaplok Irak juga karena tidak memperbanyak surat-surat berantai, mungkin. Bukti yang dibeberkan di sana memang benar, karena mungkin si penulis membaca di koran. Tapi apakah mereka yang celaka-celaka itu karena tidak memperbanyak surat berantai? Itu jelas tidak. Demikian pula dengan mereka-mereka yang maju, juga disebutkan di surat itu. Itu memang benar, kita percaya. Tetapi apakah yang berhasil ini karena sudah memfoto-copy surat berantai itu? Itu jelas tidak. Dan kalau mental saudara lemah, sakit, maka saudara akan memfoto-copy surat itu dan menyebarkan sesuai perintah surat itu. Kalau saudara menyebarkan surat itu, orang yang menerima akan gelisah, "Jangan-jangan nanti saya celaka". Itu berarti saudara menyebarkan kegelisahan. Penyakit mental saudara menular kepada orang lain. Dan itu bukan perbuatan baik. Membagi-bagi kecemasan dan kegelisahan adalah perbuatan jahat.



        Kalau saudara mempunyai moral yang baik, maka moral yang baik itu akan membuat kondisi mental saudara menjadi sehat dan kuat. Orang sering mengeluh: "Bhante, saya ini sulit menjaga hawa nafsu, sulit menjaga ucapan, menjaga mulut, menjaga perbuatan saya. Saya sudah berhati-hati, tetapi masih saja mengucapkan kata-kata yang tidak enak, yang menyakitkan, yang sinis. Saya sudah berhati-hati untuk tidak melakukan hal-hal buruk lagi, tetapi suatu ketika saya tetap masih melakukannya. Rasanya saya ini orang yang tidak bisa menjalankan moral, sila. Saya merasa sangat sulit mengendalikan diri saya".

         Saudara, menjaga sila atau moral memang sulit. Menjaga ucapan dan perbuatan memang sulit, selama saudara tidak memperhatikan "dorongan" yang mendorong saudara berkata-kata dan berbuat tidak baik. Apakah yang mendorong kita melakukan hal terbut? Adakah PIKIRAN kita sendiri. Jika pikiran sedang memberontak, mendorong ucapan dan perbuatan kita untuk melakukan sesuatu, maka kalau kendali kita tidak kuat, kita akan mengucapkan dan melakukan hal-hal sesuai dengan dorongan pikiran kita.

         Tetapi kalau saudara bisa menguasai pikiran saudara, maka saudara tidak akan sulit menjaga sila, tidak sulit mengendalikan diri, ucapan, dan perbuatan saudara. Memang sulit kalau saudara hanya membendung mengalirnya air yang kotor, yang keruh, yang berbau; dibendung di sini mengalir ke sana, dibendung di sana mengalir ke situ. Tetapi kalau saudara juga memperhatikan sumber air kotor itu dan berusaha mengurangi dan mengeringkan sumber itu maka saudara akan berhasil membendung air yang kotor itu.

         Mengurangi dorongan pikiran atau mengeringkan sumber kekotoran batin, tidak lain adalah dengan bermeditasi. Meditasi akan membantu membersihkan pikiran saudara. Kalau pikiran saudara telah menjadi bersih, dengan mudah saudara akan bisa mengendalikan ucapan dan perbuatan saudara. Kalau saudara orang yang bijaksana, orang yang pandai, saudara akan memperhatikan pikiran saudara sendiri, membendung pikiran-pikiran saudara, membendung kejahatan yang timbul dalam pikiran saudara, maka pasti saudara akan berhasil menjadi orang yang mampu mengendalikan ucapan dan perbuatan saudara. Tidak membuat onar dalam diri sendiri, juga tidak membuat onar dalam keluarga dan masyarakat. Ini tantangan, saudara.

         Keberhasilan kita adalah merupakan tanggung jawab kita sendiri. Saudara jangan berusaha untuk bisa menikmasti hidup tentram, maju, bahagia, dengan cara diborongkan kepada orang lain. Misalnya saudara datang kepada saya: "Bhante, saya tiap bulan akan berdana kepada Bhante 500 ribu rupiah. Saya borongkan semua kebahagiaan saya kepada Bhante. Bhante doakan supaya saya ini tenang, tentram, bahagia, maju, anak-anak berhasil". Saya tidak sanggup menerima tender atau borongan semacam itu. Menerima dana 500 ribu saya sanggup, tetapi menjamin saudara untuk maju, tenang, tentram, dan bahagia, saya tidak sanggup. Terus terang, saudara harus menjamin hidup saudara sendiri.



        Keberhasilan dan kemunduran apakah di bidang ekonomi, pendidikan, rumah-tangga, dll, juga bukanlah persoalan pindah agama, tetapi persoalan KARMA. Kalau saudara tekun, rajin, ulet, tidak boros, jujur, dan suka berbuat baik, saudara pasti akan maju. Anak-anak naik atau tidak naik, lulus atau tidak lulus, itu bukan persoalan pindah agama, tetapi persoalan mereka rajin atau malas. Itulah hukum kehidupan. Kalau anak-anak saudara malas, nakal, tidak pernah mengerjakan ujian, tidak pernah mengikuti ulangan, meskipun anak saudara sembahyang di depan patung Buddha, dia tidak akan berhasil.

         Kalau saudara sudah berumah tangga, saudara harus berjuang untuk mencari makan, mencari harta, mencari kemajuan. Anak-anak juga dilatih, bukan mencari uang, tetapi berjuang mencari ilmu, dan dia harus menghadapi tantangan yang sama dengan orang-orang dewasa. Dia harus bergaul dengan teman-temannya, menjaga ucapannya, menjaga perbuatannya, dan rajin. Dia harus menghadapi ulangan, ujian, tantangan; dan dia harus berhasil menghadapi semua itu. Inilah ajaran dan latihan yang sangat berharga bagi setiap anak sejak mereka berumur 5-6 tahun, supaya mereka kenal dengan sifat kehidupan. Tidak ada iming-iming yang lain, apakah anak orang berpangkat, orang kaya, orang gembel, apakah umat Buddha, apakah umat beragama lain, cara mereka sekolah adalah sama, tidak ada perbedaan. Siapa malas, akan ketinggalan, siapa rajin, tekun dan ulet, dia akan maju. Maju atau mundurnya kehidupan kita, bukanlah persoalan apa yang kita anut, tetapi dari apa yang kita lakukan.

         Kalau saudara mempunyai wawasan yang benar, selalu berusaha menjaga pikiran saudara, tidak dirangsang oleh kejahatan, oleh kenikmatan, oleh kebencian, maka saudara akan mampu menjaga ucapan dan perbuatan saudara; dan saudara akan menjadi orang yang bisa merasa puas. Sang Buddha mengatakan "Santutthi Paramam Dhanam", artinya Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Puas dengan hasil yang dikerjakan, bukan berarti kemudian kita malas, tidak mau maju; tetapi bisa menerima hasil dari apa yang telah kita lakukan. Karena orang yang tidak merasa puas, akan berani melakukan apapun untuk memenuhi kepuasannya. Alangkah bahagianya orang yang bisa merasa puas. Orang kaya belum tentu merasa puas. Tetapi orang yang hidupnya sederhana mungkin akan merasakan kepuasan dan kebahagiaan dengan kesederhanaannya, terhadap apa yang telah dilakukan dan dicapainya.

         Apabila saudara mempunyai suami, istri, atau anak-anak, saudara harus bisa menerima mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya, karena tidak ada manusia yang sempurna. Kalau saudara tidak bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan mereka maka saudara akan menjadi orang yang tidak pernah puas. Orang yang tidak pernah puas adalah orang yang amat sengsara.

         Dengan bisa menjaga pikiran, ucapan, dan tindak-tanduk, saudara akan bisa merasa puas, dan kepuasan itu adalah harta yang sangat berharga. Saudara tidak akan gelisah, tidak dibakar-bakar oleh iri-hati, dibakar oleh kenikmatan yang bukan-bukan. Dan saudara akan menjadi orang yang baik bagi semuanya.


        Sang Buddha mengatakan "Visassa Parama Nyati" —Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Siapakah yang bisa menjadi famili atau saudara kita yang terbaik? Famili atau saudara kita yang terbaik adalah orang yang jujur, yang bisa mengendalikan ucapan dan perbuatannya, yang bisa dipercaya, meskipun mereka tidak mempunyai hubungan darah dengan kita. Tetapi meskipun mempunyai hubungan darah, atau mempunyai hubungan keluarga dekat, kalau dia menipu, mengkhianati, dan menghancurkan kita, dia bukanlah saudara kita yang baik.

         Demikianlah tantangan-tantangan yang ada dan apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini. Tidak ada jalan lain seperti jalan seorang anak untuk berhasil, supaya mempunyai ilmu dan gelar sarjana, supaya kelak dapat digunakan untuk kelangsungan hidupnya dengan baik, anak ini harus menuntut ilmu. Tidak ada jalan lain. Masing-masing harus bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Sulit memang! Itulah kewajiban kita. Mampu dan tidak mampu, saudara harus menjalani jalan itu. Tidak ada kemajuan dan kebahagiaan yang dihadiahkan kepada saudara. Saudara pasti mampu kalau saudara mempunyai mental yang sehat. Tetapi kalau mental saudara lemah, saudara akan merasa tidak mampu sebelum saudara mengusahakannya. Saudara sudah kalah mental lebih dulu sebelum memulai sesuatu dengan mengatakan "Saya tidak mampu".

         Karena itu, saudara harus membangun mental yang sehat di dalam diri sendiri dengan bermeditasi, menjalankan sila, dan mempunyai wawasan yang luas, sehingga saudara tidak mudah gelisah, tidak mudah panik atau cemas; tidak gentar, tidak berkecil-hati menghadapi problem anak-anak saudara,problem keluarga, problem pekerjaan, problem masyarakat. Dan memang, mental yang sehat adalah modal yang utama. Tanpa mental yang sehat saudara tidak mampu menghadapi apapun juga.

         Hanya harus diingat, meskipun mental dan fisik yang sehat adalah keuntungan yang terbesar; Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga; Kejujuran adalah saudara yang paling baik; namun di atas semuanya itu, kebahagiaan apapun, sesungguhnya adalah tidak kekal. Sang Buddha mengingatkan: "Nibbanam Paramam Sukham" —"Kebahagiaan yang tertinggi hanya Nibbana".

         Kepuasan duniawi, kepuasan berumah tangga, kepuasan menuntut ilmu, kepuasan karier, kepuasan pergaulan di masyarakat, kepuasan dalam kehidupan ini, semuanya itu hanyalah bersifat sementara. Kita diingatkan kembali bahwa kepuasan dan kebahagiaan yang tertinggi adalah "Padamnya kehidupan atau Dukkha" ini untuk selama-lamanya. Kalau sesudah kematian kita tidak terlahir kembali, itulah kepuasan dan kebahagiaan yang tertinggi, —Nibbanam Paramam Sukham.

         Terang dan jelas apa yang  diajarkan oleh Sang Buddha. Kita tidak perlu meragukan itu. Mari kita maju terus. Kalau kita mempunyai mental yang sehat, rasa yang puas dengan apa yang kita kerjakan, jujur, bisa dipercaya, kerja keras, tekun, rajin, hemat, tidak boros, dan berbuat baik, kita akan mencapai kemajuan dalam hidup ini.***

 Sumber : Mutiara Dhamma VI, Ir. Lindawati T. (Editor), pt. Indografika Utama, Denpasar-Bali, 1994.

Tidak ada komentar: