Kamis, 17 November 2011

Bhikkhu Tissa Bertemu Seorang Skeptik





Bhikkhu Nyanasobhano


Di luar vihara, Sabtu pagi buta di suatu musim panas, seorang bhikkhu bernama BHIKKHU TISSA sedang menyapu jalanan berbatu. Dia menyapu dengan tidak lambat maupun cepat, tetapi stabil dan berhati-hati, seolah-olah pekerjaan menyapu debu dan dedaunan adalah hal yang penting baginya. Dari jalanan beberapa meter jauhnya terdengar deruman sebuah mobil mendekat. Di pagi yang sunyi deruman itu makin keras menjadi gemuruh, dan sebuah mobil sports yang berkilau lewat. Jika BHIKKHU TISSA menyaksikan – yang tidak dilakukannya – ia akan mengetahui bahwa pengemudi tersebut melambat sesaat dan memandang beliau dengan rasa ingin tahu sebelum menghilang di tikungan. Kemudian terdengar suara berdecit dan tidak lama mobil sports tersebut kembali dan masuk ke jalan di samping vihara. MR.CARP, seorang pemuda dengan setelan pakaian kasual mahal, keluar dari mobil dan mendekati sang bhikkhu.
CARP:
Halo, kawan.
TISSA:
Selamat pagi.
CARP:
Nama saya Carp. Saya temannya Charlie Prentice. Saya rasa anda mengenalnya?
TISSA:
Oh ya, Mr. Prentice sering datang.
CARP:
Anda Bhikkhu Tissa, bukan?
TISSA:
Ya, betul.
CARP:
Atau Yang mulia Tissa, kata Charlie. Kalian memang memiliki nama-nama aneh.
TISSA:
Ada yang dapat saya bantu, Mr. Carp?
CARP:
Sebenarnya tidak ada. Saya sedang dalam perjalanan ke pantai, dan lagipula, saya tidak benar-benar tertarik dengan Buddhisme. Tetapi saya sudah baca buku-buku ini.
TISSA:
Buku-buku tentang Buddhisme?
CARP:
Iya.
TISSA:
Mengapa anda membaca buku-buku tentang Buddhisme jika kamu tidak tertarik? Kedengarannya seperti membuang waktu saja.
CARP:
Begini, maksud saya – mungkin memang demikian! Charlie memberi saya buku-buku itu, dan perlu anda ketahui buku-buku ini sangat menjengkelkan. Semua pembahasan tentang penderitaan. Maksud saya, halaman demi halaman mengenai penderitaan, usia tua, kematian dan yang lainnya. Kedengarannya Buddhisme itu seperti agama yang paling pesimis di dunia. Saya terus memikirkannya, dan saya bertanya-tanya mengapa kalian umat Buddha memiliki sikap yang negatif mengenai kehidupan dan kenapa kalian berkutat pada penderitaan.
TISSA:
(Merenung) Anda mungkin dapat juga mengatakan penderitaan berkutat pada diri kita.
CARP:
Maksudnya? Bagaimanapun juga, saya melihat anda tadi, dan saya pikir, kenapa tidak bertanya saja mengenai hal itu? Jadi saya memiliki beberapa pertanyaan. Tentu saja bila anda tidak sibuk.
TISSA:
(Tersenyum, menyandarkan sapu di dinding) Saya dengan senang hati mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai Dhamma.
CARP:
“Dhamma.” Itu adalah kata yang terus muncul di buku-buku tersebut. Apa ya artinya? Saya lupa.
TISSA:
Biasanya berarti ajaran Sang Buddha. Dapat juga berarti kebenaran, realitas, apa adanya, hukum alam semesta, fenomena apa adanya itu sendiri, jalan menuju pembebasan – tergantung konteksnya.
CARP:
Sangat pentingkah itu?
TISSA:
Kata hanyalah kata. Apa yang dibalik kata adalah hal yang terpenting.
CARP:
Saya menduga anda akan mengatakan seperti itu. Saya ingin mendengar tentang itu. Jadi, dapatkah kita duduk di suatu tempat?
TISSA:
Tentu. Bagaimana kalau di rerumputan di sini?
CARP:
(Dengan bercanda) Saya kira anda tidak memiliki kursi taman di sekitar sini.
TISSA:
Kami puas dengan apa yang kami miliki. Menurut saya rumput cukup baik.
Mereka duduk di tempat yang teduh. MR. CARP dengan tidak nyaman memeriksa sekitar apakah ada semut di sana.
CARP:
Perlu diketahui, Bhikkhu Tissa, saya tidak pernah bertemu seorang bhikkhu sebelumnya. Saya mengerti orang-orang memperlakukan para bhikkhu dengan hormat.
TISSA:
Tergantung orangnya, tergantung bhikkhunya.
CARP:
Anda mendapat sebutan “Yang mulia” dan semua itu.
TISSA:
Kami mendapat sebutan lain juga.
CARP:
Ya, pasti! Tapi mari saya lanjutkan ke pertanyaan-pertanyaan saya. Hal-hal mengenai penderitaan ini sangat mengganggu saya. Bukankah permasalahan di dunia sudah cukup tanpa kalian Buddhis menceritakannya terus menerus?
TISSA:
Justru karena ada kesulitan di dunia maka kita memperhatikannya, atau menceritakannya terus-menerus, jika anda mau sebut seperti itu.
CARP:
Apakah anda pikir anda dapat melakukan sesuatu tentang itu?
TISSA:
Ya. Untuk alasan itulah Buddhisme ada.
CARP:
Inilah yang ingin saya dengar. Bagi saya, sepertinya lebih baik kita menekankan sisi bahagia kehidupan. Mengapa kita harus memperhatikan penderitaan?
TISSA:
Jika ada seekor lebah menyengat anda, apakah anda perhatikan itu?
CARP:
Ya, tentu saja.
TISSA:
Apakah manfaatnya? Mengapa berkutat pada itu?
CARP:
Karena saya tidak ingin disengat lagi, maka saya menjauh darinya.
TISSA:
Jika anda tidak ingin disengat lagi tentu masuk akal untuk mempelajari sesuatu mengenai tawon, bukankah begitu? Dimana mereka membangun sarang, hal apa yang dapat membuat mereka tidak senang, bagaimana agar tidak membuat mereka terganggu, dan seterusnya. Ada banyak jenis penderitaan di dunia, dan masing-masing memiliki penyebab serta karakteristiknya. Bila anda merasakan beberapa dari penderitaan ini, atau berpikir bahwa anda mungkin dapat menjadi sasaran penderitaan, bukankah bijaksana untuk memperhatikan dengan baik dan melihat apa yang dapat dilakukan mengenai hal-hal tersebut?
CARP:
Ya, begitulah, saya kira. Tapi ke mana pun anda berjalan pasti ada kesulitan-kesulitan, jadi saya lebih suka menekankan sisi positifnya. Anda seharusnya mengambil pahit beserta manisnya!
TISSA:
Betul tidak jika saya menerka anda memiliki cukup banyak hal “manis” dalam hidup anda?
CARP:
Betul, saya menjalani hidup dengan sangat baik. Saya bekerja di perusahaan real estate, mengatur beberapa projek baru. Dan terus terang, saya melakukannya dengan cukup baik. Saya akui bahwa hidup adalah menyenangkan. Karena itulah saya tidak setuju dengan Buddhisme.
TISSA:
Apakah anda sepenuhnya puas?
CARP:
Tidak sepenuhnya. Siapa yang dapat? Hal yang terpenting adalah tetap mengendalikan hidupmu.
TISSA:
Maaf saya tidak sependapat. Tidak ada yang dapat mengendalikan penuh hidupnya. Misalnya saja tubuh anda. Anda kelihatannya sangat sehat. Tapi dapatkah anda tetap menjaga tubuh anda untuk tidak sakit? Dapatkah anda menjaganya bebas dari tua dan keriput? Atau dari kematian?
CARP:
Tidak, saya tidak dapat melakukannya.
TISSA:
Atau pertimbangkan pekerjaan anda. Dapatkah anda jamin rekan kerja anda akan memperlakukan anda dengan adil?
CARP:
(Menggerutu) Mereka? Tidak mungkin!
TISSA:
Apakah kreditur anda akan selalu bertoleransi? Apakah pelanggan anda selalu membayar tagihannya dengan cepat? Apakah pesaing anda tidak akan membuat perlawanan?
CARP:
(Dengan tidak nyaman) Ada banyak ketidakpastian dalam bisnis.
TISSA:
Ada banyak ketidakpastian dalam kehidupan sosial, dalam kehidupan berkeluarga, dalam semua jenis aktivitas. Apakah saya salah? Bagaimana menurut anda?
CARP:
Tidak, saya tidak dapat menyangkalnya.
TISSA:
Atau, langsung ke hal yang paling penting, dapatkah anda sepenuhnya mengontrol pikiran anda sendiri?
CARP:
Saya orang yang ceria.
TISSA:
Bukan itu yang saya tanya, Mr. Carp. Ketika hal-hal tidak berjalan semestinya, dapatkah anda menjaga pikiran anda tetap tenang dan damai?
CARP:
Tentu saja tidak. Bagaimana bisa?
TISSA:
Jika anda memberitahu pikiran anda untuk tidak kecewa atau marah atau terganggu, apakah ia akan mematuhinya?
CARP:
Itu merupakan cara yang aneh. Tetapi tidak, saya rasa pikiran saya sering kali melakukan apa yang ia suka. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan datang bergejolak begitu saja.
TISSA:
Maka anda tentunya tidak berkuasa atas pikiran anda, bukan begitu? Dan jika anda tidak dapat mengendalikan tubuh atau pikiran anda atau perbuatan-perbuatan orang lain, anda tidak dapat mengatakan anda adalah penguasa dari hidupmu.
CARP:
Itu hanya kata kiasan.
TISSA:
Mari kita bahas lebih jauh, jika anda tidak keberatan. Berapa banyak orang, yang anda kira, dapat mengontrol hidup mereka sampai pada taraf tertentu?
CARP:
Mungkin tidak banyak. Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
TISSA:
Benar. Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Jika hal itu menyenangkan anda akan bahagia. Jika tidak menyenangkan, anda akan kecewa dan depresi. Jika seseorang baik terhadap anda, anda akan puas. Jika mereka mencurangi anda, anda akan marah. Katakan, Mr. Carp, apakah anda melihat suatu kebebasan atau jaminan dalam kondisi seperti ini?
CARP:
Karena anda menempatkannya seperti itu, tidak banyak. Saya kira kita harus mengakui bahwa kita hidup dalam ketidakpastian dan ketergantungan yang tinggi.
TISSA:
Apakah situasi ini anda sebut menyenangkan atau tidak menyenangkan?
CARP:
Tidak menyenangkan.
TISSA:
Sang Buddha berkata mengenai kesedihan, kepedihan, dan ketidakpastian bukan karena Beliau menyukainya tetapi karena Beliau melihatnya sebagai kunci untuk memahami kehidupan.
CARP:
Pesimistik, seperti yang saya katakan.
TISSA:
Kebenaran adalah kebenaran. Jika anda menginginkan sebuah keputusan yang baik mengenai bagaimana bertindak, anda memerlukan informasi yang akurat mengenai masalah tersebut. Jadi anda mencari, dan anda mencatat detail penting yang anda lihat, terlepas dari apakah mereka menarik atau tidak secara pribadi bagi anda.
CARP:
Apakah yang dicari Sang Buddha?
TISSA:
Ah! Pertanyaan bagus. Beliau mencari jalan keluar.
CARP:
Jalan keluar dari… ketergantungan dan ketidakpastian?
TISSA:
Tepat sekali. Kata yang menjelaskan situasi ini adalah dukkha. Biasanya diterjemahkan sebagai “penderitaan,” tetapi maknanya lebih dalam dari itu. Kata “Ketidakpuasan” mungkin lebih sesuai.
CARP:
Baiklah, maafkan saya, Bhikhhu Tissa, tetapi ketika anda menyelaminya, segala sesuatu adalah tidak memuaskan sampai taraf tertentu.
TISSA:
Benarkah?
CARP:
Tidak ada yang sepenuhnya dapat diandalkan. Anda tidak dapat mengharapkannya demikian. Segala sesuatu mempunyai kekurangan.
TISSA:
Bagaimana dengan kekekalan? Apakah kenikmatan dan kebahagiaan itu kekal?
CARP:
Tidak menurut pengalaman saya. Anda akan terus mengejarnya. Itulah kehidupan.
TISSA:
Jika saya simpulkan sedikit. Tidak ada – setidaknya, yang kita kenal – dapat sepenuhnya mengontrol tubuhnya sendiri dan membuatnya melakukan apa yang ia inginkan. Tidak ada orang yang dapat mengendalikan pikiran bagaimana bereaksi ketika peristiwa yang mengganggu terjadi. Tidak ada yang dapat mencegah bencana yang menimpanya atau mencegah orang melakukan hal yang tidak disukainya.Tidak ada yang dapat mempertahankan kenikmatan atau mencegah perasaan yang menyenangkan menghilang. Jadi kita mendapati diri kita selalu mengejar sesuatu yang diinginkan atau menghindar dari sesuatu yang menakutkan. Bagaimanakah anda menyebut kondisi ini?
Ada jeda sesaat ketika MR.CARP gelisah, mencabut rumput, tertawa.
CARP:
Penderitaan. Oke, penderitaan atau ketidakpuasan atau apa pun anda menyebutnya. Sangat mendalam bukan?
TISSA:
Penderitaan tersulam. Bisa dikatakan seperti benang pada kain itu sendiri.
CARP:
Cara memandang kehidupan yang luar biasa! Sekarang, saya tanya, Sang Buddha mencari jalan keluar. Dan saya duga Beliau menemukannya?
TISSA:
Ya, Beliau menemukannya. Jalan keluar yang Beliau temukan disebut Dhamma, kata yang kita mulai tadi.
CARP:
Jadi Dhamma ini, yang diciptakan oleh Sang Buddha dapat membebaskan kita dari penderitaan?
TISSA:
Sang Buddha tidak menciptakannya. Beliau hanya menemukan dan memperkenalkannya. Dhamma ada terlepas apakah ada atau tidak orang yang mengetahui atau memahaminya, seperti apel yang terus menerus jatuh dari pohon terlepas apakah ada atau tidak orang yang memahami hukum gravitasi.
CARP:
Apakah Dhamma adalah sejenis Tuhan?
TISSA:
Tidak. Dhamma memiliki banyak aspek, tetapi pada dasarnya Dhamma adalah segala sesuatu apa adanya, dasar dari hukum alam semesta.
CARP:
Kedengarannya cukup sederhana. Mengapa hal ini tidak dapat dibuktikan sendiri? Mengapa orang tidak mengenalinya?
TISSA:
Misalkan di pantai laut yang berbahaya ada cahaya yang terang, sebuah lampu suar dari mercusuar. Apakah hal ini dapat dibuktikan sendiri oleh para pelaut?
CARP:
Tentu saja.
TISSA:
Tetapi bagaimana kalau seandainya para pelaut itu tidak pernah keluar dari kabinnya, atau mempunyai kebiasaan aneh menutupi kepala dengan kain tebal, atau tidur sepanjang waktu?
CARP:
Kalau begitu mereka tidak akan melihatnya. Mereka akan terdampar. Tapi perumpamaan apa yang anda maksud?
TISSA:
Kebenaran mendasar, atau Dhamma, sifat dasarnya bukanlah tersembunyi atau tidak jelas, meskipun tak terhitung ahli filsafat yang mengira demikian.Tetapi ada sesuatu yang mencegah kita melihat Dhamma. Ini disebut kebodohan. Kebodohan ini, ketidakpahaman ini, kegelapan ini, menutupi pikiran kita dan menghalangi pandangan kita terhadap realitas. Para pelaut di kapal mungkin tidak pernah meninggalkan kabinnya – mereka mungkin tenggelam dalam kebodohan tanpa berusaha untuk keluar. Atau mereka mungkin dengan sengaja membutakan mereka dengan topeng kepercayaan dan khayalan yang bodoh. Atau mereka mungkin tidur sepanjang waktu, dikarenakan kemalasan dan kebodohannya. Jadi mereka tidak akan melihat cahaya itu dan bahkan menyangkal bahwa hal seperti itu ada.
CARP:
Tapi bagaimana jika ada seseorang yang melihat Dhamma ini, atau cukup melihatnya untuk mengetahui bahwa itu adalah hal yang baik?
TISSA:
Kalau begitu, jika dia bijaksana, dia akan mengikutinya, dia akan berlindung di dalamnya.
CARP:
Tapi perlindungan seperti apa yang dapat diberikan oleh Dhamma terhadap semua penderitaan dan ketidakpastian yang baru kita bicarakan tadi?
TISSA:
Yang terutama, Dhamma memberikan pembebasan. Yaitu bebas dari keraguan, bebas dari ketakutan, bebas dari penderitaan batin dan bebas dari kesedihan. Saat kita mempelajari dan mempraktekkan Dhamma, kebodohan mengenai bagaimana alam semesta bekerja perlahan-lahan berkurang. Kita mulai memahami sebab dan akibat. Kita memahami bahwa beberapa akibat adalah hasil dari beberapa tindakan dan kita belajar untuk mengendalikan tindakan kita agar mendapatkan hasil yang baik. Jadi kita akan bebas dari keraguan dan mulai percaya dengan kemampuan kita untuk memahami dunia. Saat ini, kita mungkin mengalami berbagai jenis ketakutan akan apa yang mungkin dapat menimpa kita, memikirkan beberapa nasib buruk yang mungkin datang menghancurkan kita kapan saja. Tetapi Dhamma mengajari kita bahwa ketakutan adalah salah satu akibat melekat pada kekekalan yang tidak benar-benar ada. Ketika kita menyesuaikan diri dengan alam yang selalu berubah, ketakutan dapat diatasi. Demikian juga, kita akan bebas dari penderitaan batin, yang juga akibat lain kemelekatan, karena kita melatih pikiran kita sesuai dengan Dhamma untuk hanya memperhatikan peristiwa-peristiwa dan objek-objek, tidak menggenggam mereka sebagai “aku” atau “milikku.” Jika kita tidak terobsesi menjadi penderita, maka penderitaan itu akan melemah dengan sendirinya. Kemudian, untuk kesedihan, penderitaan kita akan berkurang karena kita belajar bahwa seluruh kehidupan terus mengalir dan kesedihan itu merupakan, ciptaan ketidakbahagiaan kita sendiri. Mengetahui bagaimana hidup bekerja adalah perlindungan yang hebat, karena memberikan kita kepercayaan diri dan membantu kita menghindari penderitaan.
CARP:
Hal-hal ini sungguh menjanjikan, Bhikkhu Tissa!
TISSA:
Hal-hal ini hanyalah kemungkinan, kemungkinan yang sangat nyata – tapi bukan hal yang akan terjadi hanya karena seseorang menyebut dirinya seorang Buddhis. Saya tidak berharap anda untuk mempercayainya.
CARP:
Anda tidak?
TISSA:
Tentu saja tidak. Buddhisme memberikan harapan besar bagi umat manusia tetapi tidak mengharapkan atau menganjurkan orang untuk percaya seperangkat doktrin-doktrin tanpa pembuktian.
CARP:
Dan pembuktian seperti apa yang diperlukan?
TISSA:
Mengapa, pembuktian dari batin sendiri, nalar sendiri, pengalaman sendiri. Apakah semua itu masih kurang memuaskan bagi anda?
CARP:
Oke, saya percaya pada pengalaman saya sendiri. Tapi mengapa anda bersusah payah memberitahu saya mengenai manfaat Dhamma?
TISSA:
Ada pepatah bahwa Sang Buddha hanyalah penunjuk jalan. Sang Buddha tidak “menyelamatkan”siapa pun. Beliau hanya mengajarkan orang bagaimana untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Beliau menunjukkan masalah-masalah kehidupan dan menjelaskan bagaimana penyelesaiannya. Kami pengikut Sang Buddha berusaha untuk menyelidiki prinsip yang sama – kami berusaha menunjukkan jalan dan mendorong orang untuk melakukan perjalanan untuk dirinya sendiri.
CARP:
Jadi anda pikir bahwa orang yang melakukan perjalanan ini akan membuktikan ajaran Buddhis bagi dirinya?
TISSA:
Ya, anda dapat lihat, kebenaran-kebenaran yang Sang Buddha tunjukkan berada di dalam tubuh dan pikiran. Siapa saja dapat melihat kebenaran itu tetapi dia harus memperhatikannya.
CARP:
Dapatkah anda menjelaskan beberapa dari kebenaran-kebenaran ini? Saya jamin tidak membahayakan kepercayaan saya tanpa bukti!
TISSA:
Kita sudah menyinggung kebenaran dari penderitaan. Seperti yang kita ketahui, penderitaan atau ketidakpuasan terdapat di seluruh fenomena duniawi pada taraf tertentu. Ini adalah satu karakteristik kehidupan yang ditekankan secara berulang-ulang oleh Sang Buddha. Kemudian ada fakta ketidakkekalan.
CARP:
Yah, tidak ada yang kekal. Tentu, saya tahu itu.
TISSA:
Maafkan saya, tetapi makna anicca atau ketidakkekalan sangatlah mendalam. Siapa pun dapat menyadari perubahan fisik kasar – dan ini tentu saja adalah salah satu aspek ketidakkekalan – tetapi sedikit orang menyadari bahwa semua hal yang ada di dunia berputar dalam perubahan yang cepat, timbul dan tenggelam setiap detik, sekejap ada dan tiada, dilahirkan dan mati, muncul dan lenyap secara terus menerus.
CARP:
Anda tahu, ahli fisika modern menjelaskan atom dan partikel sub-atom dengan cara yang hampir sama – sebagai berubah dengan kecepatan yang luar biasa cepat sepanjang waktu.
TISSA:
Memang demikian. Tetapi tidak perlu mempelajari fisika untuk mengerti hal ini. Laboratorium yang terbaik adalah pikiran itu sendiri. Tahukah anda sesuatu yang berubah lebih cepat dari pikiran anda sendiri?
CARP:
Terkadang kupikir kepalaku akan meledak, karena pikiranku berkecamuk!
TISSA:
Terkadang lebih cepat dan lebih liar dari yang anda harapkan?
CARP:
Saya rasa saya telah mengakui saya tidak dapat mengendalikan pikiran saya. Terkadang itu hanyalah badai hasrat-hasrat, ide-ide, emosi-emosi, kenangan-kenangan.
TISSA:
Dapatkah anda mengingat saat ketika pikiranmu tidak seperti ini?
CARP:
Tidak, dan itu cukup mengecewakan.
TISSA:
Ini adalah sifat alami pikiran. Sebagian dari permasalahan kita berasal dari gagasan bahwa pikiran adalah milik kita, yang stabil dan permanen, diri atau instrumen dari diri. Tetapi pikiran hanyalah pikiran, sekumpulan dari fungsi yang bukan personal. Sifatnya berubah secara terus menerus. Pikiran bukan kamu dan juga bukan saya.
CARP:
Sepertinya sudah mendalam ini!
TISSA:
Saya harap demikian. Poin yang ingin saya sampaikan adalah ketika anda memperhatikan – terutama ketika anda memperhatikan – pikiran adalah seperti sepanci jagung berondong yang meletup. Ia terus melompat tidak bisa diam dan membuat hiruk pikuk dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ini adalah contoh terbaik dari ketidakkekalan. Terus berubah. Tidak peduli bagaimana cara anda ingin membuatnya diam, ia terus berubah. Segala aspek dari pikiran berubah secara konstan, perasaan, persepsi, bentukan batin, dan kesadaran itu sendiri. Apakah anda sependapat?
CARP:
Saya kira demikian. Ingatan, perasaan, semua itu terus berkecamuk selamanya.
TISSA:
Ini membawa kita ke corak ketiga dari kehidupan ini: bukan-diri, atau dalam bahasa Pali, anattā.
CARP:
Saya yakin saya sudah membacanya. Tapi hal itu sepertinya sebuah paradox bagi saya. Maksud saya, bukan-diri, tapi kita pikir ada, tapi itu hanyalah ilusi, dan seterusnya.
TISSA:
Corak dasar kehidupan tidaklah tersembunyi. Sekali lagi karena kebodohan kita, yang didukung oleh kemelekatan, yang menyesatkan pandangan kita. Coba kita renungkan bukan-diri sehubungan dengan kedua karakteristik lain yang sudah saya sebutkan – ketidakpuasan dan ketidakkekalan. Segala sesuatu di dunia berubah, tidak kekal, tidak abadi, selalu demikian sampai pada taraf tertentu, tidak bebas dari penderitaan atau ketidakpuasan. Segala hal yang disukai atau nikmati ingin selalu kita nikmati, tetapi tidak bisa karena ia berubah, hancur, lenyap.
CARP:
Seperti pacar saya!
TISSA:
Kita cenderung berpisah dengan orang yang kita cintai atau berkumpul dengan yang kita benci.
CARP:
Seandainya anda mengenal beberapa orang idiot yang bekerja denganku.
TISSA:
Tidaklah memuaskan berada di tempat yang tidak kita inginkan dan tidak memuaskan kehilangan apa yang kita sayangi. Tetapi itu adalah sifat alami hal-hal yang tidak stabil.
CARP:
Tunggu sebentar. Saya terpikir sesuatu yang tidak menyebabkan penderitaan! Mobil saya. Sebuah keindahan sejati, anda bisa lihat.
TISSA:
Dan tidak pernah rusak?
CARP:
Tidak pernah. Tentu saja, saya baru membelinya dua minggu yang lalu. Dan berjalan dengan sempurna. Tidak ada masalah!
TISSA:
Benarkah?
CARP:
Tentu. Pastinya, saya memang harus mengawasinya. Suatu hari di tempat parkir ada orang idiot membuka pintu mobil dan menghantam sampingnya! Catnya terkelupas. Sulit dipercaya. Mobil baru! Saya marah sekali. Saya dapat membunuhnya waktu itu.
TISSA:
Begitu. Apakah itu adalah sensasi menyenangkan?
CARP:
(Merasa malu) Sebenarnya saya merasa tidak enak. Sore hari itu menjadi berantakan. Sifat saya memang jelek ketika saya terlibat konflik. Oke, saya tahu apa yang akan anda katakan. Saya akui, itu adalah ketidakpuasan, itu adalah penderitaan. Cat mobil tidak kekal dan hal yang tidak kekal adalah tidak memuaskan.
TISSA:
Baiklah, kalau begitu, di tengah semua ketidakpuasan dan ketidakkekalan, apakah anda melihat diri yang sejati?
CARP:
Diri? Tentu saja. Saya melihat aku. Saya melihat diriku sendiri.
TISSA:
Hati-hati, Mr. Carp. Diri ini sebenarnya terdiri dari apa?
CARP:
Oke, saya harus mengatakan itu adalah pikiran saya.
TISSA:
Buddhisme menganalisis “pikiran” menjadi perasaan, persepsi, bentukan batin, dan kesadaran. Apakah diri anda adalah salah satu atau semua ini?
CARP:
Oke, saya kira saya katakan semuanya.
TISSA:
Tetapi bukankah kita telah sepakat bahwa pikiran dan fungsinya selalu berubah secara terus menerus?
CARP:
Yah, saya kira begitu.
TISSA:
Jadi, jika pikiran berubah secara terus menerus, dimanakah dirimu dari satu waktu ke waktu yang lain?
CARP:
Saya tidak tahu.
TISSA:
Bukankah berubah-ubah? Tetapi dalam kasus itu terdiri dari apakah diri ini? Apakah yang menjadikan “anda” jika dari waktu ke waktu berubah ke sesuatu yang lain? Ketika kita berkata “diri” kita sebenarnya sedang membahas identitas yang tetap, bukan begitu? Tetapi dimana tidak ada kestabilan kita tidak dapat menyebutnya diri. Terlebih, jika pikiran adalah diri anda, jika itu adalah inti anda, terus mengapa anda tidak dapat mengendalikannya sesuai keinginan anda? Mengapa anda tidak dapat memaksanya untuk tenang atau bahagia atau kreatif? Dan jika anda tidak dapat mengendalikannya, seperti yang anda akui, jika anda tidak dapat membuatnya tetap di sini atau pergi ke sana, maka diri ini milik siapa? Diri seperti apakah itu?
CARP:
Saya harus katakan, jenis yang sangat buruk,
TISSA:
Sekarang, pikiran ini, yang berubah setiap waktu, setiap saat, yang tidak dapat anda kendalikan sesuai keinginan – apakah hal itu membuat anda bahagia? Apakah memuaskan anda?
CARP:
Kebanyakan sih menyedihkan, demikianlah pikiran saya terus menerus.
TISSA:
Maka jika pikiran menyebabkan kesedihan, jika tidak bisa diandalkan, jika terus menerus berubah, dapatkah kita dengan jujur menyebutnya sebagai diri?
CARP:
Oh, tunggu dulu, saya bingung. Mungkin “diri” hanyalah sebuah cara untuk berkomunikasi.
TISSA:
Memang demikian, tetapi apakah yang ada di balik kata? Hanya perubahan yang tidak dapat dikendalikan, kondisi yang tidak dapat diandalkan.
CARP:
Baiklah, Bhikkhu Tissa, saya tidak tahu harus mengatakan apa. Jika anda melihatnya seperti itu, diri merupakan konsep yang cukup rapuh.
TISSA:
Begitulah. Ini merupakan sebuah konsep yang tidak merefleksikan fakta secara akurat. Peristiwa terjadi, satu demi satu, dengan sangat cepat. Kita dapat mengamati prosesnya. Tetapi “diri” hanyalah konsep yang dipaksakan di atas itu. Ketika kita Buddhis membahas “bukan diri” atau anattā, maksudnya proses peristiwa apa adanya yang menciptakan peristiwa lainnya.
CARP:
Ya, saya memahami logika anda, tetapi saya masih merasakan bahwa saya adalah diri atau memiliki diri.
TISSA:
Di tingkatan konvensional, “diri” adalah sebutan yang benar-benar berguna. Ini diperlukan untuk bahasa dan komunikasi. Saya adalah saya dan anda adalah anda – ini benar dalam bahasa sehari-hari. Tetapi kesulitan muncul ketika kita menganggap sebagai diri dengan realitas mendasar yang tidak dimilikinya. Dengan membayangkan ego yg tinggi, dengan bodoh mempercayai bahwa kita kekal dan “diri” yang memuaskan, kita menyebabkan diri kita menderita.
CARP:
Karena alam semesta itu tidak kekal atau memuaskan?
TISSA:
Tepat sekali. Siapa pun yang berkeras untuk hidup bertentangan dengan hukum alam semesta akan terus mengalami penderitaan.
CARP:
Ini sangat luar biasa. Saya harus memikirkannya kembali. Tetapi anda belum meyakinkan saya, belum semua!
TISSA:
Tiga corak kehidupan ini – ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan bukan-diri – adalah penting karena ketiganya menerangkan bagaimana alam semesta itu, dan bermacam kondisi yang harus kita hadapi. Sayangnya, kebanyakan dari kita, karena bodoh, melihat hal dengan salah. Kita menganggap apa yang berubah sebagai tetap; kita menganggap apa yang tidak sempurna dan tidak memuaskan sebagai memuaskan; kita menganggap apa yang bukan diri sebagai diri.
CARP:
Jika apa yang anda katakan itu benar, maka sebagian besar orang sudah hidup terbalik dengan yang seharusnya.
TISSA:
Ya, dan dan didalamnya juga merupakan aspek lain dari dukkha atau ketidakpuasan.
CARP:
Baiklah, kalian umat Buddha memang memiliki beberapa penilaian dalam hal penderitaan. Tetapi satu hal yang belum saya pahami adalah mengapa banyak sekali orang salah menafsirkan dunia? Apakah ini hanya karena kebodohan?
TISSA:
Ketika kita membicarakan mengenai kebodohan maksudnya lebih daripada sekedar tidak adanya informasi. Maksudnya juga menipu diri sendiri dan kurangnya pertimbangan. Sebagai contoh, jika kita memiliki masalah, kita dapat mengumpulkan informasi mengenai masalah itu dan dari informasi tersebut dapat ditarik kesimpulan. Tetapi bagaimana jika informasi tersebut salah? Bagaimana jika kita memulai dari fakta-fakta yang salah? Kemudian kita memulai mengambil kesimpulan secara logis dengan premis yang salah, dan tidak peduli sepintar apa pun kita kesimpulan kita akan salah juga. Masalah pemahaman kehidupan itu sendiri tergantung pada pemahaman fakta secara tepat. Ketika kita bodoh dan tidak terlatih, kita cenderung mengerti hal dari kulit luarnya saja. Sifat alami manusia condong ke objek yang menyenangkan dan menghindari objek yang tidak menyenangkan. Karena kita menyukai hal-hal yang menyenangkan, kita berusaha untuk membesar-besarkannya saat melihatnya, dan karena kita membenci penderitaan kita membesar-besarkannya juga. Singkat kata, kita mengarah pada ekstrim-ekstrim. Kita tidak mempunyai motivasi khusus untuk menganalisa objek indria sepanjang itu menghibur kita, seperti yang biasa dilakukannya dengan baik. Terlebih, karena kita sudah hidup cukup lama dan karena ada kelanjutan dalam pengalaman kita, kita melekat pada gagasan bahwa kita adalah diri atau jiwa yang mengalami hal-hal dan memiliki identitas yang pasti. Kita tidak mengetahui lebih baik, dan tanpa penyelidikan kita memiliki alasan khusus untuk mempertanyakan hidup yang penuh cinta dan kebencian dan asumsi-asumsi yang dibuat dengan cepat. Kita bergantung pada prasangka kebodohan dan terus menderita.
CARP:
Ketidak-tahuan ini kedengarannya seperti kecerobohan dan kebodohan.
TISSA:
Ya. Bagi Sang Buddha, kebodohan bukanlah hanya sekedar ketidaktahuan yang netral; ini merupakan kekotoran batin, penipuan diri yang berbahaya dan bodoh.
CARP:
Sekarang ada sebuah kata kuno yang aneh. "Kekotoran”. Kedengarannya sangat negatif. Siapa yang akan percaya dengan “kekotoran” saat ini?
TISSA:
Oke, saya Tanya anda, siapa yang ingin bebas dari penderitaan?
CARP:
Apakah ada hubungannya?
TISSA:
Tentu saja. Kebodohan adalah kekotoran batin yang mendasar, sumber dari segala keserakahan, kebencian dan delusi. Batin yang ditutupi kekotoran tidak dapat melihat kenyataan. Tidak memahami, tidak melihat corak ketidakkekalan, penderitaan dan bukan-diri, seseorang berperilaku sebaliknya. Sehingga hal ini menimbulkan konflik dengan hukum alam, dan penderitaan mengikutinya.
CARP:
Tetapi sebenarnya bagaimana penderitaan itu bermula?
TISSA:
Apakah anda mengenal Empat Kebenaran Mulia?
CARP:
Oh, itu. Ya, saya pernah membacanya. Kedengarannya sangat menyedihkan waktu itu.
TISSA:
Tapi sekarang tidak lagi?
CARP:
Yeaa, saya sedang memikirkannya.
TISSA:
Kadang orang hanya mendengar kebenaran mulia yang pertama, yang menyatakan masalah universal - yaitu mati, tua, sehat menjadi sakit dan hidup menjadi mati, bahwa seluruh pengalaman-pengalaman dan komponen-komponen kehidupan pada umumnya tidak kekal dan mengalir. Bukan berarti mereka selalu menderita sepanjang waktu – sebenarnya, mereka terkadang penuh dengan kesenangan – tetapi mereka selalu tidak akan bebas dari penderitaan.
CARP:
Ini merupakan pemikiran yang sangat mendalam.
TISSA:
Kebenaran mulia yang ke dua adalah asal mulanya penderitaan. Penderitaan memiliki penyebabnya. Ini merupakan pernyataan yang begitu sederhana namun memiliki banyak makna. Penderitaan tidak terjadi secara spontan. Penderitaan disebabkan dan dikondisikan oleh fenomena lain. Sebagai penyebab utama, Sang Buddha menyebutkan kemelekatan. Kapan pun kemelekatan atau keinginan yang menggebu-gebu muncul, penderitaan pasti mengikuti. Mengapa? Karena kemelekatan membawa pada keserakahan dan terikat terhadap apa yang sifatnya tidak stabil. Seluruh objek, pengalaman dan orang yang menyenangkan hancur dan lenyap, sehingga bila kita memuaskan kemelekatan maka kita akan terlibat dalam kekecewaan dan kesedihan.
CARP:
Baiklah, sejauh ini saya masih mengikuti. Tapi bagaimana kita dapat keluar dari kekacauan ini?
TISSA:
Dua kebenaran mulia pertama tadi menjelaskan masalah. Dua berikutnya akan mengungkapkan jalan keluar. Kebenaran mulia yang ke tiga disebut sebagai kebenaran tentang lenyapnya atau berakhirnya penderitaan.
CARP:
Oke, inilah saatnya!
TISSA:
Sang Buddha menyadari bahwa setiap fenomena yang timbul, berasal dari penyebab dan kondisi, dan ketika penyebab dan kondisi disingkirkan, maka fenomena pasti menghilang. Penderitaan mempunyai penyebabnya. Penyebabnya adalah kemelekatan. Ketika kemelekatan berakhir, maka penderitaan juga akan berakhir.
CARP:
Tapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, saya kira.
TISSA:
Ya, dan inilah kebenaran mulia yang ke empat. Sang Buddha menerangkan bahwa ada masalah, yaitu penderitaan; ada penyebab masalah; ada kemungkinan untuk melenyapkan masalah; dan akhirnya ada jalan untuk melenyapkan masalah. Kebenaran mulia yang ke empat adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, nasihat Sang Buddha berkenaan dengan ketidakpuasan dalam kehidupan. Kedelapan faktor dari jalan tersebut adalah delapan kebajikan atau keterampilan yang dapat perlahan-lahan melemahkan dan melenyapkan kemelekatan yang menyelubungi kita. Pandangan Benar berarti memiliki pengertian benar mengenai bagaimana hukum alam bekerja, bagaimana penderitaan muncul dalam hidup kita. Kehendak Benar berarti mengarahkan pikiran dan kehendak kita terhadap hal yang bermanfaat, terhadap kebaikan, kesucian batin dan pelatihan diri. Ucapan Benar berarti menahan diri dari ucapan kasar, ucapan salah dan ucapan yang tidak bermanfaat. Perbuatan Benar berarti melakukan perbuatan yang bermanfaat, melaksanakan kehendak benar kita, dan melaksanakan aturan moral. Penghidupan benar berarti mencari nafkah dengan maksud yang jujur dan terhormat, adil, tidak menipu, dan tidak merugikan makhluk hidup. Usaha Benar berarti berusaha untuk menjaga pikiran, untuk mengatasi pikiran yang tidak bermanfaat seperti keserakahan dan kebencian dan menggantikannya dengan kedermawanan dan cinta kasih. Perhatian Benar berarti mengembangkan perhatian dan kesadaran, tidak ceroboh atau lalai. Konsentrasi Benar berarti memusatkan pikiran dengan terampil pada objek agar dapat mengenalnya secara mendalam tanpa terganggu. Kedelapan faktor ini adalah ringkasan dari pelatihan.
CARP:
Saya tidak suka mengkritik, Bhikkhu Tissa, tetapi kata “pelatihan” terdengar kurang menyenangkan. Hidup sudah cukup susah. Siapa yang menghendaki “pelatihan” lebih dari yang sudah harus ditanggungnya?
TISSA:
Apa yang membuat anda berpikir pelatihan ini tidak menyenangkan?
CARP:
Maksud saya, seluruh faktor-faktor itu, seluruh disiplin itu. Saya merasa, saya tidak harus menanggungnya semua.
TISSA:
Maafkan saya, tetapi tujuannya adalah untuk melepaskan beban anda.
CARP:
Saya tidak mengerti.
TISSA:
Budhissme sebagai agama – atau sebagai jalan kehidupan – bertujuan untuk meringankan beban anda, bukan malah menambahnya. Pikiran yang tidak terlatih dan tidak disiplinlah yang akan terbebani dan terhambat oleh penderitaan, seperti orang yang tidak terlatih dalam mencari jalan akan tersesat dan berjuang mati-matian menembus tumbuhan menjalar yang rimbun dan duri-duri. Kita terbiasa membawa beban yang tidak menyenangkan sehingga kita hanya dapat berpikir untuk mencari hal baru, beban yang menyenangkan daripada melepaskannya. Dhamma adalah pelatihan melepas. Dengan demikian, Dhamma dapat membebaskan dan menyenangkan kita.
CARP:
Baiklah, Bhikkhu Tissa, Saya harus mengatakan saya menikmati “beban-beban” ini. Mengapa saya harus membuangnya ketika mereka adalah satu-satunya hal yang membuat hidup saya berharga?
TISSA:
Sekarang kita sampai pada poin penting, Mr Carp. Setiap orang memiliki pengalaman menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral. Secara alami, kita lebih menyukai yang menyenangkan. Tetapi beban-beban yang saya maksud bukan pengalaman-pengalaman itu sendiri. Mereka adalah kemelekatan kita terhadap pengalaman-pengalaman itu.
CARP:
Ah, anda semakin sulit dipahami.
TISSA:
Ingat, sang Buddha mengidentifikasi kemelekatan sebagai penyebab utama dari kesedihan kita, kekecewaan dan penderitaan. Kemelekatan atau kelaparan batin ini adalah tekanan atau beban pikiran. Kemelekatan menyebabkan kita bergumul dengan alam, merubah keadaan. Sebagai contoh, misalkan kita sangat menginginkan suatu objek menyenangkan dan berusaha untuk mendapatkannya. Maka kita menderita karena tekanan keinginan, gelisah bagaimana mendapatkan objek itu, takut orang lain yang duluan mendapatkannya, dan ketidakpastian apakah kita benar-benar mendapatkannya. Jika kita gagal mendapatkannya, pikiran akan mengalami kekecewaan. Jika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita harus melindunginya, menjaganya, memastikannya agar tidak dicuri atau rusak. Maka kita mengalami kegelisahan karena keinginan serta kemelekatan kita. Kemudian kita harus menghadapi pikiran yang tidak tetap. Pikiran berubah! Kita dapat memutuskan bahwa kita tidak menyukai objek ini pada akhirnya, maka kita memiliki kekhawatiran bagaimana menyingkirkannya Atau objek itu dapat mendatangkan masalah bagi kita. Kemudian kemelekatan kita berubah menjadi penolakan dan kita menderita karena bersatu dengan yang tidak kita sukai. Atau misalkan kita terus untuk menikmati objek tersebut. Bukan hanya pikiran saja yang berubah, objek pun berubah. Hancur, lenyap, lapuk, dan tua. Cepat atau lambat kita akan berpisah dengannya, dan kemudian kita merasakan kesedihan. Kemudian, karena tidak mengetahui apa yang lebih baik, untuk menutupi kesedihan ini, pikiran kita yang tidak pernah puas langsung mengejar objek baru, batin atau jasmani. Dan roda itu tetap berputar setiap detik dan sepanjang tahun. Dan kita terperangkap.
CARP:
Bhikkhu Tissa, seluruh perkataan anda ada benarnya juga. Saya tidak dapat menyangkalnya. Tetapi bagaimana pula seseorang dapat hidup, jika tidak mengejar sesuatu? Bagaimana seseorang dapat bahagia?
TISSA:
Sebenarnya, kita harus mengejar sesuatu, tetapi hal yang benar dan dengan jalan yang benar. Untuk melepaskan beban kemelekatan bukan berarti berhenti bertindak di dunia ini. Artinya melenyapkan keinginan dan kesombongan bodoh kita. Manusia yang berbudi luhur, manusia yang bahagia, adalah orang yang mengikuti jalan tengah, yang hidup sederhana. Buddhisme mengajarkan bahwa hasil baik mengikuti perbuatan baik dan akibat buruk mengikuti perbuatan buruk. Suatu peristiwa menyebabkan dan menimbulkan peristiwa lain, jadi kita harus bertindak hati-hati, sadar apa yang kita lakukan, hasilnya menentukan masa depan kita sendiri. Ketika kita melenyapkan kemelekatan yang tidak terkendali, kita memperoleh kedamaian setiap saat karena pikiran sudah tidak terganggu lagi, dan kita memperoleh manfaat nanti karena kita sudah mempersiapkan siklus atas perolehan dan kehilangan yang menyakitkan. Sangat bermanfaat hidup sederhana tanpa penguasaan dan keterikatan yang berlebihan, tetapi hal yang paling penting adalah melenyapkan kemelekatan itu sendiri.
CARP:
Jadi saya tidak semestinya meninggalkan sesuatu?
TISSA:
Ah, Mr. Carp, anda harus meninggalkan hal yang menyedihkan. Anda harus meninggalkan hal yang menyakitkan.
CARP:
Dan kemelekatan menyakitkan?
TISSA:
Perhatikan pikiran anda sendiri, itu saja.
CARP:
Apakah anda pikir saya sebaiknya meditasi?
TISSA:
Saya pikir anda sebaiknya memeriksa diri anda sendiri dan memperhatikan perubahan dalam pikiran dan jasmani anda.
CARP:
Seluruh hal ini tujuannya kemana, Bhikkhu Tissa? Apakah menuju kebahagiaan?
TISSA:
Ya, tetapi bukan kebahagiaan yang kebanyakan orang kira. Kebahagiaan sejati bukanlah menumpuk kegembiraan. Kebahagiaan sejati adalah bebas dari kekotoran, dari pandangan terang, dari batin yang terbuka dan yang tidak takut akan perubahan tiada akhir.
CARP:
Bagaimana dengan yang saya baca mengenai “kebijaksanaan lokiya”?
TISSA:
Kebijaksanaan berasal dari praktik Dhamma. Itulah alat yang membantu kita mencapai tujuan, tetapi ia bukan tujuan itu sendiri.
CARP:
Tujuannya adalah mengakhiri penderitaan, bukan?
TISSA:
Benar. Beberapa orang mengembangkan apa yang anda sebut keinginan untuk bijaksana – ingin mengetahui rahasia alam bekerja, karena rasa ingin tahu atau kebanggaan. Ini adalah pengetahuan untuk kepentingannya sendiri, dan tidak berguna. Faktanya, sang Buddha menolak untuk menjawab pertanyaan spekulatif mengenai asal mula dan masa depan alam semesta, karena pertanyaan seperti itu adalah pengalihan dari masalah utama – masalah penderitaan dan mengatasi penderitaan.
CARP:
Anda tahu, saya punya pemikiran bahwa Buddhisme hanya berkenaan dengan hal yang sangat agung, esoteric – bukan kehidupan sehari-hari orang biasa. Sedikit membesarkan hati mendengar bahwa Buddhisme berhubungan dengan bagaimana mencapai kebahagiaan di dunia ini. Bukan berarti saya perlu mempercayainya, tentu saja.
TISSA:
Terkadang orang yang terperangkap di dunia menjadi sinis, mengira bahwa tidak ada yang lebih tinggi daripada perolehan dan kehilangan status, objek atau hubungan. Tidak melihat bahwa kehidupan yang lebih tinggi, lebih berharga dan lebih damai mungkin terjadi, Mereka terbenam dalam pertunjukan yang gagal untuk memuaskan.
CARP:
Saya bertanya-tanya apakah anda sedang mengacu pada saya, Bhikkhu Tissa. Okelah, bukan masalah. Saya dapat bersaksi bahwa banyak teman saya yang tidak beragama tidak percaya adanya berbagai jenis kehidupan yang anda nyatakan ada.
TISSA:
Dhamma yang menyatakan itu ada. Sekarang mari kita kembali kepesimisan anda.
CARP:
Baiklah, saya akan memikirkan kembali hal itu.
TISSA:
Buddhisme membahas soal penderitaan dan melenyapkan penderitaan. Setelah kita mengidap satu penyakit, kita dapat menyembuhkan penyakit tersebut jika ada obatnya. Bayangkan kebahagiaan orang yang belum mengetahui kesehatan menjadi sehat ketika ia mengetahuinya. Bayangkan kebebasan seseorang yang sepanjang hidupnya membawa beban di punggungnya dan sekarang dapat melepaskannya.
CARP:
Ya, saya dapat mengertinya. Tapi sungguh, Bhikkhu Tissa, saya tidak ingin tinggal di gua dan meditasi sepanjang waktu. Saya harus bekerja untuk hidup.
TISSA:
Tidak perlu tinggal di gua. Penerapan Dhamma dapat dan sebaiknya dilaksanakan dimanapun saja. Dhamma sesuai dengan semua jenis penghidupan yang terhormat. Cukup mengamati tindakan kita dari waktu ke waktu dengan penuh kesadaran, apa pun yang kita lakukan, dan Dhamma akan bermanfaat bagi pengusaha juga bhikkhu.
CARP:
Oke, teman saya Charlie Prentice kelihatan ceria akhir-akhir ini. Namun seorang teman harus mencari tahu apa yang terbaik untuknya. Beritahu saya, jika saya ingin – jika seseorang ingin mempraktekan Buddhisme, mengikuti Dhamma, apa yang harus ia lakukan? Saya hanya berandai-andai, tentu saja. Bagaimana seseorang menjadi seorang Buddhis?
TISSA:
Seseorang menjadi Buddhis dengan melaksanakan ajaran sang Buddha.
CARP:
Seperti Jalan Mulia Berunsur Delapan?
TISSA:
Ya. tetapi ada pepatah singkat yang mencakup semuanya: Jauhi kejahatan, perbanyak kebajikan, dan sucikan pikiran – inilah ajaran para Buddha.
CARP:
Kedengarannya bagus. Dapatkah anda menjelaskannya sedikit?
TISSA:
Jauhi kejahatan berarti menjauhkan diri dari semua perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal ini berarti melaksanakan Lima Sila: menghindari pembunuhan, pencurian, berbuat asusila, dan makan atau minum yang memabukkan.
CARP:
Saya khawatir saya sudah melanggar beberapa sila tersebut! Apakah maksudnya, misalnya, saya seharusnya tidak membunuh sama sekali? Seperti tidak menginjak semut-semut yang berkeliaran di sekitar sini?
TISSA:
Sila-sila tersebut tidak hanya melindungi semua hewan-hewan; juga melindungi anda, karena mereka menjauhkan anda dari perbuatan yang mengotori batin dan menyebabkan anda menderita nantinya.
CARP:
Tapi seandainya seseorang tidak dapat melaksanakan sila-sila ini dengan sempurna?
TISSA:
Sila-sila tersebut bukanlah perintah. Sang Buddha bukanlah tuhan yang menetapkan peraturan-peraturan mutlak. Akan tetapi, Sang Buddha memahami alam dengan sempurna, dan Beliau dengan sederhana menunjukkan ketika seseorang melaksanakan sila-sila berarti telah menerapkan Dhamma dan membuat perlindungan serta kebahagiaan untuk dirinya sendiri dan makhluk lain. Semakin kita menjalankan sila-sila itu maka semakin baik pula kita.
CARP:
Melaksanakan sila-sila itu tentu membuat anda berpikir. Sekarang, bagaimana dengan membuat kebajikan?
TISSA:
Menjauhi kejahatan merupakan langkah pertama. Tetapi lebih jauh lagi kita harus berbudi luhur dan murah hati. Seorang umat Buddha diharapkan untuk menunjukkan kebaikannya dengan menolong sesama makhluk, dengan berusaha untuk memiliki usaha positif di lingkungannya. Ia sebaiknya menunjukkan Dhamma dalam perilakunya sendiri.
CARP:
Dan bagaimana dengan menyucikan pikiran?
TISSA:
Praktisi menahan keinginannya yang tidak bermanfaat dengan merenungi sila-sila dan dengan keinginannya sendiri ia menjadi kekuatan untuk kebaikan. Dan dengan demikian ia akan berusaha untuk membersihkan dirinya dari kekotoran batin seperti keserakahan, kebencian dan kebodohan, dan ketidaktahuan yang menumbuhkannya. Ia akan bergerak dengan mantap, dengan langkah yang sesuai dengannya, menuju pembebasan dari semua penderitaan, menuju pencerahan.
CARP:
Apa yang anda utarakan sangat mengesankan. Bagaimana orang biasa dapat melakukan hal tersebut? Saya tahu, saya sebenarnya bukanlah orang yang kuat. Saya sebenarnya cenderung lemah.
TISSA:
Mr. Carp, mari saya tekankan satu hal yang utama. Dhamma adalah jalan mulia untuk setiap orang, kuat atau lemah atau diantaranya. Lakukan apa yang anda bisa, karena setiap kebaikan atau kebajikan atau perhatian akan membawa anda selangkah lebih dekat ke pembebasan dari kesedihan.
CARP:
Anda sangat serius mengenai ini, bukan begitu? Saya berharap bisa seperti itu – serius, percaya diri. Anda tahu, masalahnya, saya sangat gelisah, saya juga tidak bisa duduk tenang. Jadi saya pergi ke sini dan ke sana sepanjang waktu. Pikiran saya mengembara, jadi saya mengembara juga.
TISSA:
Pengembaraan ini disebut saṃsāra, lingkaran kelahiran dan kematian.
CARP:
Sangat menyedihkan.
TISSA:
Benar. Dan karena itulah Dhamma adalah semacam pembebasan. Dhamma dapat membebaskan kita dari lingkaran tersebut.
CARP:
Kita semua sama-sama mengembara bukan?
TISSA:
Ya. Anda dan saya dan – dan bahkan semut merah besar yang sedang merayap di kakimu itu.
CARP:
Yeow!
MR. CARP melompat dan menari-nari dengan liar, menyapu celananya.
CARP:
Ow! Enyah! Enyah! Makhluk ini akan menggigit!
TISSA:
Tenanglah, Mr. Carp. Sudah jatuh.
CARP:
Benarkah?
TISSA:
Mungkin ia menganggap anda suatu bidang yang tidak mantap.
CARP:
(Mendadak tertawa) Memang! Memang saya suatu bidang yang tidak mantap.
Bhikkhu Tissa berdiri, tersenyum.
TISSA:
Dan apa yang akan anda lakukan?
CARP:
(Tersipu malu) Saya tidak tahu. Saya rasa saya sudah cukup menyita waktu anda. Terima kasih atas penjelasannya. Saya pamit dulu. Saya ke pantai untuk bertemu beberapa teman.
TISSA:
Hati-hati di jalan.
CARP:
Oh, tentu, tentu. Ini mobil yang hebat, indah, anda bisa lihat. Oh tidak! Tidak! Anda lihat burung itu? Anda lihat apa yang burung itu lakukan terhadap mobil saya?
TISSA:
Ya, burung-burung itu memang melakukannya.
CARP:
(Menggelengkan kepalanya) Mobil itu baru saja dipoles. Anda tahu, itu membuatku berpikir – oh, sudahlah. Terima kasih atas waktunya, Bhikkhu Tissa.
Tersenyum sendiri, Bhikkhu Tissa mengambil sapunya lagi.
TISSA:
Saya senang anda mampir, Mr. Carp.
CARP:
Yeah, saya juga.
TISSA:
Permisi, saya harus kembali bekerja.
CARP:
(Ragu-ragu) Oh tentu, tentu. Jika anda perlu bantuan di sekitar vihara, saya tidak keberatan untuk membantu.
TISSA:
Anda baik sekali, tapi kita masih bisa menanganinya.
CARP:
Tidak, saya serius. Saya senang membantu, kapan saja. Sungguh!
TISSA:
Baiklah kalau begitu, maukah anda menyapu? Pinggir jalan sana perlu disapu.
CARP:
(Terkejut) Maksud anda sekarang? Tapi andakan hanya punya satu sapu.
TISSA:
Oh, ada satu lagi di gudang perkakas sana.

BHIKKHU TISSA berbalik dan meneruskan menyapu dengan tenang. MR. CARP gelisah sesaat, kemudian pergi dan mengambil sapu lain dari gudang. Ia kembali dan menunggu instruksi dengan canggung, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya ia mulai menyapu pinggir jalan, memandang bingung ke sang bhikkhu. Sesekali ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi menutupnya lagi. BHIKKHU TISSA sudah tidak memperhatikannya lagi. Dengan ekspresi kaget, MR. CARP menyapu pinggir jalan itu. Sedikit tiupan, debu dan dedaunan terbang ke dua sisi ketika sapu tersebut menemukan ritmenya. Angin sepoi-sepoi pagi berhembus, menerpa pepohonan dan membuat cahaya terang dan gelap, matahari dan bayangan, sang penyapu.

Tidak ada komentar: