Selasa, 22 November 2011

Kelahiran Kembali Proses Yang Tanpa Inti






         Adanya kehidupan setelah kematian tidak sulit untuk diterima oleh hampir semua agama. Tetapi mengubah pernyataan itu dengan kalimat "Adanya kelahiran kembali setelah Kematian" akan membuat banyak orang dengan serta merta menolak.

         Tetapi sebagian orang ada yang mempercayai bahwa kelahiran kembali akan terjadi pada saat terjadinya hidup kembali yang kedua. Hidup kembali itu terjadi pada waktu jasad yang dikuburkan —yang tentunya sudah membusuk, bahkan mungkin sudah lebur dengan tanah— menjadi utuh kembali dan bangkit lagi.

         Kelahiran kembali sering juga disebutkan dengan menjelma lagi atau menitis kembali. Hidup ini seperti burung dalam sangkar. Bila kematian terjadi, ibarat sangkar yang rusak. Sang burung akan terbang melayang-layang untuk kemudian memasuki sangkar yang baru. Roh itulah yang seperti burung dan jasmani adalah sangkarnya.

         Kalau kita setuju menggunakan sebutan yang netral, tidak menamakan lagi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan ini bahagia atau sengsara, suka atau duka; maka kehidupan ini sesungguhnya adalah proses yang terus menerus terjadi. Kebahagiaan sebagai salah satu bentuk perasaan akan timbul pada suatu saat, kemudian bertahan beberapa saat, dan akhirnya lenyap. Demikian pula kesedihan. Kesedihan timbul, bertahan, akhirnya juga lenyap. Timbul lagi bentuk-bentuk perasaan yang lain, demikian juga bentuk-bentuk pikiran. Semua itu tampak dengan jelas sebagai proses timbul-tenggelam yang tidak pernah berhenti.

        Tidak hanya proses mental yang mengalir terus, fisik kita dan segala sesuatu di semesta ini adalah perpaduan berbagai unsur yang terus menerus mengalami proses perubahan di sepanjang masa.




Sankhara sassata natthi,
perpaduan tidak memiliki kekekalan.

         Bila kokon (kepompong ulat sutera) telah terbentuk, maka tiba waktunya untuk diproses. Kalau kokon telah menjadi benang, proses ini boleh saja disebut: "Kokon telah 'lahir' menjadi benang". Kalau demikian pintalan benang menjadi selembar sutera yang lembut, maka benang telah lahir kembali kain sutera. Kain sutera akan lahir kembali menjadi gaun. Gaun pada suatu saat akan usang, dan sang gaun akan lahir kembali menjadi kain lap. Demikian proses itu mengalir terus.

         Segala sesuatu akan terkena hukum proses yang berlangsung terus menerus. Sesuatu terjadi karena faktor-faktor penyebab yang mendahuluinya. Faktor-faktor penyebab itupun timbul karena sebab-sebab yang sebelumnya. Demikian sebaliknya, apa yang terjadi sekarang akan menjadi faktor untuk kejadian yang akan datang. Kejadian yang akan terjadi kemudian pun akan menjadi faktor untuk fenomena-fenomena selanjutnya.

         Hukum sebab-musabab yang saling bergantungan, yang tampak pada proses perubahan yang terus menerus terjadi di semesta ini dalam terminologi Buddhis disebut Paticca Samuppada.

         Secara ringkas Paticca Samuppada bisa disimpulkan dalam rumusan kalimat sebagai berikut:

"Imasmim sati idam hoti, imasuppada idam uppajjati. Imasmim asati idam na hoti, imassa nirodha imam nirujjhati".

Karena adanya ini, maka ada itu; karena timbulnya ini, maka timbullah itu;

Dengan tidak adanya ini, maka tidak akan ada itu; dengan lenyapnya ini, maka lenyapnya itu.


         Sekarang timbul pertanyaan: "Dalam proses kejadian yang berkesinambungan itu adakah substansi yang kekal? Adakah suatu inti yang tidak terkena perubahan?" Kenyataan akan menunjukkan: Tidak!

         Benang yang dipintal bukan lagi kokon. Kain sutera bukan lagi benang. Dan gaun yang bernilai mahal tidak lagi disebut selembar kain. Bukan hanya bentuknya yang berubah, tetapi materinya pun berubah. Kini tidak sulit lagi untuk memahami bahwa tidak ada atom atau molekul yang statis —kekal, abadi.

         Karena adanya ulat sutera, timbullah kokon. Karena adanya kokon, terpintallah benang. Karena benang telah terpintal, terjadilah kain. Dengan adanya kain, terwujudlah gaun. Ini adalah sepenggal kejadian yang saling bergantungan. Kejadian itu timbul karena banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Sama sekali tidak boleh dipandang sebagai satu faktor menimbulkan satu kejadian. Sang ulat tidak akan membuat kokon tanpa adanya makanan yang cukup dan iklim yang sesuai. Tanpa alat pemintal dan orang yang mempunyai kecakapan memintal, kokon akan tetap menjadi kokon. Demikian juga selembar sutera mungkin akan menjadi sekadar kain penutup meja, bila tidak ada perancang mode dan alat-alat lain yang mendukung terbentuknya gaun yang mahal.

         Meskipun banyak faktor menjadi sebab, benang yang terjadi dari kokon sutera tetap benang sutera, tidak akan berubah menjadi benang wol. Kain yang akan terbentuk pasti kain sutera, bukan kain katun. Memang benang sutera yang terjadi tidak sama lagi dengan kokon, tetapi juga bukan benang jenis yang lain. Kokonlah penyebabnya. Kain yang terbentuk bukan lagi benang —memang tidak sama tetapi bukan berbeda sepenuhnya. Kain itu tetap kain sutera, karena benang suteralah penyebabnya.

         Proses yang mendasari segala sesuatu di semesta ini yang tidak sama sepenuhnya, tetapi juga tidak berbeda sama sekali, disimpulkan dalam kalimat Pali yang sangat terkenal:

"Na ca so, na ca anno".
Bukan sama, tetapi bukan juga berbeda.

         Sekarang kita akan melihat proses kokon dengan cara yang lain. Kokon yang tidak dipintal akan menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu tidak memerlukan daun sebagai makanan. Hidupnya singkat, bertelur, kemudian mati. Telur kupu-kupu yang menetas tidak akan tampak seperti kupu-kupu. Makhluk yang muncul sangat berbeda: ulat. Ulat sangat kurus. Memangsa daun menggunduli tanaman. Tetapi pada suatu saat ulat akan berhenti makan. Tubuhnya menjadi jernih dan mulai mengeluarkan benang halus untuk mengurung dirinya sendiri. Sekarang ulat yang menjijikkan itu telah menjadi kokon yang indah. Setelah kokon pecah, terbanglah kupu-kupu yang sangat berbeda dengan perangai ulat.

         Demikianlah kelahiran kembali dapat digambarkan dan dimengerti dengan cara yang sederhana. Tidak ada yang tetap tinggal sebagai inti abadi dalam proses metamorfosis telur—ulat—kokon—kupu-kupu. Semuanya terjadi karena sebab yang mendahului. Yang akan datang terjadi karena sebab yang sekarang.

         Demikian juga halnya kehidupan ini, termasuk kehidupan kita sebagai manusia sekarang, Kelahiran kita sekarang —yang sempurna, yang cacat; yang pria, yang wanita— terjadi karena sebab yang lalu. Sedangkan kebodohan (avijja) kita sekarang akan menyebabkan timbulnya nafsu keinginan, kemelekatan, dan kemudian mendorong kita melakukan bermacam-macam perbuatan. Sebagai akibatnya, berlanjutlah kehidupan berikutnya setelah kematian. Peristiwa yang akan datang terjadi karena sebab-sebab yang kita buat sekarang.

         Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijja) menjadi pokok pangkal terjadinya kelahiran kembali. Kebodohan atau ketidak-tahuan akan sifat segala sesuatu, yaitu: ketidak-kekalan, perubahan yang terus menerus terjadi, dan tanpa adanya inti. Ketidak-tahuan ini membius setiap orang sehingga mengganggap bahwa apapun yang sedang dinikmati adalah kekal —tidak berubah— dan bisa dikuasai sepenuhnya.

         Demikianlah kelahiran kembali harus dipahami sebagai proses.

         Kehidupan yang berkesinambungan dan berubah terus menerus. Tidak ada inti atau roh, yang abadi dan tetap tinggal suci, yang menjelma atau menitis kembali dari satu sangkar jasmani ke sangkar yang lain.



        Akhirnya tujuan hidup ini harus diletakkan hanya pada satu hal: mengakhiri proses kehidupan (samsâra) yang berkepanjangan itu.***

 oleh: Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera.


Sumber:

Majalah Buddha Cakkhu No. 21/Tahun XII/1991

Tidak ada komentar: